Abby dan Tilly Tamasya Ke Hamilton dan Taupo 2022

Setelah sekian lama blognya hiatus, dikarenakan  nyonya pemilik blog sedang sibuk berat, akhirnyaaaa ya akhirnyaaa... bisa kembali update lagi! Beneran deh ngga nyangka kok ninggalin blog selama ini. Sebabnya apa? Nanti diceritain belakangan deh. Yang jelas sekarang kita happy-happy dulu bahas liburan yang sudah lewat. Kalau mau posting semua jalan-jalan sih banyak, dan nggak akan keburu. Jadi langsung aja ya saya bahas liburan bulan Juli lalu, bertepatan dengan liburan Term 2 anak-anak, plus juga ulang tahunnya Tilly. Yang namanya Ibu Leony, kalau liburan kebanyakan impromptu alias dadakan. Ini aja bersyukur masih dapat hotel yang kebetulan memang diincer, tapi harganya udah agak nggak wajar lantaran lagi musim liburan. Cuma berhubung ada alasan baiknya yaitu Tilly mau ulang tahun ke 5, yang katanya big birthday buat anak-anak Selandia Baru, marilah kita berangkat cussss. Liburan cuma 3 hari 2 malam yang penting bahagia! Biarpun tujuannya Taupo lagi (entah sudah berapa kali kemari), yang penting happy! Percaya atau nggak, selalu saja ada hal baru!

Minggu, 17 Juli 2022

Kami memang paling suka berangkat liburan hari Minggu pagi, karena melawan arus lalu lintas. Pas masih tinggal di Jakarta (waktu itu Abby belum sekolah), kami juga sukanya gitu. Maklum, di manapun, apalagi musim liburan, weekend = cendol alias ramai banget. Kalau di sini, pas liburan sekolah, nggak usah nunggu weekend juga udah cendol. Tujuan utama kami liburan kali ini adalah leyeh-leyeh di Taupo. Santai, nggak ada agenda yang gimana-gimana. Tapi biar bagaimanapun tetap harus ada itinerary sederhana ya, biar nggak lewat begitu saja liburannya. Perjalanan menuju Taupo kalau langsung memakan waktu sekitar 4 jam. Tapi kali ini kami mampir dulu di Hamilton, sekitar 1.5 jam dari Auckland, lebih tepatnya mampir ke Hamilton Zoo. Kawan baik saya dari MasterChef NZ  yang namanya Sieumoi (kebetulan sama-sama ibu-ibu berumur 40 dan beranak dua), merekomendasikan kebun binatang ini. Katanya sih lebih kecil, tapi lebih menarik daripada Auckland Zoo. Mari kita buktikan!

Minggu pagi, ternyata parkiran zoo sudah penuh banget! Kami sampai parkirnya di tanah yang diconvert jadi tempat parkir karena kalau tempat parkir resminya sih nggak muat untuk nampung semua mobil. Tiket masuk Hamilton Zoo adalah $26/dewasa dan $12/ anak-anak usia 3-15 tahun.

Badaknya banyak (ada 7 total kalau nggak salah), gemuk dan sehat.

Kayaknya kami sekeluarga doang yang pakai maskernya on terus. Di Hamilton saat itu memang sudah lebih lengah dibandingkan di Auckland.

Badak Jawa alias Badak Bercula Satu sudah masuk kategori critically endangered. Huhuhu, sedih ya. Duh jangan sampai deh ada lagi perburuan badak cuma karena untuk diambil culanya.

Spider monkey, ini juga banyak banget, dan areanya luas! Pokoknya seneng lihat binatang-binatang di sini.

Mau lihat cheetah di sini bisa dari jarak dekat banget. Malah cheetahnya nongkrong di balik jendela karena mereka juga senang lihat anak-anak.

Nih, gemes kan! Deket banget!

Jalan kaki, kita ke area zebra. Tadinya ada area jerapah juga di situ, tapi sudah dipindah ke area lain.

Zebranya pada leyeh-leyeh berjemur. Memang terberkati sekali perjalanan kita kemarin, cuaca cerah ceria. Padahal hari-hari sebelumnya nonstop hujan. Apalagi di Auckland, sudah sampai kebosanan lihat hujan turun. Tau-tau sepanjang kami pergi, cuaca hampir selalu cerah walau ada selipan gerimis.

Pose dulu di depan kandang zebra.

Beginilah nasib kalau minta orang fotoin. Masak jerapahnya kepotong lehernya. Huks.

Begini kalau kami yang foto sendiri. Tapi sayang kan ya jadi nggak punya foto sekeluarga.

Dua bocah niru gaya kambing di belakangnya.

Babi! Kune-kune pig ini memang ciri khas NZ. Babinya lucu-lucu menggemaskan.

Kalau ini temannya Shrek alias donkey (keledai).

Bagus banget mural di sini. Sayang nggak ada orang yang lewat dan bisa fotoin kami.

Jerapah! Sehat dan gemuk, tapi area sini bau pesing banget heheheh. 

Pose dulu!

Lumayan area sini ramai, jadi bisa minta tolong difotoin deh.

Begitu ke area simpanse, ada satu poster yang menarik banget yaitu tentang Sally, anggota orisinil kandang simpanse di Hamilton Zoo. Sally kebetulan namanya sama dengan mertua saya.

Perbandingan tinggi manusia dengan binatang lain, terutama dari primata.

Gemes banget sih pose bapak dan dua anak ini. 

Jalan menuju arah balik, dibuat berkelok-kelok macam Lombard Street di San Fransisco, hal ini untuk memudahkan bagi stroller/ kursi roda untuk melewati jalannya tanpa harus menggunakan tangga. Tapi anak-anak malah senang begitu sampai atas mereka turun pakai prosotan dobel, dan berkali-kali pula nggak ada capeknya. Saya aja yang ngelihatin udah pegel hahaha.

Hore, main prosotan!

Ternyata simpanse badannya berotot banget ya. Mantap!

Kumpulan simpanse dan keluarganya.

Red Panda! Pas ngelihat ini jadi inget film Turning Red. Sudah pada nonton belum?

Lemur! Ingat King Julien di film Madagascar?

Ada yang jadi simpanse, jerapah, dan red panda hehehe.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Taupo, kami mampir makan siang dulu di kafe di depan Hamilton Zoo, namanya adalah Everyday Eatery. Walaupun lokasinya di depan zoo, tapi kafe ini independen, jadi bisa dikunjungi siapa saja tanpa harus masuk ke zoo-nya. Tempatnya modern, tapi menunya memang sedikit sekali. Biarpun sedikit, rasanya bisa dibilang enak.

Foto tanpa masker deh, kan sudah mau makan.

Fish and Chips: beer battered market fish, shoestring fries, tartare punya suami.

Chicken Nuggets dengan shoestring fries, tomato sauce. Karena ini kids meal, dapat orange juice dan gluten free cupcake.

Chicken Sando: free range crumbed chicken, red onion, iceberg lettuce, pickles, white bbq sauce, shoestring fries. Ini punya Abby.

Pork and Beans: smoked ham hock, chorizo, butter beans, sour cream, croutons, poached egg. Ini punya saya. Ketauan ya siapa yang paling adventurous kalau nyoba-nyoba hehehe.

Sehabis makan siang, kami lanjut perjalanan menuju ke Taupo, dan langsung check-in menuju hotel. Hotel ini adalah hotel yang terbesar di Taupo, dan itupun nggak besar-besar amat. Lobbynya hampir non-existent, cuma ada sofa satu di pojokan. Ayo bisa kira-kira ini hotel apa?

Kalau mau turunin barang, parkir dulu sebentar di depan lobby. Lobbynya simple banget ya, padahal hotel bintang lima.

Nah ini dia  hotel kami menginap yaitu Hilton Taupo. Baru kali ini di Taupo kami tidak menginap langsung di tepi danau. Hilton Taupo ini lokasinya kira-kira 7 menitan dari pusat kota, lokasinya berada di Thermal Valley.

Waktu kami check in agak lama, karena kamarnya belum siap. Padahal sudah hampir pukul 5 sore loh. Beginilah risiko liburan, hotel penuh terus!

Kami menginap di King Junior Suite. Waktu kami sampai, sofa di ruang tamunya sudah disiapkan untuk jadi queen size bed untuk anak-anak. Bath robe dan handuk extra juga sudah disiapkan dari pihak hotel untuk anak-anak.


Dan ranjang di kamar utama adalah ukuran king.

Yang sungguh bikin heran adalah kamar mandinya, kecil banget! Asli kecil, sampai kami bingung dan kaget, kok suite kamar mandinya secuil gini, dengan countertop yang sangat minimalis. Untungnya pakai heated floor, jadi lumayan lah. Katanya kalau mau yang kamar mandinya besar, justru di kamar standar yang wing gedung lama.

Standar perlengkapan mandi dari Crabtree and Evelyn.

Balkon di depan kamar(yang akhirnya nggak kami pakai kecuali buat jemur baju renang) menghadap ke Thermal Valley . Seluruh King Suite di sini pemandangannya ya ke Thermal Valley ini. Tadinya sempet mikir, ambil kamar biasa dengan pemandangan lake mungkin lebih bagus. Tapi ternyata, dari hotel juga nggak gitu kelihatan lakenya hahahaha.

Ketika disuruh pose, malah begini! Itu akting loh yang gede. Suka lebay memang anaknya.

Udah mau dinner time, masih tetap asyik nonton TV sambil leyeh-leyeh. Oh iya, biarpun kamarnya nggak besar, TVnya ada dua besar-besar semua. Satu di ruang tamu, dan satu lagi di kamar utama yang posisinya literally sebelahan.

Makan malam hari itu, kepingin coba restaurant Thailand, namanya Siam Thai Cafe. Di Taupo ini ada beberapa restaurant dan reviewnya lumayan bagus-bagus. Tapi saya tuh memang suka deg-degan kalau ke kota wisata macem gini, review belum tentu menjamin beneran enak. Kadang cuma karena pilihan terbatas saja. Dan kejadian dong.... review bagus, tapi buat kami makanannya zonk. Hu hu hu.

Pork Pad See Ew, rasanya plain banget.

Fish Cakes, yang ini agak alot dan kayaknya dari frozen deh, bukan fresh.

Roti dengan saus kacang. Saus kacangnya rasanya aneh bin ajaib.

Nasi dengan Sate Ayam. Pesan ini untuk anak-anak, ternyata pada nggak doyan. Pas saya cobain, ya gitu deh... memang rada aneh rasa sausnya.

Red Duck Curry pesanan suami, standar banget juga. Jadi kangen resto Thai di Auckland hahaha. Kayaknya memang paling aman kalau ke kota kecil, makan Western aja deh. Kadang ada sih Asian food yang enak, cuma jarang aja.

Foto ini karena gemes, si bocah kecil rambutnya bisa dikuncir satu hehehe. Selamat malam Taupo!

Senin, 18 Juli 2022

Bangun tidur, lihat langit di luar agak-agak mendung, tapi yang penting nggak hujan. Hari ini hari istimewa nih, karena si bocah kecil ulang tahun yang ke-5! 

Dari balkon bisa lihat kolam renang yang asapnya mengepul. Wuihhh seru deh kalau renang hari ini. Dan memang tujuan utama kita hari ini leyeh-leyeh berenang, tapi bukan di kolam yang ini. Kemana hayo? Tungguin aja di bawah.

Nih anak, udah 9 tahun kok masih aja ngenyot. Untuk nggak tonggos hehehehe.

Hore, aku umur lima!

Sebelum sarapan, lihat-lihat kolam, cek-cek ombak, ternyata belum ada yang renang. Masih pagi dan cuaca lumayan dingin. Anehnya malam-malam masih suka banyak yang renang loh, padahal sudah gelap dan lebih dingin lagi. Romantis kali ya.

Karena restaurant di hotel masih penuh saat sarapan, kami disuruh tunggu sebentar sementara meja kami disiapkan. Main catur dulu deh jadinya. 

Ada yang happy banget nih ulang tahun.

Muka bantal, masih pingin tidur, apadaya kalau nggak sarapan buru-buru jam 10 udah tutup hahaha.

Restonya kecil, simpel, begitupun dengan menu sarapannya. Khas Selandia Baru banget! Bahan berkualitas, tapi sederhana. Yang biasa sarapan di restoran hotel-hotel di Asia pasti merasa ini zzzz sekali. Di sisi kanan itu ada buah-buahan, cereal dan pastry.

Dasar anak-anak, malah nyemilin cereal.

Buffetnya cuma segini aja panjangnya. Yang penting semua hal basic ada. Roti, hashbrown, sausage, bacon, mushroom, beans, tomato. Jangan harap ada nasi goreng dan bubur ayam ya, apalagi lontong sayur hihihi.

Habis sarapan, muka pada kenyang dan gembira.

Kita mampir-jalan kaki cek ombak dulu sebelum berenang ke sebelah, yaitu ke Taupo DeBretts Hot Spring yang lokasinya di sebelah Hilton Taupo. Walaupun kompleksnya sebelahan, Taupo de Bretts itu konsepnya lebih ke camping dan cabin. Jadi orang ke sana biasa sewa cabin, atau tinggal di campervan. Tapi yang unggul dari Taupo de Bretts adalah kolam air panasnya yang seru. 

Setelah cek-cek ombak, kami balik lagi naik mobil. Bedanya kali ini pakai sandal dan sudah pakai baju renang di dalamnya, siap-siap untuk nyebur!

Jangan dibandingkan dengan water park di Indonesia ya. Di sini mah nggak ada apa-apanya. Yang istimewa adalah sumber air panasnya alami! Jadi kalau ke sini bukan buat naik prosotan, melainkan untuk berendam. Di musim dingin gini, mantep banget deh berendam air hangat.

FYI, harga tiket renang di Taupo DeBretts ini $24/ dewasa dan $13/anak usia 4-12 tahun. Usia 0-3 harganya $3. Tiket ini hitungannya day pass ya, jadi kalau malam-malam mau balik berenang lagi juga bisa. Malah kalau malam bagus banget, lampu-lampu pada menyala di pohon-pohonnya. Untuk taruh barang di sana, ada kotak-kotak tersedia, tapi kalau mau lebih aman, bisa sewa locker yang bisa dikunci. Sewa lokernya murah meriah kalau nggak salah cuma $5 ukuran besar untuk 3 jam. 

Asyik banget nangkring di atas jetnya, serasa dipijitin.

Ujung-ujungnya sekeluarga nangkring di atas jet sambil leyeh-leyeh. Monopoli deh kita.

Deretan jari kaki hehehe.

Di bagian anak-anak banyak mainan seru kayak gini.

Gemessss!

Gendong monyet.

Muka-muka hepi liburan.

Ban renangnya disediakan gratis, cuma butuh rebutan aja sama yang sudah selesai pakai hihihi.

Enak banget nggak ada beban pikiran.

Makin siang makin ramai nih, walau nggak ada apa-apanya ramainya dibandingkan dengan cendolan ala Gelanggang Renang Ancol (eh sekarang namanya Atlantis ya?)

Kira-kira kami menghabiskan waktu 2 jam-an berendam-rendam ria. Begitu naik dari kolam, rasanya brrrrr... Suhu musim dingin langsung nampol! Mana antri pula untuk ganti baju di family room yang jumlahnya terbatas. Jadilah kami sempat berendam lagi sambil ngintip-ngintip begitu family room kosong, langsung serbu! Habis ganti baju, kami kembali ke hotel untuk bilas seadanya lalu makan siang. Kenapa bilas seadanya? Karena kami masih mau berendam lagi di kolam renang hotel. Edan memang, seharian isinya cuma makan sama berendam.

Untuk makan siang, kami balik lagi ke tengah kota, kali ini di  Cafe Ninety Nine. Gara-gara kemari, kami jadi melihat kalau di lapangan besar di seberang kafe bakalan ada Taupo Winter Festival yang baru dibuka hari itu. Ih pas banget! Jadi kami rencana bakalan balik lagi ke daerah situ setelah makan malam.

Dasar anak-anak, ketemu kafe yang ada mainannya, bukannya makan malah mojok di kids corner.

Chicken Pot Pie punya saya.

Apple Crumble Pie (punya saya juga hihihi)

Jumbo Sausage Roll punya Tilly

Chicken burger punya suami. Ini enak loh, tapi gambarnya didn't do justice. Oh iya, kami juga pesan fries. Kami nunggu-nunggu nggak datang-datang. Akhirnya pas kami nanya, mereka baru ngeh kalau friesnya nggak masuk register. Akhirnya dibuatkan terpisah, lalu dikasih diskon sedolar tuh kentang hahaha (minimal amat ya tuh diskon).

Kids Waffle buat Abby, katanya nggak mau makan banyak-banyak (ujung2nya makanin fries).

Tuh nama toko persis kayak anak ini: Little & Mighty.

Foto di depan toko yang jual peralatan ski. Lucu banget kursinya dari papan ski bekas.

Sudah berkali-kali ke Taupo, kami nggak pernah foto di tulisan #lovetaupo ini, karena kami kok ngerasa kayak turis banget kalau foto di situ. Sampai akhirnya, kemarin itu kami foto juga! Hihihi. Ini difotoin sama turis lain, kok miring begini ya ambil fotonya.

T = Tilly, A = Abby.

L for Leony!

Berhubung yang tadi miring, suami yang gemes akhirnya foto lagi kami bertiga, kali ini lurus tulisannya.

Sesekali jadi turis, bolehlah!

Sungguh deh, anak yang kecil, terlalu ekspresif!

Mumpung masih bisa pakai baju kembar.

Balik hotel, untuk siap-siap berenang lagi. Buat kenang-kenangan, pose dulu deh ya.

Lorong dari lobby menuju kamar.

Lorong yang panjang banget.

Hore, aku lima tahun!

Begitu sampai kamar, ternyata dari pihak hotel sudah siap treats ulang tahun untuk si kecil. Langsung deh yang ultah girang bukan kepalang dan langsung pose.

Tapi dia malah tertarik dengan marshmallownya, bukan kuenya. Berhubung nggak punya lilin dan sudah menjelang sore, kami nggak tiup lilin dulu, melainkan siap-siap untuk ngacir ke kolam hotel.

Ngacirrrr.... Nggak sabar mau berendam lagi.

Berendam ronde dua!

Foto keluarga dulu untuk kenangan.

Setelah berendam satu jam-an, kami kembali ke kamar untuk mandi. Habis mandi rencananya mau booking restaurant untuk dinner. Si Tilly sudah request mau makan pizza. Eh apadaya, hari Senin restaurant di Taupo banyak banget yang tutup. Mau makan di resto Italia yang katanya autentik juga tutup. Ujung-ujungnya pilihan kami cuma ke Portofino yang cabangnya banyak di Auckland. Namanya anak yang ulang tahun kepingin banget makan pizza, ya sudah lah ya kita turutin. Begitu telepon untuk booking, ternyata mereka fully booked! Ya amplopppp. Untungnya kami masih bisa masuk walaupun waiting timenya 45 menit. Berhubung jarak dari hotel ke restaurant cuma 7 menitan, kami nunggu aja di hotel dan baru datang begitu meja kami siap. Sampai di sana, sarden beneran, ruameeeee! Walaupun rame, pelayannya yang orang Spanyol itu sigap banget, dan makanan ternyata nggak terlalu lama keluarnya, dan rasanya ternyata lebih baik dari ekspektasi kami. 

Winter pun tetep minumnya es ya. Ini Italian Limonata yang asem seger.

Kembar versi 1.

Kembar versi 2.

Calamari alla griglia: squid rings, garlic, e.v.o.o, parsley, lemon juice, rocket & aioli 

Prosciutto Pizza: parma ham, mushrooms, mozzarella & rocket. Parma hamnya royal dan wangi!

Belum apa-apa udah napsu, padahal makanannya belum keluar semua.

Mumpung inget, foto keluarga dulu, sambil nungguin semua makanan keluar.

Cannelloni Ricotta e Spinaci: pasta cylinder filled with ricotta, spinach & garlic, oven baked w. tomato, béchamel & mozzarella. Ini menu vegetarian punya saya. Menu ini sebenernya favorit saya dari jaman kuliah dulu kalau makan di Italian restaurant yang lumayan otentik. Paling suka dengan perpaduan keju ricotta dan bayam.

Penne al Salmone Affumicato: smoked salmon, spinach, garlic, e.v.o.o, fresh herbs & lemon crema sauce. Tumben-tumbenan nih suami pesan pastanya yang pakai salmon. Biasanya kan meat eater sejati.

Pepperoni Pizza: spicy italian sausage, chilli, capsicum & rocket. Kata anak-anak pepperoninya terlalu pedas. Tapi buat saya sih enak-enak aja. Malam itu kami makan sampai kenyang banget!

Setelah makan, tau-tau hujan gerimis, jadi bikin galau, pingin ke Taupo Winter Fest atau nggak. Tapi berhubung sudah sampai sana, yuk deh nekad! Eh tau-tau hujannya berhenti dong. Hore, bisa jalan-jalan nurunin makanan.

Lagi-lagi ada tulisan #lovetaupo, tapi ini yang versi KW, karena yang asli di sebelah danau tadi.

Lumayan buat foto-foto.

Balon-balon raksasa beraneka bentuk.

Jalan di dalam tali-tali macam spaghetti.

Nonton laser di dalam mini dome.

Melewati terowongan lampu yang pendek banget. Selandia Baru ini kalau bikin festival rakyat rata-rata mediocre sekali! Hahahaha. Serius deh! Cuma ya seru aja untuk hiburan, malam-malam sambil nongkrong-nongkrong. Eh iya, jangan harap ada yang jualan makanan ya. Nggak ada sama sekali!

Di mini dome satunya, malah dibuat suasana Natal. Christimas in July gitu deh temanya, Maklum di sini pas Natalan malah musim panas, jadi gak apa-apa ya diputer dikit suasana Natal jadi-jadian ini dibuat di winter.

Gemes gitu Santanya banyak.

Ada juga area ice skating. Tilly benernya pingin banget, tapi kami kemalaman dinnernya dan cuma punya sisa waktu 15 menit, nggak jadi deh.

Ada juga giant ice slide. Seru banget, tapi lagi-lagi sudah mau tutup. Sempet ditawarin sama ownernya, katanya karena udah mau tutup mau dibonusin slidingnya. Tapi kami baru abis makan, yang ada nanti mabok.

Sebelum ke hotel, kami nelepon dulu ke receptionist, apakah mereka punya lilin dan korek api. Soalnya kalau nggak punya, mau mampir dulu ke supermarket. Mereka ngecek dulu, lalu kami ditelepon balik, katanya ada. Yang kocak, pas kami sampai di lobby, ternyata bukan korek api biasa yang mereka kasih, melainkan pemantik panjang yang biasa untuk kompor. Kata mas resepsionisnya, tolong habis dipakai langsung dibalikin ya, soalnya itu punya orang dapur, nanti mereka nggak bisa masak hihih. Ya becanda sih, tapi kocak aja.

Senyum merekah siap tiup lilin.

Manis amat ini anak dua kalau lagi akur.

Foto berempat pakai remote (alias pennya Samsung), yang ada emaknya lupa ngumpetin tangannya, jadi keliatan deh tuh lagi megang bolpen. Yang penting mah lucu yah.

Seneng banget nih si Tilly, makin ngerti aja soal ulang tahun.

Nyanyi dulu, happy birthday to youuuu!

Semangat tiup lilin.

Pas lilinnya mati, mukanya makin bahagia.

Liat asap malah melet-melet.

Lalu kibas-kibas asapnya.

Makan makaronnya. Hap!

Langsung masuk mulut semua. Habis tiup lilin, siap-siap bobo deh. Selamat malam, Taupo!

Selasa, 19 Juli 2022

Selamat pagi! Sudah hari ketiga alias hari terakhir nih. Hari ini rencana kami adalah balik ke Auckland via Otorohanga untuk  menuju tempat yang sangat terkenal di North Island yaitu Waitomo Cave, untuk melihat glow worm. Waktu saya masih kecil di tahun 1993, saya dan keluarga pernah mampir ke sana, tapi sudah agak lupa saking sudah lamanya, alias hampir 30 tahun yang lalu.  Kali ini kesempatan untuk bawa anak-anak untuk menikmati keajaiban alam yang satu ini. Gimana pengalamannya? Simak saja di bawah ya.

Puji Tuhan cuaca hari ini cerah!

Sarapan pagi, ini tentulah piring suami (yang lumayan penuh karbo hihihi).

Makan paginya Tilly nggak jauh-jauh dari sosis dan hashbrown.

Saya bikin yoghurt mix sendiri, pakai almond, berry compote dan cranberry. Ini pencitraan alias ronde ke 2. Ronde 1-nya mah yang berat-berat semua hihihi.

Minum orange juice doang aja seru amat sih.

Kamar kami itu ada di lantai 3 (tinggi hotelnya cuma 4 lantai). Anak-anak hampir tiap saat milih naik tangga daripada naik lift. Sementara emak bapaknya (yang pemalas ini) tentulah milih naik lift hehehe.

Setelah checkout (oh iya Hilton check outnya pukul 11, 1 jam lebih lama daripada rata-rata hotel/ motel di NZ yang checkout pukul 10, jadi kami nggak terlalu tergesa-gesa packing), kami lanjutkan perjalan menuju Waitomo, dengan mampir makan siang dulu di The General Store Waitomo. General Store ini ada di banyak kota kecil di Selandia Baru. Konsepnya adalah all in, resto, cafe, bar, dan juga supermarket mini. Intinya orang lokal kalau mau belanja bisa di sini saja. Kenapa kita mampir di sini dan bukan di restoran lain, adalah karena reviewnya yang cemerlang banget. Ternyata memang pelayanannya seramah itu! Makanan sih standar ya, namanya juga di kota kecil. 

General Store di Waitomo ini, macam palugada deh!

Kalau mau grocery lokal, ada listnya di situ barang-barang yang dijual, nanti pelayannya bisa ambilkan dari belakang.

Kami pesan dua hotdog untuk anak-anak. Si Tilly sih santai aja makan dengan tomato sauce dan mustard, tapi si Abby agak rewel pas melihat mustard. Pelayannya sampai minta maaf dan mau ganti dengan yang baru karena dia merasa bersalah nggak nanya dulu apakah mau mustard atau nggak. Padahal mah, mustard memang jadi standar hotdog ya. Akhirnya kami angkat sendiri mustardnya, karena nggak enak dengan pelayan restonya yang baik itu.

Yang ini jujur lupa namanya apa, yang jelas ini isinya crumbed chicken, pakai creamy mushroom sauce, mashed potato and veggies. Porsinya besar banget dan kata suami sih enak.

Ini menu saya, Beef Nachos. Ternyata kok enak! Bahkan guacamolenya fresh!

Makan nachos sampai merem melek hehehe.

Foto dulu dengan replica Waka (kapal Maori) di depan General Store.

Muka-muka bahagia, padahal liburan sudah mau selesai.

Berlokasi beberapa menit dari General Store adalah tujuan utama kami hari itu yaitu Waitomo Glowworm Caves. Perasaan di tahun 1993 nggak sekeren ini tempatnya. Kami parkir di seberangnya, lalu lewat terowongan bawah tanah, lalu tiba di entrance yang megah dan terasa organik sekali dengan elemen kayunya.

Kami sudah beli tiket online di website resminya, sampai sana tinggal infokan kedatangan kami untuk ditukar tiket masuk.

Ini daftar harga tiketnya. Kami ambil course yang paling singkat yaitu Waitomo Glowworm Caves saja. Harga tiket masuk untuk Waitomo Glowworm Cave dengan durari 45 menit adalah $55/dewasa dan $25/ anak. Bisa juga beli family pass seharga $136 untuk 2 dewasa dan 2 anak.

Foto dulu dengan totem Maori.

Suka banget dengan bentuk atapnya yang sederhana tapi cantik.

Kebetulan ada eksibisi barang-barang tradisional Maori di sana, jadi bisa lihat-lihat sambil foto-foto sementara menunggu guide kami tiba.

Pakaian tradisional dari flax 

Rok ala Maori yang disebut Piupiu. Piupiu yang autentik harganya mahal sekali bisa sampai ribuan dolar.

Pose dulu sambil nunggu kondektur hehehe.

Foto terakhir yang bisa kami ambil sebelum masuk ke dalam gua, karena setelah ini, kamera sama sekali tidak bisa digunakan. Untuk tau dalamnya gua ini seperti apa, bisa google Waitomo Glowworm Caves. Penasaran nggak? Ngapain coba bayar mahal-mahal buat liat cacing (worms)? Makanya, kalau main ke Selandia Baru, mampir ya kemari.

Akhirnya bisa foto lagi setelah keluar dari gua.

Di dalam gelapnya bukan main demi pemandangan maksimal saat melihat glow worm, begitu keluar, mata jadi berkunang-kunang.

Anak-anak, selalu semangat manjat tangga. Si Tilly ini bilang kalau punya rumah selanjutnya pingin yang bertingkat supaya bisa main tangga. Dia nggak tau aja kenapa ortunya beli rumah yang sekarang salah satunya adalah karena cukup 1 lantai nggak usah pakai manjat tangga hehehe.

Orang jaman dulu, ke dalam gua aja pakai jas sama dress!

Tahun 1920, pakaian ekspedisinya ternyata seribet itu, sambil bawa pelita pula. Wow!

Perjalanan dari Waitomo menuju Auckland berjalan lancar. Sampai Auckland mampir restaurant dulu sebelum pulang ke rumah. Kami putuskan makan di resto Jepang dekat rumah yaitu Yaruki. Tempatnya mungil banget, tapi makanannya enak!

Pembuka dari set dinner menunya suami.

Salmon roll. Ini gede banget loh dan banyak, tapi si Abby makan langsung tandas, dan masih nyomotin makanan punya orang lain.

Set dinner menu suami yang isinya lengkap banget mulai dari Unagi, tempura, katsu, gorengan lain, termasuk juga pembuka yang tadi yaitu sushi dan sashimi. Kenyang deh tuh!

Sementara istrinya tadinya mau pesan tempura udon, dan ternyata udonnya habis dong! Jadilah saya makan shrimp tempura aja (apparently came as ebi tempura and ebi furai in one set).

Chiken katsu punya Tilly yang ternyata porsinya gede. Makan di Yaruki ini memang puas dan enak.

Selesai juga deh jalan-jalan kami yang sebentar tapi berkesan. Sesekali dong ya rayain ultah anak pas hari H di luar kota. Tapi sebenernya perayaan ultah Tilly bukan cuma ini aja loh. Nanti di post selanjutnya dijabarin deh ya perayaannya ngapain aja dan gimana serunya. Maaf kalau post kali ini fotonya banyak banget dan ceritanya panjang, biar jadi dokumentasi kami. Sering  loh, liat blog ini cuma buat referensi cerita-cerita lalu, dan jujur saja, banyak juga cerita jalan-jalan yang kami skip. Kira-kira kalau sudah lewat lama, yang baca masih pingin tau nggak ya? 

Sampai ketemu lagi di Abby dan Tilly Tamasya selanjutnya!


Comments

  1. happy bday yaaa tilly, GBU dear

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih Om/ Tante. Di sini keluarnya anon jd gak tau dr siapa ucapannya 😄

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas