Saturday, April 16, 2016

Hidup di Auckland: Kisah Membuat Surat Ijin Mengemudi

Kali ini, saya nggak mau nyeritain tata cara pembuatan New Zealand Driving License (NZDL), soalnya yang kayak begitu, bisa dibaca sendiri di website New Zealand Transportation Agency (NZTA), dan kayaknya kalau dijabarkan pun, nggak akan berguna bagi mayoritas orang yang mampir kemari. (Padahal mah, memang sebagian besar isi blog saya ini nggak guna-guna banget juga hahahaha). Yang saya mau cerita kali ini adalah, bagaimana kisah perjalanan saya mendapatkan NZDL yang tentunya tidak semudah mendapatkan SIM Indonesia. Setidaknya begitu sih berdasarkan pengalaman saya, entah kalau sekarang ambil SIM di Indonesia jadi jauh lebih susah.

Waktu saya mau berangkat ke sini, saya sih sudah research dulu, apakah SIM Indonesia saya valid. Ternyata, bisa valid kok sampai satu tahun ke depan sejak saya tiba di sini, asalkan ada terjemahan resminya di dalam bahasa Inggris dari penerjemah tersumpah yang sudah ditunjuk oleh NZTA, atau memakai International Driving Permit (IDP) yang sudah sesuai dengan United Nations Convention on Road Traffic. Saya dan suami memilih opsi kedua, yaitu membuat langsung IDP atau di Indonesia disebut SIM International di Korlantas Polri, Jakarta. Caranya gampil abis, dan hanya memakan waktu 15 menit saja. Ciyus! Biayanya, IDR 250,000, jauh lebih murah daripada pakai penerjemah tersumpah di sini, yang biayanya 40 dolar. Jadi inget ya, buat yang pingin nyetir di sini, walaupun SIM Indonesianya valid, bukan berarti bisa pakai itu doang, tetep harus didampingi IDP atau terjemahan resmi. Oh iya, IDP juga tidak bisa dipakai begitu saja tanpa ada SIM Resmi dari negara bersangkutan. Inget ya, jangan nekad cuma bawa salah satu hehe. Kalau ketangkep polisi, berabe!

Terus, kalau masih berlaku satu tahun, kenapa saya repot-repot mau bikin NZDL? Kenapa sih ngga nunggu aja sampai satu tahun ke depan? Itu karena beberapa alasan. Salah satunya, saya nggak mau repot-repot bawa banyak dokumen sekaligus kemana-mana. NZDL, biarpun cuma selembar kecil, jauh lebih sakti sebagai proof of identification. Dengan bawa selembar NZDL, saya nggak perlu lagi kemana-mana bawa paspor, bawa SIM Indonesia, dan bawa IDP (yang bentuknya rada besar kayak buku). Alasan kedua adalah, mumpung masih belum ribet sama jadual, kita jadi bisa ngatur untuk ambil tesnya. FYI, untuk konversi SIM ini, karena kita pakai SIM Indonesia, kita harus ngulang lagi tes teori dan tes praktek. Yes, you hear it right, ngulang tes lagi dari awal! NASIB! Yang bikin nyesek abis, kalau konversi dari SIM Amerika Serikat, saya nggak usah tes lagi, dan itu jauh menghemat biaya. Eh, SIM Amerika saya sudah kadaluarsa 2012 lalu, yang bikin saya beneran ngga berkutik dan harus ngulang test dari awal. 

Karena biaya konversi dan tesnya mahal, saya dan suami bertekad, kalau kita nggak boleh gagal. Nih saya kasih tau biaya untuk konversi satu SIM. Biaya aplikasinya NZD 52.10, biaya tes teorinya NZD 45.70, dan biaya tes prakteknya NZD 59.90. Jadi kalau saya bisa sekali jalan semua dan langsung lulus, total biayanya NZD 157.70 per SIM. Kalikan dua untuk saya dan suami, lumayan kan buat beli siomay sama gerobaknya? Itu kalau langsung lulus ya! Lah kalau nggak lulus gimana? Ya bayar terus biaya tes yang gagal sampai berhasil. Elus-elus dompet juga nggak akan membawa hasil. Pokoknya nggak boleh gagal! TITIK!

Untuk persiapan ini, pertama kita beli dulu buku NZTA Road Code Book seharga NZD 25.50. Iye, mau belajar aja kudu keluar modal dulu. Sebenernya ini buku ada versi online-nya, tapi kita milih beli bukunya beneran, supaya bisa lebih konsentrasi pas belajar, dan nggak tergoda untuk browsing. Hehe, boong deh hihihi, itu sebenernya karena kita nggak tau kalau yang versi online ternyata sama persis sama yang buku asal beli edisi terbaru. Kalau tau mah kita juga gak beli! Hahaha. Eh tapi bener loh, yang namanya megang buku dan konsentrasi, sensasi masuk ke otaknya lebih terasa. Pas Abby di sekolah dan saya nungguin, saya bisa sambil baca, sampe diledekin sama guru-guru. Orang mah baca novel, ini malah baca Road Code. Selain itu, kita juga buka website-website yang nawarin simulasi tes sampai ratusan pertanyaan. 

Kenapa saya dan suami sampe belajar banget buat tes teori ini? Karena saya punya pengalaman buruk dengan tes teori pas ambil SIM di Amerika saat jaman kuliah dulu. Saya kelewat menganggap enteng tes teori, dan akibatnya, bukan cuma satu kali gagal, tapi dua kali gagal! Yang ketiga baru saya berhasil karena akhirnya nyerah juga dan buka buku untuk belajar. Sementara pas tes praktek, di mana orang Indonesia itu rata-rata gagal di percobaan pertama, saya malah langsung berhasil dengan very minimum mistake, alias cuma satu kesalahan kecil yang tidak fatal. Sampai-sampai, saat saya melakukan pengambilan SIM-nya, orang di counter sampai ketawa-tawa lantaran dia tau saya gagal melulu di tes teori. Jadi, kegagalan bertubi-tubi tes teori itu, membuat saya bertekad kalau kali ini harus lulus. 

Saya masih ingat, pas dulu saya masih umur 17 dan mengambil SIM Indonesia, saya ikut tes barengan sama teman-teman dari ULISA. Tesnya di SAMSAT Daan Mogot sana. Ada tes teorinya ngga? Ada! Tapi nggak pernah diajarin materinya. Bahkan saya ingat, karena ngerjainnya kolektif, petugas samsatnya aja cuma bilang, pokoknya asal diisi aja rosternya. Ajegile. Terus ada tes prakteknya ngga? Ada! Tapi ya gitu, kayaknya total jalannya nggak sampai 2 menit, maju mundur doang, gantian buru-buru sama temen lain. Pokoknya bener-bener formalitas, tau-tau foto, dan nggak lama kelar deh. Sekarang kalau ditanya pertanyaannya kayak gimana, saya beneran ngga inget satupun. Pantesan ya SIM Indonesia nggak diakui buat langsung konversi di sini. Dapetnya aja asal jadi gitu. Mending loh saya masih ada tes walau asal-asal. Konon, yang bayarnya lebih gede lagi, gak perlu pakai tes segala! Moga-moga udah nggak begini lagi deh, ampun makanya banyak pengemudi gak berkualitas di Jakarta. 

Lalu kalau di sini (dan juga di Amerika dulu), gimana sih tes teorinya? Kita duduk di depan komputer layar sentuh, lalu nanti pas waktunya kita mulai, kita akan disuruh  masukin password untuk kode identitas. Jangan main-main deh, kameranya terpasang dimana-mana, dan seluruh barang bawaan kita harus diserahkan ke petugas. Kita punya sekitar 20 menit untuk menyelesaikan 35 pertanyaan pilihan berganda. Kita dapat kesempatan untuk 3 kali salah. Begitu kesalahan ke 4, tes langsung di stop, dan kita dinyatakan gagal. Tegang amat ya? Lebih tegang lagi kalau tau jenis pertanyaannya yang ajaib-ajaib, dan terkadang jawabannya terasa banyak yang benar. Mau lihat contohnya?

1. In addition to checking it is safe to move out from the kerb into the traffic flow, what must you do?
 
A. Accelerate quickly into the traffic flow.
 
B. Move slowly into a space in the traffic flow.
 
C. Signal for at least 3 seconds.
 
D. Reverse away from the kerb.



2. If you have a restricted licence you can carry a passenger if they are your spouse - true or false?
True
False

3. When driving at night on a road with lanes you must be able to stop in half the length of clear road you can see in front of you - true or false?
True
False

Sudah cukup puyeng? Itu pertanyaan yang termasuk not too bad loh. Yang pakai gambar-gambar buat belok-belok lebih extra ribet hahaha. Makanya kalau nggak belajar, selamet deh ye! Lalu, pada hari H ambil tes teori gimana? Lulus nggak? Ya tentu lulus dong! Gile bener kalau nggak lulus. Orang belajarnya udah kayak orang mau Ebtanas (ketauan angkatan berapa). Langsung deh kita ketawa ketiwi pas lulus. Suami lulus 100 persen, dan saya cuma salah 1, itupun gara-gara beneran di Road Code Book penjelasannya agak beda dengan yang di pertanyaan. Langsung lega, karena berarti kita tinggal tes teori aja. Mestinya sih gampang ya, lantaran udah nyetir dari umur 17 tahun gitu. Saya dan suami sengaja ambilnya beda hari, supaya bisa gantian pakai mobilnya dan nggak bentrok sama jam sekolah anak. 

Gimana sih tes praktek di sini? Tesnya ya kita pakai mobil sendiri, didampingi oleh petugas. Petugas akan tempel cermin seperti spion di sisi tempat duduk dia yang berfungsi untuk melihat gerakan mata kita selama kita ujian. Dia akan memberikan perintah untuk belok, stop, dan berbagai arahan lainnya. Kalau nggak jelas, kita boleh nanya. Banyak sekali kesalahan fatal yang kalau satu kali saja kita salah, langsung dianggap gagal. Kalau kesalahan minor, selama jumlahnya sedikit, masih bisa lewat. Contoh kesalahan fatal, misalnya di tanda STOP tidak stop 100 persen; pas di persimpangan harus belok, kita lupa giliran kita yang mana alias lupa give way ke pemakai jalan lain; kelebihan speed limit 10 km/h; lupa memakai safety belt saat mobil sudah jalan, dan beberapa hal lainnya. Dijamin, LANGSUNG gagal! Kalau yang kesalahan kecil-kecil contohnya gimana? Misalnya kurang jaga jarak dengan mobil lain; pasang sen kurang dari 3 detik sebelum belok; salah ambil jalur saat belok; lupa tengok blind spot saat mau pindah jalur (beneran kudu nengok ya, gak boleh cuma lirik spion), dan beberapa hal lain. 

Dua mingguan kemudian (iye lama banget ye, soalnya beneran yang antri gila-gilaan), barulah suami dapat giliran tes praktek. Lulus nggak? Langsung lulus! Wuih hepi bener dong kita. Dia dapat petugasnya orang India, dan katanya ngga banyak omong, langsung to the point. Pas tesnya sudah selesai, langsung diselamatin, dan dijelasin kesalahan kecilnya. Kalau nggak salah ada tiga kesalahan kecil. Suami saya pun pede kalau saya pasti langsung lulus juga. Soalnya kata dia beneran nggak susah. Bahkan saya juga yang ngasih tips-tips ke suami berdasarkan pengalaman saya dulu. Mestinya saya bisa lulus juga lah ya. Tes saya waktu itu 3 hari setelah tes dia. Lalu gimana nasib saya?

Malang tak dapat ditolak, di hari tes saya, keadaan di rumah kacau balau. Abby sakit demam tinggi sampai 39 derajat celcius. Saya juga ketularan dan batuk pilek parah. Mau ganti hari tes sudah ngga keburu karena minimal harus kasih tau 2 hari sebelumnya dan membayar biaya tambahan (kalau nggak salah sekitar NZD 19). Jadi hari itu, dalam keadaan super teler, saya tetap berangkat untuk tes praktek, tetap dengan perasaan positif karena mestinya saya bisa. Tibalah giliran saya. Petugas saya seorang Filipino, dan bawelnya minta ampun. Di sini perasaan saya sudah ngga enak, karena ditanya-tanya melulu soal background saya. Dari mana, pernah punya SIM apa, dulu langsung berhasil nggak pas tes, dll. Di situ saya ragu, apakah saya harus jawab atau ngga. Kalau saya nggak jawab, nanti dibilang sombong. Kalau saya jawab, nanti bisa ganggu konsentrasi. Akhirnya saya jawab juga, karena nggak enak kalau pertanyaan petugas nggak dijawab. 

Saya berusaha banget dalam keadaan setengah teler itu, saya ikuti semua perintah-perintahnya. Somehow, saya yakin kalau berhasil lewat tes tersebut. Sampai akhirnya saya tiba kembali di tempat tesnya, dia bilang saya melakukan kesalahan fatal, yaitu tidak memberikan giliran (give way) ke kendaraan lain. Saya yakin betul kalau saya sudah lihat ke semua arah, dan tidak ada kendaraan lain di persimpangan tersebut, tetapi dia ngotot kalau ada mobil putih di situ. Saya tidak didampingi siapapun jadi tidak ada saksi, dan walaupun saya argue dengan dia (di sini ada ketentuan boleh argue kalau yakin benar), tetapi tetap tidak berhasil. Siapakah saya ini dibandingkan dengan petugas? Saya lemas banget. Selain lemas fisik, juga lemas hati. Saya harus daftar ulang dan melayang sekali lagi NZD 59.90.

Saat saya diskusi dengan suami saya, suami saya bilang, kalau memang ada kemungkinan saya "dikerjain" sama si petugas tersebut. Mungkin ada perasaan cemburu atau apa dengan latar belakang saya (setelah diinterogasi oleh dia). Semestinya, petugas sama sekali tidak boleh bertanya-tanya soal background dari orang yang dites. Suami juga mengingatkan saya kembali soal gimana hubungan saya yang kurang baik dengan coworker saya dulu yang kebetulan orang dari negara yang sama dengan si petugas tersebut (yang dulu sempat menikam saya dari belakang). Walaupun tidak ada relasi langsung, tapi suami bilang, mungkin ada faktor sesama orang dari negara berkembang. Suami juga bilang, berdoa saja, di tes selanjutnya, saya tidak ketemu sama dia lagi. Nanya sama orang lain lagi yang pernah tes di situ, katanya tempat tes yang saya ambil itu memang juara banget kalau gagalin orang. Malah temen saya pernah dua kali gagal di situ, walaupun sudah yakin nggak salah. Temen saya nyuruh saya ke test center lain yang jauhan hahahaha. Ya elah, udah keburu daftar sayangnya.

10 hari kemudian, saya tes lagi. Entah kenapa, saat saya mau tes itu, si Abby bisa kena sakit lagi. Cape deeeeehhhh. Saya tes pukul 15.30 sore, dan pukul 12 siang, saya ditelepon dari sekolah, dan diberitahu kalau Abby nangis 2 jam nonstop dan terus menutupi telinganya. Semua guru curiga dia kena ear infection. Snack dan makan siangnya pun tidak disentuh sama sekali. Jadi pas dia sampai rumah, saya suapin dia makan dulu sambil separuh nangis-nangis nutupin telinga. Sudah gitu, Abby jadi nempel berat sama saya, gak mau terpisah. Gimana ini? Gawat atuh. Di sini, kalau ke klinik kita hanya bisa bikin janji ke GP (dokter umum) dan tidak bisa langsung ke Pediatric (spesialis anak). Jadi kemungkinan kalau kita ke dokter, bisa memakan waktu berjam-jam, sementara saya harus tes dan nggak mungkin bisa diubah lagi waktunya. Jadi rencananya, dia akan ikut saya ke tempat tes sama bapaknya, terus setelah itu langsung ke klinik, karena klinik dan tempat tes lokasinya sekompleks. 

Pas mau tes, saya udah berdoa terus, semoga si Abby bisa tenang nggak nangis dan mau pisah sementara sama saya. Jadi waktu pas saya dipanggil, bapaknya distract dia dengan mainan. Pas di reception, saya ketemunya sama si Filipino lagi! Ampun dah! Eh tapi ternyata dia cuma cek nama saya, dan petugas yang akhirnya mendampingi saya adalah Kiwi alias orang NZ. Ngga tau kenapa, hati saya udah lumayan lega saat tau petugasnya beda. Si Kiwi ini nggak banyak omong, nggak nanya apa-apa sama sekali soal latar belakang. Bener-bener to the point soal tesnya, dan ketentuan-ketentuannya. Tapi tesnya lamaaaa banget, bikin deg-degan. Mestinya sekitar 20 menit, sampai 30 menit nggak selesai-selesai, lewatin gang dan persimpangan banyak banget. Pas sudah selesai, dia ngomong, "It was a good ride. Congratulations you have passed." Halleluyaaa!! Senengnya minta ampunnnn! Terus dia jelasin kalau saya ada 2 kesalahan kecil, yaitu salah ambil jalur sehabis dari salah satu roundabout alias mestinya ambil jalur terdalam (di sini roundabout banyaknya gila-gilaan, dianggap lebih efektif drpd traffic lights), dan kasih sen cuma 2 detik (minimal harus 3 detik). Detailnya parah ya? Untung lulus :). 

Yang ajaibnya, setelah saya selesai tes, si Abby telinganya bisa nggak sakit lagi! Terus dia minta ke McD. Aneh bener nggak sih? Suami saya bilang, sepanjang saya tes itu, dia doa Salam Maria terus-terusan, maksudnya supaya Abby tenang. Beneran loh, Abby tenang sampai selesai, terus kita ke McD dan dia happy banget main di playland. Sampai besoknya di sekolah, gurunya bingung anak ini sebenernya kenapa lantaran beneran telinga sudah gak sakit lagi. Entah sakit telinganya yang beneran cuma sementara, atau doa Salam Maria-nya yang beneran manjur, yang jelas saya percaya saat hari saya ambil SIM itu, Tuhan bener-bener jaga saya meski awalnya harus di"tes" dulu sama Abby sebelum beneran tes praktek. Sore itu, saya makan cheeseburger dan kentang dengan hati super gembira. Semoga akan banyak hal baik lainnya yang datang di hari-hari ke depan. 

So, sekarang saya sudah resmi punya NZ Driver License yang berlaku sampai 10 tahun ke depan. Ada yang mau saya setirin? Dijamin nggak sepreman saya nyetir di Jakarta deh!


Kenangan masa lampau, foto lebih dari 12 tahun lalu. Buletnya masih sama kan ya? Hahahaha.


Psst, Kunci Jawaban:
1. C
2. True
3. False

Alasannya apa, silakan cari sendiri di buku, hahahaha...

48 comments:

  1. hahahaha alasan loe pindah belon dibahas2 ya le? gw masih setia menanti loh... alias kewpo.. :)
    hahaha ribet juga yak bikin SIM disana... kalo disini, apa2 soal duit. dan ga punya SIM juga berani bawa kendaraan.. Giliran ada razia, pada balik arah meskipun jalannya searah. Parah kan?
    Anyway, Congratz yaaak... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tunggu saja tanggal mainnya. Yang jelas, alasannya masuk akal buat gue dan suami, tapi ga masuk akal buat beberapa orang hahahaha. Di sini, duit juga berperan sih, soalnya bikin resmi aja mihillll hahahaha.

      Delete
  2. Selamat Ci Leony udah dapat NZDL-nya :) Sedikit share waktu aku buat SIM A tahun lalu, waktu aku tes teori, peserta tes gak dikasih lembar soalnya loh melainkan langsung dibacain jawabannya. Lalu waktu tes praktik, aku cuma ikut naik mobil aja dan yg menjalani tes teori cuma satu orang aja (waktu itu di dalam mobil ada 5 orang sama petugasnya) hahaha...
    Ohya soal orang Filipino, kebetulan rekan kerjaku orang sana dan agak keras kepala sih orangnya tapi kelemahannya ketutup sama kinerjanya yang baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Nichole! Bener banget tuh, cuma formalitas abis itu tes dua-duanya. Intinya mah kalo udah bayar pasti lulus (apalagi yang bayarnya extra alias gak rate resmi hahahaha).

      Kalau cici agak pengalaman buruk sama coworker yang orang F. Di depan kita manis2 ternyata di blakangnya, mau sabotase! Parah.

      Delete
  3. jawabanku salah semua x_x

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa kok, soalnya kalo bener juga gak dapet hadiah. Hihihi.

      Delete
  4. Testnya persis di aussie le,gw dari 2008 dsini masih blom brani ambil tesnya huhuhu elo jagoan sekaliii... utk point id, drivers license kalo dsini cuma dnilai 40 point jadi kudu kasih supporting docs buat buletin 100 points (sbagai identifying certificate kalo mo ngapa2in). Gw jd terpacu buat apply aus dl krn cerita elo le. Hahaha. Dsana kalo ga lulus langsung di off-in gak kasih kesempatan L plate with certain driving hours or P plate gt ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, harus diusahain ambil, Fab. Bukan kenapa-napa, makin lama ditunda juga gak beri kita keuntungan, malah kayaknya makin males gak sih kalo tambah lama. Gue kan ambilnya conversion ya Fab, jadi gak pake L plate lagi. Yang pake L plate tuh yang ambil dari awal banget alias belum punya apa-apa. Kalau udah lulus teori tapi belum lulus praktek, lu bisa nyetir pake restricted license alias kudu didampingin sama orang lain di sebelah lu yang punya full license.

      Delete
  5. Iya nih ci.. Masih penasaran dengan alasan kepindahan setelah pertanyaan tentang si sus terjawab tuntas dipostingan sebelumnya hehehheehe #Kepo
    Semoga dgn sudah mengantongi NzDL ini bisa semakin memudahkan gerak cici sekeluarga ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, gak usah kepo, nanti juga akan dijelaskan kok. Iya, gerak sih dari dulu udah lumayan oke, cuma gak praktis aja kalau bawa banyak-banyak dokumen. Sekarang enak cukup bawa satu aja.

      Delete
  6. Lebih mudah tes teori atau TOEFL/IELTS, ci? Wakakaka... Soalnya baca 3 soal itu berasa kayak lagi ikut TOEFL/IELTS :D
    Tuhan itu ajaib ya ci. Selamat ya sudah punya SIM disana. Lama juga ya masa berlakunya. Kalau disini pan hanya 5 tahun. Drive safely ya ci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOEFL persiapannya lebih sangar lagi dong Wien hehehe, dan lebih mahal pula. Di US berlaku 8 tahun, di sini 10 tahun. Indonesia 5 tahun mungkin supaya duitnya lebih sering masuk hahahaha... *ngarang, tapi bisa juga sihhhh..*

      Delete
  7. yay selamat yaaaa... :)

    iya dulu pas bikin sim di indo pertama kali juga ama ulisa. test teori asal2an aja soalnya petugasnya bilang asal jawab aja gpp. hahaha. gua malah gak pake test praktek lho waktu itu. mantap emang bikin sim di indo. ngasal abis. :P

    pas pindah disini, gua kirain ujian teori nya bakal gampang jadi gak pake belajar. langsung gak lulus. huahaha. malu2in. akhirnya belajar dulu baru test lagi dan lulus. kalo test praktek walaupun deg2an abis (petugas nya sampe bilang jangan nervous haha) tapi langsung lulus juga. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu gak ada rasa tegang gimana-gimana ya, Man. Soalnya ngambilnya rame-rame, testnya asal jadi, dan pulang pasti dapet SIMnya hihi. Kalau di sini mah beneran pake acara tegang segala. TOSS! Sesama pernah gagal pas tes teori hihihi.

      Delete
  8. Gile ci, ujian nya susah bener.. sampe detail bgt krg nyalain sen 1 detik. Kl di indo mah gampil bgt ya tes nya.. jd ikut deg2an baca nya, akhirnya good news jg. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Indo mah bukan cuma gampang, malah kayak ngga ada test aja gitu. Formalitas doang asal lewat dan ngisi form. Di sini detail abis org-org yang test, semuanya certified, dan mereka bisa dipecat kali kalau nggak bener.

      Delete
  9. gua bacanya aja berasa ribet banget hehehehe... kalo disini yang penting ada duit... tapi katanya bikin sim sekarang uda ga semudah dulu... katanya sih, ga tau bener apa engga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kudu belajar, Mel, kalau ngga belajar ya rasanya ribet dan aneh. Katanya kan? Tapi liat-liat komen di atas yang recently baru bikin SIM juga sama ternyata error juga sampe sekarang testnya.

      Delete
  10. Horeeee selamat yaaaa...abby kenapa ya masi misterius... g dulu belajar nyetir dan pny sim pertama malah di amrik.. di indo ga bole nyetir hehehe.. pas pulang sini sama bokap disuru ikut les nyetir lg dong.. ga percaya diaa hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iye, Bon, di Jakarta justru lebih butuh skill. Skill manuver dan pindah-pindah jalur seenaknya, dan kewaspadaan tingkat tinggi karena orang-orang di sekitar kita nyetirnya kayak laler (kebanyakan suka lupa pasang sen, belum lagi motor....arrghhh). Kalau di Amrik teorinya kan dijalanin hihihi. Sama polisi juga beneran takut, tilangnya gede abis.

      Delete
  11. Huwaahh..ikutan lega Le. Selamat yaaa...bener2 yaaa...perjuangan banget krn anak sakit tiap mo tes, tapi puji Tuhan akhirnya lulus. Sekali lagi selamat yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, Lis, thanks. Iya sakitnya aneh-aneh dan nggak terduga. Untungnya lulus, dan anaknya ikutan sembuh.

      Delete
  12. Yeaaaah bisa dapet SIM, bisa nunut nanti kalo aku ke New Zealand hahaha
    Pas beberapa bulan lalu anak2 sakit bapil ga sembuh2, aku mengira karena hawa di Sby (indonesia) yang ga gitu bagus. Dan baca ceritamu ke NZ, aku langsung berpikiran tentang enaknya hawanya dan ga bikin anak sakit. Soalnya dulu pas anak2 sakit, solusi gilaku adalah pindah negara hoahahaha, ngayal begitu pindah anak2 bapilnya sembuh sendiri ga pake dokter.
    Eh ternyata Abby sakit ya, tapi ga pake ke dokter sembuh sendiri kan ya?
    I can feel you, rasanya ribet banget anak sakit, rewel, harus ujian SIM. Untung misua siaga le...dan Thanks God udah sembuh Abby-nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sini aku setirin! Walaupun di sini mobilku kecil, kalo ngangkut kamu seorang masih bisa lah. Kalau ngangkut sekampung baru gak bisa hahahahah.

      Di sini Abby kalau sakit ya gak pernah ke dokter. Ke dokter cuma pernah buat imunisasi, itupun susternya yang suntik (ga ketemu dokter sm sekali). Ngga bakalan dikasih obat deh kalau di sini kalau sakit macem flu gitu. Sembuh sendiri, cuma minum parcet, istirahat, sama mnm obat madu Kiwi Herbs.

      Delete
    2. Menarik itu, flu tanpa obat. Cuma belum tentu aku nya yang tahan lo.

      Delete
    3. Gue jg kmrn agak ga tahan. Beli obat flu over the counter semacam neozep gitu yg dose untuk 3 hari. Harganya 20 dolar aje. Nangis bombay soalnya isinya mirip beneran sama Neozep yg per stripnya di Indo cuma 2000an haha.

      Delete
  13. gua le... termasuk yang bikin SIM dulu ga pake ujian setir. kalo ujian teori ada tapi seinget gua di lembar soalnya, ada jawabannya jadi gua tinggal salin :))
    hasilnya, ya gua ga bisa nyetir sampe sekarang biarpun sim udah punya dari 17thn hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Balada SIM tembak ya, Des hahahaha. Ayuk lu les lagi lah, biar makin mobile kemana-mana bisa nyetir. Buat future needs juga kalo nanti udah ada si kecil, buat anter ke sekolah.

      Delete
  14. akhirnya lulus juga ya ci, bacanya ikutan legaaaa..
    puji Tuhan abby udah gak sakit lagi. Jadi akhirnya gak jadi ke dokter donk ya ci?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Legaaa banget. Ngga jadi ke dokter hehehe. Emang di sini so far kalau sakit flu-flu gitu gak pernah ke dokter udah sembuh sendiri. Kalau di Indo pasti udah mampir ke DSA deh.

      Delete
  15. Hi ci..ak br ambil sim a early this year and caranya masih sama tuh kek yg cc sebutin di atas. Trnyata dr dl ga tobat2 org samsat. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, ternyata masih aja sama. Nasib deh ga maju-maju negara kita. Tapi mungkin orang kita juga kebanyakan kali ya yang mau ambil SIM. Sebenernya kalau SIM itu dibikin susah ambilnya, pemakai jalan yang ugal-ugalan juga mungkin lebih sedikit ya.

      Delete
  16. akhirnya..selamat ya..

    ikut deg degan jadinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikutan lega juga kan ya di belakangnya hehe.

      Delete
  17. Ugh kapan ya di Indonesia juga mesti begitu untuk bisa dapet SIM. Biar orang-orang di jalanan nyetirnya ga seenak udel kayak punya 9 nyawa.
    Btw congratulations ya papa mama abby! Hihihi lega yak udah punya sim sana. Paling penting, bisa dijadikan id card juga ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, entah mesti nunggu sampai kapan sampai soal SIM ini ditanggapi serius sama orang Indonesia. Anak-anak SD aja kalau di jalanan kompleks suka naik motor sambil tumpuk-tumpukan oleng-olengan, bikin spanneng pemakai jalan lain. Thanks, Live.

      Delete
  18. Congrats Le !! Yakin ada campur tangan Bunda Maria karena tidak ada doa yang sia sia. Peluk cium untuk Abby ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Jul. Gue yakin semuanya ada campur tangan Tuhan dan Bunda Maria. Cium balik dari Abby.

      Delete
  19. asikkkk...bentar lagi tamasya dong keliling NZ...bnyk roundabout juga yah disana

    Rgds,
    sani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, tamasyanya masih yang deket-deket aja nih. Nanti kapan-kapan gue share deh. Di sini ampun banyak banget roundabout hahaha. Kalau ngga biasa sih beneran bikin keder apalagi pas traffic lg tinggi. Untung lama-lama paham cara kerjanya.

      Delete
  20. Congratulation ci! Ada teman istri baru balik abis kuliah di NZ dan dy bilang kita berdua harus liburan ke NZ road trip 2 minggu, tapi kok jadi ngeri hahaha takut ditilang secara diindo bawa mobilnya kayak supir metromini hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bawa mobilnya pelan-pelan aja, dan jangan sambil main HP. Aman kok, banyak yang campervan-ing di sini buat muter South Island. Bisa bikin tambah mesra pasangan suami istri, soalnya, kalo nyasar kan berdua hahahah.

      Delete
  21. Keren perjuangannya.. saya dapetin sim di Indonesia saja lumaya susah, dan harus bolak balik buat tes..
    salut untuk usahanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya di Indonesia dulu gampang soalnya berjamaah gitu rame2 sama temen2 hehe. Kalau beneran harus bolak balik utk test sih bagus artinya Indonesia is getting better. Tp kok komen2 di atas msh pd blg gampil ya alias formalitas aja hehe.

      Delete
  22. Holaah ci... Baru mau komen sekarang ah.. Apa kabar aku ya test disana? Hahahah.. Kemaren dapetin sim aja gampil ga tes apa2.. Makanya sekarang bawa mobil ke jalan masih degdegan tegang ga karuan hahaa... Thx for sharing cici

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Makanya serem kan di Indonesia nyetirnya banyak yg ignorant. Pasang sen aja ngga hahaha.

      Delete
  23. Aduh kita kalo liburan ke NZ dan OZ itu kan selalu sewa mobil sendiri ya, deg2an bo takut kena kamera tilang, banyak bgt ya roundaboutnya, terus pusing deh kalo mau pindah jalur..emang ga bisa sembarangan nyetir disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, kalau sudah biasa, lama-lama bakalan santai kok. Di mana-mana sebenernya nggak boleh nyetir sembarangan juga sih, cuma sayangnya level tertibnya petugas dan orang2nya beda2 hihihi.

      Delete