I Am Back!

Halo semua! Saya balik lagi setelah ngilang beberapa saat. 

Buat yang follow saya di Instagram, sudah tau dong ya kalau saya masuk di top 27 MasterChef New Zealand. Hehehehe. FYI, Masterchef NZ ini sudah 7 tahun nggak muncul di televisi. Jadi sejak saya pindah ke NZ 6 tahun lalu, saya nggak pernah nonton acaranya sama sekali. Season terakhir adalah season 6, jadi yang tayang di 2022 ini adalah season 7. 

Pas awal-awal ada iklan audisinya di bulan Oktober 2021, boro-boro kepikiran daftar. Eh malah suami ojok2in, bahkan siap dan rela ditinggal beberapa bulan oleh istrinya ini seandainya istrinya melaju terus. Akhirnya iseng-iseng lah saya daftar, kirim video, foto, isi form dan tau-tau berlanjut terus, mulai dari phone interview, audisi regional, dan langkah-langkah seterusnya sampai akhirnya masuk TV. 

Nah daripada saya nulis panjang lebar soal pengalaman saya, gimana kalau entry blog kali ini singkat aja, tapi para pembaca boleh tulis di komen pertanyaan apapun yang ingin ditanyakan soal pengalaman ikut MasterChef NZ, nanti saya bakalan update dengan jawabannya di post ini juga. 

Syarat dan ketentuan berlaku ya, nggak semua pertanyaan bisa dijawab dengan gamblang karena saya masih under contract produser. Tapi pasti akan saya jawab sebisa mungkin, biar yang nanya nggak penasaran. Keep the questions coming!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku pengen tau soal pemilihan menu, apa 100% ditentukan kita sendiri? Kalau iya kenapa kak Leony pilih menu itu?? (Fradita)

Menu untuk audisi itu saya yang milih sendiri, yaitu signature dish, yang bisa dimasak dalam 60 menit. Menu yang sama dipakai pada audisi regional dan juga audisi yang muncul di TV.  FYI, menu yang saya pilih adalah Soto Betawi. Kenapa saya pilih menu itu? Karena saya berusaha untuk stay true to myself sebagai orang Cina Betawi. Menu ini begitu dekat di hati saya sejak saya kecil sampai akhirnya dewasa dan selalu jadi bagian dari hidup saya. Waktu kecil, orang tua sering banget membawa saya makan Soto Betawi di daerah Jatinegara, rata-rata sepulang gereja sore. Begitu saya kuliah di Amerika, menu ini suka saya masak saat kumpul-kumpul dengan teman-teman, bahkan pernah ada salah satu teman yang ulang tahun, minta saya masak ini sebagai menu ulang tahun dia. Ketika saya akhirnya nikah, ternyata ini juga jadi menu favorit suami tercinta. Kebetulan dia juga orang Cina Betawi. Jadi terasa full circle banget. Nah itu dari segi personal ya. 

Kalau dari segi citarasa, menu Indonesia yang terkenal di luar negeri itu benar-benar terbatas, mentok di Sate Ayam, Nasi Goreng, Rendang, dan Gado-Gado. Sementara misi saya ikut MasterChef ini salah satunya adalah untuk memperkenalkan kalau Indonesia itu luas banget, dan menunya sangat beragam. Sebagai orang Jakarta, sudah layak dan sepantasnya saya membawa makanan Jakarta, dan Soto Betawi ini sebenernya pilihan yang high risk banget dari segi waktu yang terbatas, dan juga dari segi penerimaan di lidah. Ini adalah sebuah rasa baru buat orang-orang di Selandia Baru yang taunya makanan Indonesia hanya gitu-gitu saja. Soto Betawi ini kan unik, pakai santan, tapi bukan kari, dimakannya pakai nasi putih pula. Bumbunya juga agak kompleks dan elemen yang harus saya siapkan juga banyak. FYI, saya memakai semua biji-bijian asli yang saya toast di atas kompor sebelum digiling untuk membuat spice paste. Selain membuat broth (kuah) dan memastikan dagingnya empuk (saya pakai bantuan pressure cooker), saya juga harus membuat condimentsnya, mulai dari membuat kentang goreng, bawang goreng, menggoreng emping, membuat acar, dan juga membuat sambal. Memasak nasi pun saya menggunakan panci, bukan rice cooker. Kebayang bisa siapkan itu semua dari scratch sampai plating dalam waktu 60 menit? Kalau bukan high risk, entah apa namanya hehehe. Selain Soto Betawi mempunyai rasa yang gurih, seluruh condimentsnya juga memberikan sensasi yang unik, mulai dari asam manisnya acar, pedasnya sambal, kriuk dan sedikit pahit dari emping. This dish truly represents myself on a plate. Rame, seru, tapi harmoni dan bikin nagih!

Gimana cara ngomongnya sama para krucil soal keputusan ikut itu kak? (Fradita)

Sebelum saya memutuskan daftar, saya sudah wanti-wanti ke suami, kalau nanti saya beneran masuk acara ini, dia harus siap untuk menjalani fungsi sebagai ayah dan ibu sekaligus selama beberapa bulan. Hal ini juga kami berdua komunikasikan dengan anak-anak. Surprisingly, anak-anak malah mendukung banget dan siap untuk ditinggal. Malah mereka yang terus menyemangati saya, dan bilang kalau mama harus menang dan dapat trophynya (padahal MasterChef NZ nggak ada trophy hahaha). Keluarga saya sendiri suka nonton MasterChef Australia, jadi anak-anak sudah tau kira-kira gimana bentuk acaranya, dan mereka tau juga gimana cintanya saya dengan dunia dapur, so it was not that hard for them. Waktu subuh-subuh mengantar saya ke airport, nggak ada satupun dari mereka yang ngeluh karena saya mau tinggal. Ternyata anak-anak hebat juga yah. Bikin mamanya tenang waktu mau "berperang" hehehe.


Bagaimana proses audisi hingga sampai ke posisi 27 besar dan apa kriteria untuk setiap tahapan audisi? (Ully)

Proses audisi tentulah awalnya dimulai dari mendaftar dulu ya. Pendaftarannya sendiri sudah dimulai dari 4th quarter 2021 dan ditutup di awal bulan November. Ada link di website untuk mengisi formnya, dan pertanyaannya tuh banyak banget! Kita juga harus kirim foto masakan kita, foto diri, dan video perkenalan soal diri kita. Nah setelah kirim itu semua, tinggal nunggu deh. Dari ribuan orang yang mendaftar, ada beberapa yang akhirnya menerima phone interview, salah satunya ya saya. Pertanyaannya macam-macam mulai dari personality, sampai quick fire (pertanyaan dengan jawaban spontan dan cepat) mengenai resep-resep basic. Mirip-mirip kayak interview kerja, tapi via telepon aja. Kalau lulus interview ini, akan dapat panggilan untuk audisi regional. In my case, audisi Auckland. 

Ternyata saya lulus dong, dan diundang untuk ikut audisi di Auckland. Sebelum audisi ini juga harus kasih info masakan apa yang bakalan kita masak, deskripsi soal masakan tersebut plus fotonya. Semua peralatan dan bahan kami bawa sendiri. Di sana hanya sedia kompor dan panci2 basic. Intinya apa yang bisa dibawa, bawa aja semuanya deh. Saya waktu itu sampai bawa troli piknik dengan 4 roda. Orang lain sampai ada yang bawa cooler box besar. Waktu memasaknya adalah 60 menit teng, nggak kurang nggak lebih. Masakan yang kita  masak kali ini bakal jadi masakan yang sama dengan apa yang akan kita masak kalau kita lolos ke babak selanjutnya yang mana adalah top 27. Saat di sana, ketemu dengan casting producer, director, ada kameramen juga tapi nggak sebanyak pas shooting beneran. Intinya sih ngelihat keluwesan kita di depan kamera kali ya. Produsernya nanya macam-macam juga sebelum dan sesudah masak. Saat itu jurinya banyak orang. Intinya semua makan rame-rame nyobain masakan kita untuk dinilai. 

Saya pun lolos lagi. Sesudah lolos ronde ini, istilahnya ada fit and proper test, mulai dari cek kepolisian, dan juga interview dengan psikolog yang berlangsung lumayan lama. Ada juga banyak banget kontrak-kontrak yang harus dibaca dan disanggupi, sampai lumayan overwhelming. Belum lagi persiapannya, kita dikasih jatah 3 koper untuk bawa barang, karena kalau sampai kita melaju terus, kita nggak akan balik lagi ke kota asal sampai shooting selesai 2 bulan kemudian karena kita bakalan dikarantina. Jadi kebayang deh ya persiapannya kayak apa. To be honest, I was super prepared, sampai beli baju baru banyak banget udah kayak rainbow (karena diminta solid colours). Makanya kaget juga pas liat peserta lain di TV bajunya itu-itu terus hahahah. Belum lagi, skincare saya beli lengkap botol-botol baru, supaya nggak kehabisan. Kayaknya saya yang over prepared ya. 

Kalau kriteria tiap tahapan, to be honest jawabannya I DON'T KNOW. Bisa masak itu sudah pasti, tapi saya rasa karena in adalah reality TV, cuma sekedar bisa masak nggak mungkin guarantee kita untuk maju ke tahap selanjutnya. Pasti mereka juga bakalan cari figur yang cocok dan pas untuk dibentuk oleh TV show tersebut. Jadi sampai sekarang pun, kalau ditanya kriteria kelolosan, jawabannya beneran saya nggak tau. But I bet being young would be one of them.  

 Apa highlights ikutan kompetisi masak kayak gini? Dan apa aja pelajaran yang didapat? (Ully) 

Highlight ikutan kompetisi ini nomer satu adalah persahabatannya. Bayangin aja, berhari-hari ada dalam satu ruangan yang sama dengan orang-orang yang punya passion yang sama di bidang kuliner. Mulai dari melek mata sampai kelar shooting, yang diomongin itu masakan, teknik, ide-ide, pokoknya seru banget deh. Nah setelah keluar dari acara tersebut, saya mendapatkan teman-teman baru yang luar biasa baik-baik semua dengan passion yang similar dan beberapa di antara mereka masih temenan baik dengan saya sampai sekarang, bahkan kalau beberapa hari nggak teleponan aja rasanya kangen.

Cerita sedikit, sepanjang shooting itu capeknya amit-amit, kurang tidur, shooting sehari bisa lebih dari 12 jam. Bahkan adegan naik dan turun kapal dan nyambut juri yang di TV cuma 5 menit itu, shootingnya sehari sendiri di tengah cuaca panas mentereng. Kalau fisik dan mental nggak kuat sih, sudah pasti mental. Mungkin itu salah satu pelajaran yang didapat juga kali ya, soal reality TV show. Apa yang selama ini kita expect, di dalamnya bisa berbeda. Untung ada teman-teman sepenanggungan, sehingga rasanya agak ringan.

Pelajaran utama yang saya dapat setelah saya ikut acara ini (dan sudah saya tulis juga di postingan instagram saya) adalah: universe never made a mistake. Semesta alias Tuhan itu nggak pernah salah! Begitu saya keluar dan akhirnya saya nonton acaranya, saya jadi tau, acara ini memang bukan buat saya, dan saya LEGA banget nggak harus involve terlalu lama di acara tersebut. Mungkin buat yang sudah nonton potongan video audisi saya, di situ saya crossing fingers berkali-kali, yang salah satu artinya adalah meminta pertolongan Tuhan. Beneran loh, Tuhan nolong saya banget. Saya nggak lolos itu adalah salah satu bentuk pertolongan Tuhan. Soal kenapanya, nggak bisa saya jabarkan. Yang jelas saya ikut senang dengan teman-teman yang bisa meraih sukses via ajang ini.


Comments

  1. Selamat kak sebelumnya sama satu milestone dalam hidup :*

    Aku pengen tau soal pemilihan menu, apa 100% ditentukan kita sendiri? Kalau iya kenapa kak Leony pilih menu itu??
    Sama pengen tau gimana cara ngomongnya sama para krucil soal keputusan ikut itu kak.

    Makasih kesempatannya.. Btw aku fans berat blog ini, walau kita beda keyakinan tp aku merasa dr segi kemanusiaan kita sehati hehe. Sukses trus!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Fradita. Sudah kujawab di post ya pertanyaannya. Makasih sudah ngikutin blog ini sekian lama hehehe. Iya dong, agama kan cuma caranya, yang penting semangatnya sama.

      Delete
  2. wah mau tau sih semua detail ceritanya dari awal sampe akhir. huahhahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanya some questions aja Man, jd gue jawabnya sesuai pertanyaan. Kalo semua, bingung start dr mana. 🤣

      Delete
  3. Hai Leony! Kalau nggak keberatan, tolong diceritain ya, bagaimana proses audisi hingga sampai ke posisi 27 besar dan apa kriteria untuk setiap tahapan audisi? Lalu buatmu sendiri, apa highlights ikutan kompetisi masak kayak gini? Dan apa aja pelajaran yang didapat? Terima kasih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Ully, sudah saya jawab ya. Moga-moga puas dengan jawabannya.

      Delete
    2. Makasih buat jawabannya, Le! Puas bacanya dan jadi ikut kebayang prosesnya.

      Delete
  4. BuLe! telat banget deh gw baru liat hehehe ... btw gw tim hore - hore aja bacanya hehehe :) what an experience ya, le :) happy for you :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas