Friday, November 04, 2016

Sebegitukah Lemahnya Agamamu?

Tulisan ini saya buat, di hari yang sama saat Indonesia lagi gaduh dengan acara demonstrasi besar-besaran yang penuh dengan ancaman anarkis dari beberapa kelompok tertentu. Semakin heboh lagi karena dunia maya membuat segala sesuatunya semakin liar. Website-website gadungan dan bersifat provokatif menyebar dimana-mana. Broadcast message yang isinya menakut-nakuti, juga santer diulang oleh banyak pihak. Maka berhak jugalah pembaca untuk menutup halaman post saya ini, karena sekali lagi saya mau membahas mengenai hal aktual ini, tapi dari kacamata saya. Mungkin anda bosan dan jenuh. Tapi kalau masih betah dan mau baca, boleh saja. Saya harap kita semua bisa membaca ini dengan kepala dingin dan hati selembut salju (lah ini kok jadi lagu Jamal Mirdad?).

Dari dulu saya cukup sering menulis soal agama dan premanisme, mulai dari kemunafikan orang-orang yang hobinya berkoar-koar soal agamanya tapi tingkah lakunya nol,  kekesalan saya soal tragedi Air Asia yang dimanfaatkan agama tertentu untuk nyaring jemaat, keributan yang terjadi di negara ini cuma gara-gara warung makan buka saat puasa, sampai ke sejarah soal ormas (agama) yang sesungguhnya cuma jadi alat politik dan tukang palak. Orang-orang nanya sama saya, apakah saya nggak takut nulis begitu? Jawabannya, nggak. Karena yang saya tulis itu ya memang kenyataan yang ada di dunia ini. Apa saya nggak malu jelek-jelekin agama saya sendiri di beberapa tulisan saya? Jawabannya, saya nggak pernah jelekin agamanya, yang saya kritik itu adalah orangnya alias oknum yang memanfaatkan agama buat tujuan yang nggak benar. Yakin, Le kalau itu nggak benar? Ya benar atau tidak itu memang semuanya relatif. Saya cuma memandang dari kacamata kemanusiaan, sesuatu yang sudah agak luntur di negara kita cuma gara-gara ketutup dengan kacamata agama yang seringkali rasanya lebih tepat disebut kacamata kuda lantaran sempitnya daya pandangnya. Tulisan saya di bawah ini murni opini saya ya. Pembaca bisa suka, bisa nggak, tapi jangan dibaperin. Tar kayak sang mantan loh!

Buat yang kacamatanya kudanya sudah dibuka, mungkin sudah bisa ngeh, kalau demo yang akan berlangsung hari ini itu sesungguhnya bukan demo soal penistaan agama. Ini semua cuma soal politik dan kekuasaan dengan menunggangi isu penistaan agama. Makanya ada sang mantan yang kalang kabut bikin konferensi pers dan pakai jurus lama merasa terhina dan terzolimi karena merasa dituduh (secara tidak langsung) telah menggerakan demo tersebut, yang menurut saya kok malah jadi blunder sendiri lantaran nggak ada info resmi yang menuduh dia jadi "the funding father" (funding ye, bukan founding). Belum lagi jadi kuadrat baperan-nya, lantaran ngga ada hujan ngga ada angin malah bawa-bawa kasus dokumen TPF Munir dan minta Ahok diproses hukum. Emangnya siapa ente, pake konpres segala buat nyuruh orang dihukum? Lalu kenapa si mantan sampe panik begitu? Bayangin aja, sejak Jokowi dan Ahok masuk, dia sudah mulai gemetar gara-gara kasus lamanya mulai diutak atik. Makanya dia kudu taro putra mahkota buat jadi lawan dan memanfaatkan momentum ini untuk menggulingkan lawan terbesar putra mahkota. Syukur-syukur kalo presidennya keguling sekalian. Jadi sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Namun, buat yang masih merasa ini adalah soal penistaan agama, tulisan di bawah ini mungkin bisa ngebantu dikit-dikit dan membuka pandangan kita soal penistaan agama itu, dan siapa yang (menurut saya) sesungguhnya menistakan agama. Ya itupun kalo anda baca blog ini ya. Tapi saya sih rada yakin kalau yang baca blog ini sudah paham, cinta damai, dan mau bersatu menjaga kebhinekaan dan persatuan bangsa ini.

Sudah pada nonton film Spotlight? Film ini memenangkan best picture Academy Award 2016 lalu karena sungguh-sungguh keren! Jangan harap ini kayak film Marvel atau DC Comics yang tujuannya buat semata-mata hiburan. Buat yang sudah nonton, pasti paham kalau ceritanya sangat sensitif dan sungguh eye-opener. Buat yang belum nonton, nih saya kasih kisi-kisi sedikit. Spotlight diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Boston, Massachusets, Amerika Serikat, menceritakan sekelompok wartawan dari koran Boston Globe yang melakukan penyidikan bertahun-tahun mengenai skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastor (pemuka agama Katolik) di kota tersebut. Walaupun sudah banyak pengaduan dari korban soal perlakuan para pastor, namun entah kenapa, kelompok wartawan ini tidak juga menemukan titik terang dari skandal tersebut. Boston sendiri merupakan kota yang mayoritasnya merupakan penganut Katolik. Sampai akhirnya masuklah editor baru, Marty Baron yang memberikan angin segar karena dia bukan berasal dari Boston, dan juga bukan penganut Katolik. Baron merasa kasus ini perlu dituntaskan lewat pendekatan dari timnya, melalui jurnalisme investigasi profesional via korban, pastor, pengacara, bahkan sistem pengadilan. Singkat cerita, akhirnya terkuaklah, bahwa seluruh sistem di kota tersebut bekerjasama untuk menutupi skandal ini. Mulai dari pihak Keuskupan Boston yang memindahkan/ mencutikan para pastor yang terlibat skandal, korban yang dibayar untuk tutup mulut dan tutup kasus, sampai pihak pengadilan Boston yang menghilangkan begitu banyak dokumen yang terkait dengan hal ini. Koran Boston Globe melalui kolom Spotlightnya telah membangunkan dunia, terutama "menghajar" institusi Gereja Katolik yang selama ini aman berlindung dibalik pintu agama. 

Nah, jadi tertarik nonton filmnya nggak? Sudah bisa menerka saya mau membawa tulisan ini kemana? Saat film Spotlight akhirnya memenangkan Oscar, saya masih ingat bagaimana salah satu produsernya, Michael Sugar, pada pidato penerimaan mewakili para korban berharap kalau gaung dari film ini bisa sampai ke Vatikan. Dia berharap Paus Fransiskus bisa melindungi anak-anak dan memulihkan iman para umat. Terus terang, saat itu banyak yang merasa Vatikan pasti akan menghujat keberadaan film ini. Walaupun filmnya diangkat dari kisah nyata, dan setelah artikel Boston Globe itu dimuat Paus Benediktus dan Paus Fransiskus berusaha mati-matian untuk memperbaiki dan meminta maaf mengenai kesalahan para pastor-pastornya, film ini bisa dibilang seperti merobek luka yang sudah bertahun-tahun berusaha disembuhkan oleh Gereja Katolik. Tapi ternyata, orang dibuat terkejut dengan tanggapan pihak Vatikan terhadap film Spotlight ini. 

Salah satu media semi-official Vatikan L'Osservatore Romano malah memberikan dua jempol untuk film ini, dan mengatakan kalau film ini bukanlah film anti-Katolik, dan film ini juga berhasil menyuarakan perasaan terpukul dan sakit (hati) yang mendalam para kaum beriman dalam menghadapi kenyataan yang pahit tersebut. Malah pihak Vatikan menganggap bahwa permintaan dari produser film ini ke Paus Fransiskus saat penerimaan Oscar, merupakan signal positif, bahwa masih ada kepercayaan terhadap pihak institusi gereja dan terhadap paus (Fransiskus) yang sedang berjuang melakukan pembersihan yang telah dimulai oleh paus sebelumnya. Banyak orang menganggap Paus Fransiskus telah mengambil langkah besar karena menerima film Spotlight sebagai suatu alat komunikasi untuk berdialog dengan pihak Vatikan. Suatu hal yang rasanya tidak akan mungkin terjadi di era sebelumnya. Di sini, secara pribadi, saya mau memberikan empat jempol kepada Paus dan Vatikan atas tanggapannya. Sebagai agama dengan umat terbanyak di dunia, Paus punya power untuk menggerakan massa, dan dia bisa saja berkata hal lain, misalnya mengutuk keberadaan film ini karena bisa memberikan dampak buruk ke Gereja Katolik dan membuat resah pengikutnya. Film ini bukan film kelas kota atau negara loh, ini film kelas dunia. Tapi tanggapan Paus itu sungguh menyejukkan, membuat orang sadar kalau pastor itu juga manusia yang tidak luput dari dosa! Bahkan dia mengakui kesalahan itu memang terjadi, dan film itu malah sebagai pengingat kalau hal buruk tersebut tidak boleh berulang lagi dan pihak Gereja harus bekerja keras. 

Mungkin dalam hati ada yang mikir, "Le, jangan bangga-banggain agama sama pemimpin agama lu deh, Le." Nggak, saya nggak membanggakan pemimpin agama saya, saya membanggakan sikap dari seorang pemimpin tersebut, bagaimana dia berusaha untuk membawa damai walaupun umatnya banyak yang resah, dan bagaimana dia bisa punya power untuk mengubah mindset umat dengan memberikan pesan baik yang bisa diambil. Bedakan dengan apa yang terjadi di negara kita beberapa tahun lalu saat saya masih SD mau naik ke SMP. Di tahun 1994, ada sebuah film yang dianggap sangat kontroversial di Indonesia yaitu film True Lies yang dibintangi Arnold Schwarzenegger dan Jamie Lee Curtis. Waktu itu filmnya sempat masuk ke Indonesia, kemudian diprotes keras dan didemo oleh pihak agama tertentu karena merasa terhina, gara-gara ada adegan pihak teroris berdoa dulu dan mengucapkan Allahu Akbar sebelum ngirim rudal. Waktu itu kalau nggak salah masyarakat cuma dikasih waktu beberapa hari sampai filmnya diturunkan dari layar bioskop. 

Saya yang kebetulan penggemar nonton di bioskop tentulah penasaran berat soal adegan yang dimaksud. Saya masih ingat waktu itu saya pulang les, langsung naik mikrolet, ketemuan dengan mama saya di mal cuma buat antri tiket 21 cineplex di hari terakhir pemutaran film True Lies. Jaman dulu antrian bukan pakai jalur dan meja kayak sekarang. Jaman dulu loketnya dibatasi kaca, dan tiap film, antriannya 1 loket saja. Pas sampai di 21, saya dan mama antri, walaupun gila banget jumlah manusianya mengular, tapi situasi masih lumayan kondusif. Kita menunggu lama sekali sampai loket dibuka. Begitu loket dibuka, manusia langsung brutal! Saya didorong-dorong dan digencet, tiket laku seperti kacang goreng sampai baris terdepan dan tak bersisa. Yang terparah, kaca pemisah antara penjual loket digebrak-gebrak sampai penjual tiket ketakutan. Saya beruntung waktu itu masih dapat tiket di tengah. Yang dapat tiket paling depan sampai pada pindah duduk di tangga belakang lantaran nggak nyaman. Begitu saya nonton filmnya, ternyata... yah cuma gitu doang!! Film fiksi pula! Tahun depannya kita juga punya Laser Disc-nya (jaman dulu impor jadi tanpa sensor), dan kita bisa nonton ulang-ulang sampai bosen. Sebegitu mudahnya kah kaum beragama tertentu tersinggung? Bandingkan dengan film fiksi lainnya yang lebih parah kalau mau dianggap "menghina" seperti Da Vinci Code series yang bilang Yesus itu kawin dengan Maria Magdalena dan punya banyak keturunan. Kita juga tau itu semua fiksi, makanya ya santai aja. Ngapain juga dipikirin. Iman kita juga gak goyah kok cuma gara-gara film.

"Tapi Le, itu film, ini Ahok penistaan agama beneran loh! Bukan film. Itu kisah nyata! Itu ayat Al-Qur'an dibilang bohong!" First of all, jelas-jelas sudah dijelaskan berkali-kali kalau video penuhnya itu ada kata dibohongi pakai Al-Qur'an. Tetep aja pada nggak terima. Masak sih udah gede nggak bisa bedain antara makan sendok dengan makan pakai sendok? *krik...krik...krik...*. Oke, let me tell you yang simpel aja, di agama Kristen, juga banyaaaakkk banget orang yang pakai ayat Alkitab buat kepentingan pribadi. Boro-boro buat menggiring orang menuju keselamatan, yang ada dipakai buat jaring jemaat (yang ujung-ujungnya buat penuhin kantong pribadi). Nih contoh, saya pernah ke pertemuan oikumene di salah satu gedung kantor di Jakarta, diajakin sama temen saya. Katanya bagus deh Le, bakalan ada pendalaman rohani. Oke deh sip saya ikut. Sampai di sana, nomer satu langsung ada perputaran kantong persembahan, lalu pendetanya pakai kutip ayat alkitab, ulang-ulang berkali-kali kalau kita semua harus kasih persembahan perpuluhan, jangan sampai lupa, malah ada ancaman kalau nggak kasih akan masuk neraka. Plis deh ah! Bisa ngomongin surga neraka, tapi sepanjang firman yang diomongin cuma perpuluhan. Yang terlucu, belakangnya dia bagi-bagi kartu nama, suruh kita semua datang jadi umat di gereja dia. Nah yang kayak gini bikin saya ya udah babay, besok-besoknya kagak pernah dateng lagi ke pertemuan di situ. Kesel tauk! Dikira nyumbang cuma harus via perpuluhan? (Maaf kalau ada yang tersinggung, tapi buat saya, 100 ribu dari 1 juta itu jauh lebih banyak jumlahnya daripada 10 juta dari 100 juta walaupun secara Matematika sama-sama sepersepuluh dari total). 

Nih contoh lagi, saya tuh paling kesel kalau ada orang yang pindah agama, terus dianggap menerima keselamatan. Kalau di umat Islam, Ahok aja didoain terus biar dapet Hidayah pindah ke Islam. Kalau ada artis pindah jadi Islam, beritanya juga heboh, besar-besaran. Apalagi kalau ada artis Muslim biasa-biasa aja jadi berhijab, itu udah kayak tingkat kesucian naik drastis (plus endorsement instagram juga naik hihihi). Kalau ada artis Muslim pindah jadi Kristen, siap-siap aja dihujat, dikatain murtad, kafir. Wuihhhh manusia-manusia ini memang kayaknya udah lebih pinter daripada Tuhan. Eits... tapi jangan salah, di Kristen juga sama kok! Sama geblegnya kadang. Kalau ada artis Muslim masuk Kristen, juga dipuji setengah mati, bahkan bisa loh jadi artis dadakan. Kerjaannya jadi kesaksian terus kalau menerima keselamatan, jualan album rohani. Terus ayatnya yang dipakai itu pasti "Tidak ada orang yang masuk kerajaan surga kalau tidak  melalui Aku (Yesus)". Jadi ya, itu kadang orang Kristen fanatik suka ngeselin juga! Ibaratnya belas kasih dan amal sebesar apapun, kalau nggak jadi pengikut Kristen nanti gak bisa masuk surga. Hebring amat manusia udah bisa nentuin surga dan neraka, semuanya cuma dari tafsir gamblang kitab suci. Nih yang pastor saya pernah bilang dulu dan menurut saya berlaku banget, "Dasar manusia, kalo ngutip ayat kitab Suci yang buat enak-enaknya aja, coba baca dari awal sampe akhir ulang-ulang, baru tau deh kalau agama cuma bukan sekedar ngutip ayat. Apa mau balik jadi jaman purba mata ganti mata, gigi ganti gigi? Kagak mau kan?"

Jadi, kalau temen saya yang umat Islam bilang kalau pendeta banyak yang kagak beres, pakai ayat Alkitab buat hal gak bener, saya sih setuju-setuju aja. Ngapain juga marah? Dalam kenyataannya banyak kok yang begitu, tapi banyak juga yang baik dan benar. Sama juga dengan saudaraku yang Muslim, banyak banget yang baik dan sungguh mengupayakan kedamaian. Tapi yang vokalnya paling kenceng ya memang yang tong kosong nyaring bunyinya itu. Kasian jadinya, citra teman-teman Muslim yang baik namanya jadi tercoreng gara-gara ulah segelintir orang yang nggak beres. Tiap kali saya ngobrol sama teman-teman dekat saya yang Muslim, rata-rata semua sama kok, benci sama kekerasan, benci sama F*I, benci sama pemimpin yang ngga amanah, benci sama pemimpin yang korupsi dan terus melebarkan dinasti. Intinya kita tuh punya common enemy! Terus kenapa sih isu agama ini sering banget dipakai untuk bikin orang berantem dan resah? Jawabannya: Karena di Indonesia ini manusianya masih banyak yang bodoh, jadi isu SARA itu paling enak untuk digelontorkan. Dan memang sengaja kok dibiarkan bodoh. Kenapa? Karena kalau orang-orang Indonesia pinter semua, yang mau korupsi jadi susah! Kalau orang pinter semua, Dimas Kanjeng itu nggak bakalan kaya! Siapa coba yang mau dibohongin pakai ayat-ayat suci buat penggandaan duit?

"Tapi Le, tuh Dimas Kanjeng pakai ayat suci buat tujuan ngga bener, makanya diproses hukum kan? Kalau gitu Ahok juga sama, menistakan Al-Qur'an tuh, Le, mesti dihukum juga! Harus adil dong!" Pertanyaannya, siapa yang menistakan Al-Qur'an? Apakah Ahok pernah memakai ayat suci tersebut untuk membohongi orang lain? Penista Al-Qur'an itu (menurut saya) justru orang-orang yang selama ini menggaungkan ayat-ayat suci, tapi tingkah lakunya tidak sesuai dengan ajaran Allah. Pakai ayat suci untuk memperkaya diri, pakai ayat suci untuk menghina umat beragama lain, pakai ayat suci untuk menyerukan kebencian, pakai ayat suci untuk menyerukan penghancuran dan tindakan anarkis. Itulah penista sejati, penista yang seharusnya tidak boleh lagi berkoar-koar di negara ini. Penista yang sudah dari dulu harusnya diplester mulutnya karena menimbulkan keresahan orang-orang. Penista yang ngakunya membela kitab sucinya, tapi sebenarnya cuma membuat agamanya jadi kelihatan "lemah" sehingga harus dibela mati-matian. 

Tuhan itu jauh lebih kuat, jauh lebih hebat daripada seluruh umat di dunia ini digabung sekalipun. Lagian, Tuhan kita itu sama kok. Kita itu cuma kumpulan orang-orang "buta". Bentuk Tuhan aja kita nggak tau seperti apa sesungguhnya. Agama itu cuma sarana untuk kita memuji dan menyembah Tuhan. Kita memilih agama kita karena kita tau kalau kita merasa nyaman menyembah Tuhan dengan cara di agama tersebut. Tapi seumur-umur, saya tidak pernah loh menemukan agama yang mengajarkan umatnya untuk membunuh, menyerang, memusuhi, memfitnah. Kalau ada, tolong kasih tau saya ya, mungkin saya bisa ikutan juga untuk minimal cari tahu, supaya saya nggak dekat-dekat dengan yang kayak begitu. Serem tauk! 

Btw, buat teman-teman saya yang Muslim, saya tau kok, kalian baik semua, dan tentunya sayang banget sama Negara Indonesia. Jangan biarkan kepentingan segelintir orang yang mengaku-ngaku bela agamamu jadi sumber konflik dan perpecahan. Islam itu hebat, kuat, rahmatan lil 'Alamin. Jadi yang ngaku-ngaku bela Islam, itu kayak nambahin sekarung garam di lautan samudra. Kagak ngefek! Buat semuanya, ayo kita bersatu padu juga menjaga kedamaian di negara ini. Jangan kita jadi jaga jarak dengan sahabat-sahabat kita cuma karena perbedaan agama, karena begitu kita semua hidup damai, bersatu padu, Indonesia itu bakalan jadi negara yang hebat banget loh! Negara kita tuh kaya banget, sumber daya alamnya berlimpah, apalagi sumber daya manusianya, tinggal fokus, pasti negara-negara lain juga gemetar melihat kehebatan Indonesia. Selama ini kita tuh nggak fokus, karena hal-hal SARA itu selalu dipakai untuk jadi senjata yang mengkotak-kotakan kita. Walaupun saya jauh di negeri orang, tapi hati saya tetap buat Indonesia (dan lidah saya masih hobi makan tempe plus sayur asem). Makanya saya nggak rela liat negara ini terpecah belah karena kepentingan politik. Mari berdoa untuk negara kita, agar kedamaian selalu ada, dan semoga pemimpin-pemimpin yang bersih hatinya akan terus berkarya di seluruh belahan pertiwi. 

76 comments:

  1. ngakunya bela tuhan (sengaja t nya kecil karena gw tahu Tuhan ga usah dibela), kerjaannya bikin susah. pagi2 jalan ke scbd dah ditutup, untung gw naik taxi. tadinya mo bawa mobil biar pulangnya gampang, untung kaga bawa. yg bawa mobil diputer sampe ke senopati-- miris pagi2 dah bikin susah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seluruh akses SCBD kan emang ditutup Yul. Katanya sih ada bbrp akses yang dibuka, tapi akses khusus, itupun harus melewati penjagaan ketat. Capcay ya gara-gara isu kecil yang dibesar-besarkan, yang anehnya pake bawa-bawa nama rakyat dan umat Muslim. Umat Muslim yang gue kenal malah banyak yang kesel sama demo ini. Tapi ya gak apa lah, semoga tukang gorengan dan snack lainnya laku.

      Delete
  2. Sudah gue duga lu pasti bikin postingan masalah ini. Yah gitu lah masalah terlanjur kusut, padahal gue berharap ga membesar kayak gini. Sedih pokoknya mah kalo diceritain.
    Ahok kepancing suasana juga sih awalnya, jadilah dikipasin ama habib brisik itu dan melebar kemana-mana kayak sekarang. Dan di belakang sana haji Lulung lagi kipas-kipas sama orang cikeas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo Mba Etty maap nimbrung. Kesel yaa, siapa sih Haji Lulung itu. Knapa begitu menyebalkannya. hahaha

      Delete
    2. Et, kalo gue nonton videonya keseluruhan, si Ahok mah kagak ada kepancing suasana sama sekali loh. Acaranya di Kepulauan Seribu itu damai banget, isinya banyak haha hihi. Malah yang upload video aslinya juga pemprov DKI. Kalau emang Ahok gak beres mah udah ada yang ngamuk di Kepulauan Seribu sana. Isi yang dia omongin juga bener dan nyata. Mana sangka ada provokator yang potong sana sini, terus didompleng sama politikus (yang manfaatin F*I buat jadi toa-nya). Salahnya Ahok cuma 1, dia bukan Islam, jadi dianggep sotoy. Habis gitu kan udah minta maaf juga. Eh tapi Islam juga kalo yang anti korupsi mah dibenci sama kaum you know who hahaha. Tuh Jokowi juga dikatain abis-abisan. Ya begitulah, intinya mah urusan politik dan $$$. Kasian agama dipakai buat urusan perut segelintir orang.

      Febryn, coba mampir ke postingan saya yang soal Ormas itu, tar ada "sejarah" dikit soal Haji Lulung. Intinya mah dia itu preman kelas kakap yang lahan palakannya ludes gara-gara si Ahok. Hehehe.

      Delete
    3. Ahok Cina, dibenci, Lah Jokowi orang Jawa, suku mayoritas di Indonesia sama aja dibenci juga. Ahok ngomongnya kasar, dibenci. Lah Pak Jokowi kurang santun gimana cobak tetep aja dibenci. Ahok bukan muslim, dibenci. Jokowi muslim, dibenci jugak. Lah terus karep'e piye? Bukan soal kacamatanya punya kuda (kesian kuda, disebut terus) tapi memang benci, sekali benci tetap benci. Eh tapi soal Dimas Kanjeng, kalo beneran bisa gandain uang, mintak tolong itu Ahok ama Jokowi digandain, berkali kali, buat disebar sak Indonesia.

      Delete
  3. Haloo Cici, aku muslim dan aku setuju banget sama apa yang cici tulis disini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita bisa bersatu ya, Febryn, melawan common enemy itu, korupsi dan kebodohan. Biar Indonesia maju.

      Delete
  4. Leony, komen juga saya di artikel yg ini..hehhehe..
    Terimakasih udah nulis artikel ini..gw setuju banget sm tulisan km..
    sayang jauh..klu deket udah gw cium2 sampe basaahhh pipinya...hehhehe...
    Salam bwt Abby yg makin hari makin lucu, menggemaskan dan keceeeee abisss...
    Sierli - Bekasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, jangan cium sampe basah repot bersihinnya nanti hihi. Apalagi kalo lengket ileran.

      Delete
  5. halo CiLe, kemarin aku br ngobrol dong sm temenku oang PR yg kenal banyak wartawan. pas sang mantan konpers kemarin bagi2 dui sejuta per orang ke wartawan dong. per kepala ya bukan per media ckckckc

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu udah biasa, Prit. Gak usah sang mantan. Para artis yang mau diliput aja sering manggil dan bayar wartawan biar namanya diangkat di acara infotainment. Cuma ngenes ya kalo manggil n kasih duit, sementara kalau yang lain malah diikutin wartawan dengan sukarela.

      Delete
  6. Hai Leony, setuju banget ini semua. Gue mah kalau orangnya ga bener, kayak Pendeta ga benar di Gereja juga gue protes. Intinya agamanya ngajarinnya bener, oknumnya aja yang suka kelewatan.

    Plus, Ahok mau ngapain aja juga salah. Dia nggak salah juga harus disalahin. Semoga Tuhan menjaga Dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, ya orang seagama juga banyak ya yang suka error. Manfaatin ayat-ayat, ujung2nya sering buat mentingin perut sendiri. Ya begitulah, di negara ini, orang bener malah makin banyak kendalanya. Apalagi ditambah unsur SARA. Yang seiman aja kalo lempeng malah banyak dihajar.

      Delete
  7. Hai Le, saya suka tinjauan kamu terhadap kehebohan tidak penting hari ini :) saya sependapat, yang sudah lepas kacamata kuda nya pasti sadar dalam logika dan hatinya kalau ini tuh tidak ada hubungannya dengan penistaan agama. Konyol! Jelas sekali kan isu politik, ekonominya. Fyi, saya tinggal di makassar, sulawesi selatan, dan juga menikmati kemacetan siang ini :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, temen saya yang tinggal di Makassar juga tadi pagi kasih info. Katanya kok aneh, Ahok di Jakarta, tapi demo sampai ke seluruh negeri. Ngapain coba?

      Delete
  8. Setuju sama ci Le.. Kasian agama dipakai buat urusan perut segelintir orang. Mari kita berdoa untuk negara ini agar kedamaian selalu ada dan semoga pemimpin-pemimpin bersih hatinya...Aminnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, doa terus karena Tuhan pasti dengar. Sampai sore ini masih terkendali. Semoga gak ada kecolongan.

      Delete
  9. saya sudah menunggu postingan cici terkait 4 nov ini...cici sudah menuliskan dengan gamblang, sederhana tapi pas. Tidak ada yang ingin saya tambahkan maupun kurangi dari tulisan ini. Top markotop

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emangnya masakan ya hahahaha. Kalo belum pas kudu tambah garem, lada, atau gula hahaha.

      Delete
    2. dan akhirnya tetep rusuh dan ada indomaret jadi korban dijarah gara2 ada yang emang punya agenda politik dan ada yang liat celah utk ngejarah ckckck...

      Delete
    3. Nah itu. Walaupun sekarang orang pada bilang yang ngejarah bukan orang yang ikut demo, tetep aja kan, chance menjarah itu jadi ada gara2 kelompok pendemo mengarah ke Penjaringan, bukannya pulang sesuai aturan demo yang disepakati. Belum lagi itu duo FH dan FZ yang jelas2 pengen gulingin Jokowi, pake koar2 parlemen jalanan. Gagal faham dan gagal fokus.

      Delete
  10. Ahok juga SALAH sih... Harusnya dia tahu kalo jadi minoritas itu ga boleh SALAH ngomong. Apalagi double minoritas kaya dia. Harusnya cukup stop sampe "kalo bapak ibu dibilang nggak boleh pilih saya" tanpa sebut-sebut ayat. Yaaaa wong dia ga ada salah apa-apa aja dicari-cari kesalahannya, apalagi emang ini ada rada kepeleset ngomong dikit, ya udah pasti jadi SALAH laaaah. Pokoknya semua SALAH Ahok (dan Jokowi). Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahok ngeberangkatin orang Haji aja juga salah kok. Masih ada yang protes katanya uang sakunya kurang. Intinya mah mau sebaik apapun juga salah aja deh... Dasar tafir! Hehehehehe...

      Delete
  11. Ci leony paling top deh kalo bikin postingan :D detail dan gk asal cuap2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi pas waktunya, makanya ngalir aja. Syukur2 kalau bisa jadi bahan refleksi.

      Delete
  12. Halo. Nampaknya cuma saya disini yang tidak sepaham sama tulisan cici. Gak apa yaaah? Karena komen saya dari kacamata saya sih.

    Interpretasi orang atas video itu memang bisa saja beragam. Menurut saya secara bahasa emang agak rumit, dibohongi ayat atau dibohongi pake ayat. Saya bukan ahli bahasa jadi gak akan bahas ini.
    Yang saya perhatikan, seharusnya gak perlu dibawa-bawa ayat itu. Di kitab saya itu memang dijelaskan tata cara berkehidupan. Dari mulai bangun tidur, kerja, bergaul, sampe mengatasi perselisihan juga ada. Jadi biarkan kami masing-masing mengimani apa yang ada di kitab tsb bagaimanapun kamu menterjemahkannya. Mau dituruti atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhan. Sampe sini, semoga pada sependapat. Hentikanlah berpolitik bawa-bawa agama. Apalagi agama orang. Sangat disayangkan aja Pak Ahok gak play safe dengan berkampanye tidak senggol SARA. Padahal saya gak meragukan kinerja dia sbg pemimpin. Karena reaksi orang beda-beda. Ada yang tersinggung banget, ada yang tersinggung aja, sampe yang bodo amat.

    Terimakasih ci atas lapaknya. Di mata saya, semua agama mengajarkan kebaikan. Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran masing2 sebaik dan semaksimal mungkin. Salam kiss kecup buat Abby yg makin hari makin cantik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Izna, nyante ajaaaahh... Kan memang gak masalah beda pendapat, namanya juga demokrasi toh. Yang penting kita bisa jaga perdamaian.

      In regards to your comment, Pak Ahok sudah menjelaskan maksud sebenarnya, makanya beliau minta maaf. Bahkan beliau sendiri yang datang ke Bareskrim loh supaya diproses hukum, bukan disuruh2. Video sudah jelas diedit, dan di share, plus masih ditambahkan caption provokatif. Tidak perlu jadi ahli bahasa untuk mengerti maksud Pak Ahok. Namun memang benar, kalau dalam hal ini, Pak Ahok ada kesalahan yaitu: dia bukan Muslim yang punya kapasitas soal Al Qur'an. Jadi pasti dianggap sotoy. Nah, itu kalau mau bahas soal penistaan agama ya.

      Tapi seperti yang saya tulis di atas, kalau kita sudah pakai logika dan melepas kacamata kuda, demo hari ini jelas banget bukan soal penistaan agama. Ini lebih ke arah politik dengan menunggangi soal penistaan agama. Makanya semua jadi serba overreacting, hal kecil dibuat besar, bahkan sampai ada funding besar2an untuk demo. Dan itulah yang sangat disayangkan. Kok bangsa ini gampang banget digerakan gara2 hal SARA (plus uang saku). Makanya, kita beneran harus membuka mata hati kita, mulai dari pendidikan yang harus dibagusin, dan moral juga harus dibina. Para pemuka agama yang banyak diikuti umat harus mampu jadi teladan cinta kasih, bukan malah mengajarkan perpecahan.

      Delete
    2. halo leony, kali ini aku ikut nimbrung ya.

      sependapat dengan izna, aku pun merasa ahok bawa2 agama karena rasanya dia ga siap menerima kenyataan bahwa aturan agama islam melarang kami umat islam memilih pemimpin non muslim. kalo seandainya ada ulama yang mengatakan jangan pilih pemimpin islam, kenapa mesti kebakaran jenggot? anggep aja ulama sedang mengajarkan kami ttg salah satu aturan dalam islam seperti halnya larangan minum khamr (minuman keras) pada agama islam.

      oh iya satu lagi, demo kemarin memang murni tentang soal PENISTAAN AGAMA (bukan politik bla bla bla spt yg kamu paparkan diatas). kalo kamu ngotot bahwa itu ada yang nge back up, ya mungkin memang disusupi tapi paling hanya segelintir. kemarin itu dihadiri oleh 2.4 juta loh. dan saya tau banget betapa banyak orang disekitar saya dan teman-teman saya yang berangkat dengan uang saku sendiri dari berbagai penjuru. jadi terimalah kenyataan bahwa umat islam menganggap ini termasuk menistakan agama. dan iya memang bahwa ahok sudah minta maaf. tapi minta maaf kadang tidak cukup, jadi biar hukum yang bertindak.

      meski begitu leony, aku tau dan maklum kalau kamu kesal dengan terjadinya hal ini. kami pun juga lelah, jika pemerintah cepat tanggap, ini ga akan melebar masalahnya.

      hehehe itu pendapatku yah, mudah2an ga ada yg tersinggung. thank you

      Delete
    3. Hi, ini anonymous siapa ya namanya? Let's say we agree to disagree. Saya gak mau kita argumen, nanti akan jadi pepesan kosong belaka. Dari jumlah yang kamu sebutkan 2.4 juta orang saja itu sudah ngaco total hehehe. Jadi saya nggak perlu bahas statement lainnya ya. Tafsir agama di tiap bahasa saja sudah beda. Sekian.

      Delete
  13. Pusiang pala eike baca timeline semua sosmed. Perasaan gw ngelike2 foto do ig tuh cuma korea2an..tetapi kenapa muncul di eksplore soal ini. Argh, dr yg provokatif, lebay, bikin emosi, bikin pusing, bikin pengen unfol and unfriend, bikin gelisah karena mengancam. Seriusan deh. Pusing mbak bacanya..hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Unfollow aja kan gampang hehehehe. Saya juga ada kok teman yang setiap hari kerjaannya cuma share berita dr portal provokasi macem islampos dan piyungan. Giliran ketauan ada aksi anarkis aja masih diputar balik beritanya. Anehnya, bosnya orang Tionghoa keturunan. Jadi brasa gimanaaa gitu. Kenapa sih ngga damai aja.

      Delete
    2. Sama, Mba. Saya juga mumet baca pro kontra masalah itu di sosmed masing2 pihak merasa bener, saling caci, saling ngaku calon penghuni surga. Duh...

      Delete
  14. Le, makanya disini tuh banyak yang ateis.. mereka sebel ngeliatin orang berkedok agama tapi kelakuannya gt dech..

    kasiann liat ahok, udah mati-matian kerja buat jakarta, apa juga dicari salahnya karena dia minoritas. Tapi gw tetep yakin dia bakal jadi gubernur lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atheis itu kan basically ga beragama. Tapi rasanya mereka juga tau ada universal power beyond human power (dan inilah yang kita sebut Tuhan). Makanya malu ya kalau ngaku beragama bahkan bawa nama agama dalam aksinya, tapi kok tingkah lakunya anarkis dan bikin rempong satu negara.

      Delete
    2. Atheist itu bukan sekedar tidak beragama, tapi memang tidak mengakui adanya a/Allah. Berasal dari bahasa Yunani, a=tidak, theos=a/Allah.
      -Fi-

      Delete
    3. Thank you infonya, Fi. Iya saya barusan baca lagi. Tidak mengakui supreme being ya artinya. Tapi anehnya banyak dari mereka justru yang lebih pny belas kasih daripada yang ngaku2 beragama. Malah yang fanatik berat biasanya hidup terus2an penuh curiga.

      Delete
    4. Iya, betul. Saya juga jadi introspeksi diri (plus malu) kalau lihat orang2 yg katanya atheist itu kok baiiik banget, sopaaan banget. Dan yang penting itu kan bukan agamanya, tapi hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.
      -Fi-

      Delete
  15. Tau ga ci, pertama kali tau soal video yg dibikin si buni yani itu malah dari temen S2 ku yg notabene well educated lah ya. Dia share di path gitu. aku sampe komen kalo ga pernah kepikiran kalo lu bakal share berita provokasi begini. Keliatan kok divideonya orang2 pada santai nanggepin, berarti kan emang dah diedit videonya. Trus tapi ga dijawab komennya -_-'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, Py, edukasi di sini bukan hanya dalam soal "sekolahan" ya. Pintar akademis gak menjamin kalau mereka mengenal dunia. Tuh contohnya si Buni Yani malah lulusan Amerika loh, tapi kok begitu. Sebenernya kita tuh butuh buka mata, hati, pikiran, harus tau kalau dunia gak selebar daun kelor, kalau dunia ini beragam, dan kita cuma butiran debu... *tsah...* Kumpul jangan cuma dengan "sesamanya" aja. Di sini aja ya, Py, bayangin, orang Indonesia udah jauh2 kemari, masih aja ada yang gaulannya cuma muter di orang Indonesia doang dan itu-itu aja temen mainnya, mana ada yang masih "ekstrim" pula. Udah sampe sini tetep kagak maju2 hihihi. Heran...

      Delete
  16. Gak ad satu kalimatpun yang gak aku setuju di blog cici. Itulah realita indonesia. Banyak orang bodoh yg percaya aja, gampang terprovokasi.

    Makanya aku gak setuju, kalau ada orang cuma kutip2 ayat2 tertentu dan akan menimbulkan multitafsir.

    Udah lah ga usah urusin agama org, dan jangan ajak Tuhan dalam urusan politik.

    Semoga orang2 pada sadar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti aku tulis di atas itu, bodohnya seringkali bukan bodoh akademis loh. Banyak juga yang mahasiswa (walau universitasnya ada yang questionable juga). Kayaknya kok pikirannya pada sempit banget, makanya gak maju2. Negara lain udah ngirim orang ke bulan setengah abad lalu, kita masih aja ribut soal agama.

      Delete
  17. Plok...plok...plok... *tepuk tangan*
    Seneng dan bersemangat banget gue baca tulisan lo ini, Le. Setuju deh sama poin-poinnya.
    Seperti judul tulisan ini, orang yang gampang amat tersinggung biasanya punya masalah insecurity. Kalo dikit2 ngerasa agamanya diserang, malah yg dipertanyakan justru pemahaman dia soal agamanya itu. Jangan-jangan malah doi yg punya masalah sama keyakinannya. Kalo kita beriman dan percaya penuh sama ajaran agama, harusnya mah gak gampang tersinggung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue pas nulisnya juga rada semangat sih, dicampur perasaan sedih dan prihatin (bukan prihatin tipe si mantan ye), kok bisa banyak orang ngga berusaha membuka hati dan pikiran kalau mereka tuh lagi dimanfaatkan. Oke lah kalo ada yang jelas full dapet duit gede sampe bisa ganti mobil baru. Tapi rakyat ini loh, yang ngga ngerti apa2, dan ikut demo lantaran pengen ngerasain ke Jakarta dan liat Monas, dan akhirnya terlantar tanpa sarana pulang.

      Bener banget, Rik. Insecurenya kok setengah mati, apanya yang harus dibela gue juga gak paham. Soalnya gue yakin kok Muslim yang paham dan cinta damai mah tenang dan banyak doa serta banyak berkarya yang baik demi kemajuan bangsa.

      Delete
  18. gua sungguh ga abis pikir loh... kita anggaplah ahok emang salah, tapi kan dia uda minta maaf, bukannya semua agama mengajarkan untuk memaafkan... trus kalo minta diproses hukum, toh kasusnya juga kan lagi diproses... trus mereka demo buat apaan... tapi jokowi hebat ya, orang2 demo ke istana, tuan rumahnya malah ga ada hihihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya demonya buat gulingin Jokowi lah, Mel. Kasus penistaan agama kan cuma triggernya. Makanya di akhir demo, dua tokoh FH dan FZ malah nyuruh orang nginep di DPR. Apaan coba? Untung Polisi hebat pertahanannya dan orang ga diksh masuk.

      Memang gak ada kok dalam sejarahnya Presiden nemuin demonstran. Orang demo itu kan menyampaikan aspirasi. Tanpa ketemu langsung juga bs disampaikan, nanti presiden tinggal dengar aspirasinya tanpa perlu tatap muka langsung. Mendingan dia kerja kan. Eh sekarang malah dipakai sebagai alasan untuk nurunin Jokowi. Memang kasian Jokowi Ahok. Pokoknya salaaaahh melulu.

      Delete
  19. Ih Bu Le. Keren banget ini tulisannya. Setelah cape ati unfollow dan unfriend beberapa orang di fesbuk, baca tulisan lo langsung adem.
    Semoga makin banyak orang pinter, dan makin banyak yang lepas kacamata kudanya. Supaya gak seperti si mantan yang gak bisa move on sampe lebaran kuda pun.

    Udah beliin suami jaket bomber pak presiden? #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kirain baca tulisan gue langsung tambah membara. Hahahaha. Membara pengen makan yang banyak maksudnya. Ngeri2 sedap memang ngomongin soal politik di negeri ini. Kita ngomong bener aja bisa dicacimaki orang, apalagi kalau keserimpet plus orangnya mmg sudah kadung dibenci, ya makin uncontrollable deh reaksi yang benci. Yang gak tahan, hoax2nya itu loh, plus kalau di socmed bahasanya super kasar. Kayak org uneducated semua.

      Laki gue kayaknya ga butuh jaket bomber. Wong ada (body) bomber yang nangkring di deket dia alias gue hahahaha.

      Delete
  20. Hi Ci, aku cuma mau komen emang kita harus bedain namanya oknum atau agama nya. Beda jauh. Yang suka ngaco emang oknum oknumnya, ga peduli dari agama apapun.. Hehe
    Ini ada bacaan menarik kalau cici ada waktu..
    https://seword.com/umum/4-november-bukti-orang-bodoh-dan-pengangguran-masih-banyak/
    Dan artikel artikel lainnya yang menurut aku eye opener hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, agama dan kitabnya malah suka dipakai sama oknum2 untuk tujuan yang nggak beres.

      Cici sekarang ini lagi mengurangi baca2 opini pribadi nih (kayak situs seword itu), soalnya banyak situs sejenis juga yang kadang susah objektif soalnya setipe. Tp coba tar cici sempetin baca ya.

      Plus kudu hati2 juga sama situs2 yang sering ngga valid isinya dan herannya sering banget di share sama orang di socmed. Haduh, isinya banyak yg provokasi banget, termasuk dr situs yang pro petahana. Ada juga yang ngga valid. Kudu bijak banget2.

      Delete
  21. Ciiii, ini bener-bener menyuarakan isi hatikuuu yg amburadul tapi dalam penulisan yg mengalir dan enak dibacaa hahaha... Aku sebenernya penasaran banget pingin nanya temen2ku yg menganggap Pak Basuki melakukan penistaan agama (Mereka educated, berwawasan luas, dan ga SARA), sebetulnya gimana ini dianggap penistaan agama, krn yg kutangkap Pak Basuki sedikitpun ga bermaksud menistakan agama Islam, malah dia terkesan sangat tekun mempelajari Islam. Kalau dibilang perbuatan tidak menyenangkan kayanya lebih masuk akal, krn menyinggung beberapa orang dengan kata-kata Pak Basuki yang 'sok-sokan' membawa ayat yang oleh kaum Muslim sendiri masih diperdebatkan tafsirnya. Tapi aku males kalau malah dikira ngajak debat hahaha... Jadi yowis diem ajalah dan berdoa buat ketenteraman Indonesia aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah ini juga tulisannya sama amburadulnya, menyuarakan isi hati juga hihihi. Dan nulisnya pas anak lagi sekolah sebentar, jadi dipas-pasin berharap kelar pas dia pulang sekolah. Ya kan udah tau sendiri toh tujuan utamanya tuh cuma supaya Pak Ahok gak bisa ikut pilkada, dan Jokowi sekalian terguling. Orang abis demo bukannya pulang malah mulai bikin rusuh dan ada tuntutan gulingkan Jokowi. Piye toh. Bener-bener kasian agama cuma dipakai sebagai kedok kepentingan politik, dan anehnya ada yang percaya pula kalau ini totally hanya soal penistaan agama.

      Delete
  22. setujuuu sama yg kamu tulis Le !
    tak ada satu kata or kalimat yg gw kagak setuju ..
    kalau gw jadi producer M'tro TV , gw invite you buat bicara di M't' Naj'wa
    gw pengen org2 yg bisa buka mata hati & telinga & otak lurus bersih jernih yg bicara , yg cuman kaor2 kae TOA ga jelas minggir aja , makan nasi bungkus aja . huhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, siapakah daku ini Ven, kalo mau diundang yang ada pulangnya kena lempar sendal, terus hidup was-was. Ngga kebayang deh gue jadi Pak Ahok, setiap hari hatinya deg-degan pasti walau mukanya berusaha tenang. Orang Indonesia ini nyerang soalnya udah bukan pake otak lagi, tapi pake otot sekalian. Ngeri lihat umat di socmed pada brantemnya keluar kata-kata kotor kayak orang gak berpendidikan, dan kalau udah lapar, brutalnya minta ampun.

      Delete
  23. Hai Ci
    entah kenapa memang si mantan baper banget, maksud dari semua tindakan mantan itu malah seolah memperlihatkan dia yg sesungguhnya. Ada pemimpin bagus, di demo, gantian yg luarnya santun dalemnya tukang nyolong pada diem, kan lucu ya. Dan memang lagi-lagi SARA sasaran empuk buat menjatuhkan Ahok, setelah kasus sama aktvs perempuan yg itu,sumber waras,dan beberapa kasus yg lain gak mempan untuk menumbangkan ahok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya intinya kan udah dari dulu toh usaha penggulingannya, cuma ini momentumnya pas aja gara-gara si Buni potong video terus bikin transkrip yang ngaco (dengan alasan nggak denger... hmm plis dong ah hihihi), dan soal agama, wuihhhh.... banyak orang Indonesia "hebat" banget kayak udah bs menentukan surga neraka. Kasian sih rakyat yang jadi korban juga, karena yang ikut demo kemarin banyak yang murni karena duit, plus pengen lihat monas.

      Delete
  24. wah pembahasan yang cukup sensitif banget
    apalagi sedang jadi trending topic :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, karena ngetrend makanya jadi pingin mengeluarkan isi hati. Semoga bisa dibaca pakai kepala dingin.

      Delete
  25. Seneng baca tulisannya..Gak bahas dari segi 1 agama saja..

    Masalah soal agama dan minoritas dari dulu gak pernah ada habisnya, entah kapan kita bisa saling berdampingan dengan damai. Dan 2 hal itu yang sering di jadikan senjata oleh sebagian orang untuk kepentingan pribadinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Dan masih tetap banyak yang ngga sadar kalau lagi dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Ujung2nya cuma demi kekuasaan. Bahkan orang yang saya kira pintar ternyata banyak juga yang kemakan issue penistaan ini dan nggak bisa melihat 'the big picture'.

      Delete
    2. Yang paling kasihan yang termakan isu2 tersebut,mereka di lapangan demo panas2an, kena gas air mata dll. Yang melemparkan isu paling cuma senyam senyum aja.

      Delete
    3. Ya itu, ujung2nya rakyat cuma jadi korban. Polisi pun banyak yang luka kena serangan masa. Yang provokasi lagi anteng udah pulang naik mobil mewah.

      Delete
  26. Satu kalimat setelah postingan ini, "Dasar agama semawi, napsunya gede!" hehehe :P

    Sebenernya tiap agama/denominasi/aliran pasti ada aja oknum gak beres Ci, itu semua terjadi karena berbagai faktor individual. Saya aja yg Kristen Advent banyak yg harus dikritik kok, cewek-ceweknya ke gereja macam mau ke mall, yang pendetanya hobi selingkuh, yg korupsi/mata duitan juga ada.. Kecewa? Pasti. Tapi saya ke gereja mau lihat Tuhan bukan lihat manusia. Namanya pendeta, masih manusia juga, masih ada salah.

    Sblm Demo 411 aku ada posting sesuatu yang kontroversial di FB dan ada temen SMA-ku yang bela imannya. Aku self-defense macem2 dong dengan menyudutkan dia balik. Aku tau caranya salah tapi kuanggap dia harus dikasih sedikit 'makanan keras' biar gak lupa keadaan minoritas yang mungkin dia gatau/lupa/abai. Hasilnya? Komen dia dihapus + di-unfriend. Yaudah lah filter otomatis hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, apaan Ge yang napsu gede? Kan Agama Samawi yang sekarang kita kenal pecahannya ada 3 tuh, nah yang mana yang napsunya gede? Napsu buat ngapain? Hihihi...

      Menegur orang yang suka menyebarkan berita fitnah ada bagusnya. Tapi kita juga harus pakai cara yang elegan, memilih kata-kata yang baik dan tidak balik "ngatain". Soalnya cici jg sudah sering lihat tuh, orang nyebar berita salah, bukannya ditegur dengan baik, malah dikatainnya juga kasar. What's the difference between yang negur dan ditegur kalau sama emosinya.

      Delete
  27. Miris menurut aq di sini isu2 SARA mudah banget dipakai untuk buat kekacauan, dan sedih karena ada pihak2 yg tidak tahu apa2 menjadi korban.
    Misalnya penjarahan dan pengrusakan mobil yg melintas di lokasi sekitar demo. Klo dipikir waras, apa jg hubungannya kan? Tapi banyak pihak2 yg memanfaatkan situasi ini sehingga kondisi makin kacau, semoga rakyat Indonesia semakin cerdas dan tidak mudah terpengaruh isu2 SARA seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang jadi korban itu taunya cuma disuruh teriak-teriak dan dapat ongkos. Yang demo beneran buat membela agama paling beberapa gelintir saja kok. Makanya sayang banget kan bangsa yang sudah berusaha dipersatukan, terpecah belah cuma karena faktor politik (dengan menunggangi isu agama). Sayang banget.

      Delete
  28. Ci, tulisanmu bagus n aku yg baca ngalir aja gitu..
    Setuju sm opini cici, itu si mantan beneran baper deh langsung bikin presscon..
    Seharian 4 November itu aku ngikutin beritanya loh n memang sasaran utamanya bukan Ahok tapi Jokowi..
    Paling nyesek lihat orang yg bawa2 agama trs teriak2 suruh bunuh Ahok dan kalau berhasil dikasi uang 1M sama dia, miris gak sih? Tapi gak dihukum apa2 tuh. Begitu jg kejadian yg di gereja Samarinda, beritanya udh mendem tuh skrg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, itu yang pas di Ahok habis kampanye itu kan yg ada bapak2 mau kasih 1M? Ya begitulah, otaknya sudah entah dimana. Ngeri sama orang berkedok agama, tapi perkataan dan perbuatannya mencerminkan kekerasan.

      Delete
  29. Tulisannya bagus mb... Saya yg baca kok jd nyaman ya.. Saya agamanya islam, tp saya gak suka kejadian 411. Gak banget deh... G bermutu, bikin kerjaan jd terhambat. Apa lagi selain dijakarta, ddaerah juga byk yg ngadain aksi 411. Idih.. Yg mo ddemo pak ahok tp demonya ddaerah.. Bikin macet. Dan apa nyampe gitu lho demonya.. Hihihi 😁 salam kenal, ery solo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Eri, salam kenal juga. Saya juga bingung sih maksud dan tujuan 411 dan 212 itu buat apa. Saya kira kalau memang mau nuntut si penista agama, jalur hukumnya sudah jelas dan sudah diproses, makanya saya nggak ngerti maunya ngapain lagi. Bayangin nggak sih satu Indonesia dibuat deg-degan sama aksi-aksi beginian.

      Delete
  30. Sudah pada nonton film Spotlight? --> Sudah donk, salah satu film kesukaan haha.. Anyway sejujurnya saya kecewa dengan orang-orang yang masih berpikiran cetek di jaman yang katanya sudah serba maju saat ini. Tempo hari saya menemukan gambar dengan kata-kata ini "we were all humans until race disconnected us, religion separated us, politics divided us, and wealth classified us". Entah salah pendidikan, salah moral, atau salah mental sebelah mana yang membuat hal seperti ini harus terjadi berulang kali di negara kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak sih, Wien. Kemiskinan dan kesenjangan sosial itu sih juga menjadi faktor yang penting. Pendidikan juga, bukan pendidikan formal saja ya, tapi lebih kepada pemahaman kalau dunia itu LUAS! Susah juga kalau buat orang yang dibrought up di lingkungan yang isinya cuma indoktrinasi. Dari kecil sampai besar gak pernah tau kalau dunia itu bukan selebar daun kelor. Hari gini aja masih ada yang percaya dunia rata loh! Ckckckck...

      Delete
  31. Gara-gara mulut seorang yang gak bisa dijaga jadi deh timbul masalah. Semoga ini pelajaran bagi kita semua untuk menjaga lisan kita untuk tidak menebar kebencian dan ikut campur urusan agama orang lain.

    Saya berharap ahok sekarang ditangkap dan Indonesia kembali aman damai tanpa orang yg gak bisa menjaga perasaan orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah too bad, Ester kalau cara pikir kamu begitu. Kayaknya kamu nggak membaca isi blog saya dengan baik deh, mungkin cuma copas komen terus sebar hate comment dimana2 ya. Sayang sekali ya. Coba deh kamu banyak2 baca, coba main2 ke banyak tempat, biar tau kalau dunia nggak selebar daun kelor. Anyway, lain kali jangan pakai fake/ inexsistence blog address ya. Apalagi kalau seandainya namanya palsu. Sayang euy, buang2 waktu hehehe.

      Delete
  32. le, gw salut cara u nulis ttg hal ini itu santai, rasanya kl gw disuru nulis, gw bakal membara haha.. makanya gw memilih DIAM dan ga berani nulis ttg ini, anyway gw setuju banget dgn apa yg u tulis dan ga habis pikir kenapa org2 itu begitu.. dan liat sidang perdana kmrn, jujur jadi takut, hukum di negara ini rasanya masih bisa digiring oleh opini massa yg besar.. gw merasa, org yg bener pun bisa jadi salah kl massa bilang salah.. hmmm smoga perasaan gw ini salah yaa! gw masih berharap masyarakat bisa lbh dewasa menghadapi masalah ini, toh juga orgnya jg udah minta maaf BERKALI KALI.. Hhmmm negara kita kaya lagi menghadapi ujian kenaikan kelas.. semoga aja lolos ujiannya, pray for the best!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu lah, Liv. Majority rules ini benernya jelek banget kalo dalam soal ekstrimisme. Sedih gue lihat Indonesia kok malah jadi kayak mundur beberapa step soal Pancasila. Gue berusaha aja nulis apa yang gue pikirin, dan berharap bisa mengutarakan isi hati banyak orang juga. Gue berharap para hakim ngga merasa tertekan dengan amukan massa dan mereka bisa berlaku seadil2nya.

      Delete