Tuesday, November 06, 2018

A Star Is Born - Not a Movie Review

Sebelum semua pada lanjut membaca, buat yang belum nonton dan berniat menonton A Star Is Born, tulisan ini mengandung bocoran alias spoiler. Buat yang sudah nonton, tulisan ini akan jadi refleksi saya semata, bukan review yang bisa dipertanggungjawabkan. Maklum, masuk bioskop aja sepanjang tahun 2018 ini cuma sekali, ya nonton film ini aja. Tapi kalau sempat, weekend masih suka kok nonton film sama suami di rumah, sambil mompa ASI dan nyemil setelah anak-anak tidur. Jadi, khasanah perfilman saya nggak bapuk-bapuk amat. Rata-rata film yang masuk nominasi Oscar saya sudah tonton, termasuk yang rada nggak mainstream dan kurang laku di pasaran macam Moonlight.

Sejak punya anak, ditambah pindah ke Selandia Baru, saya sudah rela nggak nonton film di bioskop, kecuali super penasaran. Terakhir nonton film di bioskop sebelum nonton A Star is Born ya nonton The Greatest Showman. Itupun gara-gara teman-teman saya pada heboh nyuruh saya nonton, karena katanya nggak asyik kalau nonton di rumah, soalnya butuh sound system yang mumpuni untuk menikmati. Karena pada bilang keren, mantap, dan segala pujian lainnya, saya jadi punya ekspektasi tinggi terhadap film The Greatest Showman. Akhirnya, saya minta ijin suami buat nonton sendirian, yang tentunya pasti dikasih. Maklum, suami paham banget sama istrinya yang gila musik. Setelah ditonton, menurut saya, walaupun lagu-lagu di filmnya keren, visualnya "stunning", tapi buat saya film itu tidak sampai menancap di hati. Cerita simpel tidak masalah buat saya, tapi somehow conflict resolutionnya agak-agak terlalu gampang. 

Tahun 2017 lalu, saya nonton Ellen Show yang ada episode interview Bradley Cooper. Katanya Bradley Cooper bakalan menyutradarai film A Star is Born, dan bakalan menggandeng Stefani (yes, dia manggil Lady Gaga dengan nama aslinya yaitu Stefani) sebagai pemeran utamanya. Tapi saya tuh sempat lupa soal ini, sampai beberapa minggu lalu saya dan suami nonton lagi Ellen Show pagi-pagi, dan Ellen interview Lady Gaga soal film A Star is Born yang bakalan muncul di bukan Oktober 2018. Suami saya, tanpa saya perlu minta, langsung bilang, "Gih, sana kamu mesti nonton itu. Biarin aku jagain anak-anak, kamu cari waktu aja." Lah, keren banget ini suami tercinta. Saya nggak perlu pakai minta, dia sudah langsung nawarin, lantaran dia tau saya suka banget sama Lady Gaga. Jadilah hari kamis lalu saya kembali ke bioskop setelah hampir setahun absen (kesian deh lu...).

Saya suka Gaga sejak jaman dia masih baru muncul sepuluh tahun lalu, masih dengan dandanan aneh, dengan lirik lagu nyeleneh, dan dengan tingkah laku ajaibnya. Dari dulu saya tau ini orang sebenarnya jenius parah. Umur 11 sudah diterima di Juilliard School, salah satu sekolah seni terbaik di dunia, walaupun akhirnya dia nggak masuk di situ karena milih masuk sekolah Katolik. Dia juga salah satu dari 20 orang di dunia yang dapat penerimaan awal di New York University Tisch's School of Arts. Dari dulu saya selalu percaya kalau segala tindakan dia yang nyeleneh itu cuma cara dia untuk gain the world's attention, tapi aslinya mah "scholar" yang mau mengeksplorasi diri. Makanya nggak salah kalau dia koleksi Grammy di musik, dan pas baru terjun ke dunia akting, langsung menggondol Golden Globe untuk perannya di American Horror Story. Ih, nih orang kok keren amat sih?

Btw, preambule saya kok panjang amat yak. Sebelum tambah ngelantur, saya mau bilang kalau saya suka banget sama film A Star is Born. Kesukaan saya bukan karena saya ngefans sama Lady Gaga ataupun Bradley Cooper, tapi karena buat saya, isu yang diangkat oleh film ini, bukan sekedar soal Cinderella Story dimana seorang penyanyi yang nggak punya nama diangkat oleh seorang penyanyi tenar sampai jadi top, melainkan isu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari yaitu soal penyakit mental dan adiksi pada alkohol dan obat-obatan. Kisah Jack (Bradley Cooper) dan Ally (Lady Gaga) sesungguhnya banyak sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kebetulan di cerita ini, dibungkus dengan kisah mereka sebagai penyanyi dan dunia artis yang memang sangat rentan dengan alkohol dan obat terlarang. Dalam kenyataannya, banyak sekali keluarga yang berjuang mati-matian karena salah satu anggotanya terjebak dalam adiksi, dan berusaha bangkit namun sulit.

Di film ini saya melihat, bagaimana Ally begitu mencintai Jack dengan segala kekurangannya. Ally tidak pernah menekan atau menyalahkan Jack atas kondisi adiksi yang menimpanya karena dia tau, itu sudah merupakan penyakit yang memang harus dicari dan diusahakan penyembuhannya. Orang dengan tekanan depresi berat seperti Jack, akan tambah merasa hidupnya tidak berguna jika ditekan dan disalahkan. Yang Jack butuh adalah support dan cinta dari orang-orang sekitarnya, terutama dari pasangan hidupnya. Di sini saya melihat bagaimana Ally berjuang, dan terus menghargai Jack sebagai suaminya walaupun digambarkan kalau Jack yang karirnya makin "melorot" dan adiksinya tidak kunjung sembuh, dianggap menjadi batu sandungan untuk karir Ally. Ally berusaha mati-matian supaya dia bisa tetap selalu berada di dekat Jack, walaupun banyak hal yang juga dia harus korbankan.

Di dunia ini, kita sering menemukan banyak orang yang depresi, ketergantungan pada alkohol, dan obat terlarang. Pada umumnya, kita sering menyalahkan orang-orang tersebut sebagai sampah masyarakat. Bukannya merangkul, kita malah sering mencap mereka dari awal sebagai sesuatu yang negatif, dan tak jarang kita malah menjauhi. Padahal yang mereka butuhkan sesungguhnya adalah cinta dan perhatian, bukan hinaan. Di film digambarkan, bagaimana Jack yang sudah berusaha bangkit setelah melewati rehabilitasi, malah ditekan oleh produsernya Ally dan dianggap beban. Saat itulah Jack yang sebenarnya mau sembuh, mentalnya jadi jatuh kembali, merasa dirinya tidak berguna, dan akhirnya nekad mengakhiri hidupnya.

Film ini memang tidak ada tokoh penjahatnya kalau dilihat sekelebat, tetapi sesungguhnya si produser itu sudah jadi penjahat di film ini. Kalau dipikir-pikir lagi, di dalam kehidupan nyata, mungkin kita juga pernah jadi penjahat itu, mengucilkan orang-orang yang sedang putus asa dan hidup dalam tekanan. Ujaran kita yang terdengar sederhana, mungkin telah menyakitkan orang dan membuat orang makin jatuh dalam depresi. Contoh sederhana di dunia ibu-ibu, ada kawan kita yang misalnya baru melahirkan, lagi kena baby blues, berusaha ngasih ASI tapi nggak bisa, lalu kita berujar, "Ayo dong lu usaha, nanti anak lu kurang imunnya kalau nggak pakai ASI.". Terdengar sederhana kan? Tapi buat orang yang lagi stress, hal itu bisa bikin tambah depresi loh.

Itulah kenapa menurut saya film ini bukan sebuah film soal musik, tapi lebih dalam daripada itu. Film ini lebih kepada soal rasa cinta dan pengorbanan, soal empati pada orang-orang yang punya mental illness. It's really hard for them, dan mereka nggak bisa berjuang sendirian. Walaupun orang terdekatnya sudah berusaha pun, kalau mereka ketemu orang yang tidak supportif, mentalnya bakalan ambrol lagi. Dan lagu-lagu di film ini, my oh my... semuanya original songs, baru semua, tapi langsung nyantol di hati. Sungguh-sungguh mendukung segala adegan di filmnya, membuat emosi kita naik turun kayak katrol. Ini bukan film musikal, melainkan film drama. Makanya film ini didaftarkan di Golden Globe bukan dalam kategori musikal, melainkan kategori drama. (FYI, Golden Globe itu punya 2 aliran best pictures: Musical/ Comedy dan Drama).

Lalu ada satu hal lagi yang bikin hati saya tersobek-sobek, yaitu adegan terakhir. Adegan terakhir memang sedih banget, bahkan begitu filmnya habis, penonton masih pada bengong dengan suara tercekat. Mungkin sudah pada dengar lagu, I'll Never Love Again yang jadi soundtrack film ini? Sebenarnya kalau sudah dengar lagu ini, pasti sudah tau kalau tokoh utamanya bakalan meninggal. Tapi kata-kata di lagu ini, sungguh relatable buat saya. Begitu saya dengar, yang saya bayangkan bukan Ally yang kehilangan Jack, melainkan mama saya sendiri yang kehilangan papa saya secara mendadak.

Mama saya tidak pernah punya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal, karena tentu papa saya sudah tidak sadar lagi, dan langsung meninggal tidak lama setelah serangan stroke. Saat itu usia mama masih muda, masih cantik, dan banyak orang-orang yang nyuruh mama saya nikah lagi. Tapi mama tidak pernah menggubris apapun kata orang lain, karena hatinya memang sudah untuk papa saya seorang. Saya ingat saat mama saya depresi itu, mama nggak mau keluar rumah, mengurung diri di kamar, gelap-gelapan, malas melihat sinar matahari karena merasa tidak berguna menghadapi hari-hari sendirian. Butuh bertahun-tahun buat mama sadar, kalau hidup harus terus berlanjut. Makanya begitu dengar lagu ini bergema di bioskop, air mata saya ngucur tak terbendung. (Klik di sini untuk lihat videonya).


I'll Never Love Again 


Wish I could, I could've said goodbye
I would've said what I wanted to
Maybe even cried for you
If I knew it would be the last time
I would've broke my heart in two
Tryin' to save a part of you
Don't wanna feel another touch
Don't wanna start another fire
Don't wanna know another kiss
No other name falling off my lips
Don't wanna give my heart away
To another stranger
Or let another day begin
Won't even let the sunlight in
No, I'll never love again
I'll never love again, oh, oh, oh, oh
When we first met
I never thought that I would fall
I never thought that I'd find myself
Lying in your arms
And I want to pretend that it's not true
Oh baby, that you're gone
'Cause my world keeps turning, and turning, and turning
And I'm not moving on
Don't wanna feel another touch
Don't wanna start another fire
Don't wanna know another kiss
No other name falling off my lips
Don't wanna give my heart away
To another stranger
Or let another day begin
Won't even let the sunlight in
No, I'll never love
I don't wanna know this feeling
Unless it's you and me
I don't wanna waste a moment, ooh
And I don't wanna give somebody else the better part of me
I would rather wait for you, ooh
Don't wanna feel another touch
Don't wanna start another fire
Don't wanna know another kiss
Baby, unless they are your lips
Don't wanna give my heart away
To another stranger
Don't let another day begin
Won't let the sunlight in
Oh, I'll never love again
Never love again
Never love again
Oh, I'll never love again
Mungkin tiap orang punya perasaan berbeda saat nonton film ini. Saya merasa film ini mengangkat isu yang sesungguhnya kompleks, tapi dibuat relatif minim konflik, terutama karena penokohan Ally yang begitu penuh cinta, sabar, dan supportif. Buat akting Cooper dan Gaga, sudahlah, almost no comment. Natural banget! Hats off buat dua orang ini yang mengerahkan segala kemampuan untuk membuat film ini jadi bermakna namun sangat enak ditonton, terutama buat Cooper yang jadi sutradara, aktor, penulis, bahkan khusus latihan musik setahun penuh demi bisa nyanyi beneran. Casting tokoh lainnya juga oke, terutama buat si Rafi Gafron yang jadi produsernya Ally, mukanya pengen saya slepet pake sandal Swallow. Baru kali ini saya lihat ada 1 film yang dapat review rata-rata di atas 80 persen untuk 3 website review utama: IMDB, Rotten Tomatoes, dan Metacritic. Biasanya mah bagus di salah satu atau salah dua aja. Kalau lihat begini, ekspektasi saya jadi tinggi banget, dan suka agak kecewa kalau ternyata setelah ditonton ga sebagus itu. Tapi ternyata yang ini kok bisa surpassed my expectation.

Nah, baru kali ini kan saya nulis soal film? Buat yang sudah nonton, apa punya perasaan yang sama dengan saya soal film ini? Buat yang belum nonton dan sudah nekad baca ini sampai bawah, semoga nggak keburu bentuk opini ya, dan tetap bisa enjoy filmnya. 

8 comments:

  1. oh aku udah nonton. bener, akting mereka super natural. akupun pingin slepet si Raf dan nangis di bagian akhir film. aku bukan orang yang bisa berkata2 seperti ini. tapi tulisan ini mewakili perasaanku banget.thankieeee

    ReplyDelete
  2. gw belum nonton nihh. pada bilang bagus & sedih. moga2 minggu ini masih ada di bioskop.

    ReplyDelete
  3. Aku dah nonton dan mewek satu studio ๐Ÿ˜‚. Ku gak nyangka lady gaga aktingnya bagus, dan mata bradley itu..haduhh..haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si raf bukan pengen gw slepet, tp pengen kulakban mulutnya. Pas adegan terakhir yg Ally tribute to Jack, trus di akhir lagunya ada suara Jack dan kelebatan adegan mereka..duh, nyes pisaaann.. aku nntn sama suamiku yabg juga sukses nangis ๐Ÿคฃ. Paling suka lagu selain I'll never love agaun itu yg Always Remember Us This Way trus Music To My Eyes ๐Ÿ˜

      Delete
  4. moral of the story dari film ini.....kalo ngomong emang harus hati2 ya... gua suka sama aktingnya bradley cooper dan lady gaga, chemistrynya juga dapet, dan lagu2nya juga mendukung banget... tapi entah kenapa ceritanya gua ngerasa kurang greget... bagus sih, cuma ada plot hole yang bikin gua bingung... dan di tengah2 tuh sempet ngerasa kelamaan ampe gua rada ngantuk hahahaha...

    uda gitu besokannya gua nonton bohemian rhapsody... dari segi cerita emang ga bisa dibandingin sih, tapi dari scene2 konsernya, film ini jadi kebanting abis hahahaha...

    ReplyDelete
  5. si esther pas denger lagu i'll never love again sebelum nonton filmnya aja udah nangis. pas nonton filmnya langsung tersedu-sedu. hahaha.

    kita juga suka banget sama film ini walaupun menurut gua 2 jam rada kepanjangan. dan menurut gua pas lady gaga nyanyi i'll never love again pas ending nya terlalu 'recording artist' banget, kurang greget gimanaaa gitu. walaupun ya tetep sih pada nangis dengernya. hahaha.

    ReplyDelete
  6. Film ini emang keren bangeett. Suara gaga sukses bikin merinding dan aktingnya gila booo. suara bradley yg serak2 basah itu suka bikin deg2an juga hahahaa
    Btw salam kenal cii. Aku pembaca cici dr setahun lalu tapi gapernah berani komen hehehhe. Aku 19th dan masi menempuh s1 akuntansi.
    Blog cici itu menginspirasiku bangett๐Ÿ˜‚ kapan2 share pengalaman cici kerja di kantor akuntan di as dulu ya cii๐Ÿ˜†
    Semoga keluarga cici selalu sehaat♡

    ReplyDelete
  7. Setuju banget mbak sama reviewnya. Saya takjub lihat gaga, my favorite singer, bisa tampil normal begitu. Sampai selama nonton bolak-balik bilang ke teman sebelah, kok aneh banget rasanya lihat gaga tampilan normal. That's the same person that wore baju dari daging.. Dan akhirnya banyak orang baru sadar betapa cantiknya gaga, juga betapa bagus suaranya. Selama ini tertutupi sama tingkah nyentriknya. This is a new life for gaga, hidup barunya di dunia akting. Indeed, a star is born.. ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete