Monday, January 30, 2017

Abby Tamasya Ke Coromandel Peninsula - Bagian 1

Kembali lagi dengan serial Abby Tamasya! Serial Abby Tamasya kali ini sebenernya lumayan udah mau basi, makanya harus buru-buru ditulis biar nggak basi beneran hehehe. Berhubung suasana musim panas justru malah terasanya sekarang, kayaknya nggak ada salahnya tulisan ini dibagikan, jadi kalau yang tinggal di New Zealand atau ada plan mau pergi ke New Zealand di musim panas, silakan mampir di sini, karena Coromandel Peninsula merupakan salah satu tujuan musim panas terbaik di North Island. Trip kali ini sekaligus merayakan anniversary ke 5 Papa dan Mama Abby yang jatuhnya pas weekend tanggal 19 November 2016 lalu. Tuh kan, udah beneran hampir basi alias sudah hampir 3 bulan lewat. Sayangnya, pas kita pergi, walaupun sudah masuk ke musim panas, tapi cuaca New Zealand tahun ini kayak lagi main-main. Dingin melulu! Suka ada panas sih, tapi jaraaanggg. Bahkan di bulan Desember dan Januari pun masih agak dingin, tapi bukan berarti mengurangi semangat kita untuk tetap jalan-jalan dan berkuliner ria. Yuk kita simak, ada apa sih di Coromandel Peninsula yang membuat tempat ini terkenal.


Sabtu, 19 November 2016

Coromandel Peninsula merupakan suatu area yang letaknya di sebelah utara dari Auckland. Tau kan ya peninsula itu artinya tanjung. Dua kota lumayan "besar" di Coromandel Peninsula adalah Whitianga dan Coromandel. Whitianga sendiri sedikit lebih besar dari Coromandel. Whitianga posisinya di sebelah kanan, Coromandel di sebelah kiri. Untuk hari pertama, kita explore Whitianga dulu dan bermalam di sini. Perjalanan ke sini tidak terlalu lama, kira-kira hanya 2 jam 50 menit dengan keadaan jalan yang standar alias nggak kena macet. Tapiiiiii.... ya ampun dijeeee... begitu masuk daerah pegunungan, jalanannya belok belok udah kayak cacing kepanasan. Untungnya si Abby udah dikasih antimo anak, jadi sempet pules pas jalanannya plintat plintut gitu. Kalau saya udah mabok teler, tapi masih berusaha untuk bertahan. Intinya mah, saya yang biasanya kagak mabok aja, ke situ bisa mabok loh! Rasanya lain kali saya aja dah yang nyetir kalau ke sana lagi. Kalau yang nyetir tuh rasa maboknya berkurang dibandingin jadi penumpang. Tapi untungnya pas sampe sana, langsung seneng! Suasana relaxnya langsung dapet banget. 

Kita langsung menuju ke tempat makan siang kita dulu, namanya Espy Cafe yang lokasinya pas di seberang Whitianga Wharf. Selain restonya relax banget, dan makanannya enak, lokasinya ini sangat memudahkan buat kita yang nanti akan lanjut untuk naik cruise, jadi nggak usah pindah-pindahin mobil lagi deh. 


Sambil nunggu makanan, si Abby sudah terpesona sama tempat taruh nomornya karena bentuknya kayak mainan. 

Latte pesenan suami, hampir nggak bisa dia kalau ngafe gak pesen kopi. 

Pas di seberang kafenya, langsung ada playground. Anaknya udah berbinar-binar pingin main di situ, tapi harus nunggu dulu pokoknya sehabis makan. 

Suasana depan kafe, kalau musim panas gini, banyak banget orang road trip pakai motor. Jadi bisa tuh naik motor berjam-jam. Eh tapi jangan mikir motornya model skuter matik kayak di Indonesia ya, di sini yang namanya motor gede-gede semua. Kalau yang bebek kayak di Indo disebutnya moped, dan nggak boleh dipakai di highway. 

Di dalam kafe, banyak makanan siap sajinya yang menggiurkan. Tapi saya dan suami tetap pesan menu lunch yang made to order soalnya menunya lebih menggiurkan lagi. Oh iya, di sini banyak banget opsi gluten free mealnya yang membuat kafe ini lumayan terkenal.

Sambil nunggu makanan mama keluar, Abby nyemil dulu grilled cheese sandwich yang dibawa dari rumah. Pagi-pagi mah anak ini udah makan nasi dulu. Perut karung.

Ini dia pesanan saya, namanya Seafood Mornay. Mixture of seafood, cooked in creamy cheese sauce, served in a cob loaf. Nyum! Isinya itu ada shrimp, mussel, and crabstick. Yang bikin seru itu karena udaranya lagi agak dingin, jadi bikin anget badan.

Yang ini pesenan suami saya, namanya Open Steak Sandwich. Steak, caramelized onion, salad, tomato, blue cheese, aioli dressing, on ciabata bread. Sayurannya banyak dan seger. Tapi sayang si suami lupa kalau dia gak demen blue cheese, tapi anehnya ludes juga soalnya sandwichnya enak banget.

Habis makan cheese sandwich, lanjut makan sepotong gede triple chocolate cake. Doyan bener ini anak! 

Ketemu tembok kapur di belakang, langsung seru bareng-bareng sama anak kecil lain di situ. 

Dan di atas papan, ada tulisan ini dong! Serem bener hahahahaha..

Coromandel Peninsula ini juga merupakan surga buat orang yang hobinya mancing. Tapi kalau di sini, mancingnya itu pakai aturan. Nggak boleh sembarangan. Makanya sehobi-hobinya kita mancing, per orang dikasih limit. 

Lokasi kita berada ini tepatnya di Mercury Bay. Nah, dari sini ada beberapa small boat cruise untuk para turis, dan juga banyak orang yang punya kapal dan parkir di wharf tersebut. Nah, di sini itu diwanti-wanti banget soal peraturan keselamatan untuk para penumpang kapal. 

Sesuai janji, habis makan, main dulu di playground. Senengnya minta ampun. Udah mau umur 4 pas waktu itu, tapi masih demen mainan anak kecil alias prosotan yang pendek.

Berlagak jadi kapten kapal. Kapalnya diem doang hehehe. 

Si muka bunder, rambutnya ketiup angin, makin bunder. 

Loh, ini gimana sih, bapaknya jarinya membentuk angka 2, kok anaknya membentuk angka 3? Untung anaknya belum bisa milih pas pilkada :P. 

Nah sekarang jarinya malah keluar lima-limanya nih anak. Lihat deh langitnya, kita tuh lumayan ketar ketir. Kok kelabu bangettt!! Padahal sebentar lagi kita mau cruise. 

Yak, masih ada waktu main, main lagi deh. Semua orang diajak ngobrol sama si Abby, mau yang gede kek, yang kecil kek. 
Ada beberapa cara kita untuk menjelajahi Mercury Bay ini. Kalau hobinya hiking dan trekking, banyak juga jalur yang bisa ditempuh. Tapi berhubung saya bawa anak, dan kepinginnya relax dan menikmati pemandangan, kita memilih untuk naik kapal. Pilihan naik kapal ini banyak sekali dengan harga yang beragam. Kami memilih untuk naik kapal Ocean Leopard Tours karena reviewnya bagus sekali (no.1 di Trip Advisor), terutama dari kapalnya dan keahlian skippernya (pengemudi kapal). Untuk naik kapal ini, sebaiknya melakukan reservasi di muka lewat website mereka, karena dalam sehari mereka hanya operasi beberapa kali, dan tempat duduknya terbatas. Apalagi kalau musim panas, sebaiknya jangan go show, karena Whitianga yang penduduknya cuma 4,000-an jiwa, bisa membludak jadi 30,000 jiwa! Isinya apa? Turis semua! Untuk naik tour ini, dikenakan biaya sebesar 90 dolar/ 1 orang dewasa, dan 50 dolar/ 1 anak untuk anak usia 3 sampai 14 tahun. Di bawah usia 3 tahun masih gratis dan tournya sendiri berlangsung selama 2 jam.

Nah ini kapal kita. Bagus banget, dan kapasitasnya nggak terlalu besar. 

Siap-siap naik kapal. itu topi dipengangin soalnya anginnya kenceng, takut terbang.

Skipper kita yang namanya Justin yang juga merupakan owner dari tour ini. Servisnya bagus banget, dia bisa menjelaskan semua bagian dengan sangat detail, sangat peduli dan ramah pada penumpang. Dia juga memastikan semua orang merasa nyaman di kapal.

Siap-siap berangkat dulu yaaa!

Sebelum berangkat, semua orang dikasih life jacket alias penampung. Khusus untuk Abby, yang ukuran kecil dan warnanya terang banget. Lucu! 

Rombongan siap berangkat! Ada orang Irlandia, orang Afrika Selatan, orang Australia, dan kita.. orang Auckland... eh salah, orang Indonesia! 

Beberapa kapal lain yang merapat di dermaga. Langitnya makin kelabu, tapi tour jalan terus! Tarik maaaannggg!
Tour yang kita ambil ini jenisnya adalah The Full Monty alias termasuk yang lengkap. Tapi sayangnya cuaca saat itu kurang bagus, sehingga foto-fotonya jadi kurang ciamik. Habis gimana? Langitnya super kelabu. Jadi gambar-gambar di bawah ini bener-bener didn't do justice on how beautiful the area was. Bener-bener harus lihat dengan mata kepala sendiri biar puas.

Si tukang foto keluarga. 

Jujur saya mah udah lupa loh diterangin yang ini bentuknya apa, yang saya inget cuma batu aja, dan bagus! Hahahahaha...

Di tebing-tebing, kalau dlihat dari dekat, banyak banget burung-burung dan sarangnya yang nemplok-nemplok di antara bebatuan.

Di tengah laut, kita ketemu dengan tour lain yang cukup terkenal, yaitu Glass Bottom Boat tour. Tapi begitu lihat kapalnya, langsung saya nggak nyesel sama sekali milih Ocean Leopard. Soalnya yang itu kapalnya kecil, ketutup banget, dan duduknya nyamping alias nggak hadap depan. Nggak maksimal deh untuk lihat pemandangan.

Pemandangan lain dari tebing-tebing yang makin lama makin terkikis oleh air laut. 

Nah, kalau yang ini saya lumayan inget nih, katanya batunya itu mirip dengan Kapten James Cook! Begitu saya lihatin, mirip dari mananya coba? Ohhh ternyata di bagian atasnya itu, keliatan kayak ada mata, hidung, dan mulut yang lagi mangap. Bisaan deh lu! 

Buat yang suka petualangan, banyak tuh yang trekking ke atas, terus turun pakai tali sambil loncat dari tebing dan nyemplung ke air. Auwwwoooo... serasa Tarzan. Saya bayanginnya aja udah mules. 

Kita memasuki area Marine Reserve. Nah mulai masuk daerah ini, semua orang tidak ada yang boleh mancing alias ikan-ikan dan satwa di sini dilindungi. 

Eng ing eng... ada yang tau ini sudah masuk area mana? The most famous site of Mercury Bay... ayo coba dilihat lagi.

Nih deh, dideketin! Yes, in adalah Cathedral Cove! Bentuknya kayak gua bolong ditengah-tengah. Kenapa gua ini bisa ngetop banget? Soalnya, ini dipakai buat tempat shootingnya The Chronicles of Narnia and Prince Caspian.

Ini loh adegan yang fenomenalnya. Gambar diambil dari sini.
Kalau kita mau turun ke pantainya, sebenarnya ada opsi yaitu dengan trekking menuju ke pantai, itu kira-kira memakan waktu 45 menitan per arah, jadi total 1.5 jam, atau naik Water Taxi dari Hahei selama 10 menit yang beroperasi 30 menit sekali. Opsi untuk trekking sudah pasti kami coret, daripada ini anak minta gendong di tengah jalan, ogah ah! Kalau naik water taxi, itu akan jadi pilihan kami kalau balik lagi ke sini. Untuk kali ini, karena baru pertama kali kemari, kami ingin dapat experience menjelajahi Mercury Bay dulu secara keseluruhan. 

Biar rambut udah ancur kayak capcay di kuali, yang penting harus ada foto dengan latar belakang Cathedral Cove hahahaha. 

Yang ini difotoin dengan skipper kita Justin. Ini loh yang saya puji dari si Justin ini, di tiap spot yang penting, dia akan puterin terus kapalnya, supaya orang di semua sisi bisa dapat foto. Udah gitu kita juga ditawarin untuk difotoin sama dia.

Lebih dekat lagi dengan Cathedral Cove. Katanya sih, kalau cuacanya lebih bagus, pantainya ini bakalan penuh manusia kayak sarden.

Nah tuh, keliatan ya kapal kecil, itu dia Water Taxi-nya kalau ada yang mau naik. Oh iya, kalau mau naik water taxi ini, siap-siap kaki pasti basah ya, karena memang dia turunnya gak bisa merapat banget ke pantai, jadinya penumpang bakalan diturunin di bagian pantai landai yang tentunya masih ada airnya. 

Sambil menyusuri tebing, eh kita lihat ada rombongan kayak ini! Ih seru banget ih! Kalau ngga bawa anak kecil, boleh banget ini dicoba, naik kayak rame-rame, bisa keluar masuk tebing.

Row row row your kayak... 

Deretan villa yang harganya jutaan dolar.

Dasar hobi, begitu lepas Marine Reserve area, langsung ketemu banyak orang mancing di tebing. Kebayang nggak sih itu mesti trekking dulu, demi mancing. 

Nih contoh tebing yang makin lama makin terkikis air, tinggal nunggu saja entah berapa tahun lagi, yang jelas ini pasti bakalan terbelah total dan ambles. Itu bagian atasnya sudah beneran terbelah loh.

Kalau diperhatikan, ini semua tebing asalnya adalah dari lava vulkanik yang akhirnya membeku. Jika dilihat lebih jelas, kelihatan arah aliran lavanya kemana.

Nih contoh arah aliran lava yang akhirnya membentuk tebing.

Mama bangga banget sama Abby kali ini. Naik boat yang kecil dan lumayan kencang, tapi betah banget. Rasanya baru belum lama Abby di Hakone, Jepang naik ferry besar, tapi ketakutan sampai nangis bombay. 

Kapal kita dibawa masuk oleh skipper menuju ke Orua Sea Cave. Nah, karena kapalnya lumayan kecil, makanya bisa masuk ke sini. Di dalam sini kita bisa lihat dengan sangat jelas ribuan mahluk hampir transparan dengan bendulan warna pink, yaitu jellyfish! Benar-benar memanjakan mata deh. Airnya bening banget, ubur-uburnya sangat banyak. Sayang gelap, jadi fotonya susah. Beneran harus datang langsung dan lihat kecantikannya. Di dalam air juga banyak ikan kakap alias snapper yang berenang-renang dengan lincah. Walaupun lautnya cukup dalam, bisa kelihatan pergerakan lincah biota lautnya karena airnya sangat bening. 

Orua Sea Cave, difoto dari dalam gua. 

Nah, begitu kita keluar dari gua-nya, kita lihat ada kapal lain yang masuk ke situ. Kelihatan deh ya kira-kira gua-nya sebesar apa.

Tuh, kalau dari kejauhan, kira-kira segitu besar gua-nya.
 Sebenarnya, kalau cuaca memungkinkan, buat orang-orang yang suka berenang dan snorkeling disediakan waktu 15 menit untuk nyoba berenang. Tapi saat itu udaranya betul-betul dingin, dan gerimis mulai turun. Jadi tak ada satupun orang yang mau, plus skipper kita juga tidak menyarankan untuk berenang. Bisa kelojotan deh di dalam air, kecuali nyali super gede. Makanya berhubung summernya mundur banget dan baru mulai hangat di akhir Januari ini, buat yang mau ke Coromandel jadi pas banget. Selesai dari Orua Sea Cave, kapal kita langsung ditarik kencang untuk kembali lagi ke Whitianga Wharf. Hebring banget deh rasanya, udah kapalnya kencang, gerimisnya juga asoy, semua orang langsung heboh nutupin diri pakai jaket. Skipper kita, Justin, juga menawarkan untuk memberikan jaket extra dia (kayaknya ada 4 jaket) untuk orang yang mau pakai menutupi badan. Soalnya beneran deh dingin banget dan basah. Kayaknya tiap kali naik boat gini dan ke laut, kenapa ya saya selalu ketemu hujan. Dulu masih berdua suami di Kilim Geoforestpark Langkawi, sekarang sudah ada anak di Coromandel, tetep kehujanan... Nasib! Hahahaha...

Kali ini rambut bukan kayak capcay lagi, tapi udah kayak kwetiaw goreng lagi diaduk-aduk.

Begitu sampai lagi di wharf, legaaa.. langsung kasih jempol. Mama seneng banget Abby survived perjalanan ini, nggak mabok, malah enjoy berat! Semoga nurun mama papa ya By, suka jalan-jalan. Pokoknya kalau untuk orang yang pingin ngerasain pengalaman indahnya Mercury Bay dengan naik kapal, ikut Ocean Leopard Tour ini recommended deh! 

Itu burung asli apa palsu yang nangkring? Asli lah! Bisa tenang banget, nyante berat.
Setelah selesai naik kapal, kita langsung menuju ke penginapan kita untuk check in. FYI, di Whitianga ini ngga ada ya yang namanya hotel-hotel besar. Semua penginapan di sini bentuknya motel yang justru sangat-sangat common di kota-kota kecil di New Zealand. Pas denger kata motel, jangan mikirnya butut dan dodgy kayak di film-film Amerika gitu ya. Walaupun ada juga sih motel yang jelek, tapi motel di New Zealand ini standarnya tinggi banget dan amenitiesnya bisa dibilang lengkap. Malam ini kita menginap di Beachside Resort yang merupakan hotel (atau motel) no.1 di Whitianga menurut Tripadvisor. Kita memilih tipe Ocean View supaya bisa dapat pemandangan sedikit walaupun masih ketutupan ya. Rate yang kita dapatkan adalah 200 dolar/ malam. (Harga basic 175 dolar plus 25 dolar untuk extra 1 orang alias Abby). Harga tersebut lumayan oke, karena masih awal summer. Kalau sekarang sih sudah pasti harga basic per malamnya di atas 200 dolar. Oh iya, di sini kalau ada tambahan orang, tolong ngaku ya, jangan mental jelek satu kamar ngaku dua orang, tapi diisinya rame-rame. Bukannya kenapa-kenapa, orang New Zealand itu sangat menganut asas kepercayaan, kita nggak ngaku juga dia gak tau, tapi sekali ketahuan, reputasi kita jadi jelek. Plus, mereka juga ada ketentuan maksimum satu kamar bisa diisi oleh berapa orang, dan sebisa mungkin jangan sampai melebihi kapasitas. Contoh yang saya nginap ini, okupansi maksimumnya adalah 3 orang.

Di bawah ini saya kasih foto typical motel yang cukup bagus di New Zealand. Nanti kalau saya nginep lagi di motel-motel, nggak usah saya jembrengin banyak-banyak ya fotonya. Yang kali ini cuma mau nunjukin betapa lengkapnya amenities di sini.

Ruang tamunya, nah karena kita ngaku bawa anak dan bayar 25 dolar, malah ditambahin extra bed di depan loh! Nggak rugi sama sekali kan? Abby seneng banget, dia langsung tag, "This is my bed!"

Kamar tidurnya, dengan satu ranjang queen. Di resort ini ranjangnya tipe queen semua. Tapi cukup kok buat berdua.

Dapurnya, lengkap dengan kompor, kettle, dan berbagai keperluan memasak. Kalau buka lacinya, itu panci untuk memasak lengkap banget. Jadi kalau mau irit, bisa masak juga di sini. 

Teh, kopi, coklat, semua disediakan seabrek-abrek. Susu segar dikasih saat kita check in di resepsionis.

Nih contohnya, sendok garpu aja lengkap begini kan, pokoknya bisa lah kalau mau masak dan makan di sini.

Piring besar, piring kecil, mangkok, gelas anggur, mug, gelas air, komplit! 
Ruang tengah dengan kursi dan meja tulis, serta TV dan stereo. 

Anak ini langsung menuju balkon dan santai di situ. Asoy!

Pemandangan dari kamar kita, ya ketutupan sama gedung, tapi dapet lah masih laut seiprit hahahaha. Kalau di lantai bawah lebih sedih lagi gak ada lautnya.

Kamar mandi dengan bathub dan shower

Amenities standar. Oh iya, jangan bingung, kalau di New Zealand itu jangan harap ada sikat gigi ya. Kayaknya sudah lama juga di beberapa negara maju, sikat gigi sudah bukan merupakan amenities standar dengan alasan kesehatan. Jadi jangan lupa kalau ke New Zealand dan nginap di hotel, bawa sikat gigi dan odol sendiri.

Handuk disediakan 3 sesuai jumlah orang yang menginap.

Di depan itu pintu masuk, lalu diapit dapur kanan kiri. Pintu di kiri itu adalah pintu kamar utama, lalu ada meja makan dan arm chair, dan di kiri (yang nggak kelihatan) ada sofa dan bed Abby. 

Foto dulu muka-muka lepek habis naik kapal, buat kenang-kenangan anniversary ke 5. Biar jelek, yang penting hepiiiii!! Nggak pakai mandi, kita langsung siap-siap lagi untuk berangkat makan malam. Abby sudah kita kasih makan duluan, soalnya tempat makan kita nanti fine dining.

Begitu sampai luar, baru ngeh kalau kita semua sepatunya seragam warnanya biru, walaupun papanya punya mereknya beda hahaha.

Ini dia tempat makan kita malam itu. Resto paling wahid di Whitianga (katanya) dan sepertinya sih satu-satunya fine dining Prancis di sini. 
Reserve seminggu dimuka hampir nggak dapat table, baru diconfirm hari Rabu kalau kita dapat meja, padahal kita mau makannya hari Sabtu. Poivre & Sel dalam bahasa Prancis artinya pepper and salt alias lada dan garam. Yang punya adalah keluarga Prancis. Yang jadi chef papanya, yang jadi kasir dan bartender mamanya, yang jadi waiters, anak-anaknya. Satu hari hanya bisa menerima 30 orang saja maksimum. Waktu kedatangannya juga mereka yang menentukan supaya semua bisa terlayani dengan baik.


Bentuknya beneran di rumahan gini. Jadi inget Emilie yang di Jakarta, bentuknya juga rumahan, tapi rumahnya kerenan Emilie kemana-mana.

Biarpun resto Prancis, saya dan suami nggak gitu minum wine. Jadi si suami pesan Apple Cider.

Sementara istrinya pesan Ginger Beer (nggak pakai alkohol ya ini). Buat yang demen bir jahe, katanya Bundaberg sudah banyak dijual di Jakarta. Ayo cobain, dinginin dulu, seger banget!
Nih, saking penuhnya, di depan pintu ditancepin tulisan begini. Makanya kalau mau coba makan di sini, booking jauh-jauh hari ya, jangan kayak kita, seminggu di muka, eh harus ketar ketir nunggu dapat table atau ngga. Padahal masih belum puncaknya musim panas.


Meja kita di paling depan, dan Abby jadi satu-satunya anak kecil yang ada di situ pas kita makan.

Pernak pernik di atas meja itu salah banget deh buat anak segede gini. Entah brapa kali itu kerang jatuh ke lantai hahaha. Mama papa berusaha banget supaya ini anak nggak brisik. Maklum, biarpun masih kecil, suaranya si Abby gandeng pisan kalo kata urang Sunda. Mana apa juga ditanyain.

Amuse Bouche kita malam itu adalah smoked salmon dengan pomegranate, sausnya sendiri kayak ada rasa misonya, tapi beneran nggak ngeh. Pokoknya enak hehe. Amuse Bouche sendiri bukan appetizer ya, lebih kayak pembangkit selera yang gedenya cuma sekali caplok, tapi rasanya intense. Kalau di resto fine dining begini, amuse-bouche itu jadi kayak bonus dari yang punya resto alias dikasih gratis.

Roti Prancis imut-imut, dijamin gak bikin kenyang.

Olive, lagi-lagi untuk pembangkit selera, tapi kalau saya makan ini selera saya malah drop alias nggak gitu doyan.

Entree suami: Ora King Salmon Pastrami, Goat Cheese and Beetroot Macaron

Entree saya: Seared Coromandel Scallops, Cauliflower Puree & Asparagus. Enak mana? Enak punya saya tentunya! Walaupun punya suami tetep enak, cuma punya saya rasanya lebih nendang hihihihi.

Main saya: King fish (local fish of the day), Black Quinoa, and Oyster Chantilly

Main suami: Eye Fillet, Crumbed Snails, Minute Ratatouille, and Polenta. Enak mana? Dua-duanya menurut kita biasa banget! Kayaknya udah kebanyakan makan enak pas di Auckland hahaha.
Dessert saya: Creme Brulee, Citrus, and Berry Sorbet. Tau apa yang unik? Selain tentunya cantik banget, ternyata jeruknya itu di freeze dry! Jadi pas dimakan, kriuk-kriuk kayak gabus, tapi volumenya nggak hilang, cuma airnya aja yang ngga ada.



Dessert suami: Dark Chocolate Sphere, Strawberries and Mint.

Pas spherenya dibuka, tadaaaa.... dalamnya ada strawberry creamnya. Kalau nonton Masterchef Australia, pasti sering banget nih lihat dessert yang bentuknya pake sphere dari coklat. Memang keren banget sih, ini coklatnya tipisss banget. 

Muka dan tangan belepotan habis makan chocolate sphere-nya, eh udah gitu mau bersin pula! Pas banget momentnya! Btw, itu scarfnya dia yang minta loh, dibikin dari napkin alias serbet tissue, katanya mau jadi cowgirl.

Pokoknya, gemesssss banget sama anak ini. Seneng banget walaupun dia cerewet dan sering bandel, tapi sudah ngisi hari-hari kita selama 4 tahun terakhir. 
Gimana kesannya makan di Poivre & Sel? Jujur, kok biasa aja ya. Entah selera saya sama suami yang kurang cocok, atau beneran kita terbiasa makan yang enak-enak sehingga yang ini jadi biasa banget. Mungkin karena di kota kecil juga kali ya, pilihan fine dining jadi terbatas, makanya walaupun biasa saja, hypenya jadi besar. Servicenya juga luambaaattt banget walaupun nggak jelek. Saya sih ngerti kalau di resto Prancis memang agak lama pelayanannya, tapi yang ini beneran lama bener, sampai in between course tuh bawaannya udah laper sampai kenyang lagi, jadi brasa nggak continue. Pantes mereka juga nggak bisa terima tamu banyak-banyak. Bisa modar deh kalau lebih dari 30.

Yang paling lucu, kira-kira pukul 10.30 malam, saya laper lagi dongggg.... Anak udah bobo, terus saya bilang ke suami, yuk cari fast food atau takeaway. Eh ternyata sama sekali nggak ada fast food 24 jam di Whitianga. Takeaway juga tutup maksimum pukul 10. Hahahaha...Brasa orang kampung banget deh, makan fine dining kagak kenyang. Tips deh buat yang ke Whitianga, bawa snack banyak-banyak, atau taruh bahan makanan (minimal chips sama Indomie-lah). Soalnya beneran kalau lapar tengah malem, sama sekali nggak ada tempat makan yang buka. Bahkan convenience store aja nggak ada. Jadilah malam itu, saya bobo dalam keadaan agak-agak lapar hahahaha. Overall, hari pertamanya menyenangkan sih. Cuaca jelek kek, ujan terus kek, jalan-jalan dan makan-makannya tetep sesuai dengan rencana. Eh ini baru hari pertama ya? Pengen tau hari selanjutnya gimana? Tungguin ya di bagian 2!

Buat yang merayakan Tahun Baru Imlek, Selamat Tahun Baru ya! Semoga di Tahun ayam ini, semuanya sehat, damai sejahtera, dan banyak rejeki, kayak ayam yang dari pagi sudah semangat cari makan. 

28 comments:

  1. le, motelnya uda kayak hotel ya, bersih dan lengkap gitu fasilitasnya... gua ngeliat foto tebingnya, jadi inget waktu ke cina dulu hahahaha...

    abby makin gede makin cantik ya... happy chinese new year le...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya disebutnya doang motel, tapi kalau lihat rate dan dalam kamarnya ya udah kayak hotel. Soalnya di kota-kota kecil di NZ memang jarang ketemu hotel, banyakan motel yang dikelola lokal. Di China di Guilin ya? Hahaha. Di Guilin lebih heboh lagi disuruh fantasinya kebanyakan jadi ini lah, itu lah. Makasih, Tante Mel!

      Delete
  2. Happy anniversary dan happy Chinese New Year, Le..
    Senangnya jalan-jalan..cantik sekali Coromandel peninsula ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anniversarynya sih udah lewat dari November lalu, Yum. Udah ada postingannya juga di November hehehe. Iya bagus banget Coromandel Peninsula itu. Udah ada bagian 2-nya tuh barusan, biar bisa lebih mantep lagi lihat pemandangannya.

      Delete
  3. motelnya bagus ya dan gede sampe ada living room dan kitchen segala...

    seafood momay nya keliatannya enak banget... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Motel di sini memang tipenya gitu Man, tapi ya Motel yang bagus ya. Makanan overall kalau di cafe yang bagus sih rata-rata enak. Kalau open minded dan suka makan, urusan perut sih di sini gampang.

      Delete
  4. Eh Abby seger banget yaaaa, cempluk gitu. Tambah cakep aja.
    Dan makanan di sana enak-enak banget kayaknya, mungkin ada benernya aku tetep di Indo yang udaranya gerah begini, kalo aku pindah ke NZ ntar bisa montok bener. Hawanya kayaknya cocok buat makan dan minum hot Choco mulu wkwwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, tambah montok ya. Bodynya juga lebih sekel sih di sini, walaupun di Indo udah cukup sekel. Di sini summer juga gerah nih Pau. Aku baru aja beli AC portable, kagak kuat juga kalau pas lagi sumuk berat. Di sini banyak makan, tapi juga banyak jalan. Walaupun begitu, berat badanku tetap saja naik, karena pemasukan lebih banyak dari pengeluaran hahahaha.

      Delete
  5. Abby semok yaaa cii.. makin cantik. hehehe.. :D

    iya, motelnya udah setara sama hotel menurut aku. rapi dan bersih yaa.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lumayan semok, gak gendut sih untungnya. Jangan salah, di NZ mah banyak hotel yang kalah dari motel kualitasnya. Makanya kalau denger kata Motel di NZ jangan bayangin kayak di Amrik yang dodgy.

      Delete
  6. Yeaay abby wisata lagi. Motelnya sederhana tapi bagus dan komplit ya...
    terus kalau makan ala2 fine dining gitu kayaknya klo aq gak cocok2 amat deh, pasti bakal laper lagi. klo makan model all u can eat baru tuuhh...ahhaahaa *ndeso mode on*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keliatannya sederhana ya, tapi ratenya sih 11-12 sama hotel hahaha. Saya biasa fine dining lumayan kenyang, tapi kemarin itu entah karena lama banget, kok jadinya gak gitu enjoy, plus mungkin karena capek ya naik kapal dll, mungkin butuh asupan kalori berlebih hahahaha. All you can eat kayaknya sekarang udah agak susah buat saya, kapasitas menurun jauh haha. Malah jadi overeating kalo ACYE.

      Delete
  7. Abby gemukan ya le? :)
    segeran jadinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gemukan sih ngga ya, lebih sekel aja hehe.

      Delete
  8. Abby cantik sekali.. Fotonya menggugah kok mbak buat pengen liburan kesana..hahaha.. Aminnnnnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoooo liburan kemarrriiii!! Itu cuma sebagian kecil dari NZ... kecilll banget. Saya aja belum sempet menjelajah South Island lagi nih sejak lebih dari 20 tahun lalu ke sini.

      Delete
  9. Udah lama nggak liat foto Abby rasanya jadi udah gede banget, makin cantik! Ini papa mamanya juga lho makin seger aja mukanya :D

    Menu fine dining-nya kayaknya cuma dessert-nya aja deh yang menggiurkan haha

    Happy CNY juga ya buat kalian!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Papa mamanya makin gendut! Hahahahaha... kalau versi Indonesia kan seger = gendut. Menunya sebenernya enak sih Jane, tapi karena cici brasa udah banyak makan enak, jadi biasa aja.

      Delete
  10. Oh ya ampun, baru berapa lama u gak majang foto si Abby, udah keliatan gede aja sih ni anak. Apalagi pas foto pake sendal jepit itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, gue kan pajang foto Abby pas natalan (walaupun dari jauh), nah itu lebih baru drpd yang ini Fel.

      Delete
  11. Gong Xi Gong Xi to Leony and Family :)
    May you have a happy and prosperous rooster year :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prosperous = tambah gendut juga gak, Yul?

      Delete
  12. Deuh abby makin gemesin ya, seru ya ci ikut tournya, kamar motelna baguss amat, gak ky motel itu mah ya. Fine dinningnya yg paling mengiurkan sih dessert koko suami :D
    Selamat hari raya imlek jg ci n fam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, disebutnya doang motel, tapi selayaknya udah kayak mini apartemen. Kumplit! Dinnernya yg menggiurkan buat cici scallopnya haha. Sisanya so-so aja.

      Delete
  13. Bawaannya langsung seger kalau habis membaca Abby tamasya ini ci Le. di tunggu bagian keduanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah launched tuh ya Nis bagian dua-nya hehehe. Silakan meluncurrrrr...

      Delete
  14. Happy Anniversary Le!
    Motel nya lengkap juga peralatan dapurnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha udah basi, Ngel Anniversarynya kan bulan November. Ini udah late post abissss.. Thx ya. Iya motel di sini kalo bagus ya lengkap benerrr...

      Delete