Abby Ikut Kompetisi Perdana di Mal

Seminggu lalu, Abby pecah telor juga untuk ikutan kompetisi musik di luar ranah dia alias di tempat umum. Sebagai ibu-ibu yang tidak terlalu punya jiwa kompetitif, saya memang tidak terlalu mencari-cari lahan untuk Abby ikut kompetisi, termasuk juga kompetisi online yang diadakan beberapa bulan lalu. Semua pasti diinfokan oleh gurunya. Kali ini pun begitu, gurunya kembali menginformasikan mengenai lomba Talent Quest yang diadakan di sebuah mal di North Shore alias utaranya Auckland, bukan area jajahan kita. Makanya, kita nggak pernah tau kalau ada acara beginian. Waktu mendapat info lomba ini, kami sedang liburan road trip di awal term break, dan lombanya diadakan di minggu kedua term break. Si Abby saya tanyakan mau ikut atau ngga, ternyata anaknya semangat. Yo wis saya daftarkan saja. Sistemnya itu talentanya terbuka untuk siapa saja, talenta apapun, dan dibagi menjadi 2 kategori umur: 8 tahun ke bawah, dan 9-13 tahun. Abby masuk ke kategori pertama. Ya semacam Got Talent contest yang di TV-TV gitu lah, tapi nggak serius-serius amat. Kami nggak ada persiapan khusus untuk ikut lomba ini, tapi Abby serius latihan sejak pulang liburan. Lagunya pakai lagu yang mestinya Abby recital 2 minggu sebelumnya, namun gagal terjadi karena lockdown. Intinya, ikut lomba ini, untuk senang-senang saja mengisi waktu liburan, tapi tidak boleh tampil asal-asalan. Sehari setelah mendaftar, Abby mendapat konfirmasi kalau dia akan tampil di hari Kamis, 8 Oktober 2020. Kalau lolos, dia akan tampil di final, hari Minggu, 11 Oktober 2020 di tempat yang sama. Setiap hari selama seminggu itu adalah babak penyisihan, dan pemenang tiap heat babak penyisihan, akan diadu lagi di babak final. Gimana perjalanan kompetisi Abby? Menang atau nggak? Yuk kita intip.

Kamis, 8 Oktober 2020, kita diminta oleh penyelenggara untuk register ulang di belakang panggung pukul 12.45 karena acara dimulai pukul 1 siang. Ternyata, acaranya santai banget! Panggungnya kecil di tengah atrium mall, panitianya cuma 1 orang, merangkap jadi MC, jadi juri juga untuk penyisihan. Untungnya, beliau ini kompeten karena dia juga pemilik sekolah musiknya si Abby yang cabangnya tersebar di beberapa tempat di Auckland dan muridnya ada di atas 1000 orang. Tapi ya namanya di NZ itu, biarpun bos, kerjanya ya sendirian! Asli, masang sound system sendiri, masang laptop sendiri, dan jadi MC sendiri. Hidup di Selandia Baru, memang sederhana sekali!

Suasana babak penyisihan yang santai! Biarpun santai, tapi pesertanya serius.


Penontonnya langsung aja gitu melantai di sekitaran panggung. Karena ini hari biasa alias weekdays, suasana mall nggak terlalu ramai.


Abby memainkan lagu "Olympic Procession". Dia main bagus (ini subyektif ya, soalnya yang ngomong emaknya sendiri hahaha), sampai ada satu oma-oma lagi jalan lurus langsung belok dan nyamperin piano dia dan nongkrong sampai lagu selesai.

Bangga loh saya, Abby bisa tampil di mall dengan santai, mainnya mulus banget pula. Setelah seluruh peserta tampil, MCnya langsung mengumumkan anak yang melaju ke babak final. Tebak siapa yang namanya pertama disebut? Si Abby dong! Anaknya loncat-loncat senang bukan kepalang. Dari kategori umur dia, ada 2 anak yang masuk final, satunya lagi dancer. Saya ada kirim foto Abby main piano ke teman di Indonesia, komentarnya, "Gila nyantai abis bajunya!". Ya Auckland gitu loh! Jangan dibandingkan dengan di Jakarta yang anak-anaknya heboh banget. Konser bersama lagu 1 menit aja kadang bajunya kudu seragam, dandan, heboh bukan kepalang sampai ortunya ikut rempong. Hayo buat temen-temen yang anaknya les musik di sekolah besar di Jakarta, bener kan yah? Hihihi. Di sini Abby cukup pakai dress batik dan sepatu sandal. Ya sesuai usia lah ya. 


Sebagai "hadiah", langsung mampir ke stand Dunkin Donuts, Abby langsung milih 2 donat, dan habis dalam 5 menit. Ini anak memang beruntung, makan kayak kuda, body tetap langsing hihihi.

Untuk finalnya, biar spesial, Abby latihan untuk 2 lagu. Lagu pertama tetap yang sudah dimainkan di penyisihan yaitu "Olympic Procession" yang serius, dan lagu kedua dia bilang dia mau lagu kejutan, yaitu lagu yang temponya cepat dan ceria, yaitu "Calypso Carnival". Mama sih oke-oke aja deh. Yang penting tetap sesuai ketentuan (performance maksimum 3 menit), dan anaknya happy! Buat saya, anak yang bahagia dan main ngga ada beban itu penting banget. 

Tibalah di hari Minggu, 11 Oktober 2020 yang merupakan hari final lomba Talent Quest ini. Berhubung sudah babak final, dandan sedikit boleh lah. Tetep nggak heboh, tapi lebih rapi. Bajunya Abby pilih sendiri, baju dari ulang tahun dia yang ke 7. Rambutnya saya bikin French Braids ke samping, lalu dikasih pita biar manis. FYI, ini beneran kali pertama saya bikin braids nyamping, bahkan nggak pakai latihan dulu. Untung jadi. Kalau nggak jadi, ya udah lah untel2 aja sanggulnya hihihi. 

Minta ampun deh, disuruh gaya dikit, malah gaya lirikan maut begini.


Untung jadi  nih braids bikinan mama. Phewwww....

Saking santainya, nyampe di mal nggak langsung ke panggung, malah foto dulu sama Minions!

Foto gaya manis di depan panggung. 

Apa bedanya babak final ini dengan babak penyisihan? Di babak final ini, jurinya ada 4, 3 cewek 1 cowok. Entah bagaimana cara panitia memilih juri, intinya kita mah terima aja. Jurinya itu pengelola mal, ketua komunitas daerah, kepala sekolah SD daerah situ, dan satu lagi baru guru musik. Kalau saya lihat, ini ibaratnya lomba talenta, tapi jurinya caleg partai, alias memang bukan bidangnya hahaha. Bahkan suami saya ngeledek, itu yang bapak-bapak pengelola mal, mukanya udah kebosanan sepanjang lomba, miungkin di otaknya mikir "What the heck am I doing here?". Pas hari itu ada teman baiknya Abby dan keluarganya juga ikutan nonton dan support Abby. Kebetulan mamanya adalah pemain piano, jadi lumayan lah saya ada teman diskusi dan nebak-nebak kira-kira siapa yang bakalan jadi pemenang. Penonton hari itu jauh lebih ramai daripada pas penyisihan, sampai lantai atas mal juga ada penonton yang nangkring di balkonnya. Mirip-mirip suasana mal di Jakarta kalau ada show gitu deh, tapi ini skala lebih kecil dan lebih santai. 


Mainnya tambah mulus, dan relax banget. Diantara semua pianists di kategorinya, Abby adalah satu-satunya pianist yang main tanpa partitur dan enjoy banget tanpa beban.

Hari ini Abby main dua lagu, dan lumayan bisa membuat beberapa orang di mal berhenti untuk nonton dia main dari awal sampai akhir. Buat saya itu merupakan apresiasi yang tak ternilai.

Karena hari itu final, tentulah talentanya bagus-bagus dan makin beragam. Mulai yang menari, main piano, menyanyi, main biola, main keyboard sambil nyanyi, dan yang menarik adalah, di kategori Abby itu anak-anaknya justru lebih menarik penampilannya dibandingkan dengan yang kategori umur besar. Tapi tidak bisa dipungkiri, di kategori usia Abby ini, banyak yang ortunya nampak super ambisius dan pushy ke anak-anaknya. Bahkan tanpa malu-malu teriak-teriak dan tepuk tangan berlebihan saat anaknya tampil. Sampai Abby saja kaget loh sama tingkah laku orang tua yang begitu, kaget literal alias tersentak badannya saat ibu-ibu di belakang dia teriak-teriak. Hanya beberapa gelintir anak saja yang terlihat naik ke panggung nampak tanpa beban, gembira, dan tidak dibuat-buat. Sebagai sesama orang musik, saya dan kawan saya mencoba mengira-ngira dari semua penampil, kira-kira siapa yang masuk top 3. Ternyata perkiraan saya dan teman saya sama persis yaitu seorang anak Pasifika yang main keyboard dan nyanyi asyik sekali, sepasang anak India kakak beradik yang synchronized dancing dengan gembira, dan Abby. Saya menominasikan si anak Pasifika yang juara, tapi kawan saya yakin banget Abby yang juara.

Beberapa menit kemudian, MC mengumumkan juaranya. Si anak Pasifika yang saya kira akan juara 1, ternyata dia juara 3. Jadi kawan saya itu makin yakin bilang kalau pasti Abby deh juara 1 atau 2. Begitu juara 2 disebut, kami berdua shock, karena yang juara 2 itu adalah seorang anak yang nyanyinya ala orang dewasa, teriak-teriakan dengan nada all over the place, godek-godek kepala dan tangan ala penyanyi RnB, dan terlihat sangat dibuat-buat penampilannya. Anak inilah yang ortunya tadi teriak-teriakan heboh berlebihan. Makin shock lagi ketika diumumkan juara 1-nya, yaitu seorang anak yang bermain piano klasik, tapi di tengah main, dia berhenti blank karena salah. Begitu dia salah, mamanya langsung lari ke bawah panggung nongkrongin dia, lalu anaknya lanjut main lagi. Kemudian nggak berapa lama stop lagi, karena partiturnya jatuh, lalu mamanya naik panggung buat jepit partiturnya, lalu lanjut lagi. Keliatan sekali mamanya juga ambisius banget, karena begitu anaknya salah main langsung panik sendiri. Jadilah saya dan teman saya lihat-lihatan bingung. Bahkan penonton pun bingung, terbukti dari sambutan untuk pemenang pertama dan kedua malah nggak seheboh pas pemenang ketiga diumumkan.




Lalu bagaimana perasaan Abby ketika dinyatakan gak masuk 3 besar? Setelah selesai, kita semua berdiri dan saya bisa melihat, di pelupuk matanya mulai ngembeng air mata sedikit. Lalu dia bilang, "I thought I am going to get the first place". Saya jadi sedih juga dikit, tapi saya coba hibur dengan bilang Abby mainnya bagus banget. Jadi nggak masalah nggak dapat juara, yang penting Abby udah kasih yang the best yang Abby bisa. Teman saya juga bilang Abby mainnya udah bagus banget, malah ditawarin mau dibeliin cupcake (soalnya juara 1 hadiahnya voucher plus 1 box cupcake. NZ memang agak receh kalau soal hadiah). Kemudian saya langsung tawarin Abby, "Ayo mau makan apa? Mau cupcake, donat, sushi?" Nggak lama matanya langsung berbinar-binar. "Donat, aku mau donat!" Lalu senyum dan ketawa lagi, dan jalan bareng temannya ke counter donat. Secepat itu dia melupakan peristiwa mengecewakan yang baru dia alami. Siang itu dia makan 2 donat, 5 potong salmon sushi ukuran lumayan besar, dan 1 cup mashed potato-nya KFC. Padahal sebelum lomba sudah makan sepiring nasi dan babi asam manis favoritnya. 

Sampai rumah, saya dan suami masih bahas kejadian siang tadi. Suami yang tipenya cuek, sore itu sebelum mandi masih komentar, "Si Abby padahal bagus banget mainnya. Kasian dia." Perasaan saya juga sama, kasian juga sama Abby. Bukan karena saya subyektif dan karena saya orang tuanya. Tapi karena saya sungguh melihat dia berusaha, bersemangat, tampil natural, dan bermain piano dengan sangat baik. Saya tidak masalah  kalau dia tidak juara jika pemenangnya adalah anak-anak yang tampil dengan hati dan sesuai dengan jiwa anak-anak yang wajar dan natural, tidak dipaksakan, apalagi ditongkrongin orangtuanya. Ketika diskusi dengan teman di Indonesia via WA, dia bilang, "Mungkin juri melihat yang juara satu itu pantang menyerah kali walaupun salah-salah." If that's the case, ya mending Abby main gak sempurna, berhenti-berhenti, tapi nggak menyerah dong, daripada main mulus tanpa beban? (Ini emak-emak lagi curhat, boleh ya hahahaha...).

Yang jelas, saya banyak belajar di kejadian kemarin. Si Abby ternyata dewasa banget dalam menghadapi situasi. Saya juga biasa sih, nggak protes seperti seorang mamanya peserta yang sehabis selesai acara langsung nyamperin panitia dan heboh kepingin tau anaknya di posisi berapa (Ibu ini kocak banget loh, anaknya dipaksa nonton ipad permainan biola terus sebelum lomba, sambil dimarah-marahin). Cuma sebagai orang tua, rasa kecewa masih ada, hanya bisa disimpan saja, nggak bisa diungkapkan di depan anak. Saya sama sekali tidak mau mematahkan semangat dia. Saya bilang ke Abby, kalau saya bangga banget sama dia yang sudah berani maju ke panggung, main bagus sekali, bahkan lebih bagus dari penyisihan, dan Abby tetap juara di hati mama. Tau nggak dia jawab apa? "It doesn't matter I didn't win the competition as long as I am the winner in your heart." Ternyata, anak 7 tahun ini hatinya besar banget dan ini bikin saya makin bangga. Hadiah yang didapat, jauh lebih besar daripada sekedar cupcake dan voucher, tapi kedewasaan dalam menerima situasi yang kurang favorable untuk dirinya. Jadi, mau lagi nggak ikut kompetisi? Maybe yes, maybe no. Sebagai emak yang kurang kompetitif, kalau ikut ginian, milih-milih aja deh. Bukan milih yang sudah pasti bisa menang (ini mah emak-emak kiasu namanya), tapi milih yang acaranya jelas dan jurinya kompeten sesuai bidangnya aja, jadi penilaiannya jelas patokannya. Puji Tuhan, Abby nggak patah semangat dan tetap rajin latihan. Ya kalau buat mamanya sih, targetnya gak perlu jadi juara kompetisi ina inu... tapi kalau bisa nih, kurang dari 10 tahun lagi bisa mengiringi koor mama nyanyi di gereja. Cetek? Biarin!





Comments

  1. Ci Le.. Duh kalau lihat Abby dah segadis ini saya merasa.. tua qiqiqi.. Selebihnya ikutan bangga!! Abby berani tampil dengan maksimal dan batik Indonesia ikut tampil.

    Saya kaget, ternyata emak-emak di NZ kompetitif jg ya urusan lomba anak.. tapi untuk kejadian pemenang yang "mencurigakan" gini, saya malah seneng sih kalau ada emak yang berani komplen, minimal juri/ panitianya kesentil dikit nuraninya kalau memang ada sesuatu dibelakangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, Abby masih kecil kok, Tante. Baru 7 tahun. Iya dong, ada kesempatan pakai batik, mumpung masuk spring, lebih anget sedikit, bisa pakai dress.

      Saya sudah ngelihat sih yg ortunya kompetitif banget itu, orang Asia (dari negara C dan F), sama orang bule tapi yg tipe leher merah (kalau pernah nonton serial yang soal pageant mom, ya semacam itu lah hahaha). Unfortunately yg protes dan kepo nilai anaknya itu, anaknya gak bagus mainnya hahaha. Tapi ya namanya kompetitif, tetep aja ngga puas.

      Delete
  2. Nyengir mbayangin ekspresi mikir juri si bapak mal...seperti terjebak di dimensi yang salah haha..
    Ya yang seperti ini yang bikin penilaian jadi banyak tidak tepatnya ya Le..tidak adil bagi yang sudah serius latihan dan tampil bagus.
    Bagus Abby terus semangat yaa pantang menyerah. Jia you!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget tuh kata papanya Abby, persis kayak gitu... Muka pingin acara buru-buru selesai hihihi. Yah gak apa-apa, pengalaman kan guru terbaik. Jadi ngerti juga emaknya model2 kompetisi beginian, membuka mata hehehehe. Makasih, Tante titipan semangatnya buat Abby.

      Delete
  3. sebagai mama pasti sedih ya ngeliat anaknya sedih, tapi bagus nya Abby udah bisa menerima kekalahan ya meskipun dia maen nya bagus dibanding yang menang itu.. semangat terus ya Abby!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih sedih mamanya daripada anaknya hahaha. Yang penting nggak patah semangat!

      Delete
  4. selamat ya abby udah berani tampil. berani tampil depan publik saja udah satu prestasi lho.

    itu tilly rambutnya udah mulai panjang tambah cantik deh. jangan dipotong lagi ya mommy.#pesan dari fans tilly nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante Limmy. Iya bener, makanya kita jadikan pengalaman seru aja hehe. Beneran fun experience!

      Poninya Tilly boleh dong ya dipotong? Belakangnya dipanjangin dan ekor kuda aja deh hehehe.

      Delete
  5. kok gak ada video nya ny? pengen liat... :)

    yah namanya lomba talent emang gitu ya. subyektif banget. gak jelas milih yang menang gimana. udah kenyang juga kita ama yang beginian. hahaha.
    yang penting anaknya udah do their best dan kita sebagai orang tuanya kasih tau kalo kita bangga sama mereka ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas ngepost, mau masukin sini, sama blogger dibilang kegedean, Man. Mau masukin Youtube, kok males bikin account2 lagi hahaha. Kalo mau liat, japri aja.

      Kalo jurinya kompeten, anak gue ga masuk, lebih puas. Ya berhubung jurinya ga jelas kompetensinya, jd sudahlaaahh.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang Dalem Dalem

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas