Abby dan Tilly Tamasya ke New Plymouth - Bagian 1

Halo semua! Sudah lumayan lama kami nggak update. Selain sibuk, kami juga baru kembali dari pengalaman liburan yang sangat berkesan di South Island alias Pulau Selatan Selandia Baru yang terkenal dengan keindahannya yang fenomenal. Namun, sebelum saya ceritakan pengalaman liburan ke South Island, masih ada kisah liburan kami di awal tahun 2021 yang belum tayang di blog yaitu kisah petualangan kami ke New Plymouth, kota di pantai barat Selandia Baru, yang berjarak lebih kurang 5 jam nonstop dari Auckland. Tujuan kami yang utama adalah untuk menyaksikan Festival of Lights yang diadakan setiap akhir tahun sampai awal tahun berikutnya. Dan karena itu pula, kami kesulitan dapat hotel, dan akhirnya memilih berangkat di hari Rabu dan pulang di hari Jumat. Trip kali ini barengan juga dengan saudara saya yang kebetulan juga tinggal di Auckland (saudara yang baru sadar kalau kita ini bersaudara kurang dari 3 tahun lalu hehehe). It was such a fun short trip, walaupun di hari kedua dan ketiga harus menghadapi kenyataan cuaca hujan dan berkabut terus menerus. Artinya, suatu hari kami perlu balik lagi ke sana. Bagaimana perjalanan kami? Yuk simak kisahnya. 

Rabu, 6 Januari 2021

Pagi itu cuaca cerah, kami berangkat sekitar pukul 9.30 pagi, menuju stop pertama sekitar 2.5 jam dari Auckland di Otorohanga untuk makan siang. 

Foto tradisi menggunakan koper di depan pintu. Mumpung masih bisa dikembarin, baju sama, sandal juga sama. Masih ada hiasan Natal di depan pintu rumah.

Ini kok fotonya manis amat sih duduk di belakang. 

Stop pertama kami di O Cafe Otorohanga, sekalian janjian ketemu dengan rombongan satunya: om, tante, sepupu, dan keponakan. Egg Benedict with bacon pesanan suami.

Smoked Salmon with Potato Hash pesanan saya. 

Pancake with Bacon and Banana pesanan Abby. Yang lucu nih, waiternya nanya, pisangnya mau dimasak atau nggak. Ya saya bilang ngga usah dimasak. Di bayangan saya, bakalan kayak di atas ini penampakannya. Tau-tau pas datang, pisangnya utuh dong sama kulit-kulitnya hahaha. Akhirnya kita minta dipotongin pisangnya. 

Pesanan anak susah makan a.k.a Tilly, Chicken Nuggets with Fries. 

Dalam perjalanan dari Otorohanga menuju New Plymouth, ketemu apel gede banget di pinggir jalan. Yang lucu, nama toko eskrimnya dong, Big Azz. Bayangin kalau huruf Z-nya diganti jadi S hihihi. 

Beresonansi lidah antara ibu dan anak. 

Pemberhentian pertama kita adalah di Pilot Point, untuk berfoto dengan latar belakang 3 Sisters and Elephant Rocks. 

Kita berfoto dari atas bukit. Sebenarnya kalau air laut sedang surut (biasa di pagi hari), di bawah itu kering, dan kita bisa berjalan-jalan di sekitar bebatuan. Tapi kalau siang menuju sore hari, air laut pasang, sehingga hanya bisa berfoto dari atas saja. 

Foto lengkap serombongan, difoto oleh turis lain yang lewat menembus rerumputan demi foto hihihi. 

Foto sekeluarga inti. 

Kompak banget ya (kalau lagi nggak brantem)

Abby dan sepupunya, Aiden. Umurnya lebih kecil Abby 9 bulan nih, cuma bodynya aja si Abby lebih bongsor.

Jalan setapak melewati rerumputan untuk kembali ke mobil sehabis berfoto ria. 

Hotel yang kami pilih saat itu adalah Novotel New Plymouth. Kenapa kami nunggu sampai dapat kamar di sini? Karena New Plymouth itu termasuk kota kecil, jumlah hotel sangat terbatas, dan Novotel ini adalah hotel terbaru dan terbagus di kota ini. Padahal masih lumayan sederhana dibandingkan hotel-hotel berbintang di Indonesia ya. Kami pilih kamar Executive Room with 2 Queen Beds.

Suka banget dengan jumlah handuk yang disediakan. Jadi kami kan kalau booking hotel selalu jujur ya walau harus nambah uang. Kami bawa 2 anak, ya disediakan handuk 4 set semua untuk 3 ukuran berbeda.

Begitupun perlengkapan mandi, 4 shampoo, 4 conditioner, 4 sabun, 4 lotion, 4 shower gel. Jadi meringis sendiri ingat pengalaman yang lalu di Hotel Rydges, Wellington yang kehabisan sabun hehehe.  

Yang paling bahagia tentulah anak-anak. Lompat-lompat kesana kemari. 

Muka-muka bahagia lagi akur. 

Muka mau manjat antara manis dan bandel. 

Sehabis istirahat sebentar, kami siap-siap berangkat untuk dinner dengan berjalan kaki. Makanya Abby langsung ganti pakai sneakers, biar kuat jalan jauh sampai malam.

Lobby hotel yang warnanya terasa lux banget ala-ala Great Gatsby. 

Anak mama udah gede banget rasanya, padahal baru habis ultah ke 8.

Yang kecil juga nggak mau kalah, duduk di kursi besar dan pose. 

Hotelnya difoto dari luar. Simpel sekali dengan 2 lantai saja. 

Malam itu kami dinner di Sushi Ninja. Restaurant ini adalah restaurant Jepang paling terkenal di New Plymouth dengan review yang sangat baik. Saya susun itinerary sedemikian rupa, sehingga kita makan bervariasi selama liburan di sana, supaya nggak makan Western terus. Karena siangnya sudah ngafe, maka malamnya cari menu Asia.

Anak-anak langsung sibuk mewarnai semuanya. Sayangnya, di restaurant ini makanan keluar sangat lama sekali, sehingga lumayan mengecewakan. Padahal kayaknya ngga penuh-penuh banget ya. Ownernya sampai kelimpungan bolak balik, mungkin nggak menyangka agak ramai di hari Rabu. Padahal mestinya expected ya, karena sedang liburan tahun baru. 

Saya foto pesanan yang keluarga inti saya pesan aja ya. Soalnya ngga enak foto piring orang lain di luar keluarga inti. Yang ini Beef Tataki yang endeus banget! Buat yang suka makan daging sapi mentah berkualitas yang charred sedikit di luarnya, ini recommended banget.

Salmon Avocado roll pesanan Abby.

Yang kecil memang anak ayam goreng, Chicken Karaage buat Tilly. 

Teppan Seafood Yakisoba pesanan saya. Ini enak sekali! Seafoodnya generous banget, ada salmon dan udang.

Katsu Curry on Rice, pesanan suami.

Bonus eskrim coklat untuk anak-anak sebagai permintaan maaf karena pesanan lama sekali keluarnya.

Selesai dari restaurant, kami semua berjalan kaki menuju Festival of Lights di Pukekura Park. Hotel kami memang posisinya strategis. Jalan kaki kemana-mana dalam hitungan 15-20 menit. Lagi musim panas gini, matahari terbenam sekitar pukul 9 malam, jadi pukul 8.30 setelah makan malam, suasana masih terang. 

Pintu gerbang Pukekura Park, suasana mulai masuk senja.

Di area depan ada stand-stand yang menjual makanan dan glow sticks untuk perlengkapan menikmati festival di dalam.

Gaya banget nih anak mama rambutnya bob.

Penampakan! Ini adalah straps kuning bergelantungan yang disinari oleh sinar UV. Seru banget serasa lewat di dalam bakmi. 

Foto bareng si ompong.

Beneran kan serasa masuk di dalam tirai bakmi.

Taman kota, disulap jadi tempat festival cahaya yang keren banget. Jujur saja, kunjungan ke Festival of Lights ini di atas ekspektasi saya loh. Maklum deh, di NZ rata-rata hiburan rakyat gratisan gini mediocre alias biasa aja, tapi kali ini keren!

Boleh dong ya yang punya blog gaya dulu.

Air terjun yang dikasih cahaya, keren banget ya. Tapi yang foto di depannya jadi gelap. 

Kali ini coba test pake flash, ternyata terang banget! Berhubung si Tilly girang banget di foto ini, pajang deh hehehe.

Ini adalah area playground di dalam park, yang dikasih lampu-lampu keren yang terus menerus berganti warna. Cakep!

Ayo, siapa itu nangkring di depan lampu?

3 anak, bahagia banget megangin lampu. Serasa cenayang lagi melihat bola ajaib petunjuk masa depan.

Pompa-pompa, belajar mekanisme pergerakan air. Di NZ sini memang banyak mainan sejenis ini di playground umum. Sambil main, sambil belajar. 

Kalau yang kecil, anaknya sangat kinestetik. Di mana ada gundukan, di situ dia manjat.

Makin malam, ketika langit makin gelap, suasana taman menjadi makin indah.

Perahu kertas yang disinari lampu dari dalam, indah sekali.

Foto dulu ah di depan air mancur. Sayangnya kalau gelap-gelapan gini, kamera juga struggling mendapatkan gambar yang bagus.

Foto dulu ah di depan perahu.

Pasangan romantis (mumpung ada yang fotoin).

Di panggung utama juga ada konser rock, gratis! Ramai dan seru banget, waktu itu bandnya sedang membawakan lagu Bohemian Rhapsody. Nyanyinya sih ga bagus-bagus amat, tapi serunya itu loh! Pesta rakyat banget.

Cucu-cucu pada ditraktir oma pedang-pedangan yang bisa gonta ganti warna, semacam lightsaber gitu deh. Seneng banget, langsung dipamerin gak berhenti-berhenti.

Asyik kan? Ada yang gelar tikar, bawa kursi, duduk-duduk di bawah pohon.

Anggep aja lagi nonton konser Queen gratisan.

Muterin taman lagi, kali ini lihat air terjun yang warnanya berubah-ubah seperti pelangi.

Di tengah danau, selain cahayanya makin cantik, juga ada perahu-perahu lewat.

Pas lewat jembatan, ada sculpture di udara, mirip seperti kelabang tergantung, bergerak-gerak mengeluarkan irama dan cahaya yang berubah-ubah. 

Indah banget kan?

Naik perahu seru banget. Kita sempat nanya gimana caranya supaya bisa naik perahu. Rupanya harus book online, dan biasanya tiap hari sold out. Ya sudah deh nggak kebagian. 

Ikutan antri baris dengan yang lain demi lewat rainbow tunnel, padahal bisa lewat dari sampingnya hahaha.

Kodok ngorek, kodok ngorek.

Ini keren banget kalau lihat aslinya. Ada monyet-monyet warna warni bergelantungan di pohon beneran yang tinggi-tinggi, lengkap dengan sound effect.

Yang belakang itu kayak teralis besi, di dalamnya dikasih lampu, keren banget bayangannya. Dua anak ini masih sibuk dengan lightsaber. 

Tuh bagus banget kan, berbagai macam motifnya.

Sepanjang jalan karena dihias lampu-lampu, kesannya jadi cantik serasa musim gugur, padahal sedang musim panas.

Lampu-lampu yang dibuat menyala seperti simulasi kembang api di udara, lengkap dengan sound effect juga loh! Jadi serasa ada di bawah kembang api beneran. 

Hutan penuh dengan cahaya gemerlap, dengan bayagan di dalam air. Makin mempercantik suasana.

Di bagian depan adalah stasiun untuk naik perahu. Seandainya lagi pacaran, naik perahu berduaan di tengah danau, romantis juga ye. 

Mau hujan ataupun tidak, festival ini tetap jalan. Sungguh beruntung di malam pertama itu cuaca sangat cerah, karena besoknya, seharian hujan, apalagi malamnya, badai total! Hari itu kami beneran puas-puasin nongkrong di park, sampai akhirnya ada sirene warning di pukul 10.45 malam, kalau taman akan segera ditutup. Padahal masih ramainya bukan main loh.

Ngaso-ngaso dulu kecapekan muterin taman. Suasana sudah kayak pasar malam, ramai banget. Betapa bersyukurnya hidup di sini.

Jamur gede-gede, membuat anak-anak terkesima.

Perjalanan keluar menuju pintu utama, tetap dihiasi lampu-lampu.

Selesai deh hari pertama kita, tujuan utama ke New Plymouth sudah tercapai.

Selesai dari taman, kita jalan kaki lagi menuju hotel. Seru juga jalan kaki malam-malam di atas pukul 11. Namanya lagi liburan, semua senang semua bahagia, biarpun kaki mau copot. Besok kita keliling New Plymouth. Ada apa aja? Tungguin ya kisah selanjutnya. 

Comments

  1. senangnya ya udah bisa aktivitas normal lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Entin. Semoga tetap bisa dijaga seperti ini, dan semoga Indonesia bisa ngikutin juga ya.

      Delete
  2. limmy mama radhika raniaMay 24, 2021 8:43 PM

    asli bikin sirik deh udah bisa jalan2 tanpa harus pake masker. bisa rame2 tanpa harus jaga jarak. di Indonesia mungkin 10 tahun lagi baru bisa hahaha #ketawagetir

    tilly makin gede makin cantik sih..tetep aku tuh penggemar tilly

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh aku br liat komen ini. Telat deh balesnya. Iya, di sini tertib dan taat aturan banget, dan jaga bordernya gila2an. Sabar2 ya, badai pasti berlalu.

      Aku jg penggemar Tilly (dan Abby). Hahahahha. Ya iya lah, anak sendiri.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas