Friday, May 17, 2019

Punya Anak Dengan Dermatitis Atopik atau Eczema

Topik yang lagi hangat banget di kalangan netizen nih, lantaran ada bapak-bapak yang ceritanya mau sharing soal penyakit anaknya, tapi berakhir dengan mayoritas ngebully dia hihihi. Saya rasa orang pada paham ya ini kasus siapa, soalnya di linimasa Facebook saya ada yang share juga. Malah kata teman saya, di linimasa dia yang share lebih dari satu orang. Sebagai seorang ibu yang punya anak penderita eczema, pas baca screencap instastorynya beliau sih, jujur, saya lumayan garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum juga. Saya percaya, maksud hati dia bagus, supaya menjaga privasi anak. Tapi cara menyampaikannya itu loh, udah kayak kompor meleduk (biasa bapak-bapak kan kalem, nggak meleduk ya), ditambah lagi hawa postingannya itu seperti berisi misleading information, plus... maaf ya, kok kata-katanya kasar. Seandainya disampaikan dengan cara lebih halus, plus ditambah research yang mendalam yang mendasari kesimpulan beliau, bukan hantem kromo dan menyalahkan orang lain, mungkin akan lebih bisa diterima oleh masyarakat. Edukasi orang tua soal penyakit itu penting, cara penyampaian ke orang juga penting supaya tidak salah kaprah. Kalau kita cuma sekedar baca instastory dan ikut emosi bersama si bapak, ujung-ujungnya yang rugi kita sendiri, plus anak kita juga ikutan rugi. Kali ini saya nggak mau bahas detail soal si bapak itu misleadingnya dimana, tapi saya mau berbagi pengalaman saja soal punya anak dengan penyakit yang sama dengan yang diderita anaknya si bapak. Mungkin kadarnya beda, tapi jenis penyakitnya sama.

Soal definisi dermatitis atopic atau eczema, silakan bapak ibu cari sendiri di google. Banyak sekali penjelasannya. Tapi ada kalimat yang menarik yang dipaparkan oleh Departemen Kesehatan Selandia Baru soal eczema ini yaitu sebagai berikut:

"Eczema is not an infection. Your child cannot give eczema to another child. Your child cannot get eczema from another child. Eczema is patches of dry itchy skin that become red. In children eczema is common behind the knees and on arms, hands, neck and face."

Saya terjemahkan ya.

"Eczema itu bukan infeksi. Anak anda tidak akan menularkan eczema ke anak lain. Anak anda juga tidak akan mendapatkan eczema dari anak lain. Eczema adalah petak-petak kulit kering yang menjadi kemerahan. Pada anak-anak, eczema itu wajar muncul di bekalang lutut dan di lengan, tangan, leher, dan wajah."

Dari sejak lahir, sudah terlihat kalau Tilly mempunyai penyakit ini. Wajahnya sering ada bercak merah, dan di lipatan-lipatan kulitnya juga kasar dan merah. Tetapi saya tidak langsung ambil kesimpulan. Saya konsultasikan dengan bidan dan dokter, dan memang benar dikonfirmasi  kalau Tilly ini kena eczema. Rasanya tidak perlu saya telusuri dia dapat penyakit ini dari mana, karena kemungkinan terbesarnya adalah turunan karena ini bukan penyakit menular. Ada juga anak yang punya alergi terhadap makanan tertentu, tetapi kebetulan Tilly tidak punya alergi dari sisi ini.

Sebagai anak yang lahir di negara 4 musim, apalagi lahir di musim dingin, kemungkinan kambuhnya eczema lebih besar dibandingkan dengan yang lahir di negara dengan dua musim. Di saat musim dingin, udara jauh lebih kering, sehingga kulitpun jadi lebih kering. Kalau anak yang kena eczema, kekeringan kulit itu menimbulkan gatal yang berlebihan sehingga tidak jarang Tilly menggaruk-garuk lipatan leher dan lengannya sampai baret-baret dan kadang ada guratan tipis darah karena digaruk terlalu keras. Di saat musim panas, udara mulai  lembab, eczemanya berkurang jauh, bahkan menghilang. Tapi begitu udara mulai dingin, ya balik lagi deh. Sebagai pengetahuan tambahan, eczema itu memang sulit untuk 100 persen sembuh, tetapi bisa dikontrol. Puji Tuhan, menurut saya sih, dibanding pas baru lahir dulu, eczema Tilly sekarang jauh lebih mendingan, minimal di wajah sudah nggak muncul merah-merah lagi.

Lalu bagaimana cara kita mengontrol supaya eczemanya tidak sering kambuh dan berangsur-angsur membaik? Kunci pertama, jangan pakai produk sembarangan untuk kulit. Anak yang menderita eczema tidak bisa memakai segala produk kulit yang berparfum, ataupun mengandung SLS. Jadi untuk bayi yang punya eczema, jangan harap dia ada wangi-wangi bunga, atau wangi bayi khas parfum yang biasa dimasukkan ke produk bayi. Cukuplah bau susu dan bau keringat yang nempel hehehe. Kedua, konsultasikan dengan dokter jika kondisinya semakin parah. Berharaplah dapat dokter yang jujur, tidak membebankan kita dengan obat-obat mahal, karena sesungguhnya, obat dan krim untuk anak eczema itu sangat-sangat tidak mahal. Entahlah kalau ezcemanya super parah, tapi sepanjang pengetahuan saya selama berobat di sini, obatnya sangat murah dan mudah ditemukan di apotik (bahkan gratis karena disubdisi pemerintah kalau untuk anak-anak). Seandainya krimnya habis, beli sendiri pun, harganya sangat masuk akal dan sebanding dengan produk-produk bayi over the counter di supermarket. Dokter-dokter di sini, sampai saat ini tidak pernah meresepkan salep atau krim racikan ke anak saya.

Jadi bagaimana treatment eczema untuk Tilly? Yang terpenting adalah untuk menjaga kelembaban tubuhnya. Setiap hari, Tilly mandi tanpa menggunakan sabun. Pas dia bayi dulu, hanya menggunakan air, dan saat pengeringan hanya pakai handuk dan ditotol-totol, tidak boleh digesek. Ketika anaknya tambah besar dan aktivitasnya tambah banyak, dia mulai mandi dengan menggunakan Aqueous Cream sebagai pengganti sabun. Harganya? NZ$6.99 (IDR 70,000) untuk ukuran 500gr. Itu bisa dipakai berbulan-bulan nggak habis-habis karena dipakainya secuil saja untuk setiap kali mandi. Setelah mandi, body lotion yang dipakai adalah Sorbolene Cream yang berisi glycerine. Harganya? NZ$ 6.50 (IDR 65,000) untuk ukuran 500ml, lagi-lagi bisa dipakai berbulan-bulan. Lalu bagaimana jika eczemanya lagi agak kumat dan agak parah merah-merahnya? Kita pakaikan salep Hydrocortizone 1% (steroid). Harganya? NZ$ 7.40 (IDR 74,000) untuk ukuran 14.2 gr, dan sudah setahun saja tidak habis-habis ini! Konon di Indonesia harga salep ini cuma IDR 10,000 saja! Tapi khusus salep ini, kalau di sini harus pakai resep dokter ya. Di Indonesia saya kurang tau. Cara pakainya diaplikasikan ke area yang merah-merah tipis-tipis sekali. Hydrocortizone juga bukan salep yang boleh dipakai untuk jangka panjang, jadi kalau kata dokter sini, seminggu pakai, seminggu off, seminggu pakai, seminggu off, dan kalau gejala merahnya sudah membaik, tidak perlu dipakaikan lagi. Jadi sekarang ini, saya hampir tidak pernah memakai salep ini lagi karena kondisi eczema Tilly semakin  membaik. 

Mungkin ada yang penasaran, apakah Tilly pakai tissue basah? Yes, Tilly masih pakai tissue basah yang water based (non-alcohol based), tapi hanya untuk pantatnya aja, dan tidak boleh diusap terlalu keras. Untuk wajah pakai apa? Bawa aja anaknya ke sink, cuci mukanya hehehe. Anaknya girang banget kalau dibawa ke depan sink, dan pas mukanya diuyel-uyel pakai air, malah demen nyembur-nyembur. Untuk keringkan, kadang saya diamkan saja biar kering sendiri, atau pakai facial tissue biasa, hanya ditekan-tekan. Intinya, jangan sampai anak kita kulitnya kering, dan kita minimalisasi gesekan. Boleh nggak Tilly main kotor-kotor di luaran sana? Selama masih dalam batas wajar, saya tentu kasih. Lari-larian dan guling-gulingan di rumput, ya silakan. Main air di kolam umum, ya silakan selama airnya bersih. Yang penting, sesudah kotor-kotoran ya membersihkan diri dengan mandi. Ada makanan yang dipantang nggak? So far nggak ada. Rendang aja masuk hehe. Nah tapi kalau ada riwayat alergi makanan, jangan nekad ya. Ingat, konsultasi dengan dokter. 

Lalu, apakah saya setuju anak-anak saya dipegang-pegang oleh orang lain? Jawabannya: sampai saat ini, saya belum menemukan orang-orang yang nyubitin atau gemes ke anak saya sampai berlebihan, dan di luar batas kewajaran. Seandainya saja sampai di luar batas kewajaran, saya tidak akan ragu untuk menegur orang tersebut. Sudah merupakan tugas dan kewajiban saya untuk melindungi anak saya dari orang yang tidak bertanggungjawab, apapun itu bentuknya (contoh: cium-cium, atau oper-oper seenaknya). Tapi saya selalu percaya di lubuk hati terdalam, tidak ada orang yang berniat untuk mencelakai anak kita. Seandainya perbuatannya di luar batas, itu mungkin karena kurangnya pengetahuan akan privasi dan kesehatan, dan bisa kita edukasi dengan ajak bicara. Tilly sendiri termasuk anak yang populer di lingkungan teman-teman sini, bahkan ada yang rela jadi baby sitternya dia setiap kita ketemu di gereja, tapi ya belum pernah dia dikembaliin ke saya dalam keadaan sakit atau tersiksa. Jangan sampai deh ya. Untuk semua orang di luar sana, kita juga harus hargai privasi bayi dan orang tua. Jangan sampai karena gemes, main uyel-uyel seenaknya. Ini bukan cuma masalah kesehatan, tapi masalah kenyamanan dan etika.

Kakak adik bisa beda ya kondisi kulitnya? Bisa banget! Abby itu termasuk badak kulitnya. Di Indonesia saat itu lagi trend pakai produk-produk bayi impor yang katanya lebih sehat, lebih alami, dan lain-lain. Teman-teman saya juga rata-rata pakai produk begini untuk anak-anaknya. Saya tidak ikut-ikutan. Saya pakai semua produk lokal over the counter di supermarket, dan syukurlah, kondisi kulit Abby baik-baik saja. Kalau Tilly tentunya lain cerita karena kondisi eczemanya, nggak bisa pakai produk sembarang. Tapi bukan berarti harus pakai produk mahal. Saya selalu percaya, kalau kita justru tidak boleh dari awal pakai produk untuk orang yang kulitnya sensitif. Ibaratnya membangun imun, jangan dikit-dikit anak kita pakai produk terbaik, termahal, ter ter ter semuanya. Yang ada nanti begitu ketemu produk "standar" langsung gak kuat. Ibaratnya, kebiasaan hidup enak, nanti giliran susah nggak bisa survive (another story on this kalau mau dijabarkan). 

Disclaimer dulu, saya bukan dokter! Informasi yang saya berikan di post ini murni berdasarkan pengalaman pribadi saya dalam menghadapi eczema Tilly, dan berdasarkan ilmu dari konsultasi yang saya lakukan dengan dokter anak saya. Jika seandainya bisa diaplikasikan untuk anak-anak bapak ibu yang kena eczema dan berhasil, itu puji Tuhan. Atau mungkin ada yang mau berbagi pengalaman soal anaknya yang kena eczema juga? Mungkin ada jalur yang berbeda yang juga bisa jadi alternatif yang baik. Semoga kita semua bisa mendapatkan informasi yang baik dan berimbang dari berbagai pihak soal penyakit yang satu ini, dan tidak mengedepankan emosi ya. Kalau mikirin emosi, saya juga nggak rela loh paru-paru saya diangkat satu lantaran terkena bakteri/virus dari luar. Saya tidak merokok, saya tidak memaparkan diri ke lingkungan perokok, lalu mau nyalahkan siapa? Mendingan energinya kita salurkan untuk cari solusinya. Puji Tuhan, sampai saat ini sehat walafiat walaupun perjuangannya nggak mudah. 

Btw, kalau saya bagi-bagi cerita pas liburan pulang kampung kemarin, udah keburu basi belum ya? Hihihi.

18 comments:

  1. salam kenal Ci..silent reader selama ini tapi selalu nunggu postingan ci Leony..apalagi kalau ada update foto Abby dan Tilly..hehe..ditunggu cerita liburannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, siapa ya namanya? Salam kenal juga. Iya abis ini diupdate ya cerita liburan yang udah basi itu hehe.

      Delete
  2. baru2 ini aq kena dermatitis atopik, segolongan sm eksim dan echzema kan yaa ci.. pemicunya adalah waktu umroh kemarin perlu adaptasi cuaca, ditambah keseringan mandi air hangat. kulitku jadi makin kering yg dasarnya udah kering. krna gak tahan ke dokter deh, dikasih krim2 yg bau2nya emang obat2an, plus jangan mandi air hangat dulu, mandi air suhu biasa lebih baik, dan pakai sabun berpelembab, nebeng sabun anak deh yg udah ketahuan lebih banyak pelembabnya dibanding sabun dewasa. so far skrg udah membaik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dermatitis atopik sih memang istilah keren dari eczema, Tia hehe. Iya, memang kalau punya ezcema itu, bawaannya gatel, perih, pengen garuk aja, Syukurlah udah membaik ya.

      Delete
  3. Hai ci leony, selama ini jd silent reader dan selalu enjoy baca pandangan cici terhadap 1 topik hehe. Untuk si bapak2 ini sebenernya maksudnya mungkin menyadarkan orang2 indonesia permasalahan kenapa si kita jangan smbarang toel2 anak orang (with or without consequences) tp mungkin karena trauma jadinya sangat berapi2. Dan mungkin jg orangnya memang lebih sensitif dari ekspektasi orang terhadap bagaimana seharusnya seorang ayah bersikap. Dan kejadjan ini dishare setelah lebih dari setahun jd mungkin pas sblom dia share ada trigger lagi yg membuat penulisannya jadi 'kasar' dan kurang dipikirkan. Kaya lagi in the moment gitu apalagi di post di igstory yg biasa orang lebih impulsif dalam memposting. Thank you ci untuk sharing soal pengalaman tilly. Hope your family always stay healthy and blessed ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi J, gara-gara kasus ini, saya sempat intip2 instanya si bapak termasuk instastorynya. Kayaknya sih orangnya memang emosional berapi-api dalam hal apapun ya, bukan cuma ezcema anaknya aja, lalu tipe yang lumayan attention seeker (kalau lihat dari storynya hahaha). Intinya sih, hal yang maksudnya baik, kalau cara penyampaian salah dan kurang dasar informasi yang tepat, jadinya bisa backfire.

      Delete
  4. Itu si bapak kasian juga malah dibully netizen karena bahasanya yang ngomel2 di story yaa....jadi adem kalo baca postingan elu Le, lebih menjelaskan dibanding marah2in penyebab penyakit anaknya..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya itu mah karena gaya penyampaiannya aja Ci, kayak orang ngajak brantem se-RT hihi. Mana ternyata penyakitnya udah bawaan (orok) istilahnya.

      Delete
  5. Hello Ci,
    Coba cream nya satya.ca. Buat maintenance or ringan2x, ini nolong banget buat aku. Klo udah parah, ya mesti pake Hydrocortizone (aku yang 0.50%). Hope it helps.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, thank you ya untuk infonya. Cici jadi lihat2 deh tuh si Satya, sepertinya oke ya untuk alternatif. Tapi untungnya sekarang si Tilly juga udah gak gitu depending on the cortizone, jadi so far so good.

      Delete
  6. gua juga kurang suka sih sama tulisannya, karena secara ga langsung dia bilang kalo anaknya tuh steril banget, dan mukanya jadi luka2 ya gara2 ditowel2 orang lain... tapi ada bagusnya juga sih banyak yang share, sekarang di gereja jadi ga ada yang berani pegang2 muka emily hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emosi jiwa ya, Mel si bapak hihihi. Kadang gue suka mikir, orang yang kalau nulis ngamuk2 gitu, dalam kehidupan sehari2 emosional juga atau sebenernya cuma di tulisan doang ya? Hehehe. Iya, bagusnya hal yg dia mau sampaikan jadi terlaksana, cuma ya jadi berdasar pada info yang salah (dan bikin parno).

      Delete
  7. Aku juga mengerutkan kening sih baca IG yang bersangkutan, kayaknya nggak segitunya juga sih, hahaha. Aku juga kesel waktu pertama kali eczema muncul di kulitku, sempet aku sharing juga kan di blog dan Instagram. Tapi aku nggak marah-marah, ya emang udah kena terus gimana, cuma bisa ditreatment aja kan.

    Tapi aku paham soal anak yang ditowel-towel orang asing. Buatku selama nggak melewati batas sih woles aja ya. Untungnya sampai sekarang sih nggak ada yang berlebihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tujuan dia sebenernya baik kan, seperti cici tulis di atas. Cuma ya karena cara nyampeinnya aja ngaco dan dasar infonya jg ngaco. Habis deh dibully.

      Delete
  8. Iya bener, itu rame bgt yg ngeshare. Ada yg ngedukung, tapi gk sedikit jg yg ngebully ��. Di satu sisi yg dia blg bener, spy gk sembarangan pegang apalagi smpe towel2 dan nyium anak orang. Tapi di sisi lain krn cara penyampaiannya yg lmyn frontal pdhl kurang riset, jadi yaaa...begitulah ����. Kasian sih sbnrnya ��.

    Ralph jg waktu bayi kulitnya gak mulus. Pipinya merah2 jerawatan ��. Puji Tuhan makin besar makin sembuh, skrg mah udah muluuss, puji Tuhan ��

    Sehat2 sll Abby dan Tilly yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua parents yang sayang anak, pasti akan usahain yang terbaik untuk anak ya. Cuma memang kalau menyampaikan apapun keluar, apalagi di socmed, kudu harus extra hati-hati. Syukurlah si Ralph udah membaik ya. Eczema sendiri juga katanya banyak yang akan hilang setelah anaknya lebih besar. Semoga bisa gitu ke Tilly.

      Delete
  9. Ci kakak saya juga pernah kena eczema yang memang gabisa sembuh total, tapi memang harus diperhatikan dari segi makanan, kebersihannya yang memang harus selalu dijaga karena eczema memang tidak bisa sembuh total

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih komennya. Next time kalau kasih random link, sy lgsg delete ya. Thanks.

      Delete