Thursday, December 27, 2018

Renungan Natal Tahun Ini

Natal tahun ini, hati saya agak sedih. Membaca berita soal bencana tsunami yang kembali hadir disaat orang-orang liburan itu, rasanya membuat liburan Natal tahun ini berbalut duka. Tapi buat saya, yang lebih menyedihkan lagi adalah para netizen yang terhormat, yang dengan mudahnya jadi keyboard warrior, mendadak jadi ahli agama yang paling wahid, dan merasa dirinya paling benar sedunia. Bayangkan saja, ditengah duka mendalam orang-orang yang kehilangan, komentarnya kok seperti orang yang tidak punya hati, malah rasanya jadi bukan seperti manusia.


Ketika Band Seventeen kehilangan hampir seluruh anggotanya di musibah ini, komentarnya, "Makanya, jangan main musik orang kafir, kena azab kan?", dan ketika istri dari sang vokalis ditemukan dalam kondisi meninggal, komentarnya "Si mbaknya nggak berhijab sih, makanya ditegur sama Tuhan." Belum lagi banyak yang bilang kalau pantai Carita itu tempat maksiat, makanya kena azab (salah satu yang bilang ini tuh seorang ulama terkenal loh). Walaupun ada juga banyak orang waras yang mendokan para korban bencana, komentar-komentar kejam dari netizen yang ngerasa ahli agama itu memenuhi berbagai kolom. Dan ketika mereka ditegur karena dianggap tidak punya hati, maka balasannya, "Kita cuma mengingatkan, karena kita sebagai umat Islam harus saling mengingatkan sesamanya." Yuhuuuuu..... diantara para korban sebegitu banyaknya, dikira semuanya kafir, maksiat, gak hijaban, de el el? Serius, mabuk agama ini kayaknya sudah kelewatan, dan di tahun politik ini, kok makin banyak ya keyboard warrior yang bermunculan dengan paham begini? Yang anehnya nih.... ANEHNYA loh yaaa, biasanya orang-orang macam begini ini pendukung salah satu capres tertentu. Kok bisa sih? Tanyakan pada rumput yang bergoyang. Apa saya doang yang melihat fenomena begini? Tolong kasih tau kalau saya salah pandangan, namanya juga manusia biasa (yang tak sempurnaaaa...dan kadang salaaahhh --> jadi nyanyi).

Tiap akhir tahun, "masalah" yang tak kunjung padam juga adalah perdebatan mengenai ucapan Selamat Natal. Katanya umat Islam diharamkan untuk mengucapkan Selamat Natal. Alasannya macam-macam, ada yang menganggap kalau ngucapin itu artinya auto kafir lantaran mengakui nabi Isa sebagai Tuhan, lalu ada juga yang malah nantangin balik soal apakah umat Kristiani juga mau ngucapin syahadat. Ealaaahhh jauh amat, Ceuuu. Buat saya pribadi nih, saya terus terang nggak peduli teman saya yang Muslim mau ucapkan Selamat Natal atau nggak ke saya. Mungkin mereka punya pandangan masing-masing dan pilihan masing-masing. Saya pun tidak pernah meminta untuk diucapkan selamat Natal, karena namanya orang mengucapkan, masak sih mau dipaksa? Selama kawan saya yang Muslim menghargai dan menghormati kebebasan saya beribadah, saling silaturahmi dan toleransi, saya nggak masalah tidak dapat ucapan. Toleransi kan bukan cuma sekedar mengucapkan selamat Natal toh? Cetek amat kalau cuma dinilai dari situ.

Yang membuat saya sedih, justru pandangan orang-orang sesama Muslim terhadap saudara Muslimnya yang mengucapkan selamat Natal. Kok tega banget sih ngafir-ngafirin teman seagama cuma karena temannya mengucapkan selamat Natal? Belum lagi kalau ada teman Muslimnya yang ikut bernyanyi lagu Natal di tempat umum, atau ikut memainkan instrumen lagu Natal, bukannya dihargai, tapi malah dicaci maki, dianggap toleransi yang kebablasan, lalu bawa-bawa ayat Al-Quran sepotong-sepotong yang bilang kalau temannya itu bertingkah laku seperti orang kafir. Puyeng amat sih hidup? Baik Natal, Idul Fitri, Paskah, Waisak, dan berbagai hari raya agama lainnya di Indonesia, semuanya itu merupakan wujud kemenangan terhadap kegelapan, menerima lahirnya Juru Selamat, kemenangan setelah berjuang berpuasa menahan hawa nafsu, dan berbagai kemenangan lainnya yang ditandai dengan sukacita dan damai sejahtera. Kenapa sekarang mulai tergerus dengan paham radikal? Makanya saya tuh suka ngerasa mabok agama itu lebih parah daripada mabok alkohol. Mabok alkohol hangover sebentar, pusing-pusing, kemudian bisa disembuhkan. Mabok agama ini, sadarnya kapan?

Kawan saya orang asli Selandia Baru, bertanya kepada saya, bagaimana biasanya perayaan Natal di Indonesia. Saya ceritakan dengan penuh semangat, kalau seluruh Indonesia menyambut Natal dengan meriah, hiasan Natal di mana-mana, pusat perbelanjaan penuh dengan dekorasi, musik, dan diskon besar-besaran menyambut Natal. Dia tidak percaya. Dia malah bilang, bukannya di Indonesia perayaan Natal itu nggak diijinkan? Bukannya pemerintahnya kurang senang dengan orang Kristiani? Saya tuh sampai mesti jelasin banget ke dia kalau Indonesia itu adalah negara yang penuh keberagaman, yang toleran. Teman-teman Muslimnya juga pada baik-baik, cuma sedikit saja yang intoleran dan radikal, tapi justru itulah yang terekspose. Sedih banget nggak sih saya sebagai orang Indonesia, sampai pandangan orang luar terhadap Indonesia tuh jadi salah banget gara-gara tingkah orang radikal. Belum lagi dua tahun lalu, berita soal Ahok masuk penjara gara-gara salah ucap itu sampai jadi berita utama di harian besar di sini. Gimana nggak salah pandang?

Saya ini masih lumayan mau kerja keras ngejelasin ke kawan saya soal Indonesia yang kaya budaya, Bhinneka Tunggal Ika, berusaha mempromosikan negara kita supaya orang-orang berpandangan positif soal bangsa kita, dan kalau perlu bisa ajak mereka ikutan mengunjungi Indonesia dan merasakan langsung positive vibe-nya.  Tapi banyak juga orang-orang Indonesia di Selandia Baru yang sudah super pesimis dengan keadaan negara, merasa sudah tidak punya harapan, apalagi juga banyak korban kerusuhan di tahun 1998 yang pindah berpencaran ke luar negeri karena trauma tak berkesudahan.

Tahun 2019 akan dimulai sebentar lagi. Tahun depan akan jadi tahun yang "meriah" untuk negara kita. Pesta demokrasi akan digelar sekali lagi, pertarungan politik akan semakin tajam, para keyboard warrior akan semakin kencang beraksi, orang-orang akan melakukan apa saja demi meraih kekuasaan, termasuk hal-hal yang membahayakan bangsanya sendiri. Di hari Natal tahun ini, saya diingatkan lagi, untuk berusaha menjadi terang untuk sesama, membawa damai dan sukacita, untuk seluruh umat manusia. Kalau saya lihat, di media sosial pada umumnya, orang sering berselisih dan berantem berjilid-jilid karena tidak sepaham. Gara-gara dunia maya, rusak juga hubungan dunia nyata. Padahal ketidaksepahaman dalam politik atau pandangan hidup, bukan menjadi alasan untuk bermusuhan. Kita bisa tetap saling menghormati dan menghargai walaupun berbeda pandangan. Kalau ada orang yang menyinggung perasaan kita, sudahlah nggak usah ditanggapi dengan keras hati. Buat apa buang-buang energi padahal yang menentukan nasib kita toh ujung-ujungnya kita sendiri. Tidak ada seorang pemimpin negara yang bisa langsung mengubah nasibmu jadi kaya raya kalau bukan karena kamu usaha keras dan kreatif demi kelangsungan hidup. Tapi kita perlu pemimpin yang bisa mewujudkankan sarana dan prasarana untuk kamu bekerja dan memberikan yang terbaik untuk keluargamu.

Kembali ke Natal kali ini, saya berpikir, bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi pembawa damai itu di tengah masyarakat. Saya ini bukan seorang pendeta yang bisa berkhotbah bawa sabda Tuhan, juga bukan seorang penceramah yang biasa dipanggil mengisi acara gereja. Ayat-ayat kitab suci-pun saya jauh dari hafal, makanya boro-boro saya bisa jadi pewarta. Tapi saya tau pasti, kalau saya mengamalkan perintah Tuhan, saya sudah menjadi saksi damainya. Saya bisa mulai dari keluarga saya sendiri, mendidik anak jadi orang yang penuh kasih, membina kerukunan antara saya dan suami, dan berusaha menjaga relasi baik dengan semua orang. Jika saya bisa mengamalkan itu, saya sudah menjadi saksi Kristus yang hidup. Saya tidak perlu mengajak orang jadi sepemikiran dengan saya, atau mempunyai pilihan yang sama dengan saya.

“Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”. ~ Abdurahman Wahid.

Gus Dur adalah seorang Muslim, tapi tidak haram bagi saya untuk berpegang pada perkataannya. Hukum utama Gereja pun mengajar hal yang sama yaitu hukum cinta kasih. Love conquers everything.

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan, dan selamat menyongsong tahun yang baru untuk kita semua. Jadilah pembawa terang bagi semua orang. Jangan buang energimu untuk meladeni hal-hal yang membawa pikiran negatif. Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita, dan lakukan semua dengan cinta. 


14 comments:

  1. kalo bisa di-like, gw kasih seribu jempol :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh... jempol siapa aja lu pinjem? Makasih ya!

      Delete
  2. Replies
    1. Merry Christmas and Happy New Year, Mel!

      Delete
  3. Selamat Natal dan Tahun Baru Ci Leony... 💜💜💜🎄🎄🎄

    ReplyDelete
  4. Quote dari Gus Dur itu saya bacanya sampai merinding ci. Luar biasa..

    Merry Christmas & Happy New Year 2019 cici & keluarga. Semoga tahun 2019 ini jadi tahun yang damai dan lebih baik untuk kita semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe... jangan merinding atuh, kedinginan apa demam? Makasih, Nick. Selamat Tahun Baru juga buat kamu dan family. Amin utk 2019-nya!

      Delete
  5. Selamat natal buat ci leony sekeluarga

    Saya selalu suka tulisan cici.
    Btw, saya sejujurnya sebagai umat muslim, suka malu hati sendiri sama kelakuan "oknum2 radikal" yang selalu mengatas namakan agama, seakan lupa kl selain kehidupan akhirat, kehidupan dunia juga penting, harus juga berbuat baik sesama manusia tanpa membeda2kan latar belakang, suku dan agama. Semoga fenomena "ajaib" ini segera berlalu. Supaya Indonesia kembali damai, rukun sesama antar umat beragama. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak, Iryani. Soalnya banyak banget yang lupa, hidup itu bukan cuma vertikal, tapi juga horizontal. Percuma kalau ngerasa diri deket ke Allah, tapi lupa untuk mencintai sesamanya. Amin, semoga damai selalu tercipta di muka bumi ini ya.

      Delete
  6. Merry Christmas and Happy New Year, Leony & Family!

    -Nancy-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Nancy! Merry Christmas and Happy New Year to you too!

      Delete
  7. Replies
    1. Kata saya sih nggak salah loh hehehe. Selamat Tahun Baru buat kamu!

      Delete