Tuesday, January 17, 2017

Malam Tahun Baru Yang Tidak Terlupa

Nggak tau nih harus mulai cerita dari mana, soalnya pas liburan kemarin banyak banget cerita yang seru dan menyenangkan, apalagi pas jalan-jalan road trip berenam. Wuih pokoknya asyik sekali. Tapi dibalik segala hal yang menyenangkan, rupanya terselip satu kejadian yang tidak mungkin kami lupakan. Di hari terakhir road trip kami di penghujung 2016, mami (mertua) saya jatuh di parkiran Hobbiton, dengan posisi terlungkup, tangan kanannya menahan badan, tapi untungnya (masih untung nih ya), mukanya sama sekali tidak terluka. Kalau mau bercanda dikit, si mami itu orang yang sangat merawat wajah, jadi kalau sampai mukanya kenapa-napa, bisa jadi "akhir dunia" hihihihi. Terus setelah jatuh, apa yang terjadi? Our real adventure began here. Ceritanya lumayan panjang, tapi moga-moga bisa kasih bayangan soal pelayanan kesehatan di Selandia Baru (yang menurut saya keren banget!).

Setelah sampai lokasi Hobbiton, saya jalan duluan ke ticketing office, karena harus tukar tiket online jadi tiket asli. Saya bingung kok lama banget keluarga saya nggak sampai-sampai. Beberapa menit kemudian, saya melihat mami dipegangin kanan kiri, dengan muka pucat pasi. Katanya dia jatuh kesandung batu di parkiran, dan mendadak semua gelap. Tapi pelan-pelan dia mulai bangun dibantu. Untungnya lagi, masih bisa jalan pelan-pelan walaupun dengkulnya agak biru-biru. Saat menggerakan tangan kanannya, dia bilang sakit sekali sampai teraduh-aduh, plus dadanya juga nyeri. Saat itu kami berpikir, mungkin karena tangannya jadi menahan badan, makanya terjadi benturan keras. Posisi kami saat itu di Hobbiton, kira-kira 2 jam 15 menit jaraknya dari Auckland. Trip ke Hobbiton ini tentulah kami semua sungguh nantikan. Tiket sudah dibeli dari bulan September lalu karena kalau musim liburan tidak mungkin bisa mendapatkan tiket dalam waktu dekat. Mami juga sangat menunggu pergi ke sini, walaupun awalnya dia kira Hobbiton itu semacam Disneyland (dan dia kira bisa ketemu Hobbit beneran). Tapi saat itu dia bilang dia tidak mau ikut, dia mau nunggu di ticketing office saja, di bench kayu.

Saya hafal betul sifat mami, kalau dia ditinggal sendirian di situ selama 2 jam (tournya berlangsung 2 jam), dia bisa tambah devastated. Pilihannya kalau buat saya saat itu, either ada yang nemenin mami, atau kalau bisa, saya encourage mami untuk tetap ikut tour Hobbiton, karena setelah saya tanya lebih detail, ternyata mami masih bisa jalan. Keadaan tangannya saat itu, walaupun sakit, masih bisa ditahan, dan tidak terlihat tanda biru ataupun bengkak. Setelah diberi kata-kata penyemangat, mami akhirnya ikut juga tour Hobbiton ini, dan Puji Tuhan, bisa ikut sampai selesai. Kalau lihat foto-foto kami (nanti akan saya share kalau sempat, khusus soal Hobbiton), pasti nggak sangka kalau saat itu mami habis jatuh. Setelah ngopi dan snacking di The Shire Cafe, kami langsung tancap gas balik ke Auckland. Saya lihat tangan mami mulai agak bengkak, jadi saya langsung bagi tugas ke suami. Nanti begitu sampai rumah, saya langsung ambil mobil satunya, lalu antar mami ke klinik sambil ditemani papi, untuk ketemu dokter dan syukur-syukur bisa di x-ray, sementara suami dan adik ipar urus Abby dulu. Kalau soal medis, suami saya sangat percaya sama istrinya. Maklum, istrinya "alumnus" keluar masuk RS! Hahahaha...

Saat itu pukul 19.00, klinik tutup pukul 20.00. Setau saya, klinik x-ray tutup pukul 18.00, tapi mungkin ini sudah kehendak Tuhan, walaupun malam tahun baru, hari itu klinik x-ray tutup pukul 20.00 (bahkan tulisan operating hoursnya saja diplester pakai selotip, alias baru diganti). Jadi malam itu juga, mami bisa diperiksa dokter umum (GP) dan langsung di x-ray di 3 posisi tangan. Baru saja selesai x-ray, 5 menit kemudian dokternya menyampaikan berita "duka" itu ke kami. Tulang siku (elbow) mami patah terbelah dua, dan posisi sudah bergeser. Beliau langsung menyiapkan surat rujukan untuk kami pergi ke rumah sakit besar North Shore Hospital (NS Hospital). Kami cukup shock, tapi tetap berusaha tenang, supaya mami ikut tenang. GP kami sudah bilang, kalau mami harus dioperasi, karena tidak mungkin tulang siku dibiarkan seperti itu. Tapi keputusan ada di spesialis ortopedi di NS Hospital. Yang bagi kami bikin deg-degan juga adalah, berapa biayanya? Ke GP saja kami estimasi sudah pasti mahal, belum X-ray, apalagi kalau ada tindakan?

Kemudian GP kami menyebut kata ACC secara samar. Kami sangat clueless, apa itu ACC. Beliau berucap singkat, kalau accident nanti dicover oleh ACC. Tapi mami kan bukan permanent resident apalagi penduduk Selandia Baru, mana mungkin dicover? Tibalah saat saya ke kasir klinik untuk membayar tagihan. Ekspektasi saya mungkin GP plus x-ray ada di kisaran 300 dolar. Eh begitu lihat tagihan, loh kok cuma 50 dolar? Terus sama sekali tidak ada biaya x-ray. GP kami bilang, nanti sepertinya bisa dicover ACC. Asli saat itu kami masih clueless dan gak paham, pokoknya karena waktu sudah makin malam, kami cuma mau tindakan tercepat dan terbaik. Saat itu juga, kami dikasih selembar surat, yang isinya contoh dari biaya yang harus kami keluarkan, seandainya kami tidak eligible untuk ditanggung. Surat ini keluarnya di tahun 2014, jadi pasti akan ada perubahan biaya. Nih beberapa contohnya yang bikin kami cukup bengong.

- Emergency Department Visit costs $867.10 to $1,367.35
- Emergency room or Ward stay costs $1,587.23 per night
- X-ray costs  $195.06 per investigation
- Ultrasound $351.56 per investigation
- CT Scan $1,496.16 per investigation
- Operating room costs $81 per minute

Kebayang nggak tuh, kalau operasi mami satu jam saja, hanya untuk biaya ruang operasi besarnya hampir $5,000, hanya untuk sewa ruangan! Papi sendiri sudah pasrah jika harus dioperasi di NZ, karena berdasarkan pengalaman keluarga dan kerabat, beberapa orang yang sudah dioperasi di Indonesia, walaupun dengan dokter yang paling ahli, berujung pada kegagalan. Bahkan si papi sudah mikirin mau pecahin deposito. Sudah panjang banget ya mikirnya, soalnya kami tau betapa mahalnya biaya di sini. Pasti bisa habis puluhan ribu dolar.

Sampai di NS Hospital, mami dan papi langsung saya turunkan di area emergency, yang ternyata saat itu cukup ramai. Saya tinggal kurang dari 10 menit untuk parkir, begitu saya masuk lagi, mami sudah siap dibawa ke ruang Assesment and Diagnostic Unit. Wah, ngebut banget penerimaannya, padahal ini rumah sakit publik. Bahkan dibandingkan dengan Tan Tock Seng Hospital di Singapura di 2015 yang sama-sama rumah sakit publik, di sini jauh lebih cepat! Baca di sini soal pengalaman mami masuk Emergency di Singapura. Waktu mengurus penerimaan mami di ADU Ward (Emergency Ward, tapi bentuknya sudah seperti kamar inap), admin berkata kalau kita harus siap dana cukup karena mami itu cuma visitor di sini. Kemudian saya iseng tanya soal ACC. Lalu admin bilang, "Ini kejadian ibu kamu gimana?" Lalu saya jelaskan mengenai jatuhnya beliau di Hobbiton, dan tiba-tiba beliau bilang, wah ini termasuk kecelakaan, dan semua orang yang kecelakaan, baik PR, citizen, maupun visitor, akan tetap ditanggung oleh ACC. Sayapun diminta untuk mengisi form ACC yang nanti akan disubmit ke pemerintah. Sayapun diberi selebaran mengenai ACC dan apa saja yang tercover di dalamnya. Memang benar, ternyata KHUSUS UNTUK KECELAKAAN, di mana kasus mami termasuk di dalamnya (personal injury), ACC alias pemerintah NZ akan mengcovernya. Luar biasa!

Penerimaannya begitu cepat, tau-tau mami sudah tidur di dalam ruangan. Satu ruangan terdiri dari 6 orang, luas dan bagus. Kalau di Jakarta, 1 ruangan isi 6 kamar tidur kan kelas 3 ya, tapi ini luas banget, kamar mandinya dua besar-besar, bersih, dan peralatannya lengkap banget! Nurse-nya, baik suster maupun bruder (perawat laki-laki) semuanya sigap, ramah, jempolan abis! Walaupun status mertua cuma visitor, langsung ditangani dengan sukacita. Yang terlucu, nurse on duty-nya saat itu namanya Abby hihihi. Jadi oma dirawat sama Abby tuh! Tapi juga banyak staff yang lain, pokoknya semuanya terlihat relax namun cekatan. Saat bajunya mami akan dibuka, mami pesimis, pasti bakalan digunting, karena bajunya agak pas badan (katanya pengalaman di Indonesia pasti digunting). Ternyata suster di sana kuat dan sabarnya luar biasa! Pelan-pelan sambil bolak balik baju mami (plus printilan lainnya) bisa dilepas pelan-pelan tanpa membuat tangan mami terasa sakit. Pertanyaan susternya untuk administrasi juga sangat-sangat detail dan jelas. Lumayan mami bawa penerjemah a.k.a saya sehingga semuanya terekam lancar. Malam itu, malam tahun baru 2016, saya, papi, dan suami baru makan malam pukul 9.30, dengan makanan nasi goreng takeaway. Sementara mami harus puasa, just in case kalau dokter siap untuk operasi, malam itu juga kemungkinan akan dioperasi. Kira-kira pukul 11 malam, saya dan papi pamit, gantian aplusan dengan suami yang akan jaga mami di ruang ADU, sambil menunggu tindakan selanjutnya.

Tengah malam saya cuma bisa mendengar sayup-sayup suara kembang api, tapi badan ini rasanya sudah mau rontok, dan pulaslah saya. Welcome 2017. Pagi-pagi kira-kira pukul 6, saya sudah bangun dan langsung cek whatsapp keluarga. Suami ngabarin kalau saya harus segera tiba kembali sebelum pukul 8 pagi, karena dokter utamanya akan datang dan memberi keputusan soal operasi mami. Jadi mami semalam gak jadi operasi melainkan digips saja oleh dokter jaga, sehingga boleh buka puasa. Langsung deh saya berdua papi siap-siap berangkat lagi. Di rumah sakit, saya lihat mami sudah lebih segar, tangannya sudah digips. Kemudian dia dengan bahagianya menceritakan betapa luar biasa cekatan dan efektifnya proses x-ray dan pemasangan gips kemarin. Untuk menahan rasa sakit saat pemasangan gips, beliau cuma harus tarik dan buang nafas via corong oksigen.  Mami tambah merasa yakin kalau dia akan baik-baik saja untuk operasi di sini, walaupun tadinya didera rasa takut.

Saat dokter bedah tulang utama datang, dia berkata, kalau mami punya pilihan untuk operasi di NZ atau operasi di Jakarta. Mami dengan yakin memilih untuk operasi di sini. Tapi berhubung sedang hari libur besar dan keterbatasan staff, operasi tidak mungkin bisa dilaksanakan hari itu, dan paling cepat baru bisa dilaksanakan hari Selasa, tanggal 3 Januari 2017, dan kemungkinan bisa mundur sampai hari Jumat. Lalu gimana? Kami dipersilakan pulang hari itu, dan tinggal menunggu telepon dari RS. Intinya Selasa subuh, mami sudah harus siap puasa. Pagi-pagi kami akan ditelepon untuk diberitahu apakah operasi akan berlangsung hari itu atau tidak. Intinya, tinggal waiting game saja. Enaknya, kami tidak perlu waiting game di rumah sakit! Kemudian mami terbayang tahun lalu saat dia sempat lemas dan masuk ICU di Jakarta, bahkan saat dia sudah merasa segar, tetap ditahan di ICU yang menyebabkan tagihan membengkak sebesar IDR 60 juta cuma untuk 3 malam di ICU dan 1 malam di kamar biasa. Pagi itu, tangan mami digips ulang (recast) supaya posisi lebih baik sehingga kulitnya lebih relax untuk dioperasi. Proses cepat dan efisien, siang itu kami sudah check out dari rumah sakit. Admin juga bekerja sangat efektif, sehingga saat keluar kami cuma diberikan surat keterangan keluar dan resep obat penahan sakit yang harus ditebus di apotik. Terus kami bayar berapa? Ternyata beneran nggak ada tagihannya! Nyelonong aja gitu kami pulang sambil babay ke petugas. Lanjut kita ke apotik dekat rumah untuk nebus obat, 3 macam total, cuma 21 dolar!

Setiap hari kita menunggu, kapan mami akan dioperasi. Selasa, kami ditelepon, ternyata hari itu slotnya penuh. Rabu subuh diminta puasa lagi. Rabu pagi ditelepon lagi, masih juga slotnya penuh, dan mami diminta puasa Jumat subuh. Masih tetap harap-harap cemas, berharap semoga Jumat itu kami bisa mendapatkan kabar "gembira" soal slot operasi. sambil terus berdoa. Mestinya mami pulang hari Jumat tanggal 6 Januari 2017, langsung deh kita ganti mundur jadi tanggal 13 Januari 2017 untuk papi dan mami, sementara untuk adik ipar, tetap pulang di tanggal semula. Lalu setiap hari selama menunggu itu mami ngapain aja? Ya bisa beraktifitas seperti biasa! Cuma makan aja jadi pakai tangan kiri ya. Mami masih bisa ke pantai, ke mal, ke outlet, shopping sana sini, makan enak, pokoknya ya jadi gak terkekang di rumah sakit. Secara psikologis juga nggak stress jadinya. Jumat pagi itu pukul 7 lewat, akhirnya kabar gembiranya tiba. Mami bisa check in di admission pukul 11 pagi hari itu juga. Horeee!

Hari operasi tiba. Yang tugas mengantar ya saya dan mami, sementara suami jaga Abby dulu di rumah, just in case nanti malamnya harus aplusan supaya ada yang jaga di RS. Pukul 12.30 siang kami belum juga masuk, sementara mami maagnya melilit karena sudah puasa kelamaan. Maklum, gara-gara kemarin ngantuk, dia nggak  makan lagi pas tengah malam, jadi makan terakhir pukul 21.00 (cuma nyemil buah pula). Langsung minta sama pihak RS untuk dikasih Mylanta. Nggak berapa lama, kami dipanggil masuk ke preparation room. Setelah ditimbang dan diukur tinggi, pendataan ulang dilakukan, lalu mami digantikan baju RS, komplit sampai ke stocking dan kaus kaki, lalu kami dipindahkan ke ruangan besar untuk menunggu proses operasi. Kami sudah ada di ruangan besar itu mulai pukul 14.00, sambil harap-harap cemas. Pukul 16.30 sore, maag mami kembali melilit, dan kembali kami minta Mylanta. Dan tebak, sampai pukul 18.00 mami belum juga dipanggil, dan kita jadi pasien terakhir yang nangkring di situ. Saya sudah harap-harap cemas, ngeri batal, dan mami bisa stress kelamaan nunggu. Saya langsung deh berdoa di tempat, komat kamit terus. Pukul 19.00, akhirnya ada bruder yang nyamperin kami, lalu mengecek data mami. Mami siap dioperasi malam itu juga! Alhamdullilah, Puji Tuhan banget!

Brudernya kemudian mengabari hal yang bikin kami deg-degan lagi, mestinya mereka ada interpreter resmi untuk bahasa Indonesia dari RS untuk membicarakan soal anastesi (bius). Tapi hari itu tidak ada interpreter sama sekali. Mereka mengijinkan pihak keluarga untuk jadi interpreter, tapi jika dianggap tidak mumpuni, operasi bisa dibatalkan sampai interpreter resminya bisa dipanggil. Hadeh, gimana ini, mana si mami udah puasa lama bener hampir 24 jam. Gimana kalau sampai gak jadi? Hu hu hu... Ketika petugas anastesi datang, dia nanya, siapa yang tugas jadi interpreter. Ya mau gak mau saya lah ya! Untungnya, ternyata proses interview dan penjelasannya lancar jaya! Langsung dia nyuruh saya tanda tangan, dan kita berdua dianggap mengerti soal proses yang akan dijalani. Dokter bedah pun tidak lama datang, kami ngobrol sebentar, dan dokter bedahnya cuma ngomong begini, "Ya, operasinya kira-kira satu jam, lalu pemulihannya kira-kira satu jam. Yang nunggu semua pulang saja, besok pagi balik lagi." SUMPE LOH! Nyante banget!! Die kagak tau apa kalau di Jakarta, kalau ada orang tua yang operasi, yang nungguin bisa berjamaah gitu. Akhirnya saya minta aja ke dia, tolong telepon saya kalau nanti operasinya sudah selesai.

Pukul 19.30, mami dibawa masuk ke ruang operasi, sementara kami menunggu di ruang tunggu umum. Asli sudah hampir gak ada siapa-siapa di rumah sakit selain ada 1 pasang lagi yang sepertinya nunggu operasi orang tuanya, itupun sepertinya orang Tiongkok. Ya emang sih, di sini itu saking nyantenya, saya lihat orang operasi pada nyelonong sendirian, gak ada kerabat yang nemenin. Yang ditemenin dikitttt banget. Kayaknya cuma 3 deh dari sekian banyak orang. Nggak lama suami saya dan Abby datang, bawa makan malam seadanya alias burger fast food lantaran tukang nasgor sama mie goreng deket rumah tutup semuanya (ih, libur taun baru kok lama bener). Pokoknya kami bertekad nunggu sampai dapat telepon dari dokternya. Pukul 21.00 kurang sedikit, telepon saya berdering. Ternyata mami sudah selesai operasi, operasinya sukses, dan mami sudah di ruang pemulihan. Tapi mami tidak bisa dijenguk sampai nanti dipindah ke kamar rawat inap biasa. Entah jam berapa pindahnya. Karena saya dan papi sudah capek banget, kami pulang bareng Abby, sementara suami nunggu di RS. Kira-kira pukul 22.30 malam, telepon saya kembali berdering, dan dapat info kalau mami sudah masuk ke ward biasa di lantai 9. Langsung deh suami saya infokan dan nyusul ke sana. Ternyata suami malah nggak boleh nemenin, jadi harus pulang juga. Peraturan di sini, ternyata siapapun tidak boleh nemenin kalau malam hari. Mami saat itu sudah sadar, tapi nggak laper, yang ada malah pules blek!

Besoknya, pagi-pagi banget papi dan suami saya sudah berangkat lagi ke RS, sambil bawa breakfast dari McD kesukaan mami (ini bukan iklan, tapi kalau lihat breakfastnya McD, si mami pasti tak kuasa menolak). Ternyata si mami segernya minta ampun kata mereka, dan langsung bisa makan McD loh! Saya juga dikirimin foto, mukanya seger banget. Lagi-lagi si mami cerita, betapa efisiennya proses anastesi dan operasinya. Pokoknya gak pakai ribet sama sekali, menurut dia nggak sampai satu menit sampai teler, tau-tau si mami sudah sadar dan ada di ruang pemulihan. Berhubung si mami ini termasuk langganan keluar masuk RS, kalau dia puji pelayanan sebuah RS, pasti itu beneran deh bagusnya. Siang itu juga, mami boleh langsung check out pulang. Iyes, less than 18 hours after the surgery, si mami udah keluar aja dong gitu dari RS, lalu dengan wajah berseri-seri langsung ngemal dan makan di resto Jepang. Lalu tagihannya berapa? Nggak ada! Lagi-lagi cuma dikasih surat keluar dan resep obat untuk ditebus di apotik. Kami lihat di resep itu ada obat keras, yaitu morfin, yang biasa memang diberikan saat sesudah operasi, dan dua painkiller lain yang lebih ringan. Tebak nebus obatnya berapa untuk 3 macam? 10 dolar saja saudara saudari! Bahkan morfinnya gratis tis tis. Asli bikin kita bengong!

Minggu depannya, sambil menunggu hari konsultasi lagi dengan dokter, kami sudah bisa aktifitas seperti biasa, bisa jalan-jalan, makan-makan, dan belanja juga. Kami juga dapat surat dari ACC yang dikirimkan dari rumah mengenai benefit yang didapatkan oleh mami. Di situ ada tertulis, jika sampai tagihannya kelebihan dari eligibilitas yang mami miliki, kemungkinan kami akan bayar kelebihannya, ataupun mungkin cuma bayar copay-nya saja. Tapi sampai saat ini nih, saat blog ini ditulis, kami belum menerima tagihan apapun. Nanti kalau sampai dapat tagihan, akan saya update deh ya.

Sedikit mengenai ACC, ACC ini adalah singkatan dari Accident Compensation Cooperation, yang dikelola langsung oleh pemerintah Selandia Baru, untuk menyediakan perlindungan bagi semua penduduk maupun pengunjung Selandia Baru yang mengalami kecelakaan personal. Selama terjadinya di tanah Selandia Baru, pemerintah akan cover, walaupun anda cuma turis. Cuma ada di sini loh perlindungan kayak gini! Unfortunately, kemarin ini papi mami itu nggak beli travel insurance lantaran mikirnya cuma ngunjungi anak. Tapi fortunately pemerintah Selandia Baru ini luar biasa perlindungannya terhadap turis. Dananya dari mana? Ya dari orang yang punya pendapatan di sini! Selama kita jadi karyawan resmi ataupun punya usaha, ya akan ada bagian dari pendapatan kita yang disisihkan untuk ACC. Tapi yang menikmati benefitnya semua orang, termasuk juga visitor. Jadi untuk turis yang mau bertualang di negara indah ini, ya amit-amit sih, kalau bisa jangan sampai kecelakaan. Tetapi seandainya terjadi, anda bisa dapat perlindungan ini dari pemerintah.

Kamis kemarin, mami sudah kontrol lagi ke RS. Walaupun nunggunya agak lama, proses pemeriksaannya efisien sekali. Gips mami dibuka dulu, lalu pindah ke ruangan sebelahnya untuk di cek dokter. 6 hari sesudah operasi, mami sudah tidak perlu pakai gips lagi, bahkan boleh mandi dan kena air! Padahal kalau lihat jahitannya, wuih serem juga! Buka jahitan, konsultasi, dan fisioterapi selanjutnya akan dilaksanakan di Indonesia. Dokter juga langsung memberikan surat referensi untuk digunakan oleh dokter di Indonesia. Semoga lancar ya semuanya, dan nggak bertele-tele. Sebenarnya, kalau mami mau konsultasi lanjutan dan fisioterapi di sini, bisa juga loh! Ditanggung juga oleh ACC. Tapi mami mau ulang tahun, dan dia sudah siapkan perayaan di Jakarta. Jadi Jumat lalu, saya mengantar papi dan mami pulang kembali ke Jakarta, dan Sabtu lalu mereka sudah tiba dengan sehat dan selamat. Perayaan ulang tahun mami di Jakarta juga berjalan lancar, dan semuanya gembira.

Bonus: Berhubung semua hasil x-ray itu bentuknya digital dan tidak sempat diprint karena keterbatasan waktu, maka dokternya mempersilakan saya mengambil foto x-ray mami yang terdapat di komputer. Mau lihat? Nih!

Dikira meja aja yang disekrup? Tangan juga! 
Total pengeluaran kami buat biaya medis ini brapa? 50 + 21 + 10 = 81 dolar!
Total biaya parkir RSnya? Sudah lupa, yang jelas lebih banyak daripada 81 dolar! hahahaha... (maklum, di RS sini parkir sejam 5 dolar, untungnya sehari maksimum cuma 20 dolar. Saya cuma mau kasih perbandingan, betapa luar biasanya benefit kesehatan yang diberikan pemerintah sini, makanya saya bikin pembandingnya dengan biaya parkir).

Total pengalamannya? PRICELESS!

Doakan ya semoga mami mertua cepat pulih total, dan bisa kembali berkegiatan seperti biasa.

53 comments:

  1. Moga moga mertua lu cepet pulih ya....

    Emang kalo di negara maju mereka gak mata duit an mesti bayar ya kayak kalo di Indo kalo gak ada deposit mana dikerjain ya...

    Jd inget pas nyokap gw sakit dan opname disini juga akhirnya kita gak bayar sepeser pun padahal udh takut aja tagihan nya berapa duit secara gak ada asuransi kan nyokap gw... Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Man. Nyokap elu gratisnya karena dalam status apa, Man? Kalo mami gue kan emang karena accident jadi ditanggung ACC, tapi kalo sakit sih rasanya nggak ya.

      Delete
  2. Semoga kondisi mertua cici cepat membaik ya. Salute dengan layanan kesehatan disana, entah kapan hal begitu bisa diterapin di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Sekarang sih udah lumayan oke banget. Indonesia jg pasti akan bisa. Kita revolusi mental dulu.

      Delete
  3. Semoga mami nya Ce Leonyn cepet sembuh ya. Makasih udah berbagi cerita. Keren banget sampe ada ACC buat pengunjung. Bisa nggak ya diterapin ke Indonesia? Sementara untuk pelayanan penduduk / warga negara asli aja masih belum maksimal :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Desy. ACC itu buat semua benernya. Tp khusus accident, visitor jg dicover. Di Indonesia itu banyak banget faktornya. Tenaga medis yang belum dapat bayaran mumpuni, mental manusianya yg masih mikirin katebelece. Suatu saat Indonesia jg pasti bisa!

      Delete
  4. Wow.. Pengalaman banget ya ci..
    Deg2an nya kebayang pas hari h jatuhnya.. Jd sekarang mami da pulih lagi ya? Di tunggu ya crt hobbit nya ya cii.. Hehehe.. Btw.. Happy new yearr ci le en fam..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas hari H sih cici anehnya lumayan tenang. Tau kalo penanganan di sini bagus, cuma mmg kudu siap biaya aja. Eh biayanya ternyata gratis. Salut banget! Syukurnya sekarang udah jauh lebih pulih.

      Delete
  5. luar biasa yah ci pelayanan rs di luar. cepet tanggap jg gak mikir harus deposit sekian2. apalagi bukan warga negara sana. sehat2 ya ci untuk mamanya. semoga lekas pulih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tuh, pelayanan nomer 1. Deposit sih bener2 ngga pake sama sekali, sampai kita bengong. Pokoknya ditangani dulu. Amin, sudah makin pulih.

      Delete
  6. Semoga mertua nya cepat sembuh seperti sedia kala :D
    Dan semoga indonesia bisa segera memperbaiki system kesehatannya, iri bener dengan cerita sigapnya petugas kesehatan di New Zealand, terutama ACC yang meringankan biaya dan pikiran. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Diana. Kalau aku lihat faktornya sih memang jiwa pelayanannya juga ada. Plus memang mungkin tenaga medis jg mendapat kompensasi yang sesuai ya. Jumlah manusia jg tidak terlalu banyak.

      Delete
  7. Emang pelayanan kesehatan di sini luar biasa ya Ci. Aku pernah ngalamin both private and public sector dan bersyukur banget tinggal di sini. Tahun lalu aku sempet masuk NS Hospital juga, masuk dari A&E yang 24 jam itu karena malam2 kena alergi berat sampe saluran napasnya nutup. Dateng udah muka merah, langsung ditangani, pake ambulan lagi! Efisien banget, dan bill semuanya hanya $90 saja buat ambulansnya (sama aja gratis sih karena dibayar oleh Southern Cross Insurance) -- sisanya dicover oleh si ACC tercinta :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, efisien banget! Kerjanya cepet. Pokoknya tangani dulu, soal admin belakangan. Cici jg pernah denger ada yg akhirnya kudu bayar, kalau berat bisa dicicil loh. Di Indo siapa yang mau dicicil?

      Delete
  8. Manteppp bgt NZ ci...wiih jauh bener yaa dibandingin di Indo kayanya ga ad seujung kukunyaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indo juga udah lumayan kok Rib sekarang. Sejak ada KIS, BPJS, gubernur kita yang meremajakan puskesmas jd keren, itu brasa deh perbaikannya. Semoga bs tambah baik lagi ya!

      Delete
  9. Edaaannn coverage si ACC *mangap 10 jari* gue jadi pengen bakar kartu asuransi kesehatan kantor yg buat perawatan gigi aja ga ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal si gigi kalo bermasalah bayarnya juga mahal banget ya mbak x)))

      Delete
    2. Di sini kalo dental jg rasanya gak dicover Et. Dicovernya pake asuransi pribadi, dan asuransi yg cover dental itu mahaaalll hehehe. Gue pernah loh dulu tambel gigi sebiji di amrik, 500 dolar aje gitu. Setelah dicover asuransi, jd bayarnya 88 dolar. Itu copaynya, coba kl bayar full metong deh.

      Delete
  10. Wahh keren banget ya pelayanannya le...udah kebayang klo hrs byr sendiri mah.semoga cepet pulih deh ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya bayar sendiri dah kebayang puluhan ribu dolar. Soalnya dulu gue ops tembak batu ginjel di US yg ga pake nginep aja 22 ribu dolar. Puji Tuhan di sini bagus bener sistemnya.

      Delete
  11. Keren banget yaa acc itu. Gak cm warga tp turis jg dicover. Smoga di indonesia bs gitu suatu saat. Haha. Speed recovery buat mami mertuanya ya ci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, khusus accident aja sih dicovernya. Tp udah puji Tuhan banget2. Thanks, sekarang sih mami udah jauh lbh baik.

      Delete
  12. Wah berkah di awal tahun baru ya, ci! Luar biasa banget service kesehatan di sana. Semoga mami mertua cepet pulih lagi, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya ga bisa dibilang berkah juga sih hahahaha. Lebih tepatnya bencana, tp untung dicover. Amin amin.

      Delete
  13. Aduh, jadi iri sekali dengan NZ, semoga Indonesia jg suatu hari kelak bisa menjamin biaya kesehatan warganya. Amiin..
    Semoga ibu mertua cici lekas pulih kembali ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yakin saya, Indonesia juga pasti bisa. Tinggal nunggu waktu, semoga Indonesia akan terus dapat pemimpin yang sungguh melayani rakyat dengan sepenuh hati. Sekarang kelihatan kok pelan2 sudah membaik. Amin amin. Mertuaku dah mendingan jauh.

      Delete
  14. Semoga cepat pulih untuk mami mertuanya.
    hebat ya disana, semua ditanggung pemerintah.
    kapan Indonesia juga bisa seperti itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indonesia juga mulai kok jaminan kesehatannya membaik. Jakarta tuh terutama mulai terasa dengan KJS. Program BPJS jg berjalan cukup baik. Pelan2 deh, butuh waktu.

      Delete
  15. Semoga cepat pulih buat maminya ya, Ci. 11-12 sama komennya ko Arman, waktu mama ke NY dan gak lama setelah itu sakit kanker payudara, lgsg ditangani sama pihak RS-nya.. Di-cover pemerintah juga. Papa jg gt, waktu asam uratnya kambuh, segala urusan medis ditangani pemerintah. Bayar obatnya aja.

    Kalo di Jakarta sendiri, waktu papa kontrol ke RS Cikini pake BPJS, biaya kontrolnya jg gada.. Biaya obatnya juga murah. Gatau ya Ci kalo RS lain~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah BPJS jg lumayan oke ya sekarang. Btw, mama papamu pas ke US itu sebagai apa ya? Soalnya kalo sebagai visitor biasa, cici baru tau ada visitor coverage di US.

      Delete
  16. Sekarang udah pulih kan mami elu hehehe, tapi hebat yah semangatnya walau tangan retak tapi ke mall jalan terus hahaha *salut*

    Semoga suatu hari nanti gw bisa kesampean ke tempat Onion Ring *coming soon*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah justru itu, kalau dia semangatnya down, bisa2 kita semua ikut down. Untung masih mau deh jalan2. Besok2nya jg masih tetep ga bs diem alias shopping hehehehe. Amin, gue tunggu ya kedatangan lu sekeluarga.

      Delete
  17. Wish your mom in law speed recovery ya.
    baca ini jadi inget belom nemu tambahan asuransi yang oke buat kejadian darurat >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Eka. Kamu domisili dimana? Sy denger2 BPJS kayaknya kalau kondisi darurat bs cepat ditangani deh. Yang repot itu kalau berobat jalan, antriannya panjang.

      Delete
  18. Mertua lo sih hebat banget loh, udah patah tulang masih bisa ikutin tour sampe selesai.. salut buat tante hehe. Lega banget pasti ya ada ACC, semacem bpjs gt kali ya, tp benefitnya untuk semua org yg menginjak tanah negara. Semoga lah indo besok2 bisa gt juga.. aminnn. Btw gw jg kmrn pas msk RS semuanya serba effisien loh, sampe temen kantor gw kaget gw cepet bgt uda bs masuk kamtor lg pdhal baru operasi hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia bisa lbh stress kalau ngga ikut tournya n cuma nunggu di bench 2 jam, Mel. Gue tuh mengenal banget deh karakter beliau. Jd gue bersyukur kaki dia aman, jd bisa jalan kaki sepanjang Hobbiton. Kalo gue tau mahalnya ACC buat org sini (termasuk yang di potong dari salary laki gue hahahaa) gue paham jg sih kenapa bagus begitu. Ribuan dolar setahun dipotong buat ACC. Dibanding BPJS, jadi sebenernya BPJS murah banget, makanya sebaiknya ikut jg buat keadaan darurat.

      Lu kmrn lapraskopi ya? Lapraskopi memang cepet sih Mel. Dan bagus deh kalo di Indo ga dilama2in lagi. Soalnya gue termasuk "korban" dilama2in dulu hahahaha.

      Delete
  19. GWS buat mertua u ya, le.. hebat ya asuransinya bs cover utk visitor sgala, mantep!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Liv. Iya gue jg shock sih kok bs sampe cover visitor. Salut jg sm pemerintah sini.

      Delete
  20. cepat pulih buat mertuanya mba Le, keren yah asuransinya bisa mengcover untuk visitor juga. salut!.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Dian. Iya emang! Semoga suatu hari di Indonesia bs gitu ya.

      Delete
  21. Ish, keren ya. bener-bener negara yang nyaman. *ngrengek ke Oni minta pindah ke NZ. hahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Main dulu ke NZ sini! Tar baru decide deh. Cobain main pas winter. Kalo tahan dinginnya, coba pindaaahhhh hahahahaha.

      Delete
  22. Hello ce Leony..salam kenal �� Moga cepat sembuh mama mertua nya yaa �� Suka baca blogmu krn seru menarik mengharukan dan inspiratif ���� terharu banget baca cerita cc pas awal datang ke NZ..apalg bagian tisu yg sisa 1 hiks.. moga kedepannya tambah sukses n slalu happy..salam maniss tuk Abby ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Lisa. Salam kenal juga. Seneng kalau bisa menghibur dan menginspirasi via tulisan ya, walau tulisannya kadang ngasal sesempetnya. Amin, doakan terus ya supaya lancar di sini. Makasih salamnya utk Abby.

      Delete
  23. bule, ini bener2 tidak terlupakan!!! hebat ya sistem kesehatan di NZ bisa cover buat visitornya juga .. salut gw!
    btw, komen di atas aku ini apa ya? HAHAHA .. ini temennya si kanjeng ya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gill, memang oke banget sistemnya di NZ. Gue jg kaget dan salut banget. Kan banyak banget tuh turis ke sini buat adventure, jadi gak perlu ketar ketir banget2 kalau sampai kena accident.

      Lisa, itu yang Gill bilang bukan buat komen kamu kok. Sebelumnya di atas komen Gill ada komen spam, isinya orang mau gandain uang hahaha. Komen spamnya sudah saya hapus, makanya di atasnya jadi komen kamu langsung.

      Delete
  24. semoga makin sehat ya maminya, Mbak! Duh, mantap bgt pelayanannya, semoga someday (ntah turunan ke berapa dari anak cucu..) di Indonesia bisa kayak gini ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Pit. Iya, aku juga yakin Indonesia suatu hari bisa jg seperti ini. Pasti bisa!!

      Delete
  25. Wihh HEBAT & LUAR BIASA MANTEP yaaa pelayanannya disana ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jelas pajaknya besar, larinya jg jelas arahnya.

      Delete