Monday, May 16, 2016

Apa Kabar, Papa?

Kali ini, kita sedikit melipir sejenak dari soal kehidupan saya di Auckland (yang tentunya masih tetap seru dan penuh warna). Saya baru sadar, selama ini saya menulis cukup banyak tentang mama saya, tapi sangat sedikit soal papa saya. Kemarin, umat Katolik merayakan ulang tahun Gereja alias Minggu Pentakosta, dan saat itu saya ingat, kalau di hari Minggu Pentakosta, 15 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Juni 2001, papa meninggalkan kami untuk selamanya, saat dia sedang bersiap untuk bertugas sebagai prodiakon di Gereja Santo Antonius Padua. Tulisan kali ini, saya dedikasikan untuk papa saya tercinta, bukan untuk membawa kita ke dalam suasana kesedihan, tetapi untuk merayakan kehidupan dari seorang ayah terbaik yang saya kenal walau hanya sampai umur saya 18 tahun, tapi tetap meninggalkan sebuah legacy (warisan) yang tidak akan tergantikan oleh siapapun.

Kalau papa saya masih hidup, usianya tahun ini sudah 63 tahun. Saya percaya sih, dia pasti masih ganteng (yang ini relatif), masih netjes, masih tetap kelimis, tetap langsing (nggak kayak anaknya), dan yang pasti masih tetap aktif dengan berbagai kegiatan. Saya juga percaya, dia pasti sayangnya minta ampun ke Abby, karena katanya kan seorang kakek atau nenek itu, sayang ke cucu bisa melebihi sayang ke anak. Ke saya saja, papa itu sayangnya luar biasa, apalagi ke cucunya kan? Tetapi itu cuma bisa saya andai-andaikan. Kenyataannya, saya percaya dia sudah bahagia bersama Bapa di surga. Entah kenapa saya sungguh yakin soal hal itu, karena dia memang tidak pernah berhenti menabung untuk bekal di atas sana. Saya pernah menulis soal itu di tahun 2005, bisa dibaca di sini. It's an oldie but goodie writing, please spend your time to read that short story. Saya juga pernah menulis sangat sedikit soal beliau di post yang ini di tahun 2006, dimana di situ ada iklan yang saya buat setahun setelah papa meninggal dan dimuat di sebuah majalah.

Menulis tentang papa, berarti menulis mengenai perjuangan seorang dari keluarga sederhana, yang penuh dengan pengorbanan. Kisah cinta dari kedua orang tua saya betul-betul menggambarkan kalau yang namanya jodoh itu memang sulit ditebak. Cerita ini saya dapat dari papa dan mama saya, bukan karena saya interogasi, tetapi karena memang mereka senang menceritakan pengalaman masa lalu mereka supaya anak-anaknya paham dengan perjuangan dan masa lalu orang tuanya. Papa saya adalah anak tertua dari 7 bersaudara. Bisa dibilang keluarganya hidup dengan sangat pas-pasan. Kakek saya cuma jadi penjaga toko, bukan toko miliknya. Bayangkan, bagaimana caranya menghidupi 1 keluarga yang jumlahnya 9 orang hanya dengan jadi penjaga toko? Tetapi Nenek saya ini, tipe seorang ibu yang biarpun miskin, yang penting anak-anak punya iman yang kuat. Dari kecil papa sudah aktif di Muda Mudi Katolik. Saya pernah melihat foto-foto papa saya di masa lampau, dimana dia suka bikin acara disco night di kalangan muda mudi gereja, dan dia tampil paling gaya dengan celana cutbrai dan rambut gondrongnya. Personalitynya sangat likeable: ramah, sopan, dan mau bergaul dengan orang dari berbagai kalangan. 

Papa saya kenal dengan mama saat mereka bekerja di sebuah kantor di Jakarta. Saat itu papa saya hitam legam, jelek, kurus, pokoknya kalo buat orang jaman sekarang itu, gak napsuin. Begitupun pendapat mama saya waktu melihat papa. Maklum, papa itu orang lapangan yang kebanyakan bekerja di luar kota, bahkan kakinya saja pernah bolong kena paku dan hampir tetanus gara-gara kerja di Kalimantan. Mama saya saat itu kebetulan kerjaannya ngurusin payroll alias gajian orang, jadi kalo soal gaji karyawan brapa, mama saya tau semuanya, termasuk ya gaji si cowok hitam legam ini yang besarnya nggak seberapa, tetapi orangnya getol banget minta dikirim ke luar kota. Jaman dulu kalau sering dikirim ke luar kota, gajinya jadi digandakan. Yang mengherankan adalah, setiap kali penerimaan gaji, si cowok ini tidak pernah mau ambil, dan semuanya ditransfer ke account mamanya (alias nenek saya). Buat mama saya, hal itu menjadi sangat misterius, kok bisa ada seorang anak muda, semua gaji ditransfer ke ibunya, sementara orang-orang lain gajian langsung diambil dan dipakai buat gaul plus belanja. 

Suatu hari, mama saya saat itu baru putus cinta dan broken heart parah. Dia cerita, saking broken heart-nya semua kenangan soal si mantan dia bakar. Pssttt... waktu itu ada satu suratnya ketinggalan dan sempet saya lihat, bentuknya kartu bergambar cewek duduk di bawah pohon dengan tulisan "Kutunggu kau di bawah pohon nangka ini..." Ya oloh, bikin saya sekeluarga ngakak berjamaah. Hahahaha. Enough story about the mantan. Gara-gara lagi putus cinta itu, tiap hari mama berdoa sama Tuhan, dia minta supaya diketemukan dengan jodoh yang seiman. Maklum, mantannya itu berbeda keyakinan sama mama, yang membuat hubungan kandas di tengah jalan (selain karena si mantan kepergok boncengan vespa sama cewek lain). Di tengah kegundahan hatinya, datanglah si cowok hitam legam ini, kebetulan dia lagi off alias gak kerja di luar kota. Padahal yang naksir mama saya di kantor itu banyak banget, bahkan atasannya sendiri. Tetapi mama saya  malah penasaran sama si hitam ini, apalagi denger-denger katanya dia Katolik. Saking penasarannya apakah cowok ini Katolik apa bukan, mama saya nanyanya gampil aja, "Kamu ke gereja mana?" Waktu dijawab ke gereja Toasebio alias Santa Maria de Fatima, mama saya langsung ngerasa, this guy might be the one for her.

Jadi kemana mereka kencan pertama kali? Jawabannya adalah ke gereja. Habis ke gereja, mereka pergi makan. Papa saya ini kalau soal makan, paling juara. Mama saya yang Cina Betawi Jatinegara, taunya menu makanan tradisional banget, paling mentok masakan nyonya, kalau Chinese Food juga paling mentok capcay, puyunghai, siomay. Sementara oleh papa saya, dia dikenalkan dengan  menu-menu Chinese yang lebih authentik, macam wong san cah fumak, haisom, dll. Kata mama saya, pas pacaran sama papa, biarpun cuma berdua, minimal pesan menu 3 macam. No wonder kan, nurun dari mana anaknya ini suka kuliner? Kencan pertama mereka hampir berakhir mengecewakan, lantaran papa saya kalau becanda emang suka kelewatan. Habis mereka ngedate perdana, papa bilang ke mama saya, kalau dia gak bisa nganter si mama ke rumah, dan mama akan diturunin di depan bioskop Rivoli (Bioskop Rivoli ini adalah bioskop di Jalan Kramat Raya yang memutar film India). Mama saya dalam hati sudah mikir, "Kampret juga nih cowok, cewek baik-baik mau dilepas di jalan. Gak ada lagi deh kencan kedua." Ternyata begitu sudah di depan bioskop Rivoli, papa malah langsung tancap gas, dan mengantarkan mama sampai ke depan rumah dan bilang kalau dia cuma becanda. Ketemu cowok gini minta dilempar gak sih? Tapi itulah papa saya, jahil, dan sangat humoris, dan bikin mama saya tambah jatuh cinta.

Makin lama mereka makin mengenal, mama saya tau ternyata alasan papa saya memilih banyak kerja di luar kota adalah demi gaji yang lebih besar, supaya bisa membantu membiayai keluarga besarnya berserta studi keenam adiknya. Saat mendengar itu, mama saya bukannya ilfeel loh (coba kalau cewek sekarang, pasti mikir nanti guenya gak kebagian jatah belanja), tapi malah tambah salut dengan kasih sayangnya papa terhadap keluarganya. Saat mama pertama diajak ke rumah papa, orang tua papa pun menyambut dengan luar biasa hangatnya. Kakek saya itu jago masak, jadi dia masakin soun goreng buat mama saya. Soun gorengnya legendaris enaknya, katanya loh ya. Soalnya saya nggak sempat inget rasanya lantaran beliau meninggal pas saya umur 4 tahun. Begitupun saat papa ke rumah mama, entah kenapa, orang tua mama yang biasanya lumayan picky soal jodoh anaknya, bisa menyambut papa dengan sukacita. Saya rasa sih, walaupun papa saat itu masih hitam, tapi keramahan dan baik hatinya terpancar. Rasanya jodoh memang tidak kemana. Makin mendekati perkawinan, rejeki mereka berdua semakin mengalir, dan setelah menikah, mama saya bilang, berkatnya makin berlimpah. Plus, pas nikah, si papa sudah gak hitam lagi lantaran sudah jarang tugas di luar kota. Jadi aslinya, papa saya itu putih dan ganteng! Ihiy! 

Gile, nyeritain sejarahnya papa ketemu mama aja udah panjang begini. Kira-kira udah kebayang belum karakter papa saya kayak apa? Kalau ditanya siapa anak yang paling dekat dengan papa, itu bukan adik saya. Walaupun adik saya cowok, tapi sayalah yang lebih nempel dengan papa. Sekarang saya jadi mayan sedih pas inget papa pernah ngomong, "Non, kenapa sih kamu gendut banget? Kalau kamu kurus, baju semahal apapun pasti papa beliin." Saat itu saya nggak mikir apa-apa, soalnya saya gendut aja, pasti dibeliin baju terus sama papa. Sayangnya, selama papa hidup, dari saya umur 0 sampai 18, nggak pernah sekalipun papa ngelihat saya kurus. Saya lagi ngebayang saja bisa "ngedate" lagi berdua sama papa, nonton di bioskop, tapi saya dalam keadaan langsing, pasti dia bangganya minta ampun. Gendut aja dia bangga kok hihihi. Kami beneran suka banget pergi berduaan dari kecil tanpa mama dan adik saya, karena ya memang hobi kami yang mirip yaitu nonton, makan, dan musik. Tiap Sabtu sehabis ekstrakurikuler marching band, pasti papa jemput saya. Kalau saya lomba, dia pasti nonton di stadion walaupun dia nggak paham-paham banget, pasti dia sudah siap handycam. He's my biggest supporter. 

Karena papa, saya bebas untuk beli CD lagu-lagu terbaru di Disc Tarra atau Duta Suara, dan beli buku partitur lagu-lagu pop. Kalau ada laser disc karaoke yang bagus, juga pasti langsung dihajar buat karaokean di rumah. Papa juga tidak pernah ketinggalan mengajak kita jalan-jalan baik domestik maupun ke mancanegara. Tidak pernah dia pergi cuma berduaan dengan mama sejak punya anak-anak. Jadi buat papa, pergi jalan-jalan itu = rame-rame, atau tidak sama sekali. Saya sungguh bersyukur punya papa yang lebih mengalokasikan dana untuk travel daripada materi berlebih, karena gara-gara travel, saya punya banyak pengalaman yang bisa saya ceritakan. Papa juga orang yang sangat health conscious, yang namanya makan itu harus balance, daging, sayur, dan buah. Kalau perutnya gendut dikit, langsung deh olah raganya ekstra. Badminton jadi kegiatan rutinnya. Makanya, saat beliau mendadak meninggal karena pecah pembuluh darah otak, kami tidak bisa menyalahkan siapapun, itu adalah kehendak yang kuasa.

Papa saya, bisa dibilang termasuk galak juga loh. Namanya anak kecil, saya suka ngeyel sama orang tua. Biasa kalau mama saya sudah capek ngadepin saya yang "bandel", mama tinggal bilang papa, terus papa siap dengan kemoceng atau ikat pinggang, Violent abis ya kesannya? Tapi jujur, saya nggak ngerasa disiksa tuh dengan keadaan saat itu, saya ngerasa itu wajar-wajar saja, yang penting orang tua bisa satu visi dan setelah "dihukum" behaviour dan semangat saya jadi membaik. Saya juga nggak tumbuh jadi anak yang pingin ngemocengin orang kok, paling ngemocengin debu hahaha. Papa saya juga orang yang sangat open minded. Untuk orang di masa itu, kami biasa banget yang namanya saling kritik. Kalau Papa saya mazmur di gereja dan nadanya ngaco saja, pas pulang gereja saya bisa santai bilang, "Papa tadi nadanya salah." Suka mangkel sih dia, tapi cuma sebentar, habis gitu dia latihan lebih keras lagi supaya penampilan selanjutnya lebih bagus. Dia juga encourage saya untuk aktif dalam kegiatan berorganisasi, jadi dari kecil pun saya sudah aktif di berbagai kegiatan baik di gereja maupun di sekolah.

Waktu pertama saya dikasih tau papa meninggal, saya sungguh nggak percaya loh. Kok tega banget Tuhan ambil papa begitu cepat, dan kenapa perpisahan kami cuma di airport Soekarno Hatta sebelum saya berangkat kuliah? Saya belum sempet wisuda, saya belum sempat kerja dan membahagiakan papa, saya belum sempet nikah, kok papa sudah pergi? Saya menemui papa di Jakarta sudah di dalam peti, dengan badan yang hitam legam membiru, tapi bukan karena tersengat matahari seperti di masa mudanya, melainkan terbujur kaku karena disuntik formalin demi menunggu saya balik dari Amerika. Tapi waktu Tuhan memang bukan waktu kita. Sekarang saya malah bersyukur banget papa dipanggil Tuhan saat itu. Saat dia sedang berada di masa "keemasan", saat dirinya sedang menggapai puncak karir, saat dirinya sedang aktif-aktifnya pelayanan di gereja dan di masyarakat, dia meninggalkan kami tanpa sakit berkepanjangan. Kepergian papa yang mendadak, membuat kita sadar, kalau umur memang Tuhan yang atur. Live life to the fullest, itu yang selalu saya tanamkan dalam diri saya, karena kita tidak tau kapan kita dipanggil, dan saat itu kita harus siap. Yang nggak siap, memang orang-orang yang ditinggalkan, terutama mama saya. Saya sudah pernah cerita soal itu di sini dan di sini

Bagaimana kita tau kalau papa saya dicintai begitu banyak orang? Saat di rumah duka, setiap saat keadaannya selalu penuh. Yang datang bukan cuma keluarga, tetangga, teman gereja, teman kantor, sahabat lama, tetapi mantan-mantan pacarnya saja ikutan datang dan menghibur mama saya. Entah rasanya mata saya jadi siwer menemui begitu banyak orang yang tidak habis-habis berkunjung dari pagi sampai malam, ditambah saat itu saya masih jetlag. Ada yang sampai bela-belain naik kendaraan umum dari jauh cuma demi melayat papa. Saat sebelum papa dimakamkan, Pastor minta jenazah papa dibawa ke gereja untuk Misa dan penghormatan terakhir. Padahal papa bukan pengusaha besar, apalagi pejabat, papa cuma orang yang dicintai begitu banyak orang. Gereja penuh, teman-teman prodiakonnya semua berseragam mengelilingi peti, suasana hati saya sudah kayak kacau balau, antara sedih, dan bangga setengah mati punya ayah yang ternyata nilainya di mata orang jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Sepanjang perjalanan ke Gunung Gadung Bogor, saya beserta mama dan adik duduk di mobil jenazah. Mobil pengantarnya luar biasa banyak, dan yang membuat saya nggak tahan, saat masuk ke Kota Bogor, di jalan turunan menuju kompleks Gunung Gadung, ada begitu banyak orang berjajar memakai baju putih, dan semuanya kui alias berlutut menghormati papa saya di jalanan. YES, di jalanan! Air mata saya sudah tak terbendung. Belakangan saya baru tau kalau mereka semua itu adalah karyawan tempat pabrik papa saya bekerja. Area penguburan yang sempit, ternyata dihadiri begitu banyak orang, jumlahnya membludak. These people were the people that were touched by the kindness of my father, and I know, he's not only a good man, but he's a GREAT man. 

Waktu kepulangan saya yang sempit itu, saya gunakan juga untuk membereskan barang-barang papa di pabrik. Saat kami di sana, dari karyawan atas sampai sekuriti menyambut kami, dan semuanya tidak henti-hentinya mengucapkan kebaikan papa. Kami juga mampir ke beberapa tempat yang papa suka singgahi saat dia  bekerja, dan diantaranya adalah warung gado-gado yang menurut orang biasa jadi tempat makan buruh pabrik. Yes, my dad ate there too, nggak pilih-pilih. Ibu tukang gado-gado juga bercerita soal bagaimana papa tidak pernah segan untuk berbaur dengan karyawan  dari semua kalangan. Bahkan saat kami mampir, kami disuguhi makanan dan minuman oleh ibu warung. Saya juga masih ingat, saat pabrik bikin seragam coklat, mestinya papa saya tidak perlu pakai seragam itu, karena seragam itu bukan untuk orang di posisi dia. Tapi dia minta dibikinkan seragam yang sama, katanya supaya solider dengan semua buruh, dan dia ikutan pakai setiap hari Senin. 

Ibadat terakhir yang sempat saya hadiri adalah ibadat 7 hari meninggalnya papa, karena saya harus cepat kembali untuk kembali ke Amerika melanjutkan studi. Rumah kami begitu sesak, padahal kami sudah menyiasati dengan menggelar tikar dan bukan memakai kursi yang memakan banyak tempat. Tetapi orang duduk sampai ke halaman, sampai tidak kebagian tikar. Sahabat ayah saya, dalam sambutannya, menobatkan papa saya sebagai santo di daerah kami. Saya tau itu pasti pujian yang kelewat berlebihan, karena tentu papa saya tidak sesuci para santo. Tapi perkataan tersebut keluar dari sahabat rohaninya, makin meyakinkan saya kalau saya harus menjaga warisan itu. Saya harus jadi orang yang bisa membagi kasih kepada semua orang, open minded, selalu bersyukur, dan bergaul dengan semua orang tanpa pandang bulu. I have to follow the example, and my closest example is my father. 

Papa apa kabar? Sudah hampir 15 tahun loh Pa aku nggak ketemu Papa. Aku nggak pernah ngerasain rambut papa jadi putih, tapi untung aku pernah ngerasain rambut papa mulai jadi botak alias mundur. Walaupun papa dulu kesel banget karena menurut papa kurang ganteng, tapi menurutku papa tetep ganteng dan wibawa walau rambutnya sudah mundur. Kan katanya kepala botak itu lambang sukses hehehe. Papa masih suka main badminton nggak? Masih inget dulu aku suka nemenin papa main? Apa papa masih suka ngaca tiap pagi, sambil memandangi perut dan body? Papa masih suka nyanyi? Di sana mau karaoke pasti lagunya lengkap ya, pakai nyanyian surgawi ditemenin sama malaikat. Have fun ya papa di surga! Katanya sih, kalau orang meninggal, nanti nggak bisa ketemu lagi, walaupun belum ada buktinya. Tapi sejak papa nggak ada di dunia, aku tau loh papa masih dampingin aku. Papa lihat aku lulus, papa lihat aku loncat-loncat saat aku dapet kerjaan pertamaku. Aku tau papa ikut senang saat aku nikah, dan papa ikut senang saat Abby lahir, dan aku tau, Papa pasti ikut senang lihat Abby sekarang sudah besar dan pinter. Makasih Papa, aku adalah anak yang sangat beruntung merasakan kasih Papa. I love you so much, and please say hi to Jesus!

Memori indah ulang tahun papa ke 40 di villa kita di Puncak tahun 1993. Saya masih kelas 5 SD. This is one of my favorite pictures of all time :)



94 comments:

  1. Wahh, papamu benar2 orang baik ya le, terbukti banyak yang kehilangan....memang umur gak pernah ada yg tahu, rahasia Tuhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Ci! Saking rahasianya, kita bener-bener harus siap dipanggil kapanpun.

      Delete
  2. I miss my father too...jd ikutan inget papi deh baca postingan cici...setuju bgt kalo kita emg harus live life to the fullest krn waktu kita cuma Tuhan yg tau...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Rib. Harus berusaha jadi orang baik juga, dan nggak berhenti nabung buat di surga.

      Delete
  3. Terharu banget ci baca postingan nya.. papa nya cici bener2 org baik sepanjang hidup..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusia gak ada yang sempurna, Cyn. Tapi berusahalah berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

      Delete
  4. Langsung kebayang Abby kelas 5 SD nanti hehehe.
    Waktunya Tuhan bukan waktu manusia, nanti indah pada waktuNya. Tuhan pasti ada rencana indah untuk kalian :)
    Papa elu pasti masuk surga, karena selalu berbuat baik dan mengasihi sesama TANPA membeda-bedakan.

    Mari kita menabung dengan perbuatan kita yang sesuai kehendak Allah untuk kehidupan kekal nantinya, karena kita nggak tau kapan kita akan dipanggil.

    Berhembuslah roh kudus di tempat ini...berhembuslah roh kudus di tempat ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abby kelas 5 SD bongsor juga kayak gue ya, Fel? Hahahah. Jangan deh, nyari bajunya susah! Berhembuslah Roh Kudus memang, pas hari Pentakosta kan turunnya Roh Kudus atas para rasul. Semoga Roh Kudus selalu menaungi kita yang di dunia ini.

      Delete
  5. Le, cerita cintanya bikin hangat banget :) ketawa jadinya pas yang mau ditinggalin di depan bioskop hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh, iya memang lucu banget kalau denger cerita mereka pacaran. Romantisnya beda sama jaman sekarang. Dulu mah naik motor aja udah asik!

      Delete
  6. Your dad was really a great man... You must be very proud. Baca ini selain jadi sedih juga very inspired...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang itu tujuan gue Man, merayakan kehidupan dia, supaya gue bisa inget terus dan meneladani hal yang baik.

      Delete
  7. Betul seperti yang Ko Arman blg diatas, tulisan ini sungguh mengharukan sekaligus menginspirasi. Khususnya aku yang kelak jg akan jadi orang tua, jadi bahan pembelajaran jg dari cara2 papa-mama cici mengenai mengasihi dan mendidik anak, serta memberikan "legacy" berharga yg selalu dikenang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Nichole, kita semua tentu bisa belajar ya dari orang tua masing-masing. Percaya deh, di dalam masing- masing orang tua, terkandung cinta kasih yang luar biasa, yang bs kita ambil utk kita teladani.

      Delete
  8. Terharu banget ci bacanya... Pasti sangat bersyukur ya punya papa yang begitu luar biasa :) Membaca cerita ini membuat saya lebih mengerti ttg pribadi ci'Leony (meski sedikit kali ya.. terbayang dr bagaimana org tua yg begitu luar biasa mendidik anak2nya) dan mengapa tulisan2 di blog ini banyak menginspirasi saya :) Smoga cici dan suami jg bisa meninggalkan legacy yg berharga buat Abby dan adik2nya kelak yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pasti sangat bersyukur, Fiona. Wah, jadi ketauan pribadi anaknya dari pribadi ortunya ya hehehehe. Tulisan di blognya cuma "nyempil kalau lagi ada waktu" saja. Glad bisa jadi inspirasi buat kamu. Amin, semoga cici dan suami jg bisa jadi ortu yang bisa diteladani oleh anak-anak kami.

      Delete
  9. Ah, Lele. Ketawa tapi nangis baca ini. Apalagi liat fotonya, langsung mbrebes mili. Dan tulisannya indah banget, Le

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rik, gue juga pas awal nulis ketawa2 sendiri, terus tau2 gue sesenggukan sampe keluar ingus banyak. Thanks, Rik!

      Delete
  10. Lelee 😢😢 bagus bener postingan elo ini... gw merinding ngbayangin orang-orang pabrik yg kui pas mbl jenazah lewat, your dad must have been a great guy inside out le. Gw pernah baca di buku doa apa gt ya, kenapa kita harus aktif di lingkungan its bcause terhitung silih utk perbuatan kita... jadi semacem pembayaran dimuka atas dosa dan kesalahan kita supaya kita nanti pas hitung2an dosa kita meninggal silih ini bisa jadi besar dan buat kita masuk surga.... errr lo ngerti kan ya le gw baca lg jd bingung sendiri sama tulisan gw... anywaysss.. gw yakin bokap lo aktif di grj not only buat kegiatan lingkungan grj or rumah tapi di spread ke lingkungan kerja, silih bokap lo besarrrr banget and yes true enough by reading this post gw yakin om papa lele udh gabung sama malaikat surgawi di rmh Bapa. Amin!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Fab, gue aja pas nulis masih merinding, Fab, secara bapak gue itu bukan orang gimana-gimana di mata gue yang masih suka ngelawan dia, tapi ternyata impact dia terhadap kehidupan orang lain begitu besarnya. Hati gue mau meledak saat itu, bangga dan bahagia walau sedih. Haha, iya gue ngerti tulisan elu, ya silih itu ya seperti yang bokap gue tabung itu. Amin, Fab! Semoga semua pengikut Yesus yang sudah dipanggil, berbahagia ya.

      Delete
  11. wow, your father is truly a great man! Jarang2 ada atasan yang mau "turun" sama anak buahnya sampe ikutan makan di warteg yg sama. Lihat dari situ aja udah ketauan banget kalo papamu sifatnya sangat peduli sama kesejahteraan karyawan.
    Emang ya, gw sumhow percaya, orang baik itu justru hidupnya gak lama dan meninggalnya gak susah. Tuhan pikir ini orang udah cukup pahalanya di dunia, gak perlu lah lama2 dicoba di dunia lagi, udah langsung Tuhan lolosin aja masuk surga, hehe (pikiran gw doang loh).

    Btwwww, siapa bilang lo gak pernah kurus? itu foto pas SD kelas 5 kurus aaaaahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue gak tau semua itu loh, Mel, sampe bokap tuh meninggal. Gue jarang banget ikut bokap kerja kan (pas kecil pernah bbrp kali kalo weekend, bokap suka bawa gue, dan gue ngembatin juice kotakan di kulkas hahahaha).

      Bener, Mel, bokap meninggalnya kelewat gampang! Yang ditinggalnya yang shock. Hahaha. Tapi kita bersyukur sih, kalo bokap sakit seumur hidup, itu kita semua yang bakalan jauh lebih susah dan dianya jg menderita.

      Delete
  12. Merinding bacanya.. thank you for sharing Le. Ini indah banget.

    ah sampe speechless..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sini gue kasih heater, biar anget dan ngga merinding lagi hehehehe. Sama-sama, Petris.

      Delete
  13. aaah...papamu kenal ga ya sama Joanna? ntar aku suruh Joanna kenalan deh sama papamu yaaa... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, katanya sih kalau di surga sudah tidak saling mengenal ya. Yang penting semuanya happy, Fun, sudah terbebas dari rasa sakit.

      Delete
  14. Banjir air mata aku ci, gak kebayang juga kalau seandainya bapakku pergi :(
    Aku jg dkt bgt sm bapak, bahkan lbh dkt ke bapak dr pd mama..
    Bener ci, dr sana papanya cici pasti bahagia bisa liat klrga kecil cici, apalagi lihat cucunya udh besar n cantik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduhhhh... jangan dong, ayo ingus sama air matanya dihapus dulu. Hehehe. Iya anak perempuan memang suka ada ikatan special ya sama Papa, karena Papa itu pelindung perdana kita. Amin, amin. Intinya sih kita terus berbuat baik aja!

      Delete
  15. Beruntung banget Ce Leony punya papa yang seperti itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Anon, semoga beliau jg merasakan beruntung pny anak kayak saya ya hehehe. Semoga.

      Delete
  16. Aku bacanya sampe berkaca2, bersyukur banget ya mba le punya papa yang memiliki kebaikan, kepedulian dan semangat yang luar bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Dian, makanya saya berusaha juga supaya nggak bikin malu orang tua, walaupun dia sudah di surga dan entah tau atau nggak perbuatan kita di dunia.

      Delete
  17. <3 thx u for sharing the story ci <3

    ReplyDelete
  18. wah ga bisa menahan air mata....lagi dikantor pula hehehe..terharu..ga bisa komentar apa-apa lagi. Nice story ci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu pas foto wedding cici, kamu ngakak ngga bisa nahan ketawa, sekarang ngga bisa nahan nangis, jadi balance deh ya cici sudah berhasil mengobrak abrik perasaanmu hahahahaha.

      Delete
  19. Le, tulisan ini bikin gw keinget papa juga. Kita samaan banget klo gw jg suka jalan berdua papa tanpa mama dan adek gw :)

    Dan gw salut sama kerja keras papa mu Le, jempol sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Papa elu juga pasti sudah happy kok, Ye. Anak cewe memang selalu punya bonding khusus ya sama papa. Our first hero soalnya.

      Delete
  20. He is a great man, indeed. Senang bisa kenal pribadi sehangat itu walau hanya lewat tulisan. May God's peace be with you.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga belum sempet banyak sharing many stories sama Papa saya. Wish to spend more time with him, but God picked him up at the right time :). May God's peace be with all of us.

      Delete
  21. Haii mba Le, senyum papanya mirip banget sama Abby :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, masak ya? Kalo gitu mirip saya juga ya! (soalnya pd bilang cici mirip papa hahaha)

      Delete
  22. thanks for sharing le! gw yakin ga cuma loe yang bangga sama bokap loe, le .. tapi bokap loe juga bangga punya anak kayak loe!! thanks again le for sharing this story!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Gill. Semoga bokap bangga juga sama gue ya, walaupun gue gak yakin dia tau atau ngga, yang penting kita terus berbuat kebaikan. Sama-sama, Gill.

      Delete
  23. thank you for sharing le... bokap lu pria baik ya... jadi ngingetin gua buat lebih sayang lagi ke bokap...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mel. Kita memang kudu sayang banget ke ortu kita, nggak tau soalnya sampe berapa lama lagi mereka hidup di dunia, atau bahkan kita hidup di dunia.

      Delete
  24. le, u nulis gini nangis ga? kok gw bacanya aja sampe nangis ya.. (serious). thanks for writing this, ngingetin gw untuk lebih care lagi ke bokap..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue awalnya ketawa, Car pas nulis ini, kan ada bagian-bagian lucunya. Tapi pas inget moment bokap meninggal, gue jadi ikutan mewek dan banjir, ingus ngucur. Cuma ya sambil senyum juga, kayak ada happiness inside me to share this with all of you.

      Delete
  25. Sedih dan terharu dan ikutan bangga jadi satu cii.. Live life to the fullest. thank you buat remindernya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Poi, ayo live life to the fullest! Jangan sia-siakan hidup yang cuma sebentar ini, dan harus siap jika suatu saat Tuhan panggil.

      Delete
  26. Wah papanya keren bgt cii..terharu bacanya.. pasti kangen deh.. sayang abby gak sempet ketemu opanya yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sayang nggak sempet ketemu. Tapi mungkin papa cici jg suka ngeliatin Abby :). Cici sih suka kasih lihat fotonya, terus bilang..ini kung2 hehe.

      Delete
  27. Ehm..aku nahan tangis bacanya, Mbak. Bersyukur sekali ada warisan yang sangat berharga dari ayahnya, yaitu teladan.
    Aku jadi kangen papaku juga,pake banget.. Let us live the life to the fullest, krn sungguh kita ga tau gimana dan kapan kita akan berpindah dari dunia ke kekekalan. Seperti ayah kita, semoga kita nanti bisa dikenang sebagai pribadi yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Pit, kalau harta bisa habis, tapi kalau teladan dan kebajikan, bisa diteruskan, dan sebagai anak dari papaku, aku mau terus mengikuti itu, supaya bisa berbagi kebaikan sama orang lain. Amin, Pit. Yuk nabung kebaikan.

      Delete
  28. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Novita, makasih, ceritamu sudah masuk ke dalam email cici. Semoga papa kamu berbahagia juga ya bersama Bapa di surga.

      Delete
  29. semoga papa-nya Leony bahagia di sana, dan teladannya bisa diteruskan oleh banyak manusia di bumi ini, Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Bun. Mulai dari anaknya dulu ya, semoga bisa ikut jejak kebaikannya.

      Delete
  30. Ce leony, aku nangis2 denger cerita cc..
    cc orang yg kuat en dewasa pasti nurun dr papanya.
    papa cc org yg sangat baek en sudah pasti skrg disurga lagi woship memuji Tuhan en ngeliat cc sambil tersenyum kangen sama cc 😀😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Yolanda. Kalau bisa half as strong as my dad, itu saja sudah hebat loh! Kerja kerasnya banget-banget di masa muda.

      Delete
  31. Jadi inget papa saya juga mba yg belum lama dipanggil Tuhan :) semua sama persis dengan yg dibilang mba Le. Mulai dari kedekatan father daughter, hobi badminton, supel dan ramahnya papa, sampai pelayat yg gak brenti2 dateng ke rumah :)
    ah, i really miss u pa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau lihat gini, jadi mikir ya, mungkin badminton is way too harsh untuk orang tua hehehe. Olahraganya gak boleh yang high impact lagi. Pasti papamu jg sudah happy di surga.

      Delete
    2. iya juga kali mba Le, terlalu berat ini badminton. tapi emang dasar uda hobi mulai muda mo gimana lagi, hihihi. aamiin semoga papa kita semua happy di surga :)

      Delete
    3. Bener. Hobinya dr mulai muda. Kl gitu mesti inget buat diri kita sendiri jg, kl bisa yg low impact aja seperti jalan pagi n renang (kali ya hehehehehe). Tp memang umur org kan gak ada yg tau.

      Delete
  32. Papa mu benar2 disayang Tuhan Le. Saya membayangkan saat ini beliau sangat bahagia di sana dan sedang pamer betapa anak-anak dan cucunya sekarang tumbuh menjadi anak yang hebat dan meneruskan legacy nya. GBU.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Jul. Bertahun-tahun nyokap gue nggak bisa terima kalau bokap pergi begitu cepat. Tapi sekarang dia sudah sadar kalau Tuhan sayang banget sama bokap gue. Amin, semoga gue bisa jadi orang yang baik dan dikenang juga seperti bokap.

      Delete
  33. Luar biasa bgt pelayanan yg sdh dilakukan papa cici.. Aku jd terharu dan meneteskan airmata dgr cerita cici ttg papa cici.. Terasa bgt rasa sayang dan cinta cici ke papa lwt tulisan ini.. Tuhan berkati setiap perjalanan hidup cici dan sekeluarga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Gaby. Semoga cerita ini bisa jadi semangat buat semua orang yang membacanya ya, semangat untuk berbuat baik, dan terutama semangat untuk menyayangi orang tua kita.

      Delete
  34. Such a great story..
    Kayaknya pengen baca ini terus pake background music "Dance with My Father by Luther Vandross.
    He has raised you well Bu Le :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, errornya, pas lagu itu baru keluar, banyak yang pake lagu itu buat first dance sm bapaknya (especially di Indo). Thanks, Yul.

      Delete
  35. Nice story ci.. luar biasa ya papanya ci2.kagum bgt sm critanya. Dr yg bukan siapa2 jd seseorg yg luar biasa bgt.bnr, dl nenek ku pernah bilang org baik itu akan keliatan pas meninggal nya. Kalau bnyk yg dtg brati orgnya baik bgt. Tp kl ga ada yg dtg atau yg dtg sedikit yah udh tau sndr gmn semasa hidupnya.selagi kita msh hidup kita bnr2 hrs tanam semua kebaikan ya.. sedih bacanya pas ci2 plg ke indo dgn kondisi papa udh terbujur kaku. Tapi itu misteri Bapa di surga ya.umur manusia memang ga ada yg tau. Jd selagi kita msh hidup saatnya kita menanam semua kebaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Frisca. Sepertinya cici memang harus mencontoh apa yang papa cici lakukan, biar sesibuk apapun kita, harus tetap nyempatin waktu untuk Tuhan, dan banyak melayani sesama. Hidup memang penuh misteri. Cici aja nggak nyangka sekarang bisa ada di sini bersama keluarga kecil. Kalau ditanya 3 tahun lalu aja, gak pernah terbayangkan.

      Delete
  36. Nice and touching story. Legacy yang ditinggalkan beliau adalah keteladanan ya. Jadi ingat untuk lebih berbakti lagi ke ortu yang masih sehat tapi sudah memasuki usia senja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, El. Bener-bener mumpung ada waktu, kudu sayang deh sama ortu. Kalau kayak gue gini, ya jadi curahin ke nyokap deh (inipun sekarang jauh di mata, tapi dekat di hati hehehehe).

      Delete
  37. Menginspirasi banget Le, terharu bacanya. Semoga keteladanan papamu nurun sampe ke semua keturunannya dan bahkan semua orang yang kenal papamu yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Lis. Semoga bisa juga jadi inspirasi buat yang baca di sini, walaupun ngga mengenal langsung.

      Delete
  38. Such a sweet story! You r lucky to have a dad like him, cakep juga papa u le hehe.. He is indeed a great man! Thanks for sharing the story :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bokap sama nyokap gue tuh dulu emang kayak pasangan paling serasi rasanya di antara temen-temennya, dan modis pula. Sama-sama, Lid.

      Delete
  39. Ci Le... bikin aku mewek nih :"( huhuhu. Pas meninggal, yang orang ingat adalah perbuatan kita semasa hidup ya. Tabungan amal dan budi. Papa Ci Le pasti bangga banget sama ci Le dan keluarga, aku yakin orang sebaik beliau sedang tersenyum senang melihat keluarganya dari surga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cup cup cup, Live. Nih cici kasih tissue. Emang harus nabung dari sekarang, Live. Ngga boleh males untuk melayani sesama dan Tuhan. Semoga papa cici bisa bangga deh sama cici ya.

      Delete
  40. terharu jadinya le..setuju papanya ganteng le dan cinta keluarga banget...

    jadi teringat alm papaku udah wafat hampir 14 tahun lalu dan kalau masih ada usianya sekarang 66 tahun..beda dikit ya le

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, ganteng ya? Padahal foto jadul. Mgkn kl skrg msh ada, udah mulai keriput dan tambah botak ya hihihi.

      Iya beda dikit. Berarti papamu meninggal umur 52 ya? Masih muda jg loh.

      Delete
  41. papanya bener2 baik ya,
    sampe meninggalnya banyak banget yang anter
    btw thanks tulisannya mba
    sebagai reminder biar selagi masih hidup harus terus berbuat baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, Mbak. Pengingat untuk kita semua ya. Keep doing good and sayang ortu.

      Delete
  42. berkaca2 baca postingan ini.. salam kenal ya om ^^ biar anaknya gendut yang penting hidupnya selalu hepi lah :)))

    btw papa kita cm beda stahun umurnya, gw jg deket bgt sama bokap, pernah pas kecil gw mimpi bokap gw meninggal dan malam itu katanya gw teriak2 pas tdr, dan saat dibangunin, gw udah penuh air mata.. rasanya dada sesak sedih bgt pas bangun, syukurlah itu cm mimpi.. Anyway ga ada yg tau umur org, wkt Tuhan bukan wkt kita.. Semoga gw bs berbuat baik spt papamu, le :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting sehat ya, Live (walau gendut hahahahha).

      Suatu saat ya entah kita yang bakalan ditinggalin atau malah kita yang ninggalin duluan. Gue suka mikir loh gimana ya kira-kira kalau gue duluan yang meninggal. Tapi ya cuma berandai-andai aja, mendingan dibawa seneng semuanya, dan terus berkarya di jalan yang baik.

      Delete
  43. Terharu bacanya Ci, itulah klo baik ya budinya akan selalu dikenang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena manusia mati cuma meninggalkan nama, makanya hrs dijaga itu nama dengan berbuat baik.

      Delete
  44. ikut terharu bacanya Le.. memang ya umur orang ga ada yang tau.. sekarang semuanya jadi memori yang manis. semoga lu juga nanti jadi orang yg punya impact ke sekitar kaya bokap lu hehehe.
    aduhh gw lama banget ga blogwalking yaa sampe ketinggalan 3 cerita nihh #ngebutbaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Teph. Lewat blog ini kira2 bs ngasih impact gak ya? Hwhahaha.. Iya gpp lu baca santai aja. Baru 3 kok haha. Gue jg nulisnya skrg lbh jarang. Beneran catatan nyempil kalo lg ada waktu. Nulisnya nyempil2 pas anak sekolah hehe.

      Delete
  45. You've got a great role model, Le!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indeed, Nan. Semoga bisa follow his positive path.

      Delete
  46. Salam kenal mba leony ... selama ini saya cuma SR ... saya baca postingan ini sampai berkali-kali, jadi inget bpk saya yg sudah almarhum juga ... saya justru sebaliknya kurang dekat dengan bpk saya tapi begitu beliau sakit, saya rela ngerawat beliau siang malem .. sy yg paling lama berduka waktu ditinggal dan nyesel banget karna hanya sebentar dikasih kesempatan dekat dan merawat beliau ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Aan, itulah kenapa memang penting ya, membahagiakan orang tua saat mereka masih sehat. Tapi kan memang nggak semua orang bisa seperti itu, relasi orang macem-macem. Dengan merawat bapak saat sakit, itu juga luar biasa loh. Gak usah nyesel, karena minimal kamu masih sempat ngerawat beliau.

      Delete