Wednesday, May 20, 2020

Pengalaman Pribadi Selama Lockdown di Auckland

Kamis, 14 Mei 2020 lalu, Auckland resmi masuk ke Alert Level 2. Artinya, mal sudah bisa dibuka, restoran pun sudah bisa menerima tamu untuk dine in, tentunya dengan masih mengindahkan aturan-aturan social distancing dan pendataan tamu yang diberlakukan oleh pemerintah. Seneng nggak? Seneng banget! Tindakan cepat dari pemerintah untuk menutup negara ini, dan kepatuhan dari warga NZ akhirnya menghasilkan buah, yaitu tidak ada penambahan kasus baru, dan maksimal satu digit penambahan kasus di dalam 1 minggu terakhir sebelum naik ke Alert Level 2. Semoga sampai ke depannya posisi ini bisa dijaga, jangan tiba-tiba naik lagi jumlah kasus positifnya. Apakah kita sudah menang melawan Corona? Tentu belum ya, karena kehidupan walaupun sudah mendekati normal seperti sebelum pandemi, tapi roda ekonomi masih lambat perputarannya, travel antar negara masih belum bisa dilakukan, dan sepertinya masih butuh waktu panjang untuk bisa kembali pulih seperti sedia kala. Untuk kenangan, saya ingin menuliskan hal-hal yang saya dan keluarga alami selama lockdown, sampai akhirnya minggu lalu kita bisa dengan bahagia mulai jalan-jalan keluar rumah sebagai satu keluarga. 

Rasanya absurd sekali, ketika dua bulan lalu, tepatnya tanggal 26 Maret 2020, negara ini ditetapkan untuk masuk ke alert level 4 alias lockdown total. Beberapa hari sebelum kebijakan itu berlaku, kebanyakan orang melakukan belanja panik di supermarket, memborong berbagai kebutuhan, sampai akhirnya beberapa barang mulai langka seperti roti, beras, tepung, ragi, pasta, mie instant, daging mentah, sampai susu formula bayi. Pengalaman belanja, menjadi sesuatu yang cukup mengecewakan buat saya karena walaupun saya sudah siapkan daftar belanja, saya keluar hanya dengan sedikit belanjaan. Tapi untungnya di rumah masih ada persediaan, dan saya tidak pernah berniat untuk menumpuk bahan makanan. Waspada boleh, tapi jangan ikut gila. Itulah prinsip saya, dan kebayang ya kalau para lansia harus beradu baku hantam dengan yang muda-muda demi berebut makanan, membayangkannya aja nggak tega! Begitu beneran masuk level 4, supermarket dan beberapa penyedia grocery online menjadi sumber utama pembelian bahan pangan karena restaurant, bakery, takeaway, semua tutup total. Saya membayangkan suasana belanja akan menjadi sangat mengerikan. Bagaimana kenyataannya?

Saya salah total! Buat saya, belanja di saat lockdown kemarin justru jadi pengalaman yang menarik dan sama sekali tidak mengecewakan. Walaupun antrian panjang, tapi pihak supermarket langganan saya mengaturnya sedemikian rupa sehingga pengalamannya termasuk menyenangkan. Setiap keluarga hanya boleh mengirimkan satu orang saja perwakilan untuk belanja, dan setiap orang diberikan jatah waktu belanja selama 30 menit. Tentulah pada tau kalau dari keluarga saya siapa yang dikirimkan. Yours truly hehehehe. Padahal, teman-teman saya rata-rata mengirim suami sebagai perwakilan, tapi suami saya bilang kalau sampai dia yang dikirim, dia akan pusing sendiri letak barang belanjaan itu di sebelah mana, dan ujung-ujungnya dia bakalan beli snack doang seabrek-abrek. Sementara kalau istrinya yang belanja, pasti efisien dan langsung tepat sasaran. Jadilah ibu Leony kali ini serasa Katniss Everdeen di Hunger Games versi lockdown, cuma beda tampang dan body aja. Yang ono langsing, yang ini langsung. Lalu gimana cara antrinya? 

Iya, kami ngantri dari parkiran, muter-muter gini, masing-masing sadar diri dan kasih jarak 2 meter satu dengan yang lainnya. 

Ini situasi pas antrian nggak terlalu panjang ya, kalau panjang, muter lagi sampai ke arah mobil-mobil parkir. Lalu gimana caranya memastikan aliran keluar masuk orang supaya tidak bertumpuk di dalam supermarket?

Ada bouncernya! Iya, bukan cuma di bar atau club yang pakai bouncer, di supermarket juga. Setiap hari ada dua orang bouncer botak berbadan besar yang selalu siap sedia mengawal kita semua antri di depan. Setiap beberapa menit sekali, dia akan mengingatkan "1 shopper per family, 1 trolley per person, 30 minutes time limit, make sure you keep 2m apart from each other". Gitu aja ngomong terus kayak kaset rusak hehe. 

Lalu gimana kalau ada family yang datang berdua? Langsung diusir yang satunya untuk nunggu di mobil. Terus bosen nggak sih nunggu di depan? Nggak! Antrian muter-muter segitu, palingan nunggunya 20 menitan aja. Ditambah lagi bouncernya ini selalu putar musik yang nyenengin di mini speaker dia (yang diamplify pakai panci! Serius ini!). Musiknya mulai dari Backstreet Boys, Britney Spears, sampai Michael Jackson. Ternyata si bouncer anak 90-an juga nih. Mantap deh, Mas! 
Demi keamanan, semua troli belanja sudah dilakukan pembersihan secara profesional. Kalau mau pake sarung tangan pas belanja ya silakan, nggak juga nggak apa-apa. Saya sendiri nggak pakai sarung tangan. Yang penting mah jangan pegang-pegang yang nggak perlu aja.


Suasana belanja di dalam gimana? Tentu lebih lengang dari biasanya, tapi juga nggak bisa dibilang sepi banget. Yang jelas, semua orang sadar diri untuk jaga jarak. Ambil sayur gantian, ambil buah gantian. Dan kalau ada yang merasa nggak nyaman, saling melotot aja udah cukup untuk kasih kode jaga jarak. Plus karena lebih lengang di dalam, belanja bisa jadi lebih cepat, ditambah lagi di kasir sama sekali nggak ada antrian. Hampir semua kasir dibuka untuk mencegah terbentuknya antrian, dan antara kasir dan pelanggan dilapisi dengan kaca fiber. Seluruh pembayaran dilakukan secara contactless dan kartu kredit alias tidak ada pemakaian cash. Saya sendiri selalu pakai paywave, jadi nggak perlu pencet-pencet pin. Barang-barang gimana? Hanya sedikit saja yang tidak ada stock, tapi hampir seluruh kebutuhan dasar tersedia dalam jumlah besar, sesuai dengan janji dari pemerintah bahwa stock makanan di negara ini tidak akan kekurangan, dan harga pun tidak ada yang naik mencuat. Semua normal. Hanya saja tepung hanya tersedia dalam ukuran 5 kg ke atas, bukan karena stock tepungnya ngga ada, tapi karena stock kantong kertasnya yang nggak ada ukuran kecil. So, ibu Leony sempat membeli 5 kg tepung serbaguna, dan 5 kg tepung cakra (high grade). Sampe dodol deh bikin snack di rumah. 

Lalu gimana suasana di rumah? Job desc saya nambah, bukan cuma jadi ibu rumah tangga, tapi juga jadi gurunya Abby. Setiap hari selalu ada tugas dari sekolah, dan saya mantengin anaknya belajar dari siang sampai sore supaya dia bisa konsentrasi. Maklum anak-anak kan kalau di rumah hawanya kayak liburan ya, maunya banyakan main doang. Untungnya, karena mama rada disiplin (alias bawel kalau udah urusan sekolah), Abby tetap mengikuti pelajaran sekolah dengan baik, dan tugas-tugasnya dia rata-rata selesai semua. Produktif lah pokoknya. Tentunya sekolah di sini berpesan kalau tugas-tugas itu nggak wajib diselesaikan semua, supaya orang tuanya nggak ikut stress. Tapi mau jadi apa kalau anaknya di rumah 2 bulan main-main doang kan? Yang ada begitu masuk sekolah langsung bengong karatan. Untungnya sekolah di sini nggak kayak di Indonesia ya, saya lihatin teman-teman masih ada ujian tertulis lah, praktek lah, mana anak-anaknya kudu pake seragam di rumah, ortunya suruh kirim foto lah, video lah, zoom lah sama gurunya. Buat si Abby, cukup les pianonya aja yang ada live meeting sama gurunya via Skype. Sisanya mah kontak-kontakan via email aja sama pakai aplikasi macam Showbie, Studyladder, dan Epic!, jadi insanity mama masih terjaga. 

Tentunya masih ingat ya kalau Paskah 2020 ini jatuhnya pas saat lockdown. Tentu sedih juga karena seluruh misa kita ikuti dari rumah. Tapi saya ingin memastikan kalau anak-anak tetap punya pengalaman yang menyenangkan di hari Paskah, 12 April 2020, jadilah kita buat egg hunting di belakang rumah. Suprisingly, anak yang gede dan yang kecil, dapat jumlah telurnya sama! Saya kira yang gede bakalan dominasi, ternyata yang kecil lebih ahli lihat yang nyelip-nyelip, sementara yang gede lari keliling rumput dan jadi nggak fokus. 

Siap-siap egg hunting di backyard. Sudah pake baju kembaran kelinci (paskah), pakai gumboots, dan pakai container popcorn bekas liburan ke Jepang 2015 lalu.
 
Foto dengan telor hasil jarahan. Kalau coklat kelincinya sih nggak ditaruh buat egg hunting. Sayang kalau keinjek haha. Biarpun cuma di rumah, moga-moga tetap menyenangkan buat anak-anak.

Pas lockdown kemarin juga ada kejadian bersejarah buat Abby, yaitu dua giginya tanggal dengan sukses! Dan lucunya, dua-duanya tanggal di hari Kamis. Yang pertama di Kamis Putih tanggal 9 April, dan yang kedua, dua minggu kemudian di tanggal 23 April, pas sehabis dia shooting video untuk lomba piano. Mungkin karena itu ya, jadi beruntung juga anaknya hehehe. 

Gaya ompong tapi pede. 9 April 2020, sehabis Misa Kamis Putih


23 April 2020. Yak sekarang ompongnya simetris kanan kiri. Itu mulutnya belepotan karena giginya resmi copot pas dia lagi makan pisang. Untung nggak ketelen tuh gigi hahaha.

Ada hal yang sungguh menarik dan membuat saya salut atas kesiapan sekolah Abby dalam menghadapi situasi lockdown ini. Selain bahan yang dikirim lewat online, sekolah juga menyiapkan learning package yang bisa diambil oleh orang tua secara drive thru. Harinya ditentukan, jamnya ditentukan untuk level berapa, dan hebatnya, kepala sekolahnya sendiri yang melayani di parkiran, mulai dari pukul 9 pagi sampai pukul 2 siang!! Salut banget deh! Buku dan bahannya semua sudah diplastikin satu-satu, dan ortu tinggal lewat, sebut nama anak, kelas brapa, dan kepala sekolahnya dibantu wakil kepala sekolahnya sigap membagi. Padahal ya, walaupun mataharinya terik, tapi anginnya lumayan dingin juga. Nggak kebayang mereka berjam-jam melayani drive thru di lapangan parkir ini. 

Kepala sekolahnya yang rambut panjang, wakil kepala sekolahnya yang pakai kupluk, melayani langsung orang tua murid. Ini saya foto langsung dari dalam mobil. Salut banget!

Biar nggak bosen di rumah aja, kami sempat juga jalan keliling kompleks sore-sore. Masih boleh kok jalan keliling kompleks pas alert level 4, selama masih di seputaran rumah, maksimal 2 km radius lah kira-kira. Seneng juga menikmati udara segar, plus melihat perubahan warna daun di musim gugur ini. Biasanya kita memilih jalan-jalan di area lain seperti di pantai, atau di park, dan karena lockdown malah baru menyadari sekeliling kompleks rumah ternyata indah juga. 

Jalan sore... kita berjalan-jalan sore-sore.... Ada yang kenal lagu ini? Kalo iya, kita sama-sama tua hehehe. Dedaunan mulai berubah warna menjadi oranye, dan sinar matahari membentuk halo di langit. 

Selama lockdown pun, kegiatan rohani sudah pasti tersendat. Tapi saya dan beberapa teman pengurus komunitas Katolik di sini berusaha tetap melaksanakan kegiatan umat seperti Rosario di bulan Mei yang sudah menjadi acara rutin tahunan. Karena tidak mungkin ketemuan, akhirnya saya "dipaksa" untuk menjadi operator Doa Rosario Online via Zoom. Kerjaannya ya bikin slide, menjalankan, mimpin nyanyi, plus ngatur microphone untuk petugas doa-nya. Tentulah jadi pengalaman yang tidak terlupakan, beribadah online begini. Begitupun dengan Misa Kudus, sudah beberapa kali Romo kami mengadakan misa online khusus komunitas yang ditayangkan di channel Youtube komunitas kami. Yes, akhirnya komunitas kami malah punya channel Youtube sendiri hihihi. Selama kita bisa memfasilitasi umat untuk berdoa, yuk deh dijalani dengan sukacita.

Beginilah kerjaan saya, bikin slide untuk dijalankan saat Zoom meeting. 

Setelah lebih kurang 4.5 minggu, tanggal 28 April 2020, Selandia baru memasuki alert level 3. Apa artinya? Artinya restoran sudah bisa buka kembali termasuk pick up, delivery, dan takeaway. Masih nggak boleh makan di tempat ya. Kalau mau pick up juga harus contactless, pembayarannya juga harus contactless. Lalu apa yang paling membahagiakan buat beberapa orang? KFC dan McD buka!! Percaya atau ngga, beberapa hari pertama, antrian drive-thru dua fast food ini mengular! Orang rela antri di atas 1 jam, bahkan mulai antri dari subuh karena kangen yang melanda. Lalu kami ikutan antri nggak? Tentu saja nggak hahahaha. Jadi saya bersepakat, karena baru masuk alert level 3, kalau mau beli takeaway, dipastikan worth aja. Nggak sebegitunya juga keluarga kami sama fast food. Lalu apakah kami beli takeaway selama level 3? Iya beli, sekali aja, yaitu pas Mother's Day alias Hari Ibu, Minggu 10 Mei 2020. Boleh dong ya ibu yang selama ini masak nonstop tiap hari santai sejenak untuk makan enak. Kita pesan online, lalu suami yang picked up di depan restonya.

Inilah takeaway pertama kami dari The Brigham. Pokoknya di hari spesial khusus ibu-ibu ini, saya mau makan enak. Pesanan kita searah jarum jam: Spiced Pork Belly (Slow braised with aromatic spices and seasoning, creamy colcannon, Roast pumpkin puree, jus), Fettuccine, Chorizo, and Prawn (fresh pasta in a tomato herb base sauce, Parmesan, olive oil drizzle),  Butter Chicken (succulent chicken thigh marinated in tandoori spices and finished in a creamy delicately spiced sauce with fragrant basmati rice), Bacon Wrap Chicken Breast (Roasted with a thyme, lemon and pepper rub, with roast gourmet potatoes and roast vegetables), Assorted Dessert (Apple Crumble, Chocolate Brownie & Cheesecake). Ini saya plating sendiri keluarin dari kemasan, jadi harap maklum kalau brantakan dikit. Yang jelas rasanya yummy banget! Kalau kayak  gini, worth lah ya untuk takeaway, daripada ngantri McD hihi. 

Nah, kebayang kan jadinya selama level 4 dan level 3 itu, dipastikan dapur ngebul terus setiap hari. Biasa juga ngebul sih, tapi kalau weekend biasa nyonya rumah took a break from cooking. Lah ini resto tutup semua selama level 4, plus kita juga nggak gimana suka sama takeaway pas level 3 (saya lebih suka makan langsung di resto), jadilah dapurnya kerja extra tanpa break di akhir pekan. Saya ada ambil gambar beberapa masakan saya, tapi kalau dipost semua di sini, bisa nggak cukup 1 post sendiri. Jadi saya post beberapa aja ya hasil dapur Bu Leony. Ini semua bukan khusus masakan lockdown, tapi memang sehari-hari ya masaknya begini walaupun ngga ada lockdown. Jadi harap maklum kalau Bu Leony susah kurus. 

Ini menu "Berbuka Puasa" saat hari Jumat Agung, jadi semuanya menu tanpa daging dan yang ini versi dewasa. Ada nasi kuning, perkedel tanpa daging, terong kecap cabe, dan tempe orek. Nggak lupa krupuk kampungnya. Untuk anak-anak saya buatkan ayam kuning karena mereka nggak pantang daging. 
Bakwan Malang, kesukaan kita semua. Kali ini saya buat nggak lengkap, biasanya ada bakso gorengnya. Tapi berhubung persediaan pork di rumah lagi terbatas, bikin seadanya saja. Keliatannya banyak ya? Buat keluarga kami, segini cuma dua kali makan aja hahahaha. 

Mendadak kepingin banget makan bubur ayam karena cuaca mulai dingin. Cakwenya terpaksa bikin sendiri soalnya nggak ada yang jual. Oh iya, saya sukanya bubur tipe begini, yang ayamnya dimasak bersama buburnya dan disuwir di dalam bubur, tanpa kuah kuning ataupun kacang kedelai. 

Bola bistik ini salah satu kesukaan keluarga. Yang bikin lebih sehat adalah semuanya tidak ada yang digoreng melainkan dipanggang. Bolanya dipanggang sebelum akhirnya disiram kuah, sayurannya direbus, dan kentangnya diroast saja dengan sedikit minyak dan bumbu.

Abby juga nggak mau kalah dong, bikin snack juga dia. Sebenarnya ini tugas sekolah sih, tugas science lebih tepatnya. Optional alias nggak wajib dilakukan, tapi yang namanya bikin cemilan, tentulah anaknya semangat. Kita belajar membuat Anzac Biscuit yang resepnya didapat dari sekolah. Kali pertama juga buat saya bikin biskuit ini, dan tentulah bahannya nggak lengkap, kurang golden syrup dan rolled oats. Saya substitusi pakai brown sugar dan tambahan tepung plus desiccated coconut, plus raisin juga. Jadinya gimana? Ternyata endeusss! Plus anaknya belajar perbedaan antara uncooked dough dengan cooked dough. Sambil belajar, sambil nyemil, perfect! 

Beberapa hari sebelum Anzac Day weekend, ada kenalan yang rumahnya dekat, nawarin labu siam, tentulah kami nggak nolak. Tentulah kami ambil pakai contactless pickup alias nggak ketemuan sama yang ngasih. Dan di awal bulan puasa kemarin, saya malah ngerasa ngerayain Lebaran duluan, bikin ketupat sayur pakai sambal godog labu udang, semur daging plus telur, tempe orek, dan seperti biasa nggak ketinggalan krupuk kampung andalan. 

Risoles ragout yang bikinnya lama, habisnya sekejap. Ini namanya balada gorengan. Anehnya, si Abby malah nggak doyan yang isi ragout, tapi doyan sama yang isi coklat, padahal saya isi coklat itu karena kehabisan ragout hahaha. 

Salah satu snack terlaku di rumah ini adalah roti. Bikin satu batch biasanya jadi 20 biji (gambar di atas itu masih ada beberapa yang nangkring di oven), hari ini bikin, besoknya habis atau sekarat. Yang laku juga adalah donat. Berkali - kali bikin roti dan donat di rumah ini selama lockdown, tapi setiap kali emaknya deg-degan karena ragi sempat sangat susah didapatkan, jadi hanya pakai sisa yang ada di rumah. Untungnya sekarang sudah mulai ada lagi, jadi bikin roti lanjut terusssss!

Udah cukup kali ya gambar-gambarnya, apalagi yang masih puasa, mohon maaf kalau tergoda hehehe. Selain masakan-masakan di gambar tadi, masih banyak lagi menu-menu lain yang sempat dibuat. Silakan tanya keluarga atau kenalan dekat saya, pasti udah bosen saya kirimin gambar makanan tiap hari. Entah berapa loyang cake, berbagai pie, dan lusinan gorengan yang saya buat. Namun yang menurut saya menarik adalah kisah martabak teflon. Kenapa martabak teflon ini begitu hits banget ya pas lockdown? Padahal saya tuh lumayan sering bikin martabak ini buat acara latihan koor, pertemuan gereja, dll, dan nggak pernah kepikiran akan sebegitu viralnya pas lockdown. Selama lockdown kemarin saya juga cuma bikin 2 kali. Yang pertama pakai resep saya biasa, dan yang kedua pakai resep niru di youtube karena penasaran bedanya apa, tapi memutuskan balik ke resep sendiri aja karena lebih cocok di lidah. Lalu donat juga kok ngetrend amat ya? Bikin donat buat saya juga lumayan sering buat jadi cemilan anak-anak, tapi di masa lockdown ini udah kayak obsesi orang-orang. Martabak plus donat seliweran di timeline. Kayaknya masa lockdown bikin orang-orang jadi lebih betah di dapur karena lebih aman juga kali ya masak sendiri. Ataukah karena tukang martabak dan bakery pada tutup? Yang jelas, saya percaya, ibu-ibu yang pada nyoba resep ini, dijamin bikin orang serumah bahagia!

Kenangan manis lainnya, di akhir alert level 3, Abby dapat tugas sekolah untuk membuat sebuah doa syukur. Dia tulis doa ini, lalu saya kirimkan ke gurunya sebagai tugas sekolah biasa. Kemudian karena menurut saya doanya bagus, saya kirimkan juga ke pastor kenalan saya hanya untuk berbagi saja. Tanpa diduga, beliau sangat senang dengan doa ini, dan beliau ajukan doa ini untuk dimasukkan ke dalam page ordo Redemptorist Australia dan New Zealand. Beliau juga minta saya foto Abby sambil pegang doanya. Mau tau doanya seperti apa? Silakan klik link ini ya. Doa seorang anak kecil memang sederhana, tetapi indah.

Senyum sumringah si alis ulat bulu. Rasanya anak ini selalu aja bisa kasih orang tuanya kejutan lewat karyanya. 

Oh iya, tentunya satu lagi pengalaman tak terlupa di saat lockdown ini adalah keikutsertaan Abby di lomba musik online MEC Lockdown Rundown yang sudah saya bahas di dua postingan sebelumnya (klik di sini untuk lihat lombanya, dan di sini untuk pengumuman pemenang dan interviewnya). Nggak nyangka juga akan dukungan yang begitu besar dari teman-teman semua, dan hari ini Abby sudah resmi terima hadiahnya secara langsung dari pemilik sekolah musik MEC. 

Foto bersama pemilik sekolah musiknya (kiri), dan guru pianonya (kanan). Resmi deh anak ini punya gadget sendiri. Saya bukannya melarang dia page gadget, tapi untuk urusan sekolah saya biasakan pakai laptop, dan kalau main game sederhana biasa pakai HP bapaknya. Semoga kagak bablas main melulu ya, By. Atau mama sikat balik itu tab! (Emak galak). 

Weekend lalu adalah weekend pertama kami masuk ke level 2. Senengnya bukan main, nggak harus sendirian aja saat keluar rumah. Hari minggu kemarin, kita putuskan untuk jalan-jalan menikmati udara segar di tepi pantai Browns Bay, dan kembali wisata kuliner makan dim sum di restoran langganan. Pas masuk, kami scan dulu QR code dan mengisi data. Tempat duduk yang biasanya mepet-mepet diatur supaya jadi longgar dan berjarak, dan sesungguhnya malah bikin rasa lebih nyaman. Maklum deh biasa kan restoran chinese itu ruame tak berjarak ya. Suapan demi suapan, rasanya nikmat bukan kepalang, ditambah si Abby makannya seabrek, bikin hati tambah senang. Kami lanjut belanja ke toko home improvement, masih tetap disediakan disinfektan untuk troli, dan check outnya masih tetap berjarak. Setelah itu masih lanjut ngopi di cafe dan makan eskrim. Bahagia banget deh bisa balik seperti biasa walaupun belum sepenuhnya. 

Mulai Senin, 18 Mei 2020 lalu, Abby resmi kembali lagi ke sekolah. Gimana perasaan saya? Terus terang, legaaa! Ngajarin anak di rumah, kalau mau serius dan semua tugasnya selesai itu bukan pekerjaan yang mudah! Saya hampir nggak punya waktu untuk diri sendiri karena selain ngurusin rumah tangga (dan masak bejibun) masih ditambah lagi nongkrongin si Abby bikin tugas. Jadi, Senin siang itu, di saat si Abby sudah balik ke sekolah... akhirnya saya bisa nangkring berjemur santai di halaman belakang. Indahnya duniaaa! 

Nikmat mana lagi yang kau dustakan. 

Jadi apa hikmah dari lockdown yang dijalani? Hikmahnya adalah, kesabaran dan ketaatan, pada akhirnya akan membuahkan hasil. Ketaatan warga di Selandia Baru dan ketegasan pemimpinnya adalah faktor yang sungguh-sungguh penting dalam keberhasilan kita "menumpas" Covid-19. Per hari ini di Selandia baru, pasien yang ada di rumah sakit tinggal 1 orang saja dan tidak dalam kondisi kritis. Kita tidak tau apakah situasi akan semakin membaik atau justru akan terjadi sebaliknya, namun saya percaya, jika kita mengindahkan peraturan yang telah ditetapkan pemerintah, situasi akan aman terkendali. Kita doakan juga untuk Indonesia, yang saya tau sekali dari berita yang berseliweran, kondisinya tidak terlalu kondusif. Tapi kita harus optimis, bahwa badai pasti akan berlalu, walaupun entah berapa lama lagi. 

20 comments:

  1. makanannya bikin ngiler!

    btw disana musim semi juga? bukannya musim gugur ya kebalikan ama sini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha gue baru nyadar di otak mau nulis gugur, diketik malah semi. Thanks for letting me know. Padahal jelas2 gue tulis daun udah mulai orange hahaha. Dodol. Corrected!

      Delete
  2. Wah emak juga salah satu eksperimen selama PSBB ini adalah martabak teflon!! Haha. Btw, mengharukan sekali membaca doanya Abby :') Sehat2 selalu ya untuk keluarga kak Leony di sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Bener kan ngehits banget tuh martabak. Doa Abby emang mayan menyentuh, membuat kita bersyukur atas hal2 yg biasanya kita take it for granted.

      Delete
  3. Harusnya sekalian dipajang resepnya, jangan foto masakannya doang 😄😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan japri utk kebutuhan resep hwhahahahaha... Dan lu dah tau sendiri kan sistem gue mengingat resep.

      Delete
  4. bakerynya seno ga tutup le hahahaha... tadinya mau ditutup karena penjualannya drop banget gara2 sekolah sama kantor libur, tapi kasian karyawan2nya, karena mereka ga mungkin disuruh balik kampung kan, jadi genjot jual via online deh...

    seneng ya disana situasi pelan2 mulai kembali normal, gua juga berharap disini terjadi hal yang sama... sehat2 terus ya kalian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Usaha yang masih bisa online memang sebaiknya jangan tutup Mel. Justru malah kesempatan baik untuk melayani pembeli yang minta delivery. Banyak malah yg sukses juga di masa PSBB. Semoga Indonesia cepet pulih ya.

      Delete
  5. Jadi ngiler sama makanan-makanannya ciii...

    Btw, hebat ya disana menjalankan new normal karena memang sudah terkendali. Bulan depan ini mau new normal di indo, walau sebenernya makin hari makin banyak yg terdeteksi. Mantap lahh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Nick. Puji Tuhan pemimpin tegas plus hati-hati, dantdan rakyatnya patuh. Jadi lebih cepet beresnya. Nah itu dia di Indonesia cici bingung deh. Akses ke rapid testnya jg ga terlalu gampang kan? Lagian orang kayak malu kalau dibilang kena covid dan menutup diri atau pura2 sehat. Laaahh gawattt..

      Delete
  6. itu si tilly makin lucu aza sih. gemes liatnya.

    ckck lu udah bisa buka resto deh kayaknya le.
    skill memasak lu udah macam chef.

    di indonesia mah susah bakal lepas dari pandemi corona ini. pesimis banget dah gw. :(
    tingkat disiplin penduduknya rendah. pemerintahnya kurang tegas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang makin lucu lagi nih anaknya. Makin banyak tingkah. Emang chef dong.. chef buat keluarga sendiri, mules tidak ditanggung hihihi.

      Tetep optimis dan banyak doa deh. Nampaknya Indonesia akan menuju herd immunity (dengan mengorbankan banyak jiwa).

      Delete
  7. makanan nya enak banget, roti nya lucu bentuk nya salam kenal dari bandung

    ReplyDelete
  8. itu rotinya kinclong bgt ih...

    Tilly dan Abby kompak pake baju kembar. so cute

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kinclong kayak abis treatment SKII ya hahaha. Itu bajunya dikasih temen baik dr Indo, Fit. Mothercare kalau ngga salah. Lucu ya.

      Delete
  9. Doa Abby sweet banget..juga ga lupa ucapin thanks pada internet hehehe
    Wah roti2 nya paling bikin ngiler nih :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe... Iya, kebayang ya jaman dulu ga ada internet, mati gaya hahaha.

      Rotinya seruan di Jakarta kok, tinggal beli hihihi.

      Delete
  10. Luar biasa ya sekolah disana sampai menyiapkan learning package dan menunggu di drive thru..
    Salut...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan sekolah Abby gitu, nggak tau sekolah lain gimana sih hehehe. Memang dedikasi guru2 di sekolah Abby luar biasa deh.

      Delete