Monday, September 24, 2018

Soal Punya Anak

Beberapa minggu lalu, sehabis misa komunitas Katolik Indonesia di sini, seperti biasa sesudahnya ada acara ramah tamah antar warga Indonesia. Waktu itu saya lagi bersila di lantai, ngasih makan pizza ke Tilly. Tau-tau ada opa-opa, umurnya mungkin 70-an tahun yang saya nggak kenal sama sekali, mendadak nyapa saya. "Anaknya berapa?" Saya jawab, "Dua, Om.". Seperti biasa, kalau namanya orang Indonesia, mau umur berapapun, biasa nggak pernah lepas dari yang namanya berbasa basi berbalut dengan kepo dan maksa.

Opa: "Cewek semua ya anaknya?"
Saya: "Iya, Om."
Opa: "Nggak nambah lagi? Dua lagi gitu."
Saya: "Nggak, Om. Tangan saya cuma dua, nggak kepegang."
Opa: "Nambah lagi lah, buat anak laki."
Saya: "Laki perempuan sama aja, Om"
Opa: "Ya masak punya anak cuma dua? Saya aja 10 bersaudara."
Saya: "Orang tua Om hebat ya, saya sih ngga sanggup."
Opa: "Orang dulu aja sanggup, kamu juga bisa lah, semua buktinya baik-baik aja kok."
Saya: "Nggak apa, Om, dua sudah cukup."

Jujur, saat itu sih udah males banget loh jawabnya, dan saya langsung minta suami saya gantiin kasih makan pizza, dan saya buru-buru ambil minuman biar nggak perlu terus-terusan ngejawabin orang kepo kayak gitu. Untung saya nggak nyaut, "Kalau saya nambah anak, Om mau ngebiayain dan ngurusin?" Dalam hati sih ya, ada perasaan pingin nanya balik. Contoh: "Anak om sendiri berapa? Semuanya sayang nggak sama, Om?" Soalnya, si Om ini sudah tua, dan kayaknya sendirian aja gitu. Tapi saya bukan orang kepo, dan saya nggak mau tau urusan orang lain, jadi biarkan semuanya berlalu dan pas saya balik, saya cukup mesem-mesem aja pas ngelihat dia. Ditambah lagi, orang tersebut nggak kenal sama saya, dan saya juga nggak kenal sama si Om. It's like meeting a random person in a place, and suddenly people would like to know your private matters. Rasanya sepanjang hidup di NZ dua tahun lebih, cuma orang Indonesia saja loh yang begini. 

Oke, saya nggak mau bahas soal tipe orang Indonesia yang selalu kepo dan punya pertanyaan tiada akhir. Soalnya semua juga sudah pada tau ya, kalau belum nikah, akan ditanya kapan nikah. Sudah nikah, ditanya kapan punya anak, sudah punya anak, ditanya kapan nambah. Sudah nambah ditanya kok cuma sejenis kelaminnya, nggak mau nyoba lagi? Sudah lengkap, masih dikomentarin, apa nggak mau nambah lagi biar rame? Mungkin anaknya kudu 11 dulu kayak geng Halilintar, baru deh semua mingkem. Itupun saya nggak yakin mingkem, pasti pada penasaran juga gimana rasanya punya anak 11. Makanya keluarganya sering diundang talk show dan socmednya laku keras.

Kali ini saya mau sharing aja soal kenapa saya mau punya anak, dan gimana sih rasanya sesudah punya anak. Apakah sesuai ekspektasi saya? Minimal sampai saat ini ya, jadi ibu sudah hampir mau 6 tahun. Ini pengalaman dan cerita sesuai pandangan saya. Mungkin ada yang punya kisah atau perasaan yang mirip atau juga beda dengan yang saya rasakan, ya tidak masalah. Soalnya setiap orang pasti punya pengalaman pribadi yang berbeda.

Waktu saya kecil dulu, saya itu selalu membayangkan nanti saat besar, saya akan menikah, lalu membangun keluarga dengan minimal dua anak. Kenapa begitu? Karena itulah yang ada di hadapan saya saat itu. Orang tua saya menikah, punya dua anak, satu perempuan dan satu lelaki dengan jarak umur yang tidak terlalu jauh. Keluarga kecil kami sangat bahagia, ibaratnya tidak pernah merasakan kekurangan kebutuhan primer alias sandang, pangan, dan papan. Ibu saya adalah ibu rumah tangga yang super, papa saya seorang pekerja keras, makanan enak selalu tersedia, baju kami selalu bersih, kami selalu bisa tidur enak, sesekali kami bisa berlibur. Begitu menjelang dewasa, ayah saya meninggal di usia muda. Umur saya 18 tahun saat itu. Saya mendadak berperan menjadi "kepala keluarga" karena saya anak pertama, dan karena mama saya kena depresi berat berkepanjangan. Saya menjadi merasa mempunyai tanggung jawab ekstra, untuk memastikan kalau keluarga saya akan baik-baik saja sepeninggal papa. Segala keputusan keluarga kami, walaupun mama adalah orang yang tertua di rumah, pasti didiskusikan dengan saya. Saya jadi ikut belajar untuk menjadi orang tua di usia muda, mencoba memberikan nasihat kepada adik saya walaupun seringnya nggak digubris, mencoba untuk memakai logika di tengah emosi supaya kehidupan berjalan baik dan semuanya survive. 

Ketika saya menginjak usia 24-25 tahun, saat dimana di usia tersebut mama saya sudah bertunangan dan menikah, saya malah berpikir saya akan baik-baik saja nggak menikah. Memikirkan orang tua dan adik saya saja sudah cukup menyita segala perhatian saya. Cuma ya itu, mama saya ketar ketir, takut banget anaknya jadi perawan tua hihihi. Padahal ya, yang tersirat di pikiran saya yang penting adik saya sampai jadi orang alias lulus sekolah, bekerja, dan bisa mandiri, syukur-syukur bisa ketemu jodoh dan cepat nikah, lalu saya mau masuk biara saja deh, dan berkarya sebagai pendidik, sama seperti suster kepala sekolah idola saya. Beneran loh saya pernah kepikiran seperti itu. Di pikiran saya juga, seandainya saya akhirnya nanti ketemu jodoh dan menikah, saya sudah tau kalau yang namanya memiliki anak adalah bagian dari pernikahan tersebut. Kalau saya nggak kepingin punya anak, I better stay single, karena buat saya, anak itu adalah buah dari sebuah pernikahan kudus. Rupanya ya Tuhan kasih saya jodoh, dan akhirnya saya menikah di usia 29 tahun. 

Saya sadar, saat menikah itu, saya nggak muda-muda banget. Jadi plan kita kepingin langsung punya anak. Ibaratnya, kalau habis honeymoon langsung jadi, buat kita juga  nggak masalah. Pokoknya ngerasa siap banget deh. Tapi ternyata nggak gampang juga loh. Honeymoon pertama, pulang masih kosong, honeymoon kedua, pulang masih kosong juga, dan ternyata anak pertama malah "Made in Indonesia" hehe. Punya anak itu ternyata serunya bukan main. Setiap hari kayak orang lagi belajar, dan selalu ada hal baru. Bukan cuma mengolah fisik, tapi juga mengolah mental. Saya masih ingat waktu Kursus Persiapan Perkawinan (KPP, sekarang namanya jadi Membina Rumah Tangga alias MRT), pembicaranya bilang, saat kita menikah dan punya anak, tujuan hidup kita bukan hanya sekedar bahagia. Apapun yang kita lakukan, pasti hampir sepenuhnya untuk anak, membekali anak, sampai suatu saat mereka besar, dan siap meninggalkan orang tuanya. Apakah betul itu?

Jawabannya adalah, betul sebetul-betulnya! Ketika kita memutuskan punya anak, yang harus siap itu bukan cuma finansial (ini sih penting banget, punya anak itu mahal), tapi juga mental dan spiritual. Persiapan punya anak itu menurut saya lebih berat daripada persiapan menikah dari segi mental. Saat kita memutuskan punya anak, kita harus ingat Tuhan kasih kita kepercayaan seorang anak, yang di tangan kitalah anak ini akan bertumbuh menjadi besar, mengambil nilai-nilai yang kita tanamkan mulai dari dirinya di dalam kandungan. Kita ini lagi membentuk seorang manusia, membentuk akal budinya supaya nanti di masa datang, dia siap untuk bertempur menghadapi kerasnya dunia. Besar sekali tanggung jawab itu, dan sesungguhnya, kalau dipikir-pikir lagi, sungguh menakutkan!

Hal yang menurut saya paling terasa "terenggut" dari diri kita saat kita memutuskan memiliki anak bukanlah uang, melainkan waktu dan kebebasan. Sudah siapkah kita menyempatkan waktu kita untuk menjaga anak ini, memastikan kita hadir bersama dia di saat-saat penting dalam hidupnya? Di mulai saat pertama dia hadir di kandungan saja, sudah terasa perubahan ritme hidup. Saat dia lahir, selamat tinggal waktu tidur panjang dan nikmat tanpa diganggu gugat. Mau pergi keluar rumah, mikir dulu, kapan jadwal nyusu anak ini, kapan jadwal makan anak ini. Mau pergi keluyuran malam dengan teman, mikir dulu 100 kali, apalagi kalau tidak punya asisten. Ketika anak mulai sekolah, mulai les, kita siap jadi sopir antar kemana-mana. Belum lagi menemani bikin peer, memeriksa tugas-tugasnya, mengetest saat dia mau ujian/ ulangan, pokoknya hal ini tidak akan berakhir sampai belasan tahun kemudian. Nambah anak kedua, ya dobelin saja, plus jangka waktunya akan bertambah. Hal ini di luar segala kebutuhan finansial yang harus dikeluarkan.

Begitu anak sakit, rasanya separuh jiwa kita melayang. Fisik dan mental kita ikutan terkuras. Bahkan ketika diri kita sakit, yang kepikiran bukan soal diri kita, tapi bagaimana nasib anak-anak kalau saya sakit, apakah mereka semua terurus dengan baik? Kita mati-matian jaga diri dan kesehatan, dan kita berusaha supaya umur kita lebih panjang sehingga suatu hari nanti, kita bisa menjadi saksi saat anak kita lulus sekolah, mendampinginya saat menuju pelaminan, dan pada akhirnya anak kita menjadi orang tua dan kita menjadi seorang nenek/ kakek. Ketika saya melihat mama saya, saya pikir tugasnya akan selesai untuk mengurus saya pada saat saya menikah. Tapi ternyata, sebagai orang tua, mamalah orang yang selalu ada dan membantu di saat saya kesulitan. Cinta dan perhatiannya tidak pernah berakhir. Jadi sampai kapanpun, orang tua tidak akan pernah lepas untuk mensupport anaknya. Siklus terus berputar, sampai akhirnya kita dipanggil sang khalik.

Punya anak, juga membuat kita berani melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Contohlah kami ini. Kalau saja kami saat ini belum punya anak, kemungkinan besar, kami masih ada di Jakarta, masing-masing masih kerja kantoran, dengan gaji yang lumayan besar, bisa jalan-jalan ke berbagai belahan dunia. Begitu kami punya Abby, langsung prioritas kami bergeser. Saya beralih profesi menjadi ibu rumah tangga penuh. Pikiran kami mulai diisi dengan berbagai concern soal lingkungan tumbuhnya, soal pendidikannya, sampai akhirnya kami nekad untuk mengadu nasib pindah negara dan memulai segala sesuatunya dari nol. Saat mau nambah anak kedua pun, kami harus memikirkan masak-masak soal kesiapan finansial walaupun secara mental saya sudah siap. Kalau suami saat itu jobless atau dapat kerja yang gajinya pas-pasan, kami mungkin akan menunda punya anak kedua. Kami memang pingin punya anak lebih dari satu, tapi biar bagaimanapun, emosi dan keinginan harus didasari oleh logika dan perhitungan. Orang dulu bilang banyak anak banyak rejeki, kalau sekarang saya percaya, rejeki tersebut sebetulnya datang bukan dari anaknya, melainkan dari keinginan kita untuk kerja lebih keras lagi untuk memastikan kebutuhan anak kita tercukupi. Kalau banyak anak tapi kerja males-malesan, ya nggak mungkin lah rejeki turun dari langit.

Setiap orang punya situasi dan kondisi yang berbeda dan kapasitas yang berbeda untuk mempunyai atau menambah jumlah anak. Yang jelas, saat saya punya anak, saya dan suami harus yakin, kalau anak-anak kita akan tumbuh dengan baik, dengan support finansial, dengan support perhatian dan waktu yang cukup dari orang tuanya. Kami ingin mereka tumbuh baik, berbudi pekerti yang luhur, taat pada Tuhan, dan punya cinta kasih terhadap sesama, dan kami yakin itu bisa mereka dapatkan paling dekat dengan melihat orang tuanya sehari-hari. Keluarga orang tua saya dan keluarga orang tua suami semuanya besar-besar. Paling sedikit jumlah anaknya itu 7 per keluarga. Kami sadar, walaupun di dunia ini ada juga keluarga besar yang semua anak-anaknya sukses dan makmur, tapi kami juga melihat kenyataan kalau di keluarga yang jumlah anaknya kebanyakan, seringkali ada yang anaknya bermasalah, rata-rata karena kurang perhatian. Walaupun jumlah anak sedikit tidak menjamin semua sukses, kita mau dong sebagai orang tua, meminimalisasi kemungkinan anak kita kekurangan perhatian dan akhirnya jatuh ke dalam masalah.

Banyak orang yang berpendapat, kalau sudah punya anak, pasti pernikahan itu lengkap dan bahagia. Is that true? Yes, for some people it's true. Tapi kenyataannya, banyak yang punya anak, tapi kok nggak bahagia dan malah nambah sengsara, lalu merasa anak merupakan beban dibandingkan dengan anugrah. Ya balik lagi dong ke tujuan pernikahan tadi, dan kesiapan mental suami istri. Bahkan saat sebelumnya kita merasa siap pun, punya anak itu akan memberikan kejutan-kejutan yang tidak pernah terpikirkan. Kadang ternyata bisa lebih mudah dari yang dibayangkan, tapi rata-rata sih, ternyata lebih sulit. Tanggung jawab membesarkan anak juga bukan tugas salah satu pasangan. Harus full dua-duanya. Kenapa? Support system terbaik dalam membesarkan anak ya pasangan kita masing-masing. Suami istri dituntut untuk bisa kompak dan sejalan dalam menentukan pilihan terbaik untuk anak kita. Bagaimana dengan single parents? Salut buat mereka, itu artinya mereka harus bekerja lebih keras lagi, lebih dan punya mental yang lebih tangguh lagi.

Bagaimana dengan pasangan yang sudah merasa sangat siap, tapi belum juga diberi keturunan? Lagi-lagi ini merupakan sebuah misteri Tuhan. Yang penting kalau memang merasa sudah siap di segala aspek, jangan berhenti berusaha. Buat semua pasangan di dunia ini, mungkin cara berpikir kita juga yang harus diubah. Punya anak memang bisa membuat bahagia, tapi punya anak bukanlah satu-satunya hal yang bisa membuat bahagia. Punya anak adalah buah cinta antara suami dan istri, tapi bukan berarti tanpa anak artinya kita tidak punya cinta yang bisa dibagi. Punya anak memang merupakan tujuan dalam pernikahan, tapi bukan satu-satunya tujuan. Mempunyai seorang partner sejati sepanjang hidup sudah merupakan anugrah. Terkadang yang membuat kita semakin sengsara juga adalah pressure dari lingkungan, yang selalu menanyakan dan ingin tau. Pertanyaan tiada akhir dan tuntutan dari orang lain, kadang malah membuat kebahagiaan yang sudah kita punya jadi terasa kurang. Ini bukan cuma soal anak, tapi soal kehidupan pada umumnya.

Buat saya sendiri, bahagia ngga punya anak? Jawabannya, bahagia banget! I can't imagine living without these two girls. Walaupun badan rentek mau copot setiap hari, walaupun kadang ikut frustrasi menghadapi kebandelan anak, rasanya setiap momen begitu berharga. Punya anak justru bikin saya makin mengenal diri saya sendiri secara lebih dalam, mengetest sebesar apa kapasitas saya sampai semaksimal mungkin. Saya jadi tau, kalau ternyata badan saya cukup kuat untuk tidur beberapa jam saja dalam sehari ketika anak masih bayi, saya juga tau ternyata kesabaran saya ternyata bisa diluaskan berlipat-lipat menghadapi tingkah para bocah. Saya yakin, banyak banget orang tua yang kepingin banget teriak kalau sudah gak sanggup, tapi ternyata bisa tarik nafas panjang dan berusaha tersenyum di depan anak.

Di sisi lain bayangan saya soal bahagia itu jadi terasa lebih murni dan sederhana, saya bisa bersorak bahagia ketika anak pup karena sebelumnya sembelit selama berhari-hari, saya bisa joged-joged ketika anak saya mulai doyan makan lagi setelah mogok makan karena sakit, saya bisa merasa bangga yang membuncah ketika melihat anak berani untuk maju ke panggung untuk menari atau konser piano, saya bisa ikutan ketawa saat dua bocah itu main bareng cekikikan, dan saya terharu dalam hati ketika si kecil bilang, "I love you, Mama, you are the best mom in the world!" Tapi suatu hari nanti, saya juga harus siap mental, ketika anak-anak saya memilih jalannya masing-masing, yang belum tentu sesuai dengan apa yang saya harapkan, ketika mereka mulai melawan dan mungkin bilang, "You're the worst Mom in the world, I hate you!" cuma karena keinginan mereka tidak kita setujui, dan suatu hari, kita siap melepas mereka setelah mereka dewasa. Si bayi merah yang dulu kita timang-timang, suatu hari akan jadi "milik orang lain". Karena itu, walaupun capek, walaupun kadang kesal dengan tingkah anak-anak, saya ingin menikmati setiap detiknya, karena waktu berputar begitu cepat.

Mengambil kutipan dari film Deadpool 2 (yang akhirnya baru sempat saya tonton kemarin), "Kids give us a chance of being better than we used to be." It's very darn true! Anak-anak membuat saya berpikir jauh ke depan, mereka membuat saya dan suami berusaha jauh lebih keras demi memberikan yang terbaik, mereka membuat saya mengerti apa yang dimaksud dengan cinta tanpa syarat. Kutipan paling khas dari mama saya yang juga pernah saya tulis sebelumnya, "Kalau buat anak, kaki buat kepala, kepala buat kaki juga dijabanin." Waktu belum punya anak, kutipan itu rasanya cuma kedengeran lucu dan klise. Kalau sekarang, saya paham maksudnya walau mungkin belum sepenuhnya karena anak-anak sekarang masih kecil. Asal kita jangan kebablasan aja ya, mencintai atau memanjakan anak berlebihan, yang ujung-ujungnya merugikan orang dan membuat mental anak kita jadi payah.

Eh udah panjang ya tulisannya? Kenapa saya nulis soal punya anak ini? Selain buat cerita sama teman-teman sesama orang tua, kali-kali pandangan kita mirip atau berbeda, saya juga ingin membuka mata anak-anak muda jaman sekarang yang suka menganggap kawin muda dan punya anak muda adalah life goals gara-gara kebanyakan lihat socmed, tanpa tau kenyataan kalau dibalik foto-foto indah unyu-unyu itu, tersimpan air mata dan kerja keras membesarkan anak (I am talking about the hands on parents). Raising kids is a lifetime job! Please be responsible. Jangan peduli dengan pressure lingkungan atau emosi sesaat. Cuma kita yang tau kapabilitas kita. Nikah dan punya anak, adalah langkah besar dalam hidup dan diperlukan kerja keras tiada henti. Emosi dan logika harus jalan bareng-bareng, ditambah tak henti doa mohon penyertaan Tuhan. Semoga tulisan campur aduk ini, bisa jadi bahan perenungan juga buat saya, dan buat teman-teman semua.

Buah hatinya mama, yang bisa bikin nangis dan ketawa di waktu bersamaan.
(Picture taken by: Angela Scott - March 31, 2018)

32 comments:

  1. untung anak kedua gua ini cewe, jadi mudah2an sih bikin orang2 ga nyuruh gua nambah anak lagi ya hahahaha...

    dan gua setuju banget le, salah satu alasan kenapa tadinya gua pengen satu anak dulu, karena selain kesiapan finansial juga kesiapan mental... menurut gua mendidik anak tuh lebih susah daripada ngurusinnya... kalo sekedar kasih makan cukup, mandiin, nidurin, gua masih bisalah walaupun cape, tapi memasukan pemahaman dan nilai2 positif itu yang susah...

    tapi ternyata Tuhan ngasih gua anak kedua... walaupun awalnya sempet down karena ngerasa belom siap semuanya, tapi Tuhan mampukan juga... jadi emang bener, kesiapan finansial dan mental tuh penting banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gw udah 1 cewe 1 cowo tetep ditanyain kok Mel. Ga ada abisnya lah pertanyaan itu. Tapi sekarang gw nya udah lebih cuek. Paling gw hehe-hehe-hehe aja.

      Btw nice writing, Le. Buat gw punya anak itu pusingnya dobel tapi hepinya triple. Hehe

      Delete
    2. Mel, tungguin aja, tar juga ditanya kapan nambah lagi hahahhaa. Dibawa dalam doa, Mel, semua pasti bisa terlaksana dengan baik. Yang penting suami istri bahu membahu bersama.

      Din, nahhh baru aja gue bales Mel soal pertanyaan tiada akhir, ternyata elu bukti nyatanya ya. Kalau kata temen gue, lain kali kalo ditanya-tanya soal nambah anak, mending pamit sama yang nanya. Kalau ditanya mau kemana, jawab "Mau bikin anak lagi, Om, sesuai saran Om." Hahahaha.

      Delete
  2. hahaha, pertanyaan gak berujung itu sih...anak gua udah SMA aja, masih disuruh nambah anak cewe....sighhh, dikira enak kali yaa gedein anak...*jadi curcol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu pujian loh Ci, artinya dianggap masih tokcer dan produktif :P

      Delete
  3. πŸ’•πŸ’•πŸ’•really love tulisan cc ini 😘😘😘 thanks for sharing ci

    ReplyDelete
  4. Anak 3, semuanya cowok disuruh nambah nambah terus biar dapat cewek....Berasa gimana gitu..

    ReplyDelete
  5. Thanks for sharing this thought ci Le <3

    Betul, anak itu bukan pelengkap kebahagiaan untuk pasangan suami istri. Bahagia itu state of mind. Punya atau nggak punya anak bukan salah satu tolak ukur kebahagiaan seseorang. Apalagi anak itu anugrah banget, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly! Ibarat orang kaya, kenapa masih suka gak bahagia padahal harta berlimpah, ya balik lagi... definisi bahagia tiap orang tuh pasti evolve deh, dan seringkali gak ada puasnya kecuali kita sendiri yang menentukan kalau itu cukup.

      Delete

  6. kayanya gw perlu pindah ke LN demi menghindari pertanyaan2 yang kaya jerat setan *tidak ada habisnya hahaha* emang musti tebel kuping tinggal di sini...
    btw, jadi malu...kmrn nitip anak cuma buat nonton hahaha...sejak punya anak, waktu dan kebebasan beneran ngilang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pindah ke hutan, Bu... kalau pindah ke LN, lu kira gue di mana nih? Masih aja ketemu orang Indonesia yang nanya2 kepo hahaha. Eh, gue pas tahun lalu MIL sama ipar dateng juga sekali nitip anak buat dinner berdua eniperseri hehehe. Gpp lah sekali2.

      Delete
  7. Aku jg udah fix gak mau nambah lagi, walopun blm punya anak cewek. 2 aja udah cukup lah, seenggaknya dgn begini bs kasih perhatian yang *semoga* optimal buat msg2 anak sementara aku jg msh punya waktu buat diri aku sendiri *walopun gk sebanyak yg dipengenin...wkwkwkwk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, iya, kita ikutin anjuran BKKBN. Di Indonesia masih mending kayaknya Lis, masih lbh banyak akses bala bantuan. Lah dimari, kalo kagak ada keluarga, rempong maning. Nyewa baby sitter jg ratenya 20-25 dolar per jam. Mau nonton sekali, ud keluar 60-75 dolar buat nyewa baby sitter, itupun belum tentu anaknya cocok.

      Delete
  8. Tapi memang pertanyaan akan anak untuk di indonesia tidak ada kata selesai, sempet mikir kek melisa ouwh udh punya anak cew cow pasti ndk akan jadi korban pertanyaan ayo punya anak lg tp memang org2 kepo ni super kreatif ya ...ngmngny ayo lucu loh di tutup dengan anak cew kwkwkkww lucu katany , sini yg hamil, lahirin, merawat smp gede ndk berasa lucu tp jg tdk merasa terbebani cm 2 anakny udh sangat cukuplah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditutup pake plester aja mulut yang nanya kayaknya lebih lucu ya, Mir? Hahahaha.

      Delete
  9. Hola cici! Ada kali setahun lebih ga buka blog gara-gara review film dipindah dari blog ke Instagram hahaha tapi as usual blog cici konsisten menelurkan postingan berbobot penuh inspirasi :)

    Orang Indo kalo ga kepo dan SKSD ga afdol ci, berlaku di belahan dunia manapun tampaknya.. hehe.

    Setuju banget dengan tulisan cici dari paragraf awal sampai paragraf terakhir. Thumbs up!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, cici masih belum tergiur ke insta nih, Nick. Hihihi. Tunggu bener-bener butuh dah, baru buka insta. Nah iya, kenapa ya, udah jauh2 pindah, masih aja sifatnya sami mawon podo waeeee...

      Delete
    2. blog masih lebih enak, tapi kadang waktu tidak bersahabat untuk mengetik lama-lama. Instagram tinggal butuh 10-15 menit saja hee

      Delete
  10. Thanks for sharing this, ci Le.
    Menurut aku mengena sekali terutama soal persiapan mental dan siap-siap kebebasan terenggut. Sayang sekali kalo banyak perempuan punya anak itu buat sekedar *punya anak doang* seakan punya anak itu cuma ada lucu dan gemesnya aja, tanpa memikirkan perjuangan membesarkan dan mendidiknya, sama seperti mikirin nikah cuma sekedar mikirin *kawinnya doang, sek penting halal* padahal pernikahan/rumah tangga ga melulu lope-lope di udara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lope-lope yang cuma di udara itu yang bahaya.. kagak nyampe ke hati, ngawang2 doang hahaha. Tekanan lingkungan sama media sosial tuh juga ngaruh banget deh Live. Artis2 makin banyak aja yang pamerin anak lucu-lucu di insta dan udah bisa jadi ladang duit. Jadi mikirnya ya itu, anak lucuuu.. lupa kalau anak itu mahluk hidup, yang bisa nangis, bisa ngalong kagak tidur, bisa pup and pee, dan perlu dibentuk akal budinya.

      Delete
  11. Hi Leony, udah lama banget aku ga blogwalking...
    thank you for sharing, memang punya anak itu tanggung jawab yang sangat besar dan perlu persiapan finansial dan mental...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo aktif lagi Bon, biar rame lagi dunia blog. Gue baru aja liat lu ada beberapa update, tp belum sempet gue komen. Tar gue mampir deh ya. Sebagai ibu 2 anak, ngerasain banget ya, Bon suka dukanya.

      Delete
  12. bagian tengah blog nya sih gue setuju banget lah ama loe, Le....yg bagian pembuka yg masih bikin gue meringis malu; abis gue kadang kalo basa-basi juga suka nanya gitu sama org belum kenal baik...istilahnya gak tau mesti nanya apa lagi untuk memulai pembicaraan. Suka malu sendiri gitu abis nanya; hehehe mesti latihan nih mikir topic yg lain.
    Dan saya ssuuuukkkaaaa banget penutup blog nya! cakep cakep neng dua ini...eh, le...itu dagu nya Tilly kyk ada birthmark? atau shadow dari foto nya aja?
    -Nancy-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, pake topik cuaca aja, Nan, kayak orang di sini, ngomongin weather selalu jadi awal pembicaraan yang enak hahaha.

      Itu foto asli tanpa editan Nan (Maklum editnya mahal bener haha), jadi segala cacat2 keliatan dah. Itu bukan birth mark, tapi anak gue kena eczema. Entah kenapa winter babies di NZ mostly kena eczema. Katanya sih bakalan ilang pas anaknya udah gedean. Sekarang, pasrah aja hahaha. Unfortunately, munculnya di muka.

      Delete
  13. Setuju dengan tidak punya anak bukan berarti tidak Ada cinta yg bisa dibagi..

    Anyway untungnya nyokap u pas ditinggal bokap masih Ada kekuatan financial ya sampe bisa sekolahin anak2nya sampe selesai.. Kalo single mom yang ga punya uang beneran deh ga kebayang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gue yakin kita punya cinta tuh banyak, cuma tinggal kita salurinnya aja. Siapa tau yang di Atas memang menghendaki kita berbagi cintanya di sisi lain. Untung sih dulu bokap ada share gitu, dukungan moral n materil dr sodara-sodara jg sangat ngebantu. Soalnya bokap beneran dadakan banget-banget perginya.

      Delete
  14. Hahahahahaha... ya begitulah. Dulu g suka sewot kalo ada pertanyaan-pertanyaan kepo begitu. Tapi lama-lama udah biasa dan menanggapi dengan santai. Inilah habit orang Indo dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hihihihihi..... Dan yes, g setuju banget kalo kehadiran anak itu membuat rumah tangga makin bahagia (tapi nggak pernah bisa rapi, penuh drama anak mewek, mama migren dan ribuan tapi lainnya).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena gosipin orang itu jauh lebih indah daripada gosipin ekonomi yak? Hahahaha. Kalau ngarep bahagia cuma dari anak sih, haduh, yang ada bisa kecewa, lantaran punya anak banyak urut dadanya juga hahaha. Bahagia beneran harus kita yang cari sendiri, lewat anak itu cuma salah satunya.

      Delete
  15. Selain kepo, banyak tua-tua Indo tu suka anggapnya anak tuh buat tumpuan masa tua (makanya jadilah banyak sandwich generation, finansial serba kepepet buat urus ortu dan ngidupin anak). Padahal belum tentu anak banyak ada yang urus ortunya. Banyak yang ga dekat sama ortunya sendiri, cuma ngirim uang atau bayarin kebutuhan aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly, banyak orang tua, terutama di Asia, jadi pada nggak mandiri, lalu menganggap anak tidak berbakti kalau tidak menolong orang tuanya di masa tua. Padahal ngurus diri sendiri aja kan udah rempong minta ampun. Jadi beneran kepepet.

      Delete