Saturday, March 28, 2020

Suasana Lockdown di Auckland

Apa kabar teman-teman di seluruh belahan dunia? Semoga semuanya baik-baik saja, diberikan kesehatan yang baik, dijauhkan dari segala sakit penyakit, dan selalu sejahtera. Di saat-saat yang berat seperti ini, rasanya pingin saya skip satu chapter di kehidupan sekarang ini yang berkaitan dengan wabah virus Corona. Setiap baca berita, bawaannya sedih, merenung, tapi kemudian berpikir kalau life must go on. Puji Tuhan kami sekeluarga di Auckland sehat, dan untungnya stock makanan cukup terjaga untuk beberapa hari ke depan. Dengar cerita para petugas medis yang berjuang di garis depan, they are truly the unsung heroes, mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan para pasien. Kiranya Tuhan menyertai karya mereka selalu. Bagi yang berjuang melawan penyakit covid-19, semoga Tuhan berikan kekuatan. Untuk semua orang yang meninggal dunia, semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Sejak Kamis, 26 Maret 2020, pukul 00.00, pemerintah Selandia Baru memberlakukan lockdown untuk seluruh negara selama (minimal) 4 minggu. Negara kami menerapkan Level Waspada dari 1-4, dan lockdown ini artinya kita masuk pada Level 4. Hari Senin lalu, negara masih masuk ke kategori Level 2. Senin siang, pemerintah mengumumkan kalau level waspada dinaikkan menjadi Level 3, dan bersiap menuju ke Level 4 setelah 48 jam. Kebayang ya, kita hanya diberi waktu 48 jam untuk mempersiapkan total lockdown. Untuk lebih jelasnya perbedaan Level Waspada (Alert Level) ini, bisa dilihat di tabel di bawah. Saya cukup senang dengan adanya perbedaan level yang diterapkan di negara ini, sehingga masyarakat bisa mengikuti perkembangan dengan baik. Tapi ini balik lagi loh ya, apakah masyarakatnya betul-betul sadar. Syukurlah, masyarakat di sini hampir semuanya mematuhi peraturan pemerintah, sehingga proses kenaikan level sampai lockdown ini bisa berjalan dengan hampir tanpa hambatan.

Sebelum saya lanjut mengenai impact yang saya pribadi rasakan mulai dari sebelum sampai lockdown ini, saya mau berbagi beberapa cerita menarik, soal bagaimana warga di sini sangat-sangat mendukung pemerintah supaya virus tidak menyebar, dan mungkin bisa menjadi contoh buat teman-teman di tempat lain. Seperti yang diketahui, untuk siapapun yang tiba ke Selandia Baru, harus melaksanakan karantina mandiri selama 14 hari di tempat inap pertama masing-masing, baik warga lokal maupun turis. Waktu alert level 1, masih diperbolehkan turis masuk, asalkan mematuhi peraturan karantina mandiri. Nah, soal ini, kesadaran masing-masing ya. Kebayang ngga, turis yang sudah berencana jauh-jauh hari untuk wisata, mendadak harus karantina mandiri selama 2 minggu, padahal paling total trip di sini cuma 10 hari misalnya. Tapi kan sebenarnya bisa toh ya membatalkan trip daripada nekad. Cuma ya masih tetep dong banyak orang yang nekad. Nah apa yang terjadi?

Kasus pertama, di Christchurch, ada backpacker yang baru sampai, menginap di hostel, dan besoknya rencana check-out untuk jalan-jalan. Hebatnya pemilik hostelnya langsung telepon polisi, dan ketika si turis check-out, si turis tadi langsung dijemput oleh polisi dan dideportasi. Kasus kedua, di Frans Joseph Glacier, ada 2 turis yang mengambil paket helicopter tour. Diajaklah ngobrol-ngobrol sama pilotnya selama di udara. Begitu pilotnya tau kalau si turis tidak melakukan karantina mandiri, dia diam-diam telepon polisi, dan ketika helikopter mendarat, polisi sudah jemput si turis, dan langsung digiring plus dideportasi. Kasus ketiga, di Auckland, ada seorang pilot dan rombongannya baru tiba, dan langsung menuju ke sebuah bar terkenal. Sebelum masuk bar, bouncernya meminta data si pilot plus rombongan (iya, di sini pas saat-saat terakhir sebelum level 4, makan di restoran pun harus isi data), dan ketahuanlah kalau mereka tidak melakukan isolasi mandiri. Langsunglah rombongan tersebut ditolak oleh si bouncer. Gilanya, rombongan tersebut malah pindah ke bar lain, dan dikejar dong sama si bouncer dari bar sebelumnya. Tadinya si pilot sempat melawan, tapi akhirnya kalah juga karena si bouncer badannya guede! Nah itu tiga di antara banyak kisah warga yang berusaha keras melindungi negaranya. Banyak dari mereka merupakan bagian dari bisnis, dan tidak takut bisnisnya kekurangan customer, yang penting semua berpartisipasi supaya penyebaran bisa dikurangi.

Oke, sekarang balik ke cerita saya soal lockdown. Di Indonesia entah kenapa orang ribut-ribut saja soal lockdown, dan dikait-kaitkan sama politik. Dibilang pemerintah nggak becus lah, lambat lah, dan lain-lain. Tapi rasanya belum ada yang benar-benar mikir lockdown itu sebenarnya seperti apa, bagaimana impactnya dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk tenaga kerja yang menggantungkan diri dari upah harian. Saya cerita sedikit soal suasana lockdown di sini ya.

Semua orang wajib kerja dari rumah, semua pelajar wajib belajar dari rumah.

Ada orang-orang yang mendapatkan pengecualian untuk bekerja, yaitu mereka yang disebut essential workers, artinya orang yang bekerja di sektor yang penting untuk kehidupan. Misalnya: Tenaga kesehatan dan penunjang rumah sakit dan rumah jompo, pegawai supermarket dan semua yang berkaitan dengan penyediaan makanan di supermarket, polisi dan petugas keamanan, dan sebagainya. Yang jelas, sisanya selain itu, bekerja full dari rumah. Suami saya sendiri tetap "masuk kantor" seperti biasa, nonstop di depan komputer, malah lebih sibuk dari biasanya. Setidaknya itu yang dia rasakan. Saya sendiri, namanya IRT, tetap aktivitas biasa, malah sedikit lebih urut dada karena dua anak ini seringkali susah dibilangin kalau udah nakal bareng. But we're all good. Les renang Abby dibatalkan (ya iyalah... masak mau berenang di bath tub? :P), les piano sempat libur seminggu, dan minggu depan lanjut online lesson pakai Skype. Semoga lancar dan nggak digangguin sama bocah yang kecil deh hehehe.

Lalu bagaimana untuk pekerja yang tidak punya penghasilan karena tidak mungkin bekerja dari rumah alias kantornya tutup total selama lockdown? Pemerintah sudah menyiapkan benefit plan bagi seluruh pekerja legal, dan nilainya cukup lumayan. Tinggal mendaftar ke Work and Income, benefit pun bisa disalurkan. Hal inilah yang mungkin agak sulit untuk diterapkan di Indonesia, karena banyak sekali orang yang legalitas kerjanya kurang jelas alias kerja serabutan. Bagaimana dengan perusahaan yang tidak beroperasi saat lockdown? Pemerintah juga sudah menyiapkan dana untuk menalang kerugian, asalkan ada bukti penurunan signifikan di laporan keuangan perusahaan. Intinya, selama semua legalitas jelas, pemerintah akan mati-matian membantu warga supaya bisa survive.

Semua bisnis tutup total kecuali yang esensial seperti supermarket, dairies (mini market kecil di daerah perumahan), klinik dokter, rumah sakit, apotik, dan pom bensin. 

Yes, you hear it right. Semuanya tutup blas. No more makan di restoran, no more takeaways, no more fast foods, no more nongkrong cantik di kafe atau bar. Lupakan! Intinya semua tempat dimana orang bisa berkumpul, bye! Bahkan pizza deliveries aja tutup! Tukang sayur dan buah ataupun tukang daging yang toko kecil-kecil, tutup juga. Mall-mall dan department store, tutup! Toko-toko online, semua put on hold alias berhenti beroperasi kecuali click and collect di supermarket (yang slotnya penuh terus). Jadi kebayang satu-satunya sumber orang untuk belanja ya cuma supermarket. Yang biasa nggak pernah masak pun, terpaksa harus masak. Kebayang dong supermarket ramenya kayak apa? Selama seminggu terakhir sebelum lockdown, semua orang kena panic buying, sampai ada beberapa supermarket yang terpaksa harus tutup pintu supaya di dalam tidak chaos. Yang jadi korban ya orang-orang lansia dan juga orang yang uangnya terbatas dan hanya mampu untuk belanja sedikit. Saya pun sempat jadi korban karena nyari susu anak sempat langka.

Tapi syukurnya, orang-orang di sini cepat sadarnya! Itu yang saya rasakan. Semua pembelian langsung dibatasi jumlahnya oleh supermarket. Setelah lockdown, orang malah lebih tertib, lebih manusiawi. Stock makanan berlimpah (sesuai dengan yang dijanjikan pemerintah kalau makanan gak mungkin habis). Gimana sistem belanja di supermarket di saat lockdown? Setiap toko depannya dijaga oleh petugas keamanan, untuk supermarket besar, sekali masuk hanya boleh 50 orang. Setiap keluarga hanya boleh mengirim satu anggota keluarganya untuk belanja, dan di dalam dikasih waktu 30 menit. Jadi harus siap-siap bawa list dari rumah, kalau nggak ya gak keburu. Lalu sisa orang yang mau belanja gimana? Ya antri di luar berbaris, dengan jarak 2 meter. Cepet kok perputarannya. Begitu ada yang check out dari kasir, petugas akan kasih orang di antrian untuk masuk. Sampai saat ini yang lumayan langka alias cepat habis adalah: Roti tawar, tepung terigu (semua jenis), seluruh jenis pasta, dan Indomie (serius, ini mie instant paling hits di sini!).

Jalanan hampir kosong, polisi makin banyak berkeliaran, transportasi umum terbatas. 

Karena kantor-kantor, sekolah-sekolah, dan segala jenis usaha tutup, jalanan jadi sepinya luar biasa. Boleh nggak kita ngunjungin saudara atau nongkrong di rumah tetangga? Nggak boleh! Boleh nggak playdate sama teman sekolah? Nggak boleh! Jadi apa dong yang boleh? Kita hanya boleh bergaul jarak dekat dengan orang di dalam "bubble" kita, alias orang yang tinggal serumah dengan kita. Boleh nggak jogging, bawa anak jalan kaki, bawa anjing muter sekitar kompleks? Boleh! Hanya sekitar kompleks aja, dan kalau mau dekat-dekatan, hanya boleh dengan orang di dalam "bubble" kita. Kalau ketemu orang lain di jalan gimana? Menjauhlah, kasih jarak minimal 2 meter. So far kalau ada orang yang ketauan ngadain kumpul-kumpul, langsung tetangganya telepon polisi untuk bubarkan acara (ini yang kejadian di komunitas saya).

Boleh nggak naik mobil jalan-jalan ke pantai cari angin? Nggak boleh! Orang naik mobil keluar hanya boleh untuk kebutuhan ke supermarket, ke apotik, ke dokter, atau kebutuhan sangat esensial lainnya. Ketauan sama polisi cuma jalan-jalan cari angin, langsung disuruh pulang. Ada video yang nyebar dari NZ, dia distop polisi di jalan, ditanya dari mana, lalu sampai di cek bagasinya apakah benar ada belanjaan. Mungkin orang lain lihatnya keterlaluan, tapi memang itulah yang terjadi. Kebayang sekarang lockdown kayak apa? Literally stay at home! Boro-boro pulang kampung ya. Keluar ke supermarket aja ada kemungkinan dicegat polisi loh! Lalu apakah bus-bus umum masih tersedia? Yes masih, tapi hanya untuk essential workers. Sebelum masuk bus, sopirnya harus ngecek ID si pekerja, memastikan dia bekerja di sektor esensial. Kalau nggak, artinya cuma mau jalan-jalan, silakan balik ke rumah.

Pemerintah melindungi hak-hak warga untuk mendapatkan keringanan pembayaran sewa dan hutang rumah.

Di atas tadi, saya sudah bahas sedikit bagaimana pemerintah berusaha melindungi warga yang tidak bisa bekerja atau kena termination karena dampak virus corona ini. Pengeluaran terbesar warga di sini adalah bayar sewa rumah, dan bayar cicilan rumah. Pemerintah langsung mengeluarkan peraturan, kalau sewa rumah dilarang untuk dinaikkan, dan landlord (pemilik rumah) tidak boleh menterminasi sewa jika penyewa tidak mampu membayar sementara. Bagaimana dengan pemilik rumah atau home owner? Jika bisa memberikan bukti ke bank bahwa penghasilan kita terpengaruh karena lockdown ini, pemilik rumah bisa mendapat keringanan penundaan pembayaran cicilan untuk jangka waktu tertentu. Intinya sih, walaupun solusi ini tidak 100 persen sempurna, pemerintah sudah memikirkan baik-baik efek samping dari lockdown untuk warganya. Mungkin lebih mudah juga mengendalikan situasi di sini, karena jumlah penduduk tidak terlalu banyak, semua data penduduk dan legalitasnya jelas, jadi lebih gampang memetakannya.

Lalu gimana perasaan saya sendiri di saat-saat lockdown ini? Awalnya saya tuh sedih banget, asli sedih. Kesedihan saya dimulai saat dua minggu lalu, ketika waspada Level 2 diumumkan, lalu ada pengumuman lanjutan kalau semua misa di gereja dibatalkan. Saya termasuk orang yang nggak pernah bolong ke gereja kecuali kalau sakit atau ada kebutuhan darurat lainnya. Apalagi saat ini lagi masa Prapaskah, dan hati ini sudah siap-siap menyambut Paskah. Kebetulan koor saya rencana tugas di Minggu Paskah, bahkan saya sudah mulai mempersiapkan susunan lagu untuk misa. Suatu hari saat mandi sore, entah apa yang terjadi, di bawah guyuran shower, saya nangis sendiri. Mendadak saya rindu banget untuk pergi ke gereja, kangen untuk misa dan merasakan Tubuh Kristus alias hosti itu nempel di lidah saya. Akhirnya saya misa online dari rumah, dipimpin oleh Uskup Auckland, Patrick Dunn. Hati saya jadi jauh lebih tenang, rupaya benar, memang komuni itu tidak harus nempel di lidah saya, tapi merasakan kehadiran Tuhan langsung di hati kami sekeluarga jauh lebih berarti.

Kalau soal makan, sampai saat ini nggak ada perubahan sih. Saya masih masak normal seperti biasa, cuma bedanya kali ini setiap hari makan siang bareng rame-rame karena selalu ada suami di rumah. Minggu lalu saat waspada Level 2, saya dan suami masih sempat makan keluar dua kali di restoran-restoran dekat rumah karena kita berpikir, kita harus ikut mendukung bisnis lokal jangan sampai mati. Minggu ini sudah masuk Level 4, kita sudah pasti full makan di rumah. Semoga restoran dan kafe-kafe jangan sampai gulung tikar deh, karena kita sekeluarga hobinya wisata kuliner. Perbedaan yang terasa adalah, anak-anak jadi maunya ganyem melulu. Jadi snack harus selalu tersedia di rumah. Apakah setelah lockdown ini berat badan bakalan ngembang semua? Kita lihat 4 minggu lagi ya hehehe.

Satu yang saya salut adalah sikap dan ketenangan dari Perdana Menteri kami Jacinda Ardern. She's fabulous! Setiap hari dia wara wiri di televisi untuk menginformasikan keadaan negara ini dengan tegas dan sangat jelas. Kami sebagai warga merasa sangat terbantu sekali dan merasa  tenang dengan kepemimpinan beliau yang penuh dengan empati, kebaikan, dan kepedulian untuk seluruh warganya. Kebayang dia masih punya seorang anak usia kurang dari dua tahun di rumah, tapi harus menghadapi segala persoalan negara ini, mulai dari terorisme di Christchurch tahun lalu, berbagai bencana alam, dan kali ini wabah Virus Corona, namun dia bisa tetap menjaga profesionalitas sebagai seorang pemimpin negara. Jacinda, I salute you, we salute you!

Untuk teman-teman di Indonesia, ayo dukung juga pemimpin kita, beliau juga sedang berusaha keras memikirkan apa yang terbaik untuk bangsa. Kebayang betapa beratnya jadi seorang Jokowi yang dihadapi tekanan mulai dari wabah ini, sampai isu politik, dan kemarin dia harus kehilangan ibunda tercinta. Bahkan pemakaman ibunya pun dilaksanakan terburu-buru supaya beliau bisa segera kembali ke Jakarta demi KTT G20 online dari Istana. Kalau masih ada yang mencibir, tolong pikirkan apa yang sedang Presiden kita rasakan. Saya juga menyadari salah satu hal yang membuat keadaan di Selandia Baru menjadi terkontrol adalah dukungan masyarakat yang begitu besar terhadap pemimpinnya dan segala keputusannya. Bangsa Indonesia juga punya pemimpin yang baik, tinggal bagaimana  kita bisa mendukung beliau.

Salah satu cara menjaga bangsa kita adalah dengan gerakan "di rumah aja". Untuk teman-teman yang bisa melakukan itu, ayolah lakukan. Banyak teman-teman kita yang terpaksa harus bekerja karena situasi tidak memungkinkan, dan kesempatan untuk tinggal di rumah itu, harusnya disyukuri. Begitu kita berkeliaran di luar, kita bisa terkena virus, dan yang lebih menyedihkan lagi, kita bisa jadi pembawa virus yang membahayakan keluarga kita sendiri. Therefore, please, stay at home if you can. Dukunglah teman-teman medis, jangan sampai mereka kelelahan karena banyaknya pasien, dan sampai meninggal karena tertular virus. Kita sudah banyak kehilangan putra putri terbaik bangsa. Dengan diam di rumah kita bisa membantu memutus rantai penularan virus. That's the easiest thing to do. Bisa kumpul dengan keluarga inti kita, bisa makan bareng, nonton bareng, main bareng, bisa melatih kesabaran dengan ngajarin anak-anak ( hihihi...sambil misuh-misuh sesekali...it's okay), intinya, di saat kayak gini, kita malah bisa jadi pahlawan dengan diem gegoleran di rumah! What a day to be alive! Ayo teman-teman, kita berusaha semangat, berpikir positive, berusaha sebaik yang kita mampu termasuk dengan diam di rumah, dan terus berdoa untuk kebaikan dunia ini. Makin cepat kita putuskan rantai penyebarannya, makin cepat kita bisa berkumpul dan berpelukan lagi dengan keluarga dan teman-teman yang kita kasihi.

13 comments:

  1. Haiii, sy Natalia, selama ini silent reader blognya, seneng baca2 kesehariannya, seru dan membumi sekali. Ternyata disana Covid juga sdg mewabah, semoga keadaan bisa segera membaik ya. Saya seneng baca2 pengalaman langsung dari LN, dan utk tulisan cik Leony yg ini, boleh gak ya sy copy linknya utk di share? Tentunya sy kasih keterangan juga bahwa ini copas. Harapannya tulisan ini bisa menginspirasi dalam menghadapi pandemi Covid 19. Trims sebelumnya ya, stay at home and stay health��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, sy ralat, bukan copas tapi share����

      Delete
    2. Hi Natalia, boleh share linknya, untuk kasih tau teman-teman juga ya, sebenarnya lockdown itu seperti apa supaya nggak salah kaprah.

      Same goes to you, semoga sehat selalu.

      Delete
  2. disini juga gak boleh evict renter nih kalo mereka gak bayar. tapi banyak yang protes karena skrg emang gak apa gak bayar rent tapi nanti in 6 months mesti ngejar bayarannya. yang living paycheck to paycheck gimana mau bayar tunggakannya.

    tapi ya dilema, yang landlord nya kalo renter nya gak bayar, gimana bayar mortgage nya.

    emang gara2 corona ini semua jadi serba salah dah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di sini kayaknya lu bisa approach ke bank dan jelasin situasinya. Dan pasti pemerintah udah mikirin plannya. So far sih di sini lockdownnya 4 minggu. Jadi plannya lebih jangka pendek. Kalau jangka panjang pasti udah ada plan lagi. Plus kayaknya di US kalo liat cerita lu gak total lockdown ya? Masih ada pizza deliveries. Kayaknya sih ketertiban manusia jg akan mempengaruhi sampe berapa lama lockdownnya berlangsung.

      Delete
  3. Gua juga mikir kalo Indonesia atau paling engga Jakarta lockdown, gua rasa bisa rusuh. Karena banyak rakyat kecil yang mikir hari ini yang penting bisa makan, jadi manalah sempet mikirin corona. Bahkan untuk test pun mereka juga belom tentu bisa, padahal tingkat mereka terpapar jauh lebih tinggi ya.

    Gua berharap banget situasi ini segera membaik deh. Kasian yang pada bisnis, omsetnya jadi turun. Kalian juga stay healthy ya disana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, orang2 yang kerja serabutan itu gimana nasibnya kalau lockdown. Ngeri kayak di India pada kelaparan. Soal terpapar, selama nggak bisa social distancing dengan bener, siapapun bisa kena. Memang bener2 harus jaga diri.

      Business yg ada deliverynya malah tambah maju loh Mel. Si Jeff Bezos malah naik tuh kekayaannya. Hebring dah.

      Delete
  4. Yang dibilang Ci Mel itu yang aku pikirkan (dan sempat jadi ketakutan sendiri) kalau kota-kota besar Indonesia melakukan lockdown. Kalau dari apa yang kuliat dari sosmedku ya, banyak warga kalangan menengah ke atas gemes dengan pemerintah yang lambat terus mendesak untuk lockdown seperti yang dilakukan di beberapa negara. Padahal kalo mereka ngerti lockdown itu sebenarnya kayak apa, mungkin mereka nggak akan nyalahin pemerintah terus. Praktik social distancing dan PSBB aja masih banyak yang bandel, apalagi sampai lockdown kayak di Wuhan huhu

    Btw, kalian sehat-sehat yaa di sana. Stay safe!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keadaan sosial ekonomi Indonesia beda banget dengan negara maju. Edukasinya pun ngga merata. Kalau dipaksain, yg ada bisa chaos. Pembagian jatah sembako aja udah repot kan? Stay safe and healthy for all of us ya, Jane.

      Delete
  5. Hola cici! Saat ini saya sedang mengalami WFH/Quarantine Day 44. Rambut sudah gerah pengen ke pangkas rambut, belanja pun sekarang 95% mengandalkan online, untungnya jaman sekarang apa-apa bisa dionline-kan. Sangat kangen untuk ngantor lagi sih hahaha..

    Sepertinya di Indonesia masih belum akan terlihat kapan bakal selesai. Masih banyak sekali warga yang tetap keluar seperti biasa, ngumpul2 bahkan jalanan masih ramai dengan mobil & motor :(

    Worry semakin lama PSBB maka kondisi ekonomi semakin suram, ujung-ujungnya bisa krisis ekonomi :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola, Nick! Lama nggak berkabar. Buat rambut yang gerah, beli clipper aja, terus botakin sendiri hihihihi. Worst case scenario, gundul! Tar tumbuh lagi deh. Di sini cici lebih prefer grocery langsung, biarkan yg online slotnya untuk orang-orang yang lebih butuh (lansia dll). Nyaman sih di sini grocery langsung, nanti mungkin cici share di post sendiri (kalau sempet).

      Ekonomi di sini pun terasa jauh lebih lesu, tapi memang kesadaran manusianya yang paling penting. Nah di Indonesia itu kenapa nggak beres-beres, karena kesadaran rendah (kadang masih pakai tameng agama buat ngumpul dan "nantang" Tuhan), dan memang hidupnya juga sulit, sehingga mengisi perut jauh lebih penting daripada keselamatan diri dan sesama.

      Delete
    2. Iya ci, aku lama tidak blogwalking setelah kelahiran anak2..nanti deh aku coba posting especially tentang quarantine day.

      Ide bagus tuh untuk share tips belanja groceries dimasa pandemi begini.

      Ini yang gemas adalah masyarakat indo pada bener-bener ga perduli beginian, yang nyoba mudik masih puluhan ribu, kemarin McD sarinah tutup saja pada ngumpul, ampun dehh..

      IKEA alam sutera diserbu pengunjung sampai akhirnya tutup, miris ga sih. Ini krisis beneran didepan mata T_T

      Delete
    3. Udah berapa nih anak Nick? Or kembar kah? Langsung rame? Emang sedih banget sih lihat di Indonesia. Lebih mentingin beli baju lebaran daripada nyawa. Bener-bener entah dimana pikirannya.

      Delete