Thursday, June 23, 2016

Abby Tamasya Ke Wellington - Bagian 2

Kita lanjut lagi nih Abby Tamasya-nya edisi New Zealand ke Wellington. Nah, sebenernya nih, dari kemarin tuh kita belum bahas soal Wellington-nya loh, soalnya seharian kemarin isinya perjalanan menuju Wellington dengan lewat kota-kota lain. Baru deh nih, di hari kedua, kita mencoba explore Wellington seharian, tapi disesuaikan dengan pace bawa anak kecil yang harus santai, plus menyenangkan. Kalau belum baca bagian 1, mampir dulu ya di sini. Sekarang kita lanjut ke hari kedua.

Minggu, 5 Juni 2016

Masih ingat kan pas kemarin malam itu kita terpaksa parkir di jalan karena nggak dapat jatah valet parking? Nah pagi ini, kita atur waktu betul-betul, supaya pas sehabis sarapan, suami bisa langsung ambil mobil, dan berharap bisa dapat parkir valet. Jadi... apakah... akhirnya... kami berhasil dapat jatah valet parking??!! *ngomong ala Silet...*. Kita nantikan setelah pesan-pesan berikut ini hihihihi...

Untuk sarapan pagi, lokasinya di Portlander Restaurant di lobby, yang katanya juga salah satu restaurant terbaik di Wellington. Breakfast di Portlander ini banyak sekali yang puji, katanya sih bahannya fresh dan rasanya enak. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan sarapan di hotel-hotel berbintang di Asia yang heboh ya. Kalau di NZ, segini saja sudah cukup wah. Kita turun tuh kira-kira pukul 8.30 pagi, dannnn.... GILA RAMENYA! Kita sampai harus duduk di meja tinggi pakai tall chair lantaran meja biasanya sudah keisi semua. Kapasitas memang tidak terlalu besar. Bahkan sampai ada yang rela duduk di sofa loh supaya bisa makan pagi itu. Gara-gara long weekend, hari Minggu malah ruame banget. Nah saking ramenya, saya hari itu betul-betul nggak bisa foto suasana. Gimana mau foto, kalau ambil makanan saja antri kayak di kafetaria kantin. Untung orang sini sangat biasa antri, jadi tertib banget, mulai dari ujung, ambil piring, lalu melewati buffetnya sampai selesai. Kalau mau balik ambil ronde kedua, ya antri lagi dari ujung hihihi. Tapi sekali ngambil sebetulnya sudah lebih dari cukup kok. Saya sempat balik ronde kedua karena pas ronde ke 1 kehabisan veal sausage. Ternyata pas balik ronde kedua, masih tetap nggak ada. Terasa banget hari itu understaffed restonya, sampai kitchen terlihat heboh banget (karena modelnya open kitchen di belakang jadi kelihatan semua tuh). Cuma tetap kok semua terlayani dengan baik, bahkan yang minta telur made to order tetap dilayani satu per satu.

Ini piring punya suami. Middle bacon, streaky bacon, hashbrown, mushroom, potato, wheat toast, and chocolate danish.
Setelah sarapan, saya ke atas untuk beres-beres, plus nyiapin makan siang Abby, sementara Papa dan Abby mengadu peruntungan untuk pindahin mobil ke hotel.

Pagi itu cuacanya ceraaahhh banget, walaupun tetap saja semeriwing anginnya. Nah, Papa Abby parkirnya 1 blok dari hotel, pas di seberang gedung itu. 

Dan anak ini santai aja gak pake jaket. Soalnya jaketnya masih di atas. 

Jam check out hotel di Australia dan New Zealand bukan pukul 12 siang seperti rata-rata hotel di Asia, melainkan pukul 10 pagi. Makanya pukul 10 ya antriannya heboh kayak gini, semuanya mau keluar.
Karena banyak yang check out itu, kita malah jadi beruntung, karena apa? Karena kita jadi dapat spot parkir! HORE! Kunci sudah diserahkan, mobil sudah diparkirkan oleh petugas valet, dan kita bisa tenang menikmati hari. Tujuan pertama kita hari itu adalah ke Sacred Heart Catholic Cathedral untuk misa. Seperti yang saya bilang kemarin, hotel ini lokasinya memang mantab sekali. Mau ke katedral, ya tinggal jalan kaki aja 10 menitan. Sepanjang jalan juga kita dimanjakan dengan pemandangan kota yang super cantik.

Wellington ini adalah ibukota dari Selandia Baru. Bukan Auckland loh ye! Auckland memang lebih besar dan lebih terkenal, tapi itu bukan ibukotanya. Nah, karena Wellington ini ibukota, terasa banget perbedaannya dengan Auckland. Kotanya jauh lebih rapi dan teratur, lebih banyak juga gedung-gedung klasik, dan terasa lebih "educated" dibandingkan dengan Auckland. Nggak enaknya, selain parkir yang susahnya amit-amit, kotanya juga lebih berangin, makanya nggak salah Wellington sering disebut the Windy Welli. Langit boleh terang benderang, matahari mencorot, tapi anginnya wer....wer... wer... Beruntungnya kita hari itu, anginnya lagi santai alias hampir nggak ada. Such a great day to explore the city!

Nemu gedung cantik seperti ini sering banget, karena daerah kita tinggal isinya kedutaan dan gedung pemerintahan. 

NZ Parliament House alias gedung DPR-nya Selandia Baru, Cantik banget, depannya lapangan hijau luas, siapa saja boleh masuk.

Yang kocak, pas kita di sana, ternyata lagi ada orang-orang pada cosplay. Tuh yang baju biru jadi Cinderella, lalu yang baju pink rambut biru itu... entah siapa. Ada yang bisa bantu? Itu si Hatsune Miku bukan sih? Hahahaha. Maklum gak paham. Tokoh-tokoh lain juga banyak, tapi gak enak fotonya, jadi dari jauh aja. 

Kontras banget ya, gedung DPR halamannya dipake buat cosplay. Mana ada yang main drone pula. Bener-bener jadi taman rakyat. Yang belakang itu yang bulet disebutnya The Beehive (sarang lebah) 

Parliamentary Library, tempat para anggota parlemen melakukan research. Kalau di Indonesia kira-kira perpustakaannya dipake buat apa ya? (kemungkinan sih buat ngabisin anggaran).

Katanya sih katedral lokasinya di seberang Parliament. Begitu kita nyebrang ketemu ini. Bener sih gereja juga, tapi gereja Anglikan hihihi. Jalan lagi nanjak ke sebelahnya...
Ketemu deh langsung dengan Sacret Heart Cathedral. Kok keliatannya suram gini ya? Pas naik tangga kecil itu, baru deh keliatan di atas ternyataa.....

Ini dia gerejanya. Gede! Dan bangunannya cantik banget. Nggak kayak gereja Katolik ya? Lebih kayak museum hihihi.

Dan langsung dong ada yang bergaya di depan gereja. Kaki pake acara disilang. Ckckckck....

Suasana di dalam Katedral Sacred Heart, sederhana dibandingkan dengan yang di Jakarta. Malah atapnya mengingatkan sama rumah di Jawa ya hehehe.

View dari tempat duduk kita. Nggak lama kemudian gerejanya tambah ramai sampai ke belakang. 

Paduan suara yang jumlahnya cuma 5 orang dan 1 organis. Itu di deretan belakang yang melebar itu adalah pipe organ. Lalu organisnya di sebelah kiri (kelihatan gak ada yang pakai baju putih?). Supaya bisa lihat dirigen, di depan dirigen ada kamera kecil yang tersambung dengan monitor di depan pemain organ. Jadi tetap bisa jaga hitungan. KEREN!

Habis misa, ketemu lagi dengan Cici Kaeshi. Ada lumayan banyak juga komunitas Indonesia yang ke gereja hari itu, dan umumnya keluarga muda semua (kalau di Auckland lebih banyak yang tuwir2 hehehehe).

Foto dulu sebelum berpisah, dan entah berapa lama lagi bakalan ketemu kembali. Ortunya sudah pada siap, anak-anaknya cuek semua, termasuk baby Kaeli yang molor hihihi.

Lanjut lagi naik stroller sepulang gereja. The weather was really nice! 

Foto sekali lagi di depan Beehive, kali ini yang cosplay sudah pada bubar. Sayang banget anaknya nggak lihat kamera, malah takjub lihatin gedung. 

Patung di depan Parliament House itu adalah patung 'King Dick' atau Premier Richard John Seddon, Perdana Menteri NZ yang menjabat terlama dan dianggap sebagai salah satu pemimpin terbesar NZ yang mengubah banyak kebijakan politik NZ menjadi lebih modern, salah satunya adalah mengenai dana pensiun. 

Wellington Railway Station, jauh lebih keren daripada stasiun kereta api di Auckland. Di Wellington sendiri, public transport nampak lebih mumpuni. Begini memang bagusnya, ibukota negara sebagai patokan percontohan. 

The phenomenal Baby Donald Trump, dimana-mana si calon presiden satu itu jadi bahan becandaan orang-orang.
Siang itu kita mau lanjut untuk ke Wellington Cable Car. Tapi sebelumnya tentulah mampir dulu untuk makan siang. Arizona Bar and Grill yang terletak di Hotel Intercontinental ini direkomendasikan oleh Airin, katanya burgernya enak plus lokasinya sekalian jalan ke arah cable car station.

Sebelum lebih banyak jalan kaki, mari isi perut dulu. 

Baru juga duduk, langsung disodorin kids menu yang belakangnya ada kertas mewarnai, dan segambreng pensil warna.

Enaknya makan siang di restaurant di NZ (plus di sebagian besar negara, tapi kenapa negara kita tuh ngga) adalah air putih gratis.
Namanya juga bar and grill, suasananya ya begini, plus layar TV besar di kiri (gak kefoto) dan sporting equipments. 

Sengaja milih kursi di deket jendela, biar bisa ngintip orang-orang lalu lalang. 

Fish and Chips (kid's menu). Tepungnya enak, tapi fishnya aneh. Fishnya itu market fish of the day, entah hari itu jenisnya apa yang jelas bukan cod atau snapper, pokoknya nggak cocok dibikin gorengan model begini. Tapi namanya anak-anak, asal ada gorengan dan ditepungin, aman! 

Punya saya: The Pulled Porky Burger. Slow-cooked, smoked, and pulled pork shoulder, BBQ Sauce, butter crunch, green apple salsa, aioli on brioche bun. Deskripsi nyontek dari internet hehe. Rasanya? Enak. Tapi nggak sampai super istimewa. Plus, menu burgernya gak comes with fries, beneran burger doang.  Friesnya? Nyomot dari anak. Hihihi.

Pesanan suami: Buffalo Bill's Beef Burger. Organic salad, aioli, tomato, gherkin, bacon, beef patty, BBQ Sauce on sesame seed bun. Enak, tapi nggak sampai super. 

Nih, saos-saosnya labelnya kocak abis. Perhatiin deh tulisannya, bikin ngakak pas kita baca di sana. 

Pipi merah makan kentang

Tinggal jalan kaki nyeberang dikit, sampailah kita di stasiun cable car. Sebelah mana sih stationnya? Tuh di gang kecil yang sebelah supermarket countdown. Lihat aja tanda merah-merah bentuk cable car. 

Dan inilah antrian di dalam gang buat beli tiketnya. Kalau mau beli two ways 7.5 dolar/orang, tapi kita ambil yang one way saja seharga 4 dolar/ orang karena kita akan turun balik ke city melewati jalur istimewa. Khusus weekend pas kita datang itu, anak-anak naik gratis. Kita luar biasa beruntung karena minggu ini cable car beroperasi terakhir sebelum tanggal 7-nya direnovasi dan baru akan dibuka lagi di bulan Agustus.

Antri nungguin keretanya datang

Nih tiketnya simpel banget. Pas masuk langsung kita scan saja.

Horeee.. keretanya tiba! Nunggu dulu yang mau keluar dari sisi kiri, baru nanti pintu masuk dibuka dan kita bisa langsung masuk.
Tampak depan cable car. 

Langsung ambil posisi duduk paling depan soalnya ada space kosong buat taro stroller. Keretanya langsung dipadatkan sampai penuh, tapi masih sangat manusiawi, nggak seperti pas naik kereta gantung di Hakone, Jepang. 

Pas kereta bergerak dan mulai jalan, Abby memandang keluar dengan takjub. 

Di terowongannya malah dikasih LED Lights yang kedap kedip kayak pelangi. Kalau malam katanya bakalan lebih keren lagi suasananya. 

Di tengah jalan ketemu dengan cable car yang arah turun. Sempat berhenti sebentar untuk saling menyapa, dan masinisnya malah sengaja berpose untuk kita pas kita arahin kamera. 

Abby juga matanya jelalatan ngelihat penumpang di cable car sebelah. 

Foto satu-satunya yang anaknya senyum manis banget ngadep kamera. Sampai orang yang di depan kita ngomong, "That's a precious smile!"

Tuh, penuh kan penumpangnya. 

Nih penampakan relnya, dan pelan-pelan kita naik terus ke atas.

Dan akhirnya, ketemu pemandangan secantik ini! Paham kan kenapa kita tadi milih duduk paling depan? Hihihi...

Nggak sampai 10 menit, sampai deh di stasiun  atas alias Kelburn.

Stasiun yang super simpel, tapi keren. 

Jalan sedikit ke samping stasiun, ada lookout dengan pemandangan cantik begini (plus ngebayangin, berapa harga rumah di depan kita itu hahaha).

Foto dulu bertiga, difotoin sama turis dari Brisbane.

Gaya dulu ya.

Di stasiun Kelburn juga terdapat Wellington Cable Car Museum yang menyimpan 2 kereta asli edisi lama. Museumnya kecil, nggak sampai 10 menit juga kelar. 

Dan juga ada diorama ini, yang bikin kaget banget soalnya kirain orang beneran. Asli! 

Bisa melihat kira-kira mekanisme kerja cable car-nya gimana. 

Untuk jalur turun menuju kota, kita tidak naik cable car lagi, melainkan turun menyusuri Wellington Botanic Garden. Ini semacam Kebun Raya Bogor yang posisinya betul-betul di tengah kota, tapi cantik dan penuh dengan berbagai vegetasi. Kalau diukur sizenya sih, KRB masih jauh lebih besar. Cuma yang di sini jauh lebih bersih (karena manusianya juga sih ya). 

Ikutin saja papan petunjuk arahnya. Kalau mau langsung jalan kaki menuju kota, kira-kira 40 menit lama jalannya. Tapi kita mana bisa sih langsung? Pasti mampir sana sini dulu. Pokoknya ikutin aja petunjuknya, gampang!

Biar anaknya udah gede, ternyata nih stroller masih sangat kepake. Biarpun pathnya mulus, tetep aja gempor kalo disuruh gendong anak ini. 

Cakep, ijo, terawat! Rumputnya mulus mengalahkan wajah saya yang bruntusan ini. 

Menyusuri pepohonan, dan syukurnya jalanan terus menurun.

Dan tiba-tibaaa... ADA PLAYGROUND! Yes banget deh ah playground di tengah-tengah botanical garden. Tentulah mampir dulu.

Nggak jauh-jauh mainannya berkisar di prosotan. Baik prosotan kecil...

Maupun prosotan besar... Tapi yang panjang banget dan tertutup itu dia masih nggak mau. 

Udah kelar main, pipis dulu, terus minummmmm... Seger!

Lanjut jalan lagi lewatin Fern Garden alias area suplir-supliran. 

Ada rumah lucu di tengah-tengah hutan, jadi inget film Little Red Riding Hood. 

Masuk ke bagian Fragrant Garden. Kita sih pesimistis, winter gini apa mungkin ada wangi? Ternyata pas kita lewatin, wanginya semerbak dan enak banget. Entah wangi dari bunga apa aja, pokoknya segar. 

Air mancur cantik di dekat main entrance dari Wellington Botanic Garden. Depannya itu adalah Glenmore Street yang sudah merupakan batas kota.

Jalan terusss. Sebenernya kita mau ke mana sih? 

Kemudian, malah mendaki lagi! Giliran mendaki, suruh bapaknya aja deh yang dorong.

Dan begitu sampai di atas, ada pemandangan cantik lagi! 

Tujuan kita itu ke sini: Lady Norwood Rose Garden! Kalau bukan winter, itu lingkaran di bawah sudah penuh sama mawar bermekaran. Sekarang mawarnya masih ada, tapi limited edition. Sayang nih mataharinya lagi melawan arah, jadi gelap deh. 

View lain ke arah kota. 

Dan ternyata, turunnya gak semuanya pake jalan setapak, melainkan pake tangga! Ini kebetulan yang difoto pas jalan turunan. Pas pake tangga, lipet stroller seperti biasa. 

Nggak terasa punya anak sudah gede, nyelonong aja gitu sendiri, gak ada takutnya. 

Sampai bawah langsung ketemu sama air mancur dan bebek-bebek yang lagi berenang santai. 

Dadah-dadah ala Miss Universe. 

Hore, ada cafeeee!! Itu artinya bisa ngaso sambil ngemil!

Cafe-nya namanya Picnic Cafe. Selain kopi, kue-kue, dan sandwich, mereka juga menyediakan full lunch course. Kita tiba di sana pukul 15.30 sore, persis saat kitchen sudah close, tapi masih bisa pesan makanan over the counter.

Very yummy carrot cake. Frostingnya generous banget.

Aduk-aduk cappucino bapaknya sambil ingusan. 

Yummy coffee, yummy cake, yummy surroundings! Kapan lagi nyemil di tengah kebun mawar bermekaran kayak begini?

Biarpun dingin, yang penting makannya tetep eskrim! Dan khasnya NZ? Rasa Boysenberry.

Nikmat banget ya? Sendirian habis ludes sampe ke titik terakhir cone-nya. 

Di sebelah Rose Garden tadi ada Begonia House. Begonia ini bunganya mirip sekali dengan mawar dan berwarna warni. Dijamin kalau nggak winter pasti lebih banyak lagi keluar warnanya. 
Picnic Cafe tutup pukul 16.00, jadi kita tidak bisa berlama-lama juga di situ, apalagi kursi-kursi mulai dibereskan. Plus, kita nggak boleh nunggu sampai gelap, karena rute jalan kita ke city itu melewati...eng ing eng... KUBURAN! Yang akan kita lewati ini adalah kuburan historik yang bernama Bolton Street Memorial Park, dimana salah satu tokoh bersejarah yang dimakamkan di situ adalah Premier Richard John Seddon.

Nih, makamnya Richard Seddon, paling besar dan tepat berada di sebelah pintu utamanya. 

Batu nisannya banyak banget yang sangat cantik dan dipahat dari marmer. 

Spooky nggak kalau sampai kemalaman terus baru lewat sini? 

Beberapa batu nisan banyak yang sudah diperbaharui oleh generasi selanjutnya. Dan dalam satu kuburan, bisa dimakamkan lebih dari 3 orang. nih contohnya, sampai 5 orang! Mulai dari meninggalnya tahun 1800-an sampai tahun 1950-an. 

Kalau mau iseng, bisa ikutin jalur dan puterin terus itu memorial park. Tapi kita langsung lanjut jalan ke city. 

Dari kompleks memorial park, untuk memasuki city kita melewati jembatan dan dibawahnya adalah motorway alias jalan tol. 

Kapan lagi nih bisa santai nyeberangin jalan tol sambil nengok kanan kiri? 

Jalan kaki beberapa blok, nggak lama sampai lagi deh di depan hotel. Tapi karena matahari  masih muncul, kok rasanya sayang ya langsung balik ke hotel. Mendingan lanjut jalan ke harbour yang jaraknya cuma jalan nggak sampai 5 menit dari hotel.

Hepi bener deh nih anak, padahal cuma nunggu nyebrang di lampu merah. 

Pose ogah dicium papa, muka papa didorong. 

Yang ini muka mama mau nyium...

Tapi tak berbalas, anaknya malah julurin lidah ke lain arah. 

Isn't this view beautiful? Masih separo sunsetnya.

Lalu ngapain kita ke harbor? Bukan cuma buat foto-foto tentunya, tapi buat mulai lihat-lihat calon tempat makan malam hehehe. Padahal baru pukul 5 sore, tapi boleh dong yah nyari nominasi. 

Di harbor banyak restaurant yang bagus-bagus dan fancy. Tapi kita mau mastiin kalau dinner terakhir di Wellington ini bakalan oke. 

And this is our final nomination. Crab Shack (padahal ada juga di Auckland Harbour). Alasannya? Pukul 5 sore aja restonya sudah rame banget. Mestinya enak lah ya. Udah gitu sesuai namanya, menu utamanya kan kepiting. Kangen makan kepiting (walaupun di sini nggak pake saos Padang). Nggak serunya di sini? Nggak bisa booking! Mungkin saking ramenya, jadi sayang kalau sampai ada meja kosong atau pesanan dicancel. 

Matahari sudah terbenam.. Kitapun jalan balik ke hotel untuk istirahat dulu sebelum dinner. 

Nih, bukti kalau lokasi hotel kita memang juara banget, alias tinggal ngesot doang dari harbour. Memang kendala yang bikin kekinya cuma parkirnya susah.

Deketin lagi, nah di belakang hotel kita itu adalah gedung pos utamanya New Zealand. Kamar saya itu di lantai 8, posisinya ya ngadep gedung kantor pos situ hihihi. Susah hotel di tengah kota, viewnya limited edition.
Sekitar pukul 18.30-an kita jalan ke harbour menuju ke Crab Shack. Begitu sampai sana, waiting listnya ternyata 1 jam aje dong! Nggak bisa booking, tapi kudu waiting list segini dan ditanya apa masih mau nunggu. Tapi tiba-tiba kepikiran, malah mending ada break 1 jam! Bisa dipake buat jalan balik ke hotel, kasih makan Abby dulu, supaya nanti pas emak bapaknya berkepiting ria, nggak usah repot lagi nyuapinin anaknya. Brilliant!! So yes, we decided to wait, and let them call us back when the table's ready. Toh jalan kaki juga paling 10 menitan mentok. Good decision. Setelah kasih makan Abby di hotel, pukul 19.45 kita jalan balik ke situ, dan pas di perempatan mau nyebrang ke harbour, telepon saya bunyi. We're on our way to the crab feast!

Sampai di sana, kita ternyata dapat meja tinggi aja dong. Susah banget buat Abby duduk di situ, mungkin meleng 5 menit anaknya bisa jatoh. Kita minta kursi rendah, tapi semuanya full. Cuma kelihatan staffnya helpful banget. Nggak berapa lama, mereka kasih kita kursi di pojok yang malah ada model couch di dinding jadi Abby bisa duduk dengan nyaman.

Ngga sabar nunggu pesenan, soalnya typical restaurant di NZ, rada selow...

Bapaknya lagi sok sweet.

Suasana restaurant yang full house, nggak berubah dari matahari terang sampai matahari tenggelam.

Kalau di sini, siap-siap tangan kotor buat isep-isep kepiting. Kalau mau jaim pas first date, lupakan! 

Tiap orang dapet mangkok panci model jaman dulu, crab cracker, dan crab spoon (buat yang belum pernah lihat, bentuknya kayak stick panjang dengan pengait di bagian depan).

Ini bukan lemonade, ini kobokan. 

Lega anaknya udah makan, jadi di sini tinggal main-main aja. Termasuk mainan botol air. Seneng gitu buka tutup kenop. 

Soft Shell Crab Taco. Tempura Batter, Spring Onion and Coriander, crispy shallot, pickled ginger, wasabi mayo

Verdict: YUM! Kepiting soka mah udah pada tau ya pasti enak. Tapi yang juara itu dressingnya dong! Endang bambang!

Corn Chip Platter with Guacamole, Crab and Corn, Indian Pumpkin Dip. Dipnya 3 macam dan enak-enak semua, serta porsinya guede abis! Itu mestinya corn chipsnya dihancurin pake alu alias digeprok. Tapi kita sengaja nggak ancurin banget, biar Abby gampang makannya. The best dip... though the guacamole was good, the crab and corn was great, but the pumpkin was excellent! 

500 grams of mixed shellfish (Marlborough green lip mussel, Cloudy bay clams: diamond shell, tua-tua, moon shell) cooked in white wine and garlic cream. Nyum! Saosnya pas.

The stars of the show: 1 kg of New Zealand Paddle Crab with chilli garlic butter. Alrite, this is supposed to be the star of the show. Paddle crab ini adanya limited time, and they called it "The Legend" in the menu. Pas kita makan, enak, seru... tapi lama-lama nyadar, asinnya minta ampun! Kita nanya ke pelayannya, katanya memang asin. Kita sih duga jangan-jangan air rebusannya kebanyakan pakai garam. Itu rasa garlic butter sampai nggak berasa lagi saking asinnya. Mendadak beneran ngebayangin kalau kepiting ini saya masak pake saos padang...slurppp...  Soalnya, daging kepitingnya halusss banget dan berlimpah. Tapi namanya sepanci sekilo dan mihil, pelan-pelan deh diabisin hahahaha. 

Paddle crab, kayaknya kalau di Indonesia pesen sekilo dikit ya, di sini kok banyak banget sih? Rasanya 4 ekor ada loh. Asli nggak abis-abis, sampe mabok kepiting deh kita. 

The aftermath. Parah, ludes, kandasssss..... 

ini sampah saya doang nih! Ratu kepiting. Bersih! Bule sebelah kayaknya makannya gak asik cuma isep-isep doang.

Muka mabok kepiting.. anaknya ikut-ikutan doang. 

Satu-satunya foto bertiga di restaurant, ditawarin foto sama bule sebelah yang lagi dimabuk cinta. Asli tuh bule mesra banget deh. Setengah tua tapi kasmaran parah. Kursi hadepan, tapi duduknya sebelahan sambil mepet-mepet kayak naek mikrolet di Jakarta. 

Keluar dari restaurant, ketemu pemandangan cantik begini. Tadi kan masih ada matahari ya, sekarang sudah gelap total, tapi lampu dan refleksinya memang sayang untuk dilewatkan. 
Malam itu, kita pulang, perut kenyang (kekenyangan malah), hati senang. Siap-siap istirahat cukup, soalnya.. besok nyetir pulang lagi ke Auckland! Huks... ngebayangin di atas 10 jam lagi deh di jalanan, langsung badan rentek. But another day, another adventure. Yang jelas, hari ini kita puas banget explore Wellington walaupun cuma sedikit. Yang baca puas nggak lihat fotonya udah lumayan banyak kan ya? Next time kalau sampai balik, mau lebih lama biar bisa lebih puas lagi wisata (dan kulinernya, teteup...). Selamat malam, Wellington! 

36 comments:

  1. Puas Ciiii, puas bener liat fotonya. Cakep pemandangannya, pemandangan kepitingnya juga cakep.hahahaha
    Sudah kangen berat baca postingan Cici yang panjang dan berlimpah foto.:)
    Abby ngegemesin banget Ci di foto yang pas ngejulurin lidah sama yang pas senyum di dalam cable car.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kepitingnya cakepan di Jakarta kayaknya kalo dapet yang gede2. Abby makin banyak tingkahnya sekarang, makanya di foto bisa gaya macem-macem (walaupun seringkali susah disuruhnya hahaha).

      Delete
  2. Wellington cakep bgt!

    Btw, itu strollernya Abby masih yang Aprica kah ci? Kayaknya oke juga yah.. hahhaa *emak2 masih nyari stroller*

    Kepitingnya sih ngegemesin bgttt! Langsung kepingin ke saung greenville! hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Strollernya masih yang sama dari dia baru lahir sampai sekarang. Sebenernya sudah agak kekecilan, jadi dipakenya jarang banget cuma kalau pas travel aja. Daily sama sekali nggak dipake. Enakan Saung Grenvil sih, apalagi kalo kepiting asap :)

      Delete
  3. Puuaaassss banget ci liat poto2nya...
    Cakep2...apalagi yg taman ituh, bunganya lagi kagak ada ajah cakep, gmana pas ada bunganya.
    Iyah yg Abby senyum itu emang cakep manis sweet...aduh ngeliatnya seneng aja gituh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas ada bunganya pasti cakepnya berlipat ganda. Kalo lagi sweet sih emang seru, tapi kalo lagi bandel, lumayan juga hahahah. Tp ini anak mostly sweet kok.

      Delete
  4. Wahh mungkin karena long weekend, cable carnya rame banget.. pas aku pergi, sepi2 aja, hahaha.. terakhir kesana, lampu LED nya, gambar bendera NZ..
    Akunya jarang ngider2 di tempat yang kamu pergi, jadi mostly fotonya beda semua, aku lebih kearah CBD Wellingtonnya.
    Btw, masih ada lanjutannya kan yaaa? Ditungguuu cerita berikutnya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena weekend, plus lumayan rame soalnya pas banget habis lunch time. Sebenernya tempat saya tinggal juga nggak jauh dari CBD. Te Papa Museum kan pantatnya juga keliatan dari harbour depan hotel hihihi. Masih ada lanjutannya tapi cuma dikit. Buat nuntasin perjalanannya aja.

      Delete
    2. Haha.. aku fix mau ke goa maria yang di paraparaumu itu.. thanks banget nemu info dari kamu.
      Yepp.. ditunggu ceritanya yaa, Leony.. :)

      Delete
  5. seru bacanya, dan puas liat fotonya cakep2 pemandangannya.

    ditunggu cerita jalan2 aby yang lain *lho malah nagih*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini seri ke Wellingtonnya masih ada 1 lagi kok :). Sip, ditunggu ya.

      Delete
  6. aih serunya yaaa....
    gw juga mikir auckland loh ibukotanya hahaha :)
    kayaknya loe mau Abby ga repot2 amat ya? kok gw bawa selena repot bener dengan barang bawaan ya? Minimal harus ada ransel, yang isinya pampers (kalo dadakan ga ketemu toilet), baju ganti, handuk, minyak telon, cemilan, susu, tempat makan, tissue kering, tissue basah, botol air minum, dll... dan biasanya org indo, ga afdol kalo makan belum pake nasi.. wkwkw :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, karena lebih banyak disebut orang ya si Auckland. Udah gitu tour jaman sekarang jarang yang ke Wellington, padahal pas gue kecil mampir loh.

      Kalo soal bawaan, gue memang tipe yang praktis minimalis. Bawa ransel juga kok, tp isinya sekiprit. Abby udah fully trained soal pipis jadinya gue gak bawa popok n printilan. Most of the time kita usahain mampir ke wece. Abby juga gue bawain nasi di container kecil kok hehe. Kalo pas ga dapet menu yg cocok, buka nasi.

      Delete
  7. penasaran Le, nyiapin makanan abby di hotel tuh maksudnya apa? lo masak? *kepo bgt gw*
    NZ (wellington maksudnya) tuhh beneran sepiii dan bersih banget ya, kebalikan 180 derajat sama jakarta. Kl gw tinggal disana, entah bakalan betah ato malah bosen :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue nggak masak Mel. Gue udah prepared nasi n sayur, trs gue taro di hotel. Kalo mau keluar, gue siapin, angetin di microwave. Sepi karena weekened juga sih, kalo weekdays lebih bergeliat kotanya krn pusat pemerintahan. Hihi, gue lumayan seneng rada sepi. Relaxing banget rasanya, asal jangan sepi dan serem yg di desa ya.

      Delete
  8. ahhh bagus2 yaaa gedung2 di Wellington....huahhh kapan yaaa bisa nyampe kesini...seru banget Le baru tinggal situ udah bisa jalan2....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti bisa, Ci! Yukkkk kemari. Penerbangan ke Auckland mayan banyak kok sekarang, mulai dr airline biasa sampe yg budget. Ya kita usahain balance juga, ada kerja, ada jalan-jalan, biar gak bosen :).

      Delete
  9. OhmyGod.. kepitingnya menggoda sekali!
    dan fotonya cantik2 pula .
    Ce leony cantikk, ceritanya lengkap hihi.
    Keren ya ce stasiunnya walaupun mungil, pemandangannya cakep abiss pazti disana itu adem ya..

    Oya, btw ce leony disana makan nasi nggak?
    haha kan orang indonesia terkenal klo ga makan nasi, ya ga kenyang.
    :p hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini bukan cuma adem Yol, tapi dingin hihihihi.

      Di mana nih makan nasi? Kalo pas jalan-jalan kemarin sih nggak ya, karena kebetulan resto yang kita datengin nggak serve nasi. Tapi kalau di rumah sendiri, gampang kok masak nasi. Beras di sini macem-macem dan bagus. Tapi kebetulan cici dan suami tipe yang makan apa aja doyan, gak harus makan nasi.

      Delete
  10. Cantik banget ci pemandangannya.. keren... Kudu bikin list buat one day kesana nih.. hehe. Kebayang gimana udaranya disana.. Asik bgt tiap baca edisi Abby Tamasya.. Makanan2 nya juga menggoda banget,hihi..
    Ditunggu edisi tamasya lainnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ke sini, lalu keliling2 North and South Island. Pasti puas deh! Sekarang Abby Tamasyanya untuk sementara keliling NZ dulu ya, itupun dikit2 soalnya papanya belum dapat cuti hihihi.

      Delete
    2. hahaha.. mau banget ci kesana. Nanti kalau aku kesana aku contact ci2 ya.. siapa tau kan ci2 bs jd guide selama disana.
      Tamasya di NZ aja udh bgs gt ci, udh seneng banget bacanya.. hihi..

      Delete
    3. Hahahaha. NZ itu gede banget loh. Yg kmrn kita kunjungin cuma seujung upil. Wah kalo kamu kemari, sudah jelas cici ga mgkn bisa jadi guide kecuali cm di Auckland thok. Dan ga mgkn kl ke sini cm ke Auckland, pasti pingin keliling. Ksh minimal 2 weeks. Baru lumayan puas.

      Delete
    4. he eh noted, di Auckland aja yang mintadi guide sm ci..haha. 2 minggu keliling NZ, boleh juga tuh nanti dicoba.. Nabung2 dl, kumpulin pundi2.. hihi..

      Delete
  11. Baca nih postingan pagi-pagi jadi kepengen kepiting saos padang.. tapi masa jam segini?? Hahaha.
    Aduh senyumnya Abby pas di cable car.. sweet banget! Seneng ngeliatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cici juga kepingin kepiting saos Padang. Kudu beli dulu nih kepitingnya. Atau beli kerang aja ya. (Jadi kepikiran beli kerang hijau gede2 di supermarket hahahahah).

      Delete
  12. cakep banget...

    kliatan happy bgt ya abby juga mama papanya

    foto2nya bagus2 ,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo jalan-jalan diusahain pasti hepi-hepi terus hihihi. Pergi ke tempat cantik, dan makan yang enak-enak, makanya mukanya senyum semua :D

      Delete
  13. le... itu kepitingnya bikin ngiler hahahaha... pemandangannya memanjakan mata banget ya...

    abby masih mau ya duduk di stroller... hebat euy... jayden sekarang mah boro2... baru duduk aja uda ngamuk... padahal dari bayi kalo ke mall selalu duduk di stroller loh... tapi sejak bisa jalan maunya lari mulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo pake saos padang lebih ngiler lagi, Mel.

      Soal duduk di stroller n car seat, gue rasa sih itu karena dilatih aja sih. Anyway kalo sehari-hari termasuk di mall sih Abby udah lama ya gak pake stroller. Ini karena kita travel dan jalannya berkilo-kilo, jadi stroller dibawa. Dan kita bilangin, jalannya jauh, naik stroller aja ya. Tapi kalau pas dia udah segeran, dia turun sih, mayan strollernya buat taro tas gue hihihi.

      Delete
  14. ya ampun gw laper beratt liat foto kepiting2 ituhh. selalu sala waktu deh pas baca postingan lu wkwkwkk *malem2*
    ehh wellington nice juga ya, kotanya rapi. kayanya mirip canberra gitu, meskipun sydney lebih terkenal, ibukotanya Australia kan Canberra, kotanya sepiii dan banyak gedung2 parlemen kaya di wellington. makanya gw dari dulu ide (ke misua doank wkwkkw), kenapa sih indo ga dibikin kaya gitu? ibukotanya di tempat sepi , jakarta jangan jadi ibukota biar ga terlalu crowded, masa pusat pemerintahan, pusat dagang, pusat dll semua di jkt .. hahaha sori OOT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, lu sih blogwalkingnya tengah malem. Ya udah nanti lu beli lah. Di Indo mah asik dan ngga gitu mahal, plus bumbunya lebih sedap.

      Bener, ibukota itu lebih tenang dan rapi ya. Memang di Indonesia kan sudah lama tuh wacana mau mindahin ibukota, dulu katanya mau pindah ke Parung (mirip sama KL dan Putrajaya gitu). Tapi wacana tinggal wacana. Apa mau tuh para pejabat pindah tinggal ke pinggiran?

      Delete
  15. Wah bagus ya wellington, Tetep ijo meski pun winter.. Makan kepitingnya asik bgt bikin ngiler, tp takut kolesterol nih hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya soalnya winter subtropik, jd gak ada salju tp dinginnya tetep deh brrrr...

      Makanya ga boleh sering2 kl makan kepiting. Selain tdk sehat buat badan, jg tdk sehat buat dompet hahahahaha..

      Delete
  16. Seafoodnya bikin ngiler bangeeet!!! Tapi itu sepertinya langsung bikin pusing-pusing kepala, kolesterol naik hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya sih ngga, Ngel. Cuma kepiting soalnya. Tapi gue rasa kalo tambah cumi, bakalan puyeng deh hahahaha.

      Delete