Posts

Showing posts from November, 2007

Setahun Yang Lalu

Tanpa terasa sudah mau December lagi. Kayaknya belum lama saya menginjakan kaki kembali ke kota kelahiran tercinta ini, eh tidak taunya sudah hampir setahun. Apa yang terjadi saat ini setahun yang lalu ? Setahun yang lalu, di tanggal 29 November ini, saya masih berada di client terakhir saya di Madison. Sore itu, ditutup dengan mengucapkan selamat tinggal kepada client yang sudah saya temani selama 2 tahun, client di mana saya paling banyak belajar. Untuk makan siang, atasan saya membolehkan saya memilih meal terakhir yang akan saya makan bersama team, dan sengaja saya memilih restaurant Jepang, supaya teman-teman saya jadi berani makan sushi. Makan siang berlangsung sangat menyenangkan, walaupun saya tahu di dalam hati, saya akan kehilangan mereka semua dalam waktu dekat. Besoknya, tanggal 30 November 2006 saya mengambil 1 hari off untuk membereskan segala barang-barang saya yang berkaitan dengan client-client dan pekerjaan saya, dan tanggal 1 Desember 2006, semuanya itu saya serah t

Pacar dan Calon Suami

Mengingat teman-teman saya sudah mulai banyak yang menikah, tentu saja pertanyaan soal menikah pernah juga terlintas di benak saya. Saat saya berumur di bawah 25 tahun, mungkin pertanyaan soal menikah itu bisa saya lewatkan saja dengan meyakinkan diri kalau usia saya masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu. Tetapi begitu usia sudah menginjak 25 tahun dan mailing list mulai dibanjiri oleh undangan pernikahan teman seangkatan baik dari dalam maupun luar negeri, batin ini tergelitik juga. Saya jadi menyadari, kalau saya sebetulnya tidak terlalu muda lagi, malah mungkin kalau di tahun 1970-an usia saya ini sudah sangat matang untuk memulai kehidupan berumah tangga. Yang paling lucu sih, kalau kebetulan saya ada di rumah dan mengangkat telepon, dan jika telepon itu berasal dari Oma, atau Oom dan Tante saya, pasti ditanya: “Gimana nih? Udah ada yang nyantol belum?” atau mirip seperti iklan rokok di televisi saya juga ditanya: “Kapan nih Non undangannya?”. Mungkin orang jaman dulu mengan

Winter Depression vs Rainy Season Depression

Waktu saya masih tinggal di negara dengan empat musim, setiap bulan-bulan segini ini, sudah tidak seimbang lagi pembagian antara siang dan malam. Di musim gugur yang mulai beranjak menjadi musim dingin, waktu gelap itu tentunya lebih panjang daripada waktu terang. Pukul 8 pagi, suasana masih seperti pukul 6 pagi pada waktu normal, dan pukul 4 sore, rasanya sudah seperti senja. Di musim seperti ini, ada suatu syndrome yang menyerang orang-orang yang tinggal di daerah empat musim, yang dinamai Winter Depression. Umumnya orang-orang menjadi lebih murung, dan lebih cepat bosan. Intinya, seperti tidak ada harapan akan kehidupan. Bawaannya pingin marah-marah dan nggak kepingin keluar dari rumah lantaran di luar dingin dan gelap. Uh, ngebayanginnya aja udah ngga enak banget kan. Anehnya, saya ini nggak gimana merasakan apa yang disebut dengan Winter Depression itu selama tinggal di sana. Saya dulu malah nggak percaya kalau syndrome ini betul-betul ada sampai teman saya mengalaminya dan dia m

MC Gadungan

Akhir Januari tahun ini, kira-kira 1 bulan setelah saya berada di Indonesia, teman saya R menghubungi saya dan mengajak ngopi bareng di Coffee Bean Plaza Indonesia. Si R ini teman saya semasa SMP. Selama 3 tahun berturut-turut, walaupun kita nggak pernah sekelas sama sekali, tetapi kita menghabiskan waktu setiap hari saat pulang sekolah di mobil jemputan. Mobil jemputan kita itu Kijang Putih tahun 1982, dikendarai oleh sopir edan tenan yang bernama Pak Kusno, yang nyetirnya gaya campuran antara offroad dan rally F1. Nah, mobil jaman dulu ini, kursi depannya itu nyambung, bisa diduduki oleh 3 orang. Selama hampir 3 tahun bersama itu, posisi duduk kita hampir selalu sama yaitu, sopir di paling kanan, saya di tengah, dan teman saya si R ada di paling luar karena dia turun duluan. Selama itu juga, si R yang memang tidak terlalu banyak ngomong, selalu menjadi pendengar setia saya yang kebetulan memang kelebihan jatah ngomong alias bawel. Setelah 7 tahun kita lulus SMP, di tahun 2004 lalu, t

Bencana di Saat Bahagia

Bencana Pertama Yang ini sebetulnya belum bisa dikategorikan bencana sih. Apalagi dibandingkan dengan bencana kedua yang akan saya ceritakan di bawah ini. Lebih tepatnya, ini adalah ungkapan kekecewaan yang mendalam terhadap service salah satu Japanese restaurant di Jakarta yang namanya F*raibo yang berlokasi di Senayan City (Mungkin semuanya udah pada tau kali ini restaurant apa, tetapi sebaiknya saya kasih tanda bintang aja deh di huruf kedua. Nanti bisa-bisa saya dikejar lagi sama pemiliknya kalau sampai dia search di Google dan masuk ke sini). Siang-siang di hari minggu kemarin, kami bertiga, saya, adik, dan mama, sedang lapar-laparnya, dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke restoran tersebut karena Mama pernah dengar review yang bagus-bagus dari televisi tentang tempat ini. Jadilah kita dengan ekspektasi yang lumayan tinggi, masuk ke tempat itu dan segera melihat menu-menu. Akhirnya daripada pusing-pusing dengan menu a la carte, kami memutuskan untuk membeli 3 paket lunch bento.

Akibat Kurang Pengendalian Diri

Weits, jangan mikir yang aneh-aneh karena judulnya. Saya cuma mau cerita sedikit, soal brutalitas saya dua hari terakhir ini. Hari Rabu dan Kamis kemarin ini, saya ada meeting seharian penuh. Dulu saya pernah bercerita mengenai betapa mengalirnya makanan di saat meeting dan kali ini hal itu terbukti lagi. Sebetulnya, saya bisa memilih untuk tidak memakan yang tersedia di atas meja. Tetapi di Board Room yang dingin itu, rasa lapar dan kantuk selalu saja menyerang, jadi obatnya adalah: makanan… Hari Rabu jam 9 pagi, pas masuk ke ruang meeting, sudah disediakan 3 potong kue, yaitu Perkedel Tahu Kotak, Lapis Surabaya, dan Getuk Coklat. Sebelum jam 10.30 pagi, semua kue itu sudah saya habiskan. Jam makan siang datang. Menunya hari itu dari Riung Tenda. Isinya: Nasi Putih, Ayam Goreng, Lalaban dan Sambal, Cah Pucuk Labu, dan semangkok Sayur Asem. Yang bersisa cuma nasi putihnya doang tuh. Sore-sore kue ronde kedua datang, ada Pastel Makcik, Kue Bolu, dan Kue Pepe. Yang bersisa, hanya Kue Bo