Wednesday, June 15, 2016

Abby Tamasya Ke Wellington - Bagian 1

Bertemu lagi dalam edisi Abby Tamasya! Sudah lama nih kita nggak jalan-jalan keluar kota dalam rangka liburan. Terakhir rasanya pas Desember 2015 lalu, Abby Tamasya ke Semarang. Setelah itu kita sibuk pindahan, grabak grubuk sana sini, nyari kerjaan dan sebagainya, boro-boro mau mikirin liburan. Waktu Papa Abby belum dapat kerja, kita pernah ngomong-ngomong sendiri, seandainya Tuhan kasih kerja pada waktunya, kalau sempat kita mau ke Patung Bunda Maria Our Lady of Lourdes di Paraparaumu, Kapiti Coast, mengucap syukur atas kebaikan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Ternyata Tuhan kasih semua passss banget. Di Minggu pertama Papa Abby kerja, weekendnya kita ketemu long weekend karena Senin, 6 Juni 2016 lalu libur nasional Queen's Birthday. Ini adalah satu-satunya hari libur yang tersedia buat Papa Abby sampai nanti ketemu hari libur lagi di bulan Oktober 2016. Jadi begitu dapat kepastian kerja, kita langsung rencanakan trip singkat 3 hari 2 malam, di awal musim dingin yang brrrrr ini.


Nah, kebetulan lagi, sahabat baik kita yang dulu banyak banget nolongin kita pas kita baru pindahan ke Auckland, ternyata pindahnya itu ke Paraparaumu! Rumahnya nggak sampai 10 menit dari lokasi Patung Bunda Maria, dan mereka baru saja punya anak kedua yang lahir 2 minggu sebelum jadwal perjalanan kita. Jadi kita juga sekalian berkunjung ke rumah mereka untuk nengok dedek bayi. Rasanya semua pas banget. Untuk perjalanan kita kali ini, kita menimbang-nimbang antara naik pesawat atau nyetir sendiri ke Selatan. Setelah menimbang, walaupun nyetir ke Wellington itu kira-kira butuh waktu 9 jam, kita akhirnya memilih untuk nyetir sendiri. 9 jam itu kalau nggak pakai stop loh! Kalau pakai stop gimana? Ya nambah extra hahahaha. Tapi berhubung suami yakin kalo istrinya ini juga jago nyetirnya, dan istrinya juga yakin kalau pasti bisa nyetir segitu (maklum istrinya kan mantan sopir bus AKAP hahahaha), nekatlah kita menyetir ke Wellington. Habis kalau terbang repot juga, karena kalau mau ke Patung Bunda Maria dan nengok teman kita itu, jaraknya 50 menit dari kota Wellington. Seandainya naik pesawat, sampai sana harus sewa mobil lagi dan nyetir lagi, sami mawon podo wae. Lagian, sepanjang jalan menuju Wellington, pasti banyak pengalaman seru dan pemandangan indahnya kan? Mau buktinya? Yuk kita ikuti perjalanan Abby sekeluarga kali ini.

Sabtu, 4 Juni 2016

Baru kali ini, kita sekeluarga memulai perjalanan subuh-subuh. Iye, 3.30 pagi kita bangun, lalu 4.30 pagi sudah siap melaju. Kalau dikira yang nyetir bakalan suami, anda semua salah besar. Leg pertama perjalanan ini yang nyetir justru istrinya! Ya Mama Abby soalnya suka tantangan, mengingatkan masa muda, jaman masih ngaudit 10 tahun lalu dan nyetir berjam-jam sendirian melintasi 3 state cuma demi ngitung jagung. Walaupun kondisi masih gelap gulita, kita sudah bersemangat untuk berangkat, dan Abby yang kita kira bakalan molor, pagi itu malah melek (walaupun di tengah jalan akhirnya molor lagi). Leg pertama perjalanan kita kali ini adalah dari Auckland menuju Turangi, dan setibanya di Turangi, kita akan sarapan pagi. Penting banget ini, biarpun cuma numpang stop, wisata kuliner gak boleh hilang dari agenda Mama Abby. Di antara itu, kita juga pasti akan melakukan beberapa toilet stop, dan toilet stop pertama adalah di Hamilton, sekitar 2 jam dari Auckland.

Kita tiba di Hamilton sekitar pukul 06.30 pagi, dan suhu saat itu... 1 derajat Celcius aja dong dong dong... Brrr...

Toilet stop pertama kita, Mc Donalds. Berhubung ngga enak kalau cuma numpang pipis, plus laper mata, jadilah keluar dengan membawa 1 paket Egg and Sausage Mc Muffin. Abby makan kentangnya, Mama dan Papa share Mc Muffinnya, Papa minum kopinya. 
Sepanjang perjalanan, begitu keluar dari Auckland city dan  masuk ke rural area, seremnya minta ampun! Gelap tanpa lampu jalan sama sekali, dan kabutnya tebalnya nggak kira-kira. Speed limitnya tinggi, tapi jarak pandang cuma 20 meteran. Pokoknya nyetir malam itu bikin otot punggung saya tegang abis, karena sedikitpun kita nggak boleh meleng. Nyetir di New Zealand ini juga harus hati-hati banget, speed camera ada di mana-mana, dan suka banyak polisi ngumpet. Jadi beneran harus hati-hati banget, apalagi kalau cuacanya ngeri kayak pas kita pergi kemarin.

Yang super konyolnya, sehabis dari Mc Donalds, saya distop sama polisi dong! Padahal saya nyetirnya sudah super hati-hati, dan rasanya sepanjang jalan saya nggak pernah ngebut. Begitu distop, saya udah pasrah banget, siap-siap deh duit melayang. Polisinya nanya, kira-kira tau ngga alasannya kenapa saya di stop. Saya jujur bilang kalau saya nggak tau. Dia minta SIM saya, plus alamat rumah. Dan ternyata alasan saya di stop adalah... eng ing eng... karena.... saya lupa nyalain lampu depan! Ya ampunnnn... Habis gimana atuh, jalanannya terang banget di Hamilton, dan itu sudah pukul 6.45 pagi, jadi ngga nyadar kalau harus nyalain lampu, soalnya dianggap matahari belum terbit. Ya emang sih masih gelap kalau lihat langit, tapi jalanannya terang benderang! Sudah dua kali aja nih saya distop polisi karena lupa nyalain lampu. Dulu jaman di kampus, pernah ditangkep pukul 12 malam sepulang dari gym, dan sekarang kena lagi. Nasibbb. Tapi namanya sedang beruntung, ternyata saya cuma dikasih warning, dan nggak ditilang. Sampe saya nanya lagi ke polisinya, "Will I get any fine?" Terus polisinya bilang, "No, it's alright, just don't forget next time." HORE! Phewww... legaaa....

Nah, begitu matahari  mulai keliatan, Papa Abby yang duduk di kursi belakang, mulai sibuk buat iseng-iseng ambil foto selama perjalanan. Foto-fotonya saya crop, soalnya kebanyakan keliatan spion sama dashboard, yang penting keliatan suasana seru dan indahnya.

Di beberapa bagian, jalanan mulai nampak ada frost alias butir-butir es. Kalau mulai tebal, kita harus lebih hati-hati. Banyak banget warning sign "Slippery when frosty"

Ini matahari sudah keluar loh ya, bayangin pas saya nyetir waktu masih gelap, kabutnya lebih tebal daripada ini, tapi nggak ada matahari juga. Mateng deh cuma ngandelin lampu depan mobil.

Tapi pas nggak ada kabut, bisa ngelihat ratusan sapi di padang rumput menghijau. 

Pemandangan cantik sudah kayak background di desktop

Lebih cantik, lagi karena ada matahari yang sudah menampakan sinarnya

Beautiful! Matahari pagi mulai menyinari kabut.

Tapi jangan bingung, nggak berapa lama ketemu beginian lagi. Berasa nggak sih dinginnya? Putih semua!

Serasa di Silent Hill, jalanan berlapis es, gloomy, hiiiyyy....

Sapi...sapi di mana-mana! Itu sapi kudu punya lemak super tebal buat nahan dingin.

Yak, suhunya, minus 3 derajat Celcius!

Another Silent Hill moment.... Punggung tegak sampe rada encok, kudu aware banget lihat jalanan.

Kemudian disambut sama deretan hutan pinus yang cantik banget! Serasa di puncak, tapi jalanannya super mulus. 

Kemudian kita melewati Lake Taupo yang sangat terkenal untuk orang-orang berwisata. Kalau long weekend ini pasti ramai, karena jaraknya lebih "pas" alias 4 jam dari Auckland. Ini karena kita nggak sempat berhenti, jadi fotonya seadanya saja, aslinya jauh lebih cakep! This picture doesn't do justice.

Nih, orang-orang pada pakai campervan di Lake Taupo area. Rame banget ya!
Saking jalanan berkelok-kelok, Abby sempat jackpot pagi itu. Padahal makannya baru sedikit. Tapi habis jackpot anaknya langsung happy lagi, dan pules. Kita mampir ke Turangi untuk makan pagi di sebuah kafe kecil. Walaupun kecil mungil dan kapasitasnya di dalam mungkin hanya cukup menampung 12 orang, tetapi direkomendasikan oleh orang lokal. Namanya Creel Tackle House & Cafe, utamanya sih, jualan alat-alat mancing, tapi dibelakangnya ada harta karun. Yuk kita intip makan pagi kita hari itu. 

Toko dan Kafe yang sangat imut di tengah kompleks perumahan dan lodge.
Di depan ada anjing lucu lagi nangkring, gak diajak makan sama tuannya hihihi. Baik banget loh anjingnya, santai aja gitu dingin-dingin. 


Begitu masuk ke tokonya, langsung disuguhi dengan pemandangan berbagai alat pancing. Seru!

Sampai bajunya pun kumplit, sampai bot karet yang tinggi sebadan. Nah, lihat ada pintu kecil di sebelah kiri kan? Di situlah harta karun alias kafe mungilnya.
Saking kecilnya, cuma ada total 2 meja kotak plus 1 meja panjang untuk menampung seluruh tamu, dan juga ada outdoor seating area. Tapi tamunya gak berhenti berdatangan, justru rata-rata orang lokal. Pemiliknya ramah banget. Menu breakfast yang made to order cuma ada 3 menu. Sisanya bisa pesan dari display di counternya.

Yummy! Sampe bingung mau pilih yang mana. Semuanya menggoda iman. Mana sizenya tidak besar, jadi rasanya kepingin ngembat dua tapi takut kekenyangan. 
Suami pesan Scrambled Egg with Toasted Brioche and Bacon. Semuanya fresh dan enak banget! Terlihat simpel tapi bahannya pilihan semua. The coffee was also great. 

Dan ini pesanan saya dari counter, Chicken and Leek pie. Itu yg di cup kecil seperti marmalade jam. One of the best pies I've ever tasted. Sayang saya lupa foto pas sudah dibelah. Totally melts in my mouth.

Selai-selai homemadenya ini juga dijual, dengan display di pinggir jendela dan ada tanggal pembuatannya. 
 
Setelah hampir selesai makan, tiap kali ngelihat display ini, tergoda lagi untuk kembali beli, dan beneran dong, masih lapar mata... 

Jadi nambah beli ini deh, Salted Caramel Chocolate Pie. Enak! 
Setelah perut keisi dengan sarapan yang lezat, gantian kali ini suami yang nyetir. Udah minum kopi 2 gelas, mestinya oke lah ye. Dan istri bisa mulai menikmati pemandangan dan foto-foto sedikit sebelum akhirnya...zzz...

The hillllllsssss are aliveee.... with the sound of musicccccc.... laaa laaa laaa laaaa... 

Cakep banget gak sih? Dari kejauhan nampak puncak gunung tertutup salju.

Dan akhirnya terlihat, the majestic Mount Ruapehu! Woaaaaa.....

The last toilet stop and isi bensin di Bulls. Kotak esnya lucu abis... Ice, Ice, Baby! Ketauan usia yang bikin posternya, masih hidup di jaman Vanilla Ice. 
Akhirnya sekitar pukul 13.45 siang, tiba juga kita di Paraparaumu, Kapiti Coast dan tujuan pertama kita, tentu saja nengok sahabat kita dong. Rendy dan Feli plus Kaeshi dan baby Kaeli. Kaeshi, yang Juli nanti umur 5 tahun, pas seminggu awal kita di sini bener-bener deket banget sama Abby. Makanya pas Abby datang kemarin, langsung disambut dengan suka cita. Kaeshi ini pinter dan seru banget, dan selalu bisa bikin Abby happy. Rendy dan Feli ini sahabat saya pas di Amerika. Feli adalah kakak kelas saya di Madison, dan Rendy adalah kawan saya pas kerja di Milwaukee dulu. Siapa sangka jodohan ya, dan sesudah lama nggak jumpa, malah ketemunya di New Zealand.

Masih di halaman, Kaeshi sudah lompat-lompat kegirangan. 

2 weeks old baby Kaeli, sleep in heavenly peace :)

Kaeshi nggak sabar nunjukkin dedenya ke Abby. Abby juga seneng banget bisa lihat dede.

Buat lunch hari ini, spesial dimasakin sama tuan rumah. Spaghetti pake mussel. Satu rumah sepakat sambil ngakak, kalau spaghettinya asin pake banget hihihihi. Mungkin yang masak lagi mau kawin lagi yah? *kata orang jaman dulu* Makasih ya Ren, udah dimasakin!
Setelah makan siang dan ngobrol-ngobrol, kita lanjut ke tujuan utama lainnya yaitu ke Patung Bunda Maria Our Lady of Lourdes. Rendy dan Feli jaga Kaeli di rumah, Kaeshi dan Mamanya Feli yang lagi datang dari Bandung ikutan kita ke bukit. Kemarin ini permohonan kita lewat Novena Tiga Salam Maria terkabul, dan sudah sepantasnya karena ada kesempatan, kita memberikan penghormatan kepada Bunda Maria. Patung Bunda Maria di Paraparaumu ini didirikan di tahun 1958 untuk merayakan 100 tahun penampakan Bunda Maria kepada Santa Bernadette di Lourdes. Yang membuatnya adalah seniman dari Belanda bernama Martin Roestenberg. Martin Roestenberg ini seniman kaca patri yang sekeluarga diundang pada tahun 1951 ke New Zealand oleh pemerintah untuk  membuat kaca patri untuk jendela di berbagai gereja di negara ini. Patung Our Lady of Lourdes ini tadinya hanya mau didirikan sesaat hanya untuk perayaan. Apadaya banyak orang yang berziarah ke sini, dan pada akhirnya untuk memperkuat strukturnya dan supaya tidak dirusak orang, patung ini disanggah dengan tali dan dilapisi oleh lapisan fiber hingga bertahan sampai sekarang.

Dari kotanya, terlihat ada putih-putih muncul di bukit. Itulah Our Lady Of  Lourdes Statue. 

Petunjuk untuk masuk jalan setapak menuju ke patung.

Beneran loh jalan setapak dan sempit sampai ke bukit. 

Nah, kitanya parkir di jalan raya, kemudian masuk dari petunjuk tersebut. Nggak boleh bawa kendaraan apapun ya ke atas, cuma boleh jalan kaki.

Dua anak ini super kompak deh, barengan terus dan bergandengan tangan.

Di sepanjang perjalanan ke atas juga ada perhentian Jalan Salib yang dilengkapi mozaik. Tapi sayang karena cuaca dan juga vandalisme orang-orang, sebagian dari mozaiknya sudah rontok, bahkan ada yang rontok sama sekali. 

Buat yang muda-muda naiknya sih not too bad, ini aja masih bisa ngos-ngosan. Tapi kalau buat orang tua, lumayan juga. Untungnya disediakan titian di samping. Jadi bisa pelan-pelan naik sambil pegangan. 

Lumayan curam juga kan ya. Nah naiknya tuh kalau nggak salah 4 kali belok seperti ini. Tapi begitu sampai di atas, pasti terbayarkan jalannya.

Patung Bunda Maria Our Lady Of Lourdes, dengan tinggi 14 meter. Buat yang Katolik, masih ingat lirik lagu Ave Maria? Wajahnya yang manis bersunting senyum, pakaiannya putih berikat biru. Ave... ave... ave Maria...

Patung Maria dilihat dari dekat. Simpel banget ya bentuknya, dengan Rosario di tangan kanannya. 

Kalau mau baca keterangan mengenai patung ini, bisa dilihat di sini ya. Tinggal di klik dan zoom. 

Bunda Maria ini pandangannya menuju ke arah kota Paraparaumu dan Kapiti Island. Pemandangannya indah banget dari sisi atas.
Sore itu, kami semua menyempatkan diri dulu untuk berdoa dan mengucap syukur, serta menyampaikan permohonan juga. Setelah selesai doa, baru deh lanjut foto-foto, terutama fotoin dua anak kocak.
Nih, untuk tau 14 meter itu setinggi apa, bandingin saja dengan ukuran 2 anak kecil ini. 

Abby dan Cici Kaeshi, udah kayak dua anak tupai kagak bisa diem dan kebanyakan gaya.

Another shot!

Nah, kebayang lah kalo sampe saya punya dua anak dan cewe dua-duanya. Kayaknya bakalan rusuh. 

Muter terussss.... Gak kelar-kelar. 

Karena hari sudah mulai senja, kita siap-siap turun lagi. 

Lalu dapat bonus pemandangan siluet cantik seperti ini. Tuh  kotanya kelihatan ya di bawah. Depan itu ada pantai dan Kapiti Island.

Dua anak ini tetep aja nempel tak terpisahkan.

Balik ke rumah Rendy dan Feli, kali ini dede Kaeli sudah bangun, dan bisa difoto dengan mata melek deh.

Foto dulu sama new mom. Seneng banget saya bisa gendong dede kecil. Jadi kepingin punya anak kecil lagi ya hihhihi. Semoga dikasih. 

Lovely family!
Sore itu, walaupun langit sudah mau gelap, Rendy masih kepingin ajak Kaeshi dan Abby untuk main sebentar di playground di dekat pantai. Dan ternyata playgroundnya memang bagus, jadi walaupun cuma sebentar mainnya, puas juga mampir ke situ.

Public playground, dan gratis! Kalau summer malah lokasi di kiri itu jadi small water park. 

Abby dengan wahana favorit, prosotan!

Kaeshi main flying fox. Kayaknya seru banget gak sih? Terus yang tua-tua bangka ini juga jadi kepingin nyobain! Maklum MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia), soalnya di Jakarta kagak ada dulu kayak ginihhh...

Pertama bapaknya Abby. Seneng banget sampe melet!

Disusul dengan Rendy...

Terakhir.... ya you know lah... monyet hutan hahahaahhaha.

Prosotan tinggi? Nggak masalah! Tetap semangat! 
Karena dari playground cuma jalan 5 menit ke pantai, kita buru-buru jalan ke Raumati Beach buat melihat sunset.

Bagus ya, foto menatap masa depan... Hahahahaha.

Langit sembutat merah, romantis banget. Tapi dinginnya wer....wer.... wer...

Bagus gak? Cocok buat profile pic gak? 

Lucu ya lihat 2 bapak-bapak ini, sekarang pada gendongin anak perempuannya masing-masing.
Setelah dari pantai itu, kita berpisah deh sama Rendy and Kaeshi, tapi besok ketemuan lagi untuk misa di Katedral. Malam itu, saya janjian ketemuan juga sama temen SMA saya, yang sudah beneran lama banget nggak ketemu alias dari sejak lulus, yaitu Airin. It's been 16 years! Saya ke Amerika, Airin ke Singapore. Saya balik ke Indonesia, Airin malah pindah ke NZ. Ehhhh malah ketemunya kok di Wellington. Kali ini kita diundang makan malam di rumahnya, dan dimasakin Vietnamese delicacies yang yummy banget, soalnya suami Airin, Tony, asalnya dari Vietnam.

Vietnamese Grilled Lemongrass Pork Chop

Sup bakso ikan dengan udang dan sawi

Vietnamese Egg Meatloaf
Yang suka makan di Vietnamese Restaurant pasti tau ya menu khas itu. Biasanya dimakan pakai broken rice. Malam itu reuniannya spesial banget, karena dulu kita masih ting-ting, sekarang sudah pada beranak semua. Tapi yang namanya lulusan alumni sekolah yang cewe semua, ngomongnya masih super nyambung, seperti nggak ada jarak dan waktu hahahah. It was such a fun evening with Airin's Family. Anak-anak Airin juga lucu-lucu banget! Yang besar si Tammy usia 6 tahun, dan yang kecil Tamara, usia 2 tahun. Dua-duanya pintar dan aktif, plus menggemaskan.

Minus Tony yang motoin, and minus Tiara soalnya kabur pas  mau difoto.

Gimana dua emak-emak ini masih kayak anak remaja gak? Mungkin lebih tepatnya Remako (Remaja Kolot). 
Tiga anak cewe ini, namanya anak-anak, ya tingkah lakunya super anak-anak. Habis foto bentar langsung pada kabur. Ngapain? Bikin tenda di bawah meja, pakai kursi dan selimut! Terus Abby diundang untuk masuk ke dalam tenda.
Tammy, Tiara yang nyempil, dan Abby

Nah, Tiara udah muncul, tapi karena goyang-goyang dan gelap jadi gak pas deh fotonya hehe. Tiara ini lucunya amit-amit loh, kayak boneka beneran. Pokoknya kalau ketemu dia pasti bawaannya pengen uyel2, tapi sayang bukan anak sendiri hahahaha.
Setelah puas makan dan ngobrol (sebenernya belum puas-puas banget, tapi sayang sudah malam), kita lanjut lagi perjalanan ke downtown Wellington untuk menuju ke tempat kita bermalam selama dua hari. Pilihan kita jatuh ke Rydges Hotel karena lokasinya yang strategis banget, ada di sebelah harbour, dan walking distance dengan tujuan kita esok hari yaitu Wellington Cable Car Station dan Sacred Heart Cathedral. Untuk harga, masih masuk akal, tidak sampai 250 NZD per malamnya termasuk breakfast, soalnya suami kasih budget NZD 500 untuk dua  malam, tapi bengkak dikit karena ada biaya parkir. Jadi rencananya, malam ini kita mau parkirin mobil di hotel, lalu tidak keluarin mobil lagi sampai nanti check out di hari senin. (FYI, 1 NZD sekitar IDR 9,500, tapi kalau kena double conversion, anggap saja IDR 10,000 biar ngitungnya gampang hahahaha)

Rate parkir di Rydges untuk satu malam sebesar NZD 30, jadi dua malamnya NZD 60. Namun apa yang terjadi, saat kami tiba di hotel kira-kira pukul 9 malam, petugas front desk bilang kalau tempat parkir mereka sudah sold out! Mereka bilang sih, konsepnya first come first serve, tidak bisa reserve, dan tempatnya memang limited. Maklum deh di Wellington parkir memang jadi problem berat. Untungnya hari itu Sabtu malam, jadi kami boleh parkir di pinggir jalan (ini pun space khusus ya, dan harus resmi), dengan syarat pukul 10 pagi kami sudah harus pindahkan mobil karena parking enforcement sudah mulai jalan di pukul 8 pagi, dan kami cuma dapat free 2 jam, setelah itu harus pindah. Front desk hotel bilang, besok pagi sekitar pukul 10, coba pindahkan mobilnya, dan segera antri di front desk lagi, kali-kali beruntung ada yang check out dan mobil kita bisa gantiin masuk. Walah... padahal besok pagi itu misa mulai pukul 10.30. Rasanya kesel-kesel gimanaaa gitu, udah capek banget habis perjalanan jauh, tapi masih urusan sama parkir. Untungnya suami dapat parkir cuma 1 block jauhnya dari hotel. Buat kita, mending bayar 30 dolar per malam daripada kudu cari parkir sendiri, karena hati jadi lebih tenang. Ya udah akhirnya kita pasrah, sambil berharap semoga besok pagi kebagian parkir. 

Lalu kamar hotelnya sendiri gimana? Standar kamar di NZ. Cukup besar, ukuran 32m2, dan yang penting, cukup lengkap amenitiesnya. 

Baru masuk, ada kitchenette ini, lengkap dengan kulkas kecil, microwave, toaster, kettle, minibar, peralatan makan, dan kompor. Yup, di NZ memang banyak hotel yang sediakan kompor, tapi untuk pancinya, harus minta sama housekeeping. Kita jelas nggak pakai kompor, tapi microwavenya kepakai untuk angetin makanan Abby. 

Kamar mandi dengan bathtub. Rydges Wellington ini termasuk modern, banyak hotel yang lebih tua, bahkan masih ada yang krannya air panas dingin dibagi dua puterannya kanan kiri hihihihi.

Simpel banget semua serba minimalis, yang penting counter spacenya legaaa...
Perlengkapan mandi cukup lengkap, yang ngga ada cuma sikat gigi hihihi.

Dan ini juga salah satu alasan kenapa kita milih Rydges Wellington. Kamarnya terdiri dari dua ranjang queen size, jadi nggak repot umpel-umpelan. Kids Policy-nya juga jelas, anak under 12 years old nggak kena charge. 
Saya nggak foto kamar lebih banyak lagi, soalnya udah capek banget, dan rasanya pingin segera mandi plus menuju ke pulau kapuk. Apalagi besok masih banyak petualangan menanti seharian explore kotanya yang cantik, plus juga wisata kuliner. Lempengin badan dulu ya, tungguin aja bagian selanjutnya!

42 comments:

  1. Cakep banget yah pemandangannya *sambil bertanya kepada diri sendiri kapan bisa ke NZ*
    Serasa baca petualangan Lima Sekawan atau cerita2 Enid Blyton lainnya hehehe...
    Mungkin bulele gak ditilang karena pak pulisi tau kalian mau ke patung Bunda Maria hehehe. Nama temen elu sama kaya gw :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa lah lu ke NZ, tinggal naek pesawat, duduk, tau2 nyampe deh. Hahahaha. *ini nasehat kurang tepat, tp masuk akal*.

      Gak ditilang soalnya gue dari luar kota Bu nampaknya. Pas gue bilang gue dr Auckland kayaknya dia mukanya lgsg "Ohhhh.... Begitchuuuu..."

      Delete
  2. Seru sekali ci. Enjoy your (new) life disana ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti enjoy dong! Udah malah hehehehe.

      Delete
  3. aahh abby tamasya lagi... :)
    seru yaa..gila parkir aja 30 dollar..hehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Parkir 30 dolar semalem itu kayaknya termasuk standar di kota-kota besar sih Fun. Jaman dulu aja taon 2005-2006an, di Chicago udah 40-50 dolar semalem. Maklum lahannya langka banget, jadi parking space bukan jd priority.

      Delete
  4. Cakep banget pemandangannyaaaa *terkagum kagum*
    Abby keliatan banget makin gede ci di postingan ini. Apa karena rambut yang mulai makin panjang ya :D
    duh ngiler pengen pork chopnya hahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cakep tapi kalo cuaca jelek bikin deg2an hihihi. Emang tambah gede sih Live, ditambah rambut panjang. Pork chopnya asli yg bikin org Vietnam. Autentik deh hehehe.

      Delete
  5. Bener ci, pemandangan nya bagus bgt.. :D
    Penasaran sm abby, gimana cara adaptasi sm suhu dingin yg bs sampai minus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abby kebetulan suka dingin, Cyn. Malah cici bingung ini anak tahan bener sama dingin. Cuma ya cici tetep kasih protection secukupnya, tetep ksh jaket balon hehehe.

      Delete
  6. Patung Maria nya tinggi banget ya...
    Iya pemandangan nya cakep banget ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah, lu banyak amat kata "ya" Man, sampe 3 kali, serasa iklan KB. Iya bagus, Man seluruh NZ, cantik.

      Delete
  7. Ciii...pemandanga di perjalanannya keren2 banget. Itu cm mobil cici doang kah yg lewat. Brasanya sepi beneerrr...
    Ngeliat patunga Bunda Marianya bikin aku merinding en senyum2. Ga tw kenapa selalu takjub ama hal2 beginih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, banyak mobilnya kok, Mar. Justru ya sempet waktu itu kena macet juga di salah satu kota singgah krn traffic tiba2 tinggi. Tapi kebetulan pas difoto lagi kosong aje gitu ya. Mendamaikan hati banget pas sudah sampe di atas bukit, apalagi kita doang Mar yg ke situ.

      Delete
  8. Setelah postingan gloomy muncul postingan happpyyyy! selalu seneng baca cerita abby Tamasya.. gak masalah roadtrip 9 jam kalo pemandangannya kayak beginiiii... bagus banget! love love.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kemaren juga gak gloomy banget kan Dis, lebih ke happy ending story, terus ini icing on top ye hahahha. Pemandangannya bagus, tapi kalo 9 jem mayan mateng juga hahaha.

      Delete
  9. wow.. pemandangannya keren banget, bnr2 kaya di gambar2 gt ya.. Asik Abby mulai Tamasya lagi.. Perjalanan panjang tapi terbayar banget sama suasana pas sampe dan ketemu temen2,hihi.. Have Fun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gambar itu yang ngambilnya dari sini hihihi. Berhubung hati udah enak, tamasya bisa dimulai dong, plus disempetin doa juga :) Seneng banget ktm temen2 lama deh, apalagi tmn SMA itu sudah beneran lama banget gak ktm.

      Delete
  10. Dingin2 gitu paling enak ya bobok sambil selimutan. Tapi kalo disediain makan pagi kayak yang aku liat hmmmmm...jadi iri lagi hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoooo... kamu nyetir dulu 4 jam lebih, baru nemu breakfast kayak gitu hahaha. Enak loh beneran. Yuk ke sini bawa anak2.

      Delete
  11. tetep ada edisi abby tamasya ya hehehehe...

    pemandangannya cantik2 ya... hotelnya juga bagus...gua jadi mupeng pengen jalan2 hahahaha... abby cepet ya deket sama temen seumurannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetep dong, di sini juga indah banget di manapun. Sebenernya juga banyak nih edisi Abby jalan2 deket2 rumah tp pemandangannya asoy banget. Nanti kapan2 dikumpulin jadi satu.

      Delete
  12. Salam kenal Leony..
    Iya kalau roadtrip pagi2 memang bahaya kabutnya.. apalagi pas winter gini, sunrisenya lebih siang, tapi seruu banget yaaa.. aku road trip di North Island dulu cuma sampe matamata doang.. hehe.. Jadi penasaran ke patung Bunda Maria nya.. boljug buat next visit ke NZ.. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Inly, kamu yg japri soal subscribe itu ya? Hehehehe. Udah bisa? Saya td smpt klik blog kamu, habis dr NZ juga ya? Malah road tripnya lumayan banyak tuh hehehe. Asik ya di NZ, bener-bener karya Tuhan luar biasa. Iya itu patung Maria 50 menitan dr Welli, nanti kalo ke Welli lagi, mampir.

      Delete
    2. Yesss.. aku yang japri, masih belum nemu caranya, nti iseng2 mampir terus ke blog kamu aja, hehe.. Iya, setujuu bangettt, God is Great.. Iya, pengen browsing soal Patung Maria juga, pengen mampir next time..

      Delete
    3. Pake feedly enak loh. Itu kan kayak reader jg (spt wordpress reader), tp bisa buat any blogs. Tinggal cari n install appsnya di HP and add every blog that would like to follow.

      Delete
  13. Asikkk juga le banyak temen di NZ...gile nyetir dalam kabut gituu. Boot nya Abby keren loh. Pemandangan sepanjang jalannya oke banget yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di negeri orang, kudu tetep punya temen di mana-mana hehehe. Itu yang dulu dari jauh2 malah akhirnya ketemunya di NZ. Boot Abby sama kayak yg dipake dulu ke Jepang juga Ci, sekarang malah udah ancur2an hahaha. Tinggal nunggu pensiun. Pemandangan emang amazing!

      Delete
  14. Senangnya Ci.. Abby bisa tamasya lagi.
    Semoga setelah ini cici sekeluarga bisa mengeksplore NZ lebih banyak lagi, jadi kami bisa selalu bisa ikutan melihat view alam yang indah dengan bonus senyum manis Abby.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Kalo buat Abby sebenernya tiap hari jg kayak tamasya. Seneng terus dia. Di sekolah jg hepi hahaha. Sippp.. Nanti kita explore NZ pelan2 ya, soalnya bapaknya liburnya dikitttt hihihi.

      Delete
  15. Cantik banget pemandangannya. Apalagi yang kafe kecil itu, kok aku kepikiran game model diner dash atau emily hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Saya gak pernah main game itu, tp kebayang kok. Kan kayak buka warung ya. Pemandangan di sini memang cantiknya kebangetan!

      Delete
  16. Hi Leony, ternyata masih nulis blog nih hahhahahaahahaha
    Kita semua udah pada pindahan. Ke FACEBOOK hahhahhahaaha
    Ada FB Leony?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih dong hehe. Lebih enak nulis di blog, bisa nulis lbh panjang dan detail. Gue ada FB tapi buat kalangan terbatas aja.

      Delete
  17. seru banget jalan2nya, pemandangannya itu lho yang masya allah cakep mba le.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, itu hari pertama baru jalan doang, Dian. Nanti yang hari ke 2 baru bener-bener nikmatin kotanya hehehe. Pemandangannya all the way emang cakep semua walau ngeri2 sedap pas gelap :P

      Delete
  18. Cakep banget loh ci pemandangannyaaaaa.. :) seneng baca2 cerita cici. berasa kek ikut ada disana. hahahaa. :D *menunggu cerita selanjutnya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nih, lagi nyusun cerita selanjutnya. Milih2 foto dulu sama mikirin mau nulis apa hihihi. Ditunggu ya!

      Delete
  19. indah banget pemandangannya Le....

    abby happy bgt ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. NZ gitu loh. Nengok kemana2 cakep hahahaha. Abby selama jalan2 happy terusss!!

      Delete
  20. Gw sama arip lg liat tiket ke welly, ajubile mahal bener. Mo nyetir, ajubille jauh bener..hahahaha..pergi sabtu pagi, pulang minggu, senen kerja bisa gempor ga mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Bukan soal mahalnye El, penuhnye itu loh. Laki gue aja senin mau kerja ke sono bs ga dpt tiket Air New Zealand, kepaksa naek Jetstar. Gue rasa jd rada mahal krn penuh melulu.

      Kalo pergi Sabtu pagi pulang Minggu bisa aja sih asal naek pesawat. Itu aja mepet. Tapi kalo nyetir malah cari mati kalo waktunya cuma segitu. Yg ada numpang bobo doang di Welli hihihi.

      Delete