Friday, April 29, 2016

Kenapa Kita Pindah?

Pertanyaan di atas itu rame banget ditanyain sama pembaca yang mampir di blog. Kalau para pembaca aja penasaran, apalagi orang-orang di sekitar saya ya? Pas tau kalau kita memutuskan untuk pindah, pasti nomer satu sih... KAGET! Pembaca di sini kaget juga nggak sih? Nggak ada hujan ngga ada angin, tau-tau  kita udah di negara lain aja gitu. Tau yang lebih gila apa? Kita cuma kasih tau kalau kita mau pindah ke keluarga inti saja dan beberapa orang yang dekat pas di awal-awal, lalu kasih tau beberapa orang lagi kira-kira 2 bulan sebelum berangkat, dan keluarga besar baru kita kasih tau beberapa hari sebelum Imlek, dan tau-tau 4 hari sesudah Imlek, kita sudah capcus aje gitu hahahaha. Kenapa sih berkesan misterius amat? Jujur, karena kami ngga mau ngerepotin orang. Segelintir orang yang kita kasih tau aja, langsung heboh  ngajak ketemuan. Dan seandainya saja makin banyak orang yang tau, bisa repotlah kita memenuhi permintaan orang untuk jumpa fans ketemuan buat farewell lunch or dinner. Sementara, kita harus sungguh fokus menghadapi salah satu proses terbesar dalam hidup kita sebagai keluarga. Serius, ini bukan gegayaan, tapi beneran!

Sebulan terakhir sebelum kita berangkat itu, sibuknya ampun-ampunan, saya sampai sempat sakit flu berat lantaran kecapekan karena harus kejar packing barang sebelum dikirim pakai kargo. Sampai sekarang masih nggak percaya, kalau proses "capek gila" itu akhirnya telah berhasil kita lewati, dan akhirnya kita tiba di sini dan memulai hidup baru. Tapi sebelum itu, proses kami untuk akhirnya resmi jadi Permanent Resident (PR) di sini juga bukan proses yang cepat. Dokumennya bejibun minta ampun, dan pengirimannya semua menuju Shanghai secara bertahap, dengan biaya pos yang banyak, dan juga biaya-biaya lain yang bikin kantong bolong, seperti biaya aplikasi, biaya check up, dan berbagai biaya lainnya yang kalau dirunut dan diingat-ingat, memang benar-benar butuh kesiapan lahir batin. Butuh waktu hampir setahun mulai dari awal kami mengirimkan aplikasi sampai akhirnya kami resmi mendapatkan visa tersebut. Ditengahnya ada drama server FBI di Amerika lagi diupdate sehingga proses pengeluaran police certificate saya memakan waktu berbulan-bulan lebih lama dari normal, dan juga penambahan check up khusus dan prognosis untuk paru-paru saya yang juga membuat prosesnya lebih panjang.

Jadi kenapa sih kita memutuskan pindah ke Selandia Baru? Padahal, saya dulu kerja di Amerika, malah balik ke Indonesia, lalu suami kerja di Singapura, tapi saya minta balik ke Indonesia, ehhh sekarang malah kita "kabur" lagi. Kalau saya balik ke Indonesia, banyak yang sudah tau alasannya yaitu saya memang ingin lebih dekat sama keluarga, apalagi waktu itu mama saya kesepian karena papa meninggal. Lalu saya minta suami (yang saat itu masih calon) untuk balik ke Indonesia, karena rasanya saya nggak bisa tinggal di Singapura dan bangun keluarga di sana. Stress levelnya kelewat tinggi, dan anak sudah dikelompokan "nasib"-nya berdasarkan pilihan sekolahnya dari kecil. Iyes, dari kecil! Bahkan bayi saja sudah kudu daftar sekolah favorit. So, at that moment, saya merasa Indonesia, lebih tepatnya Jakarta akan jadi tempat yang baik untuk saya membangun keluarga. 

Suatu hari, kira-kira di tengah tahun 2014, Abby saat itu usianya kira-kira 1.5 tahun, kami merasakan suatu kegalauan tingkat tinggi. Kalau orang lain lihat, mungkin bisa dibilang hidup kami sudah cukup enak. Suami punya pekerjaan yang baik, saya juga jadi ibu rumah tangga dan bahagia dengan rutinitas saya. Kami tidak kekurangan sandang, pangan, papan, dan sesekali kami masih bisa liburan. Bisa dibilang, di mata orang lain, kami typical young family that live a good life. Tapi kami mencapai di suatu titik jenuh. Jenuh dengan kemacetan Jakarta yang luar biasa, yang membuat suami saya pergi pagi pulang malam (dan kadang pulang kerja nggak ketemu anak), jenuh dengan banyaknya mal yang tersebar di kota ini, sampai rasanya tidak ada hiburan lain walaupun kadang kami suka juga main ke daerah hijau (tapi harus ada effort besar dan biaya), jenuh dengan kompetitifnya mencari sekolah yang baik di Jakarta plus kompetitifnya persaingan akademik di dalam sekolah (dimana anak kecil sudah banyak les ini itu, sekolah berkualitas bisa dihitung jari, dan biayanya juga menggila), jenuh dengan gaya hidup orang Jakarta (yang gaya hidupnya lama-lama makin hedonis dan prioritasnya brantakan), jenuh dengan polusi di Jakarta yang semakin tidak terkontrol dimana kalau kita mau bebas polusi harus nyetir keluar kota dan kena macet dulu, dan masih banyak lagi kejenuhan lainnya.

Intinya saat itu, kami berpikir, kalau mau bertindak ekstrim, sekarang waktu yang tepat. Kami masih cukup muda, punya anak baru satu. Percaya atau ngga, saat itu kami sempat kepikiran untuk pindah ke kota lain di Indonesia. Bahkan kami sempat kepikiran untuk pindah ke Bali loh! Waktu itu suami lagi banyak proyek di Bali, dan bisa dibilang dia menghabiskan banyak waktunya di sana, dan ikut merasakan geliat kehidupan masyarakat Bali. Tapi setelah dipikir-pikir, Bali sekarang juga mulai mirip dengan Jakarta, mulai macet di mana-mana, dan sekali lagi, di sisi pendidikan, sekolah yang berkualitasnya juga minimalis, apalagi kami kepingin anak kami dididik secara Katolik. Orang-orang di sana kalau laid back alias santai, juga santainya keterlaluan sampai beberapa orang terlihat tidak ada ambisi (kalau istilah kasarnya asal cukup makan cukup pakai), sehingga Bali rasanya juga bukan pilihan yang tepat. Tepat sih, untuk liburan! Hihihihi. Mendadak jadi kangen deh sama Bali. 

Sempat juga kami kepikiran untuk ke Canada, tapi ya ampun jauhnya amit-amit, kasian kalau orang tua kita mau datang, mereka harus menempuh perjalanan panjang. Amerika Serikat juga kami coret dari daftar, karena selain jauh, belakangan ini situasi politik dan keamanannya tidak kondusif. Dalam setahun, puluhan kali ada tembakan liar yang menewaskan banyak orang, dan sebagian dari itu terjadi di sekolah. Serem banget! Lalu, mendadak suami mengeluarkan ide Selandia Baru. Ide yang aneh sebenarnya karena dulu dia bersekolah di Australia, tapi dia tidak mengeluarkan ide soal Australia. Salah satu pertimbangannya setelah saya tanya sih, adalah karena kalau lagi summer, heatnya gak kira-kira bisa di atas 40 derajat celcius. Saya pergi ke Selandia Baru sudah lama sekali, tahun 1993, tapi di kepala saya masih tersimpan indahnya kenangan masa kecil pas berwisata ke sana. Kakak dari suami juga pernah bersekolah SMA di Selandia Baru, dan suami juga sempat ke Auckland mengunjungi kakaknya. Saya juga sempat kontak teman saya yang pindah dari Amerika ke Selandia baru, dan dia berkata, it was the best decision of his life, walau apa-apanya mahal, tapi sebanding dengan kualitas hidup yang dia dapatkan. 

Ya, kami sadar, yang kami cari adalah kualitas hidup. Kalau mau cari kekayaan, mungkin di Jakarta bisa lebih cepat. Mau hidup yang mewah, di Jakarta juga aksesnya jauh lebih mudah. Bukan berarti kami tidak butuh uang, dimana-mana hidup butuh uang (apalagi di Auckland yang mahal gila hahaha). Tapi kami rindu punya udara segar, anak-anak yang bisa main outdoor tanpa kami mikirin dia terhirup asap kendaraan, perlindungan kesehatan yang baik di mana dokter tidak semena-mena kasih obat tanpa diagnosa yang kuat, fasilitas umum seperti taman yang tinggal jalan beberapa menit dari rumah yang jelas gratis, sekolah yang membebaskan anak bermain kreatif sesuai dengan usianya dan membiarkan otaknya lepas berkembang, suasana yang tertib dan bersih dimana orang-orang sadar untuk menjaga lingkungan dan tidak seenaknya buang sampah sembarangan, serta berbagai hal lainnya yang walaupun suatu hari nanti saya yakin akan kita dapatkan di Jakarta, tapi tidak tau berapa puluh tahun lagi itu akan terjadi. 

Setelah menimbang-nimbang, lalu melihat apakah kualifikasi kita pas untuk mendaftar, kita nekat. Yes, kenapa dibilang nekat? Karena kalau kita sampai diterima dan kita pindah ke Selandia Baru, artinya kita siap melepaskan kehidupan nyaman kita di Indonesia, dan memulai segalanya dari nol. Yes, sungguh dari nol. Kami tidak punya apa-apa kecuali sisa tabungan kami yang seadanya karena sebagian besar sudah kami gunakan untuk beli rumah di Jakarta. Kami harus siap hidup mandiri, tanpa bantuan dari nanny, ataupun keluarga terdekat yang bisa dihubungi. Kami harus siap untuk beradaptasi dengan berbagai hal, mulai dari cuaca, tata cara hidup, bahasa, dan terutama buat Abby, dia juga harus siap untuk mulai bersekolah di sini dan berjibaku dengan separation anxiety yang harus dimulai kembali. Yang jelas, kami harus siap fisik dan mental kalau seandainya kenyataan di sini tidak seindah bayangan kami saat kami memutuskan untuk pindah.

Kesimpulannya, kami pindah ke sini, karena kami ingin yang terbaik untuk anak(-anak) kami. Kalau cuma mikirin kami berdua dan belum ada Abby, kayaknya kami nggak akan pernah kepikiran untuk pindah, apalagi ke negara baru. Benar yang mama saya bilang, kalau sudah ada anak, kaki buat kepala, kepala buat kaki juga dijabanin.  It's a big decision and it's a hard decision. But we know that God always accompany us, anywhere we go. Auckland, please be nice to us!




125 comments:

  1. pertamax diamankan ci leony... akhirnya itu toh alasannya, aq pun smp sekarang memimpikan merantau yang lebih jauh dan lebih bersih. setelah bisa merantau di ibukota, salah satu yang pernah dibatin2 jaman dulu. semoga sukses ya ci, ditunggu cerita-cerita selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, kenapa pake pertamax segala? Ini bukan kaskus kok, Tia hahahaha. Sama aja mau pertama, kedua, atau ketiga hihihi. Haha, kalau kamu merantau ke ibukota terus suka sama suasana di ibukota, ada kemungkinan besar kamu gak suka loh sama suasana di sini :) Beda banget sama ibu kota kita hahahah.

      Delete
  2. Huaaaa....aku iri banget le. Karena memang hidup di Indo sudah gak bagus udaranya buat anak. Dan liat kamu dan Abby berdiri di ijo2 pake celana pendek made me jealous setengah idup.

    Sayang aku ga punya keberanian yang besar untuk pindah. Keluarga temenku baru punya keberanian untuk pindah pas anak2nya udah SD dan SMP (anaknya 4 pcs lo. Mereka pindah ke USA dan survived, lebih edan lagi karena anaknya udah pada SD dan SMP dan ga bisa bahasa inggris sama sekali.
    Mungkin dan semoga, kalo memang jodoh, aku bisa pindah ke tempat yang ijo2 dengan udara yang bersih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, Paula, kamu main kemariiii! Aku sih kalau anak sudah terlalu besar, mungkin mikirnya lebih pusing lagi, salah satunya ya kendala bahasa, dan emosi anak juga ya (kayak film Inside Out). Yang kecil aja emosinya naik turun kok, apalagi yang sudah remaja. Amin, kalau memang jodohmu, dan kamu nekad, kemanapun yg kamu impikan pasti bisa.

      Delete
  3. salut deh.......keputusan yang udah dipikir matang pastinya ya dan semuanya buat abby....Heubat deh salut banget, mumpung masih muda ya Le...Paham dgn alasannya2,,salut banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mateng kayak telor mata sapi gosong ya, Fit hahahah. Mumpung masih muda, dan anak juga masih kecil :).

      Delete
  4. pertigax (pertamax ke tiga gilax!) setelah lama jadi silent reader dan meskipun tidak kenal Leony secara personal tapi dengan tulus saya mengucapkan "Semoga sukses di tempat yang baru, Leony sekeluarga! Semoga tetap sehat dan diberi kemudahan dalam menjalani hidup baru di NZ. Aamiin."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Anon, sayang sekali, kamu bukan ke tiga, tapi ke empat hahaha. Serasa lomba aja padahal bukan. Amin, makasih doa-doa dan ucapannya. Btw, namanya siapa ya?

      Delete
  5. Akhirnya tau juga kenapa alesannya pindah,hehe. Wow, keren banget ci, alesannya bikin kagum bgt. Iya bener ci, temen ku ada juga yang pindah ke sana, dan memang disana kualitas hidup bagus banget ya, apalg buat anak-anak. Tapi salut banget sama ci2 n suami yang berani ninggalin smua kenyamanan di Jakarta dan mulai lg dari 0 buat semua hal demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Sehat2 trs ya ci disana, dan Gbu alwasys. Keep writing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat Cici sih alasannya bikin sedih benernya, soalnya I love Indonesia too. Cuma memang gak bisa dipungkiri, ada faktor-faktor yang di Indonesia BELUM (bukan ngga) terlaksana yang bikin kita harus think twice. Ini berat, tapi semoga Tuhan selalu restui perjalanan kita. Makasih!

      Delete
  6. ohhhh ternyata,semuanya untuk Abby tohh ( dan adik2nya Abby ).Hebat banget bu Leony inihh. Saya mauuu juga, tapi kagak qualified...hahaha *meratapi nasib.. Mantappp dehh. Semoga gua bisa ke NZ juga ..( buat jalan2 ).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo emak bapaknya, sudah cukup happy tinggal di Jakarta. Makanya begitu punya anak baru kepikiran Ci. Ayuk jalan-jalan kemari, campervan di South Island!

      Delete
  7. Akhirnya terjawab juga ya Ci pertanyaan sebagian besar reader di blog Cici.:D
    Semoga sukses ya Ci disana, ditunggu post-post selanjutnya. Salam buat Abby ya Ci.:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, sebenernya mestinya dah bisa ngira-ngira dong ya jawabannya apa hihih. Tapi ada juga yang masih.. Ohhhh ternyata gitu toh. Berarti di pikiran orang macem-macem ya alasannya hehe. Salam balik!

      Delete
  8. Sudah Kuduga! Pasti alasannya ini Ci, karena beberapa saudara aku juga memutuskan untuk "hengkang" dari Indonesia juga alasannya sama kayak Ci Leony. Tapi rata-rata pada ke Canada sama Australia. Aku aja yang belum punya anak udah jauh hari mikir gini juga ci, kayaknya Jakarta bukan tempat yang "nyaman" lagi buat ketenangan batin maupun Jiwa. Sukses terus ya Ci disana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Canada relatif cukup mudah untuk pindah, dan Australia, bisa dibilang terdekat dari Indonesia ya kalau untuk negara non-asian. Kalau kamu mau pindah, waktu, tenaga, dan kesempatan dirasa tepat, ya hayuk dicoba mumpung masih muda. Tapi ya bener-bener harus siap mental ya :)

      Delete
  9. It was a cool decision, Ci Leony. The motivation to move is great and right.
    Reading this make me realize that it is possible to do as well for certain people who has ever thought about this but haven't made any real decision.
    Motivated!
    May Auckland be good for u n ur fam there. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. It is possible as long as you have the determination. Of course it must be supported by the other factors, especially mental (and financial too). The motivation is also very important, because it must be different one to another, and it might create disappointment for some people that move due to wrong motivation. Thanks for the wish.

      Delete
  10. Lama nggak main-main kemari, langsung kaget baca ini. Ternyata udah pindah jauh. Salut untuk tekadnya, Le. Pindah ke negara lain pasti butuh tekad besar. Semoga kehidupan di sana baik-baik saja, dan benar-benar lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, ternyata satu lagi yang kaget juga ya hihihi. Amin, doain kami terus ya! Plus, kapan2 main kemari.

      Delete
  11. selamat berjuang cc leony, i admire u. salute!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you buat pompaan semangatnya, Yudith!

      Delete
  12. Wah, iya sih memang tinggal di jkt tuh bikin jenuh n bikin stress.. Di amrik memang byk penembakan le, ga cuma di sekolah, di supermarket juga.. serem memang.. Kalo di Nz kayaknya hidup lebih damai ya.. moga2 semua lancar ya menempuh hidup baru disana... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Carol, bikin gue gak napsu untuk balik ke sana kalau untuk tinggal. Mungkin kalo untuk liburan masih oke lah (plus untuk belanja hahahaha). Amin, makasih wishnya ya.

      Delete
  13. Mirip mirip ama yg kita lakukan pas mutusin pindah ke US. Kondisi nya juga sama dengan anak 1 umur 2 th Hahaha
    emang mesti mulai dari nol ya.. Tapi ya demi anak ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lu masih mending, Man, ada sodaranya Esther. Hahaha. Minimal masih ada tempat berteduh sampe lu pindah ke rumah baru ya. Gue kemarin ini sempat ketar ketir banget, di sini kagak ada siapa-siapa kecuali bbrp temen, eh temennya ikutan pindah juga hahaha. Semoga anak-anak kita suatu saat paham deh perjuangan ortunya ini.

      Delete
  14. Good luck, Le! Semoga kalian ber-3 betah disana ya!

    ReplyDelete
  15. AAAHHH akhirnya dibahas juga.. :)
    semoga jalan yang udah diambil emang terbaek buat loe sekeluarga ya le.. Good luck :)
    ntar cerita sering2 ya.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memenuhi permintaan lu nih, kan lu yang selalu nanya alesan pindah hahahahahah. Sip, cerita mah kayak biasa aja di blog :)

      Delete
  16. Jadi bisa dibilang semuanya demi Abby dan calon adek-adek Abby ya ci :)
    Mudah-mudahan papa mama Abby bisa kayak temen cici, dengan mantep bilang "It was the best decision of our life!" ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Liv. Semoga ini jadi the right and the best decision. Always pray to God and keep working!

      Delete
  17. setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya yah mba le, semoga slalu berlimpah keberkahan yah mba tinggal disana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Dian. Semoga dicukupkan terus sama yang di Atas ya, baik fisik, mental, spiritual, dan finansial.

      Delete
  18. V Power, pertigaan, perempatan, simpang lima, simpang raya....
    Berhub gw nggak punya dana lebih kayanya mustahil bisa pindah NZ, apalagi semua serba mahal, ambil SIM susah harus belajar lagi kaya main game. Mungkin gw harus cari tanah di Papua yang banyak pemandangan ijo2, siapa tau bisa buka tempat wisata yah Raja MonAT saingan Raja AmpAT.

    Semoga Abby bisa adaptasi dan pas dia besar berterima kasih sama PakLele dan BuLele atas perjuangan kalian selama ini. Ini kenapa gw kaya bikin Bab 1 Pendahuluan...

    Tuhan selalu memberkati dan menyertai perjuangan kalian dalam kehidupan ini. Bersakit-sakit dahulu, berhore-hore kemudian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, premium bu premium!

      Di Papua hidup bisa lebih mahal lagi kali, Bu! Katanya apa-apa susah di sono, dan mihil. Mungkin kudu langsung pindah ke daerah Freeport bu yang katanya sih infrastrukturnya udah kayak kota kecil di Amerika (bikin penasaran hahaha). Mending Raja Monat daripada Ratu Monyet (eh itu mah shio elu ya hahaha).

      Lu lagi bikin pidato bu? Amin, doain kita terus ya!

      Delete
  19. ci leony, jadi penasaran sama negara yg cc tinggalin skrg kok rasanya ijo banget dan bersih.
    selain itu, aku juga penasaran sama negara pregue.hehehe katanya indah bgt disana kayak negri dongeng.

    Btw,smoga betah ya tinggal disana Ci! :) dan makin bahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, main kemari biar gak penasaran. Prague itu bukan negara Yolan. Negaranya itu Ceko alias Czech Republic hehe. Prague itu nama capitolnya. Indah juga, tapi ya not sure if it's the best place to live. Mungkin bisa dikunjungi aja buat liburan. Amin, semoga selalu bahagia.

      Delete
  20. Congrats ci... Tiap hari cek blog siapa tau ada yang terbaru.. Salut ci dengan keberanian memulai semua dari nol :) bisa dong someday kalo ada rezekinya mampir ke auckland,host nya cici hahahhahaa..

    Gegara ini, aku jadi inget cita2 waktu kecil pengen ke aussie&tinggal di inggris. Tapi apalah daya... Dilarang keras hahaha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, kamu subscribe aja blog cici, terus pake feedly buat dapat updatenya. Jadi gak usah bolak balik cek hehe. Iya boleh, nanti cici host makan nasi uduk (loh?). Gak apa-apa kan punya cita-cita, siapa tau kesampean ya. Tapi NZ ini benernya bukan cita-cita cici kok, cuma part of life aja.

      Delete
  21. Wow... salut... dari dulu aku juga punya pemikiran pengen pindah... tapi terlalu banyak and lama mikirnya... jadi batal deh... ^_^. Sekarang udah gak mungkin lagi pindahan .. ya sudah dijalanin aja apa yang ada ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, tau-tau anak-anak udah gede semua ya. Ya makanya ini mumpung saya masih muda (pdhl dah tua jg sih), dan anak masih kecil, jadi nekadin deh, kalau bukan sekarang, bisa ketunda dan akhirnya gak jadi.

      Delete
  22. Wah, semoga di tempat yang baru semuanya menjadi lebih baik ya. Aku juga sebel sama polusi, ---dan macet. Tapi gimana atuh, terlalu cinta sama Bandung, hihihi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, urang Bandung mah biasanya sayang banget ya sama kotanya. Tapi lama-lama banyak temen2 Bandung yang suka kesel juga tiap weekend kotanya diinvade sama orang Jakarta, jadi orang Bandungnya ga bisa enjoy lagi hehe.

      Delete
  23. Luar biasa ci :) aku suka kepikiran buat merantau agak jauh (skr jg udah merantau sih tp masih deket2an hehee..), tapi suka kepikiran org tua yg jd bakal jarang ktemu anak cucunya hehehe.. Mmg perlu kebulatan tekad dan kekuatan hati ya.. Smoga kehidupan baru di sana smakin baik spt yg diharapkan, Tuhan slalu memberkati ci'Leony & family yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, sebelum pindah, salah satu faktor yang harus dipikirkan adalah apakah orang tua kita tipe yang siap ditinggal (bisa karena mandiri atau karena ada sanak saudara lain) atau tipe yang ketergantungan sama kita. Kalau ortu sampai tergantung sama kita, rasanya sih mesti mikir berkali-kali lagi untuk pindah ya. Amin, doain ya Fiona.

      Delete
  24. Setuju sama bagian quality of life-nya. Walau apa-apa mahal tapi sebanding dengan yang dibayarkan dan sebenernya kalau dihitung sama gaji yang didapatkan di sini juga masih terjangkau dan terbeli, dan senengnya karena di sini nggak jadi hedon atau hambur-hamburin uang buat mejeng gitu. Berasa banget pas di Jakarta liburan, kayaknya banyak banget uang yang dikeluarin buat 'nongkrong' doang!

    Mariska

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, gue seneng di sini karena ngga hedon. Ada sih orang-orang yang kelihatan berkelas, tapi tetep rasanya gak berlebihan gayanya. Malah terkadang orang Indonesia sama Tiongkok yang gayanya suka over the top hahahaha. Jadi malah kayak salah alamat.

      Delete
  25. ke-kepo-an aku terjawab sudah ci, aku termasuk yg lumayan penasaran kenapa cici sekeluarga 'mendadak pindah'..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, sesuai gak jawabannya sama prediksi kekepoan kamu?

      Delete
  26. Keputusan yang big banget dan aku salut sama kalian sekeluarga, so brave (:

    Aku sama suami juga lagi kepikiran untuk move out mumpung baru hamil anak pertama. Sampe hari ini Bali satu-satunya pilihan kami soalnya orang tuaku di sana. Tapi pergumulanku sama kayak ci Le, kualitas pendidikan di Bali kurang bagus. Dedeku di sana sekolahnya terlalu santai, pergaulannya juga kurang bagus. Cuman untuk hidup dan kerja sehari-hari sebenarnya oke aja sih.

    Semangat ci Le buat hidup baru di sana. Ditunggu terus cerita petualangan barunya. Tuhan yang pimpin selalu yaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Jane, cici juga sempet kepikiran Bali. Seriously it's one of our considerations. Tapi ya, sepupu cici yang di Bali, tau2 pindah balik ke Jakarta. Ya karena itu, alasan edukasi yang masih kurang mumpuni. Plus suami jg bilang lifestylenya tdk cocok untuk org yg mau serius membangun hidup hehe. Amin, Jane, doain selalu ya.

      Delete
  27. Good luck Leony and fam! Thanks for sharing... aku rasa aku ga seberani itu keluar dari comfort zone

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Bon. Kamu jg ada chance berani lah, tp kan beraninya tiap orang di bidang lain2 ya hehehe.

      Delete
  28. Kayaknya bagian tersulit dari cerita kepindahan cici adalah keikhlasan untuk menata hidup baru dari awal lagi ya ci. Gak gampang pastinya ya, wong kalau disuruh mutasi kerja ke cabang aja (yang masih sama-sama di Indonesia) yang dipikir duluan adalah kompensasi apa yg didapat dan segambreng pertimbangan penting sampai gak penting dipikirin. Apalagi kalau jadi cici dan suami ya, sampai sana baru mulai cari kerjaan baru dll... tetap semangat ya ci menjalani hari ke harinya. Tuhan berkati cici dan keluarga. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yang itu, cici sekeluarga sudah siap loh. Yang gak siap dan gak rela malah orang-orang di sekitar cici. Mereka gak tega kalo nanti di sini kita harus berjuang dari nol lagi heheheh. Kalo kita sih sudah cukup paham resikonya. Tinggal berjuang saja di sini nih, dan tentunya setia sama Tuhan.

      Delete
  29. Cici..aq ngrasa "tertampar" dgn alasan cici pindah. Brani bangett ciii..aq salutt. Lah aq mo pindah ke kota sebelah aja masi pikir2 panjang, alasan qta sama padahal, demi anak, demi dapat pendidikan dan lingkungan yg bagus. Salutt ama cici..ganbatte cii..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau alasannya sama, jangan ragu. Aku selalu percaya, kalau memang direstui Tuhan, ada jalannya untuk menuju ke situ.

      Delete
  30. ci Le, salut sama keberanian cici en suami buat wujudin kebaikan demi Abby di masa depan :) bener2 salut.
    Semoga segala sesuatunya dimudahkan en Tuhan senantiasa memberkati cici, suami en Abby

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Wi. Demi masa depan yang lebih cerah ceriaaaaa :) Doain terus ya, Wi.

      Delete
  31. Nggak, G sih nggak kaget dikau pindah, Bu. Soalnya memang dari dulu (dulu? Emang udah brapa lama ya g sok kenal sama dikau? Wkwkwkwkwk...) g merasa Indonesia memang bukan kolam yang tepat buatmu. Alesannya? Entahlah... pokoknya gak cocok aja gitu. Hihihihihi...
    Semoga sukses di sunu ya Le. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, my personality gak cocok tinggal di Indonesia ya? Kayaknya gue sih tinggal di mana aja bisa bu. Yang gue kasian tuh sama si Abby, kalau weekend minta ke mall melulu despite usaha gue untuk bawa dia ke tempat-tempat hijau. Habisnya almost no choice sih bu.

      Delete
  32. tadinya saya tebak-tebak buah manggisnya justru demi ci Le bisa menghirup udara yang lebih segar di NZ ternyata lebih "dalem" dari itu ya.. Semoga segala apa yang diimpikan dan direncanakan kelak bisa terwujud ya Ci. Ditunggu kisah-kisah Abby Tamasya di NZnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kalau cuma soal udara segar, pindah ke puncak juga bisa kan hihihihi. Iya, pertimbangannya banyak buat kita ke depannya. Harus dinekatin, karena usia makin nambah, tekad biasa makin luntur. Abby di sini tamasya mulu, dikit2 ketemu yang cantik2, jadi bingung ngerangkumnya hahaha.

      Delete
  33. setujuuuuu
    hidup di jakarta tu makin parah,,,
    aku setiap hari ngalamin macet 6 jam sehari,,,
    hedon nya jakarta - jenuh sama kerjaan ,,,
    pengen ,,, pindah juga tapi masih belum berani,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, seperempat waktu kita dalam sehari, dihabiskan di jalan. Cukup menyedihkan ya, Put. Padahal 6 jam itu bisa dipake buat masak makanan bergizi, ngelonin anak di rumah, berkegiatan sosial kemasyarakatan dll. Mana hedonnya amit-amit, biar kantong kosong yg penting gaya. Pusyiiinggg hahahaha. Harus dipupuk keberaniannya.

      Delete
  34. Gue salut abis sama lu, Le. Berani ambil keputusan yang sangat ekstrim. Dan bener banget, gue pun mulai lelah sama kondisi (manusia) Jakarta yang makin gak jelas. Udahlah kota dan udaranya kotor, sekarang manusianya juga makin kompetitif untuk hal yang gak penting.

    Gue sebenernya pingin banget pindah ke tempat macam Auckland gini. Yang bersih, yang menjamin hidup si Pam lebih baik daripada disini. Cuman mungkin belom waktunya gue ya. Semoga suatu saat gue bisa hijrah juga, atau, Jakarta beneran jadi lebih baik.

    Good luck, Le! Stay healthy and happy!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusianya kadang jauh lebih menjengkelkan ya. Tapi ya di sini kalo nemu orang Indonesia yang aneh-aneh juga sama kok mengjengkelkannya hihihihi. Kota dan udara kotor kan sebenernya itu karena manusianya juga. Lagi2 back to the human deh yg ngerusak segala sesuatu.

      Gue justru berharap Jakarta akan menjadi lebih baik, tapi entah brapa tahun lagi, tp gue percaya itu akan terjadi. Thanks ya Pes!

      Delete
  35. angkat 4 jempol buat Ci Leony dan suami! Satu kata yang pertama muncul dibenak saya saat tahu cici pindah ke NZ adalah Salut!

    Kemacetan, kesemrawutan dan polusi di Jakarta memang sudah sampai tahap yang mengkhawatirkan, tetapi tetep mau jenuh kayak mana ga bakal kepikiran pindah ke LN secara keluarga masih pada di Indo dan tetep ga bs lepas dari makanan indo hehehe... tapi jalan hidup memang tidak ada yang tahu. Saya blum buka usaha ketoprak cici dah ngacir hehehe..

    Sukses selalu ci disana. Semoga quality of life yang cici dapatkan disana sesuai dengan segala effortnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Nick, ayo usaha ketopraknya dikembangin, tau2 nanti bisa sampe NZ, ketoprak Nick Ganteng (ngarang sendiri).

      Amin Nick, semoga sesuai dengan apa yang diharapkan ya. Btw, kalo kangen makanan Indo, di sini bisa lah masak sendiri hehehe. Cuma nyari bumbunya aja emang kudu extra effort, kagak bisa ngewarteg or ngewarung hahaha.

      Delete
    2. hahaha...amin ci..

      masalahnya saya dan istri ga jago masak ci, sampe sekarang lebih sering makan diluar daripada masak hehehe.. Nasi padang ci..sebulan ga makan nasi padang kayaknya hidup ada yg kurang hehhe..kalo warteg asal bisa buat tempe orek, sayur lodeh plus telur ceplok sama sambal pete jadi dah hehehe

      Delete
  36. Amin..Amin... Tuhan selalu bersama kalian dan memberkati semua usaha kalian yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Lis. Amin!

      Nick, km thanks Alissa, biar usaha ketopraknya maju ya? Hehehehe.

      Delete
    2. hahahaha...ketopraknya lom dimulai cici..passive incomenya masih kurang untuk mulai usaha hehe..usaha kan ga cuma ketoprak, sapa tahu abis didoain kak Allisa dapet momongan, usaha juga kan tuh hehehe..

      Delete
  37. Ah, semoga betah disana Mbak. Semoga yg dicita2kan bisa didapatkan di tempat baru. Tuhan berkati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Pit. Betah sih udah, especially sama suasana di sini, walaupun sudah mulai dingin bikin gemetar hihihi.

      Delete
  38. Le! Ga mau tinggal di sini tapi boleh donk transit di sini pas ntar dari NZ mau ke jakarta hehehe :D soal urusan sekolah, ntaran ya gw mikirnya, dasar mamake males ya hahaha .. tapi salah satu alesan kita hijrah dari jakarta juga karena aku ga sanggup suruh nyetir macet - macetan di jalan, walopun di sini ngebis juga suka tarik napas hahahaha ... anyway, sending our big hug for your your little family out there!!

    tetep didoakan sapa tau kita jadi tetangga! Amiiinnn :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh mampir siniiii.. Tar gue masakin Indomie pake telor (Kali2 kangen pas abis trip lama keliling NZ hahahaha). Lu tetep bakalan stay di Sg, Gill? Soale kan si Gide nanti kudu wamil toh kalo mo tetep jadi PR? Or lu udah incer2 pindah Oz ya? Sip, kalo jodoh, lu nanti pindah ke Oz deh hehehe. Jadi tetangga kita! *Tapi kudu naek pesawat*

      Delete
  39. btw, profile picture udah ganti nih! tapi tetep ya harus ada es ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iye, abis gue baru ngeh, udah dari 2011 tuh poto kagak diganti. Now it's time to do it, teteup pake poto makan es, cuma skrg udah jadi mamak-mamak hahahah.

      Delete
  40. banyak yang bilang pendidikan disana bagus, beberapa temen yang baru punya anak seumuran abby banyak juga yang akhirnya memutuskan untuk pindah kesana :)
    klo kata nyokap g sih, orang tua itu enggak pernah takut merasa kekurangan atau susah untuk/dalam membesarkan anak2nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa aja Pit temen lu yang pindah ke sini? Tar gue ajakin kenalan, bikin perkumpulan ibu2 gembira dengan anak kecil. Ortu memang selalu siap jungkir balik demi anak. Ya walau gak semua gitu sih, ada juga ortu yang cuek hahaha.

      Delete
  41. fotomu yg terakhir itu baguss banget lee.. hihihi wah kapan ya gw bisa kesana?
    eh tapi gw masih ga paham yg heat nya bisa sampe 40 kalo summer itu australia? emang selandia baru kalo summer ga sama aja?
    gw kalo berandai2 pengen pindah si pengennya australia hehehe, tp so far semarang masih okey sih buat hidup, apalagi misua gabisa ninggal kerjaan di indo.
    baek2 yah disono le, all the best for u and family.

    ps: semoga cepet nambah juga jadi ber4 :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak usah nunggu kapan, tinggal diganti aja destinasi liburan lu jadi kemari hahahaha. Di sini (Auckland) kalo Summer palingan 28, Teph. Tapi mataharinya nyenget, tapi ga ada yang ngalahin sumuknya Oz sih, mana lalernya nempel. Di sini laler banyak banget, cuma ga sampe nempel di body kayak di Oz.

      Semarang masih oke kok, macetnya Semarang ga ada apa2nya dibandingin Jakarta hehehe. Iya doain nambah jadi ber-4, tapi di waktu yang tepat! Makasih wishnya ya, Teph. Gue tunggu lu sekeluarga main kemari.

      Delete
    2. wkwkwk masaa sih lalernya nempel? tp gw emang biasanya klo summer pas liburan di indo jadi gatau deh summernya oz wkwkwk.
      Iya semarang lumayan laid back tapi ga se laid back bali.. enaklah buat tempat tinggal, cuman harus sering liburan juga soalnya semarang kurang tempat main hahaha :P #inisihmaunyagw

      Delete
    3. Iye kaga boong! Tuh laki gue suka sampe kesel, mosok lagi jalan lalernya nemplok di body and gak pindah hahahah. Gak apa Teph, alesan buat liburan kan kalo kurang tempat liburannya hahahaha. Semarang juga sumuk, saingan sama Sby. Mgkn karena deket laut.

      Delete
  42. Ini to ternyata alasannya Abby sekeluarga pindah.. Semoga selalu sehat ya dan hidup Bu Leony sekeluarga selalu diberikan keberkahan. Aamiin.. Ditunggu cerita2 tentang keseharian di sana ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali :) Amin, makasih buat doanya. Pasti cerita macem2, mulai dari yang jelas sampai gak jelas ya hahaha.

      Delete
  43. Untuk alasan yang sama, gw milih pindah BSD dan milih kerja remote dari rumah. Banjir dan macet udah jadi memori yang memudar:)
    Nanti juga 3-4 tahun lagi akan pindah ke Salatiga tercinta, duit Jakarta dinikmatin di Salatiga:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, Pak Agus, si Liam gimana nanti sekolahnya? Tetep di BSD apa siap pindah Salatiga? Sekarang BSD aja macet parah ya kalo ada event di ICE. Pusing jg deh, ngendon di rumah aja emang paling bener.

      Delete
    2. Iya Liam aja nih masalah besarnya, kalau dia mau stay di Serpong/ Jakarta ya udah biar ikut neneknya:)
      Mau pindah ke Salatiga emang untuk cari better life quality, Serpong ini juga makin lama akan makin hedonis.

      BSD sekarang ini masih ok, macet hanya kalau ada event gede di ICE. Itupun kita masih bisa lewat jalan kampung. Gak tahu deh 5 tahunan lagi saat sudah ada CBD di BSD baru ini. Sekarang sedang ongoing semua constructionsnya.

      Delete
    3. Serpong banyak orgnya yg hedonnya lebih dari Jakarta loh, Pak. Canggih lah. Harga tanahnya di bbrp cluster pilihan jg sudah mahal! Jd memang segmennya sudah naik banget.

      Kalau Liam ikut neneknya, mungkin yg nggak tega itu bukan papanya, tapi mamanya. Harus bener2 pikir panjang kali lebar kali tinggi ya.

      Delete
  44. For the first time ever aq comment di blog cc LOL. Selama ini jd silent reader aja. Dari awal 2014 (dah lama jg yah ternyata). Salam kenal ci!

    I salute you for your big decision. It's not easy but i'm sure it's worth it. I've never been to NZ, tp suami ku pernah n dia bilang NZ bagus. Udara n pemandangannya beda sama negara lain yang pernah dia datengin. Liat foto2 dia aja aq ngiler, apalagi jd cc yg skr udah disana, pst happy bgt.

    Aq tinggal di Bekasi n buat ke gading yg sebenernya gak jauh aja butuh 1-1.5jam, parah emank macetnya. Anyway, looking forward for another story of your life in NZ. Gbu n your family.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woah, dr 2014, apa yang membawa kamu kemari, Wi? Thanks for finally commenting ya! NZ bagus banget Wi pemandangannya, and lifestylenya simple dibanding Jakarta. But it comes with big price tag hahaha. Itu sisi ga enaknya.

      Wah, sebenernya sama2 Timur ya. Tp emang macet itu ngga ngenakin banget, apalagi Bekasi juga jalan kecil2. Thanks ya, Dewi!

      Delete
  45. Christine liyantoMay 06, 2016 9:44 PM

    Keren ci leony, berani a!bil keputusan yg bisa dibilang ekstrim banget ya, ga Semua org berani gitu, Mama gimana tuh ci? Kalo baca2 d blog kan suka senewen ya, apa nanti senewen ga kalo cc jauh ga langsung respons saat dicari hehehe... Nti tiba2 nyusul ke Auckland hehe... Salam kenal yaaa ak suka ngikutin blognya. Ceplas ceplos apa adanya tapi Santun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mama cici untungnya menerima keputusan ini dengan sangat baik walau awalnya agak berat. Sekarang beliau sudah paham alasan keputusan kita. Soal komunikasi tetap lancar, kan bisa pakai WA plus skype. Pokoknya she's happy now.

      Thanks udah ngikutin blognya. Iya nih, kl di otak sudah kepingin nulis, bawaannya jadi ceplas ceplos. Yg penting jangan hajar bleh ya haha. Harus tetep enak dibaca.

      Delete
  46. selamat berjuang di negeri orang ya le...cia you. suatu keputusan besar dan berat tapi gw salut sama kamu le....ditunggu update update terbarunya yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Kiko. Pasti nanti bakalan ada updatenya. Doain kita terus ya!

      Delete
  47. Semoga betah di NZ ya Ci, kejawab sudah dgn postingan cici ini. Sebenernya suami aq jg ada rencana mau keluarga inti tinggal di luar negri. Cuma dari aq nya belum ada keberanian masih bnyk pertimbangan.
    Salut sm cici yg bs ambil keputusan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Na. So far so good. Betah di sini. Semoga tambah betah. Ya kalau pindah memang banyak sekali pertimbangan yg harus dipikirkan. Apalagi kl sudah ada anak, jangan asal nekad. Kl sudah cita2mu dipersiapkan bener2 ya.

      Delete
  48. I kinda guessed that would be why you moved, Le (for a better future for the kid(s)). Apalagi Abby demennya yg luas dan ijo ijo...sempet terpikir mau ke NZ juga sih (sblm g ketemu suami) dan pernah dibahas juga ke suami, tapi doi kurang sreg, so probably we'll just go there for holidays. Hope we'll hv a chance to catch up (in person) soon yach!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo suami dari kecil terbiasa di Sg kayaknya susah juga meyakinkannya ya, Nan. I mean sini sama Sg kan dynamicnya beda banget, kalau nggak biasa, bs bingung krn di Sg apa2 serba tight. Ya coba bawa dia jalan2 kemari lamaan, kali2 berubah pikiran haha. Iya nih, kok kita kagak ketemu2 juga sih. Heran deh! Haha.

      Delete
  49. Tebakan ak dalam hati ad benernya, cc pindah for better living.. Soalnya di bbrp post cc ad tersirat klo tinggal di jakarta udah penat.. Ya dari macetnya, polusi, orang"nya sama hiburannya mall doank.. 😑

    Ak jg pernah berpikir tinggal di Bali, trnyata kurang cocok ya klo mw ksh pendidikan yg bagus disana *mikirinnya cmn liburan seneng tinggal jg ok* ternyata enggak ya.. 😂

    Smoga JKt lebih baik dhe.. banyak taman2 buat anak" main spya ga ngemoll mulu.. tiap weekend ngeri liat macetnya jalanan ap lagi pas abis payday mall juga ga kalah ramenya 😥

    Tp bener loh ci salut sm cc n suami, mau mulai semuanya dari 0 lagi, pdahal di jkt ud nyaman :), tapi demi abby n calon adik"nya abby ya ci, ap ud ad calon dd nya abby ni? Hehehe.. ^^
    Pokoknya all de best bwt cc sekeluarga, dilancarkan segala sesuatunya disana, smoga abby makin happy jg dsana.. GodBless ci :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Better WAY of living sih Jur hehe. Iya bener, di Bali enaknya cukup liburan saja deh. Kalau untuk tinggal, tipe manusianya kurang cocok kalau buat cici. Cuma mungkin banyak juga yang cocok. Iya cici juga berharap Jakarta akan semakin membaik, karena biar gimana itu adalah tanah kelahiran cici. Siapa tau nanti pas tua akan kembali lagi.

      Iya nih Jur, soal dari nol-nya akan cici ceritain lagi di lain waktu hihi. Seru deh. Makasih ya Jur, Abby happy sekali di sini. God bless you too!

      Delete
  50. salutttt sama cc dan suami, bisa mantep dan sejalan untuk ngambil langkah gede gini. Kami sebelum hamil juga sempet ada wacana mo pindah, tujuannya ya pengen bs better living, kedepannya merasa kehidupan disini kerja-macet-mall hahaha udah suntuk, tapi masih ragu-ragu dan pertimbangannya belom cukup dana wkwkwkwk karena hamil ya di simpen dulu rencana nya, fokus cari duit dulu dah disini, mudah2an kalo memang ada jalan bisa kesampean.. Semangat cc, sehat sehat slalu, all the best!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Me, soal kesatuan hati memang sangat dibutuhkan kalau mengambil langkah besar. Dana memang sangat penting Me. Apalagi kalau pindahnya ke developed country yang apa-apanya serba mahal. Punya uang aja repot, apalagi kalau ngga punya or pas-pasan. Bisa stress jiwa raga haha. Makasih ya Me. Sehat juga buat kamu.

      Delete
  51. mulia banget tujuan kalian.. gw yakin nanti saat abby besar dan dia baca ini, terharu bgt pastinya.. Gw percaya kl perjalanan kalian kesana dilancarkan semua, itu tanda dpt restu dari Tuhan, so let it flow aja, le:)
    Kadang utk dpt hal yg lebih baik, kita emang harus keluar dr comfort zone kan! dan salut buat kalian berdua.. kalian berani dan berhasil :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, semua akan depends nanti dia di sini gimana Liv. Moga-moga sih dia tumbuh jadi anak yang sesuai harapan kita ya, dan juga didukung oleh lingkungan yang positif, jadi dia paham bener soal keputusan orang tuanya ini. Amin, Live, doain kita terus. Perjalanan masih panjang, tapi Tuhan pasti beserta kita semua ya.

      Delete
  52. hebat... selalu salut pokoknya sama orang yang berani untuk pindah ke negara lain dan harus mulai dari 0 lagi.
    semoga tercapai apa yang diharapkan yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Bun. Doakan kami terus ya.

      Delete
  53. Surprise sih waktu baca ci Leony akhirnya pindah, tapi udah menduga pasti karena ingin mencari kualitas hidup yang lebih baik. Saya setuju ci, kita memang butuh uang, segalanya juga butuh uang tapi banyak faktor lain yang juga gak kalah penting dari uang. Apalagi kalo udah ada anak ya, pasti pengen anak kita dapet yang terbaik (yang sedihnya di Indonesia masih carut marut baik dari segi pendidikan maupun kualitas hidup)
    Sukses selalu ya ci, semoga betah disana :) dan rasanya kalo dijalanin bersama sama sih, beratnya hidup pasti sanggup ditahan deh. Semangat! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masak ya, May? Soalnya keliatan dah enak ya di Indonesia hihihi. Bener banget, kalo uang, di semua tempat kita pun butuh (di sini apalagi). Di Indonesia, ada sih pendidikan berkualitas, tp chance dapetnya kok rasanya kecil banget. Dijalanin bersama, gotong royong, dan yang penting satu visi. Ringan deh!

      Delete
  54. Keputusan pindah tentunya udah dipikir mateng-mateng ya mbak... semoga membawa kebaikan nantinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Elki, doakan kami terus ya.

      Delete
  55. Replies
    1. Haha, senang juga bisa akhirnya ketemuan! Di Auckland pula, siapa yg nyangka :)

      Delete
  56. Mbak..suami kerja apa? Aq penasaran dgn seni berpikirnya..masih muda sdh bisa pindah2 dan punya banyak harta...invite bbm q lah mbak siapa tau bisa bertukar pengetahuan dan sya orangnya suka tantangan baru.. 51B333e5 atau via email doodeyme@gmail.com saya online 24 jam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya gak ada BBM, Pak. Semuanya yang kita jalani itu terutamanya adalah berkat Tuhan ditambah dengan doa dan kerja keras.

      Delete
  57. Duh Ci baca postmu ini aku jadi takut :) Soalnya Mas Pacar ada keinginan buat pindah ke SG tp belum tahu mau dieksekusi kapan haha. Takut aku yang ga bisa ditinggal-tinggal euy atau malah ga siap tinggal disana. Mungkin karena masih belum ketemu pace-nya aja kali ya. Atau aku juga yang udah nyaman tinggal di tempat yang sekarang, ada temen, udah kenal suasananya, bisa handle situasi, tinggal settling down aja. Belum siap kalo musti adaptasi lagi haha. Entahlah.
    Anyway good luck for you and fam! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Grace, kalo masih pacar mah, gak usah pusingin. Belum tentu juga nikah sm org tsb hehehehe. Toh siap gak siap, blm terikat sama komitmen. Kalau udah jadi suami atau udah punya anak, nah itu yang lebih bingung dan perlu pemikiran yang harus lebih panjang plus matang.

      Thanks!

      Delete
  58. Leony...saya setuju dengan alasan-alasan kepindahainmu,semoga di NZ hidup makin berwarna dan makin baik. Akupun nekad sama suami pindah ke Jepang, dimana saya harus melepaskan semua kenyamanan saya waktu tinggal di Bali, Pekerjaanku hiks tapi saat itu suamiku Abis bangkrut sih di Bali, jd kami ingin menguburkan kerugian kami dan menata hidup kembali di negaranya, alhamdulilah setelah 7bln disini saya hamil, kehamilan yg saya tunggu sudah 5thn, sekarang sudah tahun ke-4 dan saya betah... Awal-awalnya sih homesick dan merasa tidak bermamfaat karena saya jd penggangguran sejati...tidak punya pekerjaan...mana tetangga pada individual...jarang gak pernah bergosip...untunglah skrg punya anak hihi dan malah komunitas Indonesianya orang2 sholeh sholeha semua...hahah ini jalan Tuhan supaya saya jd lebih alim rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Arin, wah aku baru banget liat komen kamu. Telat ya. Syukur deh jalan yang dipilih ternyata malah menbawa berkah ya. Kalau aku sih temen org Indo lumayan jg di sini, tapi org lokal juga lumayan ramah2, nggak terlalu jaga jarak. Tinggal kitanya mau open atau mau diam saja hehehe.

      Delete
  59. Hai Lenoy... salam kenal ya...
    Kalau boleh tanya, waktu ngirim barang-barang ke Auckland, menggunakan ekspedisi apa ya? Apakah biaya pengirimannya mahal?
    Kalau kita belum punya alamat di sana, lalu alamat tujuannya ditulis sseperti apa?
    Terima kasih ya... GBU and your happy little family ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Irene, sudah telat banget ya saya replynya. Waktu itu saya bawa barang cuma sedikit, jadi saya pakai ATT. Kurang dari 2 meter kubik, biaya sekitar 13 juta. Tapi ya semua kita yang bungkus sendiri ya, rapi, dan jauh lebih capek krn semua barang harus difoto dan direport. Kalau baranynya banyak minimal 4 meter kubik, mendingan pakai mover. Biayanya mungkin lebih mahal sedikit (worth kalau barang banyak), tapi lebih nggak capek karena packing juga mereka yang atur. Dulu sih saya diantar barangnya sampai ke depan rumah ya, alamatnya alamat teman yg kebetulan sekarang jadi alamat rumah saya.

      Delete