Friday, August 25, 2017

Mothehood Saga: "After Delivery"

Judulnya pakai Bahasa Inggris dong, biar rada nyambung sama postingan sebelumnya hehehe. Padahal isinya mah pakai Bahasa Indonesia campur aduk, kadang bahasa prokem. Jadi gimana rasanya habis melahirkan Matilda? Ya tentunya seneng banget lah ya, walau saya orangnya nggak melankolis, jadi nggak ada adegan mengharu biru saat skin to skin contact dengan bayi. Tapi asli saya senyum terus ngelihat Matilda. Yang jelas pas bagian bawah dijahit, tentulah nggak terasa sama sekali. Ya iye laaahhh... Caesar gitu loh, kalo terasa mah hororrrr... Lalu apa yang terjadi selanjutnya setelah keluar dari ruang operasi? Beware, it's gonna be a quiet long story. Eng ing eng...

Masih di tanggal 18 Juli 2017, kita lanjut ke ruang pemulihan. Di situ saya dipantau terus, selain untuk melihat kondisi jahitan, memantau tekanan darah, tentunya juga untuk mengecek pendarahan. Kondisi tekanan darah saya saat itu masih stabil. Stabil tingginya gitu lohhh..  tapi masih oke kok. Ngga di atas 160. Giliran perut saya ditekan untuk cek pendarahan, alamakjan ternyata darah ngucur nonstop. Btw, udah pada tau gimana cara ngecek jumlah darah yang keluar? Caranya mereka itu pakai kayak pembalut, setelah penuh, pembalutnya itu ditimbang. Setelah ditunggu, kok ngucurnya ga berhenti-berhenti? Dokter bedah alias surgeon sudah bolak balik untuk cek. Mereka memikirkan opsi untuk menghentikan pendarahan. Yang pertama pakai obat yang dimasukkan dari bawah, dan kalau nggak berhasil, harus balik lagi ke ruang operasi untuk diinstall balon untuk nahan pendarahannya. Dokter sampai jelasin berkali-kali kalau saya masih harus nunggu untuk memastikan apakah saya harus masuk ruang operasi lagi atau ngga. Ternyata, dengan metode obat, pendarahan berhasil dihentikan. Hore! Tapi ya tetap harus nunggu sampai kondisi stabil. Lucunya (masih mikir lucunya nih...) pas di recovery itu, saya pup sampai 2 kali secara nggak sadar hihihi. Kasian banget nursenya sampai mesti 2 ronde bawa kru untuk bebersih bagian bawah yang belepotan. Rupanya, itu efek samping dari obatnya. Kebayang nggak tuh, seporsi besar kwetiaw sapi goreng yang semalam dimakan, sudah berubah bentuk, pasti aromanya menyengat hahahaha.

Kira-kira pukul 2 siang, baby dibawa ke ruangan inap untuk ditimbang dan diukur tingginya. Suami saya ikut ke atas, sementara saya tetap berada di ruang pemulihan sampai kondisi benar-benar stabil. Belakangan saya baru tau, ternyata saya kehilangan 1300 ml darah saat pendarahan itu. Kebayang sebotol Coca Cola ukuran besar? Nah segitu deh kurang lebih. Kira-kira pukul 4 sore, saya akhirnya diperbolehkan kembali ke ruangan inap. Lega banget rasanya bisa kembali ketemu dengan si bayi kesayangan. Kondisi saya lumayan stabil, dan saya sudah diperbolehkan minum dan makan sedikit. Apadaya, dari sore sampai malam itu, makanan apapun yang masuk ke lambung saya terlontar kembali keluar, padahal sudah dikasih obat anti mual. Sayapun dilarang untuk makan lagi sampai besoknya. Bayangin saja, laparnya itu bukan main sudah puasa seharian penuh, tapi tidak boleh makan. Malam itu juga dicek, tekanan darah saya drop drastis, ke 85/54!! Langsung saja semua pusing memikirkan metode apa yang terbaik. Yang jelas, obat darah tinggi saya langsung distop, dan mereka memikirkan untuk transfusi darah, lalu transfusi zat besi. Untungnya kondisi saya nampak cukup baik dan stabil. Saya jadi mikir, entah apa sayanya yang badak jadi kelihatan baik-baik saja, padahal mereka sudah concern setengah mati takut tekanan darah saya tambah ambrol lagi.

Malam itu juga saya masih ingat, supaya badan saya bisa istirahat setelah perjuangan panjang, baby akhirnya dikeluarkan dari kamar, dan saya dikasih obat sedatif alias obat tidur via infus. Yang terjadi malah parah, badan saya lemas, tapi otak saya tidak bisa tidur, dan saya merasa kekurangan oksigen. Saat itu rasanya saya butuh tidur miring supaya oksigen lebih bisa masuk. Oh iya, peraturan rumah sakit di NZ sini di atas pukul 9 malam, tidak boleh ditemani oleh siapapun walaupun di single room. Saya pencet tombol perawat, kemudian dia datang, tapi saya nggak bisa ngomong. Mata saya tidak bisa dibuka, otak saya kepingin bilang kalau saya minta tidur miring, tapi mulut saya tidak bisa berucap dengan benar. Sensorik dan motorik serasa gak bisa nyambung, sehingga saya jadi meracau. Saya bisa dengar saat suster bilang, "I don't know what you're talking about!" Akhirnya dengan susah payah saya bilang, "I can't breath. I want to sleep on the side." Tapi ya ngomongnya nggak lancar, bener-bener terbata-bata dan ngos-ngosan, sampai akhirnya susternya paham. It was such a nightmare. Akhirnya, saya berhasil tidur juga, sebentar sekali. Kira-kira pukul 2 pagi, saya dibangunkan untuk menyusui si kecil, kemudian sayapun berhasil lelap lagi untuk kali kedua.

Pukul 6 pagi esoknya, 19 Juli 2017, kurang dari 24 jam sesudah operasi, tiba-tiba suster menyalakan lampu dan membangunkan saya. Pukul 6 pagi di saat winter itu masih gelap gulita loh, antara sadar dan nggak sadar. Saat itu juga saya "dipaksa" untuk latihan berdiri dan bangun. Yes, dibantu sebentar untuk langsung berdiri dan bangun, lalu jalan ke kamar mandi!! Untuk apa? Ya untuk mandi! Dimandiin gitu? Nggak! Saya diminta buka baju sendiri, mandi sendiri, pakai baju lagi sendiri sampai selesai termasuk pakai pembalut. Susternya kemana? Nungguin di luar kamar mandi dengan posisi pintu kamar mandi tertutup. Luar biasa ya, jadi pukul 6.30 saya sudah kelar mandi aja gitu, dan jalan tertatih-tatih kembali ke ranjang. Jangan ditanya rasanya kayak apa. Tidur aja nggak cukup-cukup banget, lalu semua rasa sakit itu harus dilawan dan kita sudah dituntut mandiri. Pantes ya dengar dari pengalaman beberapa teman yang pernah lahiran di negara lain lalu lahiran di sini, mereka nggak tahan lama-lama di rumah sakit walaupun operasi caesar. Rata-rata semalam sudah ngga tahan pingin keluar, apalagi tiap malam selama di rumah sakit nggak boleh ditemani. Tapi memang di sini biasa begitu, yang lahiran normal, paling lama semalam saja di rumah sakit. Terkadang lahiran pagi, sorenya sudah check out. Hebringnya, gara-gara itu, sore-sore saya sudah bisa lumayan tahan naik turun ranjang sendiri, bersila, dan sebagainya. Cuma belum bisa koprol sama tiger sprong doang :P

Beberapa hari selanjutnya saya lewati dengan keadaan sangat kurang tidur. Awalnya saya pikir ini biasa, tapi setelah hari kedua, ketiga, jadi terasa too much. Entah kenapa Matilda ini setiap malam nangis terus walaupun kalau dipantau oleh bidan-bidan yang bertugas, dia sudah latching dan minum dengan cukup baik, tapi rasanya kok tidak pernah puas. Selain itu, tidak seperti di Indonesia dimana kalau kita sudah teler kita bisa titip bayi ini  ke ruang bayi, di NZ tidak ada itu yang namanya ruang bayi. Bayi ya 100 persen rooming in dengan mamanya, dan baru dibawa keluar kalau ada kondisi khusus. Untungnya kadang suka ketemu bidan yang baik, menawarkan bayinya dibawa sebentar ke ruang observasi di belakang kantor, tapi paling lama 1 jam saja, bayi sudah dikembalikan. Bersyukur kalau bisa colong 45 menit tidur. Bidan-bidan sampai berpesan ke saya kalau bapaknya harus datang pagi-pagi supaya mamanya bisa istirahat. Jadi deh, bapaknya bantu saya mulai dari sekitar pukul 7 pagi. Suster di sini juga sangat-sangat detail dalam merekam apapun. Soal feeding time, soal pipis, soal eek, rasanya saya nggak pernah sampai mikirin begitu-begitu amat pas di Indonesia, tapi di sini pantauannya ketat sekali padahal staffnya justru sangat sedikit sampai saya lihat mereka suka kewalahan (atau saya yang nggak biasa aja melihat pace kerja mereka). Di Indonesia kan biasa 1 pasien bisa dipegang oleh 3 suster gitu ya ganti-ganti. Di sini, 1 aja gitu yang megang kita selama shift dia, nggak pakai ganti sama sekali.

Oh iya peraturan di sini, hanya suami/ 1 orang main caregiver yang boleh menemani dari pukul 7 pagi sampai pukul 9 malam. Jam besuk ada 2 kali. Pukul 2 siang - 4 sore, lalu pukul 6 sore - 8 malam. Anak kecil yang boleh masuk di jam besuk pun hanya sibling alias saudara kandung si bayi. Waktu itu Abby mau masuk saja ditanya dulu apa benar siblingnya. Ih ketat bener deh! Setiap hari saya menunggu kapan boleh keluar dari RS, soalnya saya kangen sama Abby juga. Ketemu dia setiap hari cuma sebentar-sebentar banget, dan rasanya kalau di rumah bisa lebih enak karena minimal tengah malam ada orang lain yang bisa bantu. Seriusan setiap hari saya sudah kayak kalong, dan Matilda susah banget tenang despite saya bisa melihat ASI saya sudah mulai berproduksi. Oh iya, di hari ketiga sejak lahiran, Matilda juga sudah melakukan hearing test, dan dia pass dengan baik. Padahal katanya hearing test itu harus dilakukan saat bayi lelap. Makanya bersyukur banget kok bisaan saat itu bayinya lelap, jadi bisa diperiksa hihihi. Padahal most of the time sih...oweekkkk!! Akhirnya, hari Jumat, 21 Juli 2017 pagi, saya diberitahu kalau boleh keluar dari RS! Aduh seneng banget rasanya, soalnya sudah seminggu lebih saya menghabiskan hari di rumah sakit. Sungguh kangen dengan rumah. Tekanan darah saya saat itu dianggap cukup stabil walaupun masih tinggi berkisar di 135-140/ 100-110. Intinya, I was glad to be back home. Konsumsi obat darah tinggi saya ditetapkan 10 mg per hari. Jumlah yang normal dan wajar untuk menjaga kestabilan tekanan darah.

Besoknya, Sabtu 22 Juli 2017, home visit bidan utama saya, Sarah Blackman, untuk pertama kalinya ke rumah. Di sini bidan utama kita akan terus memantau kita dan bayi sampai 6 minggu ke depan dengan melakukan home visit. Keren banget nggak sih? Beneran loh mereka datang dan melihat kondisi rumah apakah layak, kondisi mamanya, dan kondisi bayinya. Pokoknya servisnya habis-habisan deh untuk memastikan kalau kita dalam kondisi sehat jasmani rohani. Dan hari itu saya mendapatkan fakta menyesakkan, kalau Matilda turun berat badan sampai 11 persen, padahal mestinya maksimum penurunan berat badan itu 7 persen saja dari berat lahir. Ketika diperhatikan, ternyata dia tidak bisa latch dengan baik. Cakupan mulut dia tidak bisa mencapai areola, hanya di depan saja. Walaupun bisa dapat susu, jumlahnya sangat sedikit dan tidak memuaskan. Mulai hari itu, saya diminta untuk melakukan express breastmilking alias pompa, dan langsung diberikan ke bayinya. Welcome back my Medela Freestyle bekas cici Abby hihihi. Bidan saya memberikan sample susu formula yang sudah jadi sebanyak 90 ml, just in case katanya. Waktu itu saya hanya bisa menghasilkan sedikit sekali, 25-30 ml sekali pompa. Walaupun sudah latch langsung, kemudian dikasih EBM (Express Breastmilk alias hasil pompa), Matilda masih tetap tidak bisa settle. Akhirnya dengan segala pertimbangan, saya dan suami membuka sample susu formula itu, dan kami berikan ke Matilda. Untuk pertama kalinya, saya memberikan susu formula untuk bayi saya. Rasanya campur aduk, tapi saya tau, I have to do it. Itulah jalan terbaik daripada bayi saya terus kehilangan berat badan. Mulai dari tengah malam sampai pagi itu, saya memberikan total 60 ml susu formula, dan kondisi bayi berangsur-angsur mulai settle.

Minggu, 23 Juli 2017, pagi itu saya meminta suami saya membeli sekaleng formula. Untuk pertama kalinya kami beli susu kaleng bayi, sampai suami saya fotoin semua merek yang ada di supermarket karena bingung mau beli yang mana, dan akhirnya saya telepon bidan untuk nanya merek apa yang paling bagus. Hari itu juga ada home visit selanjutnya dari bidan. Saya mulai bisa menerima kenyataan kalau saya memang harus mencampurkan asupan anak saya dengan formula, kemudian bidan menerangkan pada saya yang awam ini soal pembuatan formula yang benar, pakai airnya gimana, cara ngukurnya gimana, sampai dikasih booklet khusus loh supaya nggak asal kasih saja. Benar-benar pengalaman baru buat saya karena dulu Abby bisa latching dengan mudah walaupun akhirnya saya tetap harus pompa karena dia itu easy sleeper banget. Baru latch dan minum sebentar bisa langsung molor sampai akhirnya BB-nya kurang. Untungnya, ASI saya cukup saat itu walau pas-pasan, sehingga akhirnya Abby bisa nyusul berat badannya. Sungguh berlawanan dengan adiknya ini yang minumnya sebenernya seru banget, tapi produksi saya kurang karena begitu banyak komplikasi yang terjadi dengan badan saya. Selalu ada kali pertama untuk segala hal kan? Nggak apa ya, Matilda, yang penting kamu sehat. Karena problem latchingnya, hari ini kita juga coba pakai teknik tubing alias pakai sonde kecil yang ditempelkan ke puting saya, supaya saat Matilda mencoba menghisap, dia bisa  mendapatkan ASIP. Sayangnya metode ini kurang berhasil, dan ASIP malah bleberan kemana-mana. Sayang banget. Yang penting usaha ya, Nak. Tekanan darah saya hari itu agak naik di 150-an. Bidan saya meminta saya menambah dosis obat jadi 20 mg per hari.

Senin, 24 Juli 2017, kunjungan bidan lagi ke rumah. Hari itu hari pertama Abby kembali ke sekolah setelah libur midterm 2 minggu. Suami saya masih cuti sampai Rabu. Pagi itu tekanan darah saya dicek, dan gilanya naik lagi ke 180/110. Angka yang sungguh mengerikan dan sangat dekat dengan ancaman stroke. Bidan saya sampai meminta asistennya untuk cek lagi, dan tetap angka tidak berubah. Kemudian bidan saya telepon langsung ke rumah sakit, dan resmi, saya harus masuk untuk diopname lagi. Di situ tangis saya langsung pecah. Saya sungguh lelah dan sedih. Sekali lagi saya harus meninggalkan rumah, dan terutama meninggalkan Abby. Baru saja dia senang karena mamanya balik, tau-tau dia harus berpisah lagi dengan mamanya. Rasanya segala urusan numpuk. Baru saja lahiran caesar karena placenta previa, ditambah pendarahan cukup banyak, ditambah anak nggak bisa latch, ditambah harus mulai top up dengan formula, ditambah tekanan darah tinggi yang nggak kunjung turun padahal dosis obat sudah ditambah, kok saya nggak kuat banget. Saat itu saya dipeluk oleh bidan saya sambil sesenggukan. Dia bilang kalau saya hebat, saya sudah kasih yang terbaik. Kalau susu saya nggak sebanyak harapan, itu karena badan saya terlalu ambruk sebelumnya karena operasi dan pendarahan, sehingga prioritas badan saya bukan untuk produksi susu. Sayapun harus mulai memikirkan diri sendiri, karena kalau saya sampai kena stroke, dua orang anak bisa kehilangan ibunya. Tangis saya tidak berhenti, saya diberi waktu 2 jam untuk siap-siap dan masuk lagi ke RS. Matilda tentunya ikut bersama saya. Siang itu saya asal makan dengan nasi dan telur mata sapi, dan mempersiapkan koper dengan gontai. Rasanya devastated banget, tapi perlahan tangis saya reda. Saya harus berjuang, nggak boleh give up.

Kali ini saya masuk Waitakere Hospital (WTH), tempat saya pertama kali opname sebelum ditransfer untuk melahirkan. Bedanya, kali ini saya dapat single room, sehingga saya dan Matilda bisa berduaan saja. Entah kenapa saat masuk ruangan itu, perlahan hati saya mendapatkan kedamaian. Kok bisa merasa tenang banget. Ada jendela kecil, di samping ruangan ada taman. Kemudian bidan juga menyiapkan pompa ASI dan perlengkapan steril untuk saya pakai. Kali pertama juga saya merasakan pakai pompa Medela Symphony yang ternyata enak banget dipakainya (sayang harganya di sini 5000 dolar, huh sebel, padahal di USA sekitar 2000-an dolar "saja". Serasa mau beli padahal nggak hahahaha). Pas di rumah itu rasanya "denial" kalau harus diopname lagi, sampai di rumah sakit, saya ada pada tahap "acceptance". Kalau memang ini yang harus saya jalani, ya sudahlah, yang penting saya bisa sehat kembali, dan dua anak saya punya ibu yang akan mendampingi mereka. Setelah dipantau rumah sakit, terakhir diperiksa, tekanan darah saya turun drastis ke 120/90-an. Miracle! Malam itu juga saya diperbolehkan pulang! Bener-bener deh hampir nggak percaya. Saya cuma menghabiskan 6-jam saja di rumah sakit. Abby dan mama saya yang malam itu tadinya cuma mau besuk, malah akhirnya ikutan dampingi saya pulang. Horeee!! Pas sampai rumah, saya langsung bilang ke suami saya, kalau saya mau suasana kamar jadi seperti di RS, cukup saya dan bayi dalam ruangan, nggak boleh diganggu oleh suara apapun, termasuk suara ngorok suami yang biasanya membahana. Jadi deh, suami diusir, dan dipanggil cuma kalau saya butuh asisten hahahaha.

Rabu, 26 Juli 2017, 2 hari setelah saya diopname singkat, bidan saya kembali datang untuk home visit. Berat badan Matilda berangsur-angsur mulai membaik. Produksi ASI saya juga mulai meningkat, walaupun masih tidak bisa memenuhi 100 persen, tapi yang jelas sudah memenuhi mayoritas kebutuhan dia. Tapi giliran cek tekanan darah saya, ternyata meledak lagi ke 160/110. Bidan kembali menghubungi rumah sakit, dan seperti diduga, saya harus kembali diopname. Rupanya dikeluarkan dari rumah sakit setelah 6 jam di hari Senin lalu itu terlalu prematur. Kali ini saya sudah sungguh benar-benar bisa menerima kalau saya harus memprioritaskan diri saya. Saya tidak nangis, malah saya tersenyum, dan merasa siap untuk kembali bertempur di RS. Saya tau rempongnya seperti apa sendirian di sana. Ngangon bayi sendiri, mompa, cuci pompa dan botol, steril (mana sterilnya di container air pakai tablet milton, bukan pakai sterilizer listrik) dilakukan berulang-ulang termasuk di tengah malam buta. Tapi berada di pantauan RS untuk mencari dosis obat yang terbaik, tentunya jauh lebih penting untuk keselamatan saya. Lumayan minimal saya gak harus pusing mikirin makanan, karena walaupun bentuk dan rasanya suka amburadul, makanan selalu tersedia kalau di RS. Perlahan saya mulai bisa mendapatkan ritmenya walau capek setengah mati. Dan karena kali ini satu ruangan bertiga, saya malah dapat kenalan baru, orang Indonesia juga yang habis lahiran dan bednya di sebelah saya. Gara-gara saya langganan mompa dan cuci botol nonstop, orang-orang di sebelah saya semua jadi pada extra bersyukur karena bayi-bayi mereka bisa latch on langsung. Jadi ibu-ibu di luar sana, bersyukurlah kalau bayinya bisa latch on langsung ya, itu anugrah banget! Oh iya, obat darah tinggi saya dinaikkan lagi dosisnya jadi 40 mg per hari, sudah 4 kali lipat dibanding habis melahirkan.

Gimana kondisi orang-orang di rumah? Semuanya baik-baik saja, kecuali Abby. Abby sungguh mengalami emotional breakdown yang membuat saya sedih minta ampun. Serius sedih banget, karena mendengar cerita dari suami, kalau Abby terus menerus menangis. Di sekolah dia menangis dan terus menempel pada gurunya, bukan seperti Abby biasanya. Guru-guru untungnya memahami situasi ini. Pulang sekolah, sampai di rumah dia juga menangis padahal ada popo (nenek)-nya yang menemani. Setiap kali dia kunjungi saya di rumah sakit, dia juga nampak murung, bahkan tidak mau mencium saya. Sepertinya dia merasa kehadiran adiknya malah membuat mamanya jadi terpisah dari dirinya, makanya dia jadi kesal dan sedih. Apalagi papanya sudah harus balik ke kantor karena sudah cuti terlalu lama. Jadi kalau pagi Abby diantar papa yang sudah ijin masuk agak siang, tapi sorenya Abby terpaksa kami titipkan ke emergency school driver yang juga salah satu ortu yang sudah diapprove oleh sekolah dengan rate resmi per trip untuk pulang dari sekolah yang jaraknya nggak sampai 10 menit itu. Padahal drivernya itu baik banget loh, dan dia sudah ngajak ngobrol Abby dari sebelum keluar kelas, tapi tetap setelah beberapa hari dititipkan, anaknya tetap saja sedih.

Sabtu, 29 Juli 2017, pagi itu dokter menaikkan lagi dosis obat saya jadi 60 mg per hari karena tekanan darah saya masih juga agak tinggi. Saya sungguh sudah tidak sabar untuk pulang. Bukan cuma karena bosan di rumah sakit, tapi saya ingin memastikan kalau Abby juga akan baik-baik saja. Setelah dosisnya dinaikkan, ternyata tekanan darah saya tidak turun signifikan, dan kembali lagi dosisnya dinaikkan jadi 80 mg per hari. Bayangkan, itu sudah dosis maksimum, dan sudah 8 kali lipat dosis awal. Tapi berita gembiranya, saya diperbolehkan pulang siang itu. Aduhhhh senengnya minta ampun deh! Puji Tuhan banget-banget! Saat itu baru ingat, kalau kami sekeluarga belum foto di rumah sakit seperti pas habis lahiran Abby dulu. Jadilah kita foto dulu sebelum resmi keluar dari rumah sakit, dan saya abadikan di Facebook juga. Hihihi...

Hore! Akhirnya ada foto keluarga berempat ditemani oleh pompa ASI spektakuler yang kata teman saya bentuknya kayak rice cooker.

Caption untuk foto di atas yang saya tulis di Facebook:

Setelah 16 hari berjuang keluar masuk rumah sakit, akhirnya hari ini, 29 Juli 2017, saya dan Matilda bisa pulang ke rumah untuk ketiga kalinya. Kata pepatah "Third time is the charm", semoga kita nggak balik lagi ke maternity ward (kecuali lahiran lagi kata midwifenya... Krik krik krik...). Pas keluar RS pertama dan kedua kali, lupa foto keluarga yang "layak". Semoga dengan munculnya foto keluarga yang mendingan hari ini, secara resmi acara opname dinyatakan bubar!! (Lempar confetti, dan nyalain petasan... Dhuerrr!! ).

Pulang dari rumah sakit, kagak mampir ke rumah dulu, tapi langsung mampir di resto sushi dekat rumah. Langsung dong... hajar yang mentah-mentah! Setelah 9 bulan puasa hahahaha.

Salmon Sashimi, I love youuuu!!
Khusus untuk cicinya, habis lunch sushi kita beliin Lego Friends demi supaya anaknya bisa happy setelah perasaannya dibikin naik turun selama mama di rumah sakit. Milih sendiri loh!! (tapi dibatasin sama papa mama, cuma boleh seharga 25 dolar hahahaha).

Beginilah konsumsi obat dan suplemen saya setiap hari. Mulai dari obat hipertensi, painkiller (padahal painkillernya panadol doang kok), sampai suplemen untuk ASI. Sengaja dikasih kotak gini, biar inget, plus pakai alarm di HP hihihi. 
Jadi gimana kondisi saya sekarang? Syukurlah, sudah hampir sebulan sejak keluar dari RS untuk ketiga kalinya, kondisi bisa dibilang sehat, walaupun masih harus tergantung sama obat. Saat ini saya sudah dipantau oleh GP (dokter umum), jadi setiap 2 minggu harus balik ke klinik sambil dipantau dosis obatnya (plus merelakan dolar-dolar melayang soalnya GP saya mihil, syebel). Bidan saya yang baik hati juga kasih pinjam Omron tensimeter yang gede itu loh, supaya saya bisa mantau tekanan darah setiap hari. Pokoknya bidan saya mah top markotop lah! Terus Abby gimana? Sejak saya balik ke rumah, dia balik lagi jadi Abby yang dulu. Happy dan ceriwis terus (kadang kelewat ceriwis sampe emak bapaknya puyeng). Lalu apakah Abby masih dititipkan ke emergency driver? Fortunately, dengan kekuatan emak-emak dan ijin dari bidan tentunya, kurang dari 2 minggu sehabis lahiran, saya sudah nyetir lagi anter jemput anak dan beraktifitas seperti biasa. Cuma saya gak boleh angkat berat sama sekali, itu aja. Rasanya kalau buat anak, kekuatan kita bisa nambah berlipat-lipat. Doain saya sehat terus ya, supaya saya bisa terus aktif mendampingi anak-anak dan suami saya sampai tuaaaaa.... Aminnnn!!

57 comments:

  1. kamu hebat banget. yang bagian kamu nangis itu, aku jadi ikut nangis. kebayang rasanya. tetap kuat ya, sehat juga, supaya bisa emndampingi 2 putri kecilmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Anon, ini siapa ya namanya? Amin, semoga bisa sehat dan kuat sampai tua.

      Delete
  2. ci aku baca ini smape netesin airmata T_T
    bener2 deh proverb "you dont know how strong you are until being strong is the only choice" berlaku buat ibu2 yang abis lahiran tapi udah harus deal with so many other things. Mulai dari lecetnya netein, ngurus rumah sambil megangin bekas operasi... duuuh semoga cici selalu sehat ya! *peluk dari jauh*

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju dgn komen di atas!

      Ganbatte ya sis LE!

      Delete
    2. Hi Gadis n Entin,

      waduh saya ngga nyangka loh ternyata postingan ini bikin sedih ya. Memang jadi ibu itu mau ngga mau harus kuat banget ya, seperti yang kamu bilang. Peluk balik nih dari sini.

      Delete
  3. Cici...dirimu kuat bgt
    tp memang ya the power emak2 dahsyat bgt
    Yg penting badai itu udh berlalu...semoga lancar trs ya ci, matilda n cici sehat trs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saingan sama Gal Gadot kan, wonder woman hahahaha. Amin!

      Delete
  4. yahh ampun le, horor amat sihh tekanan darah mu kok tinggi banget gitu yaa? Tapi syukur deh sekarang kondisinya udah sehat lagi....sehat2 terus ya bu Le..ck ck ck, lahiran di luar negeri mah keliatannya sadis banget yaa, gak ada waktu istirahatnya, harus urus sendiri dan segera mandiri, makanya ibu2 bisa loksoy. Kalo dulu gua 2 minggu di rumah pun udah dibantuin baby sitter, jadi kerjaan cuma ngorok krok krok krok...hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meneketehe, Ci, saya juga bingung bisa setinggi itu, soalnya selama ini ngerasanya sehat-sehat aja. Haha, di Indo udah ada baby sitter, eh ada tukang pijet pula ya!

      Delete
  5. Le, hebat perjuangan u.. smoga abis ini sehat2 terus yaaa en amin bisa terus dampingin suami n anak2 sampai tua...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Carol. Makasih ya doa2nya.

      Delete
  6. Leeeeeeeeee............. Sumpah gw ketinggalan banget yak..
    Gue baru tau lu hamil ihhh dan skrg baca udin melahirkannn.. Mantap kakak!

    Selamat dulu deh klo gt, sehat2 semua dan lancar semuanya.. Baby mu selalu diberi kesehatan dan cici nya jugaaa yah :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, ngga kok, ngga ketinggalan banyak, cuma beberapa bulan doangan hahaha. Makasih, Ye. Doain sehat terus ya.

      Delete
  7. Masya Allah mba Le, Bener-bener banget perjuangannya. Semoga setelah ini semua sehat-sehat dan badai sudah berlalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Dian, syukurnya sekarang kondisi udah stabil walaupun harus depend sama obat (untuk sementara). Amin buat doanya.

      Delete
  8. hiks..aku nangis bacanya, terbayang waktu melahirkan dulu, hampir tiap malem nangis dengan alasan ga jelas..dirimu setrong sekalih Mbak..
    semoga sehat2 selalu ya, Abby bisa terus ceria, Matilda bisa sehat terus, Mama, Papa & Poponya juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh Pit, itu kamu kena baby blues beneran tuh ya. Kalau saya nggak nangis, kecuali pas kemarin itu pas disuruh balik ke RS, dunia rasanya lagi gak berpihak gitu loh. Amin buat wishnya ya.

      Delete
    2. Sepertinya iya kena baby blues, untung ga sampe berlarut2 sih mbak..Makanya tak terbayangkan kalo di posisi dirimu. Semangat Mbak!

      Delete
  9. waduh cerita afternya ga nyangka bisa begini.. kirain udah sampe rumah ya udah hepi2 aja.. :) syukurlah kalo sudah berlalu. tapi emang berat ya abis lahiran, harus urus semuanya sendiri, terlebih punya anak yang masih belum mengerti kondisi sebenarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampe rumah ternyata cuma sementara ya Fun hihih. Masih ada 2 ronde lagi rupanya. Iya, anak yang gede masih bingung kok tiba-tiba di rumah ada manusia baru.

      Delete
  10. Luar biasa cici! semoga sehat selalu sekeluarga ya. Tuhan memberkati!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Nick! God bless you too.

      Delete
  11. G bacanya jadi deg2an. perjuangan lu bener2 wahh banget. Semoga sekarang makin sehat biar bisa kumpul bareng-bareng lagi.Sehat2 buat semuanyaa juga ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ngel, memang gile bener kemarin itu. Tapi liat senyum si kecil, I won't trade it for the world. Amin, sehat semua.

      Delete
  12. wow bener2 perjuangan ya ny...
    glad sekarang semuanya udah ok ok aja ya...
    moga2 tekanan darah nya cepet back to normal ya. gua kan ada tek darah tinggi juga (sempet 180 juga without symptoms), jadi kita juga mesti sedia alat buat ngukur tekanan darah. omron ada yang modelnya kecil buat ditaruh di rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah agak lega sekarang Man. Elu sempet tekanan darah segitu terus maintain pake obat ngga? Kalau udah segitu kayaknya kudu berobat ya?

      Delete
  13. untung semua uda berlalu ya, dan semoga tensinya selalu stabil ya...

    gua juga dulu waktu hamil tensinya tinggi, malah di ruang operasi pernah nyampe 190, tapi begitu jayden keluar katanya sih langsung turun lagi... after delivery juga masih tinggi, tapi paling tinggi itu 140an kalo ga salah... cuma gua ga dikasih obat apa2, katanya mungkin cuma kurang istirahat atau kecapean... dan sebulan setelahnya mulai balik normal lagi ke angka 110...

    semoga abis ini sehat2 terus ya semuanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau elu kayaknya karena tegang sih, Mel. Hehehehe. Kalau 140-an after delivery tuh bisa dibilang normal, dan biasanya hari selanjutnya langsung turun. Amin semoga sehat selalu.

      Delete
  14. Beneran, gua ikut sedih.. belakangan lagi gampang mellow, haha.. jadi baca yang mellow2 pun bisa ikutan nangis hihi. But anyway, tetangganya Ian dulu pun gitu, habis operasi hip karena jatuh dan retak atau apa gitu.. hari ke-3 pasca operasi, ditongkrongin suruh mandi lhoo.. mandi sendiri, walaupun dia sempat kayak 2 minggu di RS. Memang yah jadi lebih mandiri semuanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cup cup cup, sini kasih tissue hehe. Ya di sini soalnya ngga ada pembantu atau asisten In. Dan kayaknya dokternya udah paham banget kapasitas diri manusia tuh seapa untuk bisa recover lagi, jadi kita gak ada yang dimanja.

      Delete
  15. Hi Leony.. coba cek babynya ada tongue-tie gak, just in case thats whats causing the problem with latching

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Anon, ini siapa ya namanya? Udah ke lactation consultant dan memang ada, tapi bukan yang biasa yang tinggal disnip doang. Ini yang posterior. Nanti kalau sempat saya ceritain ya.

      Delete
  16. Semangatt Leony! You're really strong, kalo gw jd lo mungkin uda breakdown kali.. memang sih the power of emak2, dan the power of 'demi anak' itu luar biasa ya. Semoga ke depannya sehat2 terus ya, jadi ga usah balik2 Rs opname lagi. Btw dulu axel juga sempet ditreatment pake teknik tubing itu. Cukup membantu juga buat boost berat badannya. Tapi bs dicek juga apabada tongue tie, bisa jadi itu penyebab ga bener latch on nya (dulu axel kaya gitu).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini gak bisa nih tubing, soalnya ada posterior tongue tie. Nanti kalau sempet gue ceritain ya Dea, soalnya kayaknya banyak yang belum terlalu paham soal tipe tongue tie yang satu ini. Emak-emak memang tenaganya bisa dahsyat banget ya kalau demi anak hihihi.

      Delete
  17. Wow Le loe emang super mom dech!! Blog post ini bikin merembes air mata.. jiayou!!
    Thanks God, Abby sudah hepi lagi ya.. n semoga u n sekeluarga sehat-sehat selalu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh Lid, gue bingung kok jadi banyak yang sedih abis baca ini ya. Padahal gue gak ada niatan bikin orang sedih. Amin buat wishnya.

      Delete
  18. peluk cium dulu sini!
    Ya ampun Le.. perjuanganmu sungguh berat yaah. Padahal pas Abby mah mulus2 aja. Semoga kedepannya mulus yah dan produksi ASI meningkat seiring waktu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluk balik, Mel. Iya pas Abby mulus, cuma dulu dia males minum doang jadi kurus. Tapi dibanding yang ini, ya ampun, yang ini gue rentek banget hahaha. Amin buat doanya!

      Delete
  19. Duh, ci, bacanya deg-degan banget dan rasanya pengen peluk *virtual hugsss*

    Puji Tuhan semuanya sudah berlalu dan sekarang baik-baik aja, ya. Aku doain biar semuanya sehat-sehat selalu, khususnya buat cici dan Matilda. Jiayou, supermom!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Jane, puji Tuhan banget banget. Tinggal nunggu nih gimana nasib dengan hipertensinya, soalnya ngga pingin jg tergantung terus sama obat. Tapi kalau terpaksa ya walhaualam.

      Delete
  20. Hi Le, Puji Tuhan sekarang sudah cukup stabil ya. Kasus kamu hampir sama seperti saya. Saya ada preeklampsia saat kehamilan untuk kedua anak saya. Yang kedua, setelah selesai caesar, pendarahan hebat. Tapi dokter gak berani kasih obat karena katanya akan mengakibatkan tekanan darah tidak terkontrol. Akhirnya saya masuk ruang operasi lagi untuk diangkat rahim. ASI juga tidak cukup, anak saya agak kecil, beratnya 2 kg, jadi saya harus susu formula juga. Tekanan darah juga tidak stabil. Stress banget sih rasanya. Tapi puji Tuhan, kondisi anak sehat dan baik. Dan beruntungnya di Indo, ada bala bantuan, bairpun ada drama2 pemilihan baby sitter. Semoga semuanya akan berjalan lancar untukmu ya Le. Salam untuk Abby. Peluk cium untuk Matilda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini saya untungnya gak sampai preeclampsia sih Jul. Cuma essential hypertension. Kalau preeclampsia kan ada trace of protein, yang ini nggak. Tapi tetap ya risikonya sama-sama besarnya. Sereeemmm....

      Iya nih, bedanya di sini harus mandiri banget. Support systemnya beneran dari orang-orang terdekat kita aja. Amin, makasih wishnya ya Jul.

      Delete
  21. Kak leony semoga sehat selalu yaa, dan stay strong :D Btw saya mau tanya kak, kotak obat yang warna warni dan ada tulisan hari nya itu beli sendiri atau dapat dari RS? Terimakasih kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Rafika. Itu saya beli sendiri. Mestinya di Indonesia di toko obat seperti Guardian gitu ada deh, soalnya pernah beli tapi gak persis begitu. Worst case bisa cari di tokopedia.

      Delete
  22. Gw bacanya berkaca2, Le. Puji Tuhan sekarang udah lebih stabil ya. Semoga stabil terus. Jadi mama2 repot ya kalo sakit, semacam rusuh satu rumah. Hehe. Btw gile ya di sana hari kedua udah dipaksa mandi sendiri. Gw hari kedua mandi sendiri tuh dipuja puji sama dok-sus macam keajaiban dunia. Kalo di sana mah biasa aja ya. Abis gw risih kalo di wahslap terus, pengennya mandi byur kan apalagi berdarah2 di bawah sono.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, apalagi sekarang dua anak, semuanya mau sama mama. Hehe, lu lebih expert lah punya dua anak duluan daripada gue hihihi. Pasti tau ya rasanya.

      Di sini bukan cuma biasa sih, tapi somehow memang prosedurnya kayak gitu hehehe. Emang sadis kalau dipikir-pikir, cuma kalau bayangin di sini setelah keluar RS harus semua sendiri, ya jadi itu wajib.

      Delete
  23. peluk mba leony, gakebayang deh klo ak yg di posisi kmu... apalagi ga tahan begadangan aku >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluk balik, Arninta. Mmg capek banget kemarin itu, capek hati dan capek badan. Tp ya sekarang udah membaik.

      Delete
  24. Halo Leony, salam kenal ya. Nama saya Yeye dan selama ini saya silent reader. Selamat atas kelahiran Matilda yang penuh perjuangan ya. Saya nunggu2 banget cerita lahiran Matilda sejak baca postingan terakhir waktu hamil yang bilang kamu kena hipertensi di kehamilan kedua ini. Puji Tuhan semua sudah lebih stabil ya.

    Mungkin karna saat saat ini saya sedang hamil 36 minggu anak kedua dg kondisi hipertensi jadi i feel you waktu baca kisah lahirannya. Oya anak pertama saya usia 4y2m namanya juga Abigail dan waktu melahirkan dia saya preeklamsi sampai terakhir tensi saya sebelum melahirkan 220/120 dan sesudah melahirkan 140-180/90-100.

    Mau nanya dikit, Leony bisa pendarahan sesudah melahirkan kenapa ya? Apa pengaruh hipertensi atau placenta previa? Trus sesudah melahirkan minum obat hipertensinya apa? Kalau disini saya minum dopamet (metyldopa) 250mg.

    Semoga baby Matilda terus sehat dan cici Abby semakin happy ya. Tuhan memberkati Leony dan keluarga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Yeye,

      Pendarahan saya itu karena placenta previa. Gara2 itu kontraksi rahim sesudah lahiran tidak seperti yang diharapkan. Ada jaringan yang tidak ikut kontraksi, akhirnya jadi bleeding. Jd no worries kalau ga ada placenta previa.

      Saya minum obatnya Quinapril 80 mg per day dan Nifedipine 10 mg per day. So far bs ditahan stabil di 130/90-an. Oh iya saya bukan preeclampsia, tp essential hypertension krn gak ada trace of protein di dlm darah.

      Semoga sehat selalu jg untuk kehamilan dan lahiran kamu ya. God bless you.

      Delete
  25. Baca yg disuruh mandi segala2 sendiri mendadak bekas jahitan ngilu.. Ahh.. Kamuhh setrong sekali Mama Abby.. Tuhan kasih kekuatan dan kesehatan senantiasa ya biar bisa sama2 dgn keluarga sampai lamaaaaaaaaaa banget (tua mksdnya).. Peluk dari tanah air..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, padahal udah ngga ngilu kan, Py? Cuma kebayang doang ya. Di sini mau gak mau kudu setrong, Py, soalnya bala bantuan kan hampir gak ada. Kalau bukan kita sendiri usaha mandiri, walah, bisa depressed kalau gak biasa. Peluk balikkk!

      Delete
  26. Ya ampun Leony... aku ikutan deg2an baca ceritanya.. syukurlah semua udah ok ya sekarang.. you are a strong woman.. semangat ya..
    Kalo baca ini kayanya berasa manja ya di indo...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bon, emang bikin deg2an sih pas abis lahiran itu hihihi. Di Indo bukan manja sih, tapi karena budayanya beda aja, jadi kebiasaannya juga beda.

      Delete
  27. sehat slalu ya mbak dan kluarga..ttp semangat ya mbak,demi Abby dan Matilda :)

    ReplyDelete
  28. Buset kalo di sini justru pas di RS abis lahiran itu enak karena apa-apa tinggal mencet bel minta tolong suster ya hahaha. Bener-bener harus mandiri banget kalo di situ ya ci, kalo ga kuat bisa kena baby blues huhuhu. Sedih banget baca yang Abby ampe emotional breakdown, wajar sih mungkin dia takut kehilangan mamanya karena masuk RS juga ya, secara image masuk RS kan berarti something terrible happened gitu :(

    ReplyDelete
  29. Terharu banget, inget waktu lairan pertama rasanya fail banget susah menyusui sampai sekarang bayi udah mau setaun. Perjuangan banget mom di luar negri ya..apa2 harus mandiri, semoga selalu sehat sekeluarga..

    ReplyDelete