Thursday, November 22, 2018

Tujuh Tahun Bersamamu

Senin, tiga hari lalu, saya dan suami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke tujuh. Kalau kata orang, tujuh tahun pertama itu adalah masa-masa terindah, namun juga "terberat" dalam sebuah pernikahan. Banyak penyesuaian, banyak mengenal pribadi pasangan sampai ke printilannya, kadang ketemu yang nyenengin, kadang ketemu yang ngeselin. Entah kenapa dipilih angka tujuh, sampai ada istilah seven years itch. Walaupun itch itu artinya gatal-gatal, tapi di sini maksudnya adalah "tantangan tujuh tahun pertama pernikahan". Dengan bangga kami berdua bisa bilang: hore, kita sudah melewati gatal-gatal tujuh tahun pertama itu. Yippie! Tapi ada kisah di hari Senin lalu, yang bikin saya kok kepingin nulis sesuatu yang lain di postingan kali ini.

Tahun ini, berhubung anniversary kami jatuhnya di hari Senin, kami sepakat untuk nggak merayakan di hari H. Maklumlah, Senin itu adalah hari lumayan tersibuk di kegiatan mingguan saya. Semua kembali ke rutinitas, dan Senin sore sampai malam itu adalah hari mencuci, mengeringkan, dan menyetrika cucian dua gunung. Kadang saya bela-belain nyetrika sampai malam, yang penting semuanya kelar supaya di hari lain kegiatan kami tidak terganggu. Tapi hari itu, segalanya serba mengesalkan, terutama tingkah laku dua bocah. Entah kenapa si kecil mogok minum susu dan mogok makan. Nyusu susahnya setengah mati, sampai rasanya perjuangan ngumpulin ASI setetes demi setetes ini kok "nggak dihargai", maklum sekarang produksi sudah seret. Makan juga nakal banget, ngga mau buka mulut, sendok makan ditepok. Sore-sore pulang jemput si besar dari sekolah, tingkahnya juga minta ampun. Minum susu sekotak aja nggak kelar-kelar. Sementara saya sambil nyuapin si kecil yang juga penuh drama. Mana cucian di mesin cuci dan dryer juga masih muter, yang artinya saya masih banyak kerjaan menunggu.  Pokoknya hari itu bawaan saya capeeekkk jiwa raga, sampai saya WA suami, rasanya kok nggak kuat banget menghadapi dua bocah. Tapi kok dia lama nggak balas-balas, padahal itu pukul 4 sore, yang artinya dia masih ngendon di kantor.

Tau-tau si suami sudah ada di depan pintu, jauh lebih awal daripada jam pulang dia biasanya. Saya saat itu lagi murung, duduk di meja makan sambil frustrasi karena makanan si kecil baru masuk beberapa suap, dan si besar bukannya konsentrasi minum susu, malah loncat-loncat keliling rumah. Situasi yang sungguh tidak ideal menyambut suami pulang. Dia masuk ke dalam rumah, sambil membawa sekotak kue dari bakery yang ternama di sini. Sebagai istri yang lagi bad mood, reaksi saya malah jelek banget. Saya bilang, "Ngapain kamu beli-beli kue? Buang-buang uang aja." Asli, kalau inget saya ngomong begitu, kok rasanya bego banget! Suami yang sebenernya pingin ngasih kejutan, jadi kesel juga. Dia bilang, "Jadi mau aku balikin kuenya?" Saya cuma bisa bilang, "Ya nggak lah, mendingan uangnya buat traktir aku makan." Padahal ya, weekend itu, kami makan-makan enak terus di restaurant dan dibanding harga kue, tentulah lebih mahal makan-makannya. Entah kenapa, kalau anak susah makan dan minum, itu hal paling ngeselin buat saya, jadi keluar dari mulut perkataan yang ngga enak. 

Tapi setelah itu, reaksi yang saya terima dari suami, bikin saya pengen nangis. Dia bilang, "Kamu relax sana duduk, biar aku yang kasih makan si Tilly". Saya pun pindah duduk di sofa, sambil mendadak  ngerasa, oh my gosh... I was truly an a**hole. Bahkan saat saya ngoceh soal kue, dan dia lagi capek pulang dari kantor, dia tetap sabar, dan langsung sigap ambil alih kasih makan Tilly. Tilly pun akhirnya mau makan pelan-pelan, sampai nasinya habis. I was very-very lucky indeed to have such a great husband! Saya akhirnya bilang ke suami, "Sorry ya, aku tadi cuma lagi kesel karena Tilly dan Abby nakal. Aku seneng kamu beliin kue, cuma reaksi aku tadi jelek banget karena kesel sama yang lain. Thank you udah beliin kue buat aku." Dia nyaut, "Iya, daripada beli bunga, mendingan beli kue kan? Lagian pas ulang tahun kamu, kita nggak beli kue, makanya kali ini aku beli kue, biar bisa dimakan bareng." Ternyata dia penuh consideration saat mikirin mau beli kue.

Setelah itu, saya iseng buka kotak kuenya, and I was struck! Kuenya itu bentuknya hati, tapi ada hal lain yang bikin saya senyum-senyum. Biasanya suami saya tuh kalau ngasih tulisan di kue, standar banget. Happy Birthday, atau Happy Anniversary, tapi kali ini dia kasih tulisan: "Lucky 7th Anniversary." Iya, kita memang lucky alias beruntung banget punya satu sama lain, ditambah dua anak yang lucu-lucu dan pintar. Makin terasa, kalau yang dibilang melengkapi satu sama lain itu benar-benar terjadi di dalam sebuah hidup perkawinan. Suami saya tidak pernah membiarkan saya kecapekan ngurus rumah tangga, dia akan selalu berusaha membantu saya  walaupun seringkali dirinya pun capek sepulang kerja. Dia juga menghormati keputusan saya untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, yang artinya suami harus bekerja lebih keras demi memastikan kita bisa hidup layak dan masih bisa sesekali liburan. Dia sering banget memberi saya reward untuk "me time" berupa tiket konser musik atau nonton musikal karena dia tau itu hobi saya, padahal itu artinya dia harus jagain dua anak sendirian. Di sisi lain, saya juga berusaha menjadi "penolong" yang sepadan untuk suami saya, minimal setiap hari kasih makanan yang enak dan bergizi untuk sekeluarga, memastikan rumah tidak kayak kapal pecah (walau hampir tidak pernah rapi juga hahaha), memastikan anak-anak semua sehat, lancar sekolahnya, dan yang pasti bahagia. 

Tidak ada rumah tangga yang sempurna, pasti ada riak-riak kecil di dalamnya. Tapi tujuh tahun ini, yang saya pelajari adalah, penghargaan terhadap pasangan itu adalah hal yang sungguh-sungguh penting. Even small gestures truly matter! Kalau kita merasa salah, jangan lupa untuk segera minta maaf. Jangan bawa rasa marah di dalam tidur, selesaikan di hari itu juga. Selalu ucapkan terima kasih jika pasangan kita melakukan hal yang baik. Jika ingin mengambil keputusan, diskusikan bersama, dan hormati pendapat pasangan. Jika masing-masing punya hobi, selama itu positif, berilah pasangan kita kesempatan menjalankannya. Suami saya suka main game komputer, saya suka nonton konser. Setiap hari kita pasti capek dan jenuh, kalau kita tidak punya hobi, yang ada bisa tambah penat menghadapi kegiatan sehari-hari. Nggak semua hobi harus bareng-bareng, tapi usaha maksimalkan waktu bareng dengan keluarga.

Yang saya suka banget dari rumah tangga kami (buka dapur dikit yah), dari sejak kita menikah, tidak ada yang namanya uangmu dan uangku. Dari sejak kami double income sampai sekarang single income, semuanya uang kita bersama. Bahkan misalnya saat suami mau beli Lego yang harganya lumayan mahal, dia akan ngomong dulu ke saya, padahal sepenuhnya dia yang cari uang. Buat saya, itu merupakan gesture kecil yang sungguh penting, karena artinya dia melibatkan saya dalam pengambilan keputusannya. Sesuai janji perkawinan, susah senang bersama, dalam untung dan malang, sehat dan sakit, itulah yang kami berusaha jalankan. Semoga Tuhan selalu memberkati setiap langkah kami, dalam membangun relasi yang selalu baik dan saling mendukung, supaya kami terus bisa membesarkan anak-anak dengan penuh kasih, dan menjadi teladan yang baik untuk mereka.

Kembali ke hari anniversary, kami nggak makan di luar karena banyak kerjaan. Tapi saya bikin Bacon Cheeseburger and Fries buat dinner, pattynya bikin sendiri supaya lebih nikmat. Saya sibuk setrika, tau-tau sudah pukul 9 malam lewat, dan kue anniversary kami belum juga dipotong. Bocah gede sudah ngantuk dan sikat gigi, dan dia bilang mau tidur aja, nggak mau ikut potong kue. Tinggal bocah kecil yang masih bangun dan matanya terang karena tadi sore tidur lama. Jadilah malam itu setelah dua gunung cucian telah disetrika, kami buka kotak kuenya, duduk bertiga di meja makan, pasang lilin, lalu nyanyi bersama lagu happy birthday yang diganti liriknya jadi "Happy Anniversary to Us". Kami pun mengucapkan wish, ditemani bocah kecil yang terkesima bengong melihat lilin menyala. Kemudian tiup lilin...puff! Semoga semua wishnya tercapai. 

Malam itu, kami makan kue coklat, yang ternyata rasanya nikmat banget. Lebih nikmat lagi karena diselimuti oleh perasaan bahagia, karena cucian dua gunung sudah selesai disetrika, ditemani oleh suami dan anak, semua dalam keadaan sehat dan sukacita. "Tuh kan Non, untung kan aku beli kue?", celetuk suami. Iya deh... memang suami ini tau aja, istrinya memang butuh stock gula untuk bikin happy seminggu ke depan karena bakalan ditinggal keluar kota. Jadilah tiap hari saya dan anak-anak potongin kue itu sedikit demi sedikit untuk cemilan kami sehabis dinner, dan sungguh senang saat Abby bilang, "Hmmmm... the cake is so yummy!!" Yes, life is bitter sweet, just like a dark chocolate, mixed with milk chocolate, seperti rasa kue yang suami beliin kemarin itu. Dan tiap kali makan kue itu, jadi ketawa sendiri, ingat kebodohan di hari anniversary kemarin. Hihihi.

Lucky indeed!

31 comments:

  1. keren nih >>> "penghargaan terhadap pasangan itu adalah hal yang sungguh-sungguh penting"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dilihat mah bukan sesuatu yang keren, Di. Biasa aja. Memang sudah kewajiban kan untuk menghargai pasangan. Tinggal jalaninnya, bisa atau nggak.

      Delete
  2. Happy Anniversary ci Leony. Kl lg mumet urus anak2 pernah kepikiran balik kerja lg ga ci? Soalnya standard childcare diluar negri kan hrsnya uda cukup oke ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Windy. Kalau lagi mumet ngurus anak sih, cici nggak pernah kepikiran kerja lagi sebagai solusi/ pelarian ya, karena buat yang sudah biasa ngurus anak sendiri, nggak mudah juga ngasih kerjaan itu ke orang lain. Despite childcarenya keren, bagus, tetep beda pastinya antara dipegang langsung mamanya dengan pengasuh day care. Kebetulan masih dimampukan untuk ngurus sendiri, ya cici usahakan ngurus sendiri. Tapi di sini biasa kok titip anak di day care, dan nggak ada salahnya sama sekali. Tinggal pilihan kita aja.

      Kalau mumet, palingan butuh me time sebentar aja. Cukup suami handle bantuin sebentar, itu sudah bikin seneng.

      Delete
    2. Ka gimnah keadaan payudara ya setelah operasi ada efek samping ya gak aku jga ngalamin kaya Kaka kena masitis nah setelah dksih antibiotik krmeps anak aku gak mau nete lagu ka skrng anak aku umur 6bulan ko kenpah ya sampe skrng gumpalan asi masih ada aku tkt ka mau doprasi mangkya aku nnya'' ke kaka

      Delete
  3. Happy anniversary, Leony! Ikut bahagia baca ceritanya, semangat sll yaa ��

    ReplyDelete
  4. happy anniversary ci 😘😘 akupun merasakan 7 tahun pertama ujian pernikahan haha.. tapi ujian itu bikin kita naik kelas kan yaaa...

    btw.. salut beneeerr kuaat ya nyetrika 2 gunung hahha gw 2pcs aja udah males liatnua 🙊🙊🙊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Lia. Bukan cuma naik kelas ya, tapi naek level sekolahnya hahaha. Nyetrika itu therapeutic loh, asal kita suka sih. Kalau ngga suka, ya stress hahaha.

      Delete
  5. Happy anniversary , langgeng selalu ya...

    ReplyDelete
  6. happy Anniversary....jadi mewek bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Yunita. Woah, kenapa mewek? Ngga bermaksud bikin mewek loh. Hehe.

      Delete
  7. Happy Anniversary cici & koko! semoga tetap langgeng selamanya.

    ReplyDelete
  8. keren! terimakasih atas inspirasinya (walaupun saya masih jomblo :v) _/|\_

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biarpun jomblo, yang penting bahagia kan?

      Delete
  9. happy Anniversary Mbakk.. (telat bangettt) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Pipit, gak apa2. Saya juga biasanya nulisnya telat banget hahaha. Jarang2 tuh saya nulis cm telat beberapa hari hihihi. Makasih ya.

      Delete
  10. happy 7th anniversary le... semoga rumah tangga kalian selalu diberkati Tuhan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak, Mel! Same goes to you and Seno.

      Delete
  11. Selamat ulang tahun pernikahan ya Le

    ReplyDelete
  12. Happy anniversary Leony, aku senang baca ceritanya :)
    Semoga Leony dan pak suami terus hidup bahagia dan sehat selalu yaaa

    ReplyDelete
  13. Memang gak ada pernikahan yg mulus seperti pantat baby (hihhii)..coz marriage is work!
    happy (lucky) anniversary Le and F!
    -Nancy-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Nancy! Semoga kita pada lucky and blessed semua.

      Delete
  14. Saya hri ini ulangtahun pernikahan ke 5, melihat ini saya ikutan bahagia dan terharu, smoga di ultah ke 7 kelak saya jg bisa merasakan kenikmatan pernikahan dan dilengkpi ank2 yg sehat dan ceria. Amin. Smoga slalu sehat terus ci keluarganya. Terimakasih jg slalu menulis di blog, meskipun sudah di thn 2019, tulisan2 yg sgt menguatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Termasuk blogger yang masih rajin ya? Happy 5th anniversary buat kamu dan suami. Jangan pernah berhenti untuk belajar mengenal pasangan, dan pupuklah sabar serta pengertian. Bahagia selalu ya, God bless!

      Delete