Thursday, October 25, 2018

"Berdamai" Dengan Penyakit

Hari Selasa lalu, saya dinyatakan boleh lepas dari obat pengontrol tekanan darah yang telah saya konsumsi selama lebih dari lima belas bulan. Masa yang cukup panjang buat orang yang tidak punya sejarah darah tinggi dalam hidup, kecuali pada saat melahirkan. Gimana rasanya? Senang sudah pasti, tadinya setiap pagi harus mengingat untuk konsumsi obat, kalau pergi keluar kota nggak boleh sampai ketinggalan, belum lagi kalau stok habis, harus laporan ke dokter dan minta lanjutan resep. Dosisnya memang sudah berkurang jauh, dari 80 mg totalnya, terakhir tinggal 10 mg saja per hari. Saat ini, dokter bilang saya masuk masa "percobaan". Dicoba dulu tanpa minum obat, dan setiap seminggu sekali saya harus kembali ke dokter untuk melakukan pengecekan ulang tekanan darah. Kalau sudah dua minggu kondisinya stabil, resmi sudah saya tidak perlu lagi mengkonsumsi obat.

Mungkin ada yang berpikir, yah cerita beginian doang, diceritain ke jagad raya via blog, padahal banyak orang yang sakitnya lebih parah. Alasan saya bercerita soal ini adalah, ada kawan baik saya, yang mempunyai kasus yang mirip seperti saya, yaitu preeklamsia (definisinya bisa dilihat di sini), dan pada akhirnya harus mengkonsumsi obat jangka panjang seperti saya. Bedanya dengan saya adalah, saat diputuskan harus mengkonsumsi obat jangka panjang, dia terkena depresi berat. Banyak orang yang sangat berat untuk menerima keberadaan sebuah penyakit di dalam tubuh. Contohlah preeklamsia ini. Kita punya gaya hidup sehat dan aktif, tidak pernah memaparkan diri ke hal-hal yang bisa berisiko untuk kehamilan kita, tapi kok bisa terkena? Itulah yang saya sering sebut misteri Ilahi. Sampai saat akhir sebelum melahirkan pun, setiap saya memeriksakan urin, hasilnya tidak menunjukkan kandungan protein yang tinggi, yang berarti sebenarnya risiko preeklamsia itu tidak besar. Apadaya, ternyata beberapa hari sebelum melahirkan tekanan darah saya melonjak tajam ke angka 180-an. Bersyukur saat kontrol terakhir, bidan saya bertindak cepat untuk segera memasukkan saya ke rumah sakit. Kalau tidak, mungkin nyawa saya sudah melayang.

Jadi, saat akhirnya sudah melahirkan dan harus kembali diopname ke rumah sakit sampai dua kali lagi karena tekanan darah yang tidak kunjung stabil, rasa sedih yang awalnya muncul berubah jadi rasa bersyukur. Tahap penolakan (denial) sudah berlalu, menjadi tahap penerimaan (acceptance). Saya ingat kata bidan saya disaat saya menangis di pelukannya karena merasa tidak sanggup harus bolak balik masuk RS. "Kalau kamu menolak untuk kembali dirawat, dua orang anak kamu bisa kehilangan seorang ibu." Di situlah kalimat yang menyentuh hati saya. I need to be there for my daughters. Saya harus menerima, saya tidak boleh egois, karena anak-anak masih membutuhkan keberadaan saya. Saya bersyukur karena keputusan tepat dari para bidan, membuat saya masih sehat dan selamat sampai sekarang, dan pada akhirnya berangsur-angsur sembuh. Lalu bagaimana jika dua minggu lagi ternyata dokter memutuskan saya harus kembali mengkonsumsi obat? Saya akan terima dengan lapang dada. Hidup saya masih panjang, dan masih bisa berguna bagi orang banyak termasuk keluarga saya.

Ayah saya meninggal dunia karena stroke mendadak tujuh belas tahun lalu. Pembuluh darah otaknya pecah saat serangan itu muncul, dan nyawanya tidak tertolong. Setelah saya ngobrol-ngobrol dengan mama setelah kematian papa, saya baru tau, walaupun papa saya tidak mempunyai sejarah hipertensi akut, sebetulnya tanda-tanda menuju hipertensi itu sudah ada. Dia suka pusing-pusing di tengkuk, dan beberapa kali di cek memang tekanan darahnya agak naik walaupun tidak sampai pada tahap fatal. Sebetulnya papa saya sudah sempat diresepkan obat penurun tekanan darah. Seperti orang yang kena "vonis" harus minum obat secara rutin, kemungkinan besar papa saya masih ada dalam tahap denial. Dia merasa kondisinya baik-baik saja, sehingga dia cuma minum obat kalau dia merasa "tidak enak badan". Ketika pada akhirnya serangan itu datang, semua sudah di luar kontrol. Semua sudah terlambat.

Kadang saya suka berpikir, seandainya saja papa saya lebih waspada akan gejala-gejala tersebut, dan mencoba berdamai dengan kondisi kalau dia memang sudah harus mengkonsumsi rutin obat darah tinggi, mungkin papa masih hidup sampai sekarang. Sayangnya, itu cuma andai-andai belaka, dan kita harus menerima fakta kalau papa sudah tidak ada lagi. Banyak orang di dunia ini yang memang harus minum obat rutin untuk mengontrol keadaan badannya, bahkan bisa seumur hidup. Orang yang darah tinggi, diabetes, tuberculosis, bahkan orang yang terkena penyakit mental. Yang disebut dengan penyakit mental itupun sebetulnya merupakan penyakit "fisik". Ada bagian-bagian di otak yang tidak stabil sehingga perlu distabilkan dengan bantuan obat. Memang berat untuk menerima kalau kita hidup dengan penyakit, apalagi jika kita tidak pernah tau penyebabnya, atau disebabkan bukan oleh diri kita sendiri melainkan faktor turunan. Jadi satu-satunya jalan, memang harus bisa menerima kalau penyakit itu memang ada di dalam diri kita, dan satu-satunya cara untuk menstabilkan atau menyembuhkannya adalah dengan minum obat rutin setiap hari. Having our medication is part of our daily life.

Sepuluh tahun lalu di bulan November 2008, paru-paru kanan saya dinyatakan kempes. Saya tidak pernah merokok, saya tidak pernah bergaul dengan orang yang suka merokok, apalagi pergi ke tempat-tempat penuh asap rokok. Satu-satunya hal yang saya ingat, adalah di awal tahun itu saya kena demam parah beberapa hari saat kunjungan lapangan ke sebuah desa di Sumatra setelah saya bertemu dengan petani-petani. Di situ saya terekspose asap rokok karena saat kita temu wicara, para petani tersebut merokok di dalam ruangan. Butuh waktu dua tahun buat saya berjuang untuk sembuh, sampai akhirnya di tahun 2010 saya menyatakan pisah dengan paru-paru kanan saya alias diangkat selamanya. Sedih? Tentu saya ada rasa sedih. Saya sudah berusaha hidup sehat, kok penyakit datangnya tidak diduga. Tapi di tengah perjalanan selama dua tahun itu, saya berusaha selalu menerima, dan "berdamai" dengan penyakit yang saya derita. Setiap proses pengobatan saya jalani dengan suka cita, setiap keputusan yang saya ambil soal langkah-langkah selanjutnya, saya bawa dalam doa. Saya bertemu dengan berbagai tipe manusia, mulai dari dokter yang baik dan yang kurang baik, perawat-perawat yang menghibur, sampai manusia-manusia di sekitar saya yang bisa saya "uji" kesetiaannya sebagai sahabat dalam sakit maupun sehat. (Silakan baca kisah soal sakit paru-paru saya di sini).

Pada akhirnya, di penyakit yang saya derita, saya belajar soal diri sendiri, belajar kalau ternyata saya lebih kuat daripada bayangan saya. Saya belajar jadi jauh lebih dewasa, dan bisa ikut menyemangati orang lain, belajar jadi orang yang positif di setiap tantangan yang saya hadapi dalam hidup. Penyakit bisa datang kapan saja, di mana saja, apapun gaya hidup kita. Kita tidak akan pernah tau berapa panjang umur kita. Satu-satunya jalan saat kita "divonis" terkena suatu penyakit memang mencoba untuk menerima. Saat kita menerima itu, pikiran kita bisa tenang, bisa terbuka, dan pelan-pelan bisa mencari jalan keluarnya. Mungkin ini tulisan cetek, karena saya tidak pernah terkena penyakit super berat seperti kanker. Tapi minimal, bisa menyemangati teman-teman di luar sana yang mungkin baru divonis untuk minum obat jangka panjang. Jaga kesehatan kita, dan tetap semangat!

25 comments:

  1. Bersyukur banegt ya setelah 15 bulan Akhirnya bebas minum obat Pengontrol tekanan darah ya Leony.., demam dikit aja udah enggak tahan banget ya,,,apalagi yang lagi dicoba dengan penyakit2 berat..duuh duh duh....moga moga yang sedang sakit tetap kuat,sabar dan semangat ya untuk sembuh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semoga teman-teman yang sedang berjuang melawan penyakitnya di luar sana, bisa segera sembuh!

      Delete
  2. Horeeeee akhirnyaaaaa udah lepasssss....Tuhan maha kuasa...
    Sekarang bisa memulai postingan seru2 atau postingan jalan2 hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jalan-jalan kemane bu? Jalan-jalan yang terakhir gue jarang fotooo.. enjoy sajahhh hihihi.

      Delete
  3. semoga abis ini sehat2 terus ya le... di kehamilan kedua ini gua juga concern banget sama tensi, soalnya waktu hamil jayden kan gua punya riwayat tensi tinggi di trimester ketiga... tapi puji tuhan sih ampe sekarang tensinya selalu normal, dan semoga normal terus ampe lahiran nanti deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Elu kayaknya kena preeklampsia beneran, Mel kalau start tingginya udah dari week 32 (seperti yg lu tulis di komen lu). Biasanya sih nanti bakalan naik lagi, jadi tetep dijaga-jaga aja. Semoga sehat selalu!

      Delete
  4. Thank you ci le, postingan kali ini jadi berkat buat saya, karena aku juga sedang tahap denial, gak mau berobat karena merasa baik2 saja. Tapi setelah baca postingan ini, aku kayaknya mau ke dokter soon.

    Btw, aku kayaknya ga inget pernah comment apa gak. Tapi aku udah follow your blog sejak aby baby.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, ini siapa ya, namanya nggak keluar. Iya, kadang berat nerima kenyataan kalau kita ada penyakit. Tapi semangat dan terus berobat supaya bisa beneran sembuh. Thanks udah following blog ini ya.

      Delete
  5. sampe kangennn sama postinganmu leeee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, ngga kemana-mana kok, tetep posting nih hehehe.

      Delete
  6. paling susah kalo sampai di tahap denial ini. soalnya gw ngerasa gak minum obat gak kenapa2 kok.masih bisa aktifitas. pola hidup sehatnya juga masih suka angot2an. kayak perlu "ditampar" dulu biar sadar :((

    Syukur deh Le udah bebas dari obat2. Semoga sehat2 terus!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dia, paling susah kalau ngerasa diri kita sehat-sehat aja, padahal ngga tau dalamnya gimana. Itulah bokap gue tuh, ngerasa dirinya sehat dan aktif. Tau tau... ya gitu deh.

      Delete
  7. semoga cepat sehat dan kuat kembali ya sis Le!�💪🏻�🏻
    Oia fyi aja ya..cobain terapi air minum menggunakan energy glass.
    Kalo di eropa umumnya merk Alpha spin dan biodisc.
    Kalo di indo terkenalnya bioglass mci.
    Saya selama pengobatan cancer juga terbantu oleh terapi energy glass.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Entin kena Ca? Semoga cepet baek ya Entin, dan sehat selalu. So far saya belum tertarik sama yang alternatif, dan berusaha hidup sehat alami dulu, dan terus berdoa supaya jauh dari segala penyakit. Bagus kalau yang Entin pilih bisa membantu, yang penting diusahakan.

      Delete
  8. Puji Tuhan. Semoga sehat terus dan bisa lepas pas beneran dari obat tensi ya, Le

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Fel. Ini nunggu akhir minggu ini keputusannya.

      Delete
  9. Semoga bisa lepas permanen, tapi seandainya tidak pun, kita tahu bahwa ini adalah jalan yang diberikan Tuhan, yang kita perlu lakukan adalah menerima dengan lapang dada seperti kata cici. Mantaps ci..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong, Nick. Masak habis gitu kita mau marah-marah, nanti malah tambah parah hehehe.

      Delete
    2. saya jg ada alergi ga sembuh-sembuh soalnya walau sepele tapi kzl jg ga sembuh-sembuh

      Delete
  10. Great to hear that you don't need to take the medications anymore, Le. Jadi ini high-blood pressure-nya bukan cuma pregnancy related? temen gue baru aja lahiran, dan langsung ilang high-blood pressurenya right after delivery.
    Gue mungkin gak harus minum medication for life, tapi with allergies, I will have to be cautious for life and no longer can be free to eat whatever.....haiizz....a story for another day...tapi, thanks buat semangat nya...yes, gue kyknya masih satu kaki di denial....

    -Nancy-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang pregnancy related itu juga ada macam-macam, Nan. Ada yang Gestational hypertension, ini biasanya lebih lama turunnya, ada juga yang preeklampsia yang langsung ilang abis lahiran. Gue dulu pas Abby pas hari kedua jg udah lgsg stabil, dan paling tingginya jg di 140-an. Jadi ya memang beda-beda.

      Kalau alergi, coba 2nd and 3rd opinion dulu, Nan. Siapa tau beda.

      Delete
  11. Hai leony, salam kenal, i'm one of your silent reader, but this story, aku sooo caaann relaateee 😊 di kehamilanku yg ke 2, everything's fine, tensi semua normal, hasil cek urin pun ok,semua ok lah intinya, pas bgt wkt msk week 36th, 2 minggu seblm maternity leave, tb2 kepalaku pusing, dan tb muntah pas sarapan, and suddenly aku nggak bs nafas, it's the scariest 😭 untung suami gesit lgs bawa ke rs terdekat, pas di tensi 190/100, lgs divonis pre eklamsia, dan dibawa pk ambulans ke rs, buat csect, that day, Tuhan masih berbaik hati, ak dan anakku selamat, since that day, setiap yg hamil, ak selalu minta mrk buat super aware, pre eklamsia is very dangerous, dan sadly, byk bgt yg nggak tau soal ini, Tuhan baik deh pokoknya, even abis itu bolak balik ke rs, even abis itu mnm obat tensi terus, tp kl inget hari itu, aku nggak kebayang, kl nggak diksh muntah, atau pas suami nggak ada, mgkn ceritanya akan beda lagi. Thank you for sharing your story leony, give my warmest regard to your family ❤

    ReplyDelete
  12. Semoga seterusnya bisa lepas dari obat dan sekeluarga sehat selalu ya Ci (sounds cliche tapi sepenuh hati kudoakan). Teman baikku juga hampir kehilangan nyawa ketika tiba-tiba kena preeklampsia sampai anaknya harus segera dilahirkan. Semoga semakin banyak ibu hamil yang aware dengan masalah ini, karena munculnya memang bisa ga terduga ya

    ReplyDelete