Friday, March 03, 2006

Sogok , Nyodok, dan Expedite Service


Saat saya masih di Indonesah tercintah tanah tumpah darah yang indah mulia, yang namanya bikin Surat Ijin Mengemudi atau paspor adalah hal yang paling menyebalkan. Selain tentunya fasilitasnya kurang memadai, panas nggak kira kira, manusia berjubel kadang sodok sana sodok sini, yang paling membuat jengkel adalah manusia manusia di belakang loket yang kerjanya lele dumbo alias leletnya minta ampun.

Pertama dan terakhir saya bikin SIM di Indonesia which is when I was 17 yrs old (oh my God it's almost 7 yrs ago !!), saya dan teman teman dibantu oleh Ulisa, sekolah menyetir pada jaman itu. Bayarnya kalau nggak salah dua kali lipat dari biaya resmi, dan janjinya, bakalan lebih cepat selesai. Oh iya, begitu sampai di Komdak dan turun dari mobil, ada kali 5 orang calo nawarin saya untuk mengurus SIM: "Ayo Dek, sama saya aja, cepet Dek...bla bla bla bla.." Tapi karena saya sudah bayar ke Ulisa, saya melaju terus menghindari para calo yang mulutnya sampai berbusa membujuk saya. Walaupun ada karyawan Ulisa yang membantu kami, tetep aja deh, ngantri dari pagi, ngikutin prosedur tes tertulis, tes nyetir dan lain lainnya setelah ditotal, nunggunya lebih dari 6 jam. AMPUNNN... Padahal ini tuh udah yang pake sogokan loh..soalnya saya sih nggak percaya kalau itu kerjaan kami diperiksa. Yakin banget deh nggak diperiksa. Toh sebelah saya dalam 10 menit selesai tes tertulis, lalu tes nyetir mogok mogok 3 kali tetep lulus dan pulang dengan SIMnya. Lalu apa yang terjadi dong kalau kita nggak nyogok ?

Inilah yang terjadi ! Saat saya kelas dua SMA, guru Kimia saya, Pak Agus, cerita kalau nekad datang ke Komdak untuk mendapatkan SIM motor tanpa bantuan calo dan metode nyogok lainnya. Dia menjalani semua tahap, dari awal sampai akhir, mengerjakan soal-soal dengan seksama, dan bersusah payah dari pagi sampai sore. Begitu sore hari, hasil test tertulis resminya keluar, dan dia kurang 1 point untuk lulus. SIMpun melayang, dan dia pulang dengan perasaan dongkol. Diapun bersungut sungut di kelas, karena saat itu kali pertama dia lewat jalur resmi dan gagal. Padahal biasanya dia asal asalan dalam mengerjakan test dan bisa lulus. Rupanya di Indonesia budayanya memang nyogok !!

Waktu saya membuat paspor terakhir di Indonesia tahun 1998 juga sama saja. Saya lihat barisan manusia yang menungu dari pagi hingga siang hari. Waktu itu saya bersama mama dan oom datang ke Imigrasi. Karena hari biasa, Papa lagi di kantor dan nggak bisa temenin kami. Jadilah Oom saya sebagai tameng hihihi. Begitu sampai, Oom saya langsung ke belakang, ngobrol ngobrol sama salah satu ibu petugas imigrasi, selipkan sedikit, 1 jam kemudian, saya sudah ada di barisan paling depan untuk di foto dan 1 jam lagi selesai sudah segala processnya. Kalau lewat jalur resmi, saya harus nunggu giliran berjam jam untuk difoto, kadang bisa besoknya baru bisa selesai. Yang saya bingung, sebetulnya apakah mereka kekurangan pekerja sehingga administrasi menjadi terlambat, ataukah mereka sengaja ber lele lele dumbo ria supaya kita kesal dan lebih memilih untuk menyogok ?

Sekarang setelah saya tinggal di Amerika lebih dari lima tahun, saya juga merasa kalau di Amerika juga sama. Kita juga punya yang namanya nyogok, tapi bedanya sogokannya resmi, tertulis dengan lengkap dengan istilah: EXPEDITE SERVICE alias pelayanan cepat. Teman saya yang orang Amerika kadang kesal dengan hal ini karena menurut dia semua penduduk harus mendapatkan pelayanan yang sama. Lalu saya ceritakan kepada dia soal sogok menyogok di Indonesia, dan dia langsung bengong seribu bahasa...

Paling nggak di Amerika sini, walaupun mirip dengan nyogok, tapi nggak ada tuh yang lari ke kantong karyawan. Semuanya ke kantong pemerintah. Dan memang betul, kalau janjinya expedite service ya betul betul cepat. Pembuatan paspor Amerika, kalau lewat jalur umur $67, tapi jika mau dipercepat, bisa tambah $60. Menunggu hasil ujian misalnya, kalau mau dipercepat pengiriman hasilnya juga bisa, tinggal kirim cek atau di charge ke kartu kredit. Kalau mau ambil SIM di sini, ya betul betul test tertulis dan test menyetir. Jangan bingung kalau banyak orang Indonesia yang gagal saat test menyetir walaupun pas di Jakarta punya SIM sudah lama dan nyetirnya kayak preman. Terang aja, SIM Indonesianya modal sogokan sih hahahah... umur aja bisa nyatut (manusia ngalahin Tuhan ckckckck!)...

Oh Indonesiakuuu..biarpun begitu, aku tetap cinta padamuuuu !

No comments:

Post a Comment