Belajar dari Bunda Maria - Refleksi Awal Tahun 2021

Postingan pertama di tahun baru ini, sebenarnya tidak pernah saya rencanakan sebelumnya, dan jujur saja, suasana liburan membuat agak malas untuk menulis. Tapi saat saya mengikuti misa malam tahun baru yang bertepatan dengan perayaan Hari Santa Perawan Maria Bunda Allah, hati saya begitu tersentuh oleh homili (khotbah) dari Pastor Mosese Tui, SVD yang juga pastor paroki saya, dan rasanya saya perlu membagikan ini ke teman-teman semua. Postingan ini juga pengingat untuk saya, jika ingin belajar untuk setia dalam janji Allah, berpeganglah teguh pada kisah Bunda Maria. 

Tahun 2020 adalah tahun yang begitu berat untuk banyak orang. Kami di sini yang tinggal di Selandia Baru, sungguh beruntung bisa merayakan pergantian tahun tanpa was-was, bisa berpesta seperti biasa layaknya tahun 2019 yang lalu. Mungkin negara kami adalah satu-satunya negara yang bisa melakukan hal tersebut di akhir 2020 lalu. Di tengah segala kesedihan dan keresahan kita, P. Mosese mengingatkan akan kisah Bunda Maria yang mendapat kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Kalau dalam agama Islam, Siti Maryam menerima kabar dari Malaikat Jibril. 

Bayangkan betapa luar biasanya berita yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel ke Bunda Maria saat itu. 

1. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus (Yes 7:14). 

2. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. 

3. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Yes 9:6), 

4. Dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya 

5. Dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. (Dan 7:14)"

Kebayang nggak, Maria menerima janji yang begitu besar, soal mempunyai anak lelaki yang juga anak Allah, akan menjadi raja, dan kerajaannya tak berkesudahan. Luar biasa ya janji-janji tersebut, datangnya dari Malaikat pula! Tapi apa ternyata yang dialami oleh Maria setelah itu? Bertubi-tubi kesulitan, mulai dari melahirkan Yesus hanya di sebuah kandang, ditengah-tengah binatang ternak, hidup sederhana membesarkan Yesus hanya sebagai istri dari tukang kayu, sampai akhirnya saat Yesus dewasa, Maria harus menyaksikan putra tunggalnya tergantung, mati di kayu salib. Mana segala janji malaikat itu? 

Tapi Maria sedikitpun tidak pernah mengeluh. Tidak ada cerita di manapun, bahwa Maria mengeluh tentang hidupnya. Bayangkan kalau kita manusia biasa, mendapat janji dari malaikat kalau anak kita akan jadi raja, mungkin kita akan berkoar-koar keliling kampung, memberitahukan kalau anak kita adalah calon raja. Tapi Maria bukan seperti itu, Maria simpan semua janji itu dalam hatinya, tetap bertekun setia mendampingi Yesus sampai akhir hayatnya. 

Ketika pada akhirnya Yesus diturunkan dari kayu salib dan dimakamkan, murid Yesus saat itu sudah tercerai berai. Hanya tinggal Yohanes yang mendampingi Maria. Apa yang Maria lakukan setelah itu? Dia mengumpulkan para rasul Yesus yang tersisa, setiap hari mengajak mereka berkumpul untuk makan bersama, sama seperti Yesus mengadakan perjamuan. Maria melestarikan Ekaristi, sampai akhirnya diteruskan oleh seluruh murid-murid Kristus, sampai saat ini.

Pada akhirnya, Tuhan memberikan perlahan-lahan janji dari Malaikat Gabriel. Umat Kristiani yang adalah pengikut Yesus Kristus, tak terhitung jumlahnya di dunia ini. Adalah benar, Yesus akhirnya menjadi besar dan menjadi raja atas umatnya. Tapi kapan itu terjadi? Tentulah bukan saat Maria masih ada di dunia, tapi beribu tahun kemudian, dan masih akan berlanjut. Dan dalam masa hidup Maria sampai akhirnya dia di angkat ke Surga, tidak ada satupun cerita bahwa Maria pernah menagih janji pada malaikat. Dia tau Tuhan tidak pernah ingkar, dan kunci hidupnya adalah: KESABARAN YANG TIADA AKHIR.

Setiap pergantian tahun, kita pasti punya harapan tertentu, dan rata-rata harapan itu terkait dengan kesehatan dan kesuksesan. Sama juga halnya saat kita memasuki tahun 2020 lalu. Namun ketika pandemi covid-19 mulai terjadi di dunia ini, banyak manusia yang mengeluh, putus asa, putus harapan, hilang kesabaran. Hidup jadi dipenuhi dengan kemarahan, lalu kita bertanya-tanya, kemanakah Tuhan di saat situasi kita terpuruk, ekonomi berantakan, bahkan saat kita kehilangan orang yang kita sayang. Tapi dari Bunda Maria, kita belajar, bahwa tidak mungkin Tuhan tidak menepati janjinya, janji bahwa Tuhan pasti setia mendampingi kita. Yang kita butuh adalah sabar, terus mengasihi, terus mencintai, dan tidak lepas harapan. Pada akhirnya, Tuhan pasti memenuhi janjinya, dan waktu Dia jauh lebih indah daripada waktu kita.

Terima kasih tahun 2020. Engkau mungkin tahun yang menyebalkan bagi banyak orang dan kalau mau mikir negatifnya aja, pasti banyak banget. Tapi tahun 2020 juga mengajarkan kita, ternyata manusia itu adalah mahluk yang sungguh hebat, yang mampu beradaptasi di segala suasana. Orang kehilangan pekerjaan, ternyata bisa berhasil buka usaha kecil yang sebelumnya tidak terpikirkan. Ibu-ibu yang jarang di dapur, mendadak jadi koki handal bermodalkan nonton youtube. Dunia jadi makin hijau dengan banyaknya pecinta tanaman bermunculan. Bekerja dari rumah ternyata bisa lumayan efektif yang berarti polusi udara dari transportasi bisa dikurangi. Ternyata manusia masih punya empati, dan semua bahu membahu menolong sesamanya yang kesulitan. Pandemi ini telah membuka mata, bahwa kita ternyata manusia itu tidak butuh terlalu banyak shopping ataupun jajan di luar. Life can be simple, and yet still very meaningful. Berapa banyak anggota keluarga yang biasanya jarang ketemu karena sibuk, pada akhirnya bisa menghabiskan banyak waktu bersama. Keluarga makin hangat, suami istri semakin mesra.  In the end, it's not a bad year after all! 

Selamat tahun baru 2021! Semoga tahun ini, lebih baik dari tahun lalu, dan semoga kita bisa selalu bersabar akan janji Tuhan yang indah, yang PASTI akan kita terima. Tuhan jaga dan berkati kita semua. 

Fr. Mosese Tui, SVD, Misa Malam Tahun Baru, 31 Desember 2020, St. Paul's Parish, Auckland


Comments

  1. renungan yang bagus ny... thanks for sharing!

    ReplyDelete
  2. Wah iya ya pesan yang bagus sekali. Ini memang tahun yang diluar ekspektasi, tapi banyak hal juga yang disyukuri. Yang penting sabar dan percaya yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu ada positifnya dibalik segala negatif. Percayalah badai pasti berlalu.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas