Jodoh Pasti Bertemu (?)

Pernah nggak di dalam hidup kalian, kalian berdoa minta jodoh dari Tuhan? Perasaan saya mengatakan, pasti rata-rata orang di dunia ini yang berusia dewasa, pernah menyampaikan permohonan itu. Tulisan hari ini saya buat, untuk memperingati 9 tahun pernikahan saya dengan suami. Pernikahan yang masih seumur jagung, jauh lebih pendek daripada perjalanan saya mencari sampai menemukan dia yang akhirnya menjadi suami saya. Seluruh kisah yang saya ceritakan di sini, kalau ada sesuatu yang bisa diambil dari cerita ini, semua itu berdasarkan pandangan saya, berdasarkan pengalaman saya. Jadi nggak apa-apa kalau ada yang tidak setuju, ataupun tidak berkenan. Tapi saya merasa butuh menulis ini, sebagai kenangan untuk diri saya, untuk anak-anak saya, kalau yang namanya hidup, mati, dan juga jodoh, memang adanya di tangan Tuhan.

Saya tumbuh di keluarga yang modern, tapi pemikirannya masih lumayan tradisional. Komentar-komentar standar berkaitan menikah dan punya pasangan sebagai suatu keharusan, sudah jadi makanan sehari-hari dalam hidup saya. Misalnya, "Kamu jangan gemuk-gemuk, nanti nggak ada cowok yang mau" atau "Kamu jangan suka terlalu pinter di depan cowok, nanti cowok takut". Kalimat-kalimat yang kelihatannya simpel, dianggap benar oleh masyarakat, tapi semuanya tidak terlalu saya pedulikan. Ketika di SMP dan SMU teman-teman lain hobinya tebar pesona ke cowok-cowok, saya cuek bebek. Buat saya, pacaran di masa ABG begitu, cuma buat isi-isi waktu saja, sementara waktu saya saja sudah penuh berkutat dengan pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan gereja. Tapi bukan berarti nggak ada cowok yang peduli. Buktinya saya pernah dijudesin temen beberapa minggu, cuma gara-gara dia cemburu karena cowok yang dia taksir ngasih kartu Natal ke saya. Padahal, teman saya lebih feminin dan langsing, sementara saya kayak tembok beton, jalan seperti gorila, rambutnya cepak pula kayak TNI. 

Pernah nggak saya takut tidak menikah? Jawabannya, pernah, tapi tidak selalu. Saya percaya setiap orang punya jodoh, tapi jodohnya itu belum tentu bentuknya dalam wujud manusia lain. Ketika saya kecil, saya suka berangan-angan jadi princess yang dijemput pangeran. Ketika makin besar, saya mulai membayangkan indahnya hidup berkeluarga, tapi di sisi lain sebagai seorang Katolik, saya juga membayangkan indahnya mengabdikan diri untuk Tuhan. Dari kecil saya sudah aktif berorganisasi, dan merasa saya punya ketertarikan di pelayanan. Cuma saya tidak tau, apakah jalan saya itu untuk melayani sebagai awam yang berkeluarga, tidak berkeluarga, atau mungkin sebagai biarawati. Di dalam angan-angan saya, seandainya saya dapat panggilan jadi biarawati, saya mau mengabdikan diri dalam bidang pendidikan, sama seperti Sr. Francesco Marianti, OSU, mantan kepala sekolah saya di Santa Ursula, seseorang yang saya idolakan. Jadi dalam perjalanan hidup ini, permintaan saya soal jodoh itu, bisa saja dijawab Tuhan dengan cara yang berbeda, bisa saja bukan dengan mencarikan saya seseorang sebagai pasangan hidup, tapi membukakan jalan bagi saya untuk memperoleh panggilan.

Suami saya adalah pacar resmi saya yang ke lima. Kenapa saya bilang pacar resmi? Karena diantara nol sampai lima itu, banyak juga laki-laki yang masuk dalam kehidupan saya, tapi belum sampai tahap pacaran serius. Istilahnya, "not worth trying for" untuk dijadikan pacar, karena sudah jelas nggak bakalan cocok. Tapi kalau lumayan banyak cocoknya, boleh lah dijalankan lebih serius. Gimana taunya cocok atau nggak untuk jadi pacar? Ya coba ngedate dulu lah. Saya nggak masalah pergi berdua dengan teman cowok untuk sekedar kencan, nonton, makan, ngobrol-ngobrol. Pergi berduaan, tapi bukan pacaran. Nah hal seperti ini dulu itu seperti agak tabu buat orang Indonesia yang tradisional. Pergi berduaan doang ya artinya sudah dianggap pacaran. Padahal, gimana kita bisa tau cocok atau nggak kalau nggak pernah ada kesempatan ngobrol berdua mengutarakan pikiran masing-masing kan? Jaman dulu nggak kayak sekarang, ada WA dan bisa video call terus-terusan. Tapi menurut saya, sekarang pun tetap perlu ngobrol langsung, tatap mata orang dan gesturenya secara langsung, karena dibalik layar dan kenyataan, bisa saja berbeda. 

Penting nggak sih pacaran sebelum menikah? Menurut saya penting sekali. Karena di dalam buku kehidupan saya sebagai orang Katolik, saya hanya mau menikah sekali dalam seumur hidup sampai maut memisahkan. Pacaran menurut saya adalah saat dimana saya belajar banyak, terutama belajar untuk mengenal saya sendiri, belajar untuk mengetahui apa yang sebenarnya harus jadi kriteria saya dalam memilih pasangan sebelum akhirnya mengatakan ya di depan altar. Saya boleh gemuk, dan nggak cantik-cantik gimana kayak supermodel, tapi saya nggak mau sampai harus menurunkan kriteria minimal saya dalam mencari jodoh, cuma demi sebuah pernikahan. Karena yang namanya mengucap janji itu cepat dan mudah, pesta besar itu cuma sehari paling lama seminggu, tapi menikah adalah untuk selamanya. Tidak terbayang kalau sampai harus menghabiskan puluhan tahun hidup dengan satu orang yang sama, lalu ditengah-tengah perkawinan sampai terucap "Saya menyesal menikah dengan dia". Saya ingin ketika setelah berpuluh tahun saya menikah, saya berucap, "Terima kasih Tuhan, Kau pertemukan saya dengan dia, dan saya tidak terbayang kalau hidup tanpa dirinya."

Saya punya kriteria dasar banget dalam memilih pasangan. Seorang laki-laki tentunya, pendidikan sepadan, secara ekonomi juga sepadan, kalau bisa seiman karena saya punya cita-cita menikah di Gereja Katolik, punya hubungan keluarga yang baik, dan pekerja keras. Kriteria yang terasa simpel tapi sungguh berguna, karena saya ingin punya pasangan yang nyambung kalau diajak ngomong, mandiri dan mau diajak berjuang bersama, menghargai keluarga saya sama seperti dia menghargai keluarganya. Kadang yang namanya pasangan itu, sudah banyak miripnya aja sering banyak cekcoknya, apalagi kalau kebanyakan bedanya kan? Saya nggak mau bilang cinta itu = menerima apa adanya, karena menurut saya itu namanya maksa. Pada akhirnya kan kita mencari partner hidup, yang bisa membangun keluarga yang sejahtera lahir batin, bukan cuma makan cinta. Bisa dibilang, saya ini perempuan yang lumayan mengedepankan logika daripada perasaan, tapi sebagai orang shio anjing dan berbintang Leo, kalau saya sudah setia, artinya bakalan setia banget dan pasti memberi yang terbaik untuk pasangan dan keluarga saya. 

Untuk orang yang sudah lama mengenal saya secara dekat, perjalanan cinta saya sebelum bertemu suami termasuk unik, penuh drama, bahkan beberapa orang meledek, cocok untuk dijadikan s(h)i(t)netron saking serunya. Kisah yang akan saya ceritakan ini, tentunya tidak akan terlalu detail karena menyangkut orang yang pernah mengisi kehidupan saya. Saya tidak akan menyalahkan siapapun atas apa yang telah terjadi, karena bagaimanapun, perjalanan cinta saya dengan dia, membantu juga untuk saya mengetahui dan mengenal diri saya lebih jauh, dan makin mengasah kepekaan saya pada orang-orang di sekitar saya. It took me a courage to write this down and it's going to be a long one. Bear with me. 

Saya kenal dengan orang ini, saat saya masih di awal bangku kuliah, kira-kira umur 18 tahun. Mulai dari MIRC di jaman itu, sampai akhirnya bisa ketemu beneran beberapa kali sebagai teman. Kita sekolah di kampus berbeda di Amerika dan jaraknya jauh, tapi cukup sering sekali ngobrol di dunia maya. Kita terus berteman sampai kita sama-sama balik ke Indonesia, dia duluan, lalu saya beberapa tahun sesudahnya. Dia tau semua mantan-mantan saya, dan saya juga tau semua mantan maupun pacar dia. Saya tau bagaimana perjuangan dia mati-matian melawan ortunya demi membela pacarnya saat itu yang tidak disetujui ortunya. Saya juga tau hancur2 dan nakal-nakalnya dia, benar-benar kayak sahabat teman curhat.  Akhirnya dia lanjut sekolah di Australia, dan pada akhirnya dia putus dengan pacarnya saat itu. Dia bilang, dia sudah berubah, nggak nakal lagi, dan lebih fokus dalam pelayanan keagamaan. Di Australia, he built this new image, as an actively religious person, suka membuat seminar agama, pokoknya berubah dari yang dulu. Saya dan dia tetap sebagai teman, tapi lama-lama mulai ada perasaan beda antara kita. We're friends for so many years, and 8 years later, we decided to become a couple after we met once again. Kita mulai long distance relationship, saya di Indonesia, dia di Australia. Udah kayak fairy tale belum? Sahabat jadi cinta gitu ya? Hahaha. Btw, boleh ya saya nulisnya campur-campur bahasa Inggris, kok kayaknya lebih ngalir di otak saya.

And it was really quick. One month after we became a couple, he visited me in Jakarta, and suddenly his parents had this big plan for him to marry me. Pokoknya keluarganya kelihatan meyakinkan banget, langsung menentukan kapan tunangan, kapan nikahan, plannya seperti apa. Kok beda sekali orang tuanya dengan yang selama ini dia ceritakan, yang katanya dulu habis-habisan menentang dia dengan mantannya sampai berantem hebat. He was happy, I was happy, we felt the universe blessed us karena semua terasa cepat dan sempurna. Saya pikir, dialah jodoh yang selama ini saya nantikan. Later it happened, I got sick. He was still on his visit to Jakarta when I got sick, but it seemed like nothing changed. We still moved on with the plan, we talked about happy stuff all the time, and we had this dream of the future together. Keluarga besar saya juga terlihat mendukung karena orang tua dia sangat meyakinkan. Even I thought that they were our guardian angels. 

Dalam perjalanan persiapan itu, relasi saya dengan dia sempat mengalami pergolakan. Saya sempat memergoki banyak hal soal dia yang selama ini dia tutupi, dan setumpuk kebohongan di masa lalu yang membuat saya bergidik dan menangis berkali-kali. But the dream of the future, and his promise that he was a changed person, melted my heart. It happened so many times, dan berkali-kali saya maklumi dan maklumi, selalu berpikir they were all in the past, and I trusted him. We moved on. 

Karena hubungan kita LDR, kebanyakan persiapan dilakukan cuma dengan orang tua dia. Tapi biar bagaimanapun, saya dan dia juga punya bayangan soal mau seperti apa nikahan kita. Tapi belakangan, persiapan pernikahan ini menjadi cukup melelahkan untuk saya, karena saya merasa hampir tidak punya suara. Orang tua dia pun tingkah lakunya menjadi berbeda, lebih emosian, seperti ada hal yang tidak beres yang terjadi internal dalam diri keluarga mereka, tapi ditumpahkan ke saya. Puncaknya, saya sekeluarga dipanggil ke rumah orang tuanya, bilangnya mau diajak diskusi, tapi isinya hanya saya sekeluarga dimaki-maki, seakan-akan kami ini manusia yang dosanya bejibun. Saya ingat bagaimana ayahnya menunjuk-nunjuk wajah saya dan mama saya dengan jarinya. Segala kesalahan dan kekurangan kami (menurut mereka) dicatat di notes panjang berhalaman-halaman. Believe it or not, sampai cara saya berjalan, rambut saya, dan badan saya yang agak bungkuk pun, dicatat sebagai kekurangan.  The crazy thing was, I didn't even replied back. Saya bener-bener nggak menyahut, keluarga saya diam, nggak melawan. It was such a traumatic night that I will never forget.

Begitu masuk mobil, saya menangis sejadi-jadinya. Saya mencoba menelpon dia di Australia. Tapi dia diam tidak menjawab. Saya sempat bilang, kalau orang tua dia memang tidak mau pesta, nggak apa-apa, kita cukup nikah di gereja. Serendah itu saya mencoba untuk kompromi, atas nama cinta, yang kalau sekarang saya pikir-pikir, I was very naive and stupid! And when I thought he would try to help me to go through the "hell", it didn't happen. Instead, he stopped all means of communication. Facebook saya diunfriend, semua foto-foto kenangan kita diuntag, Yahoo Messenger diblock, tanpa ada kejelasan hubungan kita mau dibawa kemana, dan semuanya terjadi dalam sekejap! Days gone by, no news, nothing. I was left with uncertainty about our relationship. Hubungan yang tadinya begitu indah dengan bayangan masa depan, langsung runtuh tanpa kejelasan, dan gilanya, sama sekali tidak ada perkataan apapun dari dia. I still recalled him telling me stories in the past about fighting for his relationship with his ex-girlfriend, but for me, he didn't even try to fight. 

Siapa yang paling sedih? Semestinya saya. Tapi saat itu yang paling terpukul adalah mama saya. Dia tidak kuasa melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Buat saya, saya sudah pasrah, kita berpisah dengan cara yang tidak wajar, artinya dia memang bukan jodoh saya. Tapi "penyiksaan" yang saya dapatkan setelah putus, ternyata makin menjadi-jadi, dan semuanya tidak terbayangkan. Semestinya Lebaran tahun itu, kami sama-sama liburan ke Australia. I, my mom, my brother, and my ex's family. Visa sudah siap dan tiket semua sudah dibeli. Karena kejadian di atas tadi, keluarganya memutuskan berangkat duluan, dan saya diceritakan oleh teman-teman di sana kalau mereka mengumpulkan teman-teman dia (yang juga mengenal saya), semacam pers conference gitu deh, untuk menjelek-jelekkan keluarga saya, dan memposisikan keluarga mereka sebagai korban. Beberapa dari mereka percaya, namun beberapa dari mereka tidak percaya karena mereka tau reputasi keluarga saya seperti apa. And to be honest, I didn't really care. Saya percaya waktu yang akan menjawab.

Tapi yang setelah ini saya ceritakan, saya sungguh peduli karena menyangkut hidup dan masa depan saya. Satu setengah bulan sebelum keberangkatan ke Australia, saya ditelepon oleh pihak kedutaan. Visa turis saya dicekal, karena ada pelaporan dari pihak yang tidak bisa disebutkan (alasan privasi kedutaan), kalau saya kena Tuberculosis (TBC). Saya shock, sungguh shock. Siapa yang tega membuat laporan ke kedutaan kalau seseorang sakit TBC? Saya tau saya sakit, saya tau saat itu operasi pertama saya gagal, saya tau paru-paru saya rusak. Tapi tuduhan kena TBC itu sungguh menyakitkan apalagi Australia sangat ketat dengan peraturan tersebut. Setelah lama tidak berusaha mengkontak mantan saya, akhirnya saya nekad telepon dia. Reaksi yang saya dapatkan sungguh tidak terduga. Dia ikut memaki-maki saya, bilang saya seenaknya menuduh dia dan keluarga dia. Padahal, logika saja, siapa lagi orang yang bisa-bisanya menyempatkan waktu hanya untuk melaporkan orang? Mama saya tambah depresi, tapi saya bertekad untuk membalikkan keadaan. We couldn't give up. Kita punya sekitar 6 minggu sampai kita berangkat. I believe, God is bigger than everything. I still remember, it was a week before my birthday, and it was one of the saddest birthday that I've ever had. 

27 years old me, Rosso, Shangrila Hotel, August 2009. Tried to smile, but crushed inside.

Saya kontak kedutaan, dan kedutaan pun mengakui, baru kali pertama mereka terima laporan seperti ini, yaitu orang berusaha mencekal orang lain dengan alasan TBC. Once in a blue moon, they said. Surat resmi kedutaan saya terima, langkah yang harus dilakukan tertera di situ. Ketika saya sampai di klinik kedutaan (Medikaloka), saya bilang ke tim dokter, lakukanlah apa yang harus dilakukan, supaya saya tidak kehilangan masa depan. Test apapun akan saya jalani. Tidak disangka, dokter resmi kedutaan ternyata Dokter Sita, Sp.P, PhD yang dulu sempat merawat saya. Dia tulis sejarah penyakit saya panjang lebar, ditambah surat keterangan dari dokter saya di Singapura. Lima kali saya bolak balik klinik melakukan berbagai test untuk membuktikan saya bersih dari semua tuduhan, dengan segala biaya yang tidak sedikit. And it was all about waiting game.

Karena begitu uniknya kasus saya, prosesnya begitu panjang, bahkan seluruh berkas-berkas saya dibawa ke Sydney untuk penelitian oleh kedutaan. Mama saya bilang, sudahlah batalkan saja tiket perjalanan kita ke sana, karena jika tidak dibatalkan dan kita tidak jadi berangkat, hangus sudah ribuan dolar (saat itu saya beli tiket business class untuk saya, mama, dan adik). Tapi entah kenapa, saya nggak mau menyerah. Saya percaya kuasa Tuhan tidak akan berakhir. Saya masih ingat, siang itu saya sedang menyetir di Sudirman, tau-tau saya menerima telepon dari nomor yang tidak saya kenal, dan instinct saya mengatakan harus menjawab telepon tersebut. Waktu itu sedang macet, jadi saya nekad angkat teleponnya, dan ternyata kedutaan Australia menelepon, kalau Visa saya statusnya sudah clear, dan saya bisa berangkat. It was 3 days before departure date! Saya menangis sekencangnya, menangis terharu di dalam mobil. Saya tau, nggak mungkin Tuhan meninggalkan saya dalam keadaan terpuruk. 

Bayangkan, saat itu kami belum booking apapun, dan ketersediaan hotel di sana sudah ludes. Tapi lagi-lagi Tuhan baik. Ketika saya ngobrol dengan salah seorang teman (anehnya teman ini justru saya kenal dari mantan saya), dia bilang saya boleh pakai apartemen dia yang kosong, dan tidak mau dibayar. Tebak kosongnya berapa lama? PERSIS sesuai jumlah hari saya berada di Australia. Dan teman ini sampai sekarang masih tetap dekat dan baik dengan saya. Kita menikah di tahun yang sama, saya datang ke pernikahan dia di Australia, dan dia datang ke pernikahan saya di Indonesia. Menginjakan kaki di bandara dan melewati imigrasi, tangan saya masih gemetaran, apakah benar kalau visa saya sudah valid kembali? Dan ternyata, semua lolos, lancar tanpa kendala apapun. It was a bittersweet vacation for my family. Saya ada di kota yang sama dengan mantan, banyak teman-temannya yang datang bertemu saya, tapi saya tidak bertemu dengan si mantan. Pada akhirnya, perjalanan saat itu membuktikan satu hal, yaitu apapun usaha manusia yang didasari oleh kejahatan, akhirnya kuasa Tuhanlah yang menang. Postingan kecil ini saya tulis ketika saya kembali dari Australia di tahun 2009 lalu. 

After I broke up with him, there were many friends that finally let me know that I was truly saved from a disaster. Saya makin banyak dengar cerita dari teman-teman soal mantan, yang sesungguhnya sudah ada tanda-tanda selama pacaran, yang mestinya saya aware, tapi terlalu banyak saya ignore. But it's true, kadang-kadang teman takut menceritakan suatu hal jelek soal pasangan kepada kita, takut dibilang sirik dengan kebahagiaan orang. Apa yang saya pelajari dari hubungan saya dengan dia itu adalah, bahwa kita tidak boleh kebanyakan kompromi soal hal-hal yang secara prinsip tidak cocok dengan diri kita. Do not ignore small stuff! Kadang-kadang karena didasari rasa cinta, hal-hal kecil yang mengganggu jadi dimaklumi, padahal itu adalah awal dari bencana yang bisa muncul kemudian. Mumpung masih pacaran, ada banyak waktu untuk lebih mempertimbangkan berbagai hal. Kita harus jadi orang pintar, punya logika, dan berprinsip. Jangan takut untuk melepaskan jika tidak cocok! Saya tidak kebayang seandainya saya memaksakan diri untuk menikah, lalu berada di dalam keluarga yang seperti itu, mungkin jadinya seperti hidup di neraka. Dia memenuhi semua kriteria dasar saya secara permukaan, tapi ternyata secara mendalam, kriteria dasar itu tidak terpenuhi.

Saat mengumumkan putus, banyak teman-teman yang shock, banyak orang yang menggunjingkan, sudah hampir menikah kok putus. Sebagai wanita, cap batal nikah tuh paten banget deh nempel di jidat, dan hal kayak gini yang kadang suka membuat wanita putus asa, lalu begitu ada yang mau, langsung dimaklum-maklumin lagi demi supaya nggak batal nikah lagi. Apalagi buat mama saya, buat dia itu sangat nggak nyaman ditanyakan soal diri saya yang batal nikah, sehingga dia malah jadi tambah stress. Level kesedihan orang tua tuh nggak kira-kira, seringkali melebihi anaknya. Sayanya sudah bangkit pun, dianya masih terpuruk. Please, jangan sampai kita putus asa lalu menurunkan level kita. Kita itu berharga loh! Nggak jadi dengan satu orang, bukan berarti akhir dunia. Saat itu saya berdoa pada Tuhan, jika Tuhan ijinkan, kirimkan orang yang tepat untuk saya. Entah bagaimana yang tepat itu di mata Tuhan, itu urusan Dia. Seandainya nggak ketemu pun, saya akan baik-baik saja sendiri, dan terus mengabdi untuk Dia. 

Beberapa bulan, saya mencoba menata hati, dan pelan-pelan berusaha membuka lembaran baru. Dengan pacar-pacar saya yang sebelumnya, hal ini mudah dilewati karena rata-rata kami putus baik-baik, dan sesudahnya kami menjadi teman bahkan jadi sahabat sampai sekarang. Jangan bingung jika suami saya pun bisa sahabatan dengan mantan pacar saya. Ya itulah, saya perempuan yang memang lebih makai logika daripada perasaan, suami pun juga begitu, jadi nggak ada cemburu buta nggak jelas. Di masa menata hati itu, banyak laki-laki yang mampir di kehidupan saya. Yang ngajak makan, ngajak nonton, bahkan berkali-kali, tapi entah kenapa, hati saya nggak bisa menuju ke arah romantic relationship. Saya inget banget sampai diledek-ledek teman karena dekat dengan seseorang, tapi ya sayanya nyantai saja. Beberapa teman lama juga ada yang nempel, kasih banyak perhatian, tapi tetap nggak ada yang nyangkut. Ada juga yang sampai maksa saya jadi pacarnya tapi saya tolak mentah-mentah.  Serasa gunung batu kali ya? Tapi yang saya ingat saat itu, saya mau konsentrasi untuk menyelesaikan penyakit saya yang sudah mengganggu sekian lama. 

There is always rainbow after the storm. Untuk yang sudah tau lama, saya ketemu suami saya di masa recovery sesudah operasi di Singapura, kira-kira 7 bulan sesudah saya putus dengan mantan. Ceritanya pernah saya tuliskan di sini. Why did I ended up with him? Saya jawab saja, itu semua misteri Ilahi. Yang jelas, saat saya dipertemukan dengan dia, saya sudah dalam kondisi kehilangan satu paru-paru, dan tidak pernah sekalipun dia menyinggung soal itu, dari sejak kita bertemu. Dia nggak pernah menunjukkan kekhawatiran, walaupun saya tau dalam hatinya dia peduli. Dia nggak banyak kata-kata seperti orang marketing, tapi dari tingkah lakunya, saya tau dia sayang. Dia menghargai saya seutuhnya, tidak pernah merasa terintimidasi, dan punya kepercayaan diri kalau dia bisa jadi suami dan bapak yang baik.Orang tua dan keluarganya baik dan peduli, tapi nggak pernah ribet ikut campur soal persiapan pernikahan, apalagi kehidupan rumah tangga anaknya. 

My husband used to be this party boy, ketua geng yang temen-temennya seabrek di Singapura selalu ngikutin dia ke club, (jangan ketipu tampang kutu bukunya ye hehehehe), dan dulu sempat menjauhi gereja Katolik karena pergaulan. But when he started dating with me, he became this person that said, "Aku sudah ngerasain yang gila-gila di masa lalu, dan semuanya itu cuma buang duit dan waktu. Sekarang waktunya kita mikirin masa depan." And just like that, he decided to focus on building our family, worked very hard to ensure that he could provide, and I myself would never have thought that he could devote himself through prayers every night, and made sure that we never skipped going to church on the weekends. I met a boy, but I married a man. 

Apakah saya pernah kecewa sama dia? Ya sering lah, manusia kan nggak ada yang sempurna. Sudah berpuluh tahun pun, pasti bisa menemukan hal baru soal pasangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah saya bahagia menikah dengan dia? Setelah 9 tahun menikah, saya bisa dengan yakin menjawab, yes, I am truly happy and blessed. Apakah dia adalah jodoh sejati saya? Jawabannya: Kita tunggu sampai maut memisahkan. Sementara menunggu saat itu, yang bisa saya dan suami lakukan adalah bekerja keras, menjaga komitmen yang kita ucapkan di depan altar, mendidik anak-anak kita dengan penuh kasih, dan menyerahkan selebihnya ke Tuhan. 

Tulisan ini mungkin nggak berarti bagi orang lain, tapi sungguh berarti buat saya. Butuh waktu cukup lama untuk mempertimbangkan apakah saya mau menulis soal masa lalu yang pahit. Saya berusaha untuk tidak terlalu detail, hanya menggambarkan garis besarnya saja. Banyak orang bilang, kenapa sih masih diingat aja? Mestinya dikubur dalam-dalam. Jawabannya, saya tidak mungkin lupa. Karena seburuk-buruknya masa lalu adalah bagian dari hidup. Apakah mantan saya orang jahat? Saya tidak bisa menjawab. Kadang orang bisa menjadi jahat karena keterpaksaan. Yang jelas dia bukan jodoh saya, tapi ada orang lain yang memang lebih cocok jadi jodoh dia. Kita tidak pernah kontak lagi, tapi seandainya dia membaca ini, atau siapapun yang kenal dia membaca ini, I totally forgive him since a long time ago. Saya ingin ucapkan terima kasih, karena kesulitan dan rasa sakit yang saya alami saat bersama dengan dia, saya jadi makin kuat, makin mengerti diri saya, dan merasakan pengalaman spiritual yang membuat saya yakin, kalau Tuhan selalu beserta saya. 

Dan untuk menutup tulisan ini, saya lampirkan gambar bukti nyata, kalau suami saya memang party boy, bahkan di kawinan sendiri! Psssttt... jangan ketawa ye. 

Party boy at the bottom, with many friends that came from Singapore just for our wedding, November 2011. Yes, that's the guy that fathered my children! Hahaha. 




Comments

  1. Ikut bahagia dengan happy ending ceritanya, happy 9 th anniversary ya Leony dan Hubby.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Habis gelap terbitlah terang hehehe. Makasih, Fitri.

      Delete
  2. duluuuu pernah baca kisah masa lalu, baru tau sadisnya ya bagian "kesalahan" dijabarkan berhalaman2 plus fitnah TBC. tangan Tuhan memang bekerja dng luar biasa yaaaa. happy anniversary ya Leony and husband

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini pun ceritanya masih permukaan banget. Kalau tau aslinya lebih ngeri lagi hehehe. Biar jadi pelajaran saja. Thank you, Yunita.

      Delete
  3. Happy 9th wedding anniversary Leony and husband ^_^

    ReplyDelete
  4. Le, nyokap juga dulu doa minta jodoh n ketemu bokap 3 bulan kemudian.. 6 tahun pacaran dan 36 tahun menikah, sejauh ini udah 42 tahun sama-sama.. kalo di gw dulu juga doa tapi sebelum ketemu suami, ketemu dulu sama si mantan.. setelah setahun akhirnya pisah karena ada kejadian ga enak juga, tapi ga separah mantan u sih Le.. itu orang tua nya si mantan yang ngebikin list kesalahan berlembar-lembar, terus maki2 anak orang di depan emaknya, belum lagi ngelapor tbc..

    itu parah banget sih dan bersyukur banget ya ga jadi ma tu orang..

    Happy Anniversary ya yang ke-9, tumben kali ini ga ada cerita perayaan nya.. biasa ada acara makan2 nya hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, untung juga anaknya ga ambil sikap menentang ortunya. Mungkin sudah sepaket. Kalau ngga, kali2 gue masih berusaha atas nama cinta hahaha. Emang Tuhan sayang deh, dikasih lihat semua bobroknya, sebelum salah langkah.

      Thanks, Carol, tenang perayaan pasti ada donk. Di postingan selanjutnya deh hehehe.

      Delete
  5. bener banget ya jodoh gak akan lari kemana... emang udah jalannya gitu ya ny... :)

    happy anniversary ya! semoga langgeng dan happy2 terus! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dikasih jalan berliku dulu sebelum ketemu jalan tol hahaha.

      Thank you, Man.

      Delete
  6. Happy anniversary bu le dan suami!!!! Diberkattttiiii selalu :)

    ReplyDelete
  7. Happy anniversary ya le. Semoga pernikahan kalian senantiasa diberkati Tuhan.

    Gua juga setuju kalo sebelum pacaran tuh sebaiknya ngedate berdua dulu. Gua juga dulu sebelum statusnya pacaran sering jalan berdua seno hahaha... dan mungkin emang uda jodoh ya, dipertemukan di gereja waktu lagi pelayanan, jadi uda sama2 paham kalo misalnya sering ke gereja kalo lagi persiapan pelayanan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mel. In the end, kenal dan pacaran lama juga gak menjamin kalo itu pelabuhan terakhir ya hehe. Yang penting begitu sudah nikah, tidak ke lain hati.

      Delete
  8. Pengalaman sama mantan lumayan pahit juga ya Le. Memang jangan sampai dilupakan ya, karena itu bagian dari pelajaran kehidupan. Dan aku setuju dituliskan di sini, supaya jadi pembelajaran juga untuk yang lain. Bersyukur banget ya, justru karena sikap mereka yang memutukan sepihak, dirimu jadi bisa lepas dari hubungan yang tidak sesuai. Pertolongan Tuhan memang ada saja caranya. Semoga si mantan juga sudah menemukan 'jalan' nya ya....

    Selamat ulang tahun pernikahan, Leony! Diberkati Tuhan senantiasa rumah tangganya yaaa... Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu Lis, sebenernya yang membingungkan itu, mereka gak menyebut apa2 soal break up. Cuma kabur dari tanggung jawab aja. Jadi kita disuruh figure out sendiri loh, dengan cara yang nggak wajar. Sebenernya sebelum kejadian sudah banyak tanda ngga enak, tapi selalu berusaha dimaklumi. Ended up, Tuhan yg bukain jalan.

      Thank you, Lis.

      Delete
  9. Setiap orang punya kisah masing-masing dalam menemukan jodohnya kadang memang harus jatuh bangun dan sakit hati dulu untuk bertemu orang yang tepat.

    Tidak terbayang kalau sampai harus menghabiskan puluhan tahun hidup dengan satu orang yang sama, lalu ditengah-tengah perkawinan sampai terucap "Saya menyesal menikah dengan dia". Saya ingin ketika setelah berpuluh tahun saya menikah, saya berucap, "Terima kasih Tuhan, Kau pertemukan saya dengan dia, dan saya tidak terbayang kalau hidup tanpa dirinya---> aku setuju banget dengan tulisan ini, karena aku pun begitu bersyukur bahwa aku diberikan jodoh yang terbaik, suami yang tepat buatku" dan kadang malah jadi jatuh cinta lagi sama pasangan. :)).

    Happy Anniversary mba Le dan suami, semoga rumah tangganya salalu dilimpahkan keberkahan kasih sayang dan kebahagiaan sampai maut memisahkan.



    ReplyDelete
    Replies
    1. Mendingan bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian ya hehehe. Puji Tuhan kita pada bahagia dengan pasangan yang sekarang. Jatuh cintanya tambah nyungsep ya, Dian hahaha. Makasih ucapannya. Amin.

      Delete
  10. Happy anniversary Mba Leony. Semoga langgeng sampai maut memisahkan ya.

    Saya penggemar blognya mba Le...Suka nggak sabar nunggu postingan berikutnya, karena cara bertuturnya enak dan asyik di baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Emma buat ucapannya.

      Hehe, iya ini belum sempet nulis lagi postingan baru. Lagi sibuknya minta ampun. Makasih sudah jadi penggemar. Jadi malu nih.. :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas