Thursday, May 11, 2017

Setelah 9 Mei 2017

Di bawah ini adalah tulisan saya di status Facebook kemarin. Status terpanjang yang pernah saya buat selama 10 tahunan bergabung di Facebook. Saya mulai menulis saat nungguin Abby les musik, sampai akhirnya selesai begitu saya sampai di rumah. Postingan ini saya tujukan kepada teman-teman saya yang sudah mulai apatis dan tak berpengharapan pada negara Indonesia setelah kejadian di tanggal 9 Mei 2017. Status itu sampai sekarang tetap saya buat "friends only". Tetapi teman-teman saya mulai minta ijin share via copy dan paste di Facebook wall mereka, kemudian berlanjut lagi di share oleh entah sudah berapa orang (bahkan ada yang nambahin gambar ilustrasi segala di bawahnya hahaha). Sepertinya sudah selayaknya juga saya bagikan di blog ini. Semoga setelah membaca ini, semangat kita yang redup itu, bisa bangkit kembali dan kita bisa melihat cahaya di ujung terowongan panjang.

------------------------------------------------------------------------------------
Ditulis dan dibagikan pada tanggal 10 Mei 2017.

Kali ini saya mau nulis cerita ya, bukan status lagi. Soalnya bakalan panjang. Sekali-sekali saya nulis serius di Facebook boleh lah ya, karena saya ngerasa saya butuh untuk ngomong.

Tahun 2014 lalu, saat kami sekeluarga memutuskan untuk mencoba mendaftar pindah ke Selandia Baru, isu rasialisme di Indonesia sama sekali BUKAN menjadi alasan kami untuk pindah. Jadi kalau sampai ada yang bilang orang minoritas ganda kayak saya pindah ke luar negeri pasti karena capek dengan keadaan tertekan sama isu SARA, jelas itu salah walaupun ada juga orang yang pindah karena itu.

Justru di tahun 2014 itu saya merasakan kaum minoritas ganda mulai bercahaya lewat Pak Ahok. Seorang keturunan Tionghoa dan Nasrani yang membuka harapan, kalau siapapun dia, apapun agama dan keturunannya bisa juga terjun di dunia politik, jadi pejabat pemerintahan, dan menghasilkan gebrakan-gebrakan positif untuk kemajuan kota Jakarta. Bahkan saya pernah bilang sama suami, suatu hari, masih terbuka lebar kemungkinan kita balik ke Indonesia, melihat Indonesia sudah maju merata dan sejahtera setelah era kepemimpinan Pak Jokowi dan Pak Ahok yang membuka standar tinggi untuk pejabat publik yang pro rakyat dan anti korupsi.

Lalu kejadian kemarin itu, sungguh menampar muka saya. Ternyata Indonesia belum siap untuk diajak maju ke depan. Lagi-lagi digoyang dengan isu SARA hanya untuk meluluskan kepentingan beberapa gelintir golongan yang haus kekuasaan dan haus dengan kekayaan bangsa ini. Terus gimana perasaan saya? Awalnya sedih, kemudian marah sedikit, tapi saya bawa merenung dan bawa dalam doa. Saya mencoba mencerna, apa sih gambaran besar (big picture) yang sedang berlangsung sekarang ini?

Selama ini, hampir semua sidang Pak Ahok saya tonton. Saya buka Youtube di TV saya dan menyaksikan yang terjadi. Tapi baru kemarin saya merasa punya "feeling" akan keputusannya. Makanya kemarin saya mencoba nyantai banget. Sore ke supermarket, sambil lama-lamain ambil daging, roti, juice, pokoknya muter-muter dari lorong yang satu ke lorong yang lain. Bener aja, pas sampai rumah, WA groups saya sudah penuh dengan ratusan baris pesan yang isinya sedih, marah, campur aduk jadi satu. Rata-rata sih kecewa sama bangsa ini. Di timeline Facebook juga begitu.

TAPI (PENTING NIH) ada satu gerakan yang saya lihat sangat aneh! Masih ingat bagaimana kelompok yang tadinya hobi banget menggunakan isu SARA untuk menggulingkan Pak Ahok, mendadak sekarang jadi "sok membela Ahok" dengan bilang Pak Ahok cuma korban dari ketidaktegasan Pak Jokowi dalam menangani isu SARA. Kemudian mendadak mereka mengarahkan supaya kita benci Pak Jokowi karena dia tidak membela Ahok. Sudah keliatan polanya? Nangkep nggak? Kelihatan gak ujungnya misi mereka-mereka ini apa?

Banyak orang yang diskusi dengan saya. Banyak yang marah dan merasa kelompok pendukung Pak Ahok ini harus demo, harus marah, harus pakai cara-cara yang mirip yang dilakukan oleh kaum radikal. Saya tanya, kenapa harus pakai cara begitu? Itu bukan ciri khas kelompok pendukung Pak Ahok kan? Tapi mereka bilang, "Because it works, Le." C'mon people, anarkis, teriak-teriak nama Tuhan campur kata bunuh dan bakar-bakar itu sama sekali bukan apa yang diinginkan Pak Ahok dari awal. Mau aksi damai besar-besaran kayak aksi mahasiswa tahun 1998? Gimana kalau mendadak ada sniper lagi? What's next?

Yang namanya provokator, akan tetap jadi provokator untuk kepentingan pribadinya. Siapa yang akhirnya menderita? Rakyat Indonesia! Apapun itu suku, agama, dan rasnya. Sebagian warga Indonesia di Selandia Baru sini juga merupakan beberapa orang yang pindah karena trauma gara-gara peristiwa 1998. Sudah hampir 20 tahun berlalu, tetapi saya masih merasakan adanya "racial tension" di negeri orang. Yang keturunan Tionghoa kadang cuma mau ngumpul/ ngegank dengan keturunan Tionghoa, begitupun suku-suku lainnya juga punya kelompok sendiri. Beberapa orang yang saya temui masih ada rasa "kurang kepercayaan" terhadap saudara sebangsa cuma gara-gara beda suku. Padahal ini di Selandia Baru loh! Betapa menyakitkannya bangsa kita dibelah-belah oleh provokasi menyangkut kebhinnekaan yang seharusnya bisa jadi HARTA yang sungguh berharga yang dimiliki Indonesia.

Terus, apa saya masih punya keyakinan sama Indonesia? Masih! Masih banget! Makanya ada perasaan sedih saat orang-orang bilang Indonesia itu sudah hopeless, dan berbondong-bondong ingin pindah ke luar negeri. Ditambah kita dipanas-panasi oleh kubu lawan yang bilang Pak Jokowi melempem, gak pantas jadi presiden, mending pada minggat saja (Hari ini terima forward-an soal ini). Sekali lagi saya tegaskan: sudah keliatan polanya lawan belum?

Saya juga agak sedih melihat beberapa orang Indonesia di luar negeri, yang lahir dan besar di Indonesia, tapi di sosial media malah menjelek-jelekkan Indonesia dan membanggakan luar negeri. Padahal nih keluarganya semua masih ada di Indonesia. Ayo dong, harapan itu masih ada. Dulu kita tidak pernah punya bayangan seorang minoritas ganda bisa jadi Gubernur DKI. Ternyata itu terjadi walau masih sejibun kendala. Lihat itu Pak Ahok, dia mampu dan bisa kabur ke luar negeri dari kapan-kapan. Tapi cintanya pada Indonesia luar biasa, sampai dia rela dicaci maki, dihujat, difitnah, bahkan sampai dipenjara. Saya percaya, dia mau menjalani itu semua, karena dia masih punya harapan atas Indonesia. Masak sih kita nggak punya harapan?

Mungkin ada yang mencibir saya, dengan bilang, "Ah Le, lu mah enak aja ngomong. Lu udah enak tinggal di luar negeri." Saya perlu ulang sekali lagi, kalau pilihan saya tinggal di sini sama sekali tidak terkait isu rasialisme. Walaupun jauh, saya terus berusaha memupuk harapan akan Indonesia yang lebih baik. Saya nggak berhenti menegur orang yang terpancing dengan hasutan provokasi atau hoax di sosial media walaupun saya suka di cap sok ideal dan mengganggu "pesta" orang yang lagi menikmati hoax. Saya terus mewartakan kebaikan Indonesia ke orang-orang lokal di sini dengan menepis semua anggapan mereka soal radikalisme agama tertentu, dan sebagai emak-emak hobi masak, saya nggak berhenti untuk memperkenalkan makanan Indonesia untuk kawan-kawan Kiwi di sini untuk menunjukkan kalau Indonesia itu kaya budaya, kaya rasa. Itulah yang membuat Indonesia hebat! The diversity!

Sekali lagi, jangan berhenti berharap, jangan benci Indonesia, jangan tinggalkan presiden kita yang lagi berjuang mati-matian untuk menjaga stabilisasi negara. Speak up yang lantang ke kawan-kawan kita yang masih butuh pencerahan, tapi jangan sampai berantem. Tunjukkan kepada mereka, walaupun mereka benci sama kita setengah mati, kita nggak benci mereka. Perjuangan itu butuh waktu, butuh keberanian, dan yang terpenting, butuh campur tangan Tuhan. Dan saya masih percaya, Tuhan tidak tidur.

Salam Bhinneka Tunggal Ika,

dari saya.

- Yang barusan mewek berat dengar lagu Rayuan Pulau Kelapa karena mengingatkan saya saat Aubade di Istana Negara pas SMP.
- Yang dulu sering dikata-katain dan digodain, "Amoy... Cina... " saat nyari makan siang di Pasar Baru tapi nggak sakit hati.
- Yang dulu dikatain "Atun... Atun" saat main Tuba di parade Kemerdekaan RI dari Monas sampai Bunderan HI sampai hampir pingsan tapi bangganya setengah mati.
- Yang naik mobil jemputan umpel-umpelan ber-18 demi bisa pulang ke rumah saat kerusuhan Mei 1998.
- Yang nekad ikut papanya anter nasi box buat tentara saat kerusuhan Ketapang di tahun 1999.
- Yang 3 tahun berturut-turut jadi ketua bake sale makanan Indonesia pas kuliah di Amerika sampai gak tidur 3 hari 3 malam.
- Yang nggak pernah menyesal memutuskan pulang ke Indonesia di tahun 2006 padahal di Amerika punya kerjaan dan kehidupan bagus.
- Yang tetap bangga memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia di negara manapun walaupun punya kulit putih dan mata sipit.
- Yang nggak pernah kehilangan harapan buat negara kita tercinta.

------------------------------------------------------------------------------------

UPDATE TAMBAHAN:

Entah bagaimana tulisan ini menjadi begitu viral. Sayangnya ada pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab menambahkan ilustrasi, memotong, bahkan sedikit mengubah isi tulisan ini. Maka dengan ini saya tegaskan, saya tidak pernah menyebutkan nama siapapun itu pihak lawan. Jadi jika ada ilustrasi dan tambahan-tambahan asumsi, itu sama sekali di luar tanggung jawab saya sebagai penulis. Terima kasih juga untuk teman-teman yang menginfokan ke saya, bahkan membantu saya untuk menegur pihak-pihak tersebut. 

28 comments:

  1. setuju jangan berhenti berharap... tapi juga jangan berharap kalo indonesia bisa berubah dalam waktu dekat. mungkin (berharap) nanti pas generasi cucu atau cicit kita, mungkin baru bisa... tapi sampe ke generasi anak kita... gua gak yakin kalo indonesia bisa berubah.

    masalahnya udah mendarah daging... unfortunately...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Man, as I said in my last sentence:

      "Perjuangan itu butuh waktu, butuh keberanian, dan yang terpenting, butuh campur tangan Tuhan. Dan saya masih percaya, Tuhan tidak tidur."

      Begitu elu gak ada keyakinan, ya mmg itu yang dimaui oleh org2 yg pny kepentingan.

      Delete
    2. Setuju !!meski sempet diambang batas "no hope" semangat g bangkit lagi

      Delete
    3. Iya, jangan sampe beneran hopeless ya, Ven! Kita sama-sama berjuang sebisanya.

      Delete
    4. le, alasen apa ya pak ... yg kepilih disebelah pakde JKW ? g lupa luh gmn crt nya sampe doi yg kepilih ha222

      Delete
    5. Hehehe. Waktu itu sih feeling gue utk menjangkau Timur Indonesia ya. Plus si Bapak masih mau dan semangat, feeling gue karena dia pikir dgn dia jd leader, bisa memuluskan business dia. Apadaya pny presiden saklek bener, yang ada malah tetep macet. Gerahlah dia hahahaha.

      Delete
  2. Ci, postingannya sukses bikin gw nangis lagi tp makin semangat harapan itu masih ada.. Yakin juga pak Ahok sudah disiapkan Tuhan tempat n posisi yg lbh baik dr skrg.. Tp jujur dalam lubuk hati yg paling dalam, jika nanti bisa kuliahin anak sampe keluar negeri udahlah mending dapet kerja n jodoh disana gak usah balik ke Indo.. Indo negara hukum itu cuma slogan aja, krn hukumnya sendiri juga kalah sm amukan massa yg gak tau dibelakangnya itu siapa2 aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walahhhh... lu lagi PMS kali ya hahaha. Eh tapi nyokap gue bilang juga dia nangis baca ini. Entah ada hormon apa yang bikin beberapa orang nangis pas baca. Ada nyokap, ada temen di sini, dan sekarang ada elu hihihi. Kita berharap campur tangan Tuhan juga. Gak perlu lama untuk Tuhan balikin keadaan. Kitanya juga jangan give up.

      Delete
  3. Baru kali ini gue baper sama urusan politik. Sampe mewek2 setiap baca berita. Lebih sedih dibanding nonton film korea hahaha..

    Setuju kita ga boleh brenti berharap walaupun sejujurnya gue sedikit hopeless ngeliat bangsa ini yg sampe hari ini masihhhh aja ngeributin masalah agama, ras, ini itu, sementara negara lain udah mikirin teknologi dll. Semoga pakde punya jalan keluar buat masalah ahok deh ya. Ga gampang buat pakde untuk ambil sikap. Mungkin sisi dia pengen bebasin ahok, tapi disisi lain dia masih anggota partai yg punya kepentingan. Ga bisa memuaskan semua pihak. Orang awam kayak kita pasti sulit ngertiin politik. Hari ini teman, besok bs jadi musuh. Kita doain aja deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue sudah baper dari jaman Pak Jokowi, Tia. Abisnya gimana yah... baru aja ada orang-orang yang hebat dan ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia, tapi dijegal sama yang demen status quo ala-ala jaman baheula. Mungkin kebanyakan yang gerah sama yang bersih, lebih enak yang dekil2 hahaha.

      Kalau soal Pakde pingin bebasin Ahok dan anggota partai, itu nggak ada hubungan sih. Soalnya Pakde sudah layak dan sepantasnya gak intervensi hukum. Biarkan nanti kalau sampe Ahok akhirnya bebas atau dikurangi hukumannya, dilakukan dengan cara konstitusional. Gue justru dukung sikap Jokowi yang nggak mau ikut campur.

      Delete
  4. Ci, thanks banget udah nulis ini. Karena di antara mayoritas orang di luar sana (termasuk beberapa yang aku kenal dekat) sudah merasa pesimis sekali dengan negeri ini.

    Aku pun nggak give up untuk Indonesia. Ini tanah kelahiran yang paling aku banggain and I'm proud to be an Indonesian.

    Intinya, kita nggak bisa berharap sama satu orang aja. Tuhan harapan kita satu-satunya itu betul. Tapi coba taruh harapan itu pada diri kita sendiri untuk merubah Indonesia. Nggak usah jadi menteri atau pejabat negara, do something we can do.

    Dan pastinya, selama Tuhan nggak tidur, harapan akan selalu ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Jane. Salah satu alasan kuat kenapa Cici nulis ini ya karena itu, baca timeline kok isinya orang desperate semua. Padahal perjalanan masih panjang. Kita harus "berhenti" sejenak dan melihat big picture, jangan emosi bermain duluan.

      Waktu baca-baca tulisan cici dishare orang banyak, cici ngerasa walaupun kecil, ya itu kontribusi yang bisa cici kasih dari jauh buat teman-teman. Minimal bisa ngembaliin kepercayaan diri yang udah hampir terkubur.

      Delete
  5. gua juga awalnya hilang harapan dan kembali pesimis lagi... tapi seno kemudian mengingatkan, ditambah lagi dengan postingan lu dan beberapa orang di FB, supaya kita jangan sampe kehilangan harapan... terus berharap dan jangan apatis... kita juga masih orang2 baik lainnya seperti jokowi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudlu kita juga masih ada orang baik lainnya ya. Iya bener, intinya gak boleh emosian. Begitu kita emosian, kita tuh malah dikendalikan oleh pihak-pihak yang ingin menusuk dari belakang.

      Delete
  6. Gw bingung deh Le, kenapa orang-orang selalu mikir hidup di luar itu lebih enak? padahal menurut gw biasa aja, di negara manapun ada plus minus nya. Cuma sayang memang orang-orang di Indonesia itu sangat mudah terprovokasi dan pikiran mereka sangat sempit, salah satunya gw liat mosting di fb nya kalo cewe ga boleh selfie.. en gw baca di komen ada ibu-ibu yang merasa dia jual diri cuma gara-gara dia pajang foto nya pas sendiri.. yang mana cuma muka doank (gw ga abis pikir ma orang2 kek gini en susah deh mau Argument sama orang yang mental nya dah begini) En gw memang sempat kecewa sama pak Jokowi, kenapa diam saja melihat semua ketidak adilan yang dialami pak Ahok? gw sedih ngeliat orang baik yang kerja mati-matian buat negara dipenjara padahal dia ga salah. Maka dari itu gw juga dukung segala gerakan bahwa kita ga boleh diem saja asal ga anarkis dan benar kita tidak boleh memojokan pak JKW, malah kita harus dukung.. Ya sekarang ini gw cuma bisa berdoa supaya keadilan ditegakan dan keutuhan negara tetap terjaga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tinggal di mana aja sebenernya sama, tinggal kita prioritasnya mau gimana. Kecuali negaranya udah ancur lebur kayak beberapa daerah di Timur Tengah ya, nah itu baru deh, gue bisa bilang mendingan kabur aja hehehehe.

      Di Indonesia, orangnya banyakan emosian, baper, nggak bisa dikasih masukan, dan sulit mendengarkan. Gue sih nggak kecewa loh sama Jokowi. Justru menurut gue, kalau dia sampai intervensi, habis deh dia, bisa dihajar sama lawan yang pake isu-isu gak beres. Pakde nggak terpancing. Itulah hebatnya dia.

      Delete
  7. Makaasiihh ciii 😢😢 saya bangga banget sama tulisan cici, di tengah banyak keluhan2 dsb.. Scr pribadi saya jg masih pny keyakinan kuasa Tuhan, tp membaca bnyk tulisan org yg negatif rasanya jd toxic for my thoughts. Thank you ya ci masih berdoa dan bangga dgn Indonesia meski dunia luar di sana banyak yg lebih menjanjikan. Saya percaya msh ada org2 yg mau sehati sepakat berjuang utk bgs Indonesia yg lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, mundur sejenak dari dunia socmed, apalagi liatin artikel-artikel yang berpihak. Cici sudah nggak pernah tuh baca kayak sew*rd, gerilyap*litik, dan situs-situs semacamnya yang hobi banget dishare oleh penggemar Ahok. Cici cukup baca koran mainstream saja, biar bisa lebih jernih melihat keadaan sebenarnya.

      Delete
  8. Thank you Leony.. tulisan yg memberikan harapan, semangat, mengingatkan kita terutama yg minoritas ganda untuk tidak pesimis, hopeless, dan mikir kejauhan smp cemas sebel sedih sendiri. Keep praying for better Indonesia ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu berdoa dan berusaha memupuk harapan Indonesia yang lebih baik. Tinggal di luar negeri, selain ijinnya aja susah, juga punya banyak challenge lainnya. Seringkali orang mikir di luar pasti enak, tapi buktinya banyak juga loh yang depressed hehehe.

      Delete
  9. Aku udah ga berani komen apa2 di socmed. Sedih jadi pada berantem, akunya juga jd berasa butiran debu. Kesannya aku dosa banget walau muslim �� Mau ngasih opini apa pun pasti dicap salah soalnya hehe
    Cuma bisa berdoa aja, apalagi mau pilpres kan. Semoga semuanya hatinya dilembutkan supaya ga berantem terus. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berkali-kali cici tulis termasuk di postingan sebelumnya, kalau teman-teman Muslim itu sebenernya yang lebih kasian. Gara-gara kepentingan politik, mereka jadi galau abis. Dukung yang satu, di cap kafir. Dukung yang satu lagi, sebenernya nggak sesuai hati nurani. Berat ya. Memang cuma bisa berdoa dan berharap, serta kitanya jangan menyerah.

      Delete
  10. leony, thank you for sharing..
    aku ga suka politik tapi sedih banget gara2 ini banyak yang saling unfriend atau unfollow di soc med... left grup wa lah, terus apalagi yang bikin status masalah double minority mendingan keluar aja dari indonesia :( :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu Bon, manas-manasin minoritas ganda buat keluar dari Indonesia, please deeehhh! Yang bawa agama Islam masuk ke Indonesia itu padahal sebagian besar orang Tionghoa juga loh. Bahkan Wali Songo itu sebagian juga keturunan Tionghoa. Dimana sih di sini yang bukan keturunan pendatang? Mau Tionghoa, mau Arab, mau Melayu, semuanya pendatang. Mungkin yang orang asli cuma Papua aja.

      Delete
  11. Udah kebaca banget sih ci polanya..

    Makanya ga mau ikut2an emosi dengan pancingan orang-orang yang sengaja biar maksud dna tujuan mereka tercapai.

    Ngapain juga kepancin orang-orang yang cuma mikirin kepentingan pribadi dan ga kasih manfaat buat negara ini.

    Tetep dukung terus pemerintahan yang bersih dan pembangunan negeri dalam keragaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama pemimpin kita masih di koridor yang benar, kita nggak usah khawatir. Dia bukan orang bodoh, dia pasti sudah mempertimbangkan segala sesuatunya yang terbaik untuk bangsa ini. He'll never walk alone (serasa semboyan Liverpool FC hahahaha).

      Delete
  12. HAHAHA gue tau banget sapa tu orang2 "berkepentingan" yang pengen lungsurin Jkw, secara dari dulu gitu aja mainannya. Mertuanya aja digituin LOL.

    Temen2ku udah ada yang siap golput pula 2019 nanti, ada juga yang siap-siap pindah negara, kubilang 'jangan.' Justru dengan tidak menjadi golput tandanya kita peduli harga beras hari ini, biaya transportasi, biaya sekolah anak/adek kita, karena mau gak mau, suka gak suka, masih ada unsur politik di dalamnya.

    Anyway, aku belum hilang harapan atas Indonesia Ci, dan (diam-diam) berharap bisa memajukan Indonesia sesuai skill dan background yang aku punya. Mumpung umur masih muda. Semoga ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan cuma yang itu loh Grace, banyak banget, termasuk juga yang disebelah Pakde sekarang hihihi. Semoga kamu bisa mempertahankan spirit kamu untuk Indonesia, dan membaginya dengan teman-teman kamu ya.

      Delete