Tuesday, August 02, 2016

Untuk Dikenang: Ketika Duit Pas-pasan

Waktu kami memutuskan pindah negara, kami telah berpikir masak-masak, kira-kira kami akan bawa uang berapa waktu ke sini, bikin budget kasar untuk kehidupan kita, dan saat itu kita berancang-ancang, seharusnya uang yang kita bawa itu, cukuplah untuk hidup sampai minimal 3 bulan ke depan sejak hari pertama kita pindah. Tentulah jumlah uangnya tidak sedikit. Kalau di Jakarta, jumlah segitu cukup untuk membeli sebuah apartemen kecil sederhana, tetapi di sini, rupanya jumlah segitu ngebut banget habisnya lantaran kita harus menyewa rumah dan mengisi perabotan. Belum lagi harga bahan pangan di sini, yang walaupun sudah dihemat-hemat, tetap saja banyak keluarnya padahal kebanyakan saya masak sendiri. Bayangkan kalau tiap hari makan di restoran, dua bulan juga sudah bangkrut hihihi.

Saya tulis cerita ini untuk mengenang, betapa hal-hal yang dulu di Jakarta jadi barang biasa buat kami, dan kami belinya tidak pakai mikir berkali-kali, ternyata di sini bisa jadi barang yang begitu mewah buat kami sampai harus menunggu berbulan-bulan baru bisa kebeli. Apalagi saat itu kami nggak punya kerjaan, rasanya mau beli barang yang lumayan besar itu mikirnya kok lama bener, karena ujung-ujungnya kebutuhan perut jadi prioritas utama. Harap maklum kalau kesannya jadi kampungan banget, karena seluruh cerita di sini adalah soal kami beli barang. Hahaha.

Saat kami pindah, hal yang pertama kali kami beli adalah sebuah mobil. Bukannya kami sombong dan nggak mau pakai transportasi publik, tapi transportasi publik di sini memang yaaa gitu dehhh... selain yang lewat jarang banget (setengah sampai satu jam sekali kalau dari daerah rumah kita), harganya pun juga nggak masuk akal. Saya pernah nih nganter suami ke stasiun kereta terdekat (15 menit dari rumah) untuk dia naik kereta ke calon kantornya dulu, dan ongkosnya di atas 10 dolar sekali jalan (belum termasuk biaya saya antar dari rumah loh ya). Naik taksi di sini juga bukan jadi opsi, karena ya itu, mahalnya minta ampun. Kebayang kan, naik bus atau kereta aja mahal, apalagi naik taksi. 

Mobil kita di sini adalah sebuah mobil bekas, tapi irit BBM lantaran itu mobil hybrid (biar samaan sama Leonardo di Caprio hahahaha). Tau sendiri kan yang namanya mobil bekas, kondisi nggak mungkin sempurna. Waktu kita beli, kita lihat kondisi bannya sudah tidak terlalu oke walaupun masih lolos warrant of fitness alias uji kelayakan (di sini kondisi mobil harus diperiksa setahun sekali sesuai standar layak jalan pemerintah). Beli ban mobil baru masuk ke dalam list kami selanjutnya. Tapi kami tahan-tahan nggak beli lantaran duit pas-pasan, dan berpikir, kalau di dalam kota sih mestinya aman-aman saja deh, walaupun sering deg-degan lantaran kalau hujan berasa tuh gripnya sudah nggak terlalu pakem. Asuransi mobil pun kami nggak beli loh, padahal kalau di Jakarta kami ini paling anti mobil nggak punya asuransi. 

Sewa rumah di sini itu sama sekali tidak termasuk perabot kecuali kompor dan oven yang memang menempel di dapur. Jadi kami harus beli semua, mulai dari kulkas, mesin cuci, pengering pakaian, microwave, vacuum cleaner, dan rice cooker. Penting banget ini rice cooker, karena nggak mungkin kalau kita nggak makan nasi (Indonesia sekali bukan?). Pergi ke toko appliances, kami melihat kenyataan kalau harga barang elektronik rumah tangga di sini harganya lumayan menyedihkan alias 1.5 sampai 2 kali harga di Jakarta. Tapi semua yang disebutkan di atas itu, kami benar-benar butuh, jadi mau nggak mau harus dibeli semua. Suami dan saya juga pemegang prinsip, nggak mau beli merek abal-abal dan sebisa mungkin energy ratingnya bagus (alias hemat listrik). Daripada beli yang nggak jelas, mendingan keluarkan uang lebih, tetapi kami yakin dengan barang yang dibeli. Jadilah begitu keluar dari toko appliances, kantong kami menipis drastis. Untungnya food processor, mixer, blender, dan banyak panci kesayangan masih bisa kita kirim dari Jakarta pakai kargo, kalau nggak, tirislah uang kami.

Bagaimana dengan furnitur? Kami cuma beli ranjang saya, ranjang Abby, drawer baju, dan meja makan dengan kualitas lumayan oke. Seenggaknya framenya solid wood. Lalu sofa gimana? Itu ditaruh di prioritas belakang banget. Saat itu kami berpikir yang penting kami bisa makan dengan posisi duduk layak, dan bisa tidur dengan enak. Pokoknya ranjang nggak boleh jelek, karena kan minimal kita menghabiskan seperempat hari di situ. Semua furnitur juga kita rakit sendiri. Kenapa? Karena saat kita tanya biaya kalau dibantu rakit oleh personil tokonya, biaya rakit adalah 200 dolar per 30 menit. Gile, bisa mejret cuma bayar biaya rakit furnitur. Ongkos kirim aja sekali jalan 75-85 dolar untuk dalam kota. Salut bener sama orang NZ kalau anter furnitur dan appliances, kuatnya amit-amit! Bayangin aja ngangkat kulkas/ mesin cuci sendirian, dan bisa langsung lempar masuk ke dalam rumah. Amazing! Nggak salah bayarannya mahal, kerjanya efisien bener.

Berikutnya kami nyusul beli meja komputer, kursi, printer/ scanner karena kami butuh tempat untuk duduk konsentrasi cari kerja plus untuk print surat menyurat. Kami ketolong lagi karena kirim desktop dari Jakarta plus bawa laptop juga, jadi untuk komputer kami nggak usah beli lagi. Kalau lihat harga komputer di sini, ngakak abis deh (plus nangis). Mahalnya parah! Di Jakarta laptop harga 9-10 juta processornya udah Intel Pentium I5, kalau di sini? Intel Celeron! Ancur minah gak tuh? 

Ruangan tengah rumah kita melompong. Sofa nggak ada, coffee table nggak ada, dan yang paling "keren", TV juga nggak ada. Padahal saya sama Abby termasuk orang yang hobi banget nonton TV. Bener-bener deh, TV itu kan padahal standar banget ya di setiap rumah tangga. Untungnya tiap hari ada aja yang dikerjain, masak, anter anak sekolah, bebersih rumah, ajak anak main ke taman, dan berbagai kegiatan lainnya. Saat itu benernya kepinginnnnn banget beli sofa, soalnya kami suka bingung kalau mau duduk santai gimana. Ujung-ujungnya cuma goler-goler di ranjang yang berakhir dengan ketiduran. 

Beberapa bulan kami hidup kayak gitu. Berusaha semaksimal mungkin irit karena kerjaan belum menghampiri. Tapi kita juga punya plan, seandainya uang memang sudah sisa sedikit, mau nggak mau ya harus kirim uang lagi dari Indonesia demi menyambung hidup. Kalau lihat kisah perjuangan kita mencari pekerjaan di sini, mungkin masih ingat ya, kalau uang kita saat itu yang nyisa di tabungan di bank sini tinggal 2000 dolar, dan itu beneran loh kita brasa miskin banget dan tinggal menghitung hari sampai uang kita beneran ludes. Sewa di sini bayarnya kan seminggu sekali, dan jumlahnya lumayan wow. Walaupun kita masih punya tabungan di Indonesia, tapi kita nggak menyangka kalau di titik itu, ibaratnya kita sudah hampir kolaps seandainya ngga ada backup dari Jakarta. Makanya begitu kami dapat kabar soal kerjaan pas di kondisi tersebut, kok kayaknya semua betul-betul tepat pada waktunya.

Waktu itu, karena belum gajian, sudah jelas back up dari Jakarta sudah harus dikirim. Tapi seenggaknya hati kami tenang banget, kayak beban berat itu terangkat. Serius, saat itu kami kayak orang baru dapat lotere walaupun sebetulnya pakai uang sendiri, dan akhirnya kami bisa mulai belanja apa yang sudah kami idam-idamkan. Yang pertama dibeli, sofa! Sehabis antar suami untuk ambil kontrak kerjanya, kita mampir ke toko furnitur. Hati saat itu rasanya berbunga-bunga banget padahal belum gajian. Hari sebelumnya sudah browsing-browsing dan sudah naksir satu sofa sederhana bergaya skandinavia, dan begitu lihat barangnya langsung di toko, tidak bisa pindah ke lain hati. Tambah juga beli coffee table yang sederhana, dan kita langsung membayangkan Abby bisa main kereta api di atasnya. Minggu depan, sofanya sampai di rumah, dan eng ing eng, seperti biasa belum dirakit. Saking senengnya, tenaga saya tuh kayak berlipat ganda, dan bertekad kalau saya mau pasang kaki sofa dan mejanya sendiri sebelum suami pulang. Dan saat akhirnya semua terpasang cantik di ruang tengah dan saya duduk di atasnya, mendadak saya jadi terharu berat. Terharu karena berbulan-bulan kami duduknya di karpet atau ranjang, dan duduk di sofa yang sebenernya biasa aja, mendadak jadi hal yang nikmatnya bukan kepalang.

Perhentian selanjutnya, kami beli asuransi mobil dan beli ban mobil. Dasar beruntung, toko ban dekat rumah lagi promo beli 3 gratis 1 ban, yang artinya kami bisa beli ban yang agak bagusan. Setelah kami yakin kondisi mobil aman, akhirnya kami langsung susun rencana untuk road trip pertama kali ke Wellington. Sungguh sebuah trip yang dibalut oleh rasa syukur luar biasa karena Tuhan akhirnya bukakan jalan untuk kita memulai hidup baru di sini. Dulu saat kami baru tiba, banyak orang menyarankan kami untuk jalan-jalan dulu keliling NZ sebelum nanti anak sekolah dan suami kerja. Tapi saat itu kami sama sekali tidak tertarik, karena kami terus berpikir, kalau kami harus jaga dulu keuangan  kami jangan sampai berantakan walaupun hati ini kepingin banget. Tau sendiri kan kami berdua sangat suka traveling, makanya ketika kesempatan road trip pertama hadir, senengnya minta ampun.

Begitu suami gajian pertama, bisa tebak akhirnya kami beli apa? Akhirnya, kami punya TV! Di bulan ke 4 kami di sini, kami punya TV juga. Seorang teman dari Jakarta sampai nggak percaya kalau kami se"miskin" itu sampai nunggu gajian dulu baru bisa beli TV hihihi. Ya tapi bener kok, memang itu faktanya. Sebenernya kalau mau beli TV biasa sih sudah bisa kebeli, tapi tipe kami mendingan nunggu sampai bisa beli yang bagusan. Syukurnya karena menunda itu, kami nggak salah beli. Walaupun harganya 1.5 kali harga di Jakarta, tapi yang di sini softwarenya sudah lebih lengkap dan sesuai dengan program yang ada di NZ alias "On Demand" programnya jalan semua. Saking senengnya sudah ada TV di rumah, selama 2 minggu pertama kerjaan saya tiap hari adalah nonton marathon Project Runway dari Season 10 sampai Season 14, Project Runway All Stars, dan Under The Gunn. Suami saya sampai geleng-geleng, ini istrinya demen banget nonton acara bikin baju. Abby juga ikutan senang karena jadi bisa nonton The Wiggles dan Postman Pat berepisode-episode. Asli, kampungan banget kan, beli TV aja bisa girangnya kayak gitu. As for my husband, dia langsung beli Steam Link supaya bisa main game langsung dari komputer, tapi pakai layar besar di ruang tengah. Semuanya happy!

Saya juga beli beberapa stools dan beli peralatan makan lebih banyak, supaya kami bisa ngundang teman-teman untuk makan bareng di rumah kami. Di sini memang nggak gitu banyak hiburan, apalagi yang gemerlap. Ngumpul dengan teman dan berbagi kebahagiaan bersama itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Walaupun rumah sewaan kami cuma seutek (luas bangunan cuma 65m2 loh!) tapi lumayan lah masih bisa nampung beberapa orang buat kumpul bareng. Pokoknya, di sini hasrat masak bisa terpenuhi dengan baik deh karena bahan-bahannya prime (walaupun harganya kadang bikin mules... Hellooowww terong 6 dolar sebiji dan buncis 25 dolar sekilo!). Cuma ya rempahnya memang nggak sedahsyat di Indonesia, dan rata-rata frozen kalau rempah Asia. Biarpun apa-apanya mahal, tapi tetep loh, masak sendiri itu lebih irit daripada makan di restaurant. Tapi ya tiap weekend kita masih sempetin juga kok makan di luar, biar nggak bosan dan wisata kuliner tetap jalan.

Pokoknya sejak hidup di sini dan memulai segalanya dari awal, saya makin mensyukuri mulai hal-hal kecil. Kita juga makin berusaha untuk  membagi berkat buat orang-orang di sekitar kita. Salah satu hal yang terdekat dengan kita adalah sekolah Abby. Begitu dapat berita kalau Papa Abby dapat kerja, saya langsung lihat list barang yang dibutuhkan sekolah dan membantu sebisanya sebagai ungkapan syukur. Kita juga sempatkan volunteer beberapa kali untuk fundraising sekolah, salah satu yang seru adalah jualan hotdog di depan salah satu toko bangunan besar di sini. Sekarang ini, setiap Sabtu minggu ketiga tiap bulannya, saya dan beberapa teman juga volunteer untuk bernyanyi menghibur opa oma di sebuah panti jompo. Setiap selesai menyanyi, hati ini gembira luar biasa, apalagi kalau opa oma sudah nanyain kapan kita balik lagi. Senang sekali rasanya dikangenin sama mereka.

Saat dulu kami bilang meninggalkan kehidupan enak di Jakarta, beneran loh kami meninggalkan kehidupan enak itu, dimana segala akses gampang, segala bantuan dengan mudah kami dapatkan, segala barang tersedia dan bisa kami dapatkan dengan mudah (dan lebih murah). Di sini, kami beneran mulai pelan-pelan. Mungkin gara-gara kita tipe yang "lebih baik nggak beli dulu daripada beli barang jelek" sangat membantu kita untuk lebih menahan diri dan pada akhirnya mendapatkan barang yang berkualitas dan tahan lama. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian ceritanya. Di sini kita hidup minimalis, tapi semuanya cukup untuk sekarang. Clearly, we don't take anything for granted, we keep counting our blessings.

Beberapa tahun lalu, saat masih di Jakarta, saya pernah memberi kesaksian di tengah teman-teman lingkungan gereja soal penyakit saya, hubungan saya dengan mantan saya yang kandas, dan bagaimana Tuhan menyembuhkan saya. Ada satu ibu yang bertanya begini, "Leony, saya lihat kamu kok kayaknya tipe yang positif terus. Tapi saat itu kamu kan sangat terpuruk, apa yang kamu doakan sama Tuhan?" Kemudian saya jawab,  "Setiap hari doa saya kira-kira begini. Jika rencana saya sesuai dengan kehendak-Mu, ya Bapa, maka terjadilah. Jika tidak, saya percaya Engkau pasti berikan yang terbaik untuk saya." Doa sederhana itu saya bawa sampai sekarang, bahkan saat saya meminta sama Tuhan permintaan yang seringkali sangat personal. Memang Tuhan nggak pernah kasih saya jawaban instan. Tuhan kasih saya berjuang dalam suatu proses yang panjang, terkadang butuh bertahun lamanya, tapi indah pada akhirnya.

Sama seperti perjalanan kami di sini, walaupun awalnya berat (sampai mau beli TV aja nunggu gajian dulu hihihi), saya yakin Tuhan sedang susun rancangan yang terbaik buat saya sekeluarga. Sekarang ini kami jadi seperti bayi lagi, merangkak dari bawah, banyak belajar dan terus berusaha sejalan dengan berkat yang kami terima.

Next goal: Rumah dengan pemandangan harbour... --> NGAREP PARAH!! BANYAK MAUNYA hahahahahahaha.. Siapa tau ye, kan semua dimulai dari harapan hihihi..

66 comments:

  1. Suka dengan kata-kata ini ci : "Clearly, we don't take anything for granted, we keep counting our blessings". Kalau dipikir-pikir, hal-hal seperti ini (seharusnya) lebih nikmat karena dilakukan bersama-sama ya ci, dan akan menjadi salah satu kenangan nantinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang nikmat, apalagi kalau sudah terlewati masa-masa sulitnya. Rasa nikmatnya tuh lebih besar daripada biasanya. Jadi nggak take things for granted beneran.

      Delete
  2. Wahhh, makasih sudah sharing :) Bikin hati adem bacanya, dan jadi blajar lagi untuk gak lupa selalu bersyukur :) God Bless

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur dan membagi syukur kita juga pada orang lain ya, Rina.

      Delete
  3. Mantap..dibantu doa ya mbak buat next goalnya..Amiiinnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, doain ya. Entah kapan sih, realistis aja deh hahahaha.

      Delete
  4. Kita dulu juga yg dibeli pertama mobil. Emang perlu ya. Gile bener disana kereta nya mahal amat y.

    Kalo furniture yg kita beli dulu tuh TV (penting) Hahaha trus sofa bed, dresser dan mattress. Malah gak pake bedframe lho for a long time jd kasur nya digelar lantai aja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini apa-apa beneran mahal bener, sampe gue bingung, apalagi yang lewat bus tuh dikit banget, kalau gak ada mobil beneran mati gaya. Buat gue TV sih ngga terlalu penting ya karena banyak hiburan jg misal pergi ke taman atau jalan-jalan kemana gitu. Sekarang ada TV ya syukur hehehe. Kalau bed, gue harus di atas Man. Nggak bisa digelar di lantai, gak gitu bagus juga kan hawanya katanya, apalagi punggung gue kan dah gak perfect.

      Delete
  5. Itulah kenapa.harus kuat mental&fisik ya ci😁 salut euy bisa banget nahan buat gak bebelian.. Btw,selama gak ada tv, abby ga rewel cari tv? Meski udah sibuk diluaran?
    Sukses ya ci... Selalu ditunggu pengalaman2 selama disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harus nahan, karena kalau konsumerisme yang dijaga mah, apa juga kepingin dibeli hehehe. Abby nggak pernah nanyain TV tuh pas ngga ada TV. Biasa aja dia mah. Sus aja yg deket bgt sm dia jarang banget ditanyain, pernah sesekali dua kali, tapi bukan tipe yang nyariin. Apalagi TV ya haha.

      Delete
  6. Thank you for sharing ya...
    Amin2 semoga bisa dpt rumah idamannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, rumah impian Bon, tapi gue mah jalanin aja dengan realistis. Kalo sekarang sih jauh bener itu dapetnya hahaha.

      Delete
  7. mudah2an tercapai impian rumahnya ya Le..

    salut deh selalu positif thinking ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Fit, siapa tau ya bisa kesampean.

      Delete
  8. Wow..tulisan yang super ci, membuat saya menjadi mensyukuri apa yang sudah saya dapatkan :) Terima kasih Tuhan atas anugerahmu yang tak terkira.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serasa Mario Teguh ya Nick? Hihihih. Sip, selalu bersyukur sama Tuhan.

      Delete
  9. Asyik tar ada rumah baru.....luasnya 10x rumah yang skrg dong. Bisa berkebon hahahaha jadi kalau mau masak tinggal metik hasil bumi di kebon.
    Kisah elu percissss kaya main game the sims hahahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo luasnya 10 kali sekarang, gue gak mampu ngurusinnya, Fel! Gila lu hahahaha. Cukup 3 kalinya aja udah bersyukur kok hahahahah (masih berharap). Gue kagak berbakat nih berkebon. Isinya hama melulu.

      Delete
  10. Ci bagus deh ceritanya...emang bener ya semua nya ga ad yg instan...harus usaha sama berdoa...Diaminin ci, semoga beneran bisa beli rumah impian disana!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus pelan-pelan dan bisa menahan diri, Rib. Kontrol diri itu penting bener. Berdoa sih jangan ditanya deh, penting banget. Amin, semoga tercapai hehe.

      Delete
  11. Le, again i'm truly happy for you and your new adventure di NZ!!! Selamat menikmati surprise - surprise dari Tuhan di hari - hari yang akan datang!!! You go girl!!! Hidup Mama Abby! Papa Abby juga deh!! Abby sekalian deh!! HOHOHOHO ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidup keluarga Abby dong ya, biar komplit hehe. Surprisenya semoga bagus-bagus semua ya Gill.

      Delete
  12. gua mau nyontek doa elu ya le....biar Tuhan juga kasih yang terbaik sama kita..hahahaha, tapi rumah dengan pemandangan harbour kayaknya ngga deh kalo di Jakarta mah, hawanya bau ikan asin...wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, doa dicampur dengan usaha dan amal ci, biar kumplit. Di Jakarta tapi Pantai Mutiara aja mihil cuy! Itu kan pemandangan harbour juga, walau rada beda ya sama di sini hahaha.

      Delete
  13. selama ini ak cuma jd silent reader aja tp pas baca ini ak jd "terpukau" buat comment disini...suka bgt sama kata-kata di doanya "Jika rencana saya sesuai dengan kehendak-Mu, ya Bapa, maka terjadilah. Jika tidak, saya percaya Engkau pasti berikan yang terbaik untuk saya" jd buat pacuan hidup ak yang kdg selama ini banyak ngeluhnya...salut buat cici semoga cici dan keluarga selalu diberkati ya ci..semoga rumah impian bisa segera terwujud..AMINN :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, terpukau kayak kena sinar matahari gitu ya, silau hahaha. Memang kita hidup ngga boleh ngoyo dan harus banyak berserah sama Tuhan, tapi ya juga dibarengi sama usaha dan ucapan syukur. Pasti lebih bahagia. Amin buat wishnya.

      Delete
  14. wah le gw baru sempet baca, good to hear kalian dah mulai settle down with everything now. trus sebenernya rumah pemandangan harbor itu kaya apa ya? ada fotonya gak? wkwkwkwk klo dulu gw berangan2 rumah di tepi pantai (tapi batalll krn pasti asin), ato rumah di tengah hutan (batalll juga, krn serem juga wkwkwk). Trus gw nih punya tv tapi gw jarang banget lho nonton tv.. dari sejak jaman kuliah, gw slalu liatnya youtube wkwkwk.. makanya ga tau deh serial2 tv maupun reality2 show.. skarang Tv gw kalo nyala biasanya film kartun bwt anak2 ato berita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kayak gimana ya, nggak langsung didepannya air sih, tapi viewnya itu, bisa lihat ke tepi pelabuhan, ada air, banyak kapal bersandar gitu dari jauh, bisa lihat gedung2 city jg dari jauh. Ngarepnya banyak bener ya. Gue sih ngga berani keseringan nonton youtube, soalnya layarnya kecil hihihi. Kan baru sekarang tuh internet Indo mendingan jadi digedein juga masih bisa jelas gambarnya. Gue demen nonton berita, home improvement, reality show competition yg make sense (bukan kayak The Bachelor gitu ye), pokoknya yang gue bisa gain something lah abis nonton.

      Delete
  15. Ciii BERSYUKUR bngett ya akhirnya bisa beli sofa, TV, dll..
    tapii sayangnya gak ada fotonya :( padahal pengen liat nih.. hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak semua hal harus difoto untuk jadi bukti, apalagi rumah ya, pribadi banget. Sofa dan TV sama aja kok kayak sofa dan TV pada umumnya, yang satu buat duduk, yang satu buat ditonton.

      Delete
  16. amin ya ci..
    baca cerita ini en kemaren pas koko dapet kerja,, ampe ngembeng ngembeng aer mata di pelupuk mataa.. ikutan terharuuu,,,
    yang susahh sudah di lewati tinggal menatata ke depan nya..
    semoga lancar terus yaa cii semua nya d sana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, padahal pas cerita gak ada maksud bikin sedih loh. Tapi entah kenapa udah bbrp org yang bilang bikin sedih. Apalagi mama saya, dia mikir anaknya miskin banget di sini (padahal emang huahahahahah), jadi katanya ikut nangis bacanya. Padahal ceritanya maksudnya bikin semangat kan.

      Delete
  17. Sejak hamil ini juga aku entah kenapa jadi suka berdoa begitu ci, kalau rencanaku udah sesuai rencana Tuhan maka terjadilah, bila tidak, maka terjadilah apa yang baik menurut Tuhan karena aku percaya rencana Tuhan pasti indah adanya :)
    Simpel tapi menguatkan ya ci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harus lebih banyak berserah Live, dan jangan takut, karena Tuhan pasti lindungin kita. Makin kita tegang, gak berserah, makin banyak pikiran yang bikin takut jg. Padahal waktu terus berjalan kan, baik kita khawatir atau ngga.

      Delete
  18. Amin ciii.. thank you for sharing. aku waktu pertama kali apartemen.. sofa dan tv yang paling terakhir dibeli. ahahahahaha.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting ranjang ya, bisa buat rebahan. Kalo sofa kan ngga ada juga masih bisa melantai hihihi.

      Delete
  19. Wah doanya sama nih, saya dan istri juga doa Jika rencana kami adalah rancanganMu maka terjadilah sesuai kehendakMu...Puji Tuhan...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga prosesnya lancar ya Arief, dan jika Tuhan menghendaki, itu bisa terjadi.

      Delete
  20. Hahahaha semangat ci! selalu berprasangka baik kepada Tuhan...itulah kuncinya!
    ditunggu rumah dengan pemandangan harbournya hehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lu kenapa manggil gue Ci, Fun? Nggak sekalian panggil Kakak? Hihihihi. Sip, nanti kalo udah punya rumah sendiri, boleh deh lu mampir pas main kemari.

      Delete
  21. thx's for sharing le... gua juga selalu berdoa hal yang sama... kalo emang bukan kehendak Tuhan, pasti terjadi... contohnya kayak waktu mau nikah dulu... uda gagal dua kali... gua ampe bilang, kalo emang tiga kali gagal, berarti emang bukan kehendak Tuhan... eh, ternyata abis dibukain jalannya hehehehe...

    btw... mau dong liat penampakan rumahnya hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. maksudnya kalo emang kehendak Tuhan, pasti terjadi hehehehe...

      Delete
    2. Haha, lu gagal dua kalinya sama si Seno dua-duanya ya? Kalo gue, sampe dua kali gagal, mungkin sudah berpaling saja ke yang lain hihihhi. Untung lu sabar ye hahaha.

      Delete
  22. Ci Le, apa yang ci Le alamin ini jadi reminder banget kayak jangan keburu2 kalo mau beli sesuatu, jangan cepet nyerah, yang terpenting itu senantiasa bersyukur en mengandalkan Tuhan dalam segala aspek idup qta :)
    thanks for sharingnya ci, Tuhan berkati cici lebih lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jangan napsuan beli apa2. Apalagi di Jakarta, nggak usah beli deh, konsumsi apapun, sampai gaya hidup, kayaknya semua serba berlomba, padahal apa yang kita butuh dengan apa yang kita mau tuh berbeda loh. Amin, makasih ya Wi.

      Delete
  23. Fiuh... Baca postingan ini berasa deg2an banget.. Semua-semua hrs diperhitungkan sebaik2nya dan ditunggu sampai dpt yg bgs. Tapi memang sampai akhirnya semua indah pada waktunya ya ci. Puji Tuhan, akirnya indah walaupun prosesnya panjang dan lama. hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harus sabar, dan penuh perhitungan, tapi nggak boleh pelit juga sampai menderita. Intinya balance aja sih. Memang waktu jalaninnya juga tetep deg2an walaupun sudah diperhitungkan. Tapi Tuhan baik dan akan selalu baik.

      Delete
  24. Waw thanks God, very nice post.. thanks for sharing Le!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, Lid. Semoga bisa ada sesuatu yg dibawa sama yang baca ya.

      Delete
  25. Leony, masih inget gue ga? Uda lama banget ga buka blog, tau2 liat postingan terbaru dari elu. Dan asli kaget berat karena elu uda di NZ aja. Time flies!! Semoga sukses ya disana and keep inspiring! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ingettt.. Gimana kabar blog lu? Sejak ada anak jd ngilang yak hahahahaha... Iya nih udah di NZ. Makasih ya. Keep praying for us.

      Delete
  26. Halo Mba Leony,

    Salam kenal.. Maaf, saya mau tanya beberapa hal. Boleh minta alamat email nya? Terima kasih sebelumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ipoet, mau tanya soal apa ya? Kalau mau tanya2, bisa pakai contact form di full web version (desktop alias non mobile version).

      Delete
  27. Hi Leony,

    Nice sharing and seems like you're settled down in Auckland already. Mau nanya dong kl bole. Saat ini kan saya dapat job offer di auckland tp dengan salary setelah potong pajak sekitar 5k/month. Rencananya mau bawa istri dan 2 anak ke sana dari singapore. Kira2 di auckland dengan gaji segt bs survive dan saving ga ya?

    Saya seh ada itung kasar kemungkinan untuk property rent sekitar 1500-2000, food/grocery sekitar 1500 dan others kurang lebih mgkn 500. jd total sekitar 4000 dan kl emang bener ms bs saving 1000. kira2 itungan seperti itu bener ato salah ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Anon. Kalau bisa kasih tau namanya siapa ya biar enak ngobrolnya.

      Kalau saya bilang sih bisa aja ya survive. Tapi pas pindahan awalnya itu kalau bisa jg ada "modal" dulu untuk beli mobil, furniture, dll. Abis gitu sih kayaknya pasti bisa lah ya survive. Mungkin rentnya hrs ditambah aja per bulannya gak cukup segitu. Tapi masih bs kok nabung segitu, apalagi kalau makan di luarnya bisa diirit. Hehehe. Yang lebih perlu disiapkan jg mentalnya sih. Soalnya ada bbrp temen yg depressed pindahan dr Sg krn beda budaya aja. Tp kalau sdh pny ekspektasi dan tujuan, sy rasa pasti betah di sini.

      Delete
  28. Hi thanks untuk replynya. Panggil saja wielim.

    Untuk modal awal seh uda saya perhitungin jg, dan uda liat survey barang yg new dan barang second hand yg bs dibeli dari trademe. Rencana awalnya kl kesana pasti mau beli mobil second jg biar kemana2 gampang

    Utk rent seh pas di trademe ato realestate nz website, saya ada liat beberp properti seh under $2000/month. Tp kl menurut pengalaman leony, biasanya rumah yg under $2000 itu agak bermasalah ya? misalnya insulation atau leaking?

    Alasan pindah dr SG salah satunya karena menurut saya SG terlalu crowded. kl weekend mau cari makan aja pake antri dimana2. dan juga saya tipikal yg suka nature view dan harusnya bakal lebi cocok dgn NZ drpd SG. Saat ini ms consideration mau accept offernya atau ga. soalnya secara salary seh turun drastis dr gaji SG karena pajaknya gede di NZ.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Wielim,

      Iya bener tuh soal rumah. Kalau bisa per week rentnya agak dinaikin. Itungnya per week ya. Soalnya rumah di sini ampun deh, tua2 banget. Jarang rumah baru n gres. Insulasinya jg parah, beda banget dengan di US. Jadi kalau winter duinginnn.... minimal kalau window double glazed and ada insulation lumayan. Apalagi kl ada heatpump, bonus banget!

      Coba dulu aja survey di sini liat2 dulu suasana, minimal Weilim dulu sama istri. Iya pajak sini memang besar sih. Tapi sebanding sama kualitas hidup kok kalau menurut saya. Tinggal siap mengorbankan salary aja. Tp kalau pindah negara mmg banyak yg "dikorbankan" demi masa depan lbh baik.

      Delete
    2. Wah kl gt yg biasanya dipasang di trademe itu rumahnya uda fotoshop semua ya soalnya keliatan bagus2. Utk rumah mau ga mau pas uda sampe br bs survey rumah kl baca dr blog leony yg dulu2

      Kl bole tau,leony utk keluarganya, spending grocery/week sekitar brp ya? Soalnya harganya cukup beda dgn sg jd susah kl disamain ama sg.

      Dan asumsi satu lg yg saya dpt di internet blog katanya kl move to nz itu hrs bawa bags of cash dl soalnya disini agak susah savingsnya. Itu bener atau misleading ya?

      Thanks before

      Delete
    3. Biasa agent will try their best to make the house look better hehe. Memang sebaiknya inspeksi langsung ke lapangan sih. Daripada kecewa.

      Kalau grocery per week sekitar 150-200 ya. Tergantung jg sih, saya termasuk yang banyak masak di rumah.

      Berdasarkan pengalaman saya memang sebaiknya bawa cash agak banyak di awal. Di sini nggak bisa buka account kalau tanpa ada tenancy agreement. Jadi kita harus punya alamat dulu baru bisa buka bank account. Tapi bukan berarti bawa kebanyakan ya. Toh nanti kalau sudah dapat rumah, bisa transfer ibanking dr rekening asal ke rekening kita di sini.

      Delete
    4. Thanks for sharing. Gw uda baca2 blognya dr kmrn dan dpt byk advise beharga dr pengalaman leony sebelumnya.

      Kira2 selain rent dan grocery, ada significant cost yg perlu diconsider lg ga? Kl nz kan setau gw education dan health almost free termasuk pemegang work visa yg kl jd saya ambil.

      Sori kl banyak nanya ya :) soalnya ga ada kenalan yg bs diambil referencenya

      Delete
    5. Cost yang lain ya utilities ya. Air, listrik. Lalu gasoline juga. Sekolah juga nggak sepenuhnya free, apalagi sekolah non public. Kalau ECE hanya 20 jam yang free, sisanya bayar. Selain itu ada uang seragam dan juga uang donasi. Healthcare juga nggak free kecuali untuk anak di bawah 6 tahun. Kalau sudah di atas 6 tahun untuk ke GP harus bayar. Ratenya beda2 tergantung tempatnya (mine is 46 dollars per visit, cuma katanya ada yang lbh murah). Tapi kalau sampai butuh masuk RS dan RSnya public, itu gratis. Dental juga bayar, gak ada yg free kalau dental.

      Yang jelas, kalau mau irit, kurangin makan di luar, tp nanti sengsara ya kalau nggak ada hiburan hahahaha. Org sini hiburannya kan alam, kuliner, dan home improvement.

      Delete
    6. Thanks uda jelasin ampe detail2nya.

      Skrg lg tahap deep consideration and cari pencerahan dl.

      Btw kl salary wise secara abis kena pajak kan incomenya jd kecil banget dan otomatis utk saving per bulan jd kecil banget apalg yg standar gajinya dibawah 70k. Sedangkan auckland rumahnya mahal gila, gmn cara resident sana bs afford rumah ya? Kl di sg kan ada cpf scheme gt tp ya tinggl di hdb doank. Dr government nz apa ada scheme utk first home buy? Soalnya pertimbangan lainnya ane ga mau rent seumur idup kl move ke nz.

      Delete
    7. Hehe. Resident di sini sudah sangat megap2 untuk beli rumah, terutama tiga tahun terakhir ini. Pemerintah juga dianggap kurang tanggap. 1st time home buyer bisa pakai 10 persen DP dengan program khusus, tapi in general 20 persen. Sementara 2nd home DPnya 40 persen (ini upaya pemerintah untuk mencegah investor main beli2, tp gak terlalu berhasil karena investor especially dr Tiongkok mainnya cash). So, rental market jadi masih booming, dan house market is slowing down tp harga blm turun2 jg, cuma naiknya gak segila sebelumnya.

      Saya sendiri jg masih belum beli kok. Harus sabar2 dan nabung deh. Soalnya misalnya kita bisa DP lumayan pun, pinjaman kita kan gak bisa terlalu besar.

      Delete
    8. Thanks for the insight. Mgkn tar saya bakal nanya2 lg ya. Maaf kl tar ngerepotin lg :)

      Delete
    9. Next time bisa pakai contact form (desktop version), supaya bisa private message ya.

      Delete