Liburan Keluarga Desember 2019 - Ruapehu dan Rotorua

Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, saya akan lanjutkan kisah liburan dari  tahun lalu untuk pengingat indahnya bisa kumpul-kumpul bersama keluarga dari Indonesia. Setelah 18-20 Desember 2019 ke Bay of Islands, tanggal 23-24 Desember 2019 kami lanjut ke ke gunung salju alias Ruapehu, lalu ke Rotorua. Kenapa kok pakai break dulu tanggal 21 dan 22 Desembernya? Itu karena saya harus melatih koor Natal, dan latihannya di rumah saya tanggal 21 Desember hihihi. Biarpun lagi happy-happy, pelayanan untuk Gereja kalau bisa nggak keskip. 

Cerita dikit ya. Tanggal 22 Desember malam-malam, saya setrika baju segunung. Maksud hati tuh nyicil biar pulang liburan cucian nggak tambah numpuk. Tau-tau kaki saya super sakit, nggak bisa digerakkan. Akhirnya saya tidur saja deh, berharap paginya bisa enak. Ternyata pagi-pagi kaki tetap sakit tak tertahankan. Matilah ini pikir saya, kok mau trip, malah nggak bisa jalan kayak diseret-seret. Untungnya, ada obat sakti dari Indonesia yang kebetulan dibawa mertua yaitu Doloneurobion. Karena situasi darurat, langsung deh hajar aja, sambil banyak doa. Pagi itu, dengan tekad bulat, kami tetap berangkat, dan puji Tuhan dengan bantuan si Dolo, akhirnya sakit kakinya berangsur-angsur hilang walaupun masih nyut-nyutan. Jadilah sepanjang perjalanan ini, bergantung sama si Dolo. Untunglah beberapa hari kemudian sakitnya hilang, kalau nggak, matilah diriku karena sepulang liburan mau merayakan Natal plus harus masak-masak dan dekor-dekor untuk ultah Abby ke-7. Tragedi yang lain adalah, si Abby mulai demam sejak tanggal 22 malam juga! Komplit banget, anaknya demam, mamanya sakit kaki. Tapi nggak mungkin acara dibatalkan karena semua sudah dibooking jauh-jauh hari. Lengkap sudah, anak nonstop minum Paracetamol, emak nonstop minum Dolo, yang penting keluarga dari Indonesia nggak kecewa. Yuk, berangkat deh!

Senin, 23 Desember 2019

Pagi itu kami berangkat sekitar pukul 7 pagi. Perjalanan ke Ruapehu akan memakan waktu sekitar 5 jam, dan bookingan saya untuk makan siang adalah pukul 1 siang. Karena itu kami harus stop dulu untuk sarapan, dan kami memilih untuk stop di Otorohanga, sebuah kota transit kecil sekitar 2 jam dari Auckland. Begitu sampai, kami langsung menuju Ronnie's Cafe untuk quick breakfast. Ronnie's ini punya cabang di beberapa kota termasuk juga di Auckland, dan menunya simpel sekali, cocok untuk quick bites. Ada banyak sandwiches, pies, juga gorengan. 


Terasa seperti di Golden Truly jaman dahulu kala (buat yang di Jakarta dan seumuran saya pasti tau deh). Anak kecil liat odong-odong isi koin gini, otomatis langsung naik dan happy!

Tempatnya besar dan sangat sederhana. Kita datang masih pagi, sekitar 20 menit kemudian, langsung ramai dengan orang lokal yang juga mau sarapan. Abby kalau sudah ketemu pie, nggak mau dia nengok buat di foto, langsung fokus makan.

Sederhana, menunya ada di display, tinggal pilih-pilih sendiri, standar bakery (lunch bar) di Selandia Baru. Yang jelas makan di tempat begini, murah meriah (menurut standar sini). 

Jalan-jalan dikit di tengah kotanya (yang cuma sebaris jalan utamanya), walaupun kota kecil, tapi gedung perpustakaannya tetap bagus.

Otorohanga terkenal sebagai kota yang mengedepankan burung Kiwi sebagai simbol kotanya. Di kota ini juga ada Kiwi House and Native Bird Park sebagai atraksi utama (dan mungkin satu-satunya). Tapi berhubung cuma mampir, kami nggak masuk ke parknya. Foto-foto aja deh sama patung burungnya. 

Oo dan ponakan.

Foto bareng di depan perpustakaan.

Totem Maori. Keluarga kebanyakan ceweknya ya.Satu rombongan, cewek 5, cowok 2 saja hahaha. 

Lebih kurang 2.5 jam kemudian, sampailah kami di Ruapehu. Ini kali kedua saya mengunjungi gunung tertinggi di Pulau Utara ini, tapi kali pertama saya mengunjunginya di musim panas. Untuk trip sebelumnya di musim dingin saat Tilly masih berusia 2 bulan, boleh intip postingan ini. Trip yang dulu isinya penuh salju, lalu trip yang sekarang gimana ya? 


Tujuan utama kami sebenarnya adalah untuk mencoba kereta gantung yang baru yaitu Sky Waka, dan makan siang di restaurant tertinggi di seluruh Selandia Baru. 

Waktu kami pergi di summer 2019, program yang ada saat itu adalah adalah naik gondola Sky Waka plus makan buffet sederhana di Pinnacles Restaurant. Biaya per dewasa adalah $75, anak-anak 5-15 tahun $59, dan infant 0-4 tahun alias Tilly $10. Tapi saya lihat untuk summer 2020 ini, programnya sudah beda lagi dan Pinnacles restaurannya tidak dibuka untuk musim panas. Tapi bisa kok beli tiket gondolanya saja dan di atas tinggal makan di Knoll Ridge Cafe (a la carte). Menurut saya malah jauh lebih ekonomis karena pas kami makan dulu, buffet menunya sedikit sekali hehehe. Yang dijual soalnya bukan makanan, tapi pemandangan. Silakan lihat di sini untuk info resminya. 

Ada yang bahagia banget nih mau naik kereta gantung.

Hore, kereta gantungnya tiba!

Mirip nggak? Hihihi. Eh iya, walaupun musim panas, saat itu diberitahu kalau suhu di atas masih sekitar 6 derajat Celcius. Makanya kami sudah siap-siap pakai baju agak tebal, soalnya mertua paling nggak tahan dingin.

Anak yang kecil masih bingung sambil harap-harap cemas. Mau kemana aku?

Duduknya pada pindah-pindah melulu, soalnya biar dapat pemandangan gunung salju di puncak. Padahal kalau musim dingin, dari bawah saja isinya salju semua!

Gunung salju di musim panas, kering kerontang.

Mulai terlihat salju yang mencair, sehingga membentuk air terjun. 

Seperti lagu "Damai Tapi Gersang".

Akhirnya, tiba juga di puncaknya. Masih terlihat sisa-sisa salju. Apakah di atas sedingin yang dibayangkan? Ternyata nggak juga! Enak cuacanya adem semeriwing dengan matahari yang terik. Jadi sunblock tetap harus on!

Inilah tempat kami makan siang, The Pinnacles restaurant. Tenang, damai, pokoknya betah deh berlama-lama di situ.

Karena sudah reserve duluan, jadi dapat meja di corner, dengan pemandangan luar yang cantik banget. Gunung dengan salju yang mulai meleleh.

Makanannya sangat khas Selandia Baru sekali! Lamb, chicken, vegetables, salad, pasta, bread, dan beberapa kue-kue untuk dessert.

Pemandangan cantik di balik jendela. Orang di Selandia Baru ini memang unik. Di tengah gunung salju, satu keluarga bisa ada yang cuma pakai celana pendek, dan ada yang pakaian lengkap hehehe.

Pohon Natal cemara asli. Si Abby di sini mulai gelisah demamnya kambuh. Tapi tetep foto-foto dulu.

Boleh dong ya wefie dulu berduaan. Jarang-jarang loh!

Kebayang ngopi di sini duduk-duduk, menikmati indahnya alam.

Gayanya memang wahid deh.

Tolak pinggang dulu buat difoto, habis ini uring-uringan.

Pada tau ini duduk di atas apa? Ini adalah gondola gantung terbuka yang biasa dipakai buat main ski.

Opa, cucu paling kecil, dan Oma.

Uring-uringan lemes. Paracetamolnya belum kick in. Makanya akhirnya dia nggak ikutan main salju. Saya juga kaki masih agak nyut-nyut. Kita nunggu aja deh di sini.

Kalau yang ini mah happy semua nih. 

Nah, mulai deh pada main salju. Berhubung musim panas, sisanya salju dekil-dekil gitu, yang penting happy!

Apalagi yang ini nih, seneng banget dia main salju.

Oo dan ponakan, girang banget!

Tim yang ikutan main salju.

Bobo siang enak juga nih hihihihi.

Opa yang udah lama nggak main salju.

 Kelihatan kan ya di belakang ada manusia kecil-kecil kayak semut. Rupanya banyak juga loh yang trekking!

Dilemparin es sama babenya. 

Kayak kembar kan? Sama sipitnya, sama buletnya. 

Setelah puas main salju, kita turun lagi, dan lanjut perjalanan menuju Rotorua. Tapi nggak lengkap kalau turun dari Ruapehu, nggak foto dulu di depan hotel bersejarah, Chateau Tongariro. 2 tahun sebelumnya, saya sekeluarga beneran nginap di situ, kali ini numpang foto saja, karena indah banget pemandangannya. 

Pasangan romantis nih.

Si mami serasa lagi di film The Sound of Music.

Cantik sekali dengan salju yang masih terlihat di ujung gunungnya. 

OTW Rotorua, sleeping like a boss.

Tiba di Rotorua, kami langsung check in hotel langganan yaitu Holiday Inn. Saya book 2 kamar yang isinya 2 Queen Size Beds supaya semua bisa tidur enak dan nyaman. Beruntung banget, beneran sisa 2 kamar tipe tersebut yang tersedia di hari kami nginap. Susah banget loh nyari hotel di Rotorua di saat liburan Natal, apalagi Holiday Inn ini termasuk hotel favorit.

Nyampe kamar, langsung ngegeratak freebies dari hotel untuk anak-anak. Anak-anak juga main "Wheel of Fortune". Karena booknya 2 kamar, dapatnya 2 hadiah yaitu frisbee dan beach ball. Sebelumnya juga pernah dapat botol minum. Ini mah namanya koleksi souvenir hotel hahahaha. 

Malam itu, kami dinner di restaurant Vietnam baru Saigon '60s. Nyoba di sini karena reviewnya bagus sekali, dan kami kangen juga rupanya dengan makanan Asia setelah dari pagi isinya makanan Barat terus. Akhirnya balik lagi makan nasi dan mie deh. Sayangnya lupa foto semua makanannya. Beneran enak, tapi restonya kecil jadi mesti sabar nunggu kursi. Kami beruntung nggak usah nunggu lama. Yang menarik, di resto ini kami ketemu dengan orang Rotorua yang ternyata pernah tinggal di Makassar, dan malah ngajak ngobrol dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dia rapi dan bagus banget, jadi malah kami yang takut salah ngomong pakai bahasa preman hahaha.

Beef Pho dan Vietnamese Spring Roll punya saya.

Rice and BBQ Pork, yang kiri punya papanya, yang kanan punya Abby alias kids meal. Mantap banget!

Sehabis makan, lanjut jalan-jalan dikit di tengah kota. Seperti biasa, si mami pasti mampir toko souvenir, beliin kaos-kaos dan printilan buat keluarga dan mbak-mbak dan sopir di Jakarta. Mami itu paling berbinar matanya kalau lihat toko souvenir. Hihihi. Eh iya, kami juga mampir toko Asia iseng-iseng, eh mami malah beli macem-macem cup noodles! Jauh-jauh ke Rotorua, belinya mie instant. Nah selesai deh perjalanan hari pertama. Selamat malam, Rotorua!

Selasa, 24 Desember 2019

Selamat pagi, Rotorua! Hari ini adalah malam Natal, yang juga merupakan hari ulang tahun Abby. Pagi itu cuaca cerah sekali, dan kami siap bertualang lagi sebelum sorenya kembali ke Auckland. Kemana lagi hari ini? 

Pemandangan dari kamar, di belakang hotel adalah Whakarewarewa Geothermal Park, jadi asap itu adalah asap dari belerang

Aku masih ngantuk nih papaaaa.... Kasian cicinya dipepet sampai mau jatuh ranjang, padahal ranjangnya guede. Si kecil ini emang hobinya pepetin orang. 

Sebelum check out, berenang dulu. Cicinya nggak ikutan berenang soalnya takut badannya nggak fit karena kemarin masih demam. Mana hari ini ultah kan, jangan sampai sakit deh. 

Tumben nih berenangnya nggak mau lama hari ini, kedinginan katanya.

Birthday girl, foto dulu sama oma. 

Bocah, ngelihat pohon Natal, bawaannya gratakin ornamen. 

Merry Christmas, everyone! Happy banget nih dua bocah. 

Untuk brunch hari itu, kami mampir ke tempat makan no. 1 di Rotorua yang dari dulu selalu bikin kami penasaran untuk nyoba, tapi nggak kesampaian karena tutup tiap hari Minggu dan Senin. Dan karena hari ini Selasa, buka deh!

Berbagai roti menggiurkan sekali!

Mau makan roti aja kok seneng banget yah! Eh iya, ternyata ownernya Ciabatta ini juga dulu pernah tinggal di Indonesia! Kaget lagi ketemu orang berbahasa Indonesia di sini, padahal mukanya bule tulen. 2 days in a row!

Ini dia menu mantap andalan, the Original Long Dog. Hot Dog super panjang, dengan Ciabatta Bread yang uenakkkk sekali. 

Iya, sepanjang ini!

Cemilan lainnya. Cronuts, Pain Au Chocolate, Raisin Scroll, Almond Croissant. Semuanya super fresh dan uenak banget!

Awalnya cuma mau foto-foto biasa aja di sini. Tau tau... ada orang lewat yang nawarin fotoin. 

Jadilah kami punya foto di atas sisir raksasa di depan Ciabatta Cafe hihi. Semua mukanya seneng banget habis makan roti enak. 

Dan inilah tujuan utama kami hari ini, ke Wai-o-Tapu Thermal Wonderland! Dari pusat kota Rotorua, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Weits... jangan bayangin taman bermain kayak Disneyland ya. Tujuan kemari adalah untuk melihat keindahan dalam bentuk kolam-kolam belerang beraneka warna yang sangat indah dan semua masih alami. Kalau kita datang pagi hari banget, sekitar pukul 10, kita bisa melihat Lady Knox Geyser menyemburkan air panas alami setinggi 10-20 meter. Tapi jam segitu, kami memilih mengejar roti enak, bukan mengejar Geyser hihihi. Tiket masuk ke Wai-O-Tapu untuk dewasa $32.5, untuk anak-anak $11, sebesar Tilly masih gratis. 

Hari itu Wai-O-Tapu bisa dibilang ramai sampai cari parkir agak jauh. Tapi tempat parkir luas, rapi, dan semua teratur sekali.

Cuaca hari itu memang panas sekali. Si kecil juga sudah gelisah plus ngantuk karena habis renang tadi pagi.

Setelah kasih lihat tiket, petugas akan mencap tangan kita, jadi seharian kita bisa bolak balik selama parknya masih buka. Pamer dulu capnya ya.

Baru masuk, pemandangannya indah sekali.

Tuh kan, anak kecil di stroller langsung blek! Enak ya didorong-dorong. 

Pemandangan indah, tapi bau belerangnya emang seru banget. Dan si Abby sebagai drama queen, langsung komplen dan pasang muka jelek di semua foto.

Oh indahnya, semua trail dibangun dengan rapi di tengah perbukitan. Si Abby masih ngoceh terus..."Bau banget!" Kalau saya sih ngerasanya cuma kayak bau kentut tipis-tipis aja. Kentutnya Abby malah lebih bau hahahaha.

Ini contoh kawah belerang alami. Semuanya masih aktif, dan di dalam itu blubub..blubub...blubub.. Kalau sampai ada ayam masuk situ, keluar langsung jadi Pak Cam Ke (ayam rebus). 

Hore akhirnya si Abby udah ngga ngeluh lagi alias udah biasa sama bau kentut tipis-tipis ini. 

Pemandangan cantik banget, tapi yang kecil pulesnya enak banget. Untung dia masuknya gratis hahahaha.

Dora lagi ngeliat peta. Mau lewat jalur mana lagi kali ini? Kalau kita ingin berkeliling ke seluruh bagian Wai-O-Tapu, sebaiknya pakailah sepatu yang nyaman, dan fisik juga harus disiapkan. Ada 3 level rutenya. Yang paling simpel dan santai adalah rute pertama. Jadi rute ini saja yang kita semua lewati ramai-ramai karena cuma rute ini yang kita bisa full pakai stroller.


Sambil menikmati pemnandangan, sambil memantau aktivitas kolam belerang. 

Hayo kita di mana? Tuh berderet berempat di balik pagar. 

Jalurnya juga melewati pepohonan yang tumbuh alami dengan cabangnya yang membentuk kanopi. Keren banget serasa di dalam dongeng. Sleeping beauty yah? Itu ada anak molor di stroller.

Kolam geothermal yang besar sekali, dan karena aktivitas belerang, warnanya bisa terus berubah-ubah. Cantik sekali.

Sekali-sekali foto berdua.

Hore, ada foto pasukan lengkap!

Romantis banget di bawah pohon.

Jalur yang membelah kolam lumpur. Hati-hati nyemplung. 

Drama queen lagi kebauan lagi. Mungkin dalam hati dia berpikir, anak lain ulang tahun kan pesta, kok ini ke kolam belerang.  

Foto keluarga lagi, seru belakangnya asapnya tebal kayak di panggung Aneka Ria Safari jaman dulu. 

Setelah ini, saya, suami dan ipar misah dari mami dan papi plus anak-anak. Saya bertiga lanjut ke walking trail kedua karena pingin tau ada apa, sementara mami papi dan anak-anak balik ke arah pintu masuk (yang ada toko souvenir dan cafe). Jalan santai aja, lalu nanti kita ketemuan lagi. 

Masuk ke walking trail kedua, kita bisa foto kolam dari arah atas. Wuihhhh mantap asapnya! Berpadu dengan pemandangan bukit hijau, sungguh indah ciptaan Tuhan. 

Trail yang di sini lebih hijau dengan pohon tinggi-tinggi. Padahal kaki saya masih sakit loh, tapi ngga rela kalau nggak jalan melihat indahnya pemandangan ini. 

Cakep banget kan!

Makin ke atas, bisa lihat kolam geothermalnya dari sisi berbeda. 

Dipadukan dengan birunya langit, cantik banget!

Sesekali lah ya yang punya blog foto sendiri hahahaha.

Tetap jalan walau paha cenat cenut. Pingin juga lanjut ke walking trail 3, tapi ternyata butuh sekitar 30 menit lagi, dan dibutuhkan fisik yang lebih extra. Kita ngga lanjut deh, nanti kaki pengkor, plus mertua bete ditinggalin kelamaan hahaha.

Keluar dari walking trail 2, pemandangan indah lagi seperti ini. 

Kawah alami dengan jalur yang dibangun mengikuti bentuk bebatuan.

Foto bertiga di Tangkuban Prahu.... eh salah ya? Hihihi. Kolamnya bagus warna hijau muda. 

Sementara itu di toko souvenir, yang kecil akhirnya sudah bangun dan seger, lalu pada mainan gantungan kunci.

Panas-panas gini, emang enaknya minum Fanta dingin. Biarin deh sekali-sekali ye. Biar semriwing!

Selesai dari Wai-O-Tapu, kami mampir sebentar di Patrick's Pie, toko pie legendaris pemenang banyak medali emas lomba pie yang pusatnya di Bethlehem, Tauranga. Ternyata cabangnya yang di Rotorua tuh kecil, dan karena sudah kesiangan, kami cuma kebagian sisa-sisanya aja. Selain itu, sama sekali nggak ada tempat makan seperti di Tauranga. Jadilah kami makan pie-nya di mobil dalam perjalanan kembali ke Auckland. 

Patrick's Pie yang raknya sudah hampir kosong melompong. 

3 jam kemudian, sampailah kita ke Auckland, dan sebelum pulang ke rumah, mampir dulu untuk makan malam. Biar bagaimanapun, ini kan hari ultahnya Abby, jadi harus dong dirayakan dengan makan mie! Kami ke restaurant dekat rumah, Shanghai Street yang terkenal dengan menu dumplingnya.

Foto sekeluarga, kurang babenya. Mestinya wefie aja ya hehehe. 

Pork and Chive Steamed Dumplings

Foto makanan yang lain di bawah ini, yang fotoin ipar. Berhubung dia mah generasi instastory, fotonya jadi vertikal semua deh hahaha.
Braised Beef Brisket in Brown Sauce

Seafood Fried Noodles

Salt and Pepper Crispy Tofu

Shanghai Style Sweet and Sour Pork, makanan favorit si Abby dan hampir selalu harus dipesan tiap ke Chinese Restaurant. 

Kalau mau lihat lanjutannya alias perayaan ultah Abby yang ke 7, boleh intip di sini

Oke, demikianlah kisah jalan-jalan kami yang singkat dan padat ke Ruapehu dan Rotorua di akhir tahun lalu. Semoga semua terhibur dan minimal bisa ngebayangin kalau jalan-jalan ke sini mau ke mana aja. Postingan macam gini juga bikin tambah kangen keluarga. Semoga nggak butuh lama-lama lagi sampai bisa kembali bersua. Habis ini, posting perjalanan kemana lagi nih? Biarpun Covid, masih ada perjalanan kami yang belum tertulis di sini, dan sesungguhnya, itu adalah perjalanan terseru kami di 2020. Penasaran nggak? Ditunggu aja ya!




Comments

  1. melihat foto foto di atas nampaknya di sana instagramable sekali ya bu, mulai dari pemandangan, spot, makanan dan lain-lain bisa jadi bahan fotograpi yang bagus. keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua di sini indah, Pak. Foto2 tersebut semua asli tanpa editan. Kalau dibilang instagramable, benar sekali. Tapi saya malah nggak punya instagram hehehe. Dinikmati di blog saja.

      Delete
  2. Hallo Leony, salam kenal ya! Baru tahun ini “nemu” blog ini, dan seneng banget krn rasanya ikutan jalan2 ke berbagai kota dan negara walaupun aslinya cuma ngendon di rumah sambil ngayal bisa jalan2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Ully, salam kenal juga! Masukin ke bucket list dulu ya jalan2 ke NZnya. One day pasti bisa jalan2 ke sini juga.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas