Abby dan Tilly Tamasya - North Island Road Trip 2020 Bagian 2

Dua minggu berlalu sejak postingan terakhir, dan sudah hampir seminggu nih, Selandia Baru dibuat agak ketar ketir dengan adanya 3 kasus Covid-19 di komunitas. Iya, 3 orang aja, kita sudah ketar ketir banget, dan seluruh rakyat benar-benar diimbau untuk melakukan contact tracing menggunakan aplikasi setiap berpergian ke tempat umum. Semoga kami nggak mengalami perubahan level lagi di sini, karena kalau sampai berubah, seluruh kegiatan yang direncanakan, bisa berantakan. Oke, kita "lupakan sejenak" kisah si pandemi, sekarang kita lanjut lagi deh kisah liburan di tahun 2020 lalu. Untuk bagian 1, yang bersisi perjalanan kita dari Auckland - Hamilton - Napier, silakan klik di sini

Senin, 28 September 2020

Hari itu kami bangun pagi dengan cuaca yang cerah. Rencana hari ini, kami akan ke Hastings, lalu lanjut ke Masterson untuk late lunch, dan berakhir di Wellington, Ibu Kota Selandia Baru. Gimana serunya? Yuk simak sama-sama.

Pemandangan pas buka jendela kamar, oh indahnya! 

Kami sudah langsung beres-beres, koper siap, dan dua anak ini sangat bahagia, ready to go! Percaya atau ngga, 3 bulan kemudian, Abby sudah nggak muat celananya. Anak ini cepat sekali mekarnya. 

Perjalanan menuju Hastings, kami disuguhkan langit biru dengan pohon cemara yang sangat rapi di kanan kiri. 

Kami memilih makan pagi di The Potting Shed Cafe yang searah dengan tujuan kami selanjutnya. Cafe ini terletak di dalam toko gardening. Jadi sebelum menuju ke toko-nya, mata dimanjakan dulu dengan pepohonan hijau-hijau (yang dijual tentunya hehehe). 

Bentuknya beneran berupa sebuah shed sederhana, dengan banyak kursi outdoor. Pagi itu anginnya nggak santai, tapi mataharinya bersinar banget, jadi kami tetap milih duduk di luar. 

Karena kami datang masih pagi, cabinet foodnya belum lengkap-lengkap banget. Pas kami mau pulang, penuh terisi. 

Hari itu juga hari ulang tahun mama saya. Jadi sambil nunggu makanan, kita sama-sama nyanyi happy birthday, lalu kirim ke mama di Indonesia. 

Egg on sourdough toast with bacon buat suami.

Pancake with banana and cream buat Abby

Abby ini, ratu pisang. Doyan banget sama pisang, sehari wajib makan 1 pisang. 

Smoked Salmon Bagel buat saya. Enak banget, apalagi ditambah hollandaise sauce (penambah gendut). 


Habis makan, anak-anak malah ngelihatin wishing well, dan langsung heboh sendiri minta koin. 

Muka bahagia ngelihat koinnya muter-muter. 

Hore, udah kenyang, siap jalan-jalan. 

Lalu saya ngelihat, eh lucu amat ini pohon sakura. Biarpun udah mulai berganti warna jadi hijau sedikit, kayaknya lucu juga buat foto-foto. 

Lucu kaaannn. Sayang bagian bawahnya keliatan kantongnya ya, kudunya dicrop. 

Gak ke Jepang, di toko pohon pun jadi. 

Sipitnya udah 11-12 lah sama orang Jepang. 

Setelah makan pagi, perjalanan kami lanjutkan menuju ke Te Mata Peaks, tujuan utama kita di Hastings. Jaraknya nggak sampai 30 menit dari Napier, tapi pemandangannya sudah beda banget. Ini kali kedua kami kemari. We were blessed with wonderful sky unlike 2 years ago, tapi anginnya boookkk, nggak santai sama sekali! Soal sejarah Te Mata Peak ini, sudah sempat saya tuliskan di post 2 tahun lalu. Silakan klik di sini kalau mau ngintip (dan lihat Tilly masih botak ginuk-ginuk).

Sungguh indahnya ciptaan Tuhan. 

Dari sini terlihat perbukitan, sampai lautan di kejauhan. 

Anak kecil yang kedinginan, tapi kok posenya manis amat. 

Bosen nggak lihat hijau-hijau gini? Nggak kan? 

Anak kecil, lagi ngelihatin mamanya ngambil foto cicinya. 

Dan inilah hasil foto cici hehehe. 

Habis gitu adiknya ngga mau kalah, nyusul juga ke atas batu. 

Mau diajak foto bertiga kok susah amat, si Tilly maunya lari-larian. 

Nah tuh kan, belum apa-apa maunya manjat! Dasar bocah. 

Masih ngga bosen lihat hijau-hijau. 

Anak-anak naik ke titik puncaknya. Angin padahal kuenceng banget, tapi mereka malah hepi berat. 

Pose romantis lagi deh ah. 

Foto keluarga sipit edisi September 2020.

Pingin foto bertiga, tapi anaknya mukanya amburadul, angin kenceng jadi rambut nggak beraturan. Eh tau-tau ada satu orang baik hati, nawarin kita foto berempat. Senangnya! 

Akhirnya foto keluarga beneran, nggak wefie. 

Pasangan berbahagia, difotoin sama Abby. 

Habis foto-foto, dua anak ini malah balik lagi ke puncaknya, dan mereka ngedance di situ, sambil humming lagu Coffin Dance (Astronomia) yang lagi viral. Minta ampun! 

Kalau mau naik ke Te Mata Peak, jalanannya cuma segitu lebarnya. Jadi kalau papasan mobil lain yang lawan arah, harus ada yang ngalah. 

Perjalanan kami lanjutkan ke Masterton untuk makan siang. Awan tebal mulai menggelayut. 

Ada truk, naik di atas truk, kalau kata suami, ini namanya: Truck-ception.

Dan inilah tujuan kita pas sampai Masterton, the most popular cafe in town: Ten' O Clock Cookie Bakery Cafe. Pas kita datang ini, sesungguhnya sudah sangat lewat jam makan, tapi tamunya penuh terus. 

Display kue manisnya aja menggoda gini, dan deretan roti-rotinya sepanjang kabinet, sungguh menggoda iman! Lihat saja foto di atas. Nonstop dari ujung ke ujung isinya makanan semua. 

Akibat lapar mata, jadi beli kecil2 semua, tapi banyak. Opera cake, mince and cheese pie, steak bacon and egg pie, sausage roll, butter croissant, almond croissant, spinach and feta quiche. Kenyang! 

Setelah ini, perjalanan terasa super duper menegangkan! Masterton menuju Wellington itu, jalanannya kelok-kelok naik turun kayak naik roller coaster, dengan pinggiran jurang. Tapi itu tidak masalah seandainya cuaca baik. Yang terjadi saat itu adalah cuaca sangat-sangat buruk, hujan badai disertai angin kencang, pokoknya heboh lah! Saya dan suami sudah ketakutan, bukan ketakutan accident, tapi ketakutan Abby muntah karena dia kan langganan mabok darat. Tapi yang terjadi, ternyata itu anak dua duduk di belakang malah teriak-teriak sambil ketawa-tawa, serasa beneran naik roller coaster. Puji Tuhan, ngga ada insiden mabuk sama sekali. Entah Abby yang makin pinter jadi hilang maboknya, atau mobilnya lebih nyaman bantingannya. 

Gambar ini diambil pas sudah mau masuk suburbnya Wellington. Pas rush hour, jadi kelihatan deh lalu lintas padat. 

Karena cuaca buruk ini, kami skip kunjungan ke Victoria Peak. Sampai di depan Rydges Hotel di Wellington, keadaan angin sangat-sangat parah. Hotelnya kan letaknya di downtown ya, dimana cuma ada loading zone, alias nggak ada bay khusus untuk lobby nurunin barang. Mau buka pintu mobil aja, susah banget alias berat, karena kalah sama kekuatan angin. Jadilah kami ngos-ngosan, buka pintu, nurunin anak-anak, dan nurunin barang-barang, karena mobil kami mau divalet parking. Hebohhhh! Jadi begitu check in dan masuk kamar, rasanya langsung pingin rebahan. Yang lucu, nggak sampai 30 menit kemudian, cuaca perlahan-lahan mulai cerah. Tapi kami keburu mager buat keluar lagi.

Pemandangan dari kamar kita, langsung terlihat Wellington waterfront. 

Sudah kali kedua kami tinggal di sini sebagai keluarga. Kalau suami sudah lebih banyak karena beberapa kali business trip di Wellington. Yang kami suka dari hotel ini sih, ukuran kamarnya cukup besar dengan 2 ranjang queen, ada pantry dan peralatan masak lengkap (walaupun ngga pernah dipakai), dan lokasinya cukup strategis di dekat pelabuhan, sehingga nyari makan tuh nggak susah. Tinggal jalan kaki, semua dalam jangkauan. Kekurangannya ya, karena lokasi downtown, mobil harus divalet (untung valetnya nggak terlalu mahal $30 per malam), dan kadang nggak kebagian valetnya kayak pas kami ke Wellington 4 tahun sebelumnya. Bedanya, tahun 2016 kami baru bertiga, sekarang kami sudah berempat. 

Kalau mau irit, bisa masak di sini hahaha. Tapi masak udah jalan-jalan keluar kota, kudu masak sih? Skip!

Kamar mandi luas dan bersih, handuk disediakan sesuai jumlah orang di reservasi alias 4 set. 

Warna kamarnya sekarang terasa sedikit lebih cerah. Dulu lebih merah hati jadi brasa tua. 

Monyong dulu ahhh!

Malam ini, kami berencana makan makanan Vietnam di Le Saigon. Berhubung restonya populer, tempatnya juga nggak besar, dan makanannya nggak terlalu kids friendly, bapaknya anak-anak berinisiatif ngasih makan anak-anak duluan dengan makanan kesukaan mereka. Semua pasti tau lah ya, apa yang anak-anak ngga bakalan nolak. McDonalds to the rescue. Kebetulan ada yang walking distance dari hotel, tinggal takeaway. Bapaknya beli masing-masing anak 6 nugget dan large fries, makannya sambil nonton TV di kamar hotel. Asik, ngga pusing nyuapin deh ortunya. 

Dijamin kenyang. Belinya ukuran gede-gede.

Setelah anak-anak selesai makan, barulah kami semua berangkat jalan kaki. Dingin dan anginnya mayan nusuk, padahal mestinya sudah pertengahan musim semi. 

Gantian deh emaknya yang selfie monyong. Tuh, si Tilly bajunya udah kayak winter aja. 

Lega banget memutuskan ngasih anak-anak makan duluan tadi. Kami dapat meja terakhir di pojokan, hampir nggak ada jarak dengan meja sebelah. Restonya padat, padahal sudah hampir pukul 8 malam.

Kami pesan 3 menu di sini. Yang lucu, meja sebelah yang isinya 2 ibu-ibu itu, malah jadi nanya-nanya menu kita, dan penasaran mau nyoba, tapi terlambat karena mereka sudah keburu mesan duluan (dan pesanan mereka standar banget). 

Banh Xeo - Crispy pancake filled with pork and prawn, sprout, carrot, onion, drizzled with house sauce, dressed with fresh herbs and pickles. Ini saya share berdua suami. 

Le Saigon Pho - Southern Vietnamese Pho consists of meat served with bean sprouts, bathed with flavourful broth, topped with onion and spring onion. Ini punya saya, cocok sekali dimakan dalam cuaca dingin.

Broken Rice with Char Grilled Pork Sirloin - Grilled Marinated free-ranged pork sirloin, served with fresh cucumber, tomatoes, and home made pickles. Ini jelas punya suami.  

Di Wellington lagi banyak konstruksi baru. Makanya kita jadi banyak jalan di dalam lorong container seperti ini. Malah enak, terang, hangat, ngga banyak angin. 

Malam itu, berhubung masih ada waktu sebelum kolam renang tutup pukul 9.30 malam, suami dan anak-anak langsung memanfaatkan waktu buat berenang. Lumayan buat relaksasi, apalagi ada jacuzzi di pojokan.

Kolamnya kecil memanjang. Kirain airnya anget, ngga taunya biasa aja suhu ruangan. Yang anget cuma di jacuzzinya. 

Yang kecil girang banget tuh main bubbles. Kalau bapaknya mah udah merem menikmati pijitan.

Gemes gakkkk? 

Monyong dulu semua sebelum balik ke kamar. Selamat malam Wellington!

Besok, agenda kami full menyelusuri downtown Wellington. Kaki aja sampai gempor, tapi hati bahagia. Kemana aja besok? Ditunggu ya postingan berikutnya. Bakalan panjang banget, tapi penuh dengan gambar indah. 




Comments

  1. Berasa ikutan piknik, hehehe.... Btw, mba Le sekeluarga apakah sudah pernah mengunjungi Devonport? Pengen baca kisahnya juga kalau sudah. Kalau belum, boleh request dong mba Le... kapan-kapan disempetin ke sana. Saya cuma pernah lihat di Youtube dan ngintip di Google Earth aja..kelihatannya kotanya asyik. Salam sehat buat kita semuanya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kami seringgg banget ke Devonport. Devonport itu cuma salah satu suburb dr Auckland, jadinya nggak dianggap keluar kota hehehe. Kebetulan pas Abby bday December lalu, kita makan di Devonport. Karena dekat, gak pernah ada serial "Tamasya" ke situ. Kapan2 ya kalau ke sana lagi, kita fotoin lebih lengkap. Tp tungguin aja cerita bday Abby.

      Delete
  2. twin peak bagus banget view nya ya... pasti seger banget disana! :D

    makanan di le saigon keliatannya menarik banget... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Man, gue baru nyadar, kenapa gue nulis Twin Peaks ya di pembukaan paragraf, padahal di isi paragraf, gue udah bener nulis Te Mata Peaks. Pas baca komenlu, gue baru ngeh hahaha. Udah gue revisi. Kayaknya gue keinget2 SF hihihi. Iya Le Saigon enak, populer banget di Welli.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas