Thursday, February 13, 2020

Abby Dan Tilly Tamasya Ke Bay of Islands

Ini postingan udah super overdue banget! Kejadiannya pas bulan April 2019 pas mama saya lagi datang liburan ke Auckland. Ke Bay of Islands alias Paihia dan kawan-kawan ini juga bukan kali pertama buat kami sekeluarga, lebih tepatnya sudah yang kali ke empat untuk Abby, dan kali kedua untuk Tilly. Ketiga sih buat Tilly kalau dihitung pas dia di dalam perut. Cerita kali pertama kita ke Bay of Islands bisa dilihat di sini, sini, dan sini. Tapi untuk trip kali ini ada satu tempat baru yang kita kunjungi dan sangat bersejarah untuk Selandia Baru yaitu Waitangi Treaty Ground, tempat pertama berdirinya koloni Inggris di negara ini. Museum dan pemandangannya keren banget! Kali ini nggak usah detail-detail banget deh ya ceritanya, yang penting memorynya tetap kesimpan, terutama tingkahnya anak-anak yang lucu-lucu. Jadi inget di masa-masa itu, si Tilly masih belum bisa lepas dari empengnya hehehe. Kalau sekarang sih, empeng? Apa itu? Sudah lupa tuh! Yuk, kita ngapain aja pas ke sana? Silakan disimak.

Kamis, 25 April 2019

Perjalanan kita kali ini berlangsung 3 hari 2 malam, tepatnya saat liburan kejepit Anzac Day tahun lalu, 25-27 April 2019. Cuaca saat itu enak banget. Panas banget nggak, dingin juga nggak. Pokoknya ideal sekali untuk travel, apalagi untuk mama saya yang sesungguhnya gak terlalu tahan dingin. Perjalanan seperti biasa kita mulai dari Auckland menuju Whangarei untuk makan siang dan mampir Whangarei Falls, lalu lanjut ke tujuan menginap kita di Paihia.
Sebelum memasuki kota Whangarei, kita stop dulu di scenic spot sebelah motorway. Mendaki sedikit saja, lalu nampak pemandangan indah. Sayang cuaca hari itu agak berkabut. Kalau saja cerah, akan sangat jelas di belakang, bukit hijau terhampar luas, dan lautan yang nampak biru. Tapi gini aja udah bagus banget kan?

Mampir ke tempat langganan, Serenity Cafe di Whangarei Basin. Makanannya enak-enak semua. Ini Bacon and Mushroom Panini mama saya, saking enaknya sudah keburu dimakan setengah, baru sempat difoto.

Di sekat situ juga ada playground. Jadi one stop dapat semuanya. Lucu banget cuma naik beginian, gayanya si Tilly kayak beneran mau naik motor sambil nunduk-nunduk. 

Boat Quay, sungai yang tertata rapi untuk memarkir yacht, langsung mengarah menuju laut.

Wefie wajib setiap kali berkunjung ke Whangarei Falls. Dapat orangnya, dapat juga air terjunnya di belakang. 
Untuk dua malam itu, kita menginap di Pioneer Apartment, ya bisa dibilang serviced apartment lah ya. Sebenarnya mau nginap di tempat biasa yaitu Waterfront Suites, tapi sayangnya unit yang kita mau sudah keburu ludes. Maklum lagi tanggal merah. Di Pioneer ini, kita ambil waterfront penthouse yaitu unit paling atas yang menghadap langsung ke laut. Gedungnya sendiri sudah termasuk gedung ya tua namun sangat terawat. Pemandangannya juga oke banget! Apalagi kalau nongkrong di balkon. Kekurangannya, gara-gara kita ambil unit yang penthouse, lokasinya itu di lantai 3, dan nggak ada lift dong! Selain itu, di Pioneer ini, kalau kita nginapnya lebih dari 4 hari, baru roomnya bakalan dirapihin. Jadi beneran lebih ke apartment, bukan hotel. Padahal harganya nggak murah-murah amat loh, kalau nggak salah hampir $400/ malam. Anehnya, tempat ini reviewnya bagus banget, karena ownernya ramaahhh banget, dan memang unit-unitnya termasuk sangat bersih.

Ada yang super happy banget, manjat kursi dan langsung menikmati pemandangan.

Popo juga seneng banget deh jalan-jalan sama cucu. Duh si Tilly pahanya mantep deh ya!

Bapak sama anak lagi sok manis banget!

Pemandanan dari balkon, langsung ke arah pantai.

Guling-gulingan di karpet sambil makan pisang.

Kalau dari dalam kamar tadi pemandangannya laut, sisi satunya pemandangannya gini nih. Ada kolam dan jacuzzi. Asik deh, sore-sore kita bisa relaxing sambil berendem. 

Blub blub blub. Yang kecil ini seneng banget main air. Sore itu cuma saya, bapaknya, sama Tilly aja yang masuk kolam. Si Abby gimana? Takut sama air yang pakai pressure. Ampun deh, padahal les renang mah udah lumayan jago. 

Tapi malah maunya renang di bathtub yang sama juga pake jet. Lah apa bedanya dek? Gaya pula, di dalam tub masih pake kacamata renang.
Malam itu kita dinner di Jimmy Jack's Ribs, tempat langganan tiap kali ke Paihia. Kali ini gak usah pajang fotonya ya karena udah pernah juga. Kita pesan 2 slab bbq pork ribs, chicken wings, calamari salad, seafood chowder, dan kids meal untuk anak-anak. Entah kenapa, hari itu rameee banget, sampai susah dapat kursi, sekalinya dapat di belakang banget dan kipas anginnya bikin masuk angin. Untung makanannya tetep enak.

Gak boleh liat objek lucu-lucu, anak ini pasti minta foto. 

Lanjut makan di hotel gara-gara di restoran malah pules blek kecapean abis berendem dan ngga makan. 
 Jumat, 26 April 2019

Rencana hari kedua ini, kita mau naik ferry ke Russell yaitu ibu kota pertamanya NZ, kemudian lanjut untuk naik Dolphin Cruise dan melihat Hole on The Rock. Pas waktu saya hamil sebenarnya sudah pernah, tapi ombaknya lagi kurang bersahabat saat itu sehingga saya muntah-muntah gak karuan, in fact 1/3 dari peserta cruise pada muntah semua hehehe. So, kali ini coba lagi! Nah, sayangnya kali ini dengan harga yang semakin mahal, itinerarynya malah dikurangi. Kalau dulu ada stopover di Urupukapuka Island, kali ini sudah nggak ada lagi. Jadi durasinya hanya 3 jam saja PP. Biayanya $120 per dewasa, dan $60 untuk anak-anak usia mulai 5 tahun. Di bawah 5 tahun alias Tilly masih gratis.

Berpose dulu di dermaga sebelum naik ferry ke Russell. Naiknya cuma 15 menit aja kok. 

Cucu dan poponya lagi gaya di dalam ferry. 

Anak-anak, pasti selalu seru lihat pemandangan. 

Gereja tertua di Selandia Baru. Sampai sekarang masih beroperasi dan terawat. 

Popo, kompak dengan bunga, sama-sama pink!

Anjing sama Tilly, jauh gedean anjingnya, tapi ini anjing ramahnya bukan main loh! Tilly aja sayang banget, habis ini dielus-elus anjingnya sama Tilly. 

Monumen untuk mengenang para pahlawan dari NZ yang meninggal di medan perang. Ada beberapa perang yang tercatat, salah satunya di Borneo alias Kalimantan.

Pose sekeluarga berempat. Tau kan jadinya siapa yang paling banyak gaya? 

Si Abby pasti turunan dari poponya. Liat aja, jauh lebih hebring gayanya daripada saya. Posenya beraneka ragam.

Tuh kan, pose merentangkan tangan kayak burung.

Pose jempol, sign of approval. 

Dan ini adalah turunan langsungnya. Minta ampun posenya.

Hone's Garden, tempat kita makan siang. Dari dulu pingin ke sini, penasaran mau coba. Gerbangnya cantik banget dengan berbagai succulents. Itu tanaman hidup semua loh!

Ini suami, memfoto istrinya dalam keadaan mulut super penuh. Ampun deh! Di sini kita pesan Pizza, Calzone, Fish and Chips, dan Calamari. Semuanya enak-enak! Apalagi buat yg suka pizza, di sini pizzanya wood fired. 

Lanjut lagi foto-foto di depan Russell Museum.

Kiri kanan banyak gaya, tengah kaku kayak papan. 

Kapal penangkap ikan paus di masa lampau. Di kiri itu ada jangkar dan tombaknya. Jaman dulu ikan paus diburu untuk diambil minyaknya sebagai BBM. 

Bandit asal Indonesia yang tertangkap. 

Sekitar pukul 1.40 siang, sampai juga nih kapal Dolphin Seeker yang mau angkut kita untuk dolphin cruise. Ini adalah kapal yang sama yang kita gunakan untuk cruise di tahun 2017 lalu.

Dolphinnya kali ini lebih banyak, tapi tetep aja nggak terlalu banyak dan malu-malu. Kalau cruise ini cuma khusus untuk lihat dolphin sih... RUGI! Hahaha. 

Biarpun begitu, anak ini senangnya bukan main! Makanya dia sudah pesan dari sebelum berangkat, kalau di hari kita cruise, dia mau pakai kaos gambar dolphin. Sampe sebegitunya!

Ada satu pulau kecil yang ternyata tempat ngumpulnya koloni seal (anjing laut). Kalau diperhatiin, itu semua mereka lagi pada tidur-tiduran, menyatu dengan warna karang. Lalu di atas yang putih-putih itu apaan? Itu semua adalah.... kotoran burung hihihi. 

Horeee! Kelihatan juga tuh Hole in The Rock sebagai tujuan utama kita. Kalau dulu, kita gagal untuk masuk ke dalam lubangnya karena cuaca buruk. Kalau hari ini gimana? Apakah akan berhasil?

Foto dulu berpose sebelum mendekati karang bolong. 

Dan karena cuaca bagus, akhirnya kita berhasil masuk melewati karang bolongnya. Horeeee!!

Suasana kapal melintas di bawah karang, sementara si Tilly molor terus daritadi dengan enaknya. Nikmatnya jadi anak-anak. 

Foto lagi setelah keluar dari lubangnya.

Dan akhirnya, ada foto berlima, walaupun yang satu cuma keliatan sepatunya doang muncul dari balik jaket merah.

Wefie kocak dengan rambut berdiri ala anak punk.

Apa ada yang mau tinggal di rumah satu-satunya di pulau itu? Katanya sih justru laku banget loh disewain! Orang semua penasaran! Tapi mau ke situ harus ngedaki dulu.

Ini anak emang hobi banget sama yang namanya angin. Makanya kebanyakan dia nangkring di luar. Sementara emaknya sudah masuk ke kabin lantaran ngeri masuk angin. 

Hebatnya anak kecil ini, sudah sampai ke daratan lagi, dia masih tetap lanjut molor! Luar biasa!

Popo dan cucu bergaya sok santai di depan wharf.

Kalau ke Paihia, jangan lupa harus mampir beli gelato di Cellini's. Yang kiri mango sorbet, yang kanan affogato. Rasanya seger!

Setelah kemarin anak ini nggak berani masuk jacuzzi, akhirnya hari ini mau juga! Hihihi.

Foto di dalam ikan paus yang nangkring di gang. Kalau lihat postingan lama dulu, dia kakinya ngegantung pas nangkring di whale ini. Sekarang sudah napak hehe. Cepet ya nambah tinggi.
Malam itu kita dinner di restoran Thai yang paling terkenal di situ, namanya Amazing Thai. Selama ini kita selalu makan western food kalau ke Paihia, dan kali ini mau coba yang lain. Tadinya mau coba makan di Greens, restaurant Indian Thai yang paling terkenal di sana, tapi antrinya itu loh! Mana padat banget restonya. Akhirnya kita jadi pindah ke Amazing Thai dan kebetulan bisa langsung masuk. Tapi ya ampun, pelayanannya parah banget. Mau pesan lama, makanan nggak keluar-keluar sampai anak-anak mulai cranky, dan ketika datang pun, rasa makanannya mediocre. Padahal tempatnya lebih bagus dan lebih mewah daripada Greens. Pokoknya pengalaman makan yang nggak banget deh! Kita sih mikir, kalau gini terus, ini resto nggak lama juga bakalan tutup. Ehhhh, bener aja, pas kita balik bulan Desember lalu, udah tutup dong si Amazing Thai ini, dan digantikan oleh resto lain yaitu...eng ing eng... Greens! Greens jadinya pindah ke lokasi lama-nya Amazing Thai hahahaha.

Sabtu, 27 April 2019

Hari ini tujuan utama kita adalah ke Waitangi Treaty Grounds, tempat paling bersejarah bagi rakyat Selandia Baru. Informasi lengkap mengenai tempat ini, bisa dicek di websitenya langsung. Di tempat ini, kita belajar mengenai bagaimana bangsa Inggris memulai koloninya di NZ, kemudian bersatu dan bersama-sama membangun Selandia Baru yang kita kenal sekarang ini. Di tempat ini kita bisa melakukan small walking tour, dan juga bisa menonton pertunjukan khas Maori di jam yang ditentukan. Karena kita pingin dapat semuanya, kita datang lebih pagi setelah check out, main ke Museumnya, ikut guided tournya, makan siang di cafenya, lalu nonton pertunjukannya. Setelah itu acara bebas. Asli, kalau saya pergi tanpa anak-anak, saya mungkin akan menghabiskan waktu lebih lama lagi di dalam museumnya, karena menurut saya museumnya keren!

Pintu masuk Waitangi Treaty Grounds. Untuk pengunjung umum harga tiketnya $50 per dewasa. Untuk penduduk NZ harganya $25 per dewasa (tinggal tunjukkan ID), dan untuk anak-anak gratis sampai usia 18 tahun. Masuk museum harga segitu mahal gak? Nggak! Worth the experience!

Suasananya dibuat temaram, display-displaynya sangat jelas dan menarik. 

Yang kerennya, selain suasananya bagus, adem, barang-barangnya pun rata-rata asli! Bukan seperti Martime Museum di Singapura yang semua barangnya adalah replika. Selain itu juga ada pertunjukan film, asli deh kalau punya banyak waktu, nongkrong di sini itu asik sekali!

James dan Agnes Busby ini, bisa dibilang penduduk Inggris perdana yang bermukim di NZ, dan di gambar itu adalah denah rumahnya. Nanti di akhir perjalanan, kita akan beneran masuk ke dalam rumahnya. 

Manis amat ya di sini, padahal aslinya hingar bingar hahaha. 

Walking tour kita segera dimulai. Setiap orang akan mendapatkan headset, jadi nanti guidenya akan memimpin walking tour dan kita bisa mendengar omongan beliau dari headset tanpa perlu dia teriak-teriak. FYI, guide kita hari ini last namenya juga Busby loh. Dan dia adalah turunan Busby entah ke berapa yang menikah dengan orang Maori. 

Di belakang itu adalah Waka alias perahu perang orang Maori. Ini adalah salah satu Waka terbesar yang masih disimpan sampai sekarang, dan setahun sekali di setiap perayaan Waitangi Day (6 Februari), Waka ini akan benar-benar didorong ke laut dan digunakan untuk acara seremonial. Satu Waka ini bisa memuat lebih dari 80 laki-laki, dan terbuat dari 1 batang pohon raksasa. Luar biasa! 

Abby aja terkagum-kagum. 

Turis Indonesia bergaya.

Kemudian kita menyusuri jalan dan mendaki sedikit. Itu di belakang saya ngedorong stroller, mayan ngos-ngosan juga tuh hihihi. 

But the viewwww! Oh my my, the view from the top is amazing! 

Dan di situlah lokasi rumah James Busby yang masih terpelihara. Kebayang nggak sih, bangun pagi, pemandangannya kayak tadi itu! Setelah diterangkan sedikit soal rumah ini, kita memutuskan untuk makan siang dulu, karena mengejar waktu untuk pertunjukan tradisional Haka.

Cafe di dalamnya, jadi lokasinya agak balik ke arah keluar dulu. Asyik ya suasananya santai. Harga makanannya juga wajar. Nggak kayak di beberapa tempat yang suka matok harga seenaknya untuk tempat wisata. 
Ini gaya apaan sih? Makan chicken pie aja gayanya berlebihan!



Setelah makan, kita balik mendaki laki menuju ke Marae (rumah traditional Maori) sambil melewati pemandangan yang menyejukkan mata. 

What a beautiful sight! Langit biru, awan bergulung-gulung, laut dan gugusan pulau-pulau kecil di depannya. 

Sampai di depan Marae, kita disambut dengan tarian tradisional penyambutan. Salah satu di antara pengunjung ada yang didaulat jadi kepala suku. 

Tari dan lagu yang dibawakan live tanpa sound system, tapi suara mereka-mereka ini memang dahsyat semua! Ditambah lagi mimik wajahnya benar-benar bersemangat.

Ketemu yang kayak gini di jalan, serem juga sih hahaha. Oh iya, entah kenapa walaupun cuma sebentar, pertunjukkan di sini bisa dibilang bagus banget dan penuh energi dibandingkan di tempat wisata yang lebih mainstream seperti di Rotorua misalnya. It was truly an enjoyable afternoon!

Berfoto dulu di depan Marae.

Nah kelihatan ya Marae itu seperti apa. Kalau masuk ke dalam, kita semua tidak ada yang boleh pakai alas kaki. Kondisi Marae-nya sangat terawat dan bersih. 

Sudah sampai di situ, tentunya tidak kami sia-siakan kesempatan berfoto dengan para penari. Tapi kayaknya yang paling menjiwai di foto ini selain para penari kok cuma saya ya? 

Turis Indonesia, foto sambil julurin lidah dulu biar sah. Tapi ya tetep aja matanya sipit nggak bisa melotot hahahaha.

Sekarang, marilah kita explore rumah James dan Agnes Busby.

Ya ampun rumah ini super duper terawat! Catnya kinclong, bersih, tamannya juga bagus!

Bagian dalamnya dijadikan galeri seni. Restorasinya benar-benar ciamik. 

Kamar lengkap dengan ranjang aslinya. Ada juga crib bayi yang semua masih dalam kondisi prima. 

Di meja ada diorama rumah ini dan lingkungan sekitarnya, tembok, kusen, jendela, semuanya cantik banget.

Kalau tidak salah, ini adalah extension rumahnya yang dibangun belakangan, supaya ada area pertemuan dan tempat memasak, juga kamar pembantu. 

Tilly aja seru sendiri main pencet-pencet touch screen. 

Foto sekeluarga untuk kenangan sebelum pulang. 

Nyusu dulu dengan pemandangan rumput hijau dan laut di depan mata. 

Ini entah kenapa, kok si Tilly mukanya geli sendiri. Gemeeesss!! 

Cici sama dede main kejar-kejaran di lapangan luas.

Asyik banget bisa lari-larian sepuas hati.

Pake cengdem, tapi juga pake empeng. 

Malah main bareng bertigaan sama anak lain.

Puas-puasin dulu, biar di jalan langsung blek tidur. Kenapa si Tilly mukanya kayak anak cowo ye di sini?
Sehabis dari Waitangi Treaty Ground, kita sempat stop di Wellsford untuk isi bensin dan nyemil di McDonalds di pusat perbelanjaan di situ (kemudian menyadari kalau nggak ada orang Asia lain selain kita... hahahaha). Dan setelah total perjalanan 3 jam, sampai juga kita di Auckland. Gak afdol rasanya kalau kita nggak mampir dulu makan Chinese Food di tempat langganan kita yaitu di Fulin Kitchen. Kalau mampir ke sini, selalu ada 2 menu wajib yang dipesan sama bapaknya Abby dan Abby yaitu: Combination Roast Pork dan BBQ Pork, plus Sweet and Sour Pork. Cuma saya aja yang pesennya suka ganti-ganti. Kalau mereka berdua, sama terusssss!

Sharing seafood soup berdua mama.

Gayamu, Nak! Padahal mangkoknya kosong.
Nah segitu aja ya cerita jalan-jalan kita yang super basi, biar nggak lupa, sekalian untuk kenangan buat anak-anak. Untung belum setahun ya, kalau ngga bisa udah anniversary tuh hahaha. Habis ini saya masih mau susul cerita liburan kita Oktober lalu ke Tauranga, lengkap dengan cerita mendaki Mount Maunganui yang bikin mau pingsan. Penasaran? Tungguin aja sampai saya ada waktu lagi hihihihi. Oh iya, sebelum lupa, saking cintanya kami dengan Paihia, Desember 2019 lalu kami balik lagi untuk yang kesekian kalinya, barengan dengan papi mami mertua plus ipar saya. Nanti kalau sempat ditulis juga deh. Sampai di sini dulu cerita Abby dan Tilly Tamasya kali ini, sampai ketemu di cerita liburan selanjutnya!

No comments:

Post a Comment