Friday, March 23, 2018

Soal Asisten Rumah Tangga

Tulisan ini udah nangkring di draft saya hampir sebulan, tapi baru sekarang bisa post lantaran saya kena flu berat. Di Selandia Baru ini, udaranya sih memang bersih banget, tapi begitu kena flu, flu-nya jauh lebih ganas daripada flu di Jakarta. Ditambah lagi saya nggak bisa mengkonsumsi obat karena lagi menyusui. Kalau malam terbatuk-batuk sampai nggak nidurin, pokoknya menderita total. Serumah juga akhirnya kena beler semua, tapi memang saya yang paling parah. Komplitlah perjuangan selama lebih dari dua minggu, mana lagi sibuk-sibuknya. Sampai sekarang saja belum sembuh betul. ASI saya sampai seret banget, bayangin stress levelnya udah kayak apaan deh. Kalau lagi begitu, ada sih rasa kangen punya bala bantuan seperti di Jakarta, walau akhirnya sadar, di sini pun kalau sakit ya semua ngurus sendiri, palingan dibantu sama keluarga dekat. Pas banget postingan di draft saya ngomongin soal ART, yang akhirnya launching juga nih hihihi. Penasaran saya nulis apaan?

Waktu orang-orang tau kalau saya pindah ke Selandia Baru, banyak orang yang bertanya-tanya kok bisa nekad pindah, dan salah satu fokusnya adalah soal gimana bakalan susahnya hidup di luar negeri tanpa keluarga besar dan tanpa asisten rumah tangga (ART). Sedikit yang orang tau kalau sebenarnya selain si suster kesayangan seorang, saya memang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak mempunyai asisten rumah tangga. Kok bisa?

Cerita sedikit ya. Lebih dari sebelas tahun lalu, saat saya back for good ke Indonesia, saya bilang ke keluarga saya, kalau saya nggak mau lagi pakai asisten rumah tangga. Ini bukan sombong atau sok jagoan. Mungkin pemikiran tersebut dipengaruhi oleh beberapa tahun saya tinggal di negara orang, dimana memiliki asisten rumah tangga itu khusus hanya untuk orang-orang super kaya. Saat saya bekerja di Amerika dulu, saya pernah diundang untuk gathering di rumah salah satu atasan. Rumahnya besar sekali dengan kolam renang dan jacuzzi, mobil pribadinya yang suka dipakai ke kantor adalah BMW seri 7 terbaru, tanpa sopir tentunya. Dia dan istrinya bekerja, dan sama sekali tidak memakai asisten. Mereka tinggal berdua saja di rumah itu, dan saat acara gathering, mereka berdua yang melayani kita. Saya langsung terbayang bedanya dengan orang-orang kaya di Indonesia dimana keluarga kelas menengah atas (sedikit) saja sudah biasa punya sopir dan pembantu lebih dari satu. Saat saya bilang ke teman di luar negeri kalau teman dan keluarga di Indonesia itu banyak yang pakai sopir dan pembantu, rata-rata tanggapan mereka adalah: "Wow keluarga kamu kaya sekali dong?" atau "Wah, apakah murah sekali pendapatan sopir dan pembantu di sana?". Unfortunately, statement kedua itu yang lebih tepat. Pendapatan rata-rata ART dan sopir di Indonesia itu murah sekali dibandingkan dengan di negara maju, sementara tuntutan pekerjaan mereka sangatlah berat.

Jadilah, si mbak yang bekerja di rumah saya saat saya back-for-good itu, jadi ART terakhir yang keluarga saya punya, sampai akhirnya mama saya punya ART lagi baru beberapa bulan lalu untuk bantu-bantu dan nemenin mama saya ngobrol. Iya, beneran nemenin ngobrol. Maklum suka kesepian lantaran anak yang cowok ngantor, anak yang ceweknya di negara orang dengan perbedaan waktu enam jam. Plus usia mama juga sudah di atas 60 tahun, nggak bisa dipungkiri kalau fisiknya tambah nggak kuat. Nah, poin plus dari terjangkaunya gaji ART ya itu, jadi masih bisa mempekerjakan mereka tanpa harus bikin bangkrut. Rata-rata ART yang mengabdi di rumah saya sangat awet-awet. Saya masih ingat semua ART dari jaman saya bayi sampai saat saya akhirnya pisah dari mama setelah menikah. Mama saya termasuk orang yang sayang dan perhatian sama ART, tapi tidak berlebihan sehingga ART tidak sampai jadi jumawa. Mama termasuk orang yang serba bisa dari masa muda, dan termasuk yang nggak panikan juga kalau ART nggak balik setelah lebaran. Untungnya ART-ART kami itu rata-rata balik setelah lebaran, dan kalau sampai berhenti, alasannya klasik: Nikah dan tinggal di kampung selamanya. Ada beberapa ART kami yang nangis-nangis karena dipaksa nikah. Ada yang dari buta huruf bekerja sama kita tapi learning effortnya besar banget sampai jadi salah satu yang sukses di kampung. Ada juga yang akhirnya nikah terpaksa, lalu jadi kurus kering dan hidup nelangsa di kampung. Ya begitulah, di desa, kalau usia di atas 20 belum kawin, dianggap perawan tua toh? Padahal saya yakin, di antara mereka pasti juga banyak yang kepingin mengabdi lebih lama.

Jadi kalau ditanya kenapa dulu nggak pakai ART, alasan pertama adalah, supaya saya lebih mandiri. Kemandirian ini penting banget buat saya. Kita nggak akan pernah tau hidup akan membawa kita ke mana. Hidup itu kan kayak roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kayak bola juga, kadang mental sini dan mental sono. Kita nggak selalu punya privilege untuk punya ART di semua tempat. Bersyukurlah di Indonesia masih terjangkau biayanya, jadi bisa dengan lebih mudah mempekerjakan ART atau sopir. Tapi kalau sampai nanti  hidup membawa saya ke suatu tempat dimana saya nggak punya chance untuk punya ART, saya nggak mau sampai jadi orang yang cengo, nggak bisa ngurus rumah tangga, nggak bisa ngurus anak, dan akhirnya jadi depresi lantaran selalu menggantungkan kehidupan saya pada orang lain. Mungkin ada bagusnya pas saya kecil dulu, mama saya galaknya minta ampun untuk memastikan di umur 8-9 tahun, saya sudah bisa mengerjakan basic level of chores macam ngelap, nyapu, nyuci, ngepel, dan berbagai kerjaan rumah tangga lainnya. Jadi pas akhirnya pertama kali ke negeri orang untuk belajar, saya tidak canggung untuk minimal ngosek kamar mandi.

Tapi kok dulu pakai baby sitter sih, Le? Bukannya nggak mau pakai asisten? Nah, ini another story. Dulu pas saya  hamil Abby, tadinya saya berniat untuk kembali masuk ngantor setelah melahirkan. Sudah sekolah jauh-jauh, rasanya sayang banget ilmu yang sudah didapat ini tidak diaplikasikan di pekerjaan kantoran. Jadilah, saya sudah jauh-jauh hari berencana untuk mempekerjaan baby sitter. Kenapa nggak nitip mertua aja yang rumahnya cuma selemparan kolor dari tempat tinggal saya? Oh, titip mertua iya juga, tapiiii... buat saya yang namanya nitip itu = minta mertua ngawasin, bukan minta mertua ngurusin. Jangan sampai mertua yang capek-capek ngurusin cucunya. Mami mertua saya juga harus masih bisa melaksanakan kegiatan sehari-hari tentunya, tanpa harus terbebani dengan kehadiran cucu. Akhirnya saya jadi punya suster kesayangan yang bekerja untuk saya sampai saya pindah ke sini. Biarpun akhirnya di tengah-tengah itu saya memutuskan jadi ibu rumah tangga penuh waktu, suster kesayangan tetap ikut saya dan itung-itung jadi teman ngobrol saya di rumah plus support system untuk membesarkan Abby. Nah, karena buat saya punya baby sitter itu merupakan sebuah privilege, makanya saya memperlakukan dia sebaik mungkin supaya dia merasa dimanusiakan. Fokus dia pun lebih ke mengurus anak sesuai jobdescnya. Apakah saya bisa survive kalau tanpa suster? The answer is of course yes. Saya percaya kita sebagai ibu punya naluri yang kuat untuk mengurus anak dan rumah tangga, tapi bisa punya pengasuh anak yang baik, itu keberuntungan ekstra.

Alasan kedua kenapa saya nggak punya ART adalah, saya tipe yang memilih lebih capek badan daripada capek hati. Mendengar cerita ART jaman sekarang, seringkali bikin saya pusing kepala. Apalagi banyak banget teman-teman saya yang sampai berganti-ganti ART dan baby sitter terus menerus. Dengerin curhatan teman-teman aja saya pegel, apalagi kalau ngalamin sendiri kan? Syukurnya selama punya ART, nggak pernah ketemu yang kelewat aneh-aneh sampai bikin stress. Menurut saya, selama masih bisa dihandle sendiri, keberadaan ART itu nggak penting-penting banget, termasuk di Indonesia. Hal ini berbeda dengan mami mertua saya yang tipenya tidak bisa hidup tanpa ART. Maklum, buat dia itu semua sisi rumah harus kinclong rapi jali tak bernoda. Nggak bisa santai pokoknya dia liat yang kotor-kotor dikit. Percaya atau tidak, mertua saya itu saking ngga mau kompornya kena noda, seluruh area kompor ditutupin pakai kertas kado. Jadi dia seneng banget koleksi kertas kado bagus-bagus, bahkan saat jalan-jalan ke luar negeri. Buat apa? Buat nutupin sekitar kompor hihihihi. Jadi saat saya bilang saya tidak mau pakai ART sehabis melahirkan, mertua saya melotot. Bagi dia itu impossible! Buat saya, toh saya sudah punya baby sitter, pekerjaan rumah tangga kan bisa saya yang kerjain. Buat dia, no no no, saya nggak mungkin selamat tanpa bantuan ART. Jadilah dia sukarela (dan agak maksa) mensponsori saya ART harian yang datang seminggu 3 kali selama dua sampai tiga jam walaupun sudah saya tolak-tolak. Di tiga hari lainnya, si ART kerja di mertua saya. Lalu gimana hidup saya dengan ART setelah sekian lama nggak pakai?

Buat saya ngelihat ART yang kerjanya klemer-klemer itu, bikin KZL. Dan ART yang satu ini menurut saya sih begitu. Pekerjaan yang dia lakukan juga sebenarnya bisa saya kerjakan semua. Tapi namanya disponsorin mertua, sudah lah terima saja, itung-itung istirahat sehabis lahiran. Saya sendiri nggak sreg karena setiap hari ada aja cerita dia jelek-jelekin mertua saya, walaupun cuma hal-hal kecil.  Banyak orang yang mungkin senang mendengar gosip soal mertua, tapi menurut saya, si ART ini cuma bawa virus doang yang berusaha panas-panasin hubungan saya dengan mertua. Saya sih kebal dan cuek sama segala cerita-cerita kecil gak penting. Tapi masalahnya, yang di sisi mertua itu, lupa pasang anti virus, dan kena lah sama si ART. Suatu hari, suami saya cerita ke saya, katanya mami dia abis negur dia. Isinya adalah, "Bilangin tuh sama istri kamu, jangan pelit-pelit jadi orang. Masak pembantu minta pembersih lantai aja nggak dibeliin, sampai dia harus pakai duit sendiri?" Ajegileeee!! Itu parah banget!! Mana pernah saya nggak beli pembersih lantai? Padahal cerita yang benernya itu, si ART minta pembersih lantai ke saya karena habis, lalu saya bilang kalau saya akan beliin. Jadi dua hari kemudian saat dia balik ke rumah saya, itu pembersih lantai sudah ada, tapi si ART bawa sekantong pembersih yang dia beli sendiri. Rupanya, si ART itu maunya saat dia bilang pembersih lantai habis, saat itu juga saya kasih uang ke dia untuk beliin. Lah, di rumah saya mana berlaku kayak begitu? Kalau habis ya saya beliin, bukan langsung kasih uang ke ART-nya. Tapi si ART ini ngarang, kesannya saya pelit dan keterlaluan, sampai dia harus pakai uangnya sendiri. Namanya mertua yang sudah lebih lama kenal dengan ART dibandingkan kenal mantunya, apparently lebih percaya sama ART. Lalu apa yang saya lakukan?

Langsung saya kontak mertua saya saat itu juga. Saya bilang, kalau saya sungguh nggak butuh ART. ART cuma akan membawa virus perpecahan antara menantu dan mertua kalau modelnya kayak begitu. Saya juga bilang ke mertua kalau selama ini performancenya si ART itu nggak bagus, dan juga hobi jelek-jelekin mertua ke saya. Baru di situ mertua saya sadar kalau selama ini dia dikerjain sama ART, dan diberikan image jelek soal menantunya. Besoknya si ART dipanggil sama mertua, dan dilepaskan secara hormat dengan alasan saya bisa handle pekerjaan rumah tangganya, dan saya yang kasih pesangonnya padahal kerja baru tiga bulan. Jujur, begitu si ART nggak datang lagi ke rumah, hidup saya jauh lebih sejahtera. Toh nyetrika baju buat saya itu jadi pekerjaan yang therapeutic. Tinggal nyalain AC, nyalain TV, beres. Nyapu dan ngepel juga nggak harus kelewat sering, yang penting rumah jangan sampai jorok. Masak memasak juga selama ini saya yang handle. Jadi ya beneran malah jauh lebih enak tanpa ART walaupun ARTnya gratis disponsorin. Bener kan, enakan capek badan sedikit daripada capek hati?

Alasan ketiga kenapa saya tenang nggak pakai ART adalah, saya punya suami yang bisa diajak kerjasama untuk beberes. Bersyukur juga punya suami yang masih bisa berjibaku bantuin istri ditengah kesibukannya ngantor. Buat saya, pekerjaan rumah tangga itu bukan tugas istri semata. Saya tuh ingat banget pas jaman kita pacaran dulu dan suami masih di Singapura, setiap sabtu itu adalah hari dia dan roommate-roomatenya beberes. Apartemennya itu bersih banget untuk ukuran para bachelor, dan saya lumayan salut sama komitmen mereka untuk memastikan rumah bersih dan nggak kayak bachelor pad yang amburadul. Jadi waktu saya memutuskan nggak mau pakai ART, buat dia bukanlah merupakan suatu beban berat. Toh dia juga sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesuai kapasitas dia, dan itu berlangsung sampai sekarang. Mungkin nih, kalau dia tipe males duduk doang, saya juga ngga akan tahan nggak pakai ART. Tapi kemungkinan besar, kalau dia tipe males duduk doang, juga udah gak lulus jadi suami hihihi.

Alasan printilan lainnya kenapa nggak pakai ART adalah, karena jaman sekarang kita sudah banyak kebantu sama teknologi. Walaupun tetap pakai tenaga manusianya banyak, tapi minimal punya washing machine, dryer, microwave, vacuum cleaner, segala semprotan pembersih, dll, sudah banyak membantu untuk hemat tenaga, dan membantu kita untuk punya time management yang lebih baik. Contoh, kalau senin sore, saya cemplungin semua baju ke mesin cuci, lalu ke dryer, biasanya dua ronde. Malam-malam semua sudah kering, dan hari selasa pagi sudah siap disetrika. Nah, pas semuanya di mesin, saya bisa ngerjain yang lain-lain juga, nyiapin makan malam, ngajarin anak baca, ya intinya semua bisa dibikin multitasking. Saya juga sadar, pilihan jadi ibu rumah tangga penuh waktu juga membuat saya lebih nggak bergantung pada ART. Pilihan ini mungkin nggak bisa dimiliki sama semua orang, dan saya bersyukur juga karena itu.

Jadi, Le, apa anti sama orang yang pakai ART? Ya tentu nggak dong. Saya aja suka kangen kok pakai ART, apalagi kalau badan pegel linu lantaran kecapekan. Semuanya balik lagi sama kebutuhan dan juga pada pilihan. Di Indonesia misalnya, belum terlalu kental budaya daycare, sehingga punya ART dan babysitter merupakan sebuah pilihan untuk jaga anak di rumah. Lalu buat yang rumahnya gede banget dan nggak bisa handle pekerjaan rumah sendiri, sah-sah aja punya ART. Ada juga yang memang clean freak dan ingin rumahnya selalu kinclong, atau memang sibuk banget sehingga gak ada waktu, ya silakan. Juga buat lansia di Indonesia, budaya retirement home juga bukan hal yang lazim sehingga punya ART atau sitter jadi opsi untuk menikmati masa tua. Tinggal balik ke orangnya masing-masing. Yang penting sih, kalau buat saya pribadi (buat saya ya, buat orang lain belum tentu), jangan sampai hidup kita akhirnya dikontrol sama ART atau baby sitter. Jangan sampai kita akhirnya nggak sejahtera setiap hari karena cuma mikirin masalah ART atau baby sitter yang tak kunjung padam.

Nah, saya percaya sih, semua ibu-ibu (bahkan bapak-bapak) di sini, pasti pernah punya cerita seru menyangkut drama ART dan punya pilihan sendiri soal memakai dan tidak memakai ART. Apapun pilihannya, yang penting semuanya bahagia dengan pilihan masing-masing. Untuk saya, sekian lama tidak memakai ART sungguh sangat membantu saat memulai hidup di sini. Minimal saya dan suami nggak kagok sama sekali mengurus semuanya sendiri. Waktu itu sempat kepikiran juga sih, apakah saya beneran bisa tanpa baby sitter setelah tiga tahun lebih barengan mengurus Abby, dan seperti saya tulis di atas, naluri seorang ibu itu pasti bisa jalan demi memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sekarang malah lebih seru lagi kan? Kombo ngurus suami dan dua anak sekaligus, dan syukurlah, masih selamat tanpa ART. Lagian kalau pakai ART di sini sih... saya langsung teriak lagunya Krisdayanti aja deh, "Ku tak sangggguppppp......(bayarnya)."

35 comments:

  1. Hugsss cii Leony! Hampir sama spt yg aku rasakan shg sampe skr jg ga pake ART nginep, cm ART kerja 2jam utk bersih2 aja.. Klo boleh nanya cii, dr pengalaman aku jg si, klo ga ada ART dan merantau gitu jd susah ga sih ci klo mau dating sama suami?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan kan ART 2 jam untuk bebersih rumah, dan terutama buat cuci gosok ya hehehe. Yang namanya dating, itu nggak harus keluar rumah dan fancy2 kok. Cukup tunggu anak-anak sudah tidur, kita nonton film berdua sambil nyemil, itu juga sudah romantis. Ya, kalau memang mau keluar rumah, harus tunggu saat ada family yang lagi mampir di sini. Tapi di Jakarta aja, cici juga jarang keluar tanpa anak-anak. Nanti saat anak-anak sudah besar, bisa puas-puasin deh keluar berdua. Hehehe.

      Delete
    2. Iya ci lumayan banget apalgi dia dtg pagi2 pas aku hrs beberes anak2 mau sekolah :) Iya bener bgt ya ci soal dating, thank you for reminding me lgi.. cm kdg suka mupeng liat temen2 yg punya pasukan ART wkwkwk.. kyknya kok asik2 aja sih pergi sana sini. Aku salut lohh sama cici :) Thank you!

      Delete
  2. Toss ci sama2 ga pake art, klo aq aq alasannya karena cape aja sama drama2 dari art. Dulu pernah pakai jasa art harian tapi cuman sebentar yg mana malah kadang bingung sama art nya ada aja alasan buat ga masuk. Mending kerja sendiri aja, itung2 aq lebih mandiri dan ga pusing jg sama drama2 art yg beragam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya sebenernya kerjain sendiri juga not too bad kok. Soalnya capek hati kalau ngadepin manusia yang ngga ngenakin.

      Delete
  3. aku padamau buLe! suka mandirinya tapi kadang berasa kangen kalo badan lagi ngerentek apalagi si mbak di rumah indo dulu itu udah dari aku kecil, jadi kayak udah ada telepati gitu kalo mau minta apa2 udah tau duluan hahaha :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, manusiawi lah kalau kita udah kerjain semua, pasti capek dan berharap ada bala bantuan hahaha. Cuma ternyata ngejalaninnya gak sesulit yang dibayangkan orang-orang yang biasa ada ART selalu ya.

      Delete
  4. Pernah punya ART buat urusin bocil (doang, krn chores rumtang lainnya dikerjain ndiri) dengan diawasi nyokap tapi kerjaannya mangkir mulu..nyokap males lah, ndilalah dia tb2 ga dateng lg, dibajak sama tetangga satu komplek..malah nyokap seneng. Waktu dia balik minta kerja sama kita lagi, ditolak mentah2 sama nyokap 😁 dan dia ga mau cari ART lainnya. Katanya risih ada orang lain di rumah, padahal kan pengennya nyokap ga cape.. 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, biarin aja, nyokap juga males kali capek hati, lebih milih capek badan. Nanti siapa tau ketemu ART yang lebih pas, dan cocok sama nyokap.

      Delete
  5. Le, gw tuh dulu termasuk yang tiap lebaran ga mau di Jakarta,soalnya ga ada art.. haha.. en kalo dirumah aja pas lebaran ya, udah 5 orang nih sekeluraga yang bagi tugas bersih2 tetep rasanya ga kelar2... tapi ya begitu tinggal di luar ternyata oke2 aja sih, cuma gw tetep kagak nyetrika.. paling ga suka nyetrika.. kelar dryer langsung lipet, kalo masih panas2 biasanya lebih ga lecek kalo dilipet.. nyetrika yach kalo ada baju yang kusut banget or mau dipake ke acara2 tertentu.. itu juga suami yang nyetrikain haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa ya nyetrika itu selalu jadi momok untuk semua orang. Sebenernya bisa jadi kegiatan yang menyenangkan juga sih, asal adem (kalau buat gue hahahaha). Btw, kalau masih berdua sama suami, memang masih ringan sih, gak ada beda lah sama single. Tapi nanti coba dirasakan pas udah ada anak (apalagi pas anak masih kecil), itu kerjaan lebih terasa gak kelar-kelar lagi hahahaha.

      Delete
    2. i wish gw bisa seneng nyetrika haha.. secara kalo semua disetrikain bisa sejam sendiri, jadi ngerasa kayak bang-buang waktu le.. apalagi kalo baju yang cuma dipake dirumah doank.. haha

      Delete
  6. so far selama pake ART, jarang pake ketemu yang aneh2... mentok2 palingan pulang kampung trus ga balik lagi... bahkan susternya si jayden aja awet nih dari jayden bayi masih ikut gua ampe sekarang hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Good for you, Mel. Sama kayak gue ketemu suster juga awet sampe kita pindah.

      Delete
  7. kalo gua sih mending pake ART dah. cape ati sih bisa lah dicuek2in. yang penting gak cape badan. hahaha. tapi ya apa daya disini mahal jadi mau gak mau gak pake ART :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lu mungkin karena dari sisi bapak-bapak, Man. Biasa bapak-bapak nggak terlalu ngadepin drama dan urusan ART (dan biasa lebih memilih gak ikut campur soal urusan ART). Kalau ibunya, yang ngadepin sehari-hari, kadang bisa lain urusan.

      Delete
  8. Ihhh ci le kok samaa, hampir sama deng...

    aku pun pasca lahiran sesar ceritanya disponsorin ART ma om/tante, (ceritanya kan pak suami ngehandle jg perusahaan keluarga milik om), jadi bgitu cuti beliau habis buat nemenin aku pascalahiran, maksud si om biar pak su fokus juga ma kerjaan jadilah dia kirim bala bantuan ke rumah buat bantu-bantu dari pagi pulang sore, ntar kami yg nambahin dikit gajinya...

    tapi tapi tapi setelah dicoba beberapa minggu dan kuanalisis segala tindak-tanduknya.... memang sih kerja dia gesit, tapi suka ngeluh...lalu gibah pula (kan males denger dia curcol ini itu).

    Gawatnya lagi orangnya suka main gasak makanan yang ada di kulkas, milihnya yang mahal-mahal pulaak (wow???ku takjub sekaligus gedeg), tapi klo aku naruh pisang atau pepaya ga ada dia nyolek...maunya apel, anggur, mangga, yang enak2 deh
    memang pada awalnya aku yang nawarin--ya sebage basa basi doang...kataku, ada tu cemilan klo mau ambil ambil aja...mikirku ya paling ngambil seberapa kan ga langsung buanyaaak...e ini kagak, segala booster asiku diembat. Lalu klo aku naruh buah dikit yang agak mahalan terutama kayak anggur, apel, dll besokane langsung lenyap. Padahal masih dibungkus kresek biar ga keliatan. Masa beli 2 kilo buah, besokane lenyap tinggal 2 atau 3 biji. Ini kejadian ga cuma sekali soale...hampir tiap hari mlh. Padahal tuan rumah blom ngicip 1 pun wkwk.

    Lalu klo aku naruh cemilan apa gitu yang buat booster asiku, kok secara frontal dia langsung nyeplos : "Bagi ya mbaaaa makanannya"...langsung ambil plastik gede sorrr tuangin banyak banget itu cemilan ijk trus dia bawa pulang. Padahal blom ada aku nawarin. Uuuh wow hahaaa...(kzl dan ngebatin kok etiketnya bgini amat ya).

    Ada lagi, klo jam baby tidur n aku tidur karena ngeganti begadang...e dia brag brug brag brug brisiiik banget kerjaannya. Nyuci sambil nyanyi tapi bunyiinnya kenceng bgt klo ga cetat cetet kompor mulu or ngspain gitu padahal perasaan rumah uda bersih...

    yang nyebelinnya lagi, karena sistemnya pulang pergi, dia klo pagi ngarettt terus. Uda tau abis lairan rempongnya bukan main...akhire karena aku orangnya suka kebersihan--jadi pagi klo ngliat apa yg blom beres tu suka ga tahan ya. Makanya langsung takberesin aja saat itu juga...mandiin bayi, masak, nyapu, ngepel, cuci-cuci. Nah si ART ini dateng mlh pas semua dah kinclong, kan ga guna bangeud haha...

    pas jam aku dan beby tidur, dia maen gedabrag gedubrug seolah-olah lg beresin apa padahal aslinya dah takhandle dari pagi

    lama lama karena stress akhirnya ku request aja ma pak su udahlah sampe sebulsn aja cukup ngga mau pake dia lagi...cape hati...mending cape badan emang haha #eyaampun panjang amat yak komen aku hiks haha sungkem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahahha, memang paling menyebalkan adalah ART yang suka ngerasa dirinya penting banget, jadi tingkah lakunya seenaknya. Belum lagi yang suka nyolong! Brapa banyak tuh drama ART bukan cuma karena tingkah di luarnya, tapi juga karena suka ngutilnya. Gak apa-apa curcol dimari, daripada ngoceh-ngoceh ke suami kan tar dia bete hahahaha. Jadi mending dicurahkan dalam bentuk tulisan, bisa berbagi sama pembaca di sini.

      Syukur deh ya, ternyata tanpa ART pun, ibu-ibu perkasa bisa survive!

      Delete
  9. Kata gw salah satu penyebar virus lain (bahkan bakteri) itu adalah grup WA hahahaha kalau kita bacanya mentah2 nggak pake filter yg ada bisa kena adu domba :D makanya temen gw segitu2 aja hihihi

    Sayangnya gw masih perlu asisten harian, nggak kekejar kalau nggak habis waktu buat kerjaan RT T_T suatu hari apabila diperlukan rencana juga nggak mau pake entah bisa apa nggak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Elu mah bu, udah kayak titiran, les anaknya seabrek2 hihihi. Plus ya, yang bikin habis waktu itu, Jakarta macetnya minta ampyunnn! Nanti bu, tunggu anak-anak udah kuliah semua, baru deh, mereka bisa mandiri, lu gak usah kayak titiran lagi hehehe.

      Delete
  10. Aku juga termasuk yang gak betah ada ART... dan setuju, mending capek badan daripada capek ati. Sekarang di rumah pun ada yang bantu, itu ponakan yang tugas utamanya jaga anakku yang paling kecil. Jadi aku gak bisa nuntut kerjaan rumah kepegang selama aku di kantor. Sebenernya butuh bantuan, tapi akhirnya mari kita kerjakan sebisanya.. yang penting-penting dulu kerjakan, gak boleh terlalu perfect deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, hal-hal yang krusial aja yang diutamakan. Kalau ada debu dikit-dikit di sana sini, ya masih bisa dimaklumi, asal secara overall, rumah bersih, kesehatan orang di dalamnya terjaga, jasmani dan terutama rohani.

      Delete
  11. Hahahahaha... memang punya ART itu bagaikan buah simalakama yah. Menuru G mah idup tanpa ART bisa kok. Apalagi kalo didukung fasilitas-fasilitas dan kemudahan. Mesin cuci, robot sapu & ngepel, kulkas gede dan mutahir, rumah minim pritilan, apa lagi ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mesin setrika belum ada ya? Huahahaha. Perasaan daritadi gue baca, sebagian kendala orang tuh males nyetrika soalnya.

      Delete
    2. Betullllll. Mesin setrika. Aduh itu gua mauuuuuuuuuuuuu

      Delete
  12. Gw kebalikan elo nih. Gw gak bisa hidup tanpa ART hahahahaa. Manja banget yah. Tp sebagai ibu pekerja apalah dayaku tanpa bantuan asisten rumah tangga... untungnya selama ini ART / BS gw baik2 sih. Gak ada drama aneh2. Mungkin karena gw nya juga cuek sih, gak terlalu bawelin dan gak ada ekspektasi terlalu tinggi spt rumah harus bersih kinclong tak bernoda dll dll... But again, dapet ART/BS yg cocok itu untung2an, dan selama ini gw cukup beruntung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, Mel! Elu tuh termasuk beruntung. Mau gak mau full time worker memang kudu ada bala bantuan dari luar. Gak mungkin juga bisa ngandelin orang tua terus. Apalagi daycare di Indonesia kan bukan budaya yah. So far gue juga hoki kalau punya asisten (dari jaman nyokap) sampai baby sitter, semua rata-rata awet.

      Delete
  13. Kalo aku tipikal yang suka pake mbak cuci gosok hahaha. Jadi lebih demen sama ART yang pulang pergi aja, cuma bantu setrika sapu pel :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, bener kan, kayaknya selama ini yang jadi kendala orang-orang tuh mostly di bagian setrika! Hihihi. Gue rasa kalau ada mesin setrika murah, makin males orang pakai ART.

      Delete
  14. tapi begitu kena flu, flu-nya jauh lebih ganas daripada flu di Jakarta <-- Kok bisa ya Le? Baru tau hehe.. moga sekeluarga disana sehat2 slalu ya :-)

    Oo msh untung ya mama mertuamu negur lewat suami, krn banyak juga mertua yang diem2 aja. Jd dpt laporan jelek dari ART ya ditelan aja lalu gawatnya lgsg percaya. Kan susah kita ga bisa tahu kalo udah difitnah. Kalo kasusmu untungnya bisa diselesaikan krn ketauan dr cerita mertua. Krn kasus diadu domba itu rawan kena antar mertua-menantu, drpd ortu-anak kandung :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, flu di sini tuh ganas banget deh, dan bisa lama baeknya. Mostly orang di sini tuh kuat-kuat fisiknya, sementara kita yang dari Indonesia ini kan masih rada letoy ya. Jadi ketemu penyakit yg di sini, langsung blek! Hahahaha.

      Ya untungnya punya mertua masih lumayan bagus komunikasinya sama kita, malah termasuk akrab (walau saat itu belum seakrab sekarang sih ya, kan masih baru jadi menantu). Kalau ortu sama anak mah udah ada tektoknya alias naluri hehe, lagian biasa lebih terbuka karena sudah kenal seumur hidup.

      Delete
  15. Wah jaman dulu mah mama sama ART banyak dramanya. Mama sibuk ditoko, tapi dia orangnya bersihan jadilah dia mesti punya ART. Ada yg betah dan kerja lama, ada juga yg sekilas mata doang. Tapi yg paling memukul perasaan mama sampe akhirnya kita cuma punya ART pulang hari adalah salah satu ART kesayangan ternyata berani mukul, nyubit, jambak adek aku hanya karena dia gak sabaran.
    Sejak itu nyokap gak pake ART, cuma kerja sama aja sama aku yg kebetulan udah SMP untuk ngurusin rumah. Dan ternyata gak susah kok. Bener kata cici, kuncinya kerja sama.
    Positifnya, pas SMA aku ngekos udah ga kaget lagi ngerjain kerjaan rumah tangga sendiri kayak cuci piring, cuci baju, nyapu, ngepel. Jangan salah loh, ada anak kos yg langsung bisa dan terbiasa ngerjain itu semua. Aku juga gak bergantung sama pembantu kos, gak perlu keluar uang lebih untuk dia bersihin kamar aku.
    ART yg less drama, emang ART yg pulang pergi ci. Yg cuma ngerjain kerjaan yg basic2 aja kayak cuci baju dan nyetrika. Nyokap baru pake ART harian setelah aku sekolah keluar kota sih.
    Sekarang setelah berumah tangga, aku juga pilih gak pake ART, semua dikerjain aja dengan bagi tugas sama suami. Kan lumayan tuh uang buat bayar ART bisa dipake buat jalan2 atau makan enak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh btw semoga flu nya cepat sembuh ya ci. Di Indonesia juga lagi banyak yg kena flu :)

      Delete
    2. Hehe, temen cici di Amrik dulu, ada yang baru sampai, masak Indomie aja nggak bisa! Maklum asistennya di Indonesia bejibun. Kamu masih berdua sama suami, pasti lah bisa kehandle semuanya dengan baik! Thank you, flunya udah sembuh nih. Syukurlaaahhh!

      Delete
  16. Hi Le, udah lama banget nih gak mampir ke sini, sama deh sama cerita loe, ngurusin anak, ngurusin rumah, gue masih kerja part time juga...tapi emang sih dibantu mertua dan part time cleaner. gak kebayang kalo mesti gue sendiri yg ngerjain semua nya....*tepar duluan*....
    semenjak tau mau punya anak ke2, gue sama suami juga bertanya-tanya...sanggup gak kita tanpa pembantu...malah FIL sempet nyaranin pake pembantu, padahal dia sendiri ogah banget punya pembantu di rumahnya,...tapi karena kasian ngeliatin kita rush ke sini sono, apalagi kalo anak sakit, salah satu kita mesti cuti kerja, yg menurut dia membahayakan "prestasi" di kantor, terutama buat suami.
    Tapi yahhh...gitu deh...gue sama suami ogah banget dengan intrusi privasi kalo ada pembantu.
    -Nancy-

    ReplyDelete