Sunday, April 14, 2019

Dua Minggu Yang Berat Untuk Abby

Kali ini boleh ya cerita yang kurang enak, tapi ingin saya abadikan sebagai kenangan untuk Abby. Ceritanya dimulai tiga minggu lalu, di hari Sabtu yang cerah, tanggal 23 Maret 2019. Hari itu karena cuaca sangat bagus, kami sekeluarga pergi ke daerah Browns Bay, untuk makan di sebuah restaurant BBQ. Setelah makan siang yang nikmat itu, kami lanjut main ke pantai, ngopi, makan es krim, pokoknya hari itu menyenangkan sekali deh. Sepulang dari Browns Bay, saya dan Abby masih mengerjakan project untuk sekolah Abby yaitu menghias kotak kue kosong, yang nanti akan diisi dengan hasil baking ortu masing-masing, lalu akan dijual untuk cari dana sekolah, dan akan dikumpulkan tanggal 29 Maret 2019. Hari itu kami semangat sekali membuat kotaknya, dan sore itu juga, project kolaborasi mama dan Abby selesai. Tentulah idenya dari mamanya, Abby cukup mewarnai dan menempel saja.

Seperti biasa, kerjaan saya kalau bikin sesuatu, pasti dicoret-coret dulu sembarangan di kertas. 
Dan inilah hasil akhirnya. Bulu burung kiwinya itu dari kertas krep foil emas, dibeli di toko craft yang murah meriah, paruh dan air matanya modal gunting dari buletin sekolah Abby. Kenapa kita pilih konsep ini, ya karena saat itu kira-kira semingguan setelah peristiwa penembakan di Christchurch terjadi. Abby bilang ke saya, kalau dia mau boxnya temanya untuk Christchurch, plus dia wanti-wanti bilang, "Jangan ada gambar gun-nya ya, Mama." Jadilah saya langsung kepikiran untuk bikin gambar ini, terinspirasi dari karya Shaun Yeo yang sempat viral saat kemarin itu. Abby bahkan sudah siap dengan cerita kenapa dia memilih tema ini. 

Manusia kan punya rencana, tetapi Tuhan yang menentukan. Sabtu sore itu, badan Abby mulai panas tinggi, tapi masih kita maintain terus dengan paracetamol. Makanan masih masuk ke badannya, tapi nafsu makan sudah mulai berkurang. Besoknya, di hari Minggu, kami sudah siap-siap mau ke gereja bersama. Tapi badan Abby masih hangat, dan mendadak kita lihat di tangannya muncul bintik merah berisi air. Saya langsung kepikiran, apa jangan-jangan Abby kena HFMD ya? Begitu kita buka badannya, ya ampun, ternyata titik-titiknya mulai banyak, dan kita hampir confirm kalau ini adalah cacar air. Tapi yang namanya hari Minggu, dokter yang buka cuma A&E unit saja (Accident and Emergency), antrinya bisa berjam-jam, dan biasanya dokternya selalu terburu-buru. Saya pikir, ya sudah lah kena cacar saja, gak perlu membuat si anak tidak nyaman dengan antri lama, cukup dimaintain dengan paracetamol, dan tidak kemana-mana. Siang itu, mau tidak mau saya harus berangkat ke gereja sendirian, karena proyektor gereja saya yang pegang. Toh Abby masih makan siang seperti biasa, jadi kita merasa semuanya aman.

Gelembung air yang langsung bikin kita was-was. 
Minggu sore itu, saya langsung kontak guru kelas Abby, memberitahu kalau Abby sepertinya kena cacar air, dan memberikan precaution, just in case ada anak-anak lain lagi yang kena.Ternyata eh ternyata, total 5 anak yang tumbang karena cacar termasuk Abby. Abby cerita kalau beberapa minggu sebelumnya, ada 1 anak yang kena cacar, dan kembali masuk ke sekolah walaupun badannya masih gatal-gatal. Lihatlah akibatnya, baru di kelas Abby saja sudah 5 yang tumbang karena itu, ditambah lagi dari kelas lainnya. Makanya bapak dan ibu yang anaknya cacar air, beneran deh tunggu dulu sampai anaknya lukanya benar-benar bersih dan kering. Kasihan kalau bawa virus ke anak-anak lain.

Malamnya, panas Abby naik lagi, dan dia betul-betul kehilangan napsu makan. Hampir tidak ada makanan yang masuk di badannya, dan yang lebih parah adalah, dia terus muntah setiap kita mencoba memasukkan makanan. Ini sakit apa sih? Cacar, tapi kok lambungnya bereaksi parah? Makan toast sedikitpun tidak kuat. Makin malam, Abby makin gelisah, minum paracetamol tidak bisa masuk, karena apapun yang masuk ke badannya dimuntahkan. Menjelang tengah malam, suhu badannya sudah di atas 40 derajat celcius. Tapi saya dan bapaknya berkeyakinan, badai pasti berlalu, dan memang lebih baik kita tunggu sampai pagi dan kita ke dokter langganan kita yang sudah kita kenal reputasinya. Abby hampir tidak tidur semalaman, dia mengeluh gatal juga karena cacar airnya, ditambah badannya dia panas bukan main seperti terpanggang, dan dia mengeluh badannya sakit semua. Orang tua-nya pun hampir tidak tidur karena Abby kesakitan.

Senin paginya, saya langsung telepon ke tempat praktek dokter langganan supaya Abby bisa diselipkan masuk tanpa appointment. Saat itu Abby sudah tidak kuat berdiri. Saya dan Abby ke dokter dengan menenteng ember, karena kami sungguh takut dia akan muntah lagi di jalan. Abby sungguh tidak kuat berjalan dan harus saya papah. Sampai di depan pintu klinik, kami langsung dibawa ke ruang terpisah, tidak gabung dengan pasien lain karena takut menular. Setelah diperiksa, ternyata selain kena cacar air, Abby juga kena secondary infection yang menyerang kulitnya. Saya baru tau, ternyata cacar itu ada sampingannya, termasuk infeksi. Jadilah hari itu Abby pulang lagi dengan resep obat muntah, antibiotik, dan paracetamol. Papanya Abby terpaksa ke kantor super terlambat, padahal dia ada training khusus dan bakalan ada ujiannya di hari Rabu. Benar-benar minggu yang berat juga untuk papa Abby.

Lemas tidak berdaya di ranjang dokter. Sampai pas nebus obat pun, saya tinggal dia di situ.
Sampai rumah, Abby langsung tidur pulas blas, dari siang sampai sore hari. Mungkin karena malam sama sekali tidak tidur. Puji Tuhan, obatnya sepertinya berfungsi baik, Abby sudah bisa mulai makan walaupun cuma sedikit-sedikit. It's better than nothing, right? Obat antibiotik sudah mulai diberikan, dan kita berharap semuanya akan berangsur-angsur membaik, sama seperti orang yang kena cacar pada umumnya. Itulah yang kita kira.

Lagi-lagi perkiraan kita salah. Malam harinya, mata kanan Abby mulai terlihat membengkak. Kita pikir, mungkin sekedar bengkak biasa. Selama anaknya terlihat baik-baik saja, kita pikir tidak perlu terlalu khawatir. Tapi ternyata, besok paginya, bengkak matanya semakin parah, dan kita memutuskan untuk kembali lagi ke dokter. Kali ini saya pergi bertiga dengan Tilly dan Abby karena papanya sudah di kantor. Dokternya sendiri super bingung, karena Abby terkena infeksi lanjutan yang menyerang mata. Anehnya, Abby ini kan sudah minum antibiotik ya, kok masih bisa diserang oleh bakteri? Beruntunglah kita pergi ke dokter yang tepat, langsung beliau kontak rumah sakit, supaya Abby bisa langsung dapat slot untuk... eng ing eng... dimasukkan antibiotik langsung via infus. Langsung saat itu juga, kami diberikan surat referensi untuk berangkat ke rumah sakit, dan langsung masuk ke emergency. Bagaimana dengan Tilly? Terpaksa saya meminta papanya pulang, dan melupakan training yang sedang dia jalani. Saya dan Abby langsung berangkat menuju ke rumah sakit, dan mengira kalau kita hanya akan beberapa jam saja di sana.

Kondisi mata kanan yang hampir tertutup, muka dan badan putih-putih karena dibaluri Calamine Lotion untuk mengurangi gatal-gatal cacarnya. 

Sogokan dari suster di sana, es loli rasa lemon. Padahal anaknya sudah dikasih salep anastesi di lengan dan tangan, untuk siap-siap dimasukkan jarum infus. Saat ini posisi sudah di kamar emergency yang isolasi, dengan kamar mandi sendiri di dalam.

Namanya anak kecil yang hobi baca, pas lihat ada buku di area tunggu, dia sudah kepingin nyomot, tapi nggak dibolehkan. Akhirnya susternya ngambilin dia buku untuk baca-baca selama menunggu di ruang emergency.

Ruang isolasi emergency, setiap ada suster yang masuk, bahkan hanya untuk 2-3 menit saja, mereka harus melapisi badan dengan jubah lengkap dan masker. Rasanya selama kami di situ beberapa jam, sudah belasan jubah dibuang cuma untuk mengunjungi Abby.
Ternyata proses pemasangan jarum infus untuk anak sebesar Abby, tidak semudah yang kami bayangkan. Awalnya ada dua suster, ditambah dengan saya untuk proses tersebut, ternyata gagal maning! Anaknya berontak, teriak, nangis ketakutan. Akhirnya dipanggil lagi dua suster tambahan, jadi total ada empat suster, plus saya juga, dan pada akhirnya, jarum infus berhasil dipasang. Gimana caranya supaya anaknya terdistraksi? Tutupi tangannya dengan buku, dan suruh anaknya baca terus bukunya, plus dipegangin.

Muka nelangsa, sehabis dipasang jarum infus. Biarpun begitu, buku masih tetap dipegangin. Kasihan banget lihatnya. 
Lagi-lagi perkiraan saya soal beberapa jam saja di ruang emergency itu salah lagi. Ternyata, Abby harus diopname di rumah sakit untuk dipantau antara 24 sampai 48 jam, untuk dilihat apakah antibiotik yang diberikan cocok atau tidak. Jadilah saya kasih tau bapaknya kalau dia harus drop baju dan toiletries untuk saya dan Abby, plus kalau bisa membawakan makanan kesukaan Abby. Biarin deh junk food, yang penting anaknya happy.

Sore-sore, anaknya lapar berat, kami masih di ruang emergency. Pergi ke kantin, adanya makanan super sehat yang dijamin ga disukai anak-anak. Akhirnya ke vending machine, lagi-lagi adanya cuma snack sehat yang belum tentu anak doyan. Untung masih ada popcorn. Kayaknya ini popcorn paling mahal yang pernah saya beli. 20 gram saja (plus angin di kantong), harganya 3.5 dolar hahahaha. 

Nah, ini kayaknya yang bikin mahal, plus mark up di rumah sakit karena tidak ada pilihan.
Akhirnya, sore itu kami pindah juga ke ruang rawat inap, dan karena Abby sakit cacar yang dianggap sangat menular, kami berdua masuknya ke ruang isolasi khusus. Abby sama sekali tidak boleh keluar-keluar, saya pun boleh keluar sebentar saja hanya untuk kebutuhan krusial seperti ambil air minum, atau ketemu suster. Yang lebih menyedihkan lagi, adiknya sama sekali nggak boleh masuk nemui cicinya, dan bapaknya hanya boleh ketemu sebentar saja karena dianggap bisa membawa virus keluar dari ruangan.
Akhirnya masuk kamar rawat inap juga, Pengalaman perdana Abby menginap di rumah sakit. Tadinya dia lumayan sedih, tapi saya bilang saja, anggap di sini adalah hotel, punya kamar mandi sendiri, dan Abby harus mencoba untuk menikmati tinggal di sini. 

Biarpun ruangan isolasi, namanya di bagian anak, jadi temboknya penuh dengan sticker. Ada TV kecil yang digantung di atas. Anak-anak boleh request minta diputarkan DVD dari pusat. Ada listnya tersedia di situ. Beneran kayak di hotel kan? (Tapi males banget deh disuruh balik lagi ke situ). TVnya sendiri nggak ada remotenya (kata susternya karena suka dicolong... ternyata di NZ banyak orang klepto juga). Jadi tiap kali mau ganti channel, kita harus manjat pakai kursi haha. Nah, susternya wanti-wanti kalau saya jangan naik sendiri, tapi ngerepotin banget ya, kalau manggil suster cuma buat ganti channel. Toh susternya juga kudu manjat kursi, sami mawon. Kalau susternya yang oleng, lebih repot lagi nanti kekurangan tenaga medis. 

Precautionsnya dahsyat banget, padahal anaknya cuma cacar air. Ini pintu bagian depan ruangan isolasi. Jadi khusus ruang isolasi, pintunya dobel. 

Kebahagiaan luar biasa saat papa datang mengantar makanan kesukaan. 6 pcs Chicken McNugget, large fries dan soda. Biarin deh, khusus hari ini, dipersilakan makan junk food demi kebahagiaan anaknya yang sudah stress sakitnya gak kelar-kelar. Herannya, hari itu bisa ada kecelakaan di jalan tol. Biasa ke RS 10 menit saja, hari itu bisa 1 jam lebih. Si kentang sampai soggy lembek-lembek.

Kondisi sehabis mandi dan sebelum tidur. Lumayan udah segeran ya, kelihatannya?
Asli, malam itu saya hampir nggak tidur. Badan anaknya sumeng, dan dikasih paracetamol aja. Anaknya ngeluh kegatelan nonstop, tapi minta antihistamin aja harus nunggu keputusan dokter. Belum lagi di RS ini ketepatan waktunya minta ampun deh. Namanya kasih antibiotik itu jarak jamnya harus tepat. Jam 2 pagi ya dibangunin aja dong untuk masukin obat lagi. Jadilah sayanya tidur ayam doang, mana tidurnya di recliner gitu, dan reclinernya melejit-melejit melulu, dari posisi tidur jadi posisi duduk. Seandainya saja bisa bobok di ranjangnya Abby, mungkin lebih pules kali hahahaha.

Besoknya hari Rabu, pagi-pagi kami sudah dikunjungi humasnya RS, dan Abby dikasih sekantong arts and crafts material, katanya supaya nggak bosen. Sayangnya, anaknya tangannya lagi diinfus pakai papan, jadi ujung-ujungnya, saya yang disuruh ngerjain prakarya sama si Abby. Untungnya pagi itu Abby makannya tambah pinter, bahkan lunchnya yang cuma egg sandwich saja dilahap sampai habis. Padahal kata saya, rasanya sih... bleh... tapi apa boleh buat, adanya cuma itu, dan sangat bersyukur anaknya mau makan. Kata dia sih, "Karena mama suapin, jadi aku makannya bisa banyakan loh..." --> Ini mah modus anaknya minta disuapin lantaran tangannya pake papan infus. Puji Tuhan, setelah kunjungan dari dua spesialis anak, kondisi Abby dinyatakan membaik, dan sore itu juga, kami dipersilakan pulang. Jadi cukup meneruskan antibiotiknya secara oral di rumah. Horeee! Sehabis packing, cabut infus, urus admin, nebus obat, kami pun check out dari rumah sakit. Efisien banget kerjanya, dan super duper quick! Anaknya pun, langsung nagih makanan favoritnya lagi. "Ma, nanti sebelum pulang ke rumah, kita beli nuggetnya McD lagi ya? Please...." Ya udah deh, let's celebrate it with nuggets!

Kondisi terakhir sebelum pulang. Saya ngelihatnya, mata masih bengep kayak habis ditonjok, tapi dokternya optimis kalau ini sudah membaik. Di kepalanya penuh dengan bahan arts and crafts yang paginya dikasih. Udah mirip ondel-ondel belum?
Sore itu, kami makan nuggets dengan gembira di rumah. Lalu gimana nasib bapaknya yang terpaksa skip training berhari-hari dan seharusnya ujian di hari Rabu, yang berarti hari Abby keluar dari RS? Akhirnya papa Abby dapat dispensasi khusus, belajar di rumah dengan materi yang ada, dan melakukan testnya online selama 90 menit. Setelah saya balik itu, bapaknya baru bisa konsentrasi penuh belajar dengan bahan yang disediakan, tanpa bimbingan dari trainer sama sekali. Pukul 10 malam, dia ujian, tutup pintu kamar, tidak bisa diganggu gugat, dan kira-kira pukul 11.30 malam, dia ngabarin, kalau dia sudah lulus ujian. Puji Tuhan! Katanya beberapa hari kemudian trainernya sampai bikin postingan di account linked in, mengucapkan selamat kepada semua yang lulus training itu, dan bapaknya dimentioned khusus karena mengalami "unfortunate situation" namun masih tetap bisa lulus.

Berhubung saya tidak ingin Abby menyebarkan virus ke orang lain, saya sepakat menunggu sampai waktu yang tepat untuk Abby kembali masuk sekolah. Walau anaknya di rumah, saya tetap berusaha keep her updated with the homework and school work. Jadi saya tetap mengambil materi bacaan dari sekolah, lalu berusaha supaya Abby tetap membuat peernya, lalu mengirimkan balik ke sekolah. Untungnya ya di sini, peer anak cuma sedikit dan frekuensinya hanya seminggu sekali, jadi sangat tidak memberatkan untuk Abby. Masih ingat cake box yang kita buat di hari Sabtu lalu sebelum Abby sakit panas? Di hari Jumat tanggal 29 Maret 2019, saya tetap mengirimkan box tersebut di sekolah, sudah diisi dengan Apple and Raisin Turnovers, soalnya saya cuma sempat bikin itu. Sebenarnya gurunya bilang cukup kirim kotak kosong saja, atau kalau tidak sempat ya tidak perlu kirim boxnya sama sekali juga tidak masalah. Tetapi saya ingat banget spiritnya Abby, yang sungguh ingin berpartisipasi dalam event ini. Jadi walaupun anaknya sakit di rumah, saya tetap berusaha membawa spiritnya tersebut untuk ikut lomba. Minimal anaknya senang karena karyanya sudah diikutsertakan.

Tepat hari ke 12 setelah cacar Abby keluar, saya sepakat untuk kembali mengirimkan dia ke sekolah. Di sini patokan cacar itu 7 sampai 10 hari, jadi mendingan tunggu sampai betul-betul selesai supaya peristiwa penularan tidak berulang dan merugikan orang lain. Hari itu adalah hari Kamis. Pagi-paginya saat sarapan, Abby mengeluh kakinya gatal. Saya pikir karena digigit serangga, atau alergi kedinginan karena suhu sudah mulai turun memasuki musim gugur. Jadinya tetap saya kirim dia ke sekolah.

Pulang sekolah, gurunya lapor ke saya, kalau si Abby nonstop garuk-garuk bagian kakinya. Abby juga bilang kalau dia tidak tahan gatalnya bukan main. Saya bingung, cacarnya saja sudah sembuh, kenapa masih gatal-gatal? Saya telepon ke klinik dokter, kata susternya Abby cukup diberikan krim antihistamin saja, semestinya tidak ada masalah. Mau daftar dokter, katanya hari itu sudah penuh, dan katanya kondisi Abby tidak bahaya. Tapi sepanjang jalan, anaknya mengeluh gatal terus, sehingga saat itu saya sudah tidak konsentrasi menyetir. Gara-gara nggak konsen itu, saya malah dapat hadiah yaitu... nabrak pagar sendiri waktu mundur. Bye-bye mobil mulus. Untung ada asuransi. Tapi bedanya, asuransi di Indonesia kan per kejadian tuh deductiblenya cuma IDR 300 ribu, lah kalau di sini, per kejadian deductiblenya 500 dolar, kakakkkk.... Sedih aku tuh...

Nasib ya nasibbb... sejak saat itu, tiap saya mundur, saya bilang ke si Abby, "Diem kamu, jangan ribut!"
Duh, ini cerita kok jadi merembet kemana-mana ya. Hahahaha. Biarin deh, masih nyambung kok. Begitu saya buka kaos kakinya Abby, ya ampun, kok merah-merah semuanya! Pantes aja gatel. Anaknya langsung saya suruh mandi, lalu saya kasih krim antihistamin. Bukannya membaik, eh malah tambah parah, dan gatalnya nyebar kemana-mana, termasuk juga ke tangan dan ke punggung. Ada apa gerangan?


Gatal-gatal merah-merah seluruh kaki.

Dan ternyata telapak tangannya juga sama.
Bener-bener deh, kasihan banget si Abby ini, kok sakit nggak kelar-kelar. Karena menurut saya tidak wajar, akhirnya saya inisiatif sendiri, kirim email ke klinik dokter, disertai dengan gambar-gambar gatalnya. Nggak sampai setengah jam kemudian, dokternya langsung telepon saya, dia bilang Abby akan dikasih jadwal appointment pukul 6.30 malam. Dokternya pun berterima kasih karena saya berinisiatif langsung kirim  gambarnya sehingga dia bisa buat keputusan untuk kasih slot ke Abby. Saat itu bapaknya lagi di luar kota, sehingga si Tilly ikutan ngintil lagi ke dokter (dan sudah pasti ngegratak ruang praktek dokter). Setelah ketemu dokter, ternyata si Abby ini darahnya bereaksi keras terhadap pemberhentian dosis antibiotik, sehingga muncul merah-merah ini. Langsung deh diresepkan obat dewa alias prednisone alias steroid. Abby juga nggak boleh pakai kaos kaki ke sekolah, jadi balik lagi deh pakai sepatu sendal serasa musim panas. Puji Tuhan, ternyata obatnya cocok,  besoknya Abby bisa tetap ke sekolah seperti biasa.

Nah, berita gembira, ketika saya jemput Abby di hari jumat itu, semua anak sedang berkumpul di aula, dan mereka sedang melakukan pengumuman pemenang kompetisi cake box. Tebak siapa juara satunya dari tingkat kelas dua? Yes, si Abby! Ampun anaknya bangga setengah mati. Dia dapat hadiah dari sekolah, satu kantong yang isinya buku untuk sketching, bolpen glitter beberapa warna, pinsil, dan penghapus. Tapi senengnya kayak dapat emas 1 ons. Sepanjang jalan pulang, kalau papasan dengan orang di koridor, dia nyeletuk sambil pamer, "I won the cake box competition!". I guess there is rainbow after the rain. Gurunya pun ikutan senang dan bangga, dan bilang, "You see, Abby, when you are very well prepared, you don't need to worry." Untung yah, kita sudah selesai bikin boxnya sebelum Abby sakit, jadi Abby tetap bisa ikutan kompetisi. 

Jadi gitu deh, pengalaman si Abby, yang sudah jatuh, ketimpa tangga, sakit kok ora uwis uwis, tapi berakhir dengan indah. Asli, kalau anak sakit itu, hati rasanya lebih sedih daripada pas diri sendiri yang sakit. Langsung kebayang pas mama saya dulu nemenin saya berobat kesana kemari. Puji Tuhan, badai sudah berlalu, semoga Abby sehat terus, nggak ada penyakit yang mampir lagi. Yang terakhir, semoga berat badan dia yang nyusut, segera bisa naik lagi. Kasian, emaknya gendut, anaknya ceking, dikira jatah anaknya diembat emaknya semua hihihi.

36 comments:

  1. Hi Ci. Salam kenal, silent reader dr thn 2008 / 2010 hehehe.. Mau tanya, Abby sebelum sakit cacar air ini, udah pernah divaksin cacar air ? Saya pengen tau apakah anak yg sudah pernah divaksin cacar air akan ada kmgknan kena sakit cacar air tp tingkat parah .. Dulu anak saya udah pernah vaksin cacar air, wkt musim tmn2nya kena cacar air di skolah, anak saya jg ikutan kena jg cacar airnya.. Tp tingkatnya mild

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Vina, Abby kebetulan belum vaksin cacar. Pas jaman dia kecil di Indonesia, vaksin cacar itu bukan merupakan vaksin wajib, dan saat itu Indonesia betul-betul mengalami kelangkaan vaksin cacar. Saya sudah taruh nama untuk dapat giliran vaksin dari sejak Abby belum umur 2, tapi sampai kami pindah ke NZ saat Abby di umur 3, belum sempat terpanggil untuk vaksin. Selain itu, di NZ vaksin cacar juga tidak wajib. Baru wajib sejak pertengahan 2017 untuk usia anak 18 bulan, jadi Tilly sempat deh divaksin. Kalau sudah divaksin, bakalan mild saja dapatnya atau tidak dapat sama sekali.

      Delete
  2. Kasian bgt Abby, tp syukurlah udah sembuh ya.. btw Tilly ga ketularan ya? Udah divaksin kah bayi umur segitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, Tilly sudah divaksin untungnya, pas banget! Jadi dia gak ketularan, atau kalaupun dapat, dapatnya bakalan mild saja.

      Delete
  3. Le, ini adalah artikel terberat yang saya baca, ikut sedih liat kondisi Abby. Semoga Abby sehat terus ya..
    Btw, alisnya Abby sama persis dgn alis anakku seperti ulet bulu hehehe *maaf ya
    Salam sayang untuk Abby dan Tilly.
    Sierly-Bekasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, gak usah maaf. Memang punya anak dua-duanya alisnya tebal paripurna hahaha. Malah jadi aset deh, daripada alisnya botak.

      Delete
  4. Huhuhu aku pun ikut sedih rasanya liat Abby sakit, mana biasa liatnya ini anak ceria, kalo foto posenya lucu-lucu, ini malah nangis karena kesakitan T_T semoga sehat-sehat selalu ya Abby dan Tilly plus papa mamanya juga.

    Btw, si Josh liat foto Abby dia nanya, "Itu siapa?" aku bilang "Ini cici Abby namanya, lagi sakit," terus dijawab, "Ohh, cepet sembuh cici". Hahaha SKSD si bocah :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya Josh. Cici Abbynya sudah sembuh kok.

      Delete
  5. congrats abby udah menang cake box nya...
    sehat2 terus ya...

    ReplyDelete
  6. Hi Abby, sehat2 selalu yaaa.. congrats sudah menang kompetisinya, bagus banget!
    Kemarin Faith juga bulan Des kena cacar air mungkin lagi musim juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante Bonnita. Cacar air sih kalau sudah ada 1 aja di kelas yang kena, biasanya nyebar jadi wabah satu sekolah. Tapi bersyukur juga mereka dapat di usia muda. Lebih cepat dan bekasnya gak parah.

      Delete
  7. ya ampun liat muka abby pas abis dipasang infus itu jadi pengen ikutan nangis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, lihat foto itu inget sedihnya dia.

      Delete
  8. Maaf out of topic ya kak, aku lama gak buka2 blognya inge, trus ada yg tulis komen ky goodbye buat inge...boleh tau kenapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inge sudah passed away. Next time at least comment soal postnya dulu ya. Biar nggak nyamber aja gitu.

      Delete
  9. Owalah.... Liat foto-fotonya Abby yang matanya bendul sebelah. Kasian amaaaat. Syukurlah anaknya udah sembuh ya srkg.

    ReplyDelete
  10. Kasian bgt Abby sampai bengkak ke mata2nya.Untung udah sembuh ya sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Ngel, sudah sembuh. Waktu itu emang parah sih.

      Delete
  11. Syukurlah pada akhirnya selain reward berupa nuggets mcd, juara 1 cake box competition ya by :) Ci Le aku berasa Abby gadis banget sekarang ya ampun ampe kaget, apalagi liat dia pas terbaring di foto awal itu, kaget kok udah gede bangeeetttt. Dulu awal ngikutin blog ini masih bocah banget padahal. Kemana larinya waktu?? Hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktunya terbang pake pesawat supersonic, Liv. Iya Abby mayan tinggi jg soalnya, tapi ceking haha.

      Delete
  12. halo Ci leony, h minta alamat email untuk komunikasi terkait rencana kepindahan kami sekeluarga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, silakan buka blog saya di desktop mode, nanti ada contact formnya di situ dan bisa tulis saja ke saya. Thanks.

      Delete
  13. Mewek bacanyaa, duh Abby... semoga sekarang sih sehat-sehat terus ya sekeluarga. Puji Tuhan Tilly ga ketularan kan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurnya Tilly udah divaksin, jadi aman.

      Delete
  14. duuuhhh....emang sedih banget kalo anak sakit....sehat sehat terus ya Abby...and congrats for the soap box win!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante! Anak yang sakit, mamanya yang lemes.

      Delete
  15. Baca ini gado2 rasanya. Dari yg soal anak sakit gak kelar2 (karena bbrp x ngalamin juga, efek sakit A bisa ke B dan lanjut ke C lagi....huhuhuhu), jd ngerti banget rasanya. Eh tapi ceritanya berakhir indah. Asli jadi terharu...selamat ya Abby. Sehat2 selalu yaaa Abby dan Tilly. Amiinn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante Lisa. Amin, sehat selaluuuu.

      Delete
  16. Aduh Abby,jadi ingat kk fai waktu kena cacar, alhamdulillah sekatang sudah sehat sehat lagi ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puji Tuhan sudah sehat semua. Memang sebagai ortu, paling sedih kalau lihat anak sakit.

      Delete
  17. Ya ampun, sehat selalu abby, ci Leony dan keluarga. Memang lagi musim sakit kayaknya sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. THank you, dan next time kalau kamu ngiklan di sini, saya delete langsung ya.

      Delete
  18. kasihan banget Abby. tapi kayanya dia lmyan strong ya, masih doyan makan nugget and fries. iya bener klo anak sakit tu berasa langit gelap, smoga abby sehat2 terus abis ini yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si Abby ini untungnya semangat untuk sembuhnya tuh ada, dan ngga mau give up lawan sakit. Jadi mama bisa berkurang paniknya.

      Delete