Friday, April 28, 2017

Ahok Kalah, Terus Apa?

Terus saya sedih... dan sedihnya itu terbawa ke mimpi! Gilak, baru pertama saya ngerasa pilu banget dalam dunia perpolitikan di Indonesia setelah saya punya hak pilih. Ya terus terang, ekspektasi saya soal Ahok kalah itu memang lebih besar daripada ekspektasi saya soal Ahok menang. Tapi ngga menyangka ternyata sedihnya kok begini amat. Sampai hari ini saya masih inget loh mimpinya apaan, makanya habis ini saya ceritain ya. Pas tanggal 19 April 2017 itu, saya mantau terus Kompas TV live untuk melihat hasil quick count. Saat rekapitulasi suara sudah menunjukkan total suara masuk 15 persen, di situ saya sudah tau, harapan musnah, hati saya mengkeret. Ternyata mukjijat yang saya harapkan itu memang belum waktunya terjadi. Malam itu saya nggak bisa langsung tidur, ngobrol sama teman-teman di group WhatsApp, sampai akhirnya saya mikir, kalau nggak tidur bakalan bisa sakit. Kira-kira pukul 2.30 subuh, baru deh saya pamit, dan saat terlelap, mimpi ngeselin itu hadir.

Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan yang memang suka menghasilkan mimpi aneh, dan pengaruh perasaan yang kurang enak, malam itu saya mimpi jadi ghostbuster. Iya bener, jadi pemburu hantu! Kira-kira di mimpinya itu, saya berjuang mati-matian melawan hantu pakai alat ghostcatcher, dan akhirnya hantu-hantu nakal itu bisa masuk ke dalam buah lemon. Absurd? Banget lah! Nah begitu dimasukin hantu-hantu itu, buah-buah lemonnya jadi mulai jelek dan agak coklat-coklat, tidak segar lagi. Ya gimana mau segar ya, namanya juga kemasukan hantu hihihi. Ceritanya di hari yang sama setelah saya nangkap hantu, saya ngadain pesta di rumah saya. Btw, rumah saya di situ keren banget deh, kebunnya besar dan luas, penuh dengan pohon-pohon lemon yang buahnya masih kecil-kecil.

Oh iya, lemon jelek yang tadi dimasuki hantu itu semua tergeletak di meja, dan saya nggak berani mindahin. Saya sudah berpesan sama semua tamu saya, supaya tidak menyentuh lemon-lemon tersebut, dan saya berjanji pada tamu-tamu saya itu, kalau memang mau lemon, saya siap kasih pohonnya dari belakang rumah, yang sudah jelas nanti akan menghasilkan buah baru yang bagus, bukan yang coklat-coklat seperti yang ada di meja itu. Tapi entah kenapa, tamu-tamu saya itu nggak sabaran, dan mereka malah memilih untuk mengambil lemon yang ada di meja. Tau apa yang terjadi selanjutnya? Itu para tamu mulai kemasukan hantu dan menggelepar-gelepar. Hiyaaaaahhhh!! Pemandangan yang super nggak enak, dan di situ saya super kaget dan akhirnya kebangun... Phewww...

Pas kebangun itu, waktu menunjukkan pukul 6.30 pagi, yang berarti maksimum saya baru tidur 4 jam saja. Sebenernya lelah banget, tapi otak saya seperti nggak mau shut down. Saya malah kepikiran gimana nanti Jakarta tanpa Ahok Djarot, terus kepikiran keluarga saya di Jakarta, soal gimana nanti birokrasi, pungli, dan segala korupsi yang konon bakalan balik lagi di dunia pemerintahan dan usaha. Membayangkan gimana Tanah Abang yang sudah ditata rapi mulai dari jaman Jokowi jadi gubernur akan kembali semerawut dengan preman-preman (dan Haji Lulung), membayangkan kota nanti akan kembali penuh sampah karena gaji para petugas akan disunat seperti dulu, pokoknya membayangkan gimana Jakarta yang perlahan tapi pasti mulai maju mendadak jadi moving backwards alias mundur (tak) teratur.

Ya mungkin ini anggapan yang salah ya, bisa saja nanti gubernur dan wagub yang baru akan terus melanjutkan performa Pak Ahok dan Pak Djarot yang kencengnya luar biasa itu. Tapi kok saya ragu! Ragu banget! Track record mereka yang nol di bidang pemerintahan, malah minus karena ada pemecatan dari kursi menteri, uang kampanye yang digelontorkan besar-besaran dari kantong pribadi apakah mungkin mereka tidak harap kembali? Dan sedihnya, ternyata tulisan saya soal Pak Anies di bulan September tahun lalu, kok malah jadi terbukti ya. Pada akhirnya saya lelah juga dan tertidur entah pukul berapa, yang pasti di atas pukul 8 pagi, dan akhirnya saya baru bangun pukul 11 siang. Untungnya anak lagi libur term break sehingga dia juga bangun agak siang dan tidak terlantar kelamaan. That's how I sad I was on that day.

Setelah saya mikir-mikir pakai ilmu cocoklogi (yang sudah jelas tidak terbukti kebenarannya), mungkin ada hubungan juga antara mimpi saya itu dengan keadaan Pilkada kemarin. Lemon yang jelek dan berisi hantu itu ibarat pilihan yang sudah dirasuki oleh berbagai kepentingan dari orang-orang yang haus kekuasaan. Sementara di sisi lain, kita ditawarkan sebuah pohon lemon segar, yang buahnya masih kecil-kecil, tapi berkualitas baik. Kuncinya cuma satu, harus menunggu dengan sabar. Sabar, itulah kuncinya. Tapi manusia nampaknya masih jauh dari kata sabar. Mereka lebih memilih apa yang ada di depan mata, walaupun busuk (dengan banyak janjinya), yang penting langsung tersedia. Tapi begitu mereka sentuh dan rasakan sendiri, ternyata yang didapat adalah kerasukan, dengan badan terlempar-lempar di udara tanpa daya. Mimpi saya terputus sampai di situ, entah apa yang terjadi kalau dilanjutkan. Gimana, mentemen? Ilmu cocoklogi saya udah mantep belum? Hihihi.

Oh iya, mau cerita lagi, gara-gara Pilkada tahun ini, saya memutuskan keluar dari group Whatsapp keluarga besar suami, dan keluarga besar saya. Kenapa, Le? Apakah karena berdebat soal berbeda pilihan? No no no, justru kita punya pilihan yang sama kok! Tapi saya bosan, bosan karena setiap hari isi chat room dijejali oleh orang yang itu-itu saja dengan berita soal Ahok, mulai dari yang beneran sampai yang hoax, mulai dari photo, artikel, sampai video berjubel. Apalagi om tante yang sudah berumur, kayak nggak bosan-bosan sharing di tempat yang sudah jelas pilihan anggotanya. Ibarat makan steak fillet mignon, porsi pertama tuh nikmatnya bukan main, porsi kedua masih lumayan, porsi ketiga dan selanjutnya udah rada bikin eneg. Ya kalau mau promosi, mendingan ke kubu yang pengen kamu ubah pikirannya nggak sih? Serius, sudah hampir gak ada lagi cerita-cerita lucu soal perkembangan di keluarga masing-masing. Isinya semua Pilkada, Pilkada, dan Pilkada.

Tapi yang bikin saya tambah males, bukan soal itu aja sih, tapi soal gimana kalau kubu lawan itu beritanya jelek, mereka kayak bersuka cita atas kejelekan itu, bahkan nyumpahin, "Rasain lu, kena karma" . Giliran dikasih tau beritanya itu hoax dan orang yang diceritain kondisinya baik-baik aja, eh mereka nggak seneng. Menurut mereka nggak sopan negur-negur orang (yang lagi pesta hoax), dan sebaiknya saya tutup mulut aja yang penting damai. Seriously loh, ada yang bilang gitu, "Yang penting isi grup ini damai!" Damai kok yang disebar berita kebencian. Such an irony! Untungnya kalau group keluarga inti, semuanya masih aman sentosa. Nah, saya yakin di dua kubu pasti ada tipe2 orang kayak begini, yang seneng banget nyebar hoax, cuma karena itu berita yang kepingin mereka dengar, dan membuat mereka merasa lebih baik walaupun dasarnya adalah kepalsuan. Begitu saya keluar dari grup-grup macem begini, asli deh, hidup jadi jauh lebih damai sejahtera. Bersyukur juga saya nggak punya socmed lain selain Facebook dan blog ini tentunya. Nanti kalau saya dagang, baru deh saya buka account Instagram. (Dagang apaan, Le? Korek kuping?). Gosipnya sih, banyak yang perang juga di Instagram, Path, dan Twitter. Sudah cukup lah urusan socmed dan Pilkada. Apa gak capek ya?

Merefleksikan soal Pilkada kemarin, yang paling bikin nyesek memang cara-cara kampanye nggak sehat yang terus memberondong dengan isu suku, agama, ras. Bahkan kalau dari kesaksian beberapa teman, ada yang tadinya yakin pilih nomor 2, jadi merasa galau karena nomor 3 itu selalu bawa-bawa urusan akhirat. Apalagi buat orang yang sudah berumur, rasa takut makin melanda karena memang ngerasa sudah "dekat" dengan akhirat. Sebenernya sih sayang banget ya, umur kan di tangan Tuhan, tapi apa nggak mikirin nasib anak cucu ke depannya? Ada yang jelas terbukti bagus, tapi kok malah disia-siakan. Berkesan egois nggak sih? Kalau cuma mau pilih yang seagama sih, dari jaman dulu juga saya nggak pilih Jokowi lah. Pilih aja Prabowo yang keluarga besarnya masih Kristiani. Tapi milih pemimpin politik itu memang harus didasari sama kinerja dan kaum pendukungnya, bukan sama embel-embel SARA. Kalau track record sama-sama masih kosong, boleh lah galau dikit, eh ini satu track record bagus, satunya lagi melompong, kok masih aja galau. Padahal ini Jakarta loh yang semestinya tingkat edukasinya sudah lumayan merata. Tapi ternyata tingkat edukasi memang ngga berbanding lurus sama kepentingan dan ego (apalagi sama urusan $$$ dan janji surgawi). Makanya, mungkin Jakarta memang belum pantas punya gubernur seperti Ahok Djarot. Yang rugi bukan Ahok Djarot kok, yang rugi banget itu Jakarta karena kehilangan mereka.

Banyak sih orang yang bilang, gara-gara Pilkada ini, orang jadi tau the true colors of others. Terus kalau udah tau ternyata teman kita nggak sependapat sama kita dalam pilihan politik, mau apa? Mau berantem terus gitu? Tadinya teman baik, lalu gara-gara urusan Pilkada brantem, and then what? Udah pasti salah satu pihak kehilangan jagoannya, eh mau kehilangan temen juga, rugi dua kali atuh! Ayo lah salam-salaman, baikan lagi (atau minimal jangan benci), dan sama-sama kita awasi kerja gubernur dan wakil gubernur kita nanti. Oh iya, saya bingung sama pendukung nomor 3 yang nyinyir soal perkataan kalau kita harus menagih janji dari Pak Anies dan Pak Sandi. Banyak yang bilang, "Dasar pendukung Ahok ga mau move on, malah nagih janjinya gubernur baru. Apa gak malu nagih-nagih sama orang yang nggak dipilih?". Nah, yang saya pertanyakan, janji paslon 3 itu cuma untuk yang milih dia, atau janji ke seluruh rakyat Jakarta? Kayaknya semua sudah tau ya jawabannya. Seluruh rakyat Jakarta baik yang memilih nomor 2 maupun nomor 3, berhak untuk menagih janji kampanye. Soal nanti dilaksanakan atau tidak, cuma waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, janganlah kita sampai berharap (bahkan nyumpahin) kota kita jadi tambah hancur, toh yang rugi diri kita sendiri dan keluarga kita. Kita terus berharap Jakarta akan menjadi lebih baik, karena standar tinggi sudah dibangun oleh Ahok Djarot. Kalau sampai nanti jadinya brantakan, ya walhaualam, we deserve what the majority has chosen.

Hari ini saya dan temen-temen kirim bunga ke balai kota. Bukan karena ngikutin trend rame-ramein. Semua juga tau bunga dari kita pasti kelelep di antara ribuan bunga yang lain. Tapi minimal ingin menyampaikan rasa syukur, bahwa kita pernah punya pelayan masyarakat yang dari subuh sampai malam setiap hari, hidupnya dicurahkan buat kota Jakarta. Oktober nanti, waktunya Pak Ahok dan Pak Djarot istirahat sejenak, kembali ke keluarga masing-masing, dan saya percaya, karya mereka sudah dinanti di tempat lainnya. Satu hal yang perlu ditegaskan, saya dan teman-teman di sini sih sudah move on dari Pilkada. Nggak ada yang demo, maksain hitung ulang, sampai urusan ke MK cuma gara-gara kalah Pilkada. Seperti Pak Ahok bilang, jabatan itu Tuhan yang beri, Tuhan juga yang ambil. Kita tidak perlu ngoyo. Let's go back to our daily routine, berkarya secara positif, tetap jalin persahabatan, dan tetap jaga Bhinneka Tunggal Ika. Next, Pilkada di daerah lain, dan juga Pemilu. Dear, Lord, please help us!

32 comments:

  1. mak, sekarang grup wa keluarga dah tenang haha.. biasanya gw clear chat tanpa liat isinya. ada deh satu orang, kenal dulu banget temen les, ceritain yang negatif melulu, kayaknya dia bc, terpaksa gw blok.
    ada 1 lagi tante tiap hari forward berita besok rusuh, besok cina dijarah, gw warning doang. haha..
    aku lelahhhhh TT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue mah sudah lumayan tenang sekarang sama grup-grup yang nyebar hoax alias udah keluar dr semuanya hihihi. Sisa 1 group doang yaitu grup wilayah gereja gue di Jakarta yg masih aja suka ada yg ngirim hoax terutama yang tua-tua. Tapi minimal kalau di warning, org-orgnya gak terlalu ngeyel. Yang paling kocak itu kalo berita penjarahan, diwarning nih supaya nggak nyebarin yang memprovokasi berunsur rasial. Dijawab dgn santai, "Kan saya nyebarinnya ke kita-kita doang yang turunan Cina." Asli cape hahahah.

      Delete
  2. Sedihnya pake banget ci pas tau ahok djarot kalah, rasanya kek mimpi buruk gt tp ya udhlah ndk merubah apa2 dan cm berharap di tangan anies sandi ttp baik jkt wlpn standar kerja ahok terlalu tinggi. Apa warga jkt blm siap punya pemimpin sprt ahok ya? mereka suka dg pemimpin yg penuh janji2 aneh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya ini bukan soal janji dan bukti sih Mir. Tapi soal intimidasi berunsur agama. Orang kalau udah urusan sama akhirat kan jadi galau. Makanya di Indonesia, agama itu udah kayak komoditi politik. Tinggal keluarin aja sentimen SARA. Jokowi aja dulu difitnah Kejawen dan mau bangkitin PKI. Aya2 waeee...

      Delete
  3. Mana foto bunganya hahahahaa....
    Tuhan punya rencana lain :)
    Gw beberapa kali naik taxi mereka juga menyesal ahok kalah...mgkn yg bisa merasakan perubahan adalah mrk yg bener2 pekerja keras, tiap kali gw lewat jalanan yg ada hasil karyanya gw jd berkaca2 sampe mikir salah apa dia sampe dibenci segitunya (salahnya cina dan kristen hahahaa) sedih...negara Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika loh, mengakui adanya 6 agama loh (berdasarkan pelajaran PKN di SD kelas 1 skrg) ini bukan negara agama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas gue post ini kan bunganya belum nyampe, Fel! Makasih ya elu yang akhirnya fotoin jarak dekat hihihi. Iya, gue sih lihat aja deh mau dibawa kemana kota dan negara kita tercinta. Intinya sih radikalisme ini harus diberantas, gak boleh ditoleransi lama-lama. I guess the leader needs to do something about it. Ngeri buat ke depannya nih, apalagi mau pemilu.

      Delete
  4. Ci ilmu cocokloginya mantep suretepppp masuk bangett sama realita hahahaha..! *jempol*
    Aku juga sedih banget ci. Kayak kalo liat berita dia masih galau. Sedihnya itu bayanginnya mereka udah berusaha sekuat tenaga buat rakyat Jakarta, tapi ga diapresiasi sama majority. Sedih. Maybe Jakarta just not deserved them yet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocoklogi maksa sih, tapi ya lumayan buat hiburan hihihi. Namanya juga menghibur hati yang lukaaaaa (pake nada lagu Betharia Sonata). Yah seperti gue tulis, Jakarta deserved what the majority has chosen. Liat aja, baru aja Anies Sandi menang, preman udah berkeliaran lagi.

      Delete
  5. Kalau aku gini Ci, "Terus saya sedih, 2 hari jadinya sakit kepala". hahahaha

    Berharap Jakarta jadi lebih baik setelah ini ya, Ci.:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, cici sih sakit kepalanya karena pengaruh kurang tidur juga sih. Coba lah kita liat nih ke depannya gimana. So far sih update dari Anies Sandi belum ada yang positif ya in terms of program. Semuanya error, mulai dari kartu jomblo sampe mau hapus parkir mesin.

      Delete
    2. Yang tentang kartu jomblo itu sih aku sampe tepok jidat lho, Ci. Dalam pikiran mereka jadi gubernur-wakil gubernur buat dagelan apa ya, Ci. Oh aku baru inget, jangan-jangan ini jawaban dia buat video yang beredar di youtube beberapa waktu yang lalu tentang cagub-cawagub yang ga perhatiin masalah orang jomblo, makanya tercetuslah ide buat bikin kartu jomblo.hahahahaha

      Delete
  6. Huahahahahahahaha... jahat kao, Lele. Kenapa nama Haji Lulung dibawa-bawa.
    Btw, g setuju dengan pernyataanmu yang inih: "yang paling bikin nyesek memang cara-cara kampanye nggak sehat yang terus memberondong dengan isu suku, agama, ras.". Ada lho temen yang ngefans banget sama Ahok tapi nggak nyoblos beliau. Alesannya: Takut kalo Ahok kepilih, peristiwa 1998 (amit-amit terulang lagi.). Ada juga ortu temen skulnya C yang memang mereka sepasang orang jakarta tapi pindah ke Malang, udah siap-siap mau ke Jkt kalo misalnya ahok menang. Jaga-jaga mau boyong keluarganya ke Malang kalo ada apa-apa. Duh ya ampun.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haji lulung kan dulu mau potong kuping segala kan kalo Jokowi menang. Seret dia Tanah Abang premannya udah gak beredar, dulu kan dia penguasanya. Ya itu, ancaman-ancaman radikalisme itu, kerjanya nakut2in orang. Nyerang bukan pake program yang positif, tapi pake isu kekerasan berdasarkan SARA. Mau jadi apa coba? Kayak gitu kok dibanggain.

      Delete
  7. di tempat kerja, orang2 kecil kayak OB, cleaning service, sopir, dan mereka yang dari kalangan menengan ke bawah yang tadinya pilih ahok jadi pilih anies gara2 takut dosa... apalagi tiap kali jumatan selalu dibilangin jangan pilih pemimpin kafir kan... ketambahan lagi spanduk2 yang isinya ga mau nyolatin jenazah yang milih pemimpin kafir...

    padahal ya...program2 ahok itu justru kebanyakan buat menengah ke bawah.. tapi yang milih ahok justru kebanyakan menengah ke atas... miris banget ya... gua ampe sekarang masih suka berasa ga rela gitu huhuhuhu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu, rumah ibadah dipake buat ajang kampanye. Mual, mendingan keluar aja gak usah ke mesjid kalau mesjidnya model begitu. Gue aja dulu sakit kepala denger mesjid deket rumah pake toa ngata2in Jokowi. Soalnya ya, kalo pake logika, kalo urusan sama akhirat beneran, mestinya mikir siapa yang di belakangnya paslon 3. Isinya mah cukong2 dan pengusaha yang demen kalo businessnya "lancar" tanpa Ahok.

      Delete
  8. Tapi satu sisi mungkin kalau kinerja mundur ini adalah titik tolak Indonesia belajar untuk misahin politik sama kepentingan agama....
    Aku sedih sih ahok kelihatannya nggak mau masuk politik lagi, tapi mudah2an banyak orang kerja bagus dan tulus mau mengabdi buat negara terinspirasi ya ci jadi tumbuh 1000 ahok di seluruh Indonesia....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Mar, entah deh ya, bisa aja mereka yang milih itu juga rela mundur yang penting nanti dapet surga di akhirat (begitu toh paham yang sedang dilancarkan, biarpun sengsara yang penting ujungnya surga). Kita lihat kalau udah urusan perut sama kesehatan, dan pendidikan, nyesel apa ngga nanti.

      Delete
  9. Ci, sama banget, aku juga keluar dari group WA keluarga suami. hahaha. karena bosen banget sama berita Ahok mulu. bukannya gak suka dengan ahok, tapi ya udah sih yaaa.. aku juga sedih tapi kebanyakan lelah juga denger beritanya. hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu, kan ada teori ekonominya toh. Makin banyak dijejelin, tingkat kepuasan makin menurun hahahaha. Bukannya gak cinta ya, tapi blenek.

      Delete
  10. le, mimpinya seram, bawa2 hantu segala hahaha. yah saya pun sudah move on. mari berdoa aja buat pemimpin yang baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, karena suasana hati kagak enak, kebawa ke alam bawah sadar deh, Dea. Sip, mari kita berdoa dan berharap untuk Jakarta yang minimal sama lah dengan pas Pak Ahok mimpin. Soalnya kalo soal jadi lebih baik, gue ragu hahahaha. (Pesimis amat yak).

      Delete
  11. Pilkada kali ini emang paling banyak bawa emosi hati, yang paling bikin kepikiran, yang paling bikin galau hahaha... Tapi ya udahlah. Udah ga bisa puter waktu. Kita liat aja ke depannya gimana sambil berdoa semoga jadi lebih baik lagi. Sampe sekarang grup keluarga besar, (ada om tante dan sepupu2) gue masihhh aja ngomongin politik. Jauh sebelum pilkada, ada yang bolak balik ngomongin politik. Sebel sih. Apalagi kalo di BC berita politik yang udah gue baca juga dari internet walking sendiri. Sigh!! Tapi demi menjaga hubungan persaudaraan, aku cuma clear list aja tiap kali lg rame. Jadi kadang2 kalo dengerin nyokap info, si anu cerita soal masak tahu bulet hari ini, udah baca belom? Dan gue jawab, belon, males! hahahah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Capek kan, rasanya yang disampein kita udah pernah lihat semua. Perkembangan keluarga sendiri juga udah jadi prioritas kedua, bukan lagi prioritas awal pembicaraan. Jadi nggak sehat topiknya dan membosankan. Akhirnya berita yang beneran penting, malah ketutup sama urusan politik yang bertubi-tubi. Untung tahu bulat ga penting2 amat ya hahahaha.

      Delete
  12. nih gw kasih cerita yang bikin sedih lagi Le. Jadi di deket kantor ada pedagang/tukang soto yg tdnya udah digusur. Terus tiba2 sekarang ada lagi. Pas temen tanya kok bisa jualan disini lagi, si ibu bilang "iya dong, kan udah menang (si Anies)". Duuuuuuuhhh, padahal itu baru beberapa hari loh dari pilkada, pedagang2 udah berani melawan aturan ajaah. Gak kebayang nanti kalo udah pelantikan kayak apa. nyeseeeeeek bgt gw dengernya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. laporin pake Qlue aja biar digusur lagi... masih sampai Oktober kan ? :)

      R

      Delete
    2. Bener tuh, Mel. Benernya masih bisa lapor kok. Masih ada 5 bulanan untuk bikin orang-orang sadar. Gue tau memang itu lapak rejeki orang, tapi kalau yang namanya pake lahan secara ilegal buat dagang sih, aduh ngga banget deh. Tungguin aja nanti gimana Jakarta bisa backwards, walaupun gue sangat ngga berharap itu terjadi.

      Delete
  13. hiks..aku mewek mbak waktu pilkada kemaren padahal aku bukan KTP DKI.. rasanya patah hati banget.. Sekarang banyak yg kirim karangan bunga buat BaDja aja masih banyak yg nyinyirin..insecure amat, padahal sekongkolan mereka udah menang. Malaikat juga tahu..siapa yang jadi juaranya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah.. Ud menang aja begitu, bayangin kalo kalah. Memang ini udah for the best kayaknya. Tuhan ud atur demikian.

      Delete
  14. Tambah patah hati pas Ahok divonis 2 tahun. Sedih banget rasanya... Dan yang ga suka sama beliau mulai nyinyir2 sama pendukungnya. Nyesek banget rasanya :')
    Berdoa yang baik2 buat pak Ahok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berdoa yg terbaik juga buat negara kita, Dit. Do not lose hope ya. Kita fight bareng2 dengan cara masing2.

      Delete
  15. gw gapapa ahok kalah pilkada, harapan gw cuman supaya dia bebas dan bisa hidup tenang sama keluarganya di luar negeri. Jangan balik sini lagi. Percuma kerja keras buat orang-orang yg gatau berterimakasih dan ga bisa menghargai. Hidup tentrem damai mikirin anak istri aja, gausa pikirin jakarta indonesia lagi. Negara ini memang blom siap dibawa maju.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue rasa Pak Ahok bukan tipe seperti itu. Kalo dia mau, dari dulu dia udah ninggalin Indonesia, Teph. Kita yang siap dibawa maju ini hrs bisa bersatu n galang kekuatan. Yah berjuang pake cara kita masing2, merangkul semua orang. Memang susah, tapi gue percaya itu bisa.

      Delete