Review Palsu

Beberapa hari lalu, saya baca sebuah berita di harian online Indonesia (yang sebenarnya harian berita, tapi lama-lama nggak beda sama situs gosip). Intinya sih di berita itu, ada seorang dokter yang mempertanyakan profesionalitas seorang selebgram terkenal yang sudah dibayar ratusan juta untuk mereview suatu produk treatment di klinik. Buat yang sudah baca soal ini, pasti tau siapa dokter dan selebgram yang saya maksud. Intinya sih si selebgram menunda-nunda kehadiran, giliran datang pun terlambat, dia sama sekali nggak mau ditreatment karena diburu waktu, dan cuma pura-pura ditempelin infus, lalu langsung menyebutkan kalau treatmentnya bagus. Si dokter kecewa karena menurut dia itu sama dengan penipuan publik. Kalau produknya beneran bagus sih gak apa-apa, lalu bagaimana kalau produknya jelek? Siapa yang sesungguhnya jadi korban? Ya tentu saja follower-follower si selebgram yang percaya dengan reviewnya.

Gambar dari sini

Kenapa saya tertarik bahas soal ini? Karena saya juga sering dihadapkan pada situasi yang mirip, terutama saat saya masih tinggal di Indonesia. Saya bukan blogger yang terkenal, tapi sudah beberapa kali saya dihubungi oleh pihak perusahaan untuk datang ke launching produk, dikirimi produk tertentu, atau diminta langsung untuk menulis review barang atau jasa tertentu. Bahkan saat saya sudah pindah ke sini, masih loh ada yang mengontak saya untuk nulis promotional material di blog. Saya baru tau kenapa orang-orang dulu itu banyak yang semangat jadi seleblog. Mirip seperti orang-orang berlomba jadi selebgram jaman sekarang, ternyata nulis review di blog itu juga ada bayarannya. Dan ketika pada akhirnya saya pernah nyemplung sedikit di dunia itu, saya tau ada seleblog yang bayarannya wow banget untuk 1 piece tulisan yang sebenernya nggak bagus-bagus amat. Tapi memang untuk jadi seleblog/ selebgram ini, image itu pentingnya setengah mati ya, dan maintain image itu nggak mudah. It's not my cup of tea kalau tiap saat harus foto cantik, menggambarkan keadaan ideal nan indah.

Jadi apakah saya pernah dapat bayaran untuk menulis? Jawabannya adalah, pernah. Mungkin jaman dulu ada yang ingat ya, saya pernah nulis soal produk tertentu, dan sudah jelas banget kalau itu sponsored post. Tapi perlu diketahui, tulisan sponsored post saya itu dikitnya bukan main, malah bisa dihitung jari, dan saya kasih label tag sponsored. Padahal untuk ukuran emak-emak, blog saya itu di jaman dulu lumayan banyak pengunjungnya, dan banyak yang ngaku dapat informasi banyak dari blog saya. Kalau mau dimonetasi, wuih, istilah jaman sekarang mah bisa cuan, cuan cuan. Lalu kenapa sponsored post saya cuma sedikit? Itu karena mayoritas dari tawaran untuk nulis review (walaupun ada bayarannya), saya tolak. Bukannya sombong nggak mau bayaran, tapi saya ini paling anti ngebohongin diri sendiri. 

Contoh sederhana nih, saya pernah diundang untuk datang launching dan review produk multivitamin anak di sebuah hotel berbintang, padahal anak saya nggak pernah minum multivitamin itu. Kalau mau asyiknya sih, bisa datang, dapat merchandise ina inu, dibayar pula untuk nulisnya. Toh saya bisa pura-pura kok masang foto anak sambil pegang vitamin, atau saya pura-pura lagi ngasih vitamin. Tapi kok hati kecil saya nggak bisa nerima ya, rasanya kayak saya bukan cuma akan ngebohongin orang lain, tapi yang paling parah adalah ngebohongin diri sendiri. Jaman dulu tuh memang paling banyak dapat tawaran nulis produk anak, soalnya market pembaca saya kan emang ibu-ibu banget ya. Tapi beneran saya nggak ambil tawarannya. Lebih baik saya nggak dibayar tapi tenang hati, daripada dibayar cuma untuk merekomendasikan produk yang saya nggak beneran pakai. 

Lalu contoh satu lagi nih cerita soal tawaran yang saya dapat pada saat saya sudah pindah ke sini. Ada tawaran buat nulis untuk sebuah e-commerce. Intinya sih saya cuma diminta untuk menulis tips-tips apapun, yang penting ada tautannya ke link e-commerce mereka. Bayarannya dalam mata uang asing pula. Kesannya kerjaan yang gampang banget buat saya yang lumayan hobi nulis. Kemudian saya dikasih contoh artikel-artikel dari seleblog yang sudah mereka endorse, untuk dijadikan "contoh" buat saya menulis. Begitu saya lihat contoh dari tulisan seleblog tersebut, saya shock berat!! Kenapa shock? Karena informasi yang diberikan oleh si seleblog tersebut menyesatkan semua! Dia menulis tentang tips produk-produk yang aman untuk anak eczema, tetapi semua produk yang dia tulis adalah merek-merek produk yang malah membuat eczema bisa semakin parah! Lalu saya kontak dong PR dari perusahaan tersebut. Saya bilang ke dia, tolong sebelum dia publish tulisan dari seleblog, check fact dulu. Jangan cuma demi sekedar traffic masuk, kita jadi memberikan informasi yang sesat. Apa yang terjadi selanjutnya? Saya nggak dibalas lagi. Padahal pas awal nawarin, sampai kontak saya dua kali hihihi. 

So, kesimpulannya apa? Jangan gampang-gampang percaya sama review artis/ selebgram. Karena mayoritas kasus, orang cuma sekedar nulis atau bergaya pakai produk sebentar cuma karena dibayar. Nggak usah jauh-jauh deh. Tahun lalu itu, di IG rame banget airfryer merek tertentu di Jakarta, yang dipromosiin gila-gilaan sama selebgram masak-memasak. Mereka juga pada mendulang uang karena nyambi jadi agennya si produk ini. Tiap buka PO, pasti sold out sampai pada waiting list. Begitu temen saya di Jakarta nanya soal produk ini, saya bilang jujur ke dia, produk itu di sini jelek, bahkan saya kasih liat reviewnya publik di Australia dan Selandia Baru cuma 2 bintang dari 5. Tapi karena hype selebgram, antrian sampai mengular demi nggak ketinggalan produk tersebut. Saya sampai kasih tau ke teman saya itu, kalau mau beli produk elektronik, mending daripada ngikutin selebgram, cek aja ke website resmi yang dari luar negeri, terus lihat review consumernya yang asli tanpa polesan. Do your own research before you buy something. 

Lalu gimana kalau saya nulis tentang review sesuatu di blog saya? Percayalah, kalau apa yang saya tulis di sini, walaupun belum tentu disukai semua orang, pasti jujur dari lubuk hati terdalam. (Ciyehhh...). Konsep ibu Leony adalah, kalau itu produk bagus, biar nggak dibayar sepeserpun, bakalan saya promosiin karena kepuasan hati saya, tapi kalau nggak bagus, akan saya bahas juga supaya para pembaca bisa memasukan itu sebagai konsiderasi sebelum memutuskan. Saya percaya, karena konsep jujur juga dalam penulisan saya, para pembaca masih banyak yang ngikutin blog saya sampai sekarang, walapun saya sudah jauh di ujung bumi sebelah Selatan sini. Makasih ya sudah jadi pembaca setia. Btw, ada nggak pembaca yang pingin saya review sesuatu dari hal yang saya pakai di kehidupan saya?  Kalo iya, tulis aja di komen, tar kalau sempat, saya buatin reviewnya. Dijamin, review jujur tanpa imbalan 😁


Comments

  1. Kalau sampe review menyesatkan sih ngeri ya.. disini misinformation banyak makan nyawa orang ( cov*d)

    sampe ada kasusnya kan si fb, dimana mereka put profit first ketimbang public safety.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya sih segala sesuatu kalau gak fact check itu bahaya. Apalagi yg buat kesehatan diri ya. Belum lagi jaman skrg banyak artis jg endorse produk investasi yg jujur aja menjurus2 ke ponzi. Deg2an deh pokoknya.

      Delete
  2. ah gua kangen sama jaman2 masih banyak yang mau bayar buat gua nulis di blog. hihihi. sekarang udah gak ada lagi.... :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Nulis buat memory, Man. Lebih menyenangkan kalo buat gue. No pressure, no expectation.

      Delete
  3. Hi dari aku si pembaca setia hehe. Thanks ya kak Leony masih aktif ngeblog. Kalau boleh request tulisan aku pengen kakak cerita lebih banyak soal lukisan bakso di rumahnya. Ga tau, walau pernah sekilas doang liat di foto tp suka banget sama tuh lukisan ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke siap, Frandita. Nanti ya diceritain soal lukisan bakso hehehehe. Tunggu aja tanggal mainnya.

      Delete
  4. Betul banget Le..jangan percaya penuh ama endorsan, bisa cocok bisa juga tidak.
    Sponsored product yang pernah kamu tulis apa ya..apa frame kacamata? Pernah nulis tentang itu kan. Lupa2 ingat hihi..
    Aku mau kamu review masakan2mu yg bikin ngiler itu haha..ga harus resep2nya tapi cukup tips2nya hehe kok jadi melenceng dari topik nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kacamata itu punya sahabat saya dan suami, alias matchmakernya saya dan suami. Gak disponsorin jg pasti sy promoin hahahahaha. Coba deh cari yang tagsnya sponsored, nah itu yg disponsorin.

      Delete
  5. Kayaknya aku inget deh cici pernah bahas event produk minyak goreng, berarti aku udah lumayan lama ya baca blog ini, hahahaha.

    Tapi setuju deh, aku juga bukan yang gampang kemakan review endorsan, kecuali emang produknya aku tau dan yang ngereview juga bisa dipercaya. Makanya aku bingung banget deh sama influencer/blogger yang ngebahas jenis produk yang sama namun dengan brand berbeda-beda. Minggu ini dia bahas susu A, minggu depannya dia bahas susu B, dua-duanya dia bilang "sebagus itu" 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, itu event udah lama banget ya jaman Abby baby hehe. Ngomong2 soal minyak goreng, cici pas dulu di US ud start pake canola oil, dan skrg di NZ jg daily pakai canola oil haha. Jadinya nggak worry pas nulis review.

      Yang serem tuh kalau endorsean produk yg pengaruh ke health ya. Macem suplemen, face and hair care, produk anak. Duh deg2an kalau review sembarangan.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas