Abigail's Confirmation Day

Halo lagi semuanya. Sebelum saya ke cerita utama, mau cerita sedikit dulu soal keadaan kita di Selandia Baru. Buat yang belum tau, sejak tanggal 13 Agustus 2020 lalu, Auckland resmi lockdown lagi di alert level 3, dan seluruh kota lain ada di alert level 2. Apa artinya buat saya sekeluarga yang tinggal di Auckland? Artinya ya kami harus berdiam di rumah dulu, semua sekolah ditutup, sebagian besar bisnis ditutup, toko hanya bisa buka untuk click and collect (tentunya dengan protokol antrian yang ketat), restaurant hanya bisa untuk contactless takeaway dan delivery,  dan tentulah tidak boleh keluyuran keluar kota. Kenapa? Karena sehari sebelumnya alias tanggal 12 Agustus 2020, ditemukan 4 kasus covid baru di tengah masyarakat, yang sumbernya bukan diimpor dari warga yang balik dari luar negeri. Langsung dalam hitungan jam, pemerintah gerak cepat dan tegas untuk melakukan lockdown, dan kerennya, warga langsung patuh (walaupun ada juga yang bandel dan tentulah mereka dihujat senegara). Karena kerjasama rakyat yang baik, penyebaran kasusnya bisa dikontrol. Hari Senin depan, 31 Agustus 2020, Auckland bisa mulai masuk ke alert level 2 alias sekolah sudah bisa mulai dibuka kembali, yang berarti tingkat keributan anak-anak dan level berantakan di rumah bisa berkurang 50 persen hihihi. Demikian sekilas info, back to the main story now.

Kami merasa sangat beruntung dan bersyukur pada Tuhan, penerimaan Sakramen Krisma atau Penguatan (Sacrament of Confirmation) untuk Abby dilaksanakan hari Minggu, 9 Agustus 2020. Bayangkan 3 hari sesudah itu, boro-boro mau Krisma, gerejanya saja tutup total. Benar-benar Tuhan mengatur indah pada waktunya. Mungkin teman-teman di Indonesia pada bingung, terutama yang beragama Katolik. Kenapa kok Sakramen Krisma di Selandia Baru diterima pada saat usia anak ini masih 7 tahun. Bukankah di Indonesia biasa Sakramen Ekaristi dulu alias Komuni Pertama, baru pas remaja lanjut Sakramen Krisma. Ini sempat dibahas juga saat pertemuan orang tua di sekolah. Ternyata, memang di seluruh dunia pelan-pelan urutannya mulai diubah, karena sesungguhnya dalam kehidupan anak-anak, Roh Kudus sesungguhnya sudah menemani hidup kita sehari-hari. Sudah selayaknya ketika hati nurani alias conscience kita mulai terbuka, Sakramen Krisma diterimakan untuk menguatkan iman kita sebelum menyambut Tubuh dan Darah Kristus di dalam Perayaan Ekaristi (Komuni Pertama). Lalu apa itu hati nurani? Banyak orang tua yang ketika ditanya memberikan berbagai jawaban, misalnya: suara Tuhan, suara yang membedakan baik dan benar, tapi jawaban yang paling menarik untuk saya saat itu adalah, suara yang memberitahukan kepadamu untuk "berhenti". Berhenti di saat kita ingin melakukan sesuatu, untuk berpikir dua tiga kali sebelum melanjutkan. Ketika anak usia menginjak 7 tahun, anak mulai mengenal apa yang baik dan buruk, mungkin belum sepenuhnya mengerti. Karena itulah, kita perlu mengundang Roh Kudus untuk tinggal di dalam hati, dan mempertajam hati nurani.

Ada total 3 Sakramen yang diterima oleh Abby dalam rangkaian ini. Yang pertama adalah Sakramen Pengakuan Dosa pada hari Kamis, 2 Juli 2020, kemudian Sakramen Krisma pada hari Minggu, 9 Agustus 2020, dan jika situasi lancar dan baik adanya, Sakramen Ekaristi alias Komuni Pertama pada hari Minggu, 20 September 2020. Semuanya ada pelajarannya dan latihannya, dan pelajarannya ini setiap hari Minggu loh. Orang tua juga punya sesi sendiri, jadi komitmen kita sungguh-sungguh diharapkan. Di Selandia Baru ini kan bebas gitu ya, mau ikut ya boleh, nggak ya udah. Pihak sekolah nggak pernah maksa. Yang menarik adalah, banyak orang tua Katolik  yang cuek bebek aja gitu. Saya sempat ngobrol sama beberapa orang tua di sekolah, mereka bilang: I don't have time, bahkan ada yang bilang: I don't care. Padahal menurut saya, momen seperti ini harusnya dirayakan sebagai sebuah keluarga. Jadi nggak bingung deh kalau range umur penerima sakramen ini besar banget. Yang terkecil ya seumuran Abby, tapi ada juga yang sampai belasan tahun karena sebelumnya nggak diurusin hehe. Pastor Kepala Paroki sampai bersyukur dan bangga banget atas kesadaran orang tua  yang mau ngirim anaknya untuk belajar. 

Kamis, 2 Juli 2020

Malam itu saya dan Abby ke gereja sekitar pukul 6.malam, total ada di atas 60 anak yang akan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Wuihhhh, banyak banget, kapan kelarnya ya? Saya sendiri nggak perintahkan apa-apa ke Abby dalam hal dosa-dosanya karena itu urusan dia dengan Tuhan, saya cuma minta dia menghafal doa saja sebelum menghadap Pastor. Ternyata total Pastor malam itu ada 5 orang dari berbagai paroki, dan sakramennya dilakukan secara terbuka di 5 sudut gereja. Para guru akan mengarahkan secara acak sesuai urutan selesainya anak-anak. Nah, saat itu Abby melihat, kalau salah satu Pastor yang bertugas adalah Pastor Daniel, OFM Cap (kita panggilnya Romo Daniel), Pastor Indonesia yang bertugas di Auckland. Abby tuh bisik-bisik ke saya sambil ngomong: "Mama, semoga aku dapatnya nanti sama Romo Daniel ya." Lalu daripada anaknya kecewa, saya bilang, "Tapi kalau nggak dapet, sama siapa aja sama kok, soalnya kan nggak boleh milih." Pas giliran Abby, tau-tau gurunya nyuruh dia ke Romo Daniel dong! Kok bisa sesuai ya sama harapan Abby? Mau ngaku dosa, mukanya bukan khawatir malah berseri-seri karena dapat romo yang dimau hahaha. Entah apa dosa-dosa yang dia akui di depan romo, yang jelas, besoknya sih anaknya udah nakal lagi hihihi. Namanya juga anak-anak. Ternyata ngaku dosa cara gini, efisien banget! 1 jam kemudian, semua sudah selesai, dilanjut foto bersama, kemudian pulang. Selesai deh tahap 1. 


Anak yang kesenengan, ngaku dosa pertama kali, dapatnya romo dari Indonesia hehe. Romonya juga keliatan seneng ya? 

Megang sertifikat aja gaya banget kamu, By!

Sebelum penerimaan Sakramen Krisma, tentunya selain  menyiapkan hati, ada beberapa hal yang harus disiapkan untuk penampilan juga. Di surat ke orang tua, diminta anak-anak wanita memakai pakaian putih dengan veil (slayer), atau memakai pakaian tradisional (jika budayanya biasa begini). Kemudian kita juga harus menyiapkan lilin putih yang melambangkan lilin pembaptisan. Salah satu orang tua murid ada yang menerima pesanan lilin cetak dengan nama anak dan gambar. Tapi entah kenapa saya kok kurang tertarik walaupun mayoritas orang tua pada pesan. Di bayangan saya, lilinnya simpel saja nggak perlu pakai tulisan nama, tapi dihias cantik. Jadilah beberapa hari sebelum hari H, saya mampir ke toko arts and crafts, beli lilin (yang wangi vanilla sekalian hihihi), plus beli sticker mutiara, lalu sampai rumah susun-susun itu mutiara (sampai mata agak picek, ujung jari pada lengket), dan jadilah lilin seperti di bawah ini. Lilin prakarya hasil karya mama, gak ada yang nyamain deh hahaha.


Lucu dan unik kan bikin sendiri hiasannya?

Soal baju juga lumayan peer dikit sih. Soalnya pilihan baju pesta di sini nggak banyak. Untung akhirnya nemu satu toko baju pesta anak, bela-belain macet-macetan dan ribet nyari parkir di kota. Yang lebih susah ternyata adalah nyari veil-nya. Bisa sih beli online gitu tapi kok takut pas nyampe nggak sesuai selera, malah jadi kerja dua kali. Dipinjamin teman bekas anaknya, tapi nggak sesuai selera karena agak ramai modelnya. Akhirnya saya beli bahan tile yang mirip warna baju dan beli mutiara, lalu bikin veil sendiri. Kemudian baru ngeh, begitu kena matahari, bahan veil-nya jadi kebiruan dan nggak nyambung sama warna bajunya. Akhirnya beberapa hari menjelang hari H, saya balik lagi ke toko bahan, nyari lagi bahan yang warnanya mirip, sampai minta tolong tukang potong bahannya nemenin saya keluar ke matahari, supaya mastiin seandainya di bawah matahari, warnanya masih cocok. Awalnya dia nggak percaya kalau bahan yang lama itu ngga cocok karena kalau indoor baik-baik aja. Begitu keluar, tetottt... dia pun shock, kok warnanya berubah. Jadi deh dua kali beli bahan, dua kali jahitin mutiara ke veilnya, tapi puas!


Finally! Ini yang ada di bayangan saya, veil sederhana dengan sedikit mutiara.

Bukti nyata, sebelah kiri veil yang lama, begitu kena matahari warna jadi kebiruan dan mengkilat, sebelah kanan veil baru yang warnanya tetap soft. Biar extra capek, tapi nggak nyesel jadinya.

Minggu, 9 Agustus 2020

Acara di gereja hari itu dimulai pukul 2.30 siang, dan pukul 2.00 kita sudah harus tiba di gereja. Jadi deh sehabis makan siang di rumah, langsung siap-siap, dandan cantik supaya representatif di hadapan Tuhan.
 
Loh, kok yang ini lebih sibuk dandan daripada cicinya? Pakai mahkota kertas pula yang dia bikin di kindy hihihi. 

Hore, sudah berpakaian lengkap, dengan tiara, veil, sambil pegang lilin. Ternyata di belakang rumah dapat angin alami, jadi kesannya dramatis ala foto-foto prewed yah, veilnya melambai-lambai hihihi. 

Foto duduk manis, aslinya pecicilan. Kalau lihat gini, serasa sudah besar banget. Kali ini jadi pengantin kecil, dua puluh tahun lagi jadi pengantin besar.

Adiknya nggak mau kalah ikutan, dan minta pegang lilin juga. Jadilah kita kasih dia lilin dari pemberkatan rumah hahahaha. Yang penting anteng deh pose bersama. 

Barengan Lucia alias Tante Lucy yang jadi sponsor alias Ibu Krisma-nya Abby. 

Kenapa saya dan suami milih Lucy sebagai ibu Krisma-nya Abby? Tentunya selain dia adalah sahabat saya di Auckland yang beragama Katolik, orangnya ini interestnya mirip banget sama saya. Mulai dari sesama dirigen musik gereja, sesama suka masak (dan makan), sesama suka nonton konser dan musikal, dan yang pasti, Lucy bisa bantu saya ikut membimbing Abby dalam urusan agama karena dia juga practicing Catholic alias bukan Katolik KTP hahaha. Dan yang harus dipastikan adalah, dia juga sayang dan perhatian sama Abby. 

Sampai di gereja, siap ambil posisi duduk. Ternyata orang sini nggak kalah kiasu kalau urusan acara khusus. Pukul 2 beneran gerejanya sudah penuh. 

Misa dipimpin oleh Uskup (Aux) Auckland, Mgr. Michael Gielen. Yang jubah merah sebelah kanan ya. Begitu saya kirim foto dia ke keluarga di Indonesia, komen mama saya dan mami mertua bisa sama. "Uskupnya ganteng yah." Dasar emak-emak!

Abby menerima minyak Krisma dari Bapak Uskup.

Di akhir acara menerima sertifikat. Di sebelah kiri Bapak Uskup adalah kepala sekolahnya Abby.

Kesempatan sungguh berharga bisa foto berdua dengan Bapak Uskup. Yang mau foto dengan beliau berebutan soalnya. Abby tadinya diminta pegang tongkatnya, tapi karena berat, tongkatnya oleng dan hampir kebentur uskupnya haha. Ya udah deh gak jadi pegang tongkat hehe.

Foto dengan Ibu Krisma.


Foto dulu sekeluarga. Mumpung lagi cantikan dikit emaknya. 

Uskupnya baik banget, pas gereja sudah sepi, kami minta foto sekali lagi dengan seluruh anggota pasukan, eh dia bersedia. Seneng deh pokoknya.

Sampai rumah, kita ngaso sebentar, minum teh, makan donat, ganti baju, lalu nggak lama siap-siap berangkat untuk makan malam. Berhubung minggu lalunya habis ngomongin bebek sama Lucy, akhirnya malam itu memutuskan untuk makan Peking Duck aja buat perayaan sederhana hari ini di resto langganan deket rumah. 

Udah gede, udah banyak gaya, udah sering ngelawan.

Peking Duck seekor. Nggak tanggung-tanggung.

Salt and Pepper Fish. Tadinya mau pesen cumi, tapi inget kolesterol, tukar sama yang ringanan (dikitttt).

Homemade Tofu. Asli ini uenakkkk banget, halus lembut bagai sutra... hiperbola dikit hahaha. Tapi beneran enak!

2nd coursenya Peking duck tadi, kita minta dimasak Duck Fried Noodle. 

Menu kesukaan bapaknya Abby dan Tilly, Crispy Roast Pork. 

Makan bertiga dewasa, dua anak kecil (yang paling kecil hampir ngga makan pula), menunya segini sampe meja ngga muat. Tapi yang dewasa ini emang pada kuat makan, sisa tapau beberapa box, ngga banyak tapi mayan buat lunch besoknya hahaha. 

Bonus, anak kecil lagi ngegerogot paha bebek hihihi.

Demikianlah sedikit kisah dari acara special untuk Abby. Semoga dengan semakin besarnya Abby, diikuti juga dengan kedewasaan iman yang semakin mantap, sehingga bisa menjadi saksi Kristus yang baik, mengamalkan cinta kasih di tengah banyak orang. Kiranya juga, acara komuni pertama di bulan September nanti bisa berjalan dengan lancar, sesuai kehendak-Nya. 

Comments

  1. Semoga yg Komuni Pertama lancar semua dan di waktu yg tepat lagi ya! Semoga Abby lebih dapat membedakan mana yg baik mana yg buruk sesuai hati nurani yg tercurahkan dengan Roh Kudus. Amin. Love, Tante Wusi (versi Lucy nya Tilly) hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, harapan kita nggak terkabul, Luc. Mundurrrrr! Yang penting semua sehat dan selamat deh ya. Kita tunggu lagi level 1-nya. Amin doanya, Tante Wusi.

      Delete
  2. abby baru 7 tahun saja gayanya udah kayak abg yah. :)
    liat dia pake dress putih trus pake veil gitu elu ga mellow bayangin dia nanti jadi penganten, le?

    tilly, itu pipi bisa merah merona gitu...gemesin kayak di komik2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan mulai mellow sih, Lim. Untung belum punya cowok, kalau punya cowok, gue tambah mellow. Tilly saking putihnya jadi gampang merah deh hehe.

      Delete
  3. selamat ya abby!

    disana krisma nya sekalian sama komuni pertama ya. kalo disini komuni pertama dulu baru ntar kalo udah lebih gede baru bisa ikut krisma.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Om.

      Iya, Man. Dan jaraknya gak beda jauh. Seperti yang udah gue jelasin di atas, punya alasan tersendiri kenapa Krisma duluan dibanding Komuni Pertama.

      Delete
  4. Congrats ya Abby

    cantik bgt dan kayak gadis Abege

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante Fitri. Baru 7 tahun tapi terasa udah gede yah.

      Delete
  5. kaget liat abby, udah gedeeeeee bgttt yaa.. hahaha
    congratss yaa abby!
    gemesssh liat gaya dedek tilly

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih umur 7 kok Tante. Cuma karena dandan jadi berasa gede hihihi. Makasih, Tante.

      Delete
  6. Selamat ya Abby, senang dengar ceritanya...

    ReplyDelete
  7. Congrats Abby :) keep growing in the love of God :)

    ReplyDelete
  8. Congratulation Abby! ❤️ Semoga kamu selalu tumbuh di dalam kasih Tuhan ya (:

    Aku pangling liat Abby pakai gaun putih plus veil. Tapi pose andalan tolak pinggang dari usia toddler gak pernah berubah ya 😂

    Terus auto ngiler dongg dengan chinese food-nya, udah lama banget nggak makan peking duck!

    Btw, berarti sekarang kondisi di Auckland sudah seperti semula atau masih dalam pembatasan ci?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante Jane.

      Iya dong, pose mantap tiada tanding tiada banding. Yuk makan peking duck lagi, dibawa pulang aja hehe. Sudah level 2 sekarang Jane, artinya resto dan toko sudah pada buka, tapi harus jaga jarak, sebisanya pakai masker, dan kumpul maksimal 10 orang.

      Delete
  9. Congratulations ya Abby, udah gede banget rasanya pakai veil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Tante Hui Na, makasih.

      Na, sudah lama nggak muncul. Great to see you (in writing hehe).

      Delete
  10. Congrat Abby, cakep banget pake dress dan veil..

    Tilly kenapa kamu gemesin banget sih.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante Dian. Sini towel2 pipinya Tilly.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas