Abby dan Tilly Tamasya ke South Island - Bagian 1

Halo semua! Semoga keadaannya baik-baik saja dan sejahtera. Sudah lumayan lama saya nggak update soal keluarga kami, dikarenakan sibuknya bukan main. Dan pada akhirnya, di penghujung tahun ini, saya sempat-sempatin deh buat nulis yang bikin happy-happy untuk menutup tahun. Kali ini, saya persembahkan cerita liburan kami di bulan April 2021 lalu! Iya, udah lama banget, tapi boleh dibilang this is the highlight of our year. 

Saat korona belum hadir di dunia, kami punya cita-cita, kalau anniversary ke 10, pingin banget balik ke Jepang sekeluarga, dan ingin mengunjungi bagian lain dari Jepang yaitu ke Sapporo dan sekitarnya. Apa daya, cita-cita kandas begitu korona melanda. Semangat untuk jalan-jalan luntur seketika. Tapi setiap hari kami mendengar iklan: "Do Something New, New Zealand" baik di radio maupun di TV, yang menggencarkan wisata lokal di Selandia Baru. Hal tersebut membuat kami berpikir, ngapain ya pergi yang jauh-jauh, sementara "halaman belakang" negara sendiri, kami belum explore. Kalau saya sendiri sudah pernah ke South Island, tapi hampir 30 tahun lalu, sementara suami cuma mampir kerja saja ke beberapa kota di sana, dan tidak pernah benar-benar mengeksplorasi. Padahal, katanya South Island-nya New Zealand itu adalah salah satu tempat terindah di dunia.

Di akhir Januari 2021, saat liburan sekolah anak-anak hampir berakhir, kami malah mendadak plan untuk trip kali ini. Namanya keluarga saya, kalau nggak spontan itu nggak asik. Saking spontannya, penerbangan dan hotel langsung kami booking semua dalam satu hari, untuk terbang di saat liburan sekolah di bulan April 2021. Setelah setiap hari berdoa supaya jangan sampai kena lockdown, akhirnya terlaksana juga perjalanan kami. Trip ini memang nggak bisa lama-lama karena saya ada komitmen di gereja, dan suami ada komitmen di kerjaan. Makanya tripnya nggak panjang, hanya 5 hari 4 malam dan hanya ke beberapa kota, tapi asli deh, puasnya minta ampun! Biarpun trip domestik, rasanya itu kayak jalan-jalan ke luar negeri saking indahnya. We're blessed with beautiful weather too!

Itinerary sederhananya kira-kira begini. 

Hari 1: Auckland - Queenstown - Lake Tekapo - Mt. Cook

Hari 2: Mt. Cook - Twizel - Arrowtown - Queenstown

Hari 3: Queenstown - Blue Pools - Wanaka - Queenstown

Hari 4: Queenstown - Milford Sound - Queenstown

Hari 5: Queenstown - Glenorchy - Queenstown - Auckland

Soal kegiatannya apa aja, akan saya jabarkan di beberapa bagian di cerita kami. Salah satu alasan kenapa trip kami yang satu ini nggak terbit-terbit adalah karena fotonya banyak banget, dari sumber kamera yang berbeda, asli mata saya sampai siwer! Tapi siap-siap mata dan pikiran kita dimanjakan dengan keindahan Selandia Baru yang luar biasa. Yuk kita mulai!

Disclaimer: Harga yang tercantum di sini, itu adalah harga pada saat kami pergi. Harga bisa berubah sewaktu-waktu. 

Hari 1 - Minggu, 18 April 2021: Auckland - Queenstown - Lake Tekapo

Penerbangan yang kami pilih menuju Queenstown adalah Air New Zealand. Kami pilih penerbangan paling pagi pukul 6.50 supaya waktunya jadi efektif. Jadilah subuh-subuh saat langit masih gelap di musim gugur, kami berangkat ke airport. Biarpun ngantuk, tapi karena semangat saking sudah lama nggak naik pesawat, ngantukpun sirna! 

Sudah tradisi setiap mau trip, kami foto dulu dengan koper-koper. Ringkes saja bawaan kita, hanya 2 koper medium dan 1 carry on. Carry on itu isinya jaket-jaket, scarf, pokoknya outerwear yang bakalan kita taruh di mobil terus selama perjalanan. 

Nunggu di gate, anak-anak pada nyemil McD, soalnya itu doang yang baru buka hihihi. Maunya sih nyemil Dunkin, apadaya masih tutup dan donatnya baru dateng lagi disusun. 

Puji Tuhan saat itu Selandia Baru ada di level 1, yang artinya kehidupan domestik sudah berjalan normal, hanya saja kalau naik public transport termasuk pesawat, harus pakai masker nonstop kecuali saat makan. Sebelum masuk garbarata, semua masker sudah harus on. 

Wefie dulu buat kenangan. Seperti biasa, emaknya yang jaga bocah-bocah, bapaknya di seberang sendirian. Abby dan Tilly nggak lepas bawa boneka kelinci masing-masing yang mereka kasih nama Jingle Rabbit dan Shaky Rabbit. 

Ibu dan anak sama-sama molor. Shaky Rabbit nggak ketinggalan dipelukin. 

Akhirnya, setelah jampir 2 jam, pesawat turun, dan pemandangan indah kota Queenstown terpampang nyata

Senang rasanya bisa travel naik pesawat lagi, walaupun cuma 2 jam penerbangan dari Auckland. Pas mendarat kayak ada perasaan bahagia yang nggak bisa diungkapkan.

Setelah ambil bagasi dan ngurus pengambilan mobil sewa, kami semua jalan ke parkiran tempat mobil sewa, dan ngambil sendiri mobil yang ditentukan. Perusahaan yang kami pakai adalan Ezi Car Rental yang mobil-mobilnya lumayan baru-baru, reliable, dan ratingnya tinggi. Mobil yang kami dapat saat itu adalah Toyota Rav4 model terbaru. 

Kinclong amat ya, mobil yang lain warnanya hitam, kami punya warnanya biru gonjes! Mobilnya baru, walaupun standar mobil rental alias basic banget perlengkapannya, tapi sudah sangat cukup. Sayang pas di jalan baru ngeh, kalau cuma 1 USB charger yang nyala. Jadi gantian deh kalau mau ngecharge HP.

Tujuan awal kami adalah langsung ke arah utara yaitu Lake Tekapo. Danau yang satu ini, selain pemandangannya indah, juga terkenal dengan 1 bangunan ikonik yaitu The Church of The Good Shepherd. Perjalanan dari Queenstown menuju Lake Tekapo kira-kira hampir 3 jam lamanya. Sebelum ke The Church of The Good Shepherd, kami mampir makan siang dulu di lokasi yang luar biasa bagusnya yaitu Astro Cafe yang terletak di puncak bukit. Astro Cafe ini bukan terkenal karena makanannya, tapi karena pemandangannya bikin menganga. Karena lokasi kafe ini merupakan bagian dari Mt. John Observatory yang dimiliki oleh University of Canterbury, untuk masuk ke lokasi ini, kita membayar road user pass seharga $8 untuk 1 mobil. 

Naik-naik ke puncak gunung.

Pemandangan indah luar biasa dari atas bukit, dengan langit biru yang sangat bersih. 

Di sebelah kiri ada Astro Cafe, dan di luarnya kita bisa makan dan duduk-duduk sambil menikmati keindahan Lake Tekapo.

Suasana di dalam kafe mungil ini, bahkan atapnya pun dari kaca, supaya cahaya alami langsung masuk.

Ada yang bahagia banget mau makan siang. 

Kami sangat beruntung karena masih bisa dapat hot food terakhir. Ada beberapa pie dan rolls untuk kami semua. Tamu setelah kami tinggal dapat kue-kue saja. 

Jangan-jangan suka ada yang pose berdiri di atas meja ya, sampai perlu dikasih warning hehe. Kebayang nggak makan siang di situ, dengan pemandangan seperti di belakangnya. Wow!

Kami milih makan di dalam karena di luar anginnya lumayan nggak santai. Daripada masuk angin pas hari pertama liburan, mending makan di dalam. 

Sungguh indah ciptaan Tuhan.

Langitnya benar-benar bersih, tanpa editan, dan difoto cuma pakai HP saja. Percaya atau ngga, makin ke belakang perjalanan kami, makin indah saja pemandangannya. Ini baru awal!

Foto keluarga dulu.

Hore, ada orang baik yang nawarin kami foto, jadi punya foto keluarga berempat yang agak proper. Entah kenapa si Abby gayanya pakai nyilang kaki segala. 

Umur segini emang kebanyakan gaya. 

Di puncak bukit tertinggi. 

Boleh dong sesekali foto solo. 

Bapaknya juga nggak mau kalah. 

Sisi lain dari atas bukit, yang ini kita foto dari tempat parkir loh. 

Yang ini juga mau foto sendirian. 

Anginnya wow wow wow! Tapi keren kan fotonya?

Tujuan kami selanjutnya adalah ke The Church of the Good Shepherd, kalau bahasa Indonesianya Gereja Gembala Baik. Gereja ini sebenarnya sangat mungil, tapi lokasinya yang unik, benar-benar berada di tepian danau. Saya masih ingat saat tahun 1993 ke tempat ini, di sekitar Lake Tekapo hampir tidak ada bangunan. Sekarang di daerah sekitarnya sudah banyak hotel dan toko-toko. Tapi pesona gereja ini masih tetap sama. Di musim semi, sekitar gereja ini penuh dengan tanaman lupin yang begitu cantik dengan warna ungu dan merah muda. Tapi berhubung kami perginya di musim gugur, tidak nampak adanya lupin, namun tetap tidak mengurangi keindahan gereja istimewa ini. 

Gereja mungil ini, dibangun tahun 1935, dan masih berstatus gereja yang aktif, bukan sekedar tempat turis singgah. 

The Iconic Church of The Good Shepherd.

Duo kembar sipit.

Gaya amat kau, Abby.

Buat kenangan biarpun anginnya gak karuan.

Danau di belakang gereja. Kali ini si kecil yang banyak gaya sambil benerin kacamata hitamnya. 

Cantik banget walaupun cuma diambil pakai kamera HP. 

Si bontot dan emaknya. 

Kotak donasi untuk pemeliharaan gereja. Senangnya waktu melihat kalau gereja ini masih aktif dan digunakan untuk Misa Kudus. 

Kebayang kalau penuh tanaman lupin, wow pastinya.

Beberapa puluh meter dari bangunan gereja, monumen anjing yang terkenal. Monumen ini didirikan untuk menghargai anjing collie yang dianggap sangat membantu para petani untuk kelangsungkan kehidupan di daerah pegunungan. Keren ya, anjing saja sangat dihargai.

Sekali lagi menatap keindahan Lake Tekapo, terbayang jika musim dingin, di sisi atas gunung2 tersebut putih salju semua. 

Mampir ke Lake Tekapo, tidak lengkap kalau tidak mampir di pemandian air panas yang terkenal di sana. Tekapo Springs memang sudah pasti masuk tujuan kami. Kapan lagi kita mandi air panas di samping danau, dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Kami mengambil family pass untuk 2 dewasa dan 2 anak, seharga $89/ pass. Di dalam, kami menyewa loker untuk menaruh barang-barang. Ada mesin pemeras pakaian renang juga, jadi begitu dibawa pulang, pakaian renang kami sudah setengah kering. 

Lokasi Tekapo Springs, tinggal naik saja terus dari parkiran.

Tekapo Springs sangat terkenal untuk stargazing di tengah malam alias memandang bintang di langit sambil berenang. Kalau minat, harga tiketnya $99 per orang, lengkap dengan guided tour. Kalau nggak bawa anak kecil sih seru juga ya!

Kolamnya dibagi menjadi beberapa area, dengan kehangatan suhu yang berbeda. Pemandangannya langsung ke Lake Tekapo. 

Di sekeliling lokasi, dikelilingi oleh pohon pinus, beneran serasa menyatu dengan alam.

Berenang pun bawa HP demi dokumentasi. 

Foto kaki-kaki montok. 

Relaxing banget kan. Duduk-duduk di air hangat. Jujur, saya sih pinginnya lebih hangat lagi sampai ngepul-ngepul hahaha.

Ada area kolam yang adults only, katanya sih lebih hangat. Pas saya cobain, oke lah, masih sangat bearable. 

Konsep kolamnya bersusun, makin ke bawah makin adem airnya. 

Main air, bahagia banget! Apalagi pemandangan belakangnya, mantap!

Asyik banget kan, sore-sore ngadem sambil berendem, oh indahnya dunia. 

Praktek renang gaya punggung nih. 

Kalau nggak inget udah sore dan kulit pada kriput-kriput, nggak kelar-kelar nih berendem.

Habis ganti baju, nongkrong di cafe, eh malah mintanya es loli. Lagi liburan mah, kasih deh!

Sementara, mama pesen Apple Pie Waffle, served with vanilla ice cream. Angetnya ada, dinginnya ada. Yummy!

Turun ke tempat parkir, sambil santai-santai menikmati indahnya cuaca. 

Setelah ini, kami lanjut perjalanan ke Mt. Cook, puncak tertinggi di Selandia Baru. Di sana, kami menginap di hotel tertinggi di Mt. Cook, alias sudah mentok jalanannya nggak bisa kemana-mana lagi. Penasaran seperti apa hotelnya? Lalu bagaimana pemandangannya? Ditunggu saja ya di post selanjutnya, dijamin, post yang kali ini, cuma terasa seperti teasernya. 

Postingan selanjutnya: Bagian 2

Comments

  1. selalu suka sama cerita di blog ini. semoga part berikutnya tidak perlu nunggu lama. karena sungguh bagus pemandangannya serasa jadi ikut jalan jalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga nggak pakai lama yaaa hehehe. Ini sdh masuk libur sekolah anak2, jadi mamanya selalu get occupied.

      Delete
  2. paling seuneng kalo uda muncul postingan holiday! jd serasa ikutan loll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga tambah semangat ngupdatenya juga yah hihihi. Sibuk banget.

      Delete
  3. Mba Le, setiap postingan mba le tentang liburan ke suatu tempat berasa kita juga ikutan juga, ikutan happy juga. lanjutkan cerita liburannya ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah dilanjutttt hehehe. Semoga habis ini makin cepat.

      Delete
  4. Foto gereja itu, duh...ngeliatnya bikin rasa hati adem dan damai ��.

    Pemandangannya memang sungguh indah, bikin kangen jalan2 lagi ke pulau Samosir dan Danau Toba ��

    ReplyDelete
  5. Kalau lagi piknik penting bgt nih memperhatikan barang bawaan seperti tas, koper, pakaian, dompet, charging, sampai alat makan/minum (tumbler). Pilih yang mudah dibawa dan ringan, serta kalau bisa yg multifungsi. Beberapa produk tersebut bisa agan cari di Toko Retail ACE Hardware contohnya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas