Friday, August 12, 2016

Abby Tamasya Ke Hamilton

Dua minggu lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 30 Juli 2016, kami sekeluarga iseng-iseng jalan-jalan ke Hamilton dengan agenda sangat sederhana yaitu: Makan dan jalan-jalan di taman. Hamilton adalah kota yang letaknya kira-kira 2 jam dari Auckland, dan jauh lebih kecil daripada Auckland walaupun merupakan salah satu kota terbesar juga di Selandia Baru. Walaupun begitu, ternyata berkesan banget untuk kita, dan sepanjang perjalanan ini walaupun hujan terus, Abby happy berat. Kenapa kita tetap berangkat walaupun prakiraan cuacanya hujan? Soalnya, tiap weekend emak bapaknya Abby sibuk melulu, mostly diisi sama latihan koor hahaha. Jelek-jelek gini, emaknya Abby dirigen koor loh. Padahal dulu ceritanya sudah mau melepaskan area per-dirigen-an pas ke Auckland ini, tapi ternyata baru kali pertama misa di komunitas Katolik sini pas baru sampai, malah ditembak langsung sama Romo-nya hahaha. Rupanya memang langkah hidup gak bisa jauh-jauh dari musik gerejawi. Lah, kok malah jadi curhat.... Back to the topic! Nah, seperti apa sih istimewanya Hamilton? Yuk kita simak perjalanan Abby tamasya kali ini.

Pagi itu kita berangkat pukul 11.00, supaya pas sampai di sana kira-kira jam makan siang, tapi bukan peak hours, karena restoran yang kita tuju untuk makan siang nanti, katanya selalu ramai. Si Abby juga sudah makan besar dulu di rumah sebelum berangkat, supaya nanti tinggal snacking. Leg pertama alias berangkatnya, mama Abby dong yang nyetir. Setelah menaklukan road trip Wellington kemarin, 2 jam sih nggak ada artinya... Tssaahhhh... Hahaha. 

Perjalanan Abby kali ini, didukung oleh Antimo anak rasa jeruk hihihi. Bukan promosi ye, tapi waktu itu gara-gara gak bawa antimo, dia jackpot. Sekarang sih, aman sentosa. Pulang pergi kasih Antimo dulu.

Gara-gara cuaca amburadul, hujan, berhenti, hujan, berhenti, di sepanjang jalan jadi malah banyak ketemu dengan pelangi. 

Tak lupa, ketemu juga dengan banyak sapi.
Kira-kira pukul 12.45 siang, sampailah kita di tujuan perdana untuk isi perut yaitu Cinnamon. Lokasinya ada di sebelah utara kota Hamilton, malah masuk ke dalam kompleks perumahan. Kafe mungil yang bukanya cuma sampai pukul 5 sore ini, termasuk top 10 restaurant di Hamilton. 

Ini lokasi kita duduk, di wing sebelah kiri, yaitu area outdoor yang disulap jadi indoor. Sudah lewat jam makan saja, tempatnya masih penuh, dan sepanjang kita di situ, tamu-tamu terus berdatangan, sampai full house.
Suasana dalam kafe yang juga penuh. Seneng banget lihat tempatnya, berasa rumahan banget. Menunya bisa pesan yang sudah di counter, atau yang made to order. Kita memilih yang made to order.
Di display ini banyak kue-kue, salad, sandwich, semuanya menggoda iman. Saya tuh tadinya mau pesan kue juga selain main course. Tapi saya tahan karena pikiran nanti sore masih mau ngafe di tempat lain. Terus menyesal dong... Soalnya yang di sini terlihat jauhhh lebih menggiurkan. 
Abby di sini nyemil grilled cheese sandwich aja yang bawa dari rumah, karena kita memang nggak mau lama-lama untuk lunch ini soalnya masih ada tujuan selanjutnya. 

Ini pesanan saya. Beef Cheek: 6 hours braise beef cheek, kumara mash, horseradish cream, and crispy kale. Enakkkkkk keterlaluan. Pipi sapinya itu meleleh di mulut, kumara mash (ubi tumbuk)-nya menyatu banget dengan saucenya, pokoknya mantap. Dan itu kale, bukan cuma garnish, tapi betul-betul garing dan enak banget. Kalau nggak inget body, pesen 2 porsi juga kayaknya ludes deh.

Ini pesenan suami. Free Farmed Pork Burger: Asian Style free farmed pork patty with peanuts, herb and chili, coleslaw, panko pineapple, teriyaki sauce, and hand cut agria chips. Seger dan enak banget. Ngga nyangka kalau pork patty bisa seenak itu. Semua terasa kualitasnya. Nggak nyesel deh makan di sini. Highly recommended. 
Selanjutnya kita menuju ke objek wisata utama kita hari ini yaitu Hamilton Garden. Hamilton Garden ini dinobatkan sebagai taman terbaik di dunia di tahun 2014 dari International Garden Tourism Network di Perancis, dan kerennya, taman ini nggak berhenti-berhenti dibagusin dan ditambah terus, sehingga katanya orang-orang, tiap tahun kemari pun, pasti ada yang baru. Taman ini luasnya 54 hektar kalau mau explore. Tetapi hari itu kita cukup ke enclosed gardennya yang paling terkenal. Bayangin kalau ke semuanya, entah berapa lama baru selesai. Sejarah sedikit, di masa lalu, Hamilton Garden ini adalah tempat pembuangan sampah dan rawa-rawa dengan banyak burung camar liar berkeliaran. Kemudian pemerintah berinisiatif membangun botanical garden di tengah kota, dan diresmikan tahun 1960. Di tahun 1980-an, Dr. Peter Sergel, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Hamilton Garden, ingin mengubah konsep Hamilton Garden menjadi taman yang bisa bercerita mengenai perkembangan budaya, dan akhirnya 30 tahun kemudian, hasilnya adalah yang bisa kita lihat sekarang, dan mirip dengan sketsa yang dulu dibuat oleh Dr. Sergel. Kita sendiri sengaja nggak terlalu banyak research soal bagaimana dalamnya, soalnya kita bener-bener kepingin dikejutkan mengenai keindahan taman ini. Nah, seberapa indahnya sih?

Pintu masuk Hamilton Garden dari parkiran. Bikin penasaran deh ada apa di dalamnya. Parkirannya luas banget, dan nggak nyangka walaupun cuaca kurang oke, plus winter, ternyata banyak juga pengunjungnya. Dan yang paling keren, tiket masuknya...NOL, alias GRATIS! 

Setelah melewati gerbang merah tadi, kita melewati information center, gift shop, dan Hamilton Garden Cafe yang tertata rapi. Dan di kiri adalah pintu masuk menuju Central Garden. 

Begitu masuk central garden, kita seperti berada di dalam dunia baru, dengan beberapa lorong menuju ke taman yang tematik. Tinggal pilih deh, mau kemana dulu. Yang di dalam central garden ini ada 3 area utama yaitu: Paradise Collection, Productive Collection, dan Fantasy Collection. Yang terkerennya lagi adalah, semua area itu wheelchair accessible yang berarti juga stroller accessible! Tujuan pertama kita adalah ke Paradise Collection. Yuk kita intip!

Begitu masuk ke Paraside Collection, kita langsung ketemu dengan pohon tinggi dan rapi yang berbentuk seperti maze. Di tengahnya ada kolam besar. Kelihatan ya kalau itu sedang hujan lumayan deras. Tapi kita tetap semangat dong. Modal payung hihihihi. Di dalam Paraside Collection, kita bisa mengexplore 6 taman yang ada. Apa aja 6 taman itu? You will be amazed!

Taman pertama yang kita masuki: Japanese Garden of Contemplation. Jujur, saya nganga sambil bengong.... BAGUS BENER! Ini kita di Selandia baru apa di Jepang sih?

Lalu ketemu dengan zen garden ini. Mana ujan-ujan bikin merinding, tapi mata adem banget. 

Kemudian ada paviliun ala Jepang dengan danau kecil di belakangnya. No wonder namanya Garden of Contemplation. Bikin hati tenang pas masuk sini. Ehhh ngga nyangka papasan dengan banyak orang yang megangin HP terus, saya kira mau foto-foto, gak taunya pada main Pokemon Go! *tepok jidat*

Neduh dulu di sini karena hujan, tapi nggak kuat lama-lama soalnya dibikin penasaran sama taman yang lain. 

Another view of the zen garden. Cakep dan super terawat. Kata suami, "Nah, kalo lihat gini, jelas kan pajak yang kita bayar larinya kemana..."

Masih di Japanese Garden, pohon-pohonnya betul-betul dipilih yang memberikan suasana seperti di negara asalnya. 

Taman kedua, English Flower Garden. Nah, katanya ini taman semestinya bagusssss banget kalau spring dan summer, karena bunga-bunganya semua bermekaran. Tetapi berhubung kita perginya winter, harap maklum, semuanya pada metong, bahkan dipasangin pita kuning karena mereka lagi refurbish lagi supaya siap untuk masuk ke musim semi. 

Area kolam di English Flower Garden, jadi kepingin balik lagi nanti kalau sudah hangat, kebayang pasti cantik banget. 

Taman ketiga: Chinese Scholar Garden. Langsung kebayang adegan Putri Huan Zhu hihhihi. Gerbangnya aja udah begini kerennya. 

Setelah melewati gerbang, kita memasuki jalan menuju gerbang selanjutnya. Serasa lagi di China beneran kan? Mana ada gazebo pula di atasnya. 

Dan inilah gerbangnya yang berbentuk semanggi. Kebayang adegan Sam Pek Eng Tay lagi pacaran nggak sekarang? Hihihi *ngarang...* Lalu ada apa di balik gerbang itu? 

Tadaaaa.... Ada danau indah, lengkap dengan jembatan klasik model Tiongkok jaman dahulu. Nah, sayangnya pas di sini hujannya derasnya mayan membara, jadi nggak gitu banyak explore dan foto sampai ujung-ujung. Tempat saya berdiri itu, atasnya adalah akar-akar yang menjulur, sehingga membentuk kanopi. Makanya akhirnya saya dan Abby berteduh di situ. Sementara, bapaknya.... kemana ya bapaknya? 

Nyebrang aje gitu loh, demi difoto di atas jembatan merah. Ckckckckck... Pake payung pula, romantis banget. Keliatan kan hujannya super deras. Bapaknya Abby sempat jalan lagi loh ke area jembatan batu, katanya di daerah sana ada seperti hutan bambu kecil dengan pohon bambu di kanan kirinya. Nanti deh pas cerah balik lagi. 

Taman keempat, Indian Char Bagh Garden. Isn't this beautiful? Indah bangetttt... Serasa beneran lagi di India. 

Tanamannya separo botak aja masih sebagus ini. Bayangin kalau semuanya berbunga, pasti juara banget bagusnya.

Dan di bangunan depan tadi, ternyata kubahnya itu dilukis cantik sekali, dan di bawah itu adalah air mancur dari marmer pahat yang terus mengeluarkan air jadi seperti mata air. Anak-anak seneng banget jalan ke tengah situ dan mainin airnya. Tapi Abby sih, turun dari stroller aja ogah hahaha. 

Belakang tempat kita berdiri, ketemu pemandangan cantik lagi yaitu Waikato River 

Nah, ini dia fountain yang tadi, dengan latar pintu masuk Indian Char Bagh Garden. Katanya sih inspirasi taman ini adalah Taj Mahal dalam skala kecil, dan Lal Mahal, sebuah area berburu dekat Kota Agra.

Berhubung anak ini males turun dari stroller, yo wis, emaknya fotoinnya begini aja hihihi. Tapi untung pas di sini aja dia males turun. Sisanya masih mau lari-larian.

Taman kelima. Italian Renaissance Garden. Baru masuk, langsung disambut oleh sebuah kolam, dengan replika patung Capitoline Wolf beserta Romulus dan Remus yang sedang menyusu. 

Sudah berasa di Itali belum? 

Begitu nengok ke kiri... Tadaaaa.... Cakepnyaaaa.... Biarpun lepek habis kehujanan, langsung foto dulu deh di sini.

Satu-satunya foto kita bertiga, difotoin sama turis dari Tiongkok yang nggak bisa bahasa Inggris. Ini satu-satunya foto yang mendingan, sisanya miring atau kepotong. Untungggggg masih ada sebiji. 

Kemudian kita turun ke bawah menuju ke area fountainnya. Dan lihat kan itu di pot-pot isinya jeruk semua. 

Gemes kan sama jeruk, jadi pingin ngambil. Kita cuma isengin si Abby, pas udah deket jeruknya, anaknya kita tarik. Hahahaha. Mana brani kita ambil jeruk sembarangan. 

Jalan sepanjang pohon jeruk menuju ke bangunan utama, girang banget sampe lari-larian.

Tiba-tiba balik, terus gaya gini, serasa foto model. Kayaknya ini jadi gaya andalan dia banget deh.

Sampai di bangunan, langsung duduk di kursi marmer. Capek ya, By abis lari-lari? Niat banget ya, sampai lantainya aja dibikin pola klasik. 

Pose bapak dan anak memandang masa depan. Prewed di sini bagus juga nih kayaknya (yakin deh kalo di Jakarta seluruh taman ini pasti dipake prewed. Mana gratis kan?)

Jalan lagi menyusuri taman. Kali ini pose sama papa

Ini anak yang copy bapaknya, atau bapaknya copy anaknya sih? 

Masih di Italian Renaissance Garden, di sebelah kanan ada amphiteater mini, seperti orang-orang jaman dahulu kalau nonton opera. Si Abby hebring juga loh manjat, dan berpose pula pas sampai atas. 

Kemudian kita lewat lorong hijau ini untuk ke garden selanjutnya. Apalagi ya?

Taman keenam alias taman terakhir di Paradise Collection, Modernist Garden. Ciri khasnya, modern, santai, dan tidak banyak detail. Saking ngga ada detailnya, kita sampai ngerasa, ini taman yang paling ngga asik hihihi. 

Inspirasinya dari west coast (American) architecture di abad 20. Mungkin nanti kalau musim panas lebih cocok kali ya di taman ini, soalnya suasananya "summery" dan "beachy" banget. Berhubung lagi winter jadi kayak ngga nyambung hahaha.

Sebelum keluar dari area Paradise Collection, foto dulu sama patung ala Mesir. Kalau patungnya pakai tombak, bapaknya Abby cukup pakai payung. 

Area selanjutnya yang kita masuki adalah Productive Collection yang menggambarkan taman yang berguna untuk bahan pangan dan berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia. Nah, di sini kita sempat lompat-lompat bolak balik dari Productive Collection ke Fantasy Collection. Tapi yang jelas semuanya bagus banget. 

Taman pertama dari Productive Collection: Te Parapara Garden. Ini adalah taman asli Maori yang menggambarkan pertanian ala Maori dan juga tempat penyimpanannya yang berupa lumbung besar dan lumbung kecil. 

Totem-totem ini menggambarkan dewa pelindung dari suku Maori. 

Contoh lumbungnya untuk menyimpan bahan pangan. 

Yang ini adalah lumbung besar. Lihat deh, itu tanahnya, rapi minta ampun pengaturan gundukannya. Percaya atau tidak, tanah ini masih dipakai untuk produksi loh! Jadi jangan bingung kalau ke sini di musim lain, bisa lihat tanamannya tumbuh dan akhirnya dipanen. Yang ditanam di sini adalah kumara alias ubi, makanan pokok utama orang Maori. 

Foto dulu ya. Pengunjung sih nggak bisa masuk lewat pagarnya. Tapi memang ada waktunya berkebun dan panen beneran, kerjasama antara Nga Mana Toopu (organisasi persatuan Maori) dengan Hamilton City Council. 

Lanjut lagi, kita masuk ke Fantasy Collection. Namanya saja sudah Fantasy ya, jadi memang modelnya yang di dunia khayal alias out of this world. Di bagian depannya saja sudah ada patung Alice in Wonderland dengan Madhatters dan White Rabbit lagi pesta minum teh. 

Taman pertama Fantasy Collection: Tudor Garden. Bagus dan rapi banget! Serasa istana dengan taman yang dibentuk seperti maze yang detail. Di ujung tiangnya juga ada berbagai mahluk fantasi dengan detail yang sangat ciamik seperti naga dan unicorn. 

Taman kedua Fantasy Collection: Chinoiserie Garden. Istilah Chinoiserie sendiri artinya adalah barang-barang oriental yang diproduksi oleh seniman Barat dan sangat populer di abad ke 18. Rumah yang ada di situ adalah replika dari "Chinese House" yang terletak di Stowe Landscape Garden, UK. 

Taman ketiga Fantasy Collection: Tropical Garden. Kalau ngelihat taman ini, kerasa lagi winter nggak sih? Keren banget, walaupun winter, tapi taman ini suasananya tetap "hangat" dengan tumbuhan dari area hutan tropis. 

Nggak salah ya ini jadi bagian dari Fantasy Collection. Bisa ada "musim panas" di tengah musim dingin. Nah, nanti kita bakalan balik lagi ke area Fantasy Collection, tapi sekarang kita nyambungin dulu Productive Collection-nya. 
Taman kedua Productive Collection: Herb Garden. Isinya adalah berbagai tanaman yang berguna untuk kesehatan dan untuk bumbu masakan, dan jumlahnya itu banyak banget, sampai ratusan, semua diberi label secara jelas. Karena musim dingin, jadi pada botak botak dikit ya.  

Ini salah satu contohnya, Spanish Lavender. Sayang lagi nggak keluar sama sekali bunganya ya.


Taman ketiga Productive Collection: Kitchen Garden. Kalau mau singkatnya, ini taman sayuran. Bagus banget, sampai dindingnya aja itu isinya tanaman sayuran. Tapi ya memang kondisi sekarang lagi botak botak. Nggak salah sayur kalau winter mahal bener. Lah ini aja yang di garden pada nyilem semua alias nggak ada. 

Nih, sampai dilindungi begini loh, padahal cuma cabbage alias kol hihihi. Nah kalau garden ini pengolahannya kerjasama dengan Waikato Institute of Technology. Jadi muridnya juga bisa belajar dan melakukan penelitian di sini. 

Taman keempat Productive Garden: Sustainable Backyard. Di area ini, kita diajarkan bagaimana cara membuat halaman belakang rumah menjadi produktif. Di situ diajarkan cara membuat kompos, tanam sayur, piara ayam, dan lain-lain. Nih si Abby lagi ngitung ada berapa ayam yang nangkring di situ. "Four, Mamaaa..."

Nah, ini contoh halaman belakang yang ditanami oleh sayuran. Ada scarecrownya, beneran serem itu hihihi. Kalo malem-malem saya bisa ngibrit deh liat itu. 

Nih, kita balik lagi ke Tudor Garden di Fantasy Collection, soalnyaaa.... si Abby mau foto sama Castlenya Elsa. Itu menurut dia Castle Elsa, malah minta dibukain pintunya. Ealah... dikunci kali Nak. Dan saya jamin kalau dibuka pun isinya alat berkebun hihihi.

Nah, sekali-sekali foto bergaya tolak pinggang sama mama. Nah, kalau ini siapa yang copy gaya siapa?

Kiss-kiss, cup cup mwah!

Nah, karena lewatin Tropical Garden lagi, mari mejeng di jembatan kayu-nya. 

Dan mejeng juga di area hutannya, sebelum akhirnya menuju ke pintu keluar. 

Dan inilah akhir perjalanan kita di Tropical Garden. Waktu sudah sore mulai sore soalnya, dan kalau musim dingin, lebih cepat gelap. Gimana Hamilton Garden ini? Luar biasa kan ya? Nanti kapan-kapan kita balik lagi di musim yang berbeda.
Namanya dingin, perut (dan mata) lapar, kita mampir dulu ke Hamilton Garden Cafe untuk nyemil. Hamilton Garden Cafe ini karena lokasinya ada di sebelah Turtle Lake, jadi sering dipakai untuk event, soalnya beneran indah pemandangannya.

Kita duduk di area extensionnya, supaya bisa menatap langsung keluar dari balik layar transparan. 

Pilihan cemilan di cafe-nya. Nggak gitu napsuin dibandingkan dengan di Cinnamon tadi.

Favorit saya, Carrot Cake. Saya lihat paling laku dan sudah mau habis. Sayangnya, it was very dry! Penampilan oke, rasanya biasa banget. Tuh, jadi nyesel kan kenapa nggak  beli kue di Cinnamon tadi hehehe. Untung suasananya di sini oke, bisa lihat keluar ijo-ijo. 

Vanilla Latte 

As usual, biarpun dingin-dingin, tetep makan eskrim boysenberry. Eh kali ini nggak dihabisin, terpaksa bapaknya ngabisin, dan dia nyemilin seluruh biskuit bawaan dari rumah. 

Sesekali pose makan yang rada sopan. Biasanya sambil mangap. 

Habis nyemil, kita foto dulu di samping turtle lake. As usual, hujan lagi hehehe. Makanya fotonya pake payung, dan kita sama sekali ngga nemu turtle. 

Foto sekali lagi turtle lake dari kejauhan. Di gazebo kiri itu ada yang lagi nikahan loh. Dingin-dingin pake baju strapless, outdoor pula... brrr.... Nah,  kebayang ya kalau lagi summer, itu ada panggung, lalu orang bisa duduk-duduk sambil nonton show dengan latar belakang danau. Mantab bener! 
Karena habis nyemil dan belum waktunya makan malam, plus Abby minta ke playground melulu, kita lanjutkan perjalanan ke Hamilton Lake (Lake Rotoroa) yang lokasinya cuma 10 menitan saja dari Hamilton Garden. Pokoknya kota ini mungil jadi kemana-mana deket dan nggak ketemu macet. Saya baca, katanya public playground di Hamilton Lake ini bagus banget. Nah sebagus apa sih?

Foto ini sebetulnya ngga nyambung sama acara, tapi PENTING karena kita sekeluarga penggemar berat KFC. Kapan lagi nemu mobil di jalan, plat nomernya "KFC 4 U". Ternyata ada yang lebih gokil ngefans sama KFC. Jadi memberikan ide buat saya, untuk bikin plat nomer "KFC FTW". 

And here we are, Hamilton Lake. Dingin, basah habis hujan, tapi bikin kita semua gembira.

See the big playground? Bagus banget, dan kerennya lagi semua gratis tis tis tis tis! Bersih, terawat, juara deh. 

Pokoknya kalau bawa anak ke sini pasti girangnya minta ampun, bisa guling-gulingan di rumput. Di belakang sana ada area hijau besar, itu picnic areanya. 

Ayunan dengan berbagai ukuran mulai dari bayi sampai dewasa, sambil main ayunan bisa menghadap danau. Ngiler nggak? 

Dan ini playground khusus untuk anak balita. Disekelilingnya dikasih pagar kaca transparan dengan pintu gerbang, supaya anak-anak tetap bisa diawasi dan tidak lari-larian keluar area. Si Abby ya langsung berbinar-binar di sini dan main sepuasnya walaupun agak basah. 

Pemandangan danau di kala senja, sayang sudah mau gelap ya. 

Area pejalan kakinya juga luas dan bersih sekali mengelilingi danau. Jadi jangan heran walaupun sore-sore, masih ketemu orang jogging, bersepeda, dan  main Pokemon Go. Ini saya gak boong, banyak banget orang muter-muter main Pokemon. 
Ada juga prosotan super tinggi. Sayang basah. Kalau nggak basah serius saya kepingin banget nyobain naik di situ.

Bukan cuma anaknya yang bahagia, orang tuanya kayaknya jauh lebih bahagia hihihih... 


Balita = Bawah Limapuluh Tahun.

Berlagak lagi boat racing

Kemudian dilanjutkan dengan berlagak lagi car racing. Dua-duanya mukanya sumringah bener. 

Ini mainan apa sih? Pokoknya asik deh ngesot-ngesot ke kanan kiri pakai tumpuan body sendiri. Beneran deh, mainan di sini kayaknya bikin seneng semua usia.

Nyobain juga dong. Tapi berhubung body kelewat kaku, ngesotnya kagak bisa jauh kayak ABG.

Ih, muka saya girang bener deh main ayonan dari tali gede gini.

Foto paling absurd dari seluruh foto di dalam trip. Muka saya lagi nggak jelas ngapain, dan sambil dilihatin anak.

Selain mainan fisik biasa, juga banyak tersedia mainan edukasi, salah satunya ini, mainan pompa air.

Muter-muter di stick kayak pole dancer wannabe.

Gayanya udah oke belum? Padahal yang ini mah orangnya nggak muter, cuma gaya doang.

Jalan sedikit dekat pintu gerbang, ada lokomotif tua nih F230 yang didonasikan tahun 1957. Foto dulu dong.

Duduk manis di depan lokomotif. 

Udah keren kayak masinis? 

Jalan sedikit lagi, ketemu dengan Rose Garden. Tengahnya ada gazebo putih. Kebayang kalau bunganya lagi keluar semua, pasti amazing banget. 

Ini foto di sini Abby yang minta loh, lalu dia minta secara khusus supaya kameranya posisinya vertikal, baru mau difoto. Nurunin siapa ini? 

Posisi mau cium bunga mawar, eh tapi malah ditiup mawarnya

Cantikan mana nih Om, Tante? Abby apa bunganya? 

Nah, keliatan kan ya posisi rose gardennya, belakangnya itu Hamilton Lake. Will be back here kapan-kapan. 
Untuk makan malam, kita menuju ke arah Victoria Street yang merupakan downtown dari Hamilton. Jaraknya cuma 10 menit dari Hamilton Lake. Saat itu waktu belum pukul 6 sore, tapi cari parkir aja sudah susah loh. Akhirnya kita parkir jarak 1 blok dari restaurant tempat kita makan. 

Inilah restaurant yang kita pilih untuk makan malam di Hamilton. Sebenarnya restaurant ini ada juga di Auckland. Tapi kita makan ini soalnya udah kangen sama Mexican Food, dan restaurant ini masih masuk top 20 di Hamilton, suasananya juga menarik banget.

Masuk sini serasa masuk ke dunia berbeda, temaram, heboh aksesoriesnya. Penerangannya temaram, bahkan di meja pakai lilin, lalu ada 4 hot sauce dengan rasa berbeda. Menunya ini ada di placemat, dan diganti regularly sesuai musim oleh head chefnya. 

Nih suasana di bar-nya. Rame banget kan hiasan dindingnya, sangat penuh warna. Segala botol tequila dan hard liquor berderet-deret. 

Hiasan restaurannya juga campur aduk, amburadul, tapi seru. Kalau ada yang pernah ke US dan makan di Bucca Di Beppo dan ingat aksesorisnya, ini serasa versi Mexican-nya Bucca Di Beppo. 

Nih waktu saya tiba, masih sebelum pukul 6 sore, masih sepi ya. Tungguin 30 menitan, langsung full house. Untung deh saya datang lebih awal, kalau nggak terpaksa duduk di high chair. 
Saking randomnya, sampai ada meja doa yang isinya patung Yesus pakai sombrero, lengkap dengan seabrek lilin dan aksesoris tengkorak
Ready for Mexican fiesta? Di bawah ini adalah pesanan kita.
Salsa Roja with House Made Corn Chips. Biasa yang kayak gini gratis nih buat appetizer, atau bayar tapi bisa diisi ulang kayak di Chili's Jakarta. Tapi ini bayar, sedikit, terus nggak bisa refill hahahaha. Tapi no worries, pesanan kita banyak!


Quesadilla with braised pork shoulder, pumpkin, mint, leak, and salsa borracha. It's pork, of course it's good hahahaha.

Ada 3 soft shell tacos yang kita pesan. Ini yang pertama. Beef arrachera, whipped garlic, grapes, saffron stained apple, almond crumbs. This is the best of all three according to us. 
Ancho dry rubbed prawn, chili, coriander. Enak, tapi kurang nendang heatnya, jadi hrs ditambah hot sauce. 

Pork Belly with chili and pineapple salsa, plaintain chips and pineapple. Justru ini yang paling biasa di antara tiga. Tapi semuanya tetep enak. 

Mushroom Chimichangas with green olive, leek, queso, cactus, and salsa asada. Wuih, ada kaktusnya hahaha. Tenang, gak brasa kok. Walaupun ini menu bisa dibilang vegetarian, tapi surprisingly very good. 

Nih contoh salah satu hot sauce yang tersedia. Head Chef dari Restaurant Mexico ini punya resep pribadi untuk 4 jenis hotsauce yang dia bikin sendiri: The Chipotle, The Green Tomatillo, The Mango, dan The Red. Semuanya enak dan segar, tapi kalo soal pedas, kayaknya masih pedesan sambel cap jempol hahaha. 

Taco taco taco.. yummy in my tummy!

Ayo tebak, siapa yang pesen margarita, dan siapa yang pesan Mexican soda?

Now you know hahahhaaha. Setelah sekian lama nggak minum alkohol, saya mesen margarita loh. Dan saudara saudariku, this margarita has a LOT of tequila. Gile kenceng banget sampe gliyengan, dan akhirnya sisanya suruh suami abisin. Dia aja yang jago minum bilang kalau tequilanya kuat bener, apalagi saya. Mesennya doang saya gaya, minumnya keok. 

Last one, crisp cumin spiced squid with roast egg plant pico de gallo and lime crema. Enak, empuk, gurih, makan cumi serasa makan mie saking lembutnya. 

Nih pas saya mau pulang, udah penuh ajeeee.... 

Hayo saya ambil foto ini di mana? Buat yang jawab di dalam wece, jawaban anda tepat sekali! Plus, pas duduk di kloset, pemandangan depannya adalah lukisan Bunda Maria gede. Bikin deg-degan kan.
Setelah terpuaskan dengan makan enak seabrek, kita jalan-jalan dikit di Victoria Street untuk nurunin makanan.

Ternyata di kota kecil segini, ada casinonya euy! Skycity pula, sama dengan yang di Auckland. Kayaknya di Jakarta perlu ada juga deh, mayan menggerakan perekonomian (habis gitu saya dihajar FPI). 

Ada alun-alunnya juga loh! Seneng ya, lihat kota tertata rapi begini. 


Terakhir jalan deh ke parkiran. 
Pulang-pulang, gantian papa Abby yang nyetir (under influence of secuil margarita sisa istrinya hahahaha). Selesai deh jalan-jalannya. Biarpun cuma sehari dan nggak pakai nginep, tetep seru kan? Objek wisatanya bagus, wisata kulinernya juga dapat, jadi kita pulang dengan hati gembira. Sampai ketemu di Abby Tamasya berikutnya ya! 

30 comments:

  1. Gede banget ya taman nya... Ngingetin sama buchart garden di Victoria Canada...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue belum pernah ke Victoria, Canada, Man. Memang banyak kok thematic garden di dunia ini. Tapi ini salah satu yang menurut gue oke banget sizenya buat bawa anak, dan temanya bagus-bagus.

      Delete
  2. Waw bagus ya tamannya, Abby tambah imut deh, gw suka photo Abby yang kaya model, bagus banget :) jalan2 terus nih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh, kayak model kebanyakan gaya ya Lid? Jalan-jalan yang deket2 aja Lid kalau weekend. Irit :).

      Delete
  3. wahhh si Abby kok tiba2 udah gede banget ya keliatannya? hehehe....tamannya gede banget, bagus2....dan sepiii. Puas dehh kalo sepi gitu....bisa foto2 tanpa ada orang jadi latar belakangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kalo elu yang ke situ Ci, foto-fotonya bakalan buanyaaakkk banget hahahaha. Berbagai gaya ada semua. Sebenernya gak sepi banget loh, rame juga, cuma momentnya aja pas.

      Delete
  4. Cantikan Abby doongg..hehe tamannya bagus bangettt...adem sejuk, sayangnya ujan ya cii.. >.< klo ngga bisa lebih puas explorenya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo sampe cantikan bunganya, tar mamanya Abby nangis hihihhi. Ujan sih, tapi tidak menyurutkan semangat.

      Delete
  5. Ngeliat foto aja mata dan pikiran jadi relax, apakabar kalo langsung mengunjungi ya :D Wahh.. Alkoholl.. Sudah lama dan masih lama sampai nyentuh lagi :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, nggak perlu kok Py minum alkohol. Kayaknya malah lebih enak loh nggak minum hihi. Kalau dulu cici minum karena kebutuhan socialize aja di dunia konsultan. Or else, males.

      Delete
  6. Abby manis sekalii. ih gemessss! foto yang posenya kembaran sama bapaknya lucu sekali ya hihihi.

    Tamannya baguussss, aku mau kesanaaaa


    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo sini kemariii... ke Auckland dulu, baru nyetir ke Hamilton :)

      Delete
  7. One day trip-nya puas banget ci! Wisata dapet, kuliner juga dapet. Yang penting satu keluarga hepi yaa.

    Nah, Taman Bunga Nusantara itu mirip-mirip sama Hamilton Garden ini, bedanya ya di TBN bayar tiket masuk LOL Chinese Garden-nya cakep banget! Komplit sama gerbang dan jembatan merahnya. Bisa sekalian post-wedding photoshoot lagi tuh ci, hahaha.

    Anyway, si Abby cepet banget gedenya ya perasaan. Kayaknya di tiap postingan baru makin tinggi aja anaknya. Stay happy and stay healthy ya kalian di sana!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus maksimal tapi tetep santai ya Jane hehe. Cici kayaknya ke TBN saking udah lamanya sampe nggak tau loh, kalau liat di foto-foto sih bagus ya. Yakin kalo di Indo mah udah jadi tempat foto. Di sini mah aman, palingan banyak yang main Pokemon Go. Abby emang ngembang banget di sini, pada sempit bajunya.

      Delete
  8. Wah..tamannya kece dan rapi ya..tp kik berasa ngiler sama semua makanannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Taman cakep, makanan enak, komplit deh.

      Delete
  9. kalo papinya jayden mah selalu sibuk di gereja hahahaha...

    tamannya cakep banget le... bener loh, kalo ada taman kayak gitu disini pasti laku buat foto prewed... banyak tempat yang bisa dieksplore kan hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, sibuk boleh, tapi jangan kelewat sibuk sampai kegiatan cuma berpusat di gereja kali ya. Tamannya bagus dan yang terpenting, BERSIH!

      Delete
  10. mak.. gosipnya klo winter boleh makan banyak hahaha soalnya cadangan lemak kebakar hihi
    tamannya cakep cakep dan detil banget ya.
    mamak abby kok rajin sih nulis.. ini mo mulai yang jepang malas bener.. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, masalahnya, kalo winter banyak yang mikir begitu, ujung2nya... makan terus sampe besar pemasukan drpd pengeluaran hihihi. Nulis itu bukan soal rajin sih Yul, soal niat haha.

      Delete
  11. Hi, mo tanya, di resto Mexico itu Abby makan juga? Menu yang mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Lisa, Abby makannya sudah siapin dari rumah. Di situ dia paling nyemilin tortilla chips.

      Delete
  12. salam kenal... selama ini saya menjadi silent rider, selalu mengikuti jejak perjalanan sejak pindah ke NZ (maklum, saya NZ Freak! walaupun gak tau kapan ke NZ, haha). ceritanya seru... detail dan banyak potonya.. like it! menunggu kejutan-kejutan selanjutnya ci.. anyway, abby cantik yak.. hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Aris, hehe, kok bisa jadi NZ Freak tapi belum kemari? Ayo diniatin berangkat. Makasih Abby dibilang cantik :)

      Delete
  13. Wah keren banget Hamilton Gardennya ci, langsung saya masukin ke daftar yang harus dikunjungi kalo ke NZ :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, tapi kl ke NZ ikut tour gak diajak kemari loh. Mesti jalan sendiri.

      Delete
  14. Waduh itu tamannya bikin mupeng, playgroundnya apalagi! Hahahah aku jadi kepengen banget ke playgroundnya maen di perosotan2 dan ayunan2nyaaaa :D
    Mudah2an orang sini makin teredukasi soal sama-sama merawat public places begini, meskipun entah kapan baru pada bisa sadar... (inget minggu lalu di parkiran mall ada cewe masih muda, bawa mobil seharga setengah milyar, eh buka jendela, buang buanyak sampah dari tissue ampe gelas plastik gitu aja di parkiran indoor mall. Trus ngeloyor pergi. HUFFFHHH)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kekayaan ga menjamin empati. Malah kalau di Indonesia seringkali orang kaya suka menganggap dirinya berhak melakukan apa aja. Kalau orang ngga berpendidikan, msh agak bisa dimaklumin. Kalau kaya dan berpendidikan, nah itu otaknya dipertanyakan hahahaha.

      Delete
  15. ngeliat gambarnya aja udah bikin hati sejuk, gimana kalo kesana langsung ya ce.. haha
    Baguss banget , udaranya sejuk.. bikin hati nggerumbek gak jelas kalo tinggal disitu.. Udara disitu bikin kangen sm orang hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha kangen sama siapa hayoooo... Kamu doang kali yg kangen krn lagi berbunga-bunga.

      Delete