Tuesday, February 09, 2016

Soal Image

Saya tuh sudah dari bulan Desember lalu sebenernya mau post soal ini, tapi kepending-pending terus, lalu hampir lupa. Semuanya ini gara-gara postingan Jepang, postingan Semarang, postingan ulang tahun, kemudian lupa... untungnya sekarang inget lagi (maklum, kebanyakan dengerin Kuburan Band yang lagu terkenalnya cuma 1 yaitu Lupa-Lupa Ingat. Eh kemana ya tuh band?). Sebelum semakin ngelantur, marilah kita bahas hal yang ngetrend banget sejak Pak Presiden Jokowi ini menjabat, yaitu kata pencitraan. Aneh ya kenapa kata pencitraan itu baru ngetop belakangan, padahal dari jaman dulu udah terkenal kata yang sama dalam bahasa Inggris yaitu image. Bukti nyatanya, kalo orang laper terus makannya malu-malu, pasti temennya nyeletuk, "Udah, makan aja lu, jangan jaim!" Jaim = jaga image = jaga pencitraan. Tapi kalo disebut japen atau jancit, kedengerannya gak asik. Hihihi..


Saya ngga mau ngomongin level tinggi lah soal pencitraan ini. Kenapa saya gatel mau nulis, semata-mata cuma gara-gara kejadian saat pertemuan lingkungan Minggu Adven ke III di lingkungan saya yang Katolik. Hari itu temanya adalah Keluargaku Penuh Syukur, dan sub temanya adalah Syukur Atas Pelayanan. Seperti biasa, kalau acara begini, kita suka memanggil pembicara dari luar, yang dianggap ahli, pokoknya intinya bisa berbagi sama kita mengenai makna dari tema hari tersebut. Sebutlah nama si pembicara ini Bapak A. Saya belum pernah bertemu dengan Bapak A ini sebelumnya, tetapi banyak dari warga lingkungan yang sudah kenal dengan si Bapak karena rupanya dia orang lama yang sudah beberapa kali membawakan renungan sebelum saya masuk ke lingkungan ini. Pembawaannya kelihatan berwibawa, tapi kenapa sejak awal dia berbicara, saya merasa ada yang sungguh mengganjal di hati. Saat itu saya tidak bisa ungkapkan, tapi intinya bikin saya merasa nggak enak. Mohon maaf, saat itu saya kok menyadari kalau.... this person is too full of himself.

Susah buat saya membicarakan karakter orang. Pasti saya akan dibilang judgmental, but I'll take it this time kalau saya dibilang judgmental. Saya yakin kita semua pasti pernah ngomongin karakter orang. Kenapa si Bapak A ini menurut saya sangat penuh oleh dirinya sendiri adalah, karena dari awal sampai akhir dia berbicara, bukannya dia mengacu pada tema yang berpusat pada KELUARGA, dia malah terus menceritakan soal dirinya sendiri. Bagaimana dia sudah menempuh pendidikan di sana sini, bagaimana dia pelayanan di sana sini, mencuci kaki orang-orang dan sebagainya. Saya sampai nungguin, kapan ini soal keluarganya akan dibahas? Apakah ada keluarganya yg juga bersemangat melayani sesama? Nggak juga, dia malah menceritakan dirinya sendiri terus-terusan. Bukan kenapa-napa, tapi kita semua punya buku panduan dari keuskupan yang berisi kisi-kisi yang harus dibahas. Kok ngga ada sedikitpun yang dibahas? Kalau memang kita manggil pembicara cuma buat nyeritain diri sendiri, kok saya serasa nggak dapet apa-apa ya dari pertemuan saat itu.

Puncaknya adalah saat ada sesi tanya jawab. Saya saat itu angkat bicara, sebenernya lantaran saya iseng kepingin tau opini orang ini kalau ada dalam situasi yang saya alami. Secara beliau mengaku kalau sudah mendalami ilmu endeswei endesbre dalam filsafat, mestinya dia lebih pinter daripada saya. Saya bercerita kira-kira isinya gini,

"Pak, saya mempunyai seorang temen baik. Orangnya sangat kaya, rumah mewah, mobil banyak, semua orang mengagumi dia karena kekayaannya, dan semua orang ingin menjadi temannya. Kebetulan saya salah seorang kawan dekatnya. Ini berkaitan ya pak dengan tema hari ini bahwa kita harus melayani sesama. Nah, orang terdekat yang sering melayani kita itu kan asisten rumah tangga ya Pak. Itu kan juga sesama kita yang harus kita hargai. Saat itu saya melihat bagaimana kawan saya itu memperlakukan pembantunya dengan tidak semestinya. Manggil pembantunya saja bukan seperti memanggil manusia, tapi cuma 'eh eh eh eh', dilanjutkan dengan perintah kerja ini itu secara kasar seakan-akan pembantunya tidak bernama dan cuma mesin. Saat itu saya bertanya ke teman saya, apa kamu tak kenal nama pembantumu? Dijawab oleh dia, 'Buat apa kenal? Tiap brapa bulan sekali juga ganti, gak ada gunanya ngafalin nama.' Nah, Pak, di saat seperti itu, bolehkah saya mengingatkan kawan saya secara pribadi kalau pembantu itu juga sesama kita, Pak?"

Kemudian bapak itu menjawab, demikian.

"Nggak perlu itu, biar saja kawanmu begitu. Cukup saja kamu doakan temanmu supaya ada kuasa roh kudus. Kuasa doa itu lebih kuat loh daripada kita negur teman."

Saya mulai bingung, lalu saya bilang lagi,

"Pak, kalau doa itu saya lakukan dan saya percaya kuasanya, tetapi kalau ada sesama manusia memperlakukan sesamanya secara tidak baik di depan mata kita, bukankan kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk ikut mengingatkan?"

Dijawab lagi oleh dia,

"Oh tidak perlu, percayalah soal kuasa doa."

Di sini saya merasakan keanehan dari jawabannya. Rupanya bukan saya sendiri yang merasakan itu, ada seorang bapak yang juga merasakan keanehan yang sama, sebutlah bapak B. Bapak B bilang,

"Pak, menurut saya kalau situasi yang terjadi seperti itu, tidak ada salahnya loh mengingatkan. Sekedar memberi tahu kalau dia itu salah, karena kalau tidak, orang yang kaya dan sudah biasa dipandang hebat tak akan sadar kalau dia salah."

Bapak A kemudian menjawab lagi, dan jawaban inilah yang bikin saya makin pening.

"Jangan dong, gak perlu diingatkan. Kalau kita mengingatkan dia, nanti IMAGE kita di mata dia jadi jelek. Sayang kan image di depan temen jadi jelek."

WTH PAK? SERIOUSLY? Saya sampai mengerenyitkan dahi. Yesus aja menegur orang yang mau melempari Maria Magdalena dengan batu, padahal Maria Magdalena dinyatakan pendosa loh, Pak... Plis dong ah. Coba bayangin kalau Yesus jaim di depan orang Farisi, yang ada Maria Magdalena udah keburu meninggal, boro2 bisa jadi saksi kebangkitan Yesus --> Ini saya maunya ngomong gitu, tapi ditahan lah soalnya tar saya dicap songong, kok brani nantang orang yang dituakan.

Saya langsung sadar, perasaan saya dari awal soal ada yang mengganjal di hati itu benar adanya. Rupanya, si pembicara beken ini, yang katanya pendidikannya dalam filsafat sudah jauh lebih mumpuni dari saya yang abal-abal, dan sering diundang pelayanan kemana-mana itu, lebih mementingkan image dirinya sendiri, daripada menolong sesamanya yang diperlakukan tidak adil di depan mata dia sendiri. Saya sampai mikir, kok bisa ya orang ini jadi pembicara, apa mungkin bahan jualannya dia adalah imagenya ini? Hihihi... maaf ya Pak, tapi sampai pulang itu, saya, Bapak B, dan beberapa orang lainnya masih garuk-garuk kepala sama jawaban bapak.

Makin saya merenung, saya juga baru ngeh kalau memang manusia pada dasarnya penuh dengan image yang sedang dibangun. Beberapa orang bahkan berusaha terlampau keras untuk membangun image tertentu, ujung-ujungnya rata-rata cuma supaya dapat pengakuan dari orang. Orang juga begitu takut kalau sampai ada citra buruk yang melekat pada dirinya, jadi segalanya kalau bisa harus mendekati sempurna. Sedihnya, di jaman media sosial seperti ini, pencitraan di luar itu bisa jauh lebih indah daripada aslinya, dan seringkali mengorbankan faktor-faktor yang sebenarnya jauhhhh lebih esensial daripada sekedar pandangan orang lain.

Di dunia ibu-ibu ini malah lebih ngeri. Level kompetisi udah bikin orang makin gila-gilaan jaga image. Sedihnya lagi, anak-anak dan keluarganya pun, sering jadi korban pencitraan orang tuanya. Percaya atau ngga? Saya ada baca artikel di sini soal hal-hal yang suka dipalsukan orang di media sosial. Saya akan pilih beberapa yang menurut saya ngehits banget sama pemakai socmed di Indonesia.

1. Penampilan wajah dan body.

Udah tau lah ye, jaman sekarang hampir semua orang pake tools buat bikin muka jadi lebih bercahaya dan kinclong, segala noda-noda hilang, bayclin juga kalah, hanya dalam hitungan beberapa klik saja! Body gendut? Liquify saja! Saya pernah bahas ini di postingan saya tahun 2014 yang ternyata bikin heboh gegap gempita (dan penuh komen anon berisi kekesalan hahahahaha). Kirain trendnya bakalan ilang loh, eh gak taunya makin wahid aja tuh aplikasinya. Pas dulu saya bilang saya gak pernah pake, saya dibilang sombong. Susah ye, nyari citra yang sesuai kemauan orang. Sekarepmu deh.

2. Hubungan Dengan Orang Lain

Siapa yang suka risih kalau suami istri terlalu vulgar muja muji pasangan secara bergantian di media sosial ? *ngacung*. Kadang suka bikin kita jadi punya lower self esteem juga kan ya kalau kita ngelihat orang lain pas Valentine dikirimin bunga, dikirimin boneka, dikirimin kue, dikirimin coklat, sementara suami kita kok cuma di depan komputer main game... *eh, itu mah cerita saya sendiri ya hahahahaha* Untungnya abis gitu saya sadar, kalau di balik yang berbunga-bunga itu, banyak juga yang ternyata menyimpan kisah tragis dalam bahtera rumah tangga. Bahkan seringkali yang mewah-mewah itu cuma buat "alat bantu" rekonsiliasi setelah pertengkaran besar.

3. Makanan di Restaurant

Dulu saya suka kagum liat orang bisa foto makanan secara vertikal, keren banget rasanya bisa motret dari atas meja, lalu semuanya serba sempurna dengan berbagai filter yang menambah selera. Kemudian saya baru mikir, ealah, brapa lama itu waktunya buat geser-geser piringnya, buat mastiin semuanya beres, buat naik ke atas kursi (bahkan meja) demi dapetin foto yang full, ngatur cahaya. Apa nikmat makan kayak gitu? Yang ada, begitu mau dimakan, sudah keburu dingin. Yang lebih apesnya, yang motret kepleset terus gabruk ke meja dan blepotan makanan hahahaha. For the sake of one picture, Dude! Kecuali ente editor artikel makanan, boleh lah naik kursi.

4. Makanan Sehat

Pagi, post ke socmed foto overnight oats lengkap dengan buah-buahan, muesli, dan berbagai super food lainnya, lengkap dengan caption-caption penggaggas hidup sehat. Temen-temennya langsung terpacu, besoknya semua bikin juga demi persaingan menuju body biola. Ehhhh gak taunya siang makan masakan Padang, pake kikil sama telor dadar dan gule nangka, tapi ya tentu ngga dipajang, soalnya apa kata dunia kalau sampe ketahuan hwahahaha.

5. Pakaian, penampilan keseluruhan

Kita kadang tuh suka ngiler liat penampilan orang di socmed, banyak foto diri, pakai fashion style model terbaru, dengan gaya foto yang tidak menghadap kamera (agak kekinian tapi ngga juga). Ngiler sama bajunya lah, sama aksesorisnya, sama kecantikan yang makainya lah. Padahal ya, percaya atau ngga, buat 1 foto aja, mungkin takenya lebih dari 20 kali! Itupun yang take pembantunya, terus suka dimarah-marahin kalau ngambil sudutnya nggak bagus-bagus juga. Lama-lama pembantunya jadi professional photographer khusus bidang foto narsis hihihi.

6. Anak-anak

Percaya ngga kalau anak-anak sering juga jadi korban image dari ortunya. Ortu jadi kepingin anak terlihat sempurna, semuanya dijembreng di socmed, bahkan sampai kesempurnaan nilai anak. I know those are real, but still I guess sometimes our kids need privacy. Terkadang orang tua jadi kompetitif lantaran melihat anak orang lain di socmed ikut kegiatan ini itu, sampai mungkin rasanya nelangsa kalau anak kita kok gini-gini aja di rumah. Padahal di tengah kesempurnaan itu, di belakangnya penuh dengan kerja keras, pergumulan, amarah lantaran kadang mood anak hilang di saat yang dianggap perlu.

7. Kesempurnaan diri

Banyak orang yang kepingin dilihat sebagai orang yang selalu manis, baik, bijaksana, udah kayak titisan malaikat deh. Dimulai dari tutur kata sopan, bisa bikin orang terpesona, isian socmed selalu positif pokoknya bikin seneng semua orang. Tak ada yang namanya postingan kontroversial, semua pasti bahagia. Semua orang bertanya-tanya, kok bisa ya, kayaknya indah banget hidup orang ini. Percayalah bapak ibu, there's no such things as perfection! Kalaupun ada, bukan dirinya sendiri yang usaha nyebarin di socmed, tapi orang lain. Contohnya: Mother Teresa, atau Romo Carolus di Nusa Kambangan. Kalau masih dirinya sendiri yang menciptakan "kesempurnaan" di social media, trust me, it's not 100 percent real.

Blog saya ini, langsung atau tidak langsung juga merupakan gambaran dari diri saya, makanya saya berusaha bikin ini as authentic as possible. Kalau orang baca, ya minimal tau lah kalau ini beneran diri saya, bukan cuma buat nyenengin orang. Jadi kalau saya nulis di sini ya bener-bener apa yang saya rasain di hati. Kalau lagi kesel ya kesel, kalau lagi hepi ya hepi, kalau lagi marah ya marah, lagi prihatin ya prihatin. Tapi bukan berarti saya harus menjembrengkan seluruh kisah hidup saya di dalam blog. Ibarat kalau milih foto buat dimasukin album, kayaknya gak perlu yang blur juga dimasukin.  Hihihi. *maklum, pernah terjebak dalam masa-masa labil ala diary di postingan sebelum tahun 2006-an*. Makanya, saya percaya juga, nggak semua orang pasti happy dengan apa yang saya tulis di sini. I just can't please everyone, dan saya nulis bukan buat nyari fans. Saya suka dapet hate comments (jujur saya lebih demen kritik membangun daripada hate comments anon yg gak jelas), tapi juga lumayan sering dapet love letters. Di situlah, saya makin yakin, kalau I am hopefully on the right track in this blogging world. Hopefully loh ye!

Pssttt....tapi manusia kan emang gak pernah puas (kalau nyari celah buat nyela orang). Udah kita mati-matian supaya jadi diri sendiri.... Ehhhh.... masih aja orang mikir kita lagi pencitraan huahahaha. Jadi buat semua orang, selamat mencitrakan diri! Kenapa saya bilang begitu? Ya karena yang udah masuk media sosial itu sudah jadi bagian dari citra kita di luar sana. Usahakan citranya memang sama dengan kesehariannya. Semoga anda tidak terjebak dengan image yang anda bikin sampai nanti takut balik ke kenyataan. Ayo bangun semua bangun, biar kagak terus-terusan mantengin socmed terus belakangnya malah dilanjut sama bergosip hihihih.


114 comments:

  1. Hahaha. BuLeeeeee. Ini teh kok pas sama apa yang mau saya posting. Gakjadi deh kalo begitu. Saya kan mencitrakan diri sebagai personal finance blogger dan itu beratnya luar biasa biar citra yang dibangun sesuai sama kenyataan. Hahahaa. Trus trus trus biar gak terjebak dengan segala citra di media sosial, sekarang ati-atiii bnget nulis soal apapun. Jangan sampe kebagusan bikin image. Pencitraan. Adududuh panjang banget kalo diterus-terusin komennya. Hahahaha. Dirimu selalu bisa nulis masalah kek gini dengan jujur dan bisa bikin orang lengen curhits.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetep post aja Dan. Tiap orang kan walaupun bahan postingannya sama tp kalo yg nulis beda hasilnya bisa beda.

      Soal Fin planner emg bener ya. Kl dianya hrs mencitrakan diri sesuai dengan apa yg "dijual". Kl secara finansial aja kita ribet, client nanti susah percaya. Tp kl kita berlebihan tp ternyata kopong, malah lebih serem lagi. Bener2 deh jangan nyoba jadi org lain.

      Delete
  2. Betul sekali ci, we can't please everyone. Jadi diri sendiri memang lebih baik, gak apa2 gak kekinian yang penting happy! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahkan saat kita jd diri sendiri pun, tetep kan suka dibilang pencitraan.

      Delete
  3. Pembicaranya luar biasa pinter ya le. Huhuhuhu kzl abis. Btw sering juga gue nemu pembicara2 macam gini dan yg menyedihkan banyak nemu di gereja hadeuhhh...so full of himself sampe eneg dengernya.


    Well anyway memang kita udah bangun image ya di dunia maya ini.Mudah-mudahan image gue di sosmed sesuai kenyataan.Hmmmm tapi ya yg menilai kan orang lain ya ....jadi ya I hope semua masih dalam porsi yang normal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang bikin mules ya, Joice. Jadi seperti memakai kata "pelayanan" untuk membangun image diri yang sempurna, padahal isi pelayanannya kok kayak narsis akut hahahaha.

      Nah itu dia, ribet deh soalnya yang nilai orang lain, dan ngga semua orang dikasih kasus yang sama, pendapatnya bakalan sama. Makanya gue salut deh sama Princess Syahrince, bangun imagenya JADI BANGET! Hahahaha.

      Delete
  4. Berarti lu gak boleh negur Bapak A, harus jaga image bu...doakan dia kerahiman ilahi dan biarkan roh kudus bekerja. Kalau ditegur tar dia jd nggak suka lu hehehehe.

    Gw suka moto makanan tapi nggak sampe naik kursi apalagi meja. Cuma kl posisi piring jauh dari gw dipindahin dulu deket gw :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bu, nanti merusak hubungan antara gue dan si bapak ya, nanti image gue jadi jelek di mata dia. Apa kata dunia, sementara dia terkenal dan gue masih tetep jadi remah2 krupuk kulit babi.

      Gue jg demen kok bu foto makanan, lebih tepatnya gue demen makan sih, jadi kalo liat foto makanan menggiurkan, serasa gue mengundang orang lain biar ikutan merasakan kesenangan yg gue rasakan huahahaha...

      Delete
    2. g jg demen koq moto makanan , secara g doyan makan . tapi untuk naek ke meja ahahahaaa big no no deh , bisa diomelin members g , mau makan aja lama amirr . ha222
      btw itu bapak A hadeuhhh , koq yg dgr lain nya apa ga mules & budek sih Le ? cuman brp org ya yg ngeh ha2222
      kl semua nyadar bisa tepok jidat barengan deh baru seru ! ha22

      Delete
    3. Gue jg hobi loh moto makanan. Jaman dulu lbh seneng lagi haha. Ya tentulah ga sampe ngatur semuanya sampe posisi paling pas dan pencahayaan sempurna hwhahaha.

      Ada ibu2 yg setuju sama tuh bapak loh. Terus suaminya cuma mingkem aja gitu di sebelahnya hahahaha. Mgkn suaminya sendiri bingung.

      Delete
  5. Wah iya si pembicara itu aneh banget ya. Heran juga dia bisa jd pembicara terkenal. Mgkn saking pinter ngomong jd banyak yg terbius Hehe.

    Ttg jaga image ya... Beda tipis antara Jaim sama bangga ya. Kan kita perlu juga bangga tp kadang bisa di salah arti kan jd pamer atau Jaim. Ya persepsi org bisa beda beda. Yg penting menurut gw jangan bohong aja kayak foto pake aplikasi yg dikurusin gitu sih menurut gw udh termasuk bohong. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya obat biusnya ngga kena di gue, Man. Bukannya terbuai, gue malah jadi melongo... bukan melongo kagum, tapi melongo bingung.

      Agree with you, bedanya kelewat tipis. Ini bukan jaga image sih Man, tapi lebih ke build the image ya. I do agree with you normal banget kalau ortu bangga sama pencapaian anak kemudian post di socmed, dan menurut gue itu adalah common practice buat ortu jaman sekarang (soalnya udah ga jaman ngobrolin soal anak sama tetangga hahahaha), walaupun gue suka agak kurang sreg kalau ada yang overexposed. Contoh simpel, seandainya anak kalau this year dia prestasi bagus, trs next year bad (and of course parentsnya diem2 aja gak masukin socmed demi certain image) people will compare karena udah keburu keekspose. Ada juga yang di post yg cakep-cakepnya doang, the rest ditutup2in, what for? Kalau mau build kid's confidence kan bukan gitu jg caranya. People juga jadi have certain expectation terhadap image yang udah keburu dibuild by the parents.

      Delete
  6. pembicaranya lucu juga ya hehehe... :)
    aku suka post soal anak2 di blog/IG untuk dokumentasi Le..
    blog-nya juga ga diketahui oleh banyak orang, IG diprivate, hehehe..
    si Toma yang sering ngomong sos med itu kan cuma ajang orang pamer..
    awal2 baca mommy blogger aku suka berasa rendah diri banget, kok ini mama pinter ini itu ya.. sementara aku ga bisa, tapi lama2 aku pikir ya yang dipost kan yang bagus2 aja.. dan talenta orang beda2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si Toma bener banget itu, socmed seringkali cuma jadi ajang untuk pamer tadi alias pembentukan citra diri hehehehe. Padahal contoh nih ya, aku ada temen, dia post hasil bakingan dia cakep bener, mana udah di filter, pokoknya bikin kita terkagum2 deh. Ehhhh tau2 adiknya dia komentar di foto itu, "Cici, lu mah yang dipajang cuma bbrp biji yang cakep, sisanya gosong semua gak dipajang?" Langsung deh, gak lama komen adeknya gone! Hahahaaha...

      Ya begitulah manusia, kasih liat seringakli ya yang bagus-bagusnya aja. Kenapa? Soalnya memang tipe manusia lebih seneng kalau dilihat dirinya dari sisi bagus. Padahal dari yang bagus2 itu, blakangnya yang ancur juga banyak, ya contohnya kayak kue gosong tadi hihihi. Tapi at least di depan yang lain (asal gak ketauan), kan keliatan hebring.

      Delete
  7. ci Le, pembicaranya kok aneh bener ya. istilahnya doa tanpa perbuatan kan jadi ga efek juga :(

    awal2nya ya ci, gue kena sindrom mau foto2 makanan terus uoload ke medsos tapiii yang ada gagal ci, hahahaha abis hasil2nya ga bagus en kayak cici blg itu makanan keburu dingin jdnya ga menikmati makanan sebagaimana mestinya. kalo foto makanan ya asal ada aja dink :)

    waaa kalo foto yang pake aplikasi dikurusin tow diedit biar kliatan beda dari aslinya jadinya nipu bgt (>.<) mendingan foto dari sudut yang bisa kliatan kurus aja dink, hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cici juga suka kok foto2 makanan dan upload ke medsos. Maksud hati supaya bikin orang NGILER huahahahah. Hayo berapa banyak korban ngiler di sini? Tapi ya jangan sampe bikin orang jadi kagak bisa langsung makan karena ditata dulu. Soalnya cici tuh ada loh beneran temen yg moto sampe naek meja, or tunggu makanannya dateng semua dulu supaya bisa difoto bareng hahahaha.

      Sampe sekarang cici masih gak gitu paham soal sudut bagus, walaupun katanya tiap manusia ada ya? Kudu nyari nih. Mungkin harus difoto dari sisi... hmm.. sisi yang JAUH! hahahaha

      Delete
  8. Halo salam kenal ci Leony. blogwalking nemu blog ini jadi syinntaaaa..
    Bahasannya ngena banget, sesuai dengan yang ngeganjal di hati kalau liat postingan orang di sosmed hehe. lanjuttt baca2 posingan yg lainn... :)
    (sorry akun yg blogspot udah ga aktif lupa logout)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, ati2 kalo kelewat syintaaaa nanti lupa kerja malah mbaca melulu hahahaha.

      Delete
  9. mak... dan entah berapa emak-emak di luar sana yang tertampar hihihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Elu juga gak Yul? Gue juga nulis sambil merenungi diri kok hahahahaha. Padahal gue tak ada maksud menampar loh, cuma nowel doang (pake golok). Gue udah dongkol dari Desember tuh gara2 si Bapak A, cuma kepending2.

      Delete
    2. ngapain tertampar? emang saya pencitraan ya? hihihi

      Delete
    3. Hahahaha semua org pasti pencitraan kok Yul. Termasuk gue jg. Semua yg keluar di socmed pasti produk imaging kita. Kita choose apa yg kita mau tampilkan toh? Cuma tinggal kadarnya doang. Makanya siapa tuh di bawah yg komen, kasian kata pencitraan skrg jadi jelek artinya pdhl mestinya ngga.

      Delete
  10. Aih si bapak..'lucu' amat nasehatnya. Kalo gitu emang beneran bikin mikir ya, kok bisa dia jadi pembicara yang sering melayani di mana-mana kayak gitu.

    Soal image, ya gitu deh, sebenarnya gak apa sih kalo suka cerita ttg diri sendiri dan keluarga di sosmed asal ya itu jangan sampe harus bohong aja dan memalsukan kenyataan yang ada.

    Btw itu seriusan ya ada yang foto makanan sampe harus naek2 ke atas meja gitu? Aku belom pernah liat sih dengan mata kepala sendiri, gak kebayang kalo lat kayak gitu pasti bakal ngekek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya emang terkadang orang yang kelewat ngumbar agama dan pelayanan suka bikin "ngeri" juga, entah apa dia beneran tulus atau ujung2nya buat dagang hahahaha. Jadi inget orang-orang MLM yang kalo di socmed hidupnya serasa sejahtera banget dan bisa bagi waktu, padahal kalo tau yg bener mah, trainingnya aja suka pada tengah malem kayak kalong hahahahah.

      Cerita di socmed gak masyalah at all, namanya juga socmed diciptakan untuk "berbagi". Aku cuma ngelihat fenomena yang mulai gak sehat soal gimana orang menciptakan citranya di luar, though misalnya real, seringkali suka overexposed.

      Aku ada kok temen yang sampe naik ke atas meja hahahaha. Makanya jadi bisa ngomong deh soal ginian.

      Delete
  11. Diriku tertampar juga ci, suka iri juga liat postingan2 org di socmed.. Kadang malu sama postingan sendiri ihh baju kok itu-itu aja pas foto hihi.. tp hanya sebatas itu sih gak sampe karna liat itu jadi belanja baju2 buat diposting hahaha.. karena punya temen deket juga, dia gak akan mau posting kalau dia ngerasa udah pernah posting foto dengan baju yg sama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia Nolaaa...pleaseee, jangan sampe mikirin baju yang itu2 aja cuma buat memastikan kita "aman" di socmed, nanti kasian jadi kayak kisah Sandra yang di post kemaren hahahaha. Padahal mah brapa org sih yg perhatiin sampe begitu. Tapi kita sendiri kan yg jadi jiper krn mikirin persepsi orang.

      Kalo soal temen ga mau foto pake baju yang sama, itu ada BANGET! Cowok pula loh! Sampe dia kalo dlm 1 hari keluar rumah, gak pake pulang ya, dia bawa baju ganti, supaya memastikan foto dia siang sama malem itu bajunya beda. Ihiy! *Padahal saya aja kagak inget dia pernah pake baju apaan*

      Delete
  12. Diriku pun tertampar ci..ahahhaa belakangan ini isi blog post sama instagram isinya anak semua...Tapi emang ya itu pembicara koq malah ngomongin diri sendiri, males banget dong dengernya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ibu baru, emang wajar banget kalo sering post soal anak, soalnya anak kan udah jadi pride and joy parentsnya. Yang penting kita tau bates aja. Si pembicara itu bikin cici jadi pengen buru2 ke acara ramah tamah, bukannya karena laper, tapi karena bosen dengerin dia ngomong hahahaha.

      Delete
  13. Nah...nemu pembicara yang begini enaknya diapain ya? 😀
    Menurutku mbak, its okay build the image tapi jangan boong sama diri sendiri..hehe, orang lain bisa ditipu tapi diri sendiri kan yang tau sebenarnya..jangan saking build image ato jaim jadi halusinasi sendiri. Ini menurutku ya mbak,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sih diemin aja, Pit. Soalnya kan saya juga jaim huahahaah *LAH?*

      Iya itu yang aku maksud Pit, usahakan jadi diri sendiri dan jangan berusaha ngikutin apa yang orang lain mau. Karena yang capek ya kita sendiri bakalan. Soalnya, jadi diri sendiri aja masih juga diperceive beda loh sama orang.

      Delete
    2. Iya, kadang saking halusinasinya sampe kebawa lho gaya hidupnya di dunia nyata..jadi suka maksain diri..kadang malah jadi kesian

      Delete
    3. Ya, mungkin dia bukan cuma halu, tapi memang kepinginnnn banget lari dari kenyataan yang sesungguhnya.

      Delete
  14. Huaaa itu bapak A emang ajaib juga yaa Ci :)

    Yupp setuju soal pencitraan, terkadang jd males liadin sosmed tp makasi ci postingannya jd perenungan buat ak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, banyak kok manusia ajaib di dunia ini. Mungkin oleh beberapa orang, saya juga termasuk ajaib hahahah.

      Males, tapi kepo kan? Soalnya masih diliat juga hihihi....

      Delete
  15. selalu suka ama postingannya leonny..ngeliat orang yang serba sempurna no 1-7 rasanya gimana gitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya, rasanya biasa aja sih, Fit hihihi. Tapi namanya sudah terpampang nyata, ya rasanya jadi....hmm... jadi pengen gosipin :P

      Delete
  16. Kalo soal mengumbar romantisisme pasangan di sosmed, aku begitu banget sih kayaknya huahaha. Tepatnya suka menuangkan rasa cuintak yang luar biasa ini :P Tapi sayangnya ga gantian alias cuma satu arah, dari aku doang. Huahahahahahah.
    Rasanya bener-bener pengen langsung pasang muka bingung dan dahi yang mengernyit di depan Bapak A deh. Banyak banget pertanyaan di otak yang rasanya pengen diberondongin ke si Bapak A -_-
    Soal makanan, aku ampe kadang kesel karena temen-temen ga ngasih makan dulu kalau belom dipoto tuh makanannya *termasuk makananku* *rolling eyes*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahah, ati2 Live, tar ember buat penampungan cinta lu gak cukup, jadi luber kemana-mana hahahaha.
      Iya, gue juga masih gak gitu hepi sampai saat terakhir di pertemuan, sampe Bapak B nyamperin gue terus bilang, "Kamu masih ngerasa jawabannya gak pas ya?". Tapi buat apa lah kita melawan orang hebat dan sudah dituakan. Tar malah kita yang diplototin sama om-om tante2 lain.

      Delete
  17. Selalu suka sama tulisan cici hehehe. Enak dibaca hehehe sama isunya selalu update hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Isinya sih sebenernya gak update2 banget, semua juga udah pada tau, tapi masih current aja sampe sekarang hihihi.

      Delete
  18. Aku ci aku! maksudnya aku tau banget orang yang kayak cc ceritain, si bapak A itu. Gatel banget pengen komen. Ternyata tipe orang kayak gini eksis. Haha.. Ini org ak kenal di sosmed, dia pemimpin agama lah ya. Banyak melakukan kegiatan sosial.. Awal2 ak tersentuh pengen ikut bantu.. Lama2.. Kok ini orang ada yang aneh yah. Mau ada di foto terus, post berlebihan di facebook, dan dari chat nya aku makin ilfeel. Bagus si pelayanan, tapi too full of himselfnya bikin males. Beneran ga respect ak skrg.. Haha.. Dah males de nanggepinnya. Lol..

    Sisanya soal pencitraan, aku setuju! jangan sampe kita terjebak oleh image yang pengen kita bangun, tapi ngga sesuai kenyataan di kehidupan nyata. Pait tuh. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesel ya Fan kadang-kadang kalo ketemu model bapak A, jadi brasa agak hipokrit gak sih? Emang sih, image dia jadi bagus banget, tapi gue jadi merasa lebih banyak perkataan doang daripada perbuatan nyata. Serasa simbol yg di frame aja gitu, enak dilihat, tapi fungsinya masih bagusan cangkul hahahaha. *perumpamaan jelek abis*

      Yang paling pait ya emang yang gitu, yang kelewatan build imagenya. Tapi ya itulah manusia, selalu ingin dilihat baik dan indah oleh semua orang.

      Delete
  19. Another good entry to ponder. Hamba Tuhan itu mungkin lupa dengan Matius 18:16, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Dan masih banyak ayat lainnya yg serupa. Heran juga buat dia lebih penting image daripada kebenaran.

    Soal jaim di Medsos itu saya banyak setuju. Saya juga kadang2 foto makanan kalo enak banget or penampakan OK, tapi gak sampe usaha banget. Cukup sambil duduk di tempat. Dan tentunya gak bakalan saya foto2 makanan di tempat fine dining! Talking about ethics!

    Soal anak juga kadang bikin trenyuh sih. Saya tahu ada bbrp teman yang anak nya sengaja diajarkan bergaya bak model padahal baru umur 3-4 tahun, duh! Padahal kalo lagi ngambek di gereja dimarah2in didepan umum sampe banyak ibu2 yang menegur.

    Pada akhirnya... saya juga gak suka jaim sih. Kalo foto juga gak pernah usaha dan2, ya saat itu bagaimana aja. Dan pastinya, walo saya single dan gak muda lagi, saya juga gak pernah jaim menyatakan saya penggemar Boyband Jepang & Korea yang lucu2 itu kok :p Hahaha

    Have a great day, Leony!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, di sini juga suka foto makanan enak, suka foto pemandangan cantik, suka foto anak juga buat di share di blog ini hahahahah. Ya memang mungkin "image" yang melekat sama diri saya sendiri ya, emak2 tukang makan dan jalan. No wonder kan body montok hihihi. So far untungnya semua masih kehidupan nyata, gak ada yang dipaksain.

      Psssttt... soal musik, saya aja demennya sama kayak ABG, Pentatonix (malah ada 1 postingan sendiri kan pas nonton konser huahahaha).

      Have a great day too!

      Delete
  20. Itu bapaknya suruh buka blog aja. Halal tuh dia mau pamer apa aja boleeeeh.

    Itu masalah makanan sehat aku juga bernapsu awalnya untuk pamer2 di sosmed. Udah bela2in beli muesli, yoghurt, dan buah beri. Maksud hati pingin keliatan hidup sehat, pagi2 aku cobain kok rasanya kayak sampah. hehehe. Tapi benernya orang2 udah pada ngerti kebiasaan orang pada umumnya, pas aku posting malem2 buah potong sepiring as a snack, beberapa ada yang komentar ....palingan tahan seminggu trus balik ke keripik kentang. Hahaha, yang ternyata memang benar!Berasa kayak kutukan aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buka blog, fb, insta, semua socmed ya hahahaha. Eh tapi banyak om2 or tante2 yang lebih narsis dan lebih heboh dari anak muda loh begitu pegang HP. Di list friends FB aku ada 1 yang mayan parah narsisnya hahahah.

      Paula, kamu kocak banget sih rasanya kayak sampaaahh hahahahaha. Kalo aku doyan parfait tp komposisinya kudu pas. Tapi terakhir aku makan muesli di kafe terkenal, eh malah keracunan. Muesli harga 60 ribu, masuk IGD 1.7 juta! Hahahahaha. *gak jodoh makanan sehat*

      Iya banget, Paula, kalo aku sampe posting muesli, pasti org2 langsung bengong. Kalo aku posting iga babi, semua pasti paham :P

      Delete
    2. Aku nyoba muesli di hotel2 pas breakfast, enak banget le...doyaaaan.
      Makanya aku nyoba bikin sendiri. Apa sih susahnya? cuma tinggal rendem muesli ke dalem yoghurt semaleman kan?
      Tapi hasilnya memang muesli yang dibikin oleh chef hotel dan mama ga bakat masak memang beda. Ga tau itu bintang 5 rendemnya pake apa aja.

      Kalo muesli bikin keracunan itu baru denger le, kayak minum kopi dong bisa keracunan hehehe

      Delete
    3. Kayaknya yang enak tuh yoghurtnya jg udah yang pake rasa kali ya dan mueslinya banyak isi buah2an kering yang bikin manis. Emang kudu banyak buka2 resep kali ye untuk bikin makanan sehat yang enak. Tapi aku tak seniat itu kakakkk... hahaha. Untungnya gue cuma muntah2 belasan kali sih Paula. Gak sampe kayak kasus yg lagi hits.

      Delete
  21. Aneh banget jawaban tu bapak. Mungkin menurut dia cerdas kali jawaban begitu, terlihat religius padahal sih pencitraan yang gagal :)
    Sebenernya mau pencitraan sih sah sah aja, asal gak lebay. Pencitraan yang sewajarnya aja.

    Nice posting ci. Jaman sekarang banyak emang orang yang pencitraan gila gilaan.
    In my opinion, pencitraan gila gilaan terjadi karena social judgement juga makin kenceng dan kejam (apalagi kalo aktif di soc med). Perlu prinsip sekokoh batu karang biar gak terlalu ladenin omongan orang dan ngikutin trend, terutama soal penampilan entah kecantikan, pakaian, aksesori, atau gadget.

    Kalo aku sih apa adanya aja lah, ci. Misalkan kalo soal penampilan, yang penting rapi, bersih, wangi. Gadget, juga masih yang itu2 aja. Kepengen gadget canggih sih cuma kalo inget harganya alamak. Mending yang sesuai kebutuhan aja *apalagi kalo inget gaptek* :D.
    Bukannya aku sok alim, tapi emang kenyataannya cuma mampu segitu sih.

    Satu yang aku jadiin pegangan, "jadikan soc med itu sebagai hiburan semata". Soc med bukan hidup aku jadi hidup aku gak berpusat disitu. Gak semua aku posting di soc med, dan kadar kesenangan aku tidak ditentukan dari like atau komen di postingan aku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, tapi apparently ada ibu yang setuju banget loh sama orang ini. Entah terpersona sama apanya hihihi. Jawaban bapak itu bener kok kalau kuasa doa itu luar biasa. Tapi jawabannya soal jaga image itu yg emang ngekiin hahahaha.

      Wah kamu masih mending loh mikirin wangi. Cici malah ga punya wewangian, dan beli sabun liat2 yang diskonan hahahahaha. *PARAH* Tapi memang yg penting cukup pantas dilihat, gak perlu berlebihan (though arti kata berlebihan bagi tiap orang juga pasti beda2).

      Iya, masih inget kan postingan yg finansial, soal beli harus sesuai kebutuhan dan bukan keinginan. Socmed itu menyenangkan kok! Bikin banyak temen (walaupun juga bikin banyak musuh), but still great friendships without the socmed malah jauh lebih asik. Cici kalau ketemu temen baik malah banyakan hampir lupa untuk foto.

      Delete
    2. Oh iya ci, kuasa doa memang luar biasa tapi seperti iman tanpa perbuatan adalah sia sia sia, begitupun doa. Kita kalo doa terus tapi tidak ada tindakan nyata ya doa itu akan hanya menjadi kata2 kosong. Hahaha ada memang orang yang terkesima dengan pembawaan orang yang terkesan wah :)

      Iya betul seperti postingan finansial yang pernah cici posting. Soc med sendiri (FB) buat aku untuk menjalin tali silaturahmi untuk teman yang memang sudah jauh lokasinya atau sudah jarang ketemu. Jadi bukan buat banyak2an temen sampai semua asal di add. Malahan kalo temen yang sering ketemu kita ga saling add FB loh :).
      Memang temen itu lebih asik kalo bertatap muka, makanya kita tetep sediakan waktu untuk bertemu, dan kalo udah bertemu udah asik ngobrol boro2 inget foto2 atau foto2 makanan hahaha

      Delete
    3. Di Jakarta emang susah loh buat ketemu orang. Tinggal satu di barat, timur, utara, selatan, mau ketemu kepikiran macetnya minta ampun, jadi jarang banget ketemu sama temen2 deket, tapi habis ketemu omongannya gak kelar2 hahaha.

      Delete
    4. Iya ci, berasa banget apalagi sejak aku pindah ke BSD.
      Dulu pas masih di Tj Duren, mau ketemuan tinggal jalan, mau macet juga ga jauh banget lah masih bisa ketemu di tempat netral (biasanya di tengah kayak GI). Kalo sekarang mau ketemuan di Jakarta aja udah habis waktu kena macet duluan terus pulangnya gak bisa malem banget karena jauh :D

      Delete
    5. Makanya di Indonesia socmed jadi laku banget dan pemakainya aktif banget. Soalnya pd jarang ketemuan sihhh hahaha. Coba kalo sering ketemuan n ngobrol sm org. Boro2 super eksis di socmed. Kaga ada waktunya.

      Delete
  22. Ci Leony, menurut saya emang pencitraan ini emang dah issue general. Sejak budaya over sharing sekarang-sekarang ini, sharing jadi makin mudah via FB, instagram dll. Orang jadi kecenderungannya cepet ambil suatu kesimpulan dari apa yang di share di medsos itu, ya ci. Jadi nya budaya pencitraan ato jaga image jadi salah satu dampaknya.

    Saya juga pencitraan, ga banyak banyak posting di FB-> biar ga disangka emo. Meskipun lagi emo.. HAHAHAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelum ada socmed aja orang udah hobi pencitraan, apalagi sekarang medianya kebanyakan. Kalo perlu lagi mules dan merenung di wece perlu di share juga ya. Kalo cici itu orang yang suka rada berat ambil kesimpulan cuma berdasarkan 1-2 post. Tapi kalo 10 post isinya mirip2 semua, jadi deh bisa ambil kesimpulan *walau gak tau bener atau salah, pokoknya simpulin dulu hahahahaha*

      Delete
  23. Pantesan sekarang kok jarang banget orang yang ngebahas ilmu padi, makin berisi makin nunduk. Semua orang pada sibuk pencitraan pedahal kalau mau tinggal gosok citra bangkuang saja ya kan ci? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Citra sekarang bukan bengkoang lagi loh nick. Berdasarkan iklan yang terakhir, sudah pake BUNGA SAKURA!! *entah gimana bisa bunga itu diimpor dan dibikin cream*

      Delete
  24. Astaga banget ya Bapak A secara dia jadi pembicara keagamaan dan akhirnya bikin bingung semua orang. Moga2 yang denger ga jadi tersesat ya.

    Menurut gue jaim perlu asal ga kelewatan pamernya dan ga ngibul. Maksudnya gue, ga mungkin kan kita nampilin seada-adanya kita, misalnya foto kita lagi ngupil di posting di medsos, atau lagi berantem sama pasangan, di umbar2 di medsos. Jaim itu perlu tapi lebih karena élu punya etika. Beda sama kalo jaim- yang kepengen keliatan bagus di depan tapi ancur di belakang layar. Hihihi...Terus terang, gue suka posting foto anak-anak kalo mereka lagi berprestasi atau lagi pas bagus aja di foto. Tapi sebenernya bukan kepengen pamer sih. Libel karena gue bangga aja sama mereka. Foto makanan apa lagi. Tiap ada makanan enak, langsung gue posting, biar pada ngiler! Hahahah..

    Serba salah sih sebenernya, Le. Posting happy, dibilang pamer. Posting jelek-jelek, dibilang kayak ga ada bahan postingan aja. Semuanya pasti akan jadi bahan omongan orang. Hahaha...Menurut gue sih, postinglah apa adanya elu asal jangan sampe bikin orang jadi sakit hati deh. Kalo bikin orang sirik, yaaa tergantung yang baca sih, siapa suruh sirik aje.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang denger mah banyak juga yang setuju aja bu sama si Bapak A, lantaran die mah udah ahli.

      Yes, mencitrakan diri emang perlu banget, makanya gue tulis di alinea terakhir, marilah mencitrakan diri hihihihi. Gak mungkin kita hidup tanpa membentuk citra diri kita, bahkan di dunia nyata asal gak fake dan berlebihan, karena nanti kita capek sendiri buat ngejar citra yang kelewat jauh dari kenyataan (cuma piala citra yang kudu dikejar, itupun sama seniman film).

      Nah bener, semua apapun yang kita post, pasti akan jadi bahan omongan orang. Dan sebenernya fenomena jaman skrg juga, orang suka oversensitive and emotional dalam menanggapi orang lain baik di socmed maupun dunia nyata. Akibatnya, banyak yang kena "penyakit hati" gara-gara kelewat baper hihihi. Rugi banget deh ah, apalagi socmed kan diliat umum ya, kalo mau panas2an gampil abis nyulutnya. Rugi banget deh, apalagi socmed kan diliat umum ya, kalo mau panas2an gampil abis nyulutnya. Gak kenal aja bisa brantem2an loh di socmed lantaran baper semua hihihi.

      Delete
  25. kata pencitraan sepertinya sudah mengalami pergeseran makna ke arah negatif. makanya ketika ada orang mau bercitra baik di sosmed kadang malah dianggap "halah pencitraan doang ni mah". emang ada sih yang aslinya cuma pencitraan doang, meskipun yang asli baik juga gak sedikit.

    jadi menurutku boleh aja sih kita membuat pencitraan yang baik ttg diri sendiri di sosmed atau manapun, asal gak sampai menipu diri sendiri. misalnya sok2an jadi ibu2 bijak, e tapi aslinya sama anak galak banget, dll.

    tapi jangan juga kita apa adanya di sosmed atau manapun hanya demi nunjukin bahwa yg dilakuin gak pencitraan. misal emang hobinya tukang mengeluh, di sosmed isinya mengeluuuh aja. kalau ada yg negur bilangnya "suka2 dong, yg penting gak pencitraan"

    ada yg gitu juga soalnya ci...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia Tia, orang suka lupa kalau apa yang kita lakukan tiap hari kan benernya pencitraan juga, kita mencitrakan diri supaya orang mendapatkan image tertentu dari diri kita.

      Apa adanya bener-bener juga menurutku gak mungkin loh. Bahkan orang yang ngeluh itu sebenernya lagi bikin pencitraan, yaitu pencitraan sebagai "korban" hahahaha. Kesannya dia hidup nelangsa banget, ujug2 mah buat caper sama nyari simpati juga.

      Delete
  26. Le, ini gua Dessy th3sea.. gua selalu ga berhasil kalau comment pakai open ID.

    Itu si Bapak ampun ya... lucu dan aneh. Di Alkitab ada tertulis kalau kita harus menegor orang yang bersalah kan... tapi kalau ga digubris sama ybs ya sudah, yang penting kita sudah tegor (tapi gua lupa ayatnya :D )

    Di FB gua juga ada teman yang setiap hari pasang status ga-je-bo... 1 hari puji2 lakinya setinggi langit......... besoknya maki2 lakinya serendah2 samudera terdalam hehehe...
    Ya kalau mau curahan hati saja di status masih wajar, tapi statusnya teman gua jelas banget deh ditujukan ke suaminya. Eh beberapa hari kemudian gua baca status teman gua yang lain (cowok), melakukan hal yang sama ke istrinya. Entar dipuji entar dimaki :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada tuh ayatnya ditulis sm si Trieze di atas tp kalo disuruh sebutin dr kitab mana, gue jg kagak apalll hahahaha.

      Hadehhh drama rumah tangga yg dibawa ke socmed itu emang kagak ada asik2nya deh. Kalo gue blg sih ga asik bangetnya itu justru buat si pelaku. Rugi kan ngumbar2. Kalo kita penontonnya kan asik aja.. asik memantau perkembangannya hwhahaha. Tp kalo udah over lama2 bosen sendiri dan gemes sendiri.

      Delete
  27. Hi Leony! I think u should tell that Bapak A what the Bible says in Yakobus 2:14-17, that faith without works is dead!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mungkin dia pelayanan sih pelayanan kali ya, makanya dia bisa gembor2 soal pelayanan. Tetapi jaga image baiknya itu yg ngga nahan, sampai gak mau negur orang yang bersalah.

      Delete
  28. kacau banget yah ci tuh bapak A. *sampe udah gak bisa komen lagi*. hehehe..

    aku setuju banget deh ci soal pencitraan. dan emang diri ini kadang juga seringnya merasa iri kalo ngeliat orang post2 di IG (padahal yah mungkin cuma yg bagus2 aja). bener sih. antara jadi diri sendiri dan pencitraan jga beda tipis. hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, saya juga no comment. Bukan ga bisa komen tapi lebih tepatnya males hahahah. Ya orang kan cuma post di socmed apa yang dia pingin orang lain tau. Makanya tentulah gak bisa semuanya dijembrengin. Mau jadi apa nanti hahahaha. Udah real aja kadang suka dikira palsu hahahaha.

      Delete
  29. si bapak A kacau bener.
    pusing ci kalo mesti jaim, mending jadi diri sendiri aja. aku rasa yg beneran baik dan pura2 baik akan keliatan bedanya.
    kalo mikirin omongan orang mah gak ada abisnya, ud bener pun kadang masih diomongin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaim gpp sih for the sake of ethics. Kalau soal orang yang pura-pura baik, waduh itu serem loh, banyak banget, dan rata2 hebat banget manipulasinya, makanya itulah kenapa banyak org di dunia ini yang ketipu gara-gara citra "sok" baik.

      Delete
  30. dunia pencitraan itu.......ternyata kejam ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukannya yang kejam itu fitnah ya? Hahahaha *Kata Meggi Z di lagu Terlanjur Basah*

      Delete
  31. Weleee...ga ada abisnyaa yaa kalo harus jaga image / pencitraan gitu mah Le....apa adanya ajaa, jadi diri sendiri...cape juga lohh lama2..*kayak yg tau aja..halahh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Jadi diri sendiri pun, kalo di socmed kita pasti bentuk pencitraan juga ci. Makanya kita milih2 kan image seperti apa yg kita mau tampilin. Syukur banget kalau nyata semuanya, ketemu org aslinya sama asiknya.

      Delete
  32. pertama yg ada di pikiran aq klo dengerin bapak A "gubrakkk, ada apa dgn orang ini?" hahahahahaha malah jadi bingung aq klo dpt penjelasan demi jaga image. Aneh ya bs terkenal dgn penjelasan bapak A hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin dia saat itu menurutku ada kemungkinan kepepet. Kepepet lantaran dia kelewat spontan dan bingung mau kasih alesan apa lagi. Tp ya menurut saya sesuatu yg spontan itu ya yg memang dari hati krn kagak sempet mikir. Hahahaha.

      Delete
  33. E buset dah Ci itu si Bapak A, bikin garuk-garuk kepala ya jawabannya.

    Kalo socmed aku 90% isinya kebanyakan makanan semua Ci, sampe dikomenin terus sama temen ku isinya kok makanan semua. Ya kan aku posting pun buat jadi dokumentasi aku biar lain waktu bisa dilihat dan dibikin atau dibeli lagi kalau kepengen makan *efek memori yang semakin berkurang nih Ci.hahaha
    Tapi aku foto ga pake nai-naik kursi kok Ci, karena lebih suka foto makanan satu-satu daripada rame segambreng, kalau satu-satu lebih detail soalnya, bikin makin ngiler kalau diliat.wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cici jg suka kok foto makanan. Nih buktinya di blog banyak jg foto makanan. Tp jangan sampe deh nunda org makan lama2 cm demi dapet gambaran yang keren. Seringkali malah rasanya suka so so aje loh. Imagenya doang yg keren

      Delete
  34. hahahhahha bener2.. masi inget gw sempet getol bikin bento2an buat makanan anak gw ga? itu beneran cm bagus utk difoto doang..buat pencitraan aja hahha.. nasi yg udah dibentuk2 jadi teddy bear, angry bird, pooh dll itu kl dimakan ternyata uda keras dan ga anget lagi.. boro2 anak jd nafsu makan, yg ada malah cuma dibuat mainan doang.. sejak itulah gw malas buat.. dl kan idenya bikin bento2 unik spy anak lbh nafsu makan ya hahhaha..

    ttg anak yg jd "korban eksploitasi" anak, sbnrnya itu BENER sih ya.. makanya kita harus bijak atur privacy sosmed kita. Gw sih upload2 foto anak di blog dan sosmed Bener sih 30% pgn pamer krn bangga (anak cakep ya kita harus bangga ya? walau yg blg cakep cm papa mamanya aja wkwkkwk), 70% lbh buat "diary" sendiri jadi lbh gampang kl mau cari2 or inget2 foto yg dulu2.. Makanya gw rajin bersih2 temen2 di sosmed juga :D
    OH ya laki gw sering marahin dl awal2, kl gw panggil2 anak gw spy dia nengok kl gw mau foto, menurut laki gw itu irritating.. so skrg kl gw mau foto anak gw, ya udahlah candid aja, jd si kecil ga merasa dieksploitasi jd korban paparazi mamanya kkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Bener bangt itu bento nasinya jadi dingin. Terus gue jg suka merenung itu nasinya sebenernya msh bersih apa kaga (soale kadang kan suka males pake sarung tangan ky chef). Jadi inget pas anak gue gtm, tetep aja kaga mau pas dikasih bento2an. Balik lagi ujung2nya ke selera asal, masakan emaknya yg bentuknya ya gitu deee..

      Gue smp skrg masih suka jg sih suruh anak nengok kl foto. Abis jumpalitan mulu kemana2. Tp lately ternyata dia bs gaya sendiri tanpa disuruh haha. Walau matanya masih kemana2 tp gue anggap improvement. So candid2 aja dah lucu hahaha. Kocak sih suami lu tp makes sense!

      Delete
  35. aku jg salah satu yg kena sebut di atas nih ci.. :)
    aku pernah post foto2 dikasih boneka, coklat sama suami / pacar (waktu dulu). tapi tujuan utamanya sih bukan buat pamer. lebih ke arah happy karena itu moment langka, yg belum tentu tiap thn bs dirasain.. hihihi.

    kalau foto2 makanan, dulu aku pernah foto2. tapi ya ga sampe heboh yg naik ke atas kursi. wkwkwk. tapi lama2 capek jg mesti foto2 melulu. akhirnya tiap x makan, udah ga pernah foto lagi. hahaha. kalopun sampe foto, berarti itu makan di tempat yg belum pernah makan sebelumnya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang Cyn. Cici jg suka kok post2 foto Valentine-an hahaha. Wajar ajeeee... yang penting kan emang hubungannya indah beneran.

      Foto makanan juga kok cici suka foto biasanya sih kl special event aja ya dan kl travel biar inget makan apa. Itupun liat2 jg makannya dmn haha. Kl tempatnya kelewat fancy kagak brani cuyyy...

      Delete
  36. Weduh, memang agak gimana gitu ya jawaban si "Bapak".

    Kalo untuk masalah jaga image poin 1-7, akika mah prinsipnya selama nggak nyenggol akyuh, yo wes biarkanlaaaaah. Cuma memang kadang susah untuk menjaga diri agar tidak merasa iri trus tanpa sadar latah pengen ikut-ikutan kayak orang yang berjaim-jaim ria tanpa melihat batas kemampuan dan selera sendiri.

    Misal temen2 beauty blogger rame2 bahas lipen merk X, akika jadi ikut-ikutan beli. Padahal udah punya lipen dengan warna yang sama, cuma beda merk aja. *dasarwanitacentil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin jawaban si bapak gak 100 persen salah. Cuma kok gue liatnya jadi brasa "egois" aja gitu hahahaha.

      Nah itu, kita sbg manusia jg kudu blajar cueeekkk. Mau ga kesenggol akhirnya bs kesenggol juga lama2 lantaran liat di sana sini munculnya gitu semua haha. Btw, gue baru tau lu demen lippen loooohhh..

      Delete
  37. Selalu suka tulisan ci leony, nampol dan lugas bgt. Mo curhat dikit nie, saya pernah ganti DP BBM, fotonya foto bareng suami dan emg saya tipikal jrg bgt gonta ganti DP BBM dengan foto berdua bareng suami, dan donk salah satu sahabat saya bilang " gitu donk dipajang fotonya". Dalam hati saya bingung,, saya sudah berpacaran 6 tahun dan 2 tahun menikah, dan poto mesra berdua itu bukanlah parameter kelanggengan keluarga saya, dan saya kdg suka bingung sama mereka yg menyampaikan sayang atau apa lah ke suaminya lewat sosmed scra berlebihan, seolah2 dirumah tdk bisa menyampaikannya langsung. Baca postingan ini kena bgt dan gemes kdg melihat2 seperti itu, dan puncaknya saya non aktifkan path krna ternayata saya sgt butuh privasi, apalagi untuk saya yg seorang istri yg sdg skolah ke jenjang lbh tinggi dan LDM dengan suami, sementara temen2 saya sudah mulai poto2 selfi dgn anaknya, akan bnyk org yg menjudge keputusan yg saya ambil. Thanks ciiii postingan nya,, menguatkan sekali bahwa hidup tdk sekedar sosmed belaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itulah manusia. Socmed ini benernya kayak hubungan timbal balik. Cara kita membangun image sangat dipengaruhi juga oleh bagaimana pandangan umum soal image yang baik. Akhirnya manusia suka jadi terjebak sama pembentukan image yang "salah" cuma buat please other people. Padahal hati orang siapalah yang tau. Pasti berat buat kamu menjalani LDM. Daripada mikirin apa yg org bilang mendingan ubah itu jadi energy positif buat belajar aja deh.

      Delete
  38. gileeeee ni postingan suka banget lugas dan agak sedikit menampar utk bijak menggunakan sosmed. Dan mencoba realistis terhadap image yang dibangun. ihh slalu suka sm post2nya mba rata2 udh gw ubek2 cmn baru ini berani komen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahh. Thanks udah berani komen ya. Manusia emang ga pernah lepas dr image building baik di dunia nyata maupun di social media. Makanya jangan kejauhan buildnya ya.

      Delete
  39. Did u really ever see someone taking food picture at a restaurant by climbing onto their chair or even table????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes! Or else I wouldn't write it down.

      Delete
    2. It's bc u said, "Kemudian saya baru mikir...." Maybe u should have written "u saw..." instead.
      I'm sorry I didnt mean to offend u in anyway... Were u the one waiting to eat the food while that person climbing on the table trying to take the perfect picture. It just seems like that to me when i read that paragraph again and again....hehe ✌️😉

      Delete
    3. Gue banyak banget liat di socmed kan org foto makanan vertikal. Ternyata caranya tuh naek ke kursi. Jadi awalnya emg gue wondering kok bisa foto begitu. Until several months ago, temen gue beneran naik ke kursi buat moto pas kita lg pergi bareng. Untungnya di casual resto sih. Or else gue bs sangat ga enak hati. So I knew the method since then.

      Anyway, nyante aja, Live. Now that I read your comment, gue ngerti kenapa lu bingung hahahaha. So before I didn't know how they did it. Apparently after I knew, I kept wondering how much time they spent hahahaha.

      Delete
  40. But I still think that some of those who did climb up the chair could be real professional food photographer... Or want to be one and the only way they could show their work is thru soc media...while some others , such as ur friend (maybe) just try to imitate / impress ppl... So, it could be 50/50 until we got to know the person more.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau real food photographer, mau jungkir balik jg gak apa kok hahaha. Malah biasa lbh serius lagi lightingnya, backdropnya dll. Dan itu mah ga usah dibahas di sini.

      Kenapa gue tulis entry ini kan krn itu. Krn orang jadi wannabe, or only try to impress people smp go overboard. Soal benernya kayak gimana, ya emang cm org yang jalanin yg tau.

      Delete
    2. Exactly! I agree with u that "cmn org yg jalanin yg tau". Meanwhile, we should just learn to enjoy the beauty of their products..,since they didnt even bother us when they took the pics...so why would we have to mind so much? Rite?!? ;) i hope i didnt burn up ur anger even more with my comments...pls feel free to delete them if u prefer to. 😊✌️

      Delete
    3. Live, kayaknya u don't get my point of doing this post. Justru point gue tuh sama kayak lu. Yaitu, kalo kita lihat di socmed apapun, ya enjoy aja, jangan bikin kita jadi kepingin jadi someone else yg bukan diri kita. Kalo elu baca ini sekali lagi, lu tentu paham maksudnya adalah untuk encouraging people spy jangan kepengaruh sm image luaran semata yg coba diciptakan. If you view it differently, go ahead gak apa2.

      Anyway, kayaknya u took it too seriously looohhh... padahal gue di sini santai saja tp elu malah mikir gue bakalan marah hehe. No no no... gue ga akan marah apalagi apus komen lu hihihi.

      Delete
  41. Yg nomer 1, 2, 6, 7 SETUJU BANGET! Hihihi..

    Tapi yang nomer 3, 4, 5 kayaknya nggak setuju deh ci :(

    yg no. 3 soalnya aku kalo foto langsung duduk n jepret langsung, cuma butuh 5 detik doang buat ngefoto lalu makan! :)

    4. haha emg begini deh ci, aku kalo foto juga yg makanan enak2 aja! Hihi biar bisa jadi kenangan klo aku pernah makan enak :p LOL. Habis gitu makann nasi terong penyet deh. Wkwkwk

    yg no.5 kayaknya nggak gitu juga, hihi kadang aku foto langsung ku aplod, tapi kadang sih pernah foto berulang kali trs dipilih. N gak sampe marah2in yg ngefoto huhuhu..

    Oya, aku setuju banget sama cci yg soal pembicaranya di greja td,
    pembicaranya kok kayak gitu sih?
    Kalo aku ya lebih seneng dikritik, justru gw bersyukur udah dikritik.. soalnya kritikan trsebut bisa bikin gw bertumbuh & jdi tambah dewasa.
    gw punya pemimpin di greja, gw kalo salah selalu ditegur dia dengan baik.

    Kalo cuma doa tanpa usaha ya apa gunanya kan ci.. hoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai aja Yolan, I am not talking about you kok hahaha. Itu cm example aja fenomena yang terjadi di masyarakat based on research yg ada di artikel yg cici ksh link. Tentunya tiap orang bisa masuk ataupun bisa ngga. Justru kalo sampe masuk semuanya serem tuh hahahaha.

      Soal si bapak A, untungnya sih dia cm pembicara aja, bukan sampe pemukanya. Justru kl pemukanya sampe begitu, mungkin cici malah bakalan samperin tuh hahaha.

      Delete
  42. Oya, temanku juga ada ci,
    dia dulu itu asik, lucu, rame, n blak2an kalo ngmong.

    Tapi sejak skrg, katanya dia pingin jadi alim n lebih baik lagi, jadi ngmongnya di chat kayak di alus2in, di alim2in, dia juga jdi sring neguri org n ngerasa dia paling bener. negurnya pun juga sambil menghakimi org.

    apa dia gak capek ya jadi orang lain?
    pdahal gw udah kenal dia sejak 7th lalu dan gw tw sifatnya yg asli bkn kayak gt.
    jjur gw kangen sifatnya yg lama yg apa adanya... *curcol dikit boleh ya* akwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terbukti kan, manusia itu pasti akan pencitraan dimanapun mereka berada baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

      Ya mungkin memang itu citra yg mau dia bangun skrg. Alim tapi judgmental hahahaha. Curcol banyak jg boleh kokkk..

      Delete
  43. Parah banget ci si Bapak A. Tapi sekarang memang banyak Pembicara yang ngakunya Pelayan, tapi isi kotbahnya banyak yang memuji & nyeritain dirinya terlalu banyak. Annoying denger kotbahnya, jadi ga berasa dapet apa2.
    Image jadi lebih penting dibanding isi kotbah nya gitu deh. hahahaha..

    poin-poinnya luar biasa ci! wakkakaa.. aku lah gaptek. medsos aja ga update apa2. mau foto makanan, ga pernah makan di resto yg kekinian. mw foto traveling, tapi ga kemana-mana wkwkwk..
    yang biasa2 aja lah..
    ga semua yang di medsos itu bagus buat diikutin. Malah jadi beban malah kalo dipaksain wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya memang sekarang trendnya ya begitu. Makanya makin banyak juga denominasi karena org2 mengagungkan figur masing2 dan cari pengikut sampai lupa ke tujuan utama yaitu Tuhan.

      Poin2nya bukan cici yg nyusun loh haha. Cici cm pilih dr 11 yg disusun sama penulis artikel yg cici ksh linknya. Pilih yg agak common buat Indonesians hihihihi. Trend dunia ternyata hampir sama kan?

      Delete
  44. bukannya seharusnya lo tegur bapak itu juga? atau takut image jadi jelek juga :p kalo gw jadi lo sih gw bakalan bengong karena bingung ini gw yang salah apa dia yang salah ya?
    btw gw pernah liat org foto sampe naik kursi di PI, kameranya kamera prof. Dan gw merasa oohh mungkin dia emang food blogger yang lagi ngereview.. gak kebayang sama sekali sih kalo itu dia pake buat IG pribadinya.. beneran ada emang ya?

    one more, kalau kita tulis blog ttg holiday misalnya, atau pesta ultah, etc itu termasuk pamer dan pencitraan bukan? kan emang ngelesnya selalu "untuk memori pribadi" kalo gitu bukan sebaiknya nyetak foto album ya? atau di bikin private blognya.. ya gak sih? gw mulai berfikir begitu loh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan gue ngga langsung agree pada statement dia, itu sudah menandakan kalau itu sama dengan teguran juga. Tegur orang bukan berarti ngajak brantem loh Mel. Bisa jg cukup menyatakan kita disagree dengan org tersebut supaya dia bs berpikir lebih jauh. Waktu saat gue (dan bapak B) menyatakan kalau kita agak disagree dengan pendapat dia, menurut lu jaga image or ngga?

      Pamer dan pencitraan menurut gue sih udah 2 different things loh. Pencitraan itu lebih kepada what kind of image that you think you want people to perceive. Lu lagi ngupil aja terus lu put di social media, itu part dr pencitraan. Tapi kan bukan pamer hahahaha. Blog kita ga ada apa2nya pun itu jg pencitraan. Makanya gue ada jawab di salah satu komen, unfortunately kata "pencitraan" skrg udah dianggap negatif pdhl mestinya ngga.

      Lots of people would like to share their life stories. Mungkin banyak org yg ngeles demi menjaga citra spy dibilang tdk pamer, tp banyak jg org yg memang in a good way ingin share their experience tanpa perlu bikin alasan macem2.

      Delete
  45. wow postingan yg menarik ni Bu Le,Soal pencitraaan emank sesuatu yang sensitif ya..banyak si masalah2 di dunia seperti ketidakpuasan manusia atau gampang iri sama orang jadinya diri sndiri pingin mencari kepuasan dengan cara ga sehat seperti jaga pencitraan yang berlebihan seperti contoh2 yg Bu Le kasih diatas..menurutku memang manusia ga ada yg sempurna tp ya at least berusaha yg bener dl ya jgn sampai sengaja boongin diri sndr dan org lain ya...kalau yg soal negur teman...kl gw pribadi tergantung si gw dekat ga ke orgnya kalo gw dekat itu gw pikir bolehla kasi sedikit masukan soal caranya memperlakukan Asisten rumah tangganya itu.hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena cici ga ngerasa terlalu dekat sm si pembicara, makanya cici ga lanjut lagi tuh bahas hahaha. Cukup ksh tanda kl kita gak sreg sama jawabannya.

      Unfortunately banyak org yg kelewat kerja keras cuma buat mikirin pencitraan di luar. Cape kan kl kayak gitu.

      Delete
  46. halooo.. aduh gw lagi kena virus males nih.. males ngeblog n males BW.. kayanya gw blom baca postingan yg sblm ini jugaa T_T

    nice writings le! yg pembicara agama itu jawabannya beneran aneh sih, kok jawabnya bisa gitu sih *ikutan garuk2* hahhaha

    soal pencitraan kayanya gw perna tulis di 'sosial media dan gw' part 1 n 2 haehehe. nah ya, pencitraan ini di sosmed skarang sudah hal lazim. Bahkan banyak yg ala fashion blogger (ya seperti kata lu, ala candid ga liat kamera). dan yg followernya uda banyak, yang endorse banyak, fee nya makin gila loh, di nominal 5 juta lah, sekian lah. Gw pikir enak banget ya, cuman foto jepret2 dikirimi baju gratis, makanan gratis, eh dibayar 5 juta pula. Lha dalam sebulan katanya pendapatannya bisa 200 juta lho.. cman foto2 cantik gitu doank. Hayoo ngiler gak lu? hihihii...

    Eh balik lagi ke pencitraan ya, gw risih sih klo ada couple yang terlalu show off their relationship. Jadi ada nih couple, yg istri muji2 suaminya like the best husband ever, and she is the luckiest wife bcos she doesnt like shopping but her husband asked her to go shopping. And yg husband juga muji2 sifat istrinya, kadang kalo moto istrinya suka kelewat sexy. WEll.. isnt that too much?
    Gw okelah dengan yg muji2 pasangan asal dlm taraf wajar aja.. and never ever said your husband is the best husband on earth. lu pasti bertengkar kok suatu hari. dan emangnya lu ga takut cewe2 naksir ur husband klo lu muji2 dia setinggi langit? wkwkwk






    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Gue jg lagi kena virus males nulis. Sibukkk.. *entah sibuk ngapain.. *--> pencitraan nih spy kalo ditanya ada jawabannya "maaf saya sedang sibuk". Hahahaha.

      Gue blm tertarik endorsement yg gimana2 Teph. Bbrp kali gue tolak jg kalo produk ga nyambung sm gue or ga pernah gue pake. N lately malah males krn bingung mau nulis apa. Krn ini blog santai alias suka2, biarlah isinya suka2 terserah mood haha. Yang gila2an endorsement skrg tuh di insta ya? Makanya namanya jd selebgram haha. Ngga deh, serem jd seleb. Tar kl ktm org di luaran ga bisa santai haha. *serasa ud jd seleb*

      Ih gue ga demen banget kl suami or istri kelewatan muji2nya dan ditayangkan di publik. Apalagi kl seksi.. Risih jdnya. Soal muji suami, gue rasa dengan apa yg kita lakukan tiap hari thdp dia lbh menggambarkan pujian itu drpd sekedar cuap2 di socmed. Masakin yg enak.. Pijitin.. Itu tanda kita sayang n appreciate suami jg kan.

      Delete
  47. Halo, Ci Leony. I guess this is my first comment n first time read ur blog. Trz langsung baca topik post yg menarik. ^^
    Dari semua poin diatas, semuanya di sekililing kehidupanku sehari2 (might include myself ^^) tp paling sebel dgn org yg merupakan sosok religius "sejati" tapi malah yg paling munafik kesannya. I am not one of the religious one. tp kdg jd males ke komunitas yg most of the people tu yg bagus2 aja diungkapkan/tampilin. yg borok2 umpetin bagus2 dibalik senyuman dan kata2 manis n the worst is most of them using the God's name..like they are better in faith. #miris

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Soal munafik cici pernah tuh nulis juga sebelumnya. Coba cari pake keyword hipokrasi dan agama. Bahkan mantan cici jg tipe org kayak gitu. Pdhl aslinya alamakjaaaannn.. Semoga tuh org udah tobat deh hihihihi. Tp emang paling ngeri yg bawa nama agama. Lah pendeta aja jemaatnya bs terpecah2 lantaran ujug2 mah urusan duniawi. Cape deee...

      Delete
  48. Minta dicubit si bapak A. Diri ini termasuk orang yg males dengerin kalau khotbah tapi semua tentang dirinya. Kan beda khotbah sama kesaksian ya.. Biasanya lgsg sibuk main hp kalo bgitu.. Haha..

    Pencitraan itu bagus memang, selama citra diri yang ditampilin bener alias bukan yang dibuat2 kali. Capek lah ya kalau terlalu dibuat2 alias ga otentik dari kita. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kesaksian sih kita mau gak mau dengerin kisah hidup org tersebut ya. Kalo ini mah dia mestinya bahas apa yg udah ada di guidelines. Ehhh malah ngelantur hahaha.

      Memang mendingan stay true. Gak capek jadinya ngurusin perbedaan di depan dan di blakang layar haha.

      Delete
  49. Hi ci salam kenal.. saya lupa sudah pernah komen ataw belum,soale blognya sering saya baca juga :)

    Soal si bapak A uhm... pengen liat wajahnya kayak apa hihihi

    Soal over dalam mencitrakan diri ya banyak... saya ketemulah salah satunya, yg di dunia maya dan nyata SETAU saya ga segitunya sama. Malu mungkin untuk menyadari kenyataan kalau seindah2nya image yang dia tonjolin (mungkin emang bener bukan rekayasa) tetap ada yang nyata kalau polesan. Bukan palsu ya. Polesan. Dan itu tooooooo much, alias over. Udah gitu tipikal yang ga bisa diajak ngomong alias,maunya diliat aja, dipastiin real jangan sampe hahahhahaha mungkin takut ketauan rapuh itu "pajangan" soale dibangun over,maksa dan pake susah payah.
    Bingung ye. Contoh konkrit, keluarga sejahtera bikin iri banyak pihak etapi polesan over yg kenyataannya banyak ngorbanin perasaan sekitar semacam image pasangan. Demi kelihatan maksimal,lupa kalau cerita keterlaluan tentang pasangan membuat citra pasangannya dibentuk oleh keinginannya. Emg pasangannya mau n rela gitu dipamerin ketauan suka ngupil,demen ngeGame atau agak kemayu karena galakan istri,kan nanti para bawahan ga sopran lg ke si suami udah tau A sd D meskipun ga sampe Z misalnya... hihihi

    Sekian.
    #panjangbener maaf ye

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, nggak apa2 kok panjang maupun pendek tetep di baca. Haha, kalau yang di cerita kamu, malah pencitraannya itu negatif ya? Kalau pasangan diceritakan jelek-jelek gitu kan sebenernya mempermalukan diri sendiri. Dibagus-bagusin keterlaluan juga gak bagus, jadi kayak nipu diri. Yang sewajarnya aja deh. Lagian apa pasangan gak sakit hati kalau dijelek-jelekin. Apalagi suami istri itu udah satu kesatuan. Yang satu jelek, yang satunya ya ikutan.

      Delete