Wednesday, September 28, 2016

Antara Anies dan Maryono

Sudah beberapa hari ini timeline saya di Facebook penuh banget sama pemberitaan soal Anies Baswedan yang jadi Calon Gubernur DKI dari partai Gerindra dan PKS. Maklum, teman-teman sekolah maupun teman kuliah saya banyak banget yang hobinya mantau politik. Termasuk juga saya sih, biarpun di negeri jauh, tetap saja ngikutin terus soal politik di Indonesia. Sejak jaman Pak Jokowi dan Pak Basuki didaulat jadi Calon Gubernur DKI di tahun 2011 lalu, rasanya kayak tumbuh secercah harapan untuk Indonesia yang lebih baik dengan bermunculannya pribadi-pribadi baru yang baik. Makanya, nggak salah dong semua orang lumayan kaget saat Anies Baswedan, yang dikenal khalayak sebagai orang "baik", mau-maunya didapuk jadi cagub oleh dua partai yang reputasinya... ya kamu tau sendiri deh. Bukan berarti partai yang di belakang calon lain juga bersih sempurna ya. Tapi dua partai di belakang Mas Anies itu adalah dua partai yang paling getol banget menggencarkan ABA alias Asal Bukan Ahok.

Kebingungan terasa dimana-mana. Orang-orang makin mempertanyakan kenapa Mas Anies ada di situ. Banyak tulisan yang membela Mas Anies, mulai dari tulisan Pandji Pragiwaksono yang bisa dibaca di sini  (yang  ngakunya obyektif tapi ternyata kok subyektif banget, sayang bener sih jadi serasa terjun ke politik praktis), sampai tulisan Edward Suhadi yang bisa dibaca di sini (yang menurut saya jauhhh lebih obyektif dari tulisan Pandji). Saya kan jarang banget nih nulis soal beginian, cuma biar gimana, ini menyangkut kota kelahiran saya yang sungguh saya cintai. Dulu tiap kali lebaran, saya selalu bilang, enak ya yang punya kampung, jadi bisa pulang kampung, sementara saya orang Jakarta, gak kemana-mana. Sekarang, Jakarta itu beneran jadi kampung saya, tempat yang akan selalu saya rindukan, dan kalau pulang kampung saya akan kembali ke Jakarta. Orang tua, adik, dan seluruh keluarga besar saya tinggal di sana. Mau nggak mau saya pasti peduli.

Dari Sabtu lalu benernya udah kepingin banget nulis, cuma nggak sempet. Ada latihan koor, ada tugas gereja, lanjut anak term break (yang berarti anak ngintil terus), dan di"sempurnakan" dengan suami flu berat sampai nggak masuk kantor. Gantian sama istri ceritanya, semoga sembuhnya lebih cepet daripada istrinya. Tapi pagi ini, saya membaca tulisan dari sahabat saya, Christopher Lucman (alias Toto, begitu saya panggil dia), yang benar-benar mewakili apa yang saya rasakan soal Mas Anies. Makanya malam ini, saat anak baru saja masuk ranjang dan sudah ngorok, saya sempetin berbagi tulisan Toto dan membagi sedikit opini saya yang kebetulan cukup terwakilkan oleh tulisan tersebut. Oke lah, kita copot dulu segala cercaan yang kebetulan diterima Mas Anies dari kanan kiri, mulai dari yang katanya haus kekuasaan sampai segala cara ditempuh, atau diam-diam ternyata masuk pasukan sakit hati gara-gara dipecat Pak Presiden, dan berbagai prasangka-prasangka lainnya. Kita anggap Mas Anies ini bersih, luhur, bercita-cita mulia, berambisi murni memajukan Indonesia. Yuk, kita simak tulisan Toto ini, dan silakan kalau yang mau manggut-manggut bareng, ataupun nggak setuju, nggak masalah.

Mengapa kampanye Anies Baswedan akan gagal

Walaupun judulnya mungkin agak sedikit provokatif, namun saya perlu disclaimer dulu. Pandangan ini bukan ditulis atas kebencian/ketidak sukaan/kekecewaan terhadap pak Anies. Bahkan sebaliknya, saya masih melihat beliau sebagai figur idealis yang sangat potensial untuk jadi pemimpin di Indonesia, saat ini ataupun di kemudian hari. Jadi pandangan ini sekali lagi bukan didasarkan pada personal pak Anies.
Hal yang paling mendasar kenapa menurut saya kampanye ABW akan gagal, adalah karena perbedaan atas cara kampanye beliau dan partai pendukungnya yaitu Gerindra dan terutama PKS.
Menilai dari kampanye pilpres lalu dan serangan2 kepada ahok setahun belakangan, Keahlian Gerindra dan PKS adalah dalam melakukan negative campaign. Ahok kasar lah, kafir lah, psikopat lah, koruptor lah, dan contoh paling terakhir adalah pembacaan puisi Fadli Zon ditujukan kepada ahok sebagai tukang gusur di deklarasi cagub terakhir. Inti dari kampanye mereka adalah kebencian kepada ahok dan kenapa kebencian itu dapat dibenarkan.
Bandingkan dengan cara ABW berkampanye, selalu memberikan pesan ideal, hal2 yang positif, namun memang kadang agak awang2. Contohnya isu yang dibawakan terakhir adalah kualitas pendidikan jakarta yang dianggap kalah dengan jogja walaupun dengan anggaran lebih besar. Mengedepankan kualitas pelajar demi masa depan bangsa adalah pesan yang positif. (walaupun memang tidak spesifik - kualitas seperti apa yang dianggap kalah? Dst).
Nah, pesan yang diberikan antara ABW dibandingkan dengan partai pendukung sangat berbeda jiwa dan isinya. Masalah akan timbul ketika ABW diminta persetujuan soal komentar yang akan dilontarkan elit partai (fadli zon atau sandiaga atau taufik) dan sebaliknya.
Contoh taufik akan bilang ahok itu sinting dan tidak berperikemanusiaan, ABW akan jawab apa? Fadli Zon akan bilang reklamasi itu hanya untuk kepentingan konglomerat hitam dan merugikan Jakarta, ABW akan jawab apa? PKS akan mendengungkan tidak boleh memilih pemimpin kafir, ABW akan jawab apa? Ahok akan digambarkan sebagai setan dan "dajjal", ABW akan jawab apa?
Demikian juga ketika ABW menolak menggunakan isu2 SARA untuk kampanye, apakah elit partai akan punya pesan yang sama? Cybertroop nya? Anggota partai?
Pada akhirnya pesan ABW dengan Gerindra dan PKS akan saling bertentangan, saling menganulir, dan efeknya pemilih akan bingung dan lesu.
Sebenarnya untuk bisa "energized" pemilih anti ahok, Fadli Zon mungkin lebih cocok jadi cagub gerindra pks. Ketika Taufik bilang ahok sinting, fadli zon bakal bilang bukan ahok aja tapi seluruh keluarganya juga sinting. Dengan demikian maka pasti bertepuk tanganlah dan bersatulah para pemilih anti ahok. Tapi kalau taufik bilang ahok sinting namun ABW bilang ahok sebenarnya tidak sinting tapi kurang sopan aja, pemilih bakal jadi bingung, siapa yang benar? Siapa yang harus ditepoki tangan? Dengan demikian momentum dan semangat pemilih anti ahok bakal hilang, dan kampanye tidak akan berjalan efektif.
Alasan kedua adalah ABW bukan orang partai.
Walaupun ABW menang, kebijakan2 dia belum tentu akan menguntungkan partai. Elit2 dan anggota partai tahu hal ini, dan akibatnya mereka tidak akan mati2an berkampanye dan berkorban untuk dia. Kebencian partai kepada ahok adalah karena dia tidak menguntungkan partai. Untuk hal ini, ABW tidak ada bedanya dengan ahok. Bahkan ABW bisa dibilang versi ahok-lite. Indikasi atas hal ini terasa jelas sekali di media sosial. Setelah pendaftaran final para cagub hari jumat malam, sabtu pagi di media sosial sudah ramai berita dan gambar dukungan terhadap ahok. Namun dukungan terhadap anies sangat sepi nyaris tidak ada (kalau terhadap agus mah ga perlu disinggung lagi kali yah, gak masuk hitungan sama sekali lah kira2). Jadi walaupun Elit partai memasukkan nama ABW sebagai penantang Ahok, anggota partai tidak punya kepentingan untuk benar2 memenangkan ABW (kecuali kebencian terhadap ahok begitu besar, an enemy of my enemy is my friend haha)
Sedikit ironisnya, semestinya yang tancap gas meng-kampanyekan ABW adalah relawan2 beliau, namun yang terjadi justru relawan2 ini tersibukkan dengan damage control terhadap kritikan yang begitu masif mengapa beliau mau maju via gerindra dan pks.
Efeknya jadi kalau mau dirangkum, relawan ahok sudah ngebut meng-kampanyekan beliau, partai pendukung ahok juga sudah mulai berlomba2 start menunjukkan siapa yang akan paling berjasa dalam kampanye ini, sementara relawan ABW belum bisa bergerak karena masih dalam posisi defensif-damage control terhadap citra beliau, gerindra dan pks terlihat lesu dan suam2 kukuh dalam kampanye nya, dan relawan agus masih sibuk kampanye kepada diri sendiri, meyakinkan diri sendiri di cermin bahwa pilihan mereka tidak salah kok, dan mengucapkan kata2 itu 100x hehehe.
Perbedaan yang sangat prinsipal ini sangat sulit diubah baik dari sisi ABW, maupun dari Gerindra dan PKS. Satu-satunya jalan agar kampanye ini berhasil adalah kalau dua pihak ini mempunyai kesamaan visi.
1. Apabila ABW yang akhirnya mengikuti bahasa Gerinda dan PKS, ini adalah sesuatu TRAGEDI
2. Apabila Gerinda dan PKS yang akhirnya mengikuti bahasa ABW, ini adalah sesuatu KEAJAIBAN
Apabila kedua point diatas tidak terjadi, maka gambar dibawah mengenai ketidak nyamanan ABW dengan partai pengusungnya akan terus terjadi selama kampanye ini. Dan dengan tidak adanya konviksi dari ABW dan/atau Gerindra PKS akan mengakibatkan terhadap juga tidak adanya konviksi dari pemilih mereka.


Oke, gimana, sudah selesai bacanya? Apa ada yang bingung? Kalau bingung, silakan dibaca ulang hahahaha. Intinya, sebaik-baiknya Mas Anies, kalau sudah masuk ke dalam sarang serigala, apakah beliau bisa bertahan untuk tetap berpegang pada keyakinan yang beliau gadang-gadangkan selama ini? Kampanye sehat, kampanye yang tidak memakai unsur SARA, kampanye yang mengedepankan program dan bukan menjelek-jelekan lawan dari sisi yang tidak berhubungan dengan masa depan pemerintahan? Apakah akan terjadi keajaiban itu, dimana justru Gerindra dan PKS yang mengikuti jejak Anies? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Yang saya tau pasti, Mas Anies sudah cukup sukses memotivasi pengajar-pengajar muda lewat program Indonesia Mengajar. Makanya saya sempat mengagumi beliau, dengan ide-idenya yang cemerlang soal pemerataan pendidikan di Indonesia. Cuma kalau dari segi politik, duh, saya kok menyayangkan. Apalagi dulu beliau pernah bilang, "Orang baik berkumpul dengan orang baik" dan dia pernah mencap partai pengusungnya ini mafia di masa lalu, tapi kok malah akhirnya bergabung dengan mereka, kesannya jadi menjilat ludah sendiri. 

Terus apa hubungannya Anies dan Maryono? Kebetulan Mas Anies Baswedan dan Mas Maryono Teguh sama-sama motivator, keduanya sama-sama santun dan hebat mengenai visi dan misinya. Soal pelaksanaannya, saya no comment, soalnya belum ketahuan walaupun klaim yang menyebar di berbagai media, keduanya memang nggak begitu oke kalau soal pelaksanaan. Katanya loh ya!

Saya jadi suka berandai-andai. Ini bukan kenyataan, cuma andai-andai saya gara-gara kebanyakan baca gosip. Anggaplah Mas Maryono ini orang baik, punya cita-cita baik, dan sudah diposisi baik dengan istri cantik dan keluarga bahagia. Mas Maryono adalah saudara yang baik bagi keluarga besarnya. Tetapi beliau yang baik ini, masih berambisi ingin lebih sukses, kemudian tergoda dengan wanita muda yang kelihatan mempesona, dengan pundi-pundi yang lebih banyak daripada Mas Maryono dan menjanjikan Mas Maryono posisi dan kemapanan, sehingga Mas Maryono masuk ke dalam perangkapnya. Akhirnya perlahan tapi pasti dia meninggalkan keluarganya walaupun  Mas Maryono berjanji akan terus mensupport dari jauh.

Mas Maryono pikir, dia bisa mengontrol wanita barunya ini plus mendapatkan apa yang dia inginkan, apadaya malah terbalik, Mas Maryono malah jadi dikontrol habis oleh istri baru, dan ternyata ambisi istri baru jauh lebih besar dan lebih serakah, menjadikan Mas Maryono asetnya, karena Mas Maryono memang jago mengambil hati orang lewat perkataan dan cerita-cerita dahsyat (yang belum tentu nyata) soal keindahan rumah tangga mereka, supaya di mata orang lain, keluarga mereka nampak hebat dan sempurna. Padahal ujung-ujungnya Mas Maryono digunakan cuma untuk meraup pundi-pundi yang lebih banyak lagi. Mas Maryono memang dapat tujuannya, dia sukses, dia kaya, dia terkenal, tapi tidak tau apakah dia sesungguhnya bahagia atau tidak. Sampai suatu hari, keluarga lama Mas Maryono protes keras, karena Mas Maryono bilang tidak pernah kenal dengan sosok keluarga yang dulu dia tinggalkan. Mereka sudah lelah tidak dianggap, supportpun tidak pernah didapatkan, padahal awal perjuangan dari bawah dulu, mereka setia mendampingi Mas Maryono. Walaupun istri baru Mas Maryono berusaha belain Mas Maryono mati-matian (termasuk bela dirinya sendiri), ujung-ujungnya blunder. Simpati orang-orang terhadap Mas Maryono akhirnya luntur. Akhirnya Mas Maryono nyungsep, hilang sudah cerita baik soal Mas Maryono.

Memang sulit membandingkan kisah Mas Anies dan Mas Maryono secara apple to apple. Jauh banget malah membandingkan antara politik dengan keluarga. Harapan saya cuma satu, semoga jangan sampai Mas Anies yang bertujuan mulia berakhir tragis kisahnya seperti Mas Maryono, dimana segala reputasi baik yang sudah anda bangun akhirnya remuk redam, cuma gara-gara mengikuti kehendak istri baru....eh salah... kehendak partai. 

Semoga pilkada kali ini akan jadi pilkada yang sehat, dan kita bisa memilih yang terbaik dari yang baik, bukan yang mendingan dari yang terburuk. Let the games begin! *Serasa Hunger Games*

PS: Sebenernya saya kasian juga sama Mas Agus. Udah dicalonin jadi Gubernur sama bapaknya, eh kisahnya ketutup sama pencalonan Mas Anies ini. Yang ngetop malah kisah Bu Ani yang judes banget belain anaknya di socmed. Ayo Mas Agus, jangan mau kalah sama yang lain! 

PPS: Aa Gatot sama Mas Maryono bisa istirahat bentar, lumayan rame Pilkada, jadi gosip bagian situ berkurang.

PPPS: Masih wondering, kapan kasus Jessica dan Mirna akan segera berakhir. Ngeri bisa ngalahin Tersanjung dan Cinta Fitri yang sampai Season 7. 

44 comments:

  1. Yang jelas Bella Sophie udah move on dari Maryono dan punya pacar baru #halah #apaansih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fel, lu kayaknya ngaco deeehhh... Bella Sophie mah namanya Suryonooo! Yang ini Maryono si motivator. Lu kaga nyambung hahahahah...

      Delete
  2. gua juga menyayangkan loh anies maju jadi cagub... buat gua, dia itu orang baik yang harusnya bisa terus memajukan dunia pendidikan... kemampuan dia gua rasa belom cukup untuk bisa memimpin jakarta...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata-kata yang dia bilang dulu itu, yang sempet gue tulis di atas, orang baik berkumpul dengan orang baik. Nah, kenapa dia nggak berkumpul aja alias mendukung orang yang udah jelas ketauan baiknya buat kota Jakarta (baru 2 tahun aja udah brasa banget perbedaannya kan). Kenapa mesti jadi lawan?

      Delete
  3. Makin ke sini dunia perpolitikan Indonesia makin seru ya Ci, Jakarta juga seru karena kebetulan sbg ibukota negara, sorotan dunia banget.

    Aku sih mikirnya ya, untuk sekarang ini #TetepAhok karena beliau sudah terbukti bisa memberikan kemajuan untuk Jakarta dan para warganya. Bukannya meragukan kemampuan kandidat lain, sih.. Cuma saya pilih yang pasti2 aja lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo saya bilang, bukan cuma karena Jakarta ini ibukota, tapi karena memang Pilkada kali ini beda banget dari biasanya. Soalnya incumbentnya "orang gila", orang yang nggak takut mati! Dan baru kali ini nemu orang yang dihadangnya gila-gilaan sama yang lain, padahal kerja nyatanya udah bagus banget. Kenapa bisa begitu? Tanyakan pada rumput yang bergoyang...

      Delete
  4. Seru banget emank y berita2 indo, gw juga ngikutin si maryono itu and anaknya plus sidang jessica yg ga abis2 sampe gemes sendiri hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, lumayan kan si Maryono sama si Jessica bisa ngadem bentar, terutama si Maryono sih. Kalo si Jessica masih rame aja tuh.

      Delete
  5. Replies
    1. Oke, gue nanti akan daftar pemilihan RT, lu pindah dulu jadi warga gue biar bisa milih :P

      Delete
  6. Kalo yang kepilih siapapun kecuali Ahok, pinjemin Ahok ke surabaya dong, biar akses ke rumahku ga banjir lagi.hohoho
    Mau Anies kek, mau Martoyo kek, blakang2nya duit semua, #udah kepaitan ceritanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanggung, Pau, gak rela gueee... masih butuuhhh, soalnya brasa banget perubahan Jakarta pas dia pegang, terutama soal birokrasi. Gila lah yang soal birokrasi itu. Tar kapan-kapan gue cerita (kalo inget), gara-gara yang beli mobil gue itu Mantan Lurah kampung yang digusur sama Ahok, gue jadi tau betapa si Ahok udah banyak bikin perubahan di dalam isi perutnya PNS DKI.

      Delete
  7. Hai Le. Ini pertama kalinya komen karena setuju banget sama tulisan ini. Pak Anies mungkin baik, bersih, ingin bawa perubahan, tapi sayangnya orang-orang di belakangnya ga punya tujuan yang sama jadi bisa bentrok dan bikin bingung pemilihnya. Sayang banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo dibanding-banding, semua partai juga nggak ada yang 100 persen bersih bersinar. Tapi kalo ada partai yang hobi banget ngehasut, ngefitnah, apalagi pake issue SARA, alamakjan deh... ngeriiii...

      Delete
  8. Waktu gue tau soal si Maryono ya, kan gue pernah tuh sekali dua kali nonton, trus akuh kog eneg? #eh #mungkiniri
    Hahahahaha
    Abisnya, dia begitu memuja muji istrinya. Kayaknya bias aja gitu lah.

    Kalau soal gubernur, ah sudahlah. Gue suka loh sama si ABW ini, pas jamannya kampanye JKW dulu. Tapi kog..begini..huhuhu..

    Soal sidang sianida, lu nontonin gak Le? sidang ini sekarang jadi topik yang bagus banget untuk memulai basa basi di kantor loh, saking banyaknya dramanya. hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, gak usah elu, dari awal gue liat si Maryono, gue aja bingung kenapa tuh orang banyak fansnya. Gue kan pernah nulis di post yang judulnya "Soal Image", betapa gue sebel banget sama orang yang full of him/herself.

      Ya coba deh, kita lihat bagaimana waktu menjawab... Mau dibawa kemanaaa hubungan kitaaaa....(kata lagu).

      Gue jelas gak nonton lah soal sianida, gimana mo nonton orang gue di sini hihihi. Masih suka liat beritanya, cuma lama-lama bosenin.

      Delete
  9. gw gatau loh awalnya sapa ya Maryono?? hahahaha kalo Mario gw tau wkwkww :)
    kalo soal Anies, no comment.. karena ga begitu ngerti banget soal politik. hahaa :)
    iya terlalu banyak cerita di Indonesia ini... semuanya seru buat diikutin ya.. apalagi soal gosip, selalu asyik dan ga bakal bosenin untuk digosipin wkwkw :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya nama aslinya si Mario itu Sis Maryono Teguh. Mungkin Mario dianggep lebih keren n kebule-bulean (macem Mario Bros), lebih cocok buat jadi nama motivator. Lu ikutin Fun sedikit soal politik Jakarta. Soalnya berdasarkan history kemarin, gubernur Jakarta akhirnya jadi Presiden RI loh hahahahah... so it will affect you too :P

      Delete
  10. Sama, kasian juga ma Agus. Entah apa alasannya Agus nurut untuk meninggalkan dunia militer dan mencoba keberuntungan di pilkada DKI ini. Padahal karir militer sudah mantap, tunggu beberapa tahun lagi baru nyalon juga gpp deh. Plus itu Ibas kok disimpen, kenapa ga dia aja yg maju. Khan dah duluan masuk politik.
    Kalo soal Anies, kabarnya (eh jadi gosip nich) berambisi jadi presiden, jadi kalau kepilih gubernur DKI, mau loncat jadi capres gitu. Jadi ala-ala Jokowi deh. Hehehe
    -Diana-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Ci Diana, aku nimbrung ya. Denger-denger slentingan gosipnya sih Agus itu katanya karirnya bakal mentok taon depan karena dia ada cedera yang ga memungkinkan dia bisa lolos dari tes kesehatan TNI.
      Kalau buat Ibas, rasanya dia sulit buat maju Ci karena kan dia ada kena kasus. Just my two cents.:D

      Delete
    2. Hi Diana and Wulan, despite dari issue soal dia cidera dll, kita ngelihatnya kagetan aja tiba-tiba dia dicalonkan. Kalo saya lihat sih, Dinasti Cikeas ini kan penerusnya kalau nggak Agus ya Ibas. Ibas ini sudah kebanyakan dibully di media karena emang suka "ngeblunder" sendiri, dan lebih banyak gossip kurang oke. Sementara Agus kan masih "mulus dan bersih" mana militer pula, lebih kasih kesan kinclong dibandingin adiknya.

      Kalo issue soal Anies, saya gak bisa jawab. Beneran pengen anggep dia orang baik yang nyemplung di kandang yang ngaco. Gitu aja dulu. Biarkan waktu menjawab.

      Delete
  11. Sempat kaget aku waktu denger ABW maju jadi cagub, apalagi pas tau partai pengusungnya, Ci.
    Itu barisan-barisan sakit hati yang jargonnya "Asal bukan Ahok"/ #hadeehhh

    Kalau buat Maryono, aku ga habis pikir ada ya orangtua yang begitu. Terlepas dari bener atau ga Kiswinar itu anaknya, melihat dan mendengar cara dia ngejawab di kompas tv langsung ga respect sama sekali aku, Ci.

    Kalau buat kasus sianida, duh aku ga ngikutin. Ngedengerin temen cerita aja udah puyeng duluan, itu ga kelar-kelar kasusnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, seperti saya tulis, banyak banget yang kaget. Saya juga termasuk. Jadi nggak tau apakah dia senaif itu dengan tujuan mulia demi Indonesia, atau memang ada ambisi pribadi jadi nggak lihat lagi background partainya yang penting bisa maju. Beneran kudu nunggu waktu yang menjawab.

      Soal Maryono, saya nggak demen dari dulu. Entah kenapa kayak ada misteri aja gitu. Soalnya ini orang bisa muncul entah darimana, tau-tau bisa kasih motivasi, terus lihat istrinya juga aduh....entahlah, ada sesuatu yg tidak bisa diungkapkan... (bukan karena terkesima, tp drpd ngomong jelek mending diem aja).

      Delete
  12. karna gw ga demen politik, jadi no komen deh :p cukup tau aja hihihi.

    pas baca judul gw bingung maryono siapa sih, ternyata si MT. hehehe. Si pak maryono, gw suka geli kalo dia pamer2 lagi sok romantis sama istrinya di depan publik, geliiii :)) bukannya memperbaiki image malah bikin tambah jatuh.

    kasus sianida ... tiap nyetel tv siang2 pasti ada deh, macem sinetron aja, saking kelamaannya, udah ga ngikutin lagi perkembangannya gimana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa, Ngel tau sedikit sambil pelajarin, biar nggak salah pilih. Hahahaha, gue gak tahan tuh foto2 Maryono sm istrinya yang kebanyakan diambil di LN, trs dikit-dikit captionnya memuliakan wanita. Gue aja wanita ngerasa gak perlu sampe gitu2 amat dimuliakan. Work together kali, bukan cuma laki yang memuliakan perempuan hahahah.

      Nah itu dia, temen2 gue yang di Indonesia jg cerita, kasus disidang, disiarin di TV dan kaga kelar2.

      Delete
  13. Ciii.. akirnya aku komen lagi.. Padahal dah baca2 juga postingan cici tiap kalii.. Ya ampun aku ga ngeh Maryono Maryono sampe baca komen di atas aku baru ngeh itu siapa.. Hihi.. Iya nih smoga yang terbaik yang terpilih buat Jakarta dan Indonesia! hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah, Maryono padahal nama aslinya. Kalo pake Mario, kasian si Mario Bros... Hahahahah. Semoga orang-orang bisa objektif deh, terutama buat yang udah ngerasain perubahan Jakarta sejak dipegang sama si incumbent sekarang, jangan sampe terkecoh sama janji-janji palsu hihihi.

      Delete
  14. Cagub jakarta sekarang SERUUUU... hehehe Ahok ketemu sama calon2 yang sepadan sih..
    Ahok, Anies sama Agus ketiganya punya keunggulan masing2 yang membuat mereka beda 1 sama lain.
    Ngomongin soal politik emang kotor banget yaaa... tapi untuk mengimbangi tulisan cici diatas, aku ngerasa Ahok juga dibelakangi sama PDIP yang gak lebih baik daripada partai2 lainnya.
    Gak tau sih ahok pernah ngucap sendiri apa gak, tapi Teman Ahok di sekitaranku dulu sangat membangga2kan ahok yang bukan dari partai dan independen akhirnya pada diam 1000 bahasa pas liat ahok kepelukan mamah mega hehehe.
    Jilat ludah sendiri sudah biasa bukan di politik karena sesungguhnya gak ada musuh atau teman abadi. yang ada hanya kepentingan. Inget kan dulu JK pernah bilang hancur indonesia kalo dipimpin jokowi.. turned out dia malah jadi wakilnya and they both work together just fine.
    IMO, milih gubernur sekarang tergantung kepentingan kita apa. Aku pilih Anies karena kepentinganku yang pengen gubernur sekarang lebih melek soal generasi muda yang makin kacau. Anies kan jiwanya ngayomi dan guru banget, pengennya sih anak muda jakarta moralnya jadi lebih baik dan vandalisme bisa jauh berkurang. Selain itu *ngutip Pandji* berharap Anies membawa persatuan di jakarta :)

    Sekarang semua cagub adalah wakil partai dan semua partai itu sama aja jadi aku cuman bisa berharap buat yang kepilih tidak menjadi budak partai.

    salam peace! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang ngebedain kenapa Ahok akhirnya memutuskan gabung di PDIP krn aturan yang dibuat mendadak kan, katanya gaboleh independent. Toh akhirnya #TemanAhok rela karena mereka yakin Ahok punya prinsip, ga bakal gampang disetir, bahkan kalo boleh dibilang, PDIP cuma numpang nama sama Ahok biar citranya kembali baik :) Terbukti waktu Ahok beda visi-misi dengan petinnggi Gerindra, beliau keluar juga dari sana.

      Justru kalo kubilang kemungkinan besar Anies bakal jadi budak partai. Lha wong wakilnya si Uno yang dikit2 ngomong, "tergantung kebijakan." Kebijakan siapa? Partai lah (hasil interview di Mata Najwa). Coba seandainya peraturan tentang larangan independensi itu ga dibuat, dijamin Anies bakal independen juga mbak, mgkn bakal ikut2an bikin komunitas #TemanAnies hehe. Gpp sih justru makin seru kalo begitu, skrg kan masalahnya krn kebentur aturan. Itu aja.

      Delete
    2. Yuhu Gadis and Grace, thanks udah nulis panjang. Jujur aja, pas gue nulis ini, gue gak mau bahas soal Ahok sih, lebih kepada menyayangkan si Anies-nya aja dan pingin melihat dia ke depannya gimana.

      Ini nyambungin Grace juga. Kalo ngelihat partai, gak ada satu partaipun yang 100 persen bersih. Tapi kalau ngelihat pribadinya, kita udah tau siapa yang selama ini berani melawan partai pengusungnya kalau dianggap sudah nggak sehati. Lagian ya, tanpa PDIP pun si Ahok udah bisa maju. PDIP kalo mau ngusung calon sendiri aja bisa kok, suaranya udah cukup untuk itu. Tapi kenapa ngedukung Ahok? Siapa yang numpang siapa?

      Soal temen-temen kamu yg katanya Temen Ahok yang sepertinya digambarkan "kecewa" sama keputusan Ahok, anehnya kok pendukung Ahok disekitar gue nyante aja ya. Soalnya mereka semua tau, betapa untuk jadi calon Independen sekarang dipersulitnya setengah mati, dan tujuan Teman Ahok saat itu, Ahok bisa maju jadi Cagub untuk periode selanjutnya. Jadi via partai pun, nggak masalah yang penting maju. Tanpa Teman Ahok, animo masyarakat yang gila-gilaan juga gak akan "tertangkap" sama partai. Begitu akhirnya tercapai satu juta KTP itu, itu juga menggerakan beberapa partai untuk akhirnya support. Seandainya saja untuk maju jadi calon independen syaratnya masih sama kayak jaman Faisal Basri di tahun 2011, gue yakin Teman Ahok kagak perlu repot kumpulin KTP sampe begitu banyak.

      Soal kutipan Pandji, itu dia yang menurut gue blunder berat. "Berharap Anies membawa persatuan di Jakarta". Itu ngasih kesan, gubernur yang sekarang itu kerjaannya memecah belah Jakarta. Apakah Ahok memecah belah? Nggak banget. Perpecahan itu terjadi karena apa? Karena ya issue issue SARA dan ABA yang digencarkan sama beberapa kelompok. Dan tau sendiri kalau dilihat kelompok dan partainya, yang mana yang paling hobi pake issue itu. Jokowi aja yang sesama muslim bisa dikatain Kejawen, sampe dipertanyakan usia ibunya. Masyaampun...

      Gue ngga mau bahas pribadi si Aniesnya untuk sekarang, karena jujur gue gak tau dia mau ada misi apa. Biarkan waktu yang menjawab. But we have to remember, Jakarta itu keras, dan so far yang mampu nahan gempuran udah terbukti (Salah satunya Ali Sadikin, dan yang lainnya ya incumbent kita). Pasti bikin friksi sana sini, karena banyak yang lahannya duitnya (yang ilegal) jadi kemakan. Jangan sampai Jakarta jadi kelihatan bersatu, tapi bersatu semu, alias semua preman bisa merajalela asal disuap biar gak bikin ricuh, dan para wakil rakyat semua adem ayem, karena udah bebas lagi makanin duit rakyat.

      Menuju Jakarta, dan Indonesia yang makin baik:) Salam damai!

      Delete
  15. Semua ini gara-gara Ahok (Salah satu judul episode Mata Najwa), kalo Ahok jadi gubernur yang prinsipnya "Thousand Friends, Zero Enemies" tentunya ga bakal keluar ada gerakan ABA (Asal Bukan Ahok). Ngapain melawan arus korupsi yang semakin lama menjadi sesuatu yang lumrah di Negara ini.

    Selain itu ditambah dengan komentar-komentar pedas dan seenak udel yang meluncur keluar dari mulutnya Ahok untuk membabat para pengkritiknya maupun orang-orang yang berusaha menjatuhkan dia dengan segala macam isu SARA, kalijodo, gubernur developer, reklamasi, bahkan sampai kasus RS Sumber Waras.

    Begitu gemasnya saya dengan kelakuan Ahok ini sampai saya langsung turun tangan ngurus ktp pindah dari Warga Lampung menjadi Warga DKI bulan ini. Nanti saat pilkada akan saya beri pelajaran si Ahok itu, saya akan tusuk mulutnya biar dia tahu rasa he..he..he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat ye, Nick, kita samaan dong KTP Jakartaaa... TOSSSS!! Hehehehe. Bener-beri pelajaran aja buat dia, langsung coblos! Tapi jangan kelewat seru nyoblosnya tar nggak sah hihihihi. Haters gonna hate lah yaow. Btw, dari sejak tulisan ini dibuat kurang dari seminggu lalu, Anies udah bbrp kali rada blunder. Jadi kasian juga, entah apa yang ada di pikirannya.

      Delete
    2. Toss ci! hehehe..seharusnya sudah dari 2 thn lalu diurus, cuma memang cari yang mepet-mepet itu enak hehehe..

      Bener ci, apalagi pas yang bilang program kali bersih itu dirancang si kumis..wah itu sih emang minta dibully netizen seantero jabodetabek hehehehe

      Delete
  16. Pilkada Jakarta seru banget ya Le dan aku tetap berharap Ahok masih bisa lanjut mimpin Jakarta, sayang banget kalo gak soalnya... Sayang orang Jakartanya, sayang orang se-Indonesia raya juga karena kehilangan barometer pemimpin yang emang bener2 bersih dan bener2 mau kerja buat rakyatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kalo Ahok nggak kepilih lagi, temen-temenku yang dari daerah laen sudah banyak banget yang siap nampung... Tapi saya mah nggak relaaaaaa... Pengennya tetep dia jadi DKI 1 dan terus maju kalo perlu RI 2 lalu RI 1.

      Delete
  17. Dunia politik di Indo ini makin hari makin kacau emang ci, apalagi kalau udh nyangkut pilkada begini..
    Orang baik bisa disetir sama partai pendukungnya jadi org jahat n licik..
    Gw jg ngikutin kasus si om motivator kondang itu ci, lucunya awal2 dia koar2 test DNA tapi kok tiba2 dia juga yg ngebatalin.. anehhh..
    Terus suara si Kis anaknya yg gak diakui itu plek ketiplek mirip bener suara bapaknya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya yang penting akal sehat kita semua pada jalan deh, jangan sampai lengah. Nah aku tuh berharapnya Anies ini beneran orang baik dan lugu. Semoga semua dugaan soal dia yang haus dan ambisi itu salah. Tapi kok ya blunder2 melulu, entah siapa butuh siapa, siapa nyetir siapa. Om Motivator galaaauuuu hahahahaha.

      Delete
  18. Anies itu politikus, ya dia akan sebisa mungkin cari jabatan. 2014 kemarin dia ikutan konvensi Demokrat, trus downgrade mau jadi mentri, trus downgrade lagi jadi cagub.
    Dari situ aja dah keliatan.

    Anyhoo I never like the guy, something fishy going on kayaknya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Politikus murni, nggak tedeng aling-aling pokoknya apapun kesempatannya buat dapet jabatan, akan disosor. Yang pernyataan dia tanggal 8 Oktober kemarin, parah banget ya. Saya gak pernah ngefans sama beliau, cuma nggak pernah menganggap beliau jelek-jelek amat, tapi lama2 nah loh... kamu ketauan hihi.

      Delete
  19. ci..aku bukan KTP DKI tapi kayaknya lebih sreg kalo DKI dipimpin sama ahok, karen? cuma dia yang berani nentang yang "bandel" ga pandang bulu deh, mana ada yang berani begitu? banyaknya manis di kamera, dibelakang ada yang dikte :p

    soal pak anies, sedih banget kenapa ga tetep jadi mentri pendidikan huhu.. dan di video itu dia cuma senyum kecut cemberut, aku gereget sama tipikal provokator begitu *haseeemmm*

    soal jessica, sinetron aja kalah, ini sidang bisa sampe jam 12 malem kalo ditongkrongin, tapi jadi ada favorit baru nih. pak otto hasibuan salut deh pinter&sabarnya secara pengacaraa gitu loh :p

    soal sis maryono, aduh detail sekai ci hahaha.. liat di instagramnya suka geli sendiri pas ngobrol soal percintaan sama istrinya, katanya istrinya itu love expert.. eh ternyata expert lompatin pager hahhaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu KTP mana? daerah tetangga Jakarta gak? Kalo iya, ngefek loh yang Ahok lakukan ke daerah-daerah sekitarnya. Apalagi buat commuter, wuih ngebantu banget. Dia nggak jadi menteri pendidikan lagi tentu ada alasannya. Ada alasannya kenapa dia dipecat Lia, kurasa Pak Jokowi memang punya "terawangan" yang lebih mantap soal posisi orang ini hihihi.

      Eh Jessica dah hampir kelar tuh kayaknya, semoga gak diperpanjang lagi deh hihihi. Hahaha, expert lompatin pager disangka pelari gawang?

      Delete
  20. Hahahaha gw suka banget tulisan lo yg ini le. Memberikan info kepada gw yg denger berita cm setengah2 hahaha.
    Soal mas anies, tdnya gw pikir beliau bisa jd saingan kuatnya ahok. Tp ya emang bener juga bisa2 jadi blunder. Moga2 mas anies tetap teguh dengan idealisme nya ya.
    Soal mas maryono, gw jg baru tau ceritanya dr postingan di atas hahaha. Iya sangat disayangkan reputasi baik bertahun2 hancur gitu aja
    Trakhir soal jessica mirna, gw jg wondering bakal sampe season berapa baru kelar. Jgn2 nanti ilang gitu aja kasusnya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, pas tulisan ini dibikin, gue masih galau sama posisi si Anies, sekarang, udah makin jelas kalo memang dia sama partai pendukungnya setipe, cuma yang ini moles kata-katanya lebih apik aja. Tapi intinya mah sami mawon podo waeee... Idealismenya (yang kita kira masih ada), udah mbuyar.

      Delete