Wednesday, June 06, 2018

Kenapa Saya Nggak Pakai Instagram

Setiap ada kawan saya yang tau kalau saya sampai sekarang nggak punya akun Instagram, pasti mereka merasa saya kurang gaul dan ketinggalan jaman. Katanya kalau ngomongin akun Instagram orang lain, saya jadi nggak nyambung. Hampir semua kawan-kawan dan keluarga saya pakai akun Instagram, bahkan saudara saya sendiri ada yang sudah jadi selebgram yang kalau bikin jumpa fans di mall dalam dan luar kota, yang dateng puenuhhhh, isinya ABG teriak-teriak. Bahkan nih, dunia blog saat ini menjadi lebih sepi karena orang lebih memilih update lewat instagram. Praktis, cepat, nggak usah mikirin isi content panjang-panjang, dan tetap bisa "berekspresi" ke dunia luar. Anak-anak ABG di sini bilang ke saya, "Hah? Tante masih pake Facebook? Tante pake Insta donggg!" dengan nada seakan-akan saya ini primitif banget hahaha. Lalu kenapa saya masih kekeuh sampai saat ini nggak juga bikin akun Instagram?

Monday, May 14, 2018

Catatan Kecil Hari Ini Untuk Kita Semua

Dari dulu, saya nggak pernah suka dengan segala sesuatu yang ekstrim, termasuk "kegilaan" orang dengan agama, sampai mendiskreditkan kawan-kawannya sendiri, bahkan yang seiman dengannya. Saya sebagai umat Kristiani, juga mengalami bertemu dengan sesama yang juga Kristiani, tetapi memaksa saya berpindah ke aliran mereka, hanya karena katanya aliran mereka yang paling benar, paling sah, paling top markotop, dan sudah PASTI masuk surga. Aliran saya ditantang, pengetahuan agama saya (yang mungkin tidak terlalu dalam ini) diadu oleh mereka, dengan pakai ayat Alkitab. Lucunya, Alkitab saya dan Alkitab dia itu sama persis, tapi mereka tafsirkan sendiri dengan berapi-api, dan saya dipaksa untuk berpandangan bahwa aliran saya itu salah dan tidak sesuai dengan Alkitab. Akhirnya, umat Kristiani yang sesungguhnya sama-sama memuji Tuhan Allah Yesus Kristus, jadi terpecah belah. Terdengar familiar?

Friday, May 04, 2018

Abby dan Tilly Tamasya Ke Rotorua (lagi dan lagi!) - Bagian 2

Berbeda dengan anak-anak di belahan bumi Utara yang libur musim panasnya di pertengahan tahun, anak-anak di belahan bumi Selatan itu libur panjangnya justru di akhir sampai awal tahun. Liburnya pun tidak seperti anak-anak di Amerika yang sampai 3 bulanan. Anak-anak di Selandia Baru sini liburnya palingan enam minggu saja. Terdengar cukup lama ya? Tapi ternyata pas dijalanin, kok cepat sekali waktu berlalu. Waktu libur panjang di akhir 2017 lalu, kami sibuk banget, ditambah lagi ada perayaan ulang tahun Abby ke lima yang di sini tradisinya dirayakan lumayan besar. Lalu pas tinggal beberapa hari sebelum liburan berakhir, kami baru sadar kalau...kami belum jalan-jalan kemana-mana! Padahal habis liburan ini kan Abby sudah mau masuk SD ya? Masak sih kita nggak jalan-jalan dikit gitu untuk memory Abby sebelum masuk sekolah? Berhubung weekend itu sudah weekend terakhir sebelum masuk sekolah, akhirnya kita ngebut aja deh, booking hotel beberapa hari sebelumnya aja. Tripnya, lagi-lagi ke Rotorua, cuma satu malam, tapi dengan tujuan berbeda. Yang bikin beda kali ini adalah, Tilly udah mulai MPASInya nih! Jadi bawaan mama semakin beragam, walaupun tetap ringkas. Ngapain aja kita kali ini?


Thursday, April 26, 2018

Abby dan Tilly Tamasya Ke Rotorua (lagi dan lagi!) - Bagian 1

Postingan kali ini, semuanya late post. Biarpun Abby sudah beberapa kali ke Rotorua, tapi baru kali ini perginya barengan sama Tilly. Trip yang pertama di bulan September 2017 pas Tilly usia 2 bulan lebih, dan trip yang kedua di bulan Januari 2018 pas Tilly usia 6 bulan lebih. Asik ya, masih bayi aja udah dua kali nginap di Rotorua hihihi. Mana sebelumnya udah ke gunung salju pula pas usianya belum dua bulan. Rotorua, kota yang jaraknya cuma 3 jam dari Auckland ini, memang selalu memanggil untuk dikunjungi balik, soalnya ada aja hal yang seru yang bisa kita lakukan di sana. Trip yang pertama itu dalam rangka ngajak adik saya jalan-jalan saat dia ke Selandia Baru untuk temu kangen dengan cici dan ponakan-ponakannya, lalu trip yang kedua itu, pas weekend terakhir sebelum Abby masuk sekolah setelah libur panjang musim panas. Sayang banget kalau dibuang, karena kita nyoba tempat nginap baru, dan tempat makan baru, plus ngelihat perkembangan anak-anak, ealahhh kok cepat amat besarnya. Fotonya udah diirit-irit nih ya, dan tetep masih panjang (huks). Yuk disimak!

Thursday, April 19, 2018

Pelayanan Pelanggan Yang Memuaskan

Saya ini termasuk orang yang sangat menghargai pelayanan pelanggan alias customer service. Menurut saya, customer service yang baik adalah kunci dari kesuksesan. Punya produk sebagus apapun, kalau pelayanannya jeblok, langsung membuat saya malas balik ke tempat tersebut. Tapi jika produk cukup baik, ditambah pelayanan memuaskan, rasanya tuh bikin hati ingin kembali untuk menghargai orang-orang yang memberikan pelayanan terbaik. Kali ini saya mau membagikan kisah sederhana, dari seorang pramuniaga toko, yang menurut saya sih, pelayanannya super!

Friday, March 23, 2018

Soal Asisten Rumah Tangga

Tulisan ini udah nangkring di draft saya hampir sebulan, tapi baru sekarang bisa post lantaran saya kena flu berat. Di Selandia Baru ini, udaranya sih memang bersih banget, tapi begitu kena flu, flu-nya jauh lebih ganas daripada flu di Jakarta. Ditambah lagi saya nggak bisa mengkonsumsi obat karena lagi menyusui. Kalau malam terbatuk-batuk sampai nggak nidurin, pokoknya menderita total. Serumah juga akhirnya kena beler semua, tapi memang saya yang paling parah. Komplitlah perjuangan selama lebih dari dua minggu, mana lagi sibuk-sibuknya. Sampai sekarang saja belum sembuh betul. ASI saya sampai seret banget, bayangin stress levelnya udah kayak apaan deh. Kalau lagi begitu, ada sih rasa kangen punya bala bantuan seperti di Jakarta, walau akhirnya sadar, di sini pun kalau sakit ya semua ngurus sendiri, palingan dibantu sama keluarga dekat. Pas banget postingan di draft saya ngomongin soal ART, yang akhirnya launching juga nih hihihi. Penasaran saya nulis apaan?

Thursday, February 22, 2018

Serunya Jadi Ibu Dua Anak

Sudah tujuh bulan ini saya resmi jadi ibu dua orang anak, di negeri orang, tanpa bala bantuan pula di rumah kecuali dari suami tercinta. Rasanya gimana? Ya nano-nano banget, manis, asem, asin, kadang-kadang emosi jiwa, kadang-kadang tertawa bahagia. Memang tentu jauh lebih sibuk dan berat dibandingkan dulu punya satu anak dengan support system yang mumpuni a.k.a. punya baby sitter plus bantuan keluarga yang masih satu kota. Yang jelas, semuanya ternyata nggak sesulit yang dibayangkan. Setiap hari kami keluarga masih bisa makan enak, rumah masih lumayan terjaga rapi walau nggak mungkin kinclong setiap hari, baju-baju semua masih bersih dan disetrika dengan baik, anak sekolah dan les nggak terlantar, dan yang jelas, mamanya masih waras. Horeeee!

Thursday, February 01, 2018

Abigail's Fifth Birthday Celebration

Hari ini tanggal 1 Februari 2018, hari pertama Abby masuk SD. Iya, anak mama yang bawel itu, hari ini masuk ke "sekolah beneran"!! Di Selandia Baru sini, ulang tahun ke lima jadi salah satu perayaan ulang tahun terbesar untuk anak-anak, karena di hari ulang tahun ke lima, mereka resmi jadi anak SD. Uniknya, sistem di Selandia Baru, begitu ultah ke lima, boom.... langsung pindah ke SD tanpa menunggu tahun ajaran baru yang dimulai di awal tahun. Tiap anak memulai kelas 1 SD-nya sesuai dengan hari ulang tahunnya. Jadi jangan bingung ada yang SD kelas 1-nya cuma berlangsung enam bulanan, ada juga yang SD kelas 1-nya berlangsung hampir satu setengah tahun lantaran kena cut off date. Berhubung Abby ulang tahunnya di malam Natal, yang berarti masuk di masa libur panjang musim panas, Abby baru masuk sekolah hari ini. Pagi tadi, mama dan papa melepas dia di kelas, dan kayaknya dia nggak merasa takut sama sekali. Dia langsung cari tempat duduk dengan tulisan namanya, langsung ngumpul dengan teman lama dan baru, lalu ikut assembly (kumpul besar) di aula. Kayaknya, orangtuanya jauh lebih nervous daripada sang anak. Anak mama tersayang ternyata udah gede banget, dan mama bangga banget melihat dia masuk sekolah dengan berani tanpa drama sama sekali.

Thursday, January 25, 2018

Abby Dan Tilly Tamasya ke Taupo dan Ruapehu Bagian 3

Sampailah kita ke bagian paling akhir Abby dan Tilly Tamasya ke Taupo dan Ruapehu! Post kali ini bakalan dikit aja kok foto-fotonya, soalnya beneran tinggal hari terakhir kita yang isinya perjalanan nonstop dari Ruapehu sampai balik lagi ke Auckland dengan pemberhentian di Hamilton. Biarpun cuma dikit, tetep isinya sayang kalau dilewatkan. Apalagi, di pagi hari itu, ada kejutan yang kita nggak sangka sama sekali. Apakah itu?

Wednesday, January 17, 2018

Abby Dan Tilly Tamasya ke Taupo dan Ruapehu Bagian 2

Masih ingat ya kisah yang lalu yang sengaja saya stop ditengah-tengah, biar pada penasaran? Hihihi. Jadi nggak sih kita main salju? Prakiraan cuaca sih saat itu amburadul banget ya, malah sama orang dari tempat penyewaan alat ski udah dibilang, kalau cuaca hari itu kayaknya berat banget untuk berubah jadi lebih baik. Tapi namanya kita udah jauh-jauh begitu, tetep dong ya harus usaha naik ke ski field. Gimana kelanjutannya? Yuk kita simak.

Thursday, January 04, 2018

Abby Dan Tilly Tamasya ke Taupo dan Ruapehu Bagian 1

Selamat Tahun Baru 2018 semuanya!! Berhubung masih suasana liburan, saya mau membagikan kisah tamasya perdana dari Tilly nih, yang sesungguhnya berlangsung saat usia dia 2 bulan saja yaitu pas bulan September 2017 lalu. Walaupun sudah lewat, tapi suasananya masih sesuai kok dengan Natalan, soalnya saat itu kita berwisata ke gunung salju alias Mount Ruapehu! Wuihhhh...bisa gitu ya anak dua bulan dibawa ke gunung salju? Tentu bisa dong, siapa dulu mamanya! Huahahahahaha... Saat itu juga poponya Abby dan Tilly alias mama saya masih ada di Selandia Baru yang berarti beliau ikut juga bertualang. Kasian kan masak bantuin saya terus nggak jalan-jalan kemana-mana. Jadi deh kita bareng-bareng jalan-jalan seru di akhir musim dingin di sini. Saya juga sudah lama banget nggak melihat salju. Terakhir yang bisa saya sentuh kayaknya cuma dapat sisaan winter di Turki pas honeymoon tahun 2012 lalu, dan pas ke Jepang kemarin juga cuma ngintip aja tuh salju dari puncak gunung Fuji dan nggak bisa kita sentuh sama sekali. Makanya ada juga rasa rindu pingin lagi ngerasain main-main di salju (Padahal jaman dulu sekolah dan kerja di Wisconsin, sudah sampe eneg sama salju, kok bisa kangen sih? Benci tapi rindu ya ini namanya?). Kesampaian nggak sih main saljunya?