Monday, April 17, 2006

Sakit Itu Nggak Enak


Setelah saya berusaha mempertahankan kesehatan saya, akhirnya minggu lalu pada Senin subuh, saya ambruk. Sejak pukul 10:30 malam hari minggu, saya sudah merasa ada yang tidak beres di kepala saya. Migrain mulai menyerang di sisi kepala sebelah kanan. Saya memang mulai terserang migrain sejak beberapa tahun lalu setiap sebulan atau dua bulan sekali. Umumnya migrain itu akan tinggal hanya selama 2 jam, dan saat saya usaha untuk tidur, biasanya besoknya migrain itu sudah hilang. Karena sudah cukup lama diganggu, tiga tahun lalu saya memeriksakan diri ke dokter di Madison, dan saya diberi sample obat resep oleh dokternya, dan ternyata tidak cocok. Jadilah dokternya bilang, kalau memang menyerang dan bisa hilang dalam dua jam kalau saya bisa tahan, ya sudah, selama itu tidak mengganggu pekerjaan dan lain lain.

Selama tiga tahun itu saya mencoba bertahan tanpa obat setiap kali migrain menyerang. Tapi yang kemarin ini, luar biasa parahnya. Setelah 4 jam menunggu, migrainnya malah semakin menjadi jadi. Dan yang lebih parah lagi, saya sampai (maaf) muntah-muntah. Pertama muntahannya adalah sisa makanan, setelah itu air. Saya sampai dehidrasi luar biasa. Energy turun drastis, dan saat itu sudah lebih dari pukul 2 pagi. Tidurpun saya tidak bisa karena kepala ini seperti ditindih beban. Akhirnya saya mencoba telepon si Ivan, cuma tidak diangkat. Lalu coba telepon Rendy, tidak diangkat juga, dan malah masuk busy tone setelah itu. Akhirnya saya telepon Mama, dan mama mencoba telepon Ivan karena dia tinggal satu gedung dengan saya. Kebetulan Mama berhasil, jadilah pukul 2:15 pagi, Ivan dan Andy membawa saya ke Emergency Room Aurora Sinai Hospital.

Begitu sampai di rumah sakit, tekanan darah diukur, suhu badan diukur, dan 20 menit kemudian saya dimasukkan ke dalam kamar. Dokter langsung memeriksa saya, dan suster langsung diperintahkan untuk memasang infus. Duh, saya sudah 3 tahun tidak pernah menyentuh infus dan jarumnya yang guede itu. Setelah infus masuk, Ivan dan Andy lalu pulang (kok infus jadi kayak nama orang ya?). Pertama saya dikasih obat pusing lewat infus. Dokternya berharap reaksinya langsung kerasa dan pusing saya hilang. Yang kejadian, saya malah jadi anxious, lalu nggak bisa diem. Jadi pengen nendang nendang. Mana tangan saya tuh nggak bisa ditekuk karena ada si jarum infus gede itu. Saya jadi tambah nggak nyaman. Akhirnya si suster nambahin obat tidur di dalam infus saya, dan saya langsung blek.

Pukul 5:30 pagi, saya terbangun, dan migrain saya sudah hilang. Rasanya justru kepingin pipis banget. Dan nggak mungkin saya ke restroom dengan infus di tangan, karena saluran infusnya itu dihubungkan dengan alat listrik yang dipakai untuk mengatur kecepatan cairan infus. Lalu pas ada orang lewat di depan kamar saya, saya panggil panggil aja, supaya bisa manggilin suster saya yang (kalau nggak salah) namanya Nancy. Lalu si suster mencabut infus saya, dan saya dibolehkan langsung pulang.

Nah, saya yang bingung, saya harus menghubungi siapa dong pagi pagi gini untuk nganterin saya pulang. Akhirnya saya hubungi Ivan, cuma dia masih setengah sadar. Kasihan juga dia sudah saya ganggu jam 2 pagi. Kalau Rendy udah nggak bisa dihubungi, karena sepertinya telepon rumahnya salah posisi sehingga masuk busy tone. Kebetulan di depan rumah sakit ada dua polisi. Langsung saya dengan cuek bebek nanya salah satu dari mereka, apakah saya bisa dianterin pulang. Eh, ternyata mereka di rumah sakit lagi investigasi kasus, jadinya nggak bisa ninggalin lokasi. Dengan tekad membara, piyama, jaket, dan sandal jepit, akhirnya saya jalan kaki pukul 5:45 pagi menuju apartemen saya. Untung hanya 8 blok saja total.

Sampai rumah, saya langsung tulis email ke atasan, kalau saya nggak bisa make it to the office that day. Dan setelah itu saya langsung pulas di atas ranjang. Pukul 11 pagi saya bangun, pukul 12 bobo lagi, pukul 4:30 bangun, pukul 9 malam tidur lagi, sampai besoknya. Obat tidurnya kenceng amat ya ? Minggu depan saya sudah janji dengan dokter untuk periksa lagi. Doakan ya, mudah-mudahan nggak ada yang aneh aneh.Intinya: SAKIT ITU NGGAK ENAK !! Jadi, jagalah kesehatan anda di musim pancaroba ini.

Untuk yang merayakan Paskah: HAPPY EASTER ! Semoga damai kasih Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kita semua. Amin !

1 comment:

  1. hix.. migren emank ga enak, nyut2an egois milih satu titik kecil, ga mao satu pala *loh, kaya yg 1 pala enak aja hehe*

    moga2 skrg ga sakit2 migren lage yah, non!!

    ReplyDelete