Thursday, March 23, 2017

10 Hal Tentang Kehamilan Kedua

Yuhu! Beberapa minggu lalu di readers list saya penuh banget soal tulisan 15 hal tentang pribadi masing-masing dengan judul mirip "tak kenal maka tak sayang". Saya sengaja nyilem kaga komen (ciyus... ngaku deh sengaja diem-diem nyilem sampe demam postingannya mereda), soalnya saya berusaha supaya kagak ditag orang, eeehhhhh... tau-tau dikabarin kena juga! Sama 3 orang pula (yuhu Dea, Gill, and Grace !!) ... mau senyilem-nyilemnya kok kagak enak ya kalau nggak nulis peer ini. Tapi kok kayaknya bosen kalau nulis soal 15 hal soal diri saya, wong saya juga udah hampir 15 tahun ngeblog, sekarang masih 14 sih, cuma ya mestinya udah keliatan lah diri saya personalitynya kayak apaan. Kalo ketemu saya asli, sama lihat tulisan saya di blog, kagak nemu bedanya. Mulai dari penampilan yang cuek bebek, sampe ngomong yang selaras dengan penampilan, alias sama cueknya. Ngga percaya? Sini yuk dateng temuin saya di Auckland. Gratis 1 day keliling Auckland-nya masih berlaku kok (asal sayanya dikasih makan). So, here it is, postingan soal kehamilan kedua saya, yang bukan cuma nyeritain soal saya dan soal si bayi, tapi juga bisa nyeritain dikit gimana bedanya hamil di negeri Kiwi dibandingkan dengan di negeri Garuda (sengaja bandinginnya sama-sama nama burung). It's gonna be a quite long post, so bear with me.

Sebelum dimulai, saya ingin menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan dan Bunda Maria, karena kehamilan kedua ini benar-benar sudah kami nantikan dari sejak awal-awal kami pindah ke sini. Begitu suami dapat kerja, kami terus program untuk adiknya Abby karena kami merasa sudah lebih siap, minimal cukup lah buat kebutuhan sehari-hari. Selain "usaha" bikinnya hehehe, kami tentunya tidak lupa meminta bantuan dari Bunda Maria dan Bapa di Surga via Novena Tiga Kali Salam Maria, dan seperti kita semua tahu, Tuhan pasti kasih tepat pada waktunya. Kalau dihitung-hitung, adik Abby ini jadinya pas banget di saat saya baru saja selesai berjibaku ria dengan persiapan perayaan perak 25 Tahun Komunitas Katolik Indonesia di Auckland di akhir Oktober lalu. Maklum, jelek-jelek gini, ibu Leony itu pemimpin choirnya, dan mimpin choir buat misa sebesar itu yang diikuti oleh beberapa Uskup dan Pastor termasuk Uskup Agung Auckland, tentunya bikin pressure extra. Makanya, begitu tau saya hamil setelah itu, rasanya passss banget! Yuk, kita lanjut fun facts soal kehamilan ini.

1. Bidan v. Dokter Kandungan

Di sini itu, kalau hamil, yang harus dicari pertama kali bukannya rumah sakit, atau dokter kandungan, tapi bidan alias midwife yang sudah diapprove oleh pemerintah. Bisa sih kalau mau pakai langsung pake dokter kandungan, tapi alamakjan biayanya mahal sekali karena swasta! Jadi kalau tidak punya asuransi yang mengcover bagian ini, mendingan pakai bidan kemana-mana. Kenapa? Soalnya pake bidan itu gratis tis tis! Lahirannya di klinik dong, Le? Ya nggak lah! Lahirannya tetap di RS besar pemerintah, dan tetap nanti akan didampingi oleh dokter yang stand by di situ. Untuk milih bidan ini, kita gak bisa bikin appointment dateng kucluk-kucluk terus ketemuin begitu aja kayak di Jakarta ya. Kita bisa pilih lewat website yang khusus disediakan oleh pemerintah mengenai bidan-bidan yang lokasinya di sekitar rumah kita yang available di tanggal kita lahiran, lalu kita bisa klik profilnya satu-satu. Seru deh! Udah serasa cap cip cup pake perasaan. Dan pilihan saya jatuh kepada bidan yang namanya Karen Nelson yang sudah lebih dari 20 tahun jadi bidan dan yang jelas punya tempat praktek sendiri, bukan bidan keliling. Pertimbangan kenapa saya milih Karen adalah, karena lokasi prakteknya nggak jauh dari rumah (walaupun ada yang lebih dekat lagi) dan karena di dalam team dia, bukan cuma dia doang bidan ahlinya, ada juga Sarah Blackman  yang punya pengalaman sama seniornya. Jadi kalau Karen sampai ngga ada, masih ada Sarah. Nggak usah khawatir sama sekali pakai bidan, karena kalau kita punya kondisi khusus, bidan akan tetap melakukan referal pada dokter kandungan di rumah sakit, sehingga kita bisa diperiksa kombo, oleh bidan, dan oleh dokter.

2. Laboratorium, Radiologi, Klinik Bidan, dan Apotik

Setelah kita memilih bidan, dikira bisa langsung ketemu? No no no... boro-boro! Yang ada, kita cuma dikontak sama bidan via phone dan SMS, lalu bakalan dikirimin form untuk nebus resep dan pergi ke laboratorium untuk tes darah awal. Apakah kita harus ambil resepnya ke klinik bidan? Ternyata nggak! Bidannya malah mampir ke rumah, dan taruh resep vitamin di mailbox saya, dan tidak ada jejak kapan dia datang hahahaha. Di sini semua serba pisah-pisah. Laboratorium ya sendiri, klinik radiologi untuk USG ya sendiri, klinik bidan ya sendiri, apotik alias pharmacy ya sendiri, lalu rumah sakit ya sendiri. Jadi kalau nggak ada mobil di sini dan ngga bisa nyetir, asli mayan mabok. Apalagi semua tempat itu cuma buka saat jam kerja, jadi nggak bisa andelin suami. So, kalau ada yang mau pindah ke sini, ibu-ibunya kalau bisa sih harus ya bisa nyetir dan punya kendaraan. Or else, mati kutu! Referal form selain dikirim via mailbox, juga kadang bisa di fax langsung ke lab atau ke klinik radiologi oleh si bidan. Kita tinggal dateng aja kucluk-kucluk, sebut nama, kasih liat ID, dan hebatnya, selalu tepat waktu. Nggak ada tuh yang nunggu lama sampe terkantuk-kantuk. Di klinik radiologi dan klinik bidan, pasti kita masuk sesuai jadual appoinment. Di lab dan di apotik, paling nunggu 10 menit soalnya semua serba efisien.

3. Biaya yang keluar sampai saat ini.

Nah saat saya nebus resep vitamin perdana ke pharmacy, isinya itu ada asam folat dan iodine alias yodium. Begitu nebus, bisa tebak brapa harganya? Eng ing eng... 10 dolar saja buat 2 jenis itu hihihi. Itu 1 stock untuk 3 bulan ke depan loh! Nah sampai sekarang nih, udah mau masuk 6 bulan, saya cuma bayar total 35 dolar untuk 1 stock asam folat, 2 stock iodine, 2 stock zat besi, dan 2 stock vitamin C. Mantap! Lalu biaya laboratorium gimana? Gratis tis tis. Biaya USG gimana? Yang awal-awal (karena ada urgency) gratis tis tis. Yang bayar cuma di week 12 dan week 20, masing-masing 40 dolar karena cek anatomi secara detail, itupun sekali USG lama dan teliti abis! Sekitar 40 menit untuk tiap USG. Jadi, total pengeluaran medis saya untuk kehamilan kedua ini, sampai saat usia kandungan 23 minggu ini adalah 35 dolar + 40 dolar + 40 dolar = 115 dolar! Hore!

4. Bleeding or not bleeding.

Di kehamilan minggu ke 5 alias awal banget, mendadak setiap kali saya ke toilet untuk pipis, pasti ada cairan coklat-coklat setiap menyeka. Saya langsung telepon si bidan, dan beliau bilang itu nggak masalah, selama cairannya coklat saja. Saya baca-baca juga nggak  masalah sih. Karena seringkali kita ada sisa menstruasi juga. Nah tapi diwanti-wanti, kalau sampai berubah warna jadi merah segar, harus langsung kontak dia immediately, karena artinya ada pendarahan. Memasuki minggu ke 6, tau-tau ada blood clot (gumpalan darah) lumayan besar yang keluar, dan warnanya coklat campur merah. Langsung rasanya ngedredeg alias lemes gemeter. Buru-buru deh telepon ke bidan, dan bidan langsung minta saya cari appointment tercepat di klinik radiologi. Kliniknya boleh pilih sendiri, nanti dia tinggal fax referal form ke klinik yang dimaksud. Setelah telepon sana sini, akhirnya yang tercepat adalah besok paginya, dan untungnya kliniknya dekat dari rumah. Ketika di USG, petugasnya bilang semuanya normal, kantong telur ada, bayi ada, tapi untuk diukur, usianya masih terlalu kecil. Di sisi lain, ditemukan ada bump (benjolan) di dalam rahim yang harus diperiksa lagi. Jadi saya diminta balik USG di minggu ke 8. Cairan coklat-coklat yang selama ini hadir setiap saya menyeka, berangsur hilang. Di minggu ke 8 itu, di cek lagi, bumpnya sudah hilang, dan saya terkaget-kaget mendengar penjelasan petugas USG, kalau sepertinya tadinya saya akan punya.. ANAK KEMBAR! Tapi sayang, yang satu tidak bertahan dan harus menyerah, tapi yang satu lagi berkembang dengan sehat. Waktu saya kasih tau itu ke keluarga, saya baru tau kalau suami saya itu punya turunan kembar dari kakek buyutnya. Pantes! Soalnya di keluarga saya tuh ngga ada. Gimana perasaan saya saat itu? Bittersweet. Di satu sisi saya sedih karena mestinya bisa dapat dua anak, di satu sisi saya lega banget! Ngga kebayang gimana ribetnya punya 2 anak kembar dan 1 anak balita dalam satu rumah, tanpa pembantu, dan tanpa adanya immediate family. Mama ngga ada, mertua gak ada, bisa modyar akyuuu!

5. 16 Minggu Pertama

Kayaknya baru kali ini saya ngerasa bonyok banget pas hamil. Pas hamil Abby dulu, walaupun mabok-mabok dan suka hoek-hoek-an di kantor, tapi saya masih punya tenaga loh untuk nyetir bermacet-macet, naik tangga dari basement kantor, dan mengerjakan tugas-tugas saya dengan baik. Namun kehamilan kedua ini, ampun deh! Bener-bener nggak punya tenaga, tiap sore badan rasanya meriang parah, padahal pas diukur suhunya normal. Kerjaan saya banyakan meringkuk di kamar. Belum lagi saya kena konstipasi akut karena kayaknya nggak tahan dengan suplemen zat besi, padahal tubuh ini sangat kekurangan zat besi. Bayangin gimana rasanya nggak bisa BAB selama 5 hari berturut-turut, padahal makanan masuk terus. Yak sudah dibayangkan?

Kalau mau makan, rasanya hati-hati banget, karena kalau nggak hati-hati, baru sebentar habis makan, langsung berakhir di kloset. Mualnya itu loh, manatahannnn! Motong sayuran aja rasanya udah mau pingsan dan muntah, padahal keluarga kan butuh makan. Apalagi si Abby biasa makan masakan rumah. Tapi saat itu rasanya beneran bayangin masak aja udah ngga kuat, padahal buat orang yang sudah kenal lama dengan saya, pasti tau gimana kecintaan saya sama memasak. Sempet juga saya nggak kuat makan daging babi. Padahal daging babi itu tadinya salah satu kesukaan saya loh! Sempat juga selama 3 minggu berturut-turut maunya ke resto makan dimsum, itupun harus yang isinya udang semua, paling mentok ya cumi. Yang namanya makan di restoran dan takeaway sudah jadi santapan sehari-hari, padahal tau sendiri gimana menipiskan kantongnya kalau makan di luar melulu. Pernah kita malam-malam ke restaurant Thai karena saya kepingin makan ikan utuh (pssttt ikan utuh itu di sini mihil cuy)... dan ternyata pas dimakan, ga enak! Ga enak di lidah saya maksudnya, pokoknya rugi banget deh. Untungnya begitu masuk trimester dua, keadaan mulai membaik, perlahan-lahan tapi pasti!

6. Pertemuan dengan bidan.

Pas pertama ketemu bidan di minggu ke 10, ngapain aja sih? Ngobrol! Asli satu jam isinya ngobrol doangan. Apakah diukur tekanan darah? Nggak! Diukur berat badan? Nggak juga! Kayaknya bidan di sini itu bener-bener gunanya buat membantu ibu-ibu mentally prepared menghadapi kehamilan, dan juga memastikan kalau kita itu bener-bener ngerti banget apa yang harus dijalankan dan dihindari di saat kehamilan. Soalnya ya buibu, kalau dibandingin berat rata-rata orang di sini, apalagi yang orang Maori atau orang kepulauan lainnya, saya merasa langsing dan imut (namun gembrot banget saat di Jakarta. Syebel!). Pokoknya saat itu kita lebih banyak ngobrol soal history kehamilan sebelumnya, kondisi kesehatan, keluhan-keluhan kita apa aja, lalu kita dijelaskan soal mekanisme melahirkan di sini. Sekalian juga saat itu saya ditanya mengenai operasi-operasi yang pernah saya jalani sebelumnya, untuk dibuatkan referensi ke dokter kandungan di rumah sakit besar. Bidan sama sekali tidak boleh menuliskan resep obat apapun, hanya suplemen saja yang boleh diresepkan. Jadi segala keluhan saya yang mabok parah dan konstipasi itu, nggak ada dikasih obatnya kecuali disarankan untuk minum suplemen kiwi yang dijual bebas di apotik. Terus di bidan ada alat apa aja? Nothing! Boro-boro ada mesin USG kayak di Jakarta, yang ada cuma pengukur tensi, stetoskop, timbangan, sama pengukur detak jantung bayi hihihi.

7. Jalan-jalan selama kehamilan. 

Kalau yang udah ngikutin blog saya beberapa tahun terakhir, pasti tau deh ya kalau saya ini orangnya hobi jalan-jalan. Mulai dari masih single, sampai sudah punya anak, yang namanya hobi jalan tak pernah padam. Begitu hamil ini, hasrat jalan-jalan saya drop drastis, kayak hilang ditelan bumi. Beneran lebih milih meringkuk aja di rumah daripada disuruh travel. Mana tiap kali ke pantai, pulangnya bawaan masuk angin melulu. Waktu kita trip ke Coromandel, mau ngga mau saya jalani karena semua sudah keburu di book sebelumnya, plus kita lagi anniversary ke lima. Basi banget kan kalau cuma diem aja di Auckland. Makanya inget kan betapa sengsaranya saya dalam perjalanan ke sana, terutama saat baliknya. Pas mertua dateng ke sini, saya juga mau nggak mau harus ikut road trip, karena itu pas peak season, jadi memang semuanya sudah di book dari berbulan-bulan sebelumnya dan saat booking belum tau kalau hamil. Kita jalan ke Hamilton - Taupo - Rotorua - Hobbiton. Sepanjang perjalanan itu, walaupun indahnya bukan main, beneran saya kayaknya cuma separuh enjoy walaupun badan saya nangkring di situ, tapi jiwanya nggak. Begitu saya segeran dikit, di akhir Januari kemarin, suami langsung bilang, ayok deh dijalanin kemana gitu. Kebetulan beberapa temen-temen yang kumpul pas Abby ultah lalu pada mau ke Bullswool Farm untuk ketemu binatang-binatang lucu, dan ke Karangahake Gorge untuk trekking dan menikmati pemandangan. Tripnya cuma 1 hari aja, yang penting saya jalan jauhan dikit biar nggak ngerem di rumah (dan bertelur hihihi). Nanti kalau sempet saya bagi ceritanya di sini. Nah, habis ini saya mau kemana lagi sebelum lahiran? Tungguin aja ya.

8. Nafsu memasak yang kembali memuncak.

Setelah penderitaan panjang makan takeaway dan restaurant setiap hari (serius ini penderitaan loh, bukan kesenangan, soalnya masakan rumah itu kan paling comforting dan sehat), perlahan-lahan tenaga dan keinginan saya untuk masak mulai kembali. Kalau lagi begini, mulai deh yang namanya masak yang seru-seru, pokoknya untuk memenuhi keinginan nafsu makan yang mulai membaik. Bayangin, karena kepingin makan pempek, saya sampai 3 kali loh bikin pempek dari 3 jenis ikan yang berbeda supaya dapat rasa dan tekstur yang terbaik (maklum di sini ngga ada tenggiri), mulai dari ikan trevally, ikan hoki, dan yang terakhir ikan cod. Nah lucunya, si suami suka banget fotoin masakan saya pake handphone belakangan ini, dan ditaruh di Facebook dia. Kalau saya nggak tahan-tahan, mungkin sudah lebih banyak lagi yang dia post kali hahaha. Nih saya colongin aja deh gambarnya dikit dari FB dia, soalnya saya sendiri gak pernah niatin foto buat di post.

Ini pempek yang pertama saya bikin, yang dari ikan trevally. Rasa udah enak, tapi tekstur kurang pas, jadi masukin telurnya susah banget! Bikin kedua pakai ikan hoki, rasa kurang, tekstur juga kurang walau gampang dibentuk. Paling mantep pas pakai ikan cod, rasa enak, tekstur enak, tapi sayang nggak ada fotonya hahahaha (mendadak kangen Sari Sanjaya deh...slurp...)

Ini ketupat sayur ala saya dengan sambel udang. Nggak lupa krupuknya! (dibawain krupuk mentahnya dari Indonesia sama mertua).

Ini yang paling kocak, masak mie udah masuk tupperware dan udah digencet tutupnya, masih difoto di kantor dan dipajang pula di FB! Ini bekel makan siang suami saya, mie ayam jamur pake baso ikan. Jamurnya pake portobello soalnya itu yang ada di rumah hihi.
Masih banyak lagi masakan-masakan lainnya, plus ditambah berloyang-loyang martabak yang saya suka bikin di tengah malam buta saat kelaparan... Nyam... jadi pengen bikin lagi.

9. Pembelian Ranjang Bayi

Walaupun usia kandungan saya belum mencapai 7 bulan, pembelian ranjang bayi ini merupakan salah satu yang saya incer jauh-jauh hari. Kenapa? Soalnya kalau mau yang berkualitas itu, mahal kakak!! Jadi kalau ada diskon, buruanlah dibeli, daripada diskonnya ilang. Kalau mau yang terjangkau bisa beli yang Made in China, tapi sudah berapa kali lihat kok nggak gitu napsu, kayaknya kurang sturdy. Ya minimal kalau bukan buatan NZ, saya kepingin yang kayunya masih dari NZ (biasanya NZ pine wood). Maklum, dulu kan Abby di Jakarta pakai bekas saya punya (Iya bekas saya punya!) dan itu dari kayu jati dan mantep banget, digoyang goyang juga gak bunyi. Lah beberapa crib di sini yang sudah saya tes, kok pas digoyang terasa gundah gulana gitu. Padahal orang tokonya udah bilang, walaupun buatan Cina, tetep sudah dapet sertifikasi dari pemerintah sini. Merek yang saya incer itu merek Touchwood yang walaupun modelnya jadul, tapi sturdy. Kalau soal furniture bayi, saya memang suka yang modelnya jadul deh. Merek Touchwood ini pokoknya nggak pernah diskon, titik ngga pake koma. Seandainya diskon, paling mentok 50 dolar... hadeh dibanding harga cribnya, 50 dolar tuh kayak receh. Soalnya ongkos kirimnya ke rumah aja bisa 85-100 dolar. Apalagi crib ini juga yang dipakai sama Prince George pas kunjungan ke NZ beberapa tahun lalu. Makinlah saya yakin kualitasnya pasti bagus. Januari lalu, mendadak ada special offer dari Touchwood ini, kalau beli cribnya, bisa dapat gratis matrasnya, tapi berakhir promonya di akhir bulan. Ih, seneng banget dong saya secara matrasnya doang harganya udah hampir 300 dolar (buat sekotak kecil itu). Jadilah saya langsung kontak tokonya, dan berlanjut via email. Tapi ya ampunnn, salesnya itu kayak hidup segan mati tak mau, kalau bales bisa berhari-hari kemudian, dan yang terkeki adalah, saat saya nanya nomer rekening mereka untuk transfer DP, beneran nggak dibales sampai hari promonya berakhir. Niat dagang gak sih? Ampun dije deh. 3 hari kemudian, ada sales lain yang bales email saya (bukan sales awal) terus minta maaf katanya temennya terlambat balas, dan dia mau tanyain apa masih bisa dilaksanakan offernya walaupun sudah lewat. Saya setuju dong, tapi kemudian nggak dibales lagi sampai sekarang. Yak, sudah dua bulan berlalu. Jadilah saya udah ilfeel dan ngerasa nggak jodoh banget.

Sampai beberapa hari kemudian, temen saya ada yang message saya, katanya salah satu department store sini lagi ada sale 1 hari doang, khusus furniture bayi! Kata dia based on pengalaman tahun lalu, beneran cuma 1 hari doang salenya, dan maksimum setahun 2 kali. Kalau bulan Februari sale, berarti sale lagi nanti masih Agustus. Malam itu juga saya dan suami langsung kabur ke dept storenya, dan melihat rak-rak pada kosong yang isi barang bayi hahahaha. Hebring deh! Tapi untungnya, kalau untuk ranjang bayi dan matras, masih bisa preorder. Dasar jodoh nggak kemana, kita malah dapat ranjang bayi yang harga awalnya lebih mahal daripada Touchwood, tapi karena diskon ini, malah jatuhnya lebih murah daripada si Touchwood! Mama hemat beberapa ratus dolar. Hore! Mungkin Tuhan sudah atur kali ya, supaya saya nggak keluar duit kebanyakan. Sekarang itu box besar sudah nangkring di ruang tamu saya, entah kapan nanti rakitnya, mungkin nunggu bulan Mei hihihi.


Mestinya begini bentuk cribnya kalau udah dirakit. Sekarang sih masih flat dalam box, semoga emak bapaknya ini masih punya keahlian buat ngerakit, maklum udah lama kagak bikin furniture.
10. Berat Badan dan Tekanan Darah

Begitu ketemu bidan kali kedua di minggu ke 14, berat badan saya akhirnya diukur, dan bisa ditebak, nggak naik sama sekali dibandingkan waktu awal kehamilan. Tapi ya memang, pas sebelum hamil saya sudah keburu nampung 4 kilo gara-gara winter hahahaha. Tapi beneran, selama 3 bulan awal itu, semua orang bilang kalau saya nggak keliatan hamil, cuma keliatan butek doang lantaran lemes melulu bawaannya. Yang lucu pas diukur tekanan darah pakai alat elektronik. Saya sudah bilang ke bidannya, sejak saja dioperasi beberapa tahun lalu itu, alat pengukur tekanan darah elektronik kayak nggak berfungsi, selalu nggak pernah akurat. Eh kali itu lebih parah, bukan cuma nggak akurat, tapi pulse saya aja bisa nggak terdeteksi haha. Hebring kan? Akhirnya ya diukur manual. Tekanan darah ada di 120/80 yang berarti normal.

Pas ketemu dokter kandungan di minggu ke 18, di sinilah "masalah" mulai terdeteksi. Tekanan darah ada di 140/90! Diukur sekali lagi 5 menit kemudian, ada di 135/90. Ngeri banget kan? Kok bisa setinggi itu. Diceklah badan saya, semua sehat, nggak pusing-pusing, dan sama sekali nggak ada pembengkakan. Karena kalau ada pembengkakan, berarti saya ada chance kena preeclampsia. Ngeri banget! Buat lebih tau soal preeclampsia bisa klik di sini. Tingkat kematian ibu karena preeclampsia ini adalah salah satu yang tertinggi. Di minggu ke 20, saya kembali ketemu dengan bidan. Ukur berat badan, cuma naik 1 kg dari sebelumnya, tapi tekanan darah saya, masih tetap di atas 130. Makanya si bidan langsung minta hari itu juga saya test urine dan darah ke lab secara cito (urgent) karena biasanya orang yang preeclampsia, tingkat protein dalam tubuhnya tinggi sekali. Bidannya bilang, kalau sampai nanti malam dia nggak telepon, artinya aman. Kalau sampai ditelepon, artinya ada yang urgent. Sampai besok paginya, saya nggak ditelepon, tapi kan bikin saya jadi galau. Apakah beneran aman, atau dia lupa buat kontak saya. Ya gak sih? Akhirnya saya sms dia, dan dibalas kalau semuanya baik-baik saja. Tapi tetep loh, saya nggak tau apakah masih ada resiko itu atau ngga. Mohon doanya ya supaya saya dan bayi sehat selalu.

Bonus: 

11. A Boy or A Girl?

Buat semua orang yang memantau kehamilan saya di sini 99% meyakini kalau anak saya bakalan beda kelamin dengan Abby. Badan tak berenergi, mabuk menggila beda dengan kehamilan pertama, muka kusut brantakan, kulit kering amburadul, bener-bener nggak ada glownya sama sekali. Apalagi Bruder (biarawan Katolik) sahabat saya, kalau ngejeplak langsung jleb banget, "Le, saya yakin anak kamu cowo, soalnya kamu hamilnya jelek!" Abby pun yakin sekali adiknya ini bakalan cowok. Kalau ditanya, pasti dia akan jawab kalau ini baby brother. Silakan tanya berpuluh-puluh kali, jawabannya pasti sama. Apalagi dia sudah kasih nama panggilan loh buat si brothernya ini. USG wajib di sini cuma di minggu ke 12 dan ke 20. Saat minggu ke 12, fokusnya adalah di pengukuran anatomi untuk mengecek kemungkinan down syndrome. Jadi, untuk urusan anatomi kelamin, baru bakalan di cek di minggu ke 20. Phewww...penantian panjang secara pas di Indonesia, di minggu ke 13 aja dokter kandungan saya yang hits itu a.k.a Dr. Calvin Tjong sudah bisa nebak, kalau Abby itu perempuan, kalau sampai tebakannya salah, lahirannya gratis katanya.

Jadi di minggu ke 20, saya harap-harap cemas menunggu, berduaan sama Abby di klinik radiologi. Sebenernya Abby itu harusnya sekolah loh. Tapi beberapa hari sebelum jadual USG itu, dia sakit panas gak sembuh-sembuh, dan baru normal suhunya pas di hari saya USG. Dia tadinya sedih banget nggak bisa "ketemu dede" lagi karena dapat jadual USG pas jam dia sekolah. Tapi memang jodoh, gara-gara dia sakit, malah jadi bisa nemenin saya sebentar buat ketemu dede-nya walau cuma via layar besar televisi. Seperti biasa, petugas USG di sini kalau meriksa itu lamaaa sekali, dan katanya soal kelamin ini baru akan dia kasih tau di akhir pertemuan, which is...hmmm... 30 menitan lagi gitu? Ih gemes deh! Ukur sana, ukur sini,... dan terakhir... "It seems like, based on our viewing here... it's gonna be a girl! Hey, you're going to have a little sister!" Begitu kata petugas USG-nya ke Abby. Lalu dijawab dengan lantang separuh berteriak oleh Abby, "But I want a boooooyyyy!" Asli kita seruangan ngakak!

So here you go, I am going to have another girl! Tapi namanya orang NZ, bilangnya masih "it seems like" karena memang orang sini tipe yang bikin galau alias gantung-gantungan (hellow tukang ranjang bayi!?). Tapi ya sudah, sampai sekarang, kita yakini kalau itu adalah anak perempuan. Sekarang Abby sudah punya panggilan baru untuk adek perempuannya ini walaupun saya gak demen hahaha. Nanti dicoret kayaknya itu nama, bolehlah jadi panggilan sayang. Kalau nama adik cowo yang dia sebut dulu, saya suka loh padahal, dan sudah mikir mau jadiin nama benerannya. Yak, let's wait until week 32, saat tiba USG selanjutnya. Buat saya, laki dan perempuan sama saja, yang penting sehat walafiat. Amin!

Udah dulu ya, mau jemput anak sekolah, dan entar sore mau nonton konser Adele. Iye, biar lagi hamil gini, nonton konser kudu tetep jalan atuh! Masak kalah sama ABG yang minggu lalu nonton konser Justin Bieber? Hihihi.

62 comments:

  1. Holaaa!! Udah lama banget ga blogwalking. Tapi hari ini tiba2 keingetan blog, langung buka bloglovin. Eh tau2 ada kabar gembira. Congratulation, Le! Semoga kehamilannya berjalan lancar dan semuanya sehat2 ya. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks ya, Tia. Amin untuk doa-doanya. Update lagi dong blog elu.

      Delete
  2. Le, gw udah nunggu-nunggu loch posting kehamilan ini hehe.. asik banget yach di NZ biaya nya ga gede.. Kalo di indo lahir normal aja dah 30jt, disini apalagi lebih mahal kalo ga ada asuransi.. sehat2 terus ya sampe lahiran.. en kalo boleh bagi resep donk bikin pempek pake cod, pengen coba hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masak sih? Posting kehamilan kalo buat ibu-ibu sih emang mayan seru ya, buat bapak-bapak mungkin jadi zzzz hahahaha. Gue udah pernah ngalamin lahiran di Indo, jadi bisa lah banding2in dikit dengan pas hamil di sini untuk servicenya.

      Pempek gue pake prinsip kira-kira, karena selalu masak pake feeling. Tapi simpel banget, codnya itu gue masukin food processor sama air dikit sampe bener-bener alus dan ancur, terus gue pindahin ke baskom, masukin tapioca pelan-pelan sambil diulen, plus garam dan lada. Mungkin perbandingannya (kalo based on penglihatan dan perabaan), kayak 1: 2/3 kali ya, tapi dikira-kira aja, yang jelas dia gak nempel kok di tangan lu. Kalo udah kebentuk adonan, tinggal isi telor (ini yang tricky, mmg harus terus praktek belajar untuk masukin telor mentah), terus rebus deh sampe ngapung. Tar tinggal goreng.

      Delete
    2. wah thank you buat resepnya, langsung coba nih.. tapi mkn memang bikin pempek itu harus pake feeling ya.. soalnya gw bikin dengan berbagai macam resep hasilnya ga pernah ada yang bagus..

      Delete
    3. Iya, sama gak boleh terlalu diteken2 juga, bisa liat nanti. Gue jg trial and error kok sampe dapet ikan yang pas dan tekstur yang pas. Denger2 sih pake spanish mackarel lebih bagus ya krn mirip tenggiri, cuma di sini susah cari.

      Delete
  3. sehat2 ya ci Le en debay, amien2!!

    hahahaha Abby lucu ci, kepengen banget dedenya cowok ya :) gpp ya By kl cewek, yang penting dede (en mama) sehat ;)

    Ci Le, demen deh sama ranjang bayinya, klasik tapi bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Wi. Mungkin Abby tuh karena banyak temen cowok kali ya, jadi kepingin adiknya cowo karena ternyata kan main sama anak cowo seru juga. Ranjang bayi cici emang demen yang model jadul gitu.

      Delete
  4. halo mbak lei, mau curhat dikit.. waktu aku hamil anak kedua, aku lahiran prematur di usia kehamilan 32 minggu karena preeklampsia yang ternyata dipicu dari plasenta yang tidak berfungsi dengan baik. fiuhh "yang" nya banyak amat dalam satu kalimat.
    Gejala nya cm si bayi yg super anteng dalem perut dan tensi yang tinggi (antara 130-140) padahal aku nya ga ngerasa pusing atau kecapean. awalnya dokter pikirnya aku cm capek karena abis naik tangga di RS.. eh ternyata tensi tinggi krn gangguan plasenta nya.. Dan itu tau nya mendadak krn keisengan aku ngecek ke dokter deket kantor krn si bayi nya anteng bgt. kata si dokter itu (kebetulan ganti dokter pas lahiran), mesti nya ini bisa ke detect di USG pas usia 16 minggu..huhu. semoga dengan hasil USG 20 minggu mbak lei yg bagus2 aja, adek bayi nya gak apa2 ya.. dan semoga mbak lei sehat selalu sampai lahiran :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Febri, makasih banget buat curhatnya, dikit banyak pasti diterima dan dijadikan masukan. Makasih juga doanya. Untungnya nih, si baby di dalem perutku aktifnya minta ampun, bahkan udah brasa jumpalitan dr 16-17 minggu, sampe sekarang. Aku kemarin ini udah konsul lagi sama bidan, dan untungnya aman. Tensi di 131. Test darah juga bagus semua dan masuk range. Jadi syukurnya nggak ada hubungan sama kehamilan ini.

      Delete
  5. Selalu didoain biar Ci Le, dedek bayi, Abby dan Papa Abby semua sehat-sehat selalu.:)

    ReplyDelete
  6. tetep ya buLe nonton konser mah jalan terus! hohohoho
    sehat - sehat ya kamu dan dede bayiii .. Abby juga sehat2 ya ntar bantu2in mami jagain dede :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya donk, kapan lagi gue nonton Adele (ta ko del ko del, mere mana tung jahe jahe... --> Kalo tau ini berarti anda gaulnya sama yang tua-tua). Seneng banget gue bisa dapet kesempatan nonton konser dia, secara kagak mungkin mampir ke Jakarta.

      Makasih ya, Gill!

      Delete
  7. udah lama ga buka blog..baru tau..sehat-sehat terus ya mbak dan lancar sampai persalinan..horeee nambah lagi anggota geng cantiknya (((geeeeng))) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Geng cantik, dan tampan dong (tampan itu kan bapaknya hahahaha...). Makasih ya, San.

      Delete
  8. Ci! Aku baru mampir lagi, jadi baru tau soal this ultimate happy news <3 Congratulations ci Le, Abby dan papanya Abby, so happy to know that a healthy baby is growing inside your tummy :D
    Ikutan surprised pas tau ada kemungkinan tadinya hamil kembar, tapi Tuhan memang tau kemampuan umatnya ya ci hehehe. Jadi mungkin dimudahkan "Ah, buat Leony, satu lagi dulu aja deh, kasian ga ada suster" Lol :P
    Biayanya bikin aku juga pengen lahiran di NZ hahahaha, kalo di sini perasaan dikit-dikit usg dan periksa, dikit-dikit biaya huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, padahal udah dikasih announcement loh di postingan yang sebelumnya hihihi. Thanks, ya Liv.

      Sebenernya ngga harus kok sering-sering periksa, cuma di Indonesia itu kan memang ke dokter udah mencakup USG ya biasanya, jadi ya gak perlu muter-muter. Ada enaknya juga. Di sini mesti nunggu-nunggu jadinya kalau mau liat si baby hehe.

      Delete
  9. Hi Le, saya dua kali kehamilan, dua kali preeklampsia. Yang pertama gak ketahuan sampai minggu ke 32. Tensi tiba2 tinggi dan setelah itu berat badan bayi susah bertambah. Trimester akhir harus lebih waspada Le.Yang kedua, karena sudah tahu ada riwayat preeklampsia, jadi dokter sudah lebih wanti2 dan pantau dari awal. Akhirnya caesar di minggu ke 36. Masalah setelah selesai operasi caesar ada bleeding yg gak bisa diatasi dengan obat krn tensi tinggi. AKhirnya rahim harus diangkat. Tapi puji Tuhan tidak ada komplikasi apapun setelahnya. Puji Tuhan sudah diberi sepasang anak yang lucu. Semoga kehamilanmu lancar dan penuh berkat Tuhan. Hindari yang asin. Banyak makan anti oksidan untuk bantu kontrol tensi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hey, Jul. Wah jadi beneran si kecil jadi anak terakhir ya. Sip udah sepasang. Wah, kok bisa ya gak ketahuan. Di sini sih bener-bener udah di watch banget walaupun ketemu dokter gak sesering di Indonesia. Untungnya based on hasil lab, semuanya baik-baik, dan sepertinya hypertensionnya gak directly related to the pregnancy. Pas tensi sih mmg di 131, cuma kata bidannya mungkin ada faktor turunan juga, and we can't do anything about it. Kalo sampe di atas 140, itu waspada banget. Thanks, Jul.

      Delete
  10. hehe seru lah dapet another girl... :) lucu abby malah pengen punya dedek cowok ya... :D

    sistem ketemu bidan, usg, dll nya mirip2 sama disini ya... emang kayaknya di indo aja yang sistemnya beda ya. hehehe.

    wah kalo jadi kembar lebih seru tuh ya ny... hahaha. tapi kembar tuh kadang gak mesti ada turunan juga lho. ipar gua tuh anaknya kembar padahal dari dua belah pihak keluarga gak ada turunan kembar. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue mah cowo or cewe, yang penting si Abby jangan sendirian hehe. Kasian kalo sepi. Di Indo, karena udah terbiasa sering ketemu dokter dan USG, jadi biasanya temen org Indo malah bayar extra supaya bisa USG lebih sering. Padahal kan ngga bagus-bagus amat ya kalo terlalu sering hihihi. Wah, kalo kembar sih, seru cuma mabokkkk... Tuhan udah tau lah kapasitas gue hihihi.

      Delete
  11. Hore seru bacanya .. haha
    klo girl masih kemungkinan ngumpet kok woody woodpeckernya (inspired by kiwi n garuda)
    sehat sehat terus ya mamak GBU

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Jul. Gue mah apa aja diterima dengan senang hati yang penting sehat dan komplit semuanya.

      Delete
  12. kayaknya hamil jelek berarti anak cowo atau hamil cantik berarti anak cewe itu mitos deh hahahaha... semoga tensinya turun ya le... dan sehat2 terus ampe lahiran nanti...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu pasti mitos. Ini aja sampe sekarang orang-orang kalo liat bentuk perut gue masih 50 persen bilang cowo, 50 persen bilang cewe. Hahaha. Semua gak ada yang yakin. Thanks, Mel.

      Delete
  13. Ceritanya seruuuu dan di endingnya aku laper liat foto2nya Ci Leony hahaha. Rajin banget Ci. Aku makin ke sini makin kagak masak makanan Indo soalnya kerja jadi pulang2... masak yang praktis aja deh :) Selamat ya (it seems like) baby girl nya, aku demen banget sama anak bayi cewek :)

    Mariska

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar praktis juga yang penting enak, Mar hihi. Semoga nanti kamu juga dapet deh anak cewe, biar bisa punya mainan sendiri ya. Thanks, Mar.

      Delete
  14. hhahaha kehamilan gw yg ke 3 emang beda dengan kehamilan 1&2, dan banyak yg bilang cowok..dan ternyata bener.. hehehe :) tapi gw ga jelek kok meski cowok.. hahaha gw malah bingung dpt anak cowok? krn sebelum2nya kan anak cewek...hehe
    semoga sehat2 terus ya le...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kalo gue mah 90% bilang cowo, cuma guenya nyante aja Fun. Apa aja gue terima dengan senang hati yang penting sehat dan lengkap. Lu dapet anak cowo ngga usah bingung lah, kan pilihannya cowo or cewe, tergantung bapaknya pas bikin lagi kuatan yang mana, XX atau XY :). Thanks, Fun.

      Delete
  15. Congratulations you three! Sehat-sehat terus ya Le & baby girl!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Angela. Semoga sehat terus.

      Delete
  16. Sehat2 selalu ya Le... seru bacanya kaya naik roller coaster hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, naik turun tapi seru, plus tau2 kelar gitu ya? Thanks, Bon.

      Delete
  17. Sehat2 ya debay dan mamanya. Wah, seru banget Abby bakal punya sister. Bisa pinjem2an baju nih kalo udah gede :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Pit. Katanya sih bisa pinjem-pinjeman baju, tapi kok gue gak yakin ya. Yang ada rebutan, atau belinya bareng beda ukuran hahaha.

      Delete
  18. lama ngga blogwalking tau2 baca iniii ah senangnyaaa, selamat yaaa mbaaak! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Arnintaaa.. Benernya udah gue announce sebelum-sebelumnya sih, cuma baru nulis spesifik di sini.

      Delete
  19. Sehat n lancar terus kehamilannya yaa ci le.. wih abby ada temen maennya nih asik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Nie. Kenapa ya kalau jenis kelaminnya sama, dibilangnya punya temen main. Padahal main sama cowo juga gak kalah serunya hahaha.

      Delete
  20. Ahahaha sungkem dulu Ci!! :D Abisan gue liat tinggal elu terakhir yg belum nulis, gua kirain belum di-tag juga rupanya rame bener yah HAHAHA..

    Ah ntar kalo kawin trus hamil trus lahiran di NZ aja ah biayanya murah bener! #eaaa xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, iya ternyata banyak yg tag, kirain cuma 3, eh gak taunya 4 tuh katanya si Jane dia juga tag. Yuk kalo bisa pindah sini, boleh lahiran di sini :)

      Delete
  21. Ci, sehat2 yaaa.. :) Cewe atau cowo yang penting sehat yaa ci.. Semangat. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Poi. Bener, apapun kelaminnya, yang penting minumnya teh botol sos.... Eh salah, yang penting sehat :).

      Delete
  22. Ci Le, apakah Anda tahu bahwa Anda di-tag juga di blog saya? Hahaha

    Seru banget cerita kehamilan kedua ini, apalagi pas tau hampir punya anak kembar ya ci. Cuma yang terbaiklah buat ci Le dan sekeluarga.

    Btw soal hamil anak cowo atau cewek dari penampilan ibunya dipastikan mitos yah hahaha. Soalnya waktu hamil Josh aku malah rajin mekap dan ngerawat diri banget.

    Sehat-sehat terus yaa bumil. Semoga lancar sampai lahiran nanti ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jane, cici beneran gak tau loh kamu tag cici. Tadi cici nyari postnya di blog kamu kok ga nemu sih? Kasih linknya lagi ya kalo ketemu, biar cici bisa edit di post.

      Iya, rata-rata mitos tuh soal penampilan, bentuk perut dll. Kalo rajin make up, mungkin mamanya lagi ganjen... #eh? Hihihi. Thanks ya, Jane!

      Delete
  23. Leleee, aku melongo terus ga mingkem-mingkem baca pastinganmu. hahahaha..... ikut seneng sama kabar kehamilan yang lancar-lancar, jadi baper baca yg bagian 'ternyata harusnya kembar', emejing sama baru ketemu bidan pas minggu ke 10. Oiya dan akyuh termasuk 1% dari pembaca blogmu yang memprediksi kalo Abby bakal punya little sister, lho.
    Wes pokoknya stay happy and healthy mama dan baby yaaaaa. Uuuuwuwww aku ikut senang untukmu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, melongo kenapaaaa?? Keinget sama pregnancy lu yang sebelumnya ya, Fel? Ya memang Tuhan akan kasih sesuai kemampuan kita ya. Kayaknya kalo pembaca blog sih gue gak tau prediksinya gimana, tapi yg di Auckland sini prediksinya itu loh pada cowo semua hahahaa. Makasih ya, Fel buat doa2nya.

      Delete
    2. bukan. Melongo karena eh ya ampun, beda ya hamil di Indo sama hamil di sonoh. Hahahahahaha

      Delete
  24. Wah gw baru baca postingan2 baru lo ni. Kmrn2 abis bacain postingan jepang lo secara detail, jd malah ga smpt baca yg baru hahaha. Congrats yah ibu leony! Happy to hear that! Semoga sehat2 terus dan lancar2 sampai persalinan. Nanti bentar lagi abby punya temen main deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah khatam belum lu sama postingan Jepang gue? Semoga sedikit banyak membantu ya buat trip nanti, apalagi bawa anak kecil juga. Thanks ya, Dea. Amin buat doanya.

      Delete
  25. Hai Ci salam kenal :D *baru pertama kali mampir di blog Cici*
    Sehat-sehat y Cici n babynya, semoga tekanan darahnya ga naik2 lagi, lancar sampai waktunya melahirkan ^^
    Pssst boleh dong minta diajarin masak sama Cici hi..hi..hi xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Fereshia, salam kenal juga ya! Amin amin, semoga tekanan darahnya normal dan semua sehat. Boleh sini main ke Auckland, nanti cici ajarin masak :D

      Delete
  26. Whoaaa baru baca yg bagian ini. Congratsss yaaa mak.
    Semoga sehat2 terus sampai persalinan semuanya lancarrr..

    Ngidam apakah hamil ke 2? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Sel. Hamil ke dua ini nggak ngidam gimana2 sih, ngidam makanan dikit2 ya bikin aja lah hahahaha. Soalnya kalo nungguin mah kagak dateng2 tuh makanan.

      Delete
  27. Wahh sampe mewek pas yg ngeflek darah segar dan kayanya tadinya kembar itu, senasib banget sama sahabat saya, tapi dia pun bilang Tuhan tahu kesanggupan kita yah (ya sambil nangis juga sih). Sehat-sehat ya Ci & sekeluarga, Abby gemes banget deh mukanya udah makin dewasa. Pasti jadi cici yang hebat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kamu mewek bacanya, saya nulisnya kok biasa aja ya hahahaha... (haduh nih hati sudah membatu kayaknya). Amin, semoga Abby jadi cici yang super dan suportif ya sama adiknya.

      Delete
  28. Baru sempet blogwalking dan tiba2 baca berita hepi ini! Congratulation yaaaa!! bener lah cewe cowo sama aja, yg penting sehattt yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Liv!! Lu malah pengen banget cewe ya, Liv. Bener, yg penting sehat, dan lahiran jg gampil yaaaa.

      Delete
  29. Wah! Bittersweet juga baca nya ttg would be twins..tapi gue bisa bayangin gimana perasaan loe yg di negri org, hihihihi....
    Gue second pregnancy juga beda banget rasa nya sama yg pertama, makanya gue juga feeling koq bakalan beda gender nya...dan bener aja tuh. Tapi each pregnancy emang beda ya...selama sehat sehat mum and baby, gue terima aja dikasih gender apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, Nan, gue mah beda tapi ternyata katanya kelaminnya sama hahaha. Makanya jadi gak percaya sama mitos beda rasa itu hihihi.

      Kalo sampe twins, bisa2 gue ud stress sebelum lahiran hahaha. Nambah satu aja deg2an apalagi nambah dua.

      Delete
  30. Congrats ya Ci, semoga sehat selalu baby dan mamanya.
    Keren ci biar hamil bs kuat nonton konser hahahahaha.

    ReplyDelete