Thursday, September 01, 2005

Tabungan Berharga

Minggu lalu saat acara pemberkatan rumah dan syukuran Marco dan Ira, aku ketemu dengan Romo Yohanes dari Flores. Pada saat dia memperkenalkan diri, dia menyebutkan kalau dia dulu berasal dari Paroki Bidaracina. Itulah Paroki tempat aku menghabiskan 18 tahun pertama hidupku. Dan ingatanku langsung melayang ke sosok Papaku yang begitu aktif menjalankan hari2nya di gereja sebelum akhirnya Tuhan menjemput. Tak disangka, ternyata Romo Yohanes juga kenal dengan sosok ayahku. "Wow, Pak Yusuf Halim... tentu saja aku kenal. Dia aktif sekali di gereja..", begitu kalimat pertama yang dia ucapkan saat kusebut nama Papaku.

Tak terasa sudah lebih dari empat tahun lalu Papa meninggalkan orang orang yang dicintai dan mencintainya. Namun masih banyak yang mengingat betapa besar kasih yang dia berikan untuk orang orang disekitarnya. Kadang saat aku kecil, aku merasa Papa memberikan waktunya sangat banyak untuk gereja. Aku ingat Mama dulu sempat cemburu dengan pembagian waktu yang Papa tentukan antara gereja, lingkungan, dan keluarga yang menurut Mama kurang adil. Setiap kali Mama dan anak anak mengeluh kenapa hampir setiap malam Papa selalu sibuk dengan kegiatan rohani, Papa menjawab dengan tenang, "Aku sedang menabung untuk di surga."

Siapa sangka Papa dipanggil begitu cepat di usia ke empat puluh delapan. Saat itu aku tersentak, karena ternyata saat itu dia betul betul sedang menabung. Mungkin dia merasa kalau dia tidak menabung dari awal, tabungannya tak akan cukup. Setiap hari sebelum pemakamannya, rumah duka begitu penuh oleh orang orang yang bahkan sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu dengan Papa. Rupanya di masa lampau, mereka semua sempat merasakan sentuhan kasih Tuhan melalui Papaku, dan mereka tidak pernah melupakannya walaupun waktu telah berlalu. Keluarga kami bukanlah keluarga kaya raya yang punya rumah gedung mewah dengan mobil mobil berkelas. Kami tidak bisa memberikan materi berlebihan kepada orang orang. Tapi cinta kasih dan perhatian yang diberikan oleh Papa tak lekang dimakan waktu. Satu menit yang lalu ataupun empat puluh tahun yang lalu, masih tetap terkenang di dalam hati orang yang merasakannya.

Kadang aku masih sedih, masih kangen, masih butuh kasih sayang dari Papa. Dulu aku mengharapkan kalau kedua orang tuaku bisa hadir di wisudaku tahun lalu dan turut bangga menyaksikan anaknya memakai toga dan menerima diploma. Kenyataan mengatakan, kalau hanya Mamaku saja yang bisa menghadirinya. Tapi aku yakin Papa pasti turut tersenyum dari atas sana. Usia tak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan hanyalah menabung dan terus menabung...

No comments:

Post a Comment