Tuesday, February 07, 2017

Abby Tamasya Ke Coromandel Peninsula - Bagian 2

Hayuk  kita lanjut lagi cerita petualangannya ke Coromandel Peninsula untuk hari kedua alias hari terakhir. Buat yang belum baca bagian satunya, silakan klik di sini yah! Iya, kita cuma semalam doang liburannya. FYI, dibandingkan di Indonesia, hari libur nasional itu di sini dikitttt banget. Gak kayak di Indonesia yang banyak hari kejepitnya dan tiap agama punya hari libur. Nah kalau di sini, hari libur nasional terakhir kita tuh kemarin, tanggal 6 Februari (Waitangi Day), dan nanti baru ada lagi tanggal 5 Juni (Queen's Birthday)! Bikin nelangsa ya dari sekarang sampai Juni nggak ada liburnya. Tapi di sisi lain, hari cuti dikasih lebih banyak, walaupun beberapa kantor tetap ada policy cuti bersama (biasanya antara Natal dan Tahun Baru). Makanya, sebisa mungkin walaupun weekend, kita curi-curi waktu untuk trip-trip kecil tetapi seru. Maklum bapaknya Abby kan baru tahun pertama kerja ya, jadi nggak enak hati minta cuti lama-lama. Gimana keseruan trip hari kedua? Mari kita simak bersama.


Minggu, 20 November 2016

Pagi itu pas kita bangun dan buka jendela, ihhhh cakep banget langitnya cerah, pokoknya menjanjikan deh dibandingin dengan hari sebelumnya. Langsung deh bapak dan anak ini, bersemangat dan gembira untuk berenang!

Kalau di sini itu, jarang-jarang ada motel yang nyediain kolam renang. Mungkin karena itu kali ya, motel ini jadi yang terbaik di Whitianga.

Awalnya semangat mau berenang, ternyata eh ternyata anginnya kenceng banget jadinya anak itu malah kerebongan handuk, dan nggak mau terjun ke air. Bapaknya juga mikir kayaknya bakalan masuk angin kalau dipaksain, akhirnya batal deh renangnya. Naik lagi ke atas hahahaha.

Berenangnya sih nggak jadi, tapi tetep berjemur sebentar di balkon. Manis nggak gayaku? 

Our breakfast this morning! Indomie Goreng to the rescueeee! Benernya kemarin malem pas laper itu, udah kepingin banget buka Indomie dan makan, tapi bawa stock Indomienya pas-pasan. Hahahaha. Oh iya, kalau nginep di motel gini, semua rate nggak ada yang termasuk sarapan ya. Kita nggak sarapan di luar, soalnya mau siapin perut buat makan siang di Coromandel city.
Jangan bingung, seluruh area yang kita pergi namanya Coromandel Peninsula, nah itu kotanya ada banyak. Nama salah satu kotanya yaitu Coromandel. Kesannya jadi dobel ya namanya hehehe. Whitianga juga merupakan bagian dari Coromandel Peninsula.

Pas mau check out, sekali lagi foto dulu, beautiful blue sky! Beda banget sama kemarin yang langitnya kelabu terus. Kayaknya kalau naik boatnya hari ini, bakalan jauh lebih asyik. Tapi cuaca siapa yang tau? 

Sebelum ke Coromandel, kita mampir dulu ke Gereja Katolik di sini. Misanya pagi banget pukul 8 dan cuma satu kali saja, sementara kita harus check out pukul 10. Kalau maksain, yang ada terburu-buru, nggak sempet sarapan, malah teler dan masuk angin. Tapi biar gimana harus mampirin untuk berdoa. Untungnya gerejanya masih buka, dan masih ada 2 ibu-ibu yang lagi rapat di dalam. Nggak sampai 10 menit kemudian, kita diminta untuk keluar karena gerejanya mau ditutup. Bahkan mau kasih kolekte di kotak sumbangan aja nggak dikasih sama ibu itu. Kemungkinan, karena dia males bongkar kotak lagi dan masukin sumbangannya ke brankas hahahaha. 

Nih gerejanya dari luar, keliatan kecil dan imut banget ya. Boro-boro ada tempat parkirnya, semuanya parkir di jalan. Kemudian kita baru tau ternyata kalau masuk musim panas, ada misa tambahan di hari Sabtu pukul 17.30. Yah tau gitu kemarin kita misa dulu ya. Soalnya kalau lihat di websitenya paroki, cuma ada misa minggu yang pukul 8 pagi itu. 

Hadeh kotanya sepiiiiii banget. Rasanya saya mah tidak sanggup kalau tinggal di kota sesepi ini, padahal udah mulai masuk musim panas, gimana kalau musim dingin ya? Lebih zzz lagi pastinya.

Sebelum lanjut belok kembali masuk hutan untuk ke Coromandel, kita sekali lagi nikmati dulu cuaca indah dan turun di Mercury Bay. Hari itu bener-bener deh cakep banget cuacanya, langit biru membentang, awan juga nggak tebal.

Gantian, bapaknya juga mau berpose dong, eh posenya duplikat pula sama yang atas, sama-sama tolak pinggang.

Nih yang kita kagum, BBQ pitnya bersih banget! Di Auckland juga banyak sih BBQ pit di tepi pantai gini, dan kita bisa ijin loh untuk pakai. Asyik ya. Tapi baru pernah lihat nih yang sebersih ini, kayaknya karena masih lumayan baru. Semoga bisa dipelihara terus biar tetep cakep. Kebayang nggak kumpul2 di tepi pantai sambil BBQ-an?

Nggak boleh lihat trotoar sepi nganggur, larrriiiiii!! Seneng banget deh.

Menuju ke Coromandel, pemandangannya menyejukkan mata banget. Mulai dari pantai.....

... sampai ke bukit-bukit hijau....

...dan juga pegunungan! Habis itu stop dulu foto-fotonya, soalnya yaaa... kembali lagi jalannya kelok-kelok ratusan kali bikin klenger. Padahal cuma kurang dari 1 jam. Simpen dulu itu kamera. 

Sampai di Coromandel, pas banget waktunya makan siang. Kita mampir di Umu Cafe yang katanya merupakan restaurant/ kafe terbaik di Coromandel. Saya suka loh kafe-kafe lokal begini untuk makan siang. Berasa jadi penduduk setempat hihihi, soalnya beneran ramenya ya sama penduduk setempat yang lagi menikmati brunch.

Asyik ya suasananya, kayak kota tua gitu, dengan satu jalan berjejer isinya toko-toko semua. Kafenya juga buka tenda di luar, biar kalau mau berjemur, bisa sekalian sambil makan. Tapi cuaca hari itu, walaupun kelihatan cerah, lumayan berangin, makanya masih banyak yang pakai jaket.

Jalan-jalan dulu ya muter-muter sambil nunggu pesanan makanan. Asyik banget trotoarnya lebar-lebar, sangat friendly untuk pejalan kaki.

Pesen yang mana ya? Semuanya nampak menggiurkan. Nah, di Coromandel ini yang terkenal adalah musselnya alias kerang hijau besar-besar. Jadi diusahakan cobain menu yang ada musselnya. Jadi kita pesan apa? 

Kita akhirnya milih dua menu untuk di share. Yang pertama adalah Umu Chicken Burger: Umu Chicken Patty, Tomato, Lettuce, Bacon, and Spicy Apple Chutney.

Nih langsung kita potong bagi dua. Rasanya gimana? Endeussss! Seger banget! Sayurannya crispy, and of course, everything is better with bacon! Hihihihi...

Karena bingung mau cobain menu mussel yang mana, akhirnya kita beli aja yang paling komplit yaitu Umu Mussel Platter: Smoked Mussel Pate, Grilled Mussel, Marinated Mussel, Mini Mussel and Caper Hotpot, a taste bowl of Mussel Chowder, Toasted Ciabatta and Salad Greens. Gimana rasanya? Enak donk! Saya ini bukan penggemar mussel, soalnya mussel kalau salah masaknya, jadinya malah bikin eneg. Tapi di sini semuanya bisa saya makan. Yang paling mengejutkan buat saya itu justru Smoked Mussel Pate-nya (tuh yg bentuknya kayak mentega di belakang chips garing itu), kok rasanya unik dan enak, kalau gak disebut itu mussel, saya kira itu salmon loh. Terus, saladnya itu, enak banget! Saya paling demen kalau orang bikin salad serius, bukan cuma pakai cos lettuce, tapi pakai spring greens kayak gini, plus dressingnya bikin sendiri. Terasa banget bedanya.
Tujuan kita selanjutnya adalah ke Driving Creek Railway. Buat ngapain? Naik kereta. Loh ngapain naik kereta? Nah yang ini keretanya spesial banget. Nanti saya ceritain deh. Karena kita naik keretanya masih pukul 14.00 dan perjalanan ke sana cuma kurang dari 10 menit, kita masih punya waktu sekitar 1 jam untuk kembali main-main ke pantai. Kali ini kita kepingin nyari pantai yang bagus, tapi secluded alias sepi, tapi aksesnya nggak boleh susah. Setelah nyari-nyari di peta, ketemulah kita dengan Wyuna Bay yang ternyata bagussss!

Tenang, sepi, letaknya agak secluded jadi nggak banyak mobil bolak balik (malah hampir nggak ada), pokoknya bikin hati damai tenang.

Tuh, pantai seluas itu, cuma ada 2 orang suami istri lagi duduk dan 1 anjingnya hehehe. Kemudian, kita malah jadi kenalan dan ngobrol-ngobrol seru sama mereka. Ternyata mereka tinggalnya di Huntley, sebelah selatan Auckland, dan mereka punya holiday home di Coromandel ini. Ih keren banget ya punya holiday home di pantai.

Saking beningnya air, kita bisa melihat mahluk di bawah situ... apakah ituuuu?? It's a sting ray alias ikan pari! Ih seneng banget bisa ngelihat ikan pari berenang-renang dengan riang.

Nah, di ponton itu adalah anaknya pasangan suami istri tadi (2 anak) plus temannya lagi ngikut liburan juga. Begitu ketemu ikan pari, mereka semua naik ke ponton dulu sambil lihatin sampai ikannya pergi. Seneng banget lihat anak-anak kecil di sini, pada jago berenang di laut, dan keberadaan pantainya mendukung banget buat anak-anak untuk langsung terjun menikmati alam.

Sementara si Abby malah ngumpulin kerang di tepi pantai.

Terus main sama anjing ini yang baik dan jinak banget, umurnya baru kurang dari setahun. Kok bisa langsung akrab gini ya? 

Ternyata eh ternyataaaa... itu anjing dikasih makan kulit kerang sama si Abby! Masyaampunnnn... langsung deh kita larang ini anak, dan kita say sorry sama owner anjingnya. Tapi mereka cuma ngakak-ngakak aja.

tuh pantainya, pasirnya udah hampir nggak kelihatan, ketutupan sama kulit kerang.

Indah banget kan? Kebayang ya anak-anak itu pada berenang ke tengah laut lumayan jauh lohhhh...

Sementara, mamanya Abby lagi seru ngobrol sama ortunya. Penasaran kita ngobrolin apaan?
Kita ngomongin banyak hal, salah satunya soal harga rumah di Auckland yang semakin gila. Percaya nggak, pasangan ini jual rumahnya di Auckland, pindah ke Huntley, beli rumah besar di sana, dan duitnya masih sisa sehingga bisa beli holiday home juga di Coromandel! Mantepppppp... Jadi kebayang kan ya berapa mahalnya rumah di Auckland (pssstt...averagenya di 1 juta dolar..average loh yaaaa alias harga rata-rata... mari menabung).  Harganya ini naik 2 kali lipat dibanding 3 tahun lalu. Penyebabnya apa? Salah satunya adalah banyaknya imigran dari Tiongkok Daratan yang nggak tau mau buang duit kemana, lalu investasi di Auckland yang bikin harga rumah brantakan. Walaupun saya masih ada keturunan Tionghoa, saya juga suka sebel loh sama mereka. Kita juga ngomongin kalau orang-orang TD itu rata-rata punya komunitas sendiri, ngga mau bergaul dengan orang lokal, dan pada nggak mau belajar bahasa Inggris. Itu realita banget loh! Entah gimana cara mereka lolos kemari, tapi sudah berkali-kali saya makan di Chinese restaurant, dimana pelayannya sama sekali tidak bisa bicara bahasa Inggris, padahal sudah bertahun-tahun tinggal di Auckland. Hiyaaaahhh....

Ada lagi isu penting yang kita omongin, yaitu soal anggapan kalau Indonesia itu negara Muslim dimana banyak Muslim ekstrimis. Dan ternyata, inilah stereotype Indonesia yang lumayan terkenal (sedih banget sih). Saya tuh beneran harus jelasin ke mereka loh, kalau Indonesia itu bukan negara Muslim, melainkan negara demokrasi dengan berbagai agama di dalamnya. Masih banyak sekali teman-teman Muslim moderat yang sangat open minded, mencintai keberagaman, walaupun ada juga orang yang memang sangat fanatik dan berkelakuan kurang baik, tapi itu jumlahnya cuma sedikit. Saya juga promosi soal Indonesia yang alamnya tuh bagus banget, tapi memang Jakarta sudah terlalu padat dan bikin stress. Terus terang si bule ini kaget, katanya dia baru pertama kali ketemu orang Asia kayak saya (awalnya dia kira saya orang TD juga), yang mau nyapa dia langsung dan ngobrol ngalor ngidul kesana kemari. Dia bilang, ketemu orang Asia di Wyuna Bay ini aja udah bikin dia kagum, karena artinya kita mau explore New Zealand. Makanya ya, usahain deh kalau kita jadi imigran ataupun jadi pelajar di negeri orang, bergaul jangan cuma dengan komunitas sendiri. Usahakan bergaul dengan orang lokal dan orang bangsa lain juga, supaya kita tuh bisa memecahkan stereotype yang kurang baik soal bangsa sendiri.


Dan inilah foto bertiga kita satu-satunya di pantai, difotoin sama pasangan tadi. Seneng kan kenalan dengan teman baru? 

Seru yah! Abis berenang, anak-anak ini langsung masuk blakang truk plus anjingnya juga hehehe. Yang ini jangan ditiru ya, soalnya rumah mereka tinggal ngesot sih dari pantai dan nggak lewat jalan utama. 

Sampailah kita di tujuan terakhir di Coromandel yang juga merupakan tujuan utama kita hari ini yaitu Driving Creek Railway.
Untuk mengetahui sejarah lengkap Driving Creek Railway ini, bisa klik langsung di websitenya ya. Saya bakalan ceritain sedikit saja kenapa DCR ini terkenal dan jadi objek wisata nomor 1 di Coromandel, walaupun kayaknya kalau di antara teman-teman Indonesia sih, saya termasuk yang pertama kemari hahaha. Cerita ini diceritakan langsung oleh masinis/ tour guide kita. Menarik banget untuk disimak, dan sebagian cerita nggak ada di websitenya.

Barry Brickell, si pemilik DCR ini, membeli tanah seluas 22 hektar untuk membangun workshop pottery (keramik) di tahun 1973. Tahun 1975, dia mulai membangun rel kereta, tujuannya adalah untuk mengambil bahan baku pembuatan keramik yang lokasinya di atas gunung. Selama 15 tahun dia terus-terusan membangun rel ini secara manual (gile ya secara manual disusun-susun, luar biasaaa), tapi ternyata hutang dia ke bank untuk pembelian tanah sempat macet tidak terbayar cuma dari penjualan pottery. Sampai akhirnya dari pihak bank mengeluarkan ide, gimana kalau keretanya ini dipakai untuk angkut orang saja buat jadi objek wisata, demi melunasi hutang Barry. Ternyata, kereta ini lama-lama jadi semakin populer, dan tracknya terus ditambah sampai tahun 2000-an, dan di titik terakhir, dibangun sebuah menara yang disebut Eyefull tower (bukan Eiffel ya hehehe). Hutang Barry lunas terbayar, bahkan pendapatan dari objek wisata kereta ini jauuuuhhh mengalahkan pendapatan penjualan pottery, sehingga pottery sekarang malah jadi bisnis sampingan. Apalagi jaman sekarang mulai banyak produksi keramik yang pakai mesin, sehingga pottery tradisional seperti buatan Barry jadi kebanting. Untunglah ada DCR yang akhirnya menyelamatkan Barry dari jeratan hutang, dan sampai sekarang kita bisa menikmati hasil karyanya, dan keindahan alam yang bisa dipantau dengan menaiki kereta ini. Satu hal yang bikin sedih adalah, Barry baru saja meninggalkan kita tanggal 23 Januari 2016 lalu di usia 80 tahun. Dia dimakamkan di situ juga, diantara semak-semak yang kita akan lewati nanti saat naik kereta.

Harga tiket untuk naik kereta di sini adalah 35 Dolar/ orang dewasa, 13 Dolar/ anak-anak, dan anak di bawah 4 tahun masih gratis. Pas bener ya Abby saat itu masih sebulan lagi menuju 4 tahun, jadi masih gratis deh hehehe. Lumayan irit 13 dolar (padahal beli sandwich aja kagak cukup duit segini hahahaha). Jangan lupa untuk booking dulu di websitenya, karena kalau sudah ramai, dijamin nggak dapat kursi jika nggak booking dulu karena kursinya terbatas.

Reception area yang merupakan ticketing office dan juga pottery shop. 

Petunjuk arah dan jarak, termasuk petunjuk arah toilet hahahaha.

Pottery shop yang malah adem ayem banget, soalnya orang kemari lebih milih buat naik kereta dibanding belanja.

Nunggu dulu ya sebentar sebelum keretanya datang. Khusus untuk orang tua yang membawa anak-anak, kita diberikan preference untuk masuk duluan. 

Gelisah nungguin kapan keretanya tiba.

Kereta yang kita naikin nanti namanya Linx, dan masinisnya namanya Paul. Eh dua-duanya namanya Paul ya hahaha. 

Yayyyy... keretanya tibaaa!

Tuh, senengnya minta ampun keretanya udah sampe, langsung melambai-lambai bahagia.

Pose dulu sama papa sambil pamer tiket kereta.

Bekas workshopnya yang sekarang masih berfungsi, tapi sudah tidak seaktif dulu lagi untuk pembuatan pottery.

Masinis kita menjelaskan kalau kita sama sekali tidak boleh mengeluarkan kepala dan tangan dari dalam kereta. Ini serius loh, soalnya jalan kereta sempit banget, bisa kehajar tembok langsung modyarrrr... Nggak boleh berdiri juga. Ya gimana mau berdiri ya, duduk aja kalau tinggi kepala udah mentok hahahah.

Tangan papa, kupegang erat-erat (sambil nyanyi balonku). 

Begitu kereta jalan, mulai juga pemandangan indah memanjakan mata di sepanjang jalur kita jalan. 

Ku pegang erat, dan takkan ku lepas lagi.... (nyanyi aja terus)

Mulai relax dan bisa senyum-senyum.

Dan mulailah kita memasuki hutan belantara, sambil posisi kereta naik terus.

Dinding kanan kiri yang membelah bukit, penyangganya salah satunya ya ban bekas ini, supaya nggak longsor.

Nah, tuh, alamnya tetap dijaga dengan dibuat trowongan dari batu bata dan pottery. Sempit banget ya, makanya tangan dan kepala gak boleh keluar dari kereta.

Gimana cara kereta itu busa terus naik ke atas tapi nggak muterin bukit? Caranya adalah dengan bikin rel zig zag! Apa maksudnya rel zig zag? Nih salah satu contoh  pemberhentian yang disebut dengan reversing point. Di tiap reversing point, kereta kita bakalan ubah arah dan ganti rel, dengan cara masinisnya secara manual akan turun dan narik tuas supaya relnya geser ke arah yang baru, lalu naik lagi ke atas. Begitupun nanti pas turun.

Nah, nih anaknya sekarang udah mau ganti posisi dan duduk di sebelah mamanya.

Kereta terus berjalan menyusuri hutan, sampai akhirnyaaa.... 

Jejeeennggg.. ketemu pemandangan indah Hauraki Gulf! Bagusssss banget! 

Dan inilah stasiun terakhir pemberhentian kita yang juga merupakan lokasi dari Eyefull Tower. 

Semua penumpang turun, dan naik ke atas towernya. 

Maksimum 65 orang aja ya, kalau lebih nanti keberatan.

Dan di dalam Eyefull tower ada hall seperti ini. Katanya sih, bisa disewa juga loh untuk acara kawinan. Tapi kecil-kecilan ya! Maksimum aja kapasitasnya cuma 65 orang. Kalau orang Indonesia yang biasa kawinan gede sih ngga mungkin. Keluarganya aja udah lebih dari 65 orang hihihi.

Di depannya ada balkon besar, dan sejauh mata memandang, yang terlihat cuma indah dan indah.

Foto bertiga dulu mumpung ada yang fotoin, tapi ya tau sendiri deh posisi anak udah nggak jelas lagi ngapain, ini udah paling mendingan. Ada juga selfie di sini tapi hasilnya berantakan semua hihihi. 

Cium dulu ya, Byyyy...

Duduk di dalam sambil dengar penjelasan dari Paul soal sejarah DCR (tuh yang saya sudah ceritakan di atas). Tapi namanya separo kepanasan, jadi nggak bisa nangkep semuanya hahahaha. Sedapetnya aja deh ya.

Sementara suami ngiterin balkon dari berbagai arah, demi mendapatkan foto pemandangan spektakuler ini. 

Ini juga! 

Ini apalagi, udah kayak negeri di awan!

 Nah kalau di sini kelihatan pantai dan rumah-rumah penduduk.


Disuruh lihat kamera aja, susah bener. Padahal pose udah keren.

Bel sudah berbunyi, artinya waktunya kita untuk turun dan balik ke dalam kereta. Kalau ketinggalan, mutung deh nungguin kereta selanjutnya datang.

Eyefull Tower, ketinggian 173 meter di atas permukaan laut. Tapi kok berasa tinggi bener ya!

Nih contoh lagi dindingnya supaya nggak longsor, bisa dari batu bata, dan juga dari tumpukan botol.

Karya-karya pottery yang Barry bikin juga dipajang di sepanjang perjalanan kita naik kereta. 

Seru banget kan membelah hutan, relnya itu jembatan loh, bayangin bangun jembatan rel buat kereta kecil ini secara manual.

Sudah mau sampai bawah, ketemu lagi pemandangan cantik dengan farm-farm tetangga.

Sampai deh kita di bawah! Ketemu lagi dengan pemandangan workshop.

Sebelum pulang, kita mampir dulu ke Bushwalknya, lumayan kan gerakin kaki setelah tadi duduk di kereta sempit. Bush walk ini ya intinya jalan menyusuri hutan kecil semak-semak, tapi ini sih beneran pendek jalannya, dan nggak ribet. Ngomong-ngomong, itu patung yang di depan, gandul-gandulnya itu apaan sih? *misteri*

Di dalam bushwalk, ketemu banyak keramik lucu-lucu. Salah satunya ini, buntut anjing. Dimana kepalanya? 

Eh ternyata kepalanya di sini toh! Nembus tanah dulu.

Senengnya hidup di NZ, sering nemu hutan kecil yang kids friendly buat ditelusuri.

Ketemu banyak banget pottery kecil-kecil. Sama si Abby ditanyain satu-satu. Itu apa? Itu apa? Itu apa? Sampe mama capek berbusa jawabinnya... lemes...

Tau-tau nyelonong aja nih anak sendiri, seneng banget pula loncat-loncat. Sayang foto loncat-loncatnya burem semua. Ini yang paling mendingan.

Berakhir deh track dari bushwalknya, dan kita disuruh balik lewat jalur yang sama pas kita masuk tadi. 

Di sebelahnya bushwalk ada sculpture garden. Sampai sekarang saya masih bingung patung-patung ini apaan, soalnya saya nggak itu punya jiwa seni rupa hahaha. 

Nih banyak banget kan, bentuknya antik-antik semua. 

Dari bawah banget, pas suami zoom, ehhh kelihatan itu atapnya Eyefull Tower yang tadi kita mampirin. Tinggi juga ya kereta kita naiknya. 

Di halaman ada satu teras kecil dengan tempat duduk, di mana kita bisa nonton kisah pembangunan DCR ini dan passion Barry untuk membuat  karya pottery dan juga menjaga lingkungan. Jadi nggak rugi banget bayar 35 dolar per orang untuk naik kereta ini, karena selain kita bisa menikmati perjalanan di keretanya dan keindahan alam sepanjang perjalanan, kita juga membantu DCR untuk tetap menjaga kelestarian hutan di daerah tersebut. 

Bye-bye DCR! Sekarang waktunya kita balik pulang ke Auckland.
Arah kita pulang ke Auckland ini, kita akan melewati highway pantai barat yang merupakan salah satu jalan dengan pemandangan terbaik di North Island. Tapi apadaya saudara saudari, saya kena heat stroke. Saat itu memang udara sangat panas dan pengap sekali, dan badan saya kayak kena masuk angin selepas naik kereta tadi. Pusingnya setengah mati, dan sepanjang perjalanan balik, saya dan Abby cuma molor. Abby sih kayaknya molor karena cape plus Antimo. Begitu sudah dekat Auckland, pusing dan mualnya masih kerasa. Beneran masuk angin ini mah! Padahal udah makan seabrek pas siang. Akhirnya sebelum sampai rumah, saya minta suami mampir dulu buat makan kuah-kuah pas dinner, daripada mabok berlanjut. Untuk dinner ini, kita mampir di resto yang menurut kita murah meriah dan ngenyangin kalau di Auckland. Eh maksudnya murah meriah ini, ya seorang nggak sampe 20 dolar gitu, cukup 15 dolar buat main course udah kenyang, asal jangan nambah printilan kayak saya, ya bablas. Buat yang tinggal di Auckland, pasti tau resto ini, cabangnya dimana-mana seputar Auckland, namanya Hansan yang jualan makanan Vietnam.

Vietnamese Spring Roll. Udah tau dong ya, yang isinya bihun, selada, udang dibungkus rice paper, terus dicocol saus asem manis asin yang pakai kacang. 

Pesenan saya nih, Lemongrass Beef with Rice Noodle Soup. Kayak Pho gitu, tapi dagingnya di grill dan dipisah. Kalo lagi puyeng, makan ginian membantu banget! 

Pesenan suami, seperti biasa gak jauh-jauh dari babi. Pork Spare Ribs on Rice.

Lychee Juice. Suegeeer... habis kena heat stroke, minum ini.. phewww...legaaa...
Sepanjang makan, suami cerita kalau tadi perjalanan pulang itu, pemandangannya bagusnya minta ampun! Kata dia the best view that he'd ever seen. Tapi, jalanannya kelok-kelok setengah metong, dan sebenernya suami agak bersyukur saya dan Abby pules walaupun saya kehilangan pemandangannya itu. Soalnya dia ngerasa, kita berdua bakalan muntah saling kelok-keloknya. Sayang banget juga, jadinya suami nggak berhenti sama sekali buat foto, karena takut saya kebangun, dan malah nanti tambah pusing. Ya next time kita balik lagi deh, Insyaallah kagak masuk angin lagi pas ke sana. Nah, selesai sudah deh perjalanan Abby ke Coromandel Peninsula. Indah banget kan? Yuk sini pada dateng ke Auckland terus trip ke Coromandel. Nanti saya kasih service tour guide gratis sehari dari Leony di Auckland (cukup kasih makan) hahaha. Sampai ketemu di serial Abby Tamasya selanjutnya ya!

35 comments:

  1. Selalu puaaaasss kalau baca Abby Tamasya. Ceritanya detil, foto-fotonya bikin mupeng, apalagi foto makanannya..bikin ngiler!!

    Kali ini saya bener-bener terpesona sama DCR. Selain pemandangannya yang indah kemampuan mereka memanfaatkan barang-barang bekas buat mencegah longsor itu sebenarnya boleh banget di tiru. Kan di Indo sampah-sampah jarang yang di recycle jadi segala botol dan ban bekas masih bisa dimanfaatin ulang.

    Semoga cici sekeluarga selalu diberi kesehatan dan rezeki melimpah jadi bisa sering-sering tamasya. Dan saya atau pembaca setia lainnya bisa dapat rezeki nemplok buat 'nagih' janji tour gratis dari Cici di NZ. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, bagus kan ya kalau kita bisa kreatif, jangan cuma ngerusak melulu. Makanya jadi ga rugi kan bayar tiket, soalnya biaya konservasi itu gak murah.

      Amin-aminnn... Semoga banyak rejeki itu diaminin banget deh hahahaha. Yuk sini, tour sehari muterin Auckland!

      Delete
  2. wuiii iya kotanya sepi banget ya... bisa bosen2 kali ya kalo beneran tinggal disana. hahaha. cocoknya buat retirement kali ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat retirement juga kurang cocok, Man. Yang cocok buat retirement tuh yg Rotorua soalnya banyak kegiatan utk org2 tuanya. Yg ini buat liburan aje dah.

      Delete
  3. Pemandangannya selalu juara yah NZ ini, tapi sepinya mana tahaaan. Kalo jualan bakso pake gerobak harus jalan berapa kampung supaya habis ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya itu, Et. Di Coromandel kaga ada yang dagang bakso sama mie tek2. Jam 10 malem aja nyari makanan udah susyeee..

      Delete
  4. Gw naksir lemongrass beef sama rice noodle soup, ya ampun sampe ngeces ngeliatnya malem2 gini...

    Berarti kalau kemari lagi kapan2 bawa kantong muntah dong, tar Abby nyanyinya kantongku ada lima...

    Emang pemandangannya juara banget yah, beneran mupeng liat foto2 NZ tapi nggak mupeng sama harganya >·<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. Comfort food memang yang anget2 dan kuah-kuah, Fel. Apalagi kl ada pedes2nya dikit, makin hangat hatikuwww...

      Kantong muntah mah skrg selalu standby tiap trip hahaha. Emaknya ud belajar. Tp soal muntahnya masuk kantong semua atau ngga, kadang ga bs diprediksi.

      Ya sini lah lu dtg dulu. Tar gue masakin Indomie.. Gratis!

      Delete
  5. apa ada rencana mau bikin giveaway tamasya bersama abby? HAHAHA .. ngelunjak ya!! apa kita buka usaha warung indmoie aja di sana? soal TD, yah begitulah konon ceritanya .. harga rumah di oz juga rusak gara2 mereka. aku kadang bingung itu duitnya banyak bener yak! btw, bagus bule foto2nyaaa .. kotanya sepi bener yaaaa .. bisa guling2an :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadowww... Tamasya bersama Abby mah emak bapaknya aja nabung dulu nih hihihi. Waduh, buka warung Indomie di Coromandel, cukup pas summer doang dan bukanya malem, saat yg laen udah zzz. Good idea!

      Ya org TD udah kemana2 nyebar. Mereka di negara sendiri susah nikmatin, ekspansi dehhhh..

      Delete
  6. Setuju sama ko Arman, kotanya cocok buat yang retirement ya kayaknya. Pemandangannya sih emang juara banget, bikin mata seger. Itu Lemongrass Beef-nya ngingetin aku pas hamil dulu sempet ngerasa eneg, terus makan pho langsung lega banget perutnya.

    Btw, baru inget ada sepupu suami tinggalnya di NZ, ada wacana pengen main ke sana kalo ada berkat lebih. Mudah-mudahan bisa join Leony Tour di sana ya hahahaha!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang pho cocok buat bumil yang merindukan kehangatan hwhahahaha. Yuk main ke sini dulu yang penting. Tar dpt Leony tour sehari khusus Auckland hahahaha.

      Delete
  7. Indomie gorengnya langsung menarik mata, walaupun aku hidup di indonesia yang stok indomie berlimpah ruah
    Scroll ke bawah dan...pork spre ribs nya jg menawan..atau aku yang lagi kelaperan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indomie itu kan memang selalu ada di hatiii...

      Pork spare ribs itu kesukaan suami. Kayaknya tiap ke resto vietnam rata2 selalu pesen itu ga ada bosen2nya. Mmg enak sihhh...

      Delete
  8. Langsung kangen NZ!!! Apa sih yang nggak cakep disana. Domba aja keliatan cakep, hahahahahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, Er. Buruan setor muka ke North Island! Gue tunggu loh yaaa...

      Delete
  9. Pemandangannya indah bgt, Abby udah tambah gede ya

    Mie gorengnya menggoda dan seperti biasanya cakep2 fotonya ...

    sekalian jadi duta indonesia ya Le

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Tante, soalnya Abby dikasih makaaannnn. Jd tambah gede deeehhh...

      Tentu, daku selalu menjadi duta Indonesia dimanapun berada, mulai dr jaman kuliah dulu.

      Delete
  10. Hi.. Leony.. salam kenal, sdh dr bbrp bln lalu sy ga pernah ketinggalan baca blogmu.rencana tgh thn ini sy dah keluarga akan pindah jg ke nz, tp bkn AKL. Apa blh tny2 via email mengenai persiapan dl Leony pindah sekeluarga ke NZ, brg2 apa yg penting n wajib dibawa,cara urus2 pindah sklh n daftar sklh disana krn sy jg bw 2 anak balita nih hehee dijamin rempong. Thanks ya udah mau share pengalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello, namanya siapa ya? Tenang aja kalau barang ga usah pusing. Di sini apa juga ada. Tinggal siapin koceknya aja buat belanja hahahaha. Daftar sekolah gampang kok. Cari2 aja yang di neighborhood biar ga repot dan yg terpenting ada slot available. Feel free to email me di leony_hal(at)yahoo(dot)com. Yg di dalam kurungnya ganti jadi symbol ya nanti pas ngirim.

      Delete
  11. ya ampunnn, disana sepi banget ya, terus banyakan isinya orang tua gak sih? terus2 gw shock lihat harga salad disana belasan dolar! kalo disini udah dapet sayur asem seember-ember tuh hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepinya cuma di kota2 liburan Mel dan sepinya kalo non summer. Kalo summer bs jadi ky cendol. Di sini standar harga salad belasan dolar. Kalau ada dagingnya malah di atas 20 kalo di cafe gitu. Mungkin kalo pengen tau negara mahal or murah, bs pake standar KFC kali ya. Di sini paket KFC yg individual meal 12.5 dolar. Kalo mo tambah coleslaw 1 cup jd 14.5 dolar. Makanya begitu ktm resto yg menu maincoursenya 15an dolar n ngenyangin, bahagiaaa hahahaha.

      Delete
  12. seru banget naik kereta yang relnya dibangun manual..hehehehe..dan semua makanannya menggugah selera mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru karena keretanya sempit dan kecil, plus nembus hutan hahahah. Asik deh.

      Delete
  13. Begitu liat foto mie gua nebak itu pasti indomi goreng hahaha.
    Pemandangan pas dari atas bagus banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indomie goreng, teman setia, terkenal di segala penjuru dunia hahahahaha. Pemandangan di sini dr sisi mana aja cakep deeehh dijamin!

      Delete
  14. abby makin endut dan cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante. Kayak mamanya ya tambah endut (tp ga tambah cantik hahahaha).

      Delete
  15. Ngeliat foto Abby yang sendiri tanpa noleh kamera, itu ceritanya ala2 candid kali Ci huahaha.

    Ih pihak banknya baik ya bantuin Barry ngasih ide buat ngelunasin utang. Jadi lah DCR. Salute

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, gak pake ala-ala kayaknya sih beneran candid kalau sampai kagak nengok. Ya memang wisata kayak DCR itu harus dikembangkan, bukan soal buat bayar hutang sih, tapi memang bagus banget dan membantu memelihara alam sekitarnya.

      Delete
  16. cuma bisa ngomong satu kata...Cantiknya..!
    yaa ceritanya, foto2 alamnya, foto2 makanannya, apalagi orangnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kalo orangnya itu relatif ya. Yang lain beneran cantik especially alamnya.

      Delete
  17. 1. Di kota Havelock, South Island, malah 1 kota penghasilannya dari mussel, sampe kotanya dapat julukan Green mussel capital of the world.. haha
    2. Sama ni, gua juga bingung kenapa org TD itu gak bisa bahasa inggris tapi survive aja di negara yang basednya bahasa inggris.
    3. Ada yang tanya gua, jakarta punya gedung bertingkat gak? Haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dikit enak, kebanyakan eneg kl mussel hahaha. Org TD itu kayaknya banyak yg illegal deh, kalo legal kan kudu ada english requirementnya. Pasti yg nanya lu org dr small cities deh hehe. Kalo di Auckland rata2 ud lumayan lah ga tulalit banget org2nya.

      Delete
    2. Iya, hahaha.. padahal gua banyak kenal orang yang aslinya dari Inggris migrate ke NZ, tapi memang dah pada diatas 50 tahun umurnya, dan yeah, ini tinggal pada di kota Blenheim, di south, kota kecil..
      Nah iya, kok bisa yah illegal?

      Delete