Abby dan Tilly Tamasya - North Island Road Trip 2020 Bagian 1

Halo semua! Kembali lagi ke edisi Abby dan Tilly Tamasya! Tamasya kali ini durasinya cukup lumayan yaitu 5 hari 4 malam, dan dilaksanakan pada liburan term 3 di akhir September - awal Oktober 2020 lalu. Seperti biasa, hampir tiap liburan kami pasti planningnya dadakan. Tapi Puji Tuhan, berangkat juga dan kembali dengan selamat dan lancar! Petualangan kali ini rutenya dari Auckland ke Hamilton, Napier, Hastings, Masterton, Wellington, Paraparaumu, Palmerston North, Taupo, lalu balik lagi deh ke Auckland. Such a fun adventure with 2 kids, apalagi yang kecil paling susah makan (ini beban utama bawa anak travel). Kalau nanti border ke Selandia Baru sudah dibuka, yuk pada main ke Selandia Baru, sambil ikuti rute kita, rute yang tidak pernah ada kalau perginya ikut tour dari Indonesia. Oh iya, di Selandia Baru situasi sudah level 1, yang artinya kehidupan dalam negeri sudah normal. Jadi jangan bingung kalau lihat nggak ada yang pakai masker. Tapi tetap, menjaga kebersihan menjadi protokol yang wajib dilakukan. Enjoy our adventure!

Minggu, 27 September 2020

Kami paling suka berangkat hari Minggu pagi, karena Sabtu sorenya bisa ke gereja dulu, jadi nggak keskip deh tuh kewajiban ibadah. Tujuan utama hari itu adalah langsung ke Napier, dengan mampir dulu di Hamilton untuk makan siang. Total jarak tempuh ke Napier kalau dihajar terus ya sekitar 5.5 jam. Karena itu, penting banget untuk stop dulu sebentar biar kaki nggak gempor. 

Foto rutin di depan koper sebelum berangkat. Iya, seperti biasa, bawa 1 koper aja buat berempat biar ringkes. 

Perjalanan menuju Hamilton, cuacanya dahsyat banget hujan deras. Pokoknya yang namanya musim semi itu (bahkan musim panas), kalau hujan suka nggak santai! Jalanan hampir nggak kelihatan, dan kalau nyetirnya nggak jagoan, bisa-bisa jiper duluan.

Tujuan makan siang kita berlokasi di Central Place Hamilton. Nama restonya Mediterranean Kitchen yang kami pernah mampir pas trip sebelumnya ke Rotorua di bulan Mei lalu. 

Sudah kebayang rotinya yang empuk dan hangat, kebabnya yang wangi. Eeehhh apadaya, pas kita sampai, ternyata habis musibah dapurnya bocor, dan akan buka lebih siang dibanding biasa. Nggak mungkin lah ya kita nongkrong di mall buang-buang waktu. Akhirnya kita pindah aja deh ngafe di Theobroma Chocolate Lounge. Padahal resto ini juga ada loh di Auckland, tapi daripada pusing-pusing lagi, cari saja yang terdekat.
 

Dua anak ini, paling hobi ngadukin kopi bareng-bareng.

Ham and Cheese Croissant punya Abby. Tapi dia minta tomatnya dipisahin, cheesenya dipisahin. Ini anak, pas kecil doyan banget keju, tau-tau tambah gede jadi nggak doyan keju dan tomat. Anehnya, sekarang ini jadi suka lagi sama keju dan tomat!

Sausage and Fries punya Tilly. Itu sosis raksasa, nampak menggiurkan ya. Tilly makan cuma separo. Kita bingung kenapa kok anaknya gak doyan. Pas kita cobain, asin bener! 

Egg Benedict's with bacon punya suami

Mac and Cheese Ham punya saya. Sengaja pesen menu yang kecil aja...soalnyaaa....

Saya beli dessert chocolate mousse gede! Hahahaha. Udah ke kafe yang specialtynya coklat, wajib dong ya mesen dessert coklat. Dan to be honest, yang paling enak memang si mousse ini dibandingkan makanan asinnya. 

Lucu amat sih kayak anak kembar lagi sama-sama niup kentang.

Manis-manis amat nih dua anak di belakang. 

Selepas dari Hamilton, cuaca jadi semakin cerah. Seneng banget artinya nggak khawatir kehujanan pas nanti sampai di Napier, dan lihatlah, pelangi begitu indah terlihat melintasi bukit.

Sore harinya, kita tiba di Napier dan langsung check in di Scenic Hotel Te Pania. Kita pilih hotel ini karena lokasinya oke di Marine Parade, dan dia ada kamar dengan 2 queen bed, jadi tetap nyaman tidur bersama anak-anak. Hotel ini juga pernah jadi pilihan bapaknya pas business trip. Hotelnya sederhana, dan cukup untuk kita berempat. Kebetulan karena kita di Napier pasti makan di luar, jadi nggak perlu motel yang konsepnya bisa masak. Kalau ada yang ingat, saya sekeluarga dan mama saya pernah mengunjungi Napier saat Tilly usianya masih 9 bulan. Buat yang pingin lihat lucunya Tilly di usia 9 bulan, nih intip di sini

Hore, sudah sampe kamar, sudah bisa acak-acak!

Seneng amat mukanya kayak abis dapet lotere. 

Kamarnya simpel, dan semuanya pasti pemandangannya ke laut. Yang penting ranjangnya gede-gede. Kekurangannya, ACnya kamar ini agak tua, dan udara yang disembur kok kurang fresh. Untungnya nggak ganggu banget sih.

Buka jendela, bapaknya langsung cekreeekkk.. Lucu ya. Ini melengkung bukan karena wide lens loh, tapi memang hotelnya bentuknya melengkung. 

Sore-sore memandang lautan.

Nah, tuh kan, nggak sabar langsung loncat-loncat deh. 

Plan kami sore ini adalah jalan-jalan dan berfoto sepanjang Marine Parade-nya Napier yang terkenal dengan style Art Deco, main di playground, dan dinner di restaurant spesial! Spesial seperti apa sih? Simak aja terus ya.

Anak gede foto bergaya di depan gedung hotel. Nah bener kan, kalau stay di sini, semua jendela pasti menghadap ke laut, dan pasti dapat pemandangan laut. 

Kota Napier memang sangat terkenal dengan arsitektur Art Deco-nya. Kalau mampir ke sini, serasa masuk ke era film Great Gatsby. Sore ini kita berputar-putar lagi keliling kota (pakai kaki), dan mengagumi keindahan arsitektur masa lampau, yang dipadukan dengan kehidupan modern. Setiap bulan Februari, kota ini mengadakan Art Deco Festival, di mana semua orang berdandan ala masa lalu! Seru banget pastinya. 

Salah satu bangunan hotel, tetap dipelihara kecantikannya. 

Foto di depan bangunan Katedral Anglikan Waiapu. Cantik ya kotanya dengan bunga berwarna warni di jalan raya. 

Cantik! 

Foto-foto Napier dari musim panas tahun 1928. 

Kebayang jaman dahulu bentuk theater seperti itu, ada kotak tempat penjual tiket nangkring. Sekarang sudah jadi toko musik. 

Keindahan kota menjelang matahari terbenam. Sepi banget yah! 

Gedungnya boleh tua-tua, tapi deretan ini adalah pertokoan modern. Sayangnya sudah di atas pukul 5 sore, jadi toko tutup semua. Pssstt... kalau suka shopping, NZ is not a place to shop. Pukul 5-6 sore, semua bubar!

Foto di tengah shopping district, tapi sepi benerrrr.

Anak gadisnya papa, udah gede amat ya rasanya, padahal baru umur 7 tahun. 

Nama jalan yang tetap dipelihara stylenya seperti jaman dahulu kala, yaitu mosaik di lantai. 

Bocah kesilauan difoto di perempatan. 

2 tahun sebelumnya saat kita mampir ke Napier, Abby juga foto di tempat yang sama, dengan gaya yang sama. Penasaran bentukan 2 tahun lalu seperti apa? Klik di sini. Cepet banget gedenya anak mama. 

Suasana di pinggir pantai

Bagian bawahnya sekarang jadi restaurant. 

Plang nama jalannya juga disesuaikan jenis hurufnya dengan suasana masa lampau.

Gerbang ampitheater.

Ampitheater tempat warga nonton pertunjukan musik. 

Veronica Sunbay. Kalau dulu bunganya warna merah dan oranye, kali ini warna kuning.


Iseng foto wefie dulu ah di bolanya

Sangat bagus dan terawat sekali!

Saking sepi, nggak ada yang fotoin, wefie aja deh!

Abby lagi hobi banget gaya tangan di belakang kepala begini.

Nah tuh kan gayanya sama lagi!

Di depan i-site (alias pusat informasi kota Napier). Napier adalah kota yang sangat terkenal untuk persinggahan kapal pesiar. Sayangnya karena covid-19, kapal pesiar tidak beroperasi, sehingga kota ini ya jadi terasa sepi luar biasa. 

Air mancur yang cantik sekali.

Jalan sedikit, langsung deh ketemu dengan Sunken Garden. Kenapa namanya Sunken? Ya arti langsung kata sunken ya cekung. Jadi taman ini bentuknya cekungan besar yang berlokasi lebih rendah dari jalan raya. 

Seger banget lihat bunganya warna kuning dan ungu. 

Gosip apaan sih? Keliatannya seru amat.

Jarang-jarang kan, duduk berdua, manis begini, akur deh!

Kuning semua! Suegeeerrr!

Seger juga nggak lihat muka-muka kita?

Sesekali foto berduaan tanpa ditemplokin anak. 

Duh ini manis banget ya bentuknya hati. Love love banget deh! Kelihatan kan ya, kalau setiap perubahan musim, pohonnya diganti baru. Nah ini kelihatan nih pohonnya baru aja dipasang, belum rimbun. Dan taman ini taman rakyat loh, dan dipelihara sebagus ini. Makanya kalau nanya pajak gede larinya kemana, salah satunya ya beginian ini. 

Jalan sedikit lagi ada skate park. Banyak banget anak-anak muda nongkrong main skateboard. Kehidupan yang sangat positif sekali!

Rumah-rumah cantik berwarna-warni, sayang fotonya melawan sinar matahari yang hampir terbenam, jadi nggak terlalu keluar warnanya. 

Jalan sepanjang tepi pantai aja secantik ini, dan bersih banget! 

Bersih, sepi, indah. Langitnya juga menawan.

Diajakin wefie tepi pantai sama suami, hayuk aja deh. 

Duh, anak mama, jago amat gayanya. 

Mau foto berempat, tapi jalanan sepi banget ngga ada orang, akhirnya HP ditaruh di atas kayu, eh bagus juga ya hasilnya lumayan. 

Jalan terus menyusuri pantai, ketemulah dengan playground gede banget! Anak-anak senangnya luar biasa. Playground yang sangat terawat, lokasi di tepi pantai, asyik lah. 

Halo! Meluncur dulu yaaa!

Mau beli apa nih, Om, Tante?

Pelayan tokonya imut-imut gini, jualannya laku nggak ya?

Main nggak mau kelar-kelar nih. 

Anak 7 tahun, tapi milih mainnya di daerah balita, dan tetap bahagia. 

Yuk udahan mainnya, mama papa udah laper nih!

Jalan lagi menyusuri pantai, kita disuguhi pemandangan jalan yang indah sekali dengan cemara yang tinggi dan rata. Kalau yang ngambil kelas gambar, pasti ngerti deh kalau ini gambar perspektif 1 titik hahaha. 

Gantian deh cici yang dorong strollernya dede, biar papa dan mama bisa pacaran di belakang hihihi. 

Dari dulu penasaran, itu yang kiri buat apaan ya? Karya seni memang suka aneh-aneh tapi menarik. 

Dan sampailah kami di tujuan utama malam itu yaitu ke Restaurant Indonesia! Woah, ada toh restoran dengan menu Indonesia di Selandia Baru? Kalau ditanya kayak gitu, jawabannya: Ya, ada banyak! Kalau ditanya, yang mana yang enak? Langsung deh saya bilang saja, Restaurant Indonesia ini adalah restoran dengan menu Indonesia yang paling enak yang pernah saya makan di Selandia Baru! Nggak bohong! Selama saya di Auckland, kalau makan di resto/ food court dengan menu Indonesia, biasanya kurang begitu sreg rasanya. Yang enak umumnya bisa ditemukan kalau lagi gathering orang Indonesia, nah itu yang rasanya lebih enak daripada makan di resto. Tapi kali ini, saya berani deh merekomendasikan restoran ini bagi yang kangen dengan menu nusantara, dengan suasana yang juga sangat mendukung. Sebagai orang yang suka masak dan suka makan, saya cuma bisa bilang, menu yang dimasaknya pakai hati, pasti terasa bedanya dengan yang hanya sekedar menempelkan nama Indonesia. Di Restaurant Indonesia ini, begitu anda coba, pasti langsung ngeh kenapa saya rekomendasikan tempat ini. Kalau lagi liburan di Selandia Baru, lewatin Napier dan kangen makanan Indonesia, bolehlah mampir!

FYI, Restaurant Indonesia ini berdirinya tahun 1983 loh, yang berarti hampir seumuran dengan saya. Kalau sampai ada restoran dengan menu Indonesia, dan bisa bertahan selama ini, berarti sudah pasti jaminan mutu. Dulunya restoran ini selalu dikelola oleh pasangan Belanda yang punya passion di dalam kuliner Indonesia. Dan sejak 2 tahun lalu, Restaurant Indonesia resmi dimiliki oleh orang Indonesia. Semoga Restaurant Indonesia bisa bertahan selamanya, membawa kuliner Indonesia di negara Kiwi ini.

Restaurant Indonesia, sudah menjadi bagian dari kota Napier hampir 40 tahun lamanya. 

Ukiran kayu khas Bali, siap menyambut tamu yang hadir. 

Buku menu yang didominasi warna merah putih, warna bendera Indonesia. 

Menu utama di sini adalah Rijstafel yang memadukan berbagai masakan Indonesia dalam porsi kecil-kecil, namun banyak jumlahnya. Kami memesan 2 set Rijstafel (1 daging dan 1 seafood) plus 2 kids meal (nasi dengan ayam goreng dan sate ayam).

Begitu masuk ke restaurant ini, kita serasa dibawa "pulang" ke Indonesia. Di atas kepala saya ada beberapa pasang Wayang Golek khas Jawa Barat. 

Sup bayam dan kacang hijau yang rasanya super segar.

1 toples kerupuk disediakan di meja untuk menemani santap malam. Siapa yang paling senang? Anak-anak tentunya!

Kecap manis, dan 3 jenis sambal dengan tingkat kepedasan berbeda. Mantap sekali.

Sebelum makanan utama keluar, saya meminta ijin kepada Bu Vivi, salah satu pemilik Restaurant Indonesia, untuk memfoto beberapa sudut ruangan di Restaurant Indonesia. Saya sungguh senang dan merasa bangga dengan keragaman budaya yang ditampilkan di berbagai ruangan di tempat ini. Bukan hanya dari daerah Jawa, tapi juga banyak benda dari belahan timur Indonesia yang biasanya jarang ditampilkan. 

Patung khas Jawa Tengah dan Bali

Alat musik angklung di atas perapian.


Lukisan Batik dan juga keris ala Jawa. 

Kain dan topi khas Nusa Tenggara

Lukisan, ukiran, tas, dan alat musik khas Papua.

Keranjang dan patung Komodo khas Nusa Tenggara Timur

Berbagai anyaman dan topi khas Nusa Tenggara Timur.

Menu makan malam mulai berdatangan. Ini adalah menu anak-anak. Nasi putih dengan ayam goreng kuning dan sate ayam. Kami pesan 2 porsi untuk 2 anak. Rasanya orang dewasa juga cukup kenyang ya dengan porsi ini. 

Ketika semua makanan sudah keluar, Pak Riza (pemilik dan chef utama) bantu foto kita sekeluarga. 

What a feast!! Sampai bingung mau mulai dari mana. Menu daging-dagingan diletakkan di atas pinggan panas dengan tea light di bawahnya, jadi makanan tetap terjaga kehangatannya. Saya lupa-lupa ingat menunya apa saya, tapi yang saya ingat, saya coba tuliskan ya. Maaf kalau ada yang kelewatan. Ada Gado-Gado, Bakwan Jagung, Sate Ayam, Sate Ikan, Kari Ikan, Ikan Asam Manis, Udang Balado, Rendang Sapi, Semur, Ikan Asin Tipis, Kering Tempe, Acar, Tumis Sayuran, Serundeng, dan Asinan Buah. 

Bahkan centong nasi-nya pun Indonesia sekali!

Untuk penutup, ada shot glass berisi sirup pandan dan selasih. Kami nggak kuat lagi pesan dessert karena sudah terlalu kenyang. 

Kalau ingin bawa pulang untuk oleh-oleh, boleh loh! Mau saus kacang untuk sate, kecap manis, serundeng, dan berbagai jenis sambal!

Nih difotoin lebih dekat lagi, buat yang kangen sambel ala Indonesia, boleh langsung dipesan.

Abby foto bersama Bu Vivi dan Pak Riza. Thank you very much for your hospitality, Bu, Pak! 

Kami sangat merekomendasikan tempat ini untuk siapa saja yang mampir ke Napier dan ingin mencoba kuliner Indonesia yang mantap. Apalagi kalau bawa teman yang bukan orang Indonesia ya. Tempat ini cocok sekali untuk memperkenalkan kawan non-Indonesia kita kepada perbendaharaan kekayaan bumbu masakan negara kita tercinta. Dijamin pasti suka!

Ini yang namanya all out ya, mobilnya pun pakai stiker Restaurant Indonesia. Langsung kelihatan dari jalan. 

Kami kembali berjalan kaki menyusuri Marine Parade untuk kembali ke hotel. Ternyata walaupun malam hari dan sepi sekali, tapi tidak mengurangi keindahannya. 

Air mancur di tepi pantai yang warnanya terus menerus berubah. 

Gedung klasik yang sekarang berfungsi sebagai Bank. Langit-langitnya sungguh indah sekali. 

Di tengah kota, lampu terang, tapi sepi, jalanan terasa punya sendiri. 

Fasad gedung yang sungguh artistik.

Pohon cemara dihiasi lampu warna warni, padahal nggak Natalan hehehe. 

Rumah siapa ini di pojokan? Bagus banget! 

Sampai hotel, langsung pada mandi dan sikat gigi. Habis itu zzzz. Selamat malam Napier!

Nah, segitu dulu deh perjalanan kita di hari pertama. Seru nggak? Penasaran hari selanjutnya kita ngapain? Nantikan di postingan selanjutnya ya! 

Comments

  1. bagus banget kotanya ya. dan sepi banget ya.. jadi enak buat poto2 hahaha.
    aduh itu makan2nya di restoran indonesia keliatannya enak banget!!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saking sepi, jadi ngga ada yang bisa dimintain tolong fotoin hahahaha. Iya itu resto bagus, makanan enak, pemiliknya jg ramah. Top deh.

      Delete
  2. aduhh, malah jadi enak banget nihh jalan2 dimasa pandemi...sepi banget.. dan view nya bagus, bersih...lhaaa, itu si Tilly tau2 udah gede banget ya le..Abby juga...hahaha, gile, cepet banget waktu berlalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya sepinya memang karena sepi, Ci. Di sini dalam negeri sudah hidup seperti biasa. Cuma Napier biasa sedikit lebih ramai di siang hari kalau musim panas, karena musimnya cruise. Cuma kalau sore memang zzz sepi hahaha.

      Delete
  3. Hi Le, apa bunga kurus tinggi merah dan kuning itu yang namanya lupin?
    Wahh resto Indo nya bagus dan niat banget ya dekorasi dan printilannya..sangat Indonesia.
    Aku suka lihat buku menunya..cerah dengan warna bendera merah putih plus barong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, Lis. Tapi lupinnya bukan yang ungu. Yang terkenal kan yang ungu yah.

      Gue suka banget sama resto itu. Ada rasa bangga gitu pas lihat Indonesia direpresentasikan dengan baik, termasuk rasa makanannya.

      Delete
  4. Wah, jadi ikut senang kalau tahu ada tempat yang sudah kembali normal :) Sehat-sehat selalu, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sudah berbulan-bulan normal. Beneran normal, bukan normal yang dipaksakan dengan masih ada ancaman pandemi di sekitar kita.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas