Covid-19 Update

Halo lagi semua! Ada yang kangen nggak sama tulisan saya? Lebih dari sebulan saya ngga update blog. Semalas-malasnya saya, biasanya masih update minimal sebulan sekali, tapi kali ini nggak. Awalnya, saya malas update karena rasanya kok nggak enak hati, ketika di Indonesia sedang berjuang dengan angka Covid yang terus naik, kok saya posting yang happy-happy. Serasa kurang empati. Tapi ternyata ada juga yang nanyain, kenapa saya gak update, katanya sih baca blog saya jadi hiburan untuk orang lain. Ya gitu deh, dilema. Tapi penyebab utama saya nggak update, saya tulis di bawah ini ya.

Setelah selama ini mendengar kanan kiri keluarga dan teman terkena Covid, akhirnya keluarga inti saya di Indonesia beserta 2 asisten (babysitter dan ART) semuanya terpapar Covid-19, terbagi dalam 3 gelombang.  Awalnya hanya 1 orang saja yang bergejala di awal Juli. Setelah tes antigen, ternyata ipar positif, yang lain negatif. Demi keamanan, serumah berenam langsung PCR homecare, dan hanya 1 yang positif yaitu ipar, sesuai hasil tes antigen. Dia langsung pindah isoman di apartemen (untung banget deh apartemen lagi kosong). Serumah langsung pakai masker nonstop untuk mencegah penularan. 

Tapi beberapa hari kemudian 3 orang rumah mulai bergejala, dan ternyata positif semua (ponakan, sus, dan ART). Jadi sepertinya saat PCR hasilnya negatif kemarin itu, sebenarnya sudah terpapar, cuma masih di fase awal. Jadi sisa 2 orang aja yang masih negatif yaitu mama dan adek saya. Karena mayoritas positif, jadi mama dan adik saya yang memutuskan untuk ngungsi.

Eh, kok beberapa hari kemudian adik saya mulai ikutan bergejala, disusul dengan mama saya bergejala. Padahal mereka pun pakai masker terus selama ngungsi, dan hampir nggak ada kontak dengan orang lain. Saat test antigen, adik saya hasilnya negatif, mama saya positif, padahal adik saya gejala lebih parah daripada mama saya. Jadilah untuk meyakinkan lebih lanjut, mereka tes PCR drive-thru, dan ternyata dua-duanya positif. Fix, semua berawal dari satu orang, berendeng ke yang lain secara bertahap.

Sekarang semua orang sedang dalam masa pemulihan. Berdasarkan PCR kedua, masih ada 1 yang positif. Bener-bener harus jaga diri dan banyak doa. Semoga badai ini cepat berlalu ya. 

Note penting banget untuk kita semua: 

1. Antigen negatif bukan berarti nggak positif Covid-19! Antigen itu nggak sensitif terhadap CT di atas 25. Kebetulan adik saya CTnya 28, makanya pas antigen negatif, tapi kenyataannya dia positif covid. 

2. Bahkan PCR negatif pun, tidak menjamin bebas dari covid. Kalau periksanya terlalu cepat, virusnya masih ada pada masa inkubasi, jadi tidak terdeteksi oleh test. Itulah yang dialami oleh ART, babysitter, dan ponakan.

3. Covid ini, nularnya cepat banget, dan tidak langsung kelihatan. Tidak menyangka, sekeluarga kena tapi berturut-turut seperti itu. Kalau kena sekaligus, mungkin malah lebih "mendingan" isomannya bareng-bareng, nggak repot mikirin ngungsi. Jadi, begitu ada gejala sedikit aja dari anggota keluarga, biarpun kelihatannya cuma kayak flu biasa, buru-buru deh serumah langsung jaga jarak dan pakai masker 24 jam. Ini demi keselamatan semua karena kita gak pernah tau kapan Covid menyerang. 

4. Bisa bekerja dari rumah, diam di rumah, itu merupakan suatu kemewahan. Apa yang bisa dipesan online, pesanlah online. Jangan pernah memakai alasan bosan di rumah untuk sekedar keluar yang nggak penting. Kalau bos maksa masuk kantor cuma karena harus absen padahal kerjaan bisa dari rumah, usahakan negosiasi. Kalau yang kena muda, fit, tidak ada komorbid, sudah vaksin, mungkin sembuh lebih cepat. Tapi harus ingat, kalau serumah tinggalnya dengan orang tua yang lebih berisiko, harus memperjuangkan keselamatan keluarga. Setelah kena covid, organ tubuh sudah tidak sama lagi kekuatannya.

5. Kalau sudah pernah merasakan Covid dan sembuh, jangan merasa diri kebal, lalu merasa bisa menaklukan dunia karena sudah pernah "menaklukan" Covid. Anda bisa terkena lagi. Dan kalau sudah pernah kena Covid, begitu kena penyakit lain, bisa langsung efeknya mematikan. Makanya jangan bingung, kalau ada orang yang sudah negatif Covid, tau-tau kok meninggal. Tetap jaga diri dan taat prokes.

6. Kalau sudah dapat kesempatan vaksin, buru-buru vaksin! Jangan mikirin mereknya. Dulu orang-orang menghindari AZ karena gosip KIPI yang berlebihan. Semuanya nggak mau vaksin AZ, maunya nunggu Sinovac. Giliran dikasih tau AZ ternyata lebih ampuh terhadap varian Delta, semua maunya AZ, ngga mau Sinovac. Please deh, bisa vaksin itu sebuah PRIVILEGE! Ngga usah milih-milih. Mama saya kena gejalanya ringan seperti flu biasa, itu karena dia sudah fully vaccinated, saya percaya itu ngaruh. 

Oke, move on sedikit dari Covid 19, cerita tambahan dikit soal kesehatan saya sendiri. Entah karena stress level yang naik, saya pun di sini ikutan yang namanya sakit yang urusan dengan pernafasan (plus mendadak 2 titik jerawat muncul di dagu hehe. Asli serasa remaja jerawatan). Setelah mengetahui mama saya akhirnya positif Covid, 2 hari kemudian tepatnya sehari setelah ulang tahun Tilly, badan saya demam tinggi. Minum paracetamol nggak turun-turun, lalu ada dahak yang warnanya sudah coklat. Berhubung pengalaman saya dengan yang namanya urusan paru-paru sudah banyak, saya langsung merasa ini bukan flu biasa. Setelah 3 hari memantau demamnya nggak turun juga, saya akhirnya bikin appointment dokter, dan ternyata semua penuh dong! Untungnya begitu saya jelaskan kondisi saya ke suster, mereka menyanggupi untuk menyelipkan saya ke telemedicine dengan dokter yang available saat itu. Lagian, saya sudah pasti nggak sanggup nyetir. Akhirnya saya diresepkan antibiotik Amoxicillin, yang kalau di Indonesia mah, tinggal beli di apotik, murah, udah kayak obat rakyat, nggak usah ke dokter juga bisa beli. Kenyataan ini! Sementara di sini, kalau mau Amox ya harus via dokter.

Saya nggak pernah ada reaksi alergi dengan Amox. Apalagi jaman dulu saya sudah "kenyang" jadi kelinci percobaan berbagai jenis antibiotik sampai resistensi turun. Anehnya begitu mulai konsumsi Amox di sini setelah sekian tahun nggak pernah antibiotikan, bener sih demam turun, produksi dahak menurun, tapi mendadak leher saya super gatal, batuknya ngga karuan, subuh-subuh sering kebangun, akhirnya tiap hari jadi zombie kurang tidur. Katanya kan antibiotik ngga langsung tokcer ya efeknya. Jadilah saya tahan-tahan habisin dulu sampai 5 hari berharap kondisi lebih baik, ternyata leher gatel ini nggak hilang-hilang, malah makin parah alias mulai sakit pas menelan. Setelah menahan derita, akhirnya saya bikin appointment lagi ke dokter, sekalian juga Tilly mau imunisasi 4 tahun (setelah tertunda karena mamanya sakit). Jadilah Minggu lalu saya diresepkan antibiotik baru, dan obat lainnya, lalu memulai lagi dari awal rangkaian pengobatan. Walaupun kasus Covid di Selandia Baru itu nol, saya tetap diswab untuk memastikan kalau ini bukan Covid-19. Sekarang saya masuk masa pemulihan, jadi mohon doanya juga ya, supaya saya bisa beraktivitas seperti biasa lagi. 

Jadi demikian deh update pertama dari saya setelah lebih dari sebulan ngilang. Habis ini saya langsung update lagi soal ulang tahun Tilly ya supaya tiap tahun ada kenangannya. Semoga bisa menghibur hati yang membaca. See you soon!

Comments

  1. ya ampun tapi sekerang semua keluarga di indo udah pada sembuh kan ya ny?
    sehat2 terus ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puji Tuhan, Man, berangsur2 sembuh total semuanya. Amin.

      Delete
  2. Semoga lekas sembuh mba Le, dan juga keluarga di Indonesia.

    ReplyDelete
  3. Kayaknya emang stress ya Le jadi efek ke badan..semoga semuanya lekas pulih ya.. n beruntung mamanya udah double vax jd ga parah gejalanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, ternyata stress ngaruh juga ke imun. Bener, untung banget deh nyokap udah vaksin. Namanya orang tua ya, kan kita gak tau dalem badannya kayak gimana.

      Delete
  4. Semoga semua yang sakit sudah pulih sekarang ya Leony, dan semuanya tetap sehat2 juga. Amiiinn...

    ReplyDelete
  5. Semoga sekarang keluarga di Indonesia udah sehat kembali ya, ci. Semoga cici sekeluarga juga sehat terus. Vaksin itu memang ngaruh banget! Jaga diri kita sendiri dan juga orang lain. Khususnya yang punya orang tua lansia di rumah, apalagi kalau kerjaan masih mengharuskan untuk keluar rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah, Jane, makasih. Semoga semua orang di Indonesia mau segera vaksin, dan distribusinya adil merata di seluruh Indonesia.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas