Monday, May 14, 2018

Catatan Kecil Hari Ini Untuk Kita Semua

Dari dulu, saya nggak pernah suka dengan segala sesuatu yang ekstrim, termasuk "kegilaan" orang dengan agama, sampai mendiskreditkan kawan-kawannya sendiri, bahkan yang seiman dengannya. Saya sebagai umat Kristiani, juga mengalami bertemu dengan sesama yang juga Kristiani, tetapi memaksa saya berpindah ke aliran mereka, hanya karena katanya aliran mereka yang paling benar, paling sah, paling top markotop, dan sudah PASTI masuk surga. Aliran saya ditantang, pengetahuan agama saya (yang mungkin tidak terlalu dalam ini) diadu oleh mereka, dengan pakai ayat Alkitab. Lucunya, Alkitab saya dan Alkitab dia itu sama persis, tapi mereka tafsirkan sendiri dengan berapi-api, dan saya dipaksa untuk berpandangan bahwa aliran saya itu salah dan tidak sesuai dengan Alkitab. Akhirnya, umat Kristiani yang sesungguhnya sama-sama memuji Tuhan Allah Yesus Kristus, jadi terpecah belah. Terdengar familiar?

"Le, kok lu tega sih ceritain soal orang Kristen? Kan lu juga umat Kristiani, lu jangan gitu dong." Nah, dari dulu, saya berusaha jadi orang Kristiani yang peka, yang berusaha keras mengerti dan belajar agama saya dengan sebaik-baiknya, mencari sumber dari orang-orang yang tepat dalam menafsirkan kitab suci saya, supaya saya tetap bisa berpegang teguh pada hukum Allah yang tertinggi, yaitu hukum cinta kasih. Kalau sampai ada orang di agama saya, yang berkoar-koar soal keKristenan-nya, tapi tidak mampu mengamalkan hukum cinta kasih itu, saya harus waspada. Ini contoh kutipan lirik lagu Kasih karya alm. Putut Pudyantoro yang liriknya dikutip dari Alkitab: "Kasih itu sabar murah hati, percaya, tak angkuh dan tak dengki, kasih itu tak memegahkan diri, kasih itu kekal serta abadi." Jadi, kalau sampai ada orang yang berbangga alirannya paling benar, paling lurus jalannya menuju surga, itu sama dengan memegahkan dirinya sendiri, dan itu sama sekali bukan KASIH yang Tuhan kita ajarkan. Saya percaya, bukan keKristenan saya SAJA yang menyelamatkan saya nanti di akhirat, tetapi juga tingkah laku saya terhadap semua orang di dunia ini.

Fakta yang negara kita sedang hadapi, banyak orang mabuk agama, dan (sayangnya) ini juga terjadi di dalam agama yang dianut oleh mayoritas penduduk di negara kita tercinta, dan sudah sampai ke level ekstrim alias membunuh. Ini pukulan keras luar biasa untuk kita semua. Mungkin pada awalnya, orang beragama lain yang mereka anggap kafir, sehingga darahnya halal untuk dikorbankan. Tapi, orang seagamanya pun akhirnya diserang karena perbedaan pandangan, demi mendapatkan kavling surga. Agama sudah dipakai juga untuk kepentingan pribadi (terutama politik), lagi-lagi dengan janji surga. Saya jadi pingin ngomong ke pemimpin-pemimpin yang sering menjanjikan surga itu, sudahlah sana berangkat sendiri, jangan ngajak-ngajak apalagi mengorbankan pengikutnya.

Terus ngapain saya nulis panjang lebar begini? Saya ingin mengajak semua kawan-kawan saya, apapun agamanya, untuk menjadi orang yang bisa peka dan berpikir kritis kalau ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi di dalam praktek keagamaan sehari-hari. Memang benar kalau yang berbuat nggak benar itu adalah "oknum", tapi jangan bilang mereka tidak beragama. Justru mereka ini semua beragama, tapi salah kaprah karena indoktrinasi yang kacau balau, sehingga ideologi mereka berantakan. Kita hidup dalam komunitas yang berwarna, dan seringkali sulit buat orang beragama lain untuk paham mengenai ajaran agama kita, apalagi melancarkan kritik antar agama. Maka kita sebagai umat beragama yang tau kalau ada hal-hal yang kurang berkenan di komunitas agama kita sendiri, beranilah untuk bersuara. Beranilah untuk mengkritisi perilaku-perilaku oknum ini. Kritik ke dalam itu memang susah sekali, dan ada kemungkinan besar kita akan dicap penghianat, bahkan oleh keluarga kita. Tapi ingat, kejahatan akan menyebar, jika orang-orang baik ini diam saja. Perhatikan sekitar kita, selalu berjaga, jangan biarkan orang-orang berpandangan ekstrim mendapat panggung di masyarakat. Dan yang terpenting, sebarkan kebaikan selalu kepada semua orang, apapun agamanya, apapun sukunya. Indonesia itu hebat bukan karena kita semua sama, tapi karena kita semua berbeda, tapi bersatu.

(Ditulis dengan rasa sedih yang mendalam).

8 comments:

  1. Akuh bangga temenku nulis keren begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan lagi lancar otak sama jari-jemari, Rik. Sebelum rasa malas menyerang, dituangkan dulu.

      Delete
  2. True, menurutku auto-kritik itu perlu, jadi kita gak membabi-buta melihat diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Justru siapa tau kita bisa belajar sama2 ya kan (belajar, notabene-nya kemauan sendiri bukan paksaan).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mawas diri juga ke diri sendiri. Kali-kali kita juga udah melakukan yang kelewat ekstrim dan maksain kehendak.

      Delete
  3. Akhirnya setelah lama jd fans berat Ci Leony, saya berani komen. Hehe.. Setuju bgt sm tulisan Ci Leony ini..saya muslim dan sudah sering bgt mengkritik mereka2 itu, tapi ya itu, kita yg logis dan realitis malah dicap sesat lah, liberal lah, or whatever...lama2 ya kita diemin Ci, drpd ribut sm mereka yg udah akut parah..basically, mereka2 itu kebanyakan sombong, merasa paling hebat.. Persis seperti tulisan Ci Leony.. Kalo saya mah apa atu, cuma remah2 rengginang di kaleng khong guan.. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Primaaa hehehe. Santai aja lagi kalau mau komen hihi. Makasih ya udah jadi pembaca selama ini.

      Nah itulah, Prima. Susah banget memang untuk mengkritik ke dalam. Apalagi ke umat beragama yang sama ya, bisa berani aja udah poin plus loh! Yang penting sudah dikasih tau dan kamu sudah ambil posisi. Gak lah, kamu gak remah rengginang. Cuma remah nastar hahaha.

      Delete