Friday, October 30, 2015

Abby Tamasya Ke Jepang - Bagian 2

Sudah siap untuk bertualang di negeri Sakura (pada saat bukan musim Sakura)? Untuk cerita kenapa kami memutuskan untuk liburan ke Jepang dan persiapan kami yang bisa dibilang ngebut itu, silakan baca postingan sebelumnya. Moga-moga bagian persiapannya bisa membantu juga untuk teman-teman yang ingin berwisata ke Jepang. Sekarang kita lanjut ke hari ke dua!

Rabu, 14 Oktober 2015

Ohayou Gozaimasu! Selamat pagi, Jepang! Pagi itu kira-kira pukul 8.00 waktu Jepang, setelah perjalanan selama lebih kurang tujuh jam dari Singapura, kami tiba juga di Bandara Narita. Begitu keluar, terasa udara sejuk semilir. 

Jepang pagi itu, difoto dari garbarata. 

Suasana Airport Tokyo Narita yang sudah lumayan berumur terasa lengang.
Di bandara, Abby sempat ganti popok dulu, mumpung nggak terlalu ramai. Walaupun terlihat lengang dan santai, ternyata antrian di imigrasi... ALAMAKJAN panjangnya! Sampai petugas harus bagi-bagi jadi 2 antrian besar melingkar-lingkar, dan penumpang dari ketibaan selanjutnya sudah numprek lagi. Begitu dijalani, saya sangat paham alasannya kenapa antrian begitu panjang. Petugas imigrasinya sedikit sekali, dan mohon maaf... leleleledung alias lelet banget hihihi. Ya ada bagusnya sih, biar lebih teliti, cuma gemesin aja lantaran antriannya panjang banget. Begitu kami berhasil keluar dari antrian imigrasi, belt bagasi kami saja sudah berhenti berputar, dan koper kami sudah diangkut ke bagian koper-koper yang belum diambil.

Selanjutnya, kami menuju ke JR East Travel Center untuk mengaktivasi JR Pass yang kami beli di Jakarta. Lokasinya ada di basement Terminal 1 setelah keluar dari Baggage Claim. Oh iya, buat yang belum tau, JR Pass ini cuma bisa dibeli di luar Jepang oleh non-Japanese. Jadi ini merupakan privilege buat foreigners yang berkunjung ke Jepang. JR Pass itu sendiri dicatat sesuai nama kita dan nomer paspor kita. Caranya tukar JR Pass mudah banget, kami tinggal isi formulir berdasarkan informasi dari paspor sesuai dengan petunjuk petugas, dan menyertakan JR Pass receipt (bentuknya seperti tiket pesawat) yang kami peroleh dari Jakarta. Antri ya tentunya. Kebetulan pas hari kami tiba, antrian tidak terlalu panjang. Nanti kami akan mendapatkan the "real" JR Pass yang bentuknya seperti booklet, dengan sticker besar di belakangnya yang menandakan hari terakhir masa berlaku JR Pass. Setiap kali kami ingin masuk ke peron yang merupakan line dari JR atau Shinkansen, kami tinggal menunjukkan pass itu di sisi sticker ke petugas terkait.

Di JR East Travel Service ini, kami juga membeli IC Card (Suica), semacam EZ link kalau di Singapura untuk rute-rute kereta non JR Line dan bus yang menerima IC Card. Bisa juga dipakai untuk JR Line kalau nanti masa berlaku JR Pass kami sudah habis.  Kita bisa mengisi sesuai dengan perkiraan kebutuhan. Jangan khawatir, kalau kurang, kita bisa isi tambahan di mesin yang berlokasi di JR Station mana saja. Sedangkan kalau kelebihan, nanti pada hari terakhir sebelum kita kembali ke Jakarta, kita bisa meminta refund dan pengembalian deposit di Ticketing Office (di Bandara juga ada). Kalau saya pribadi, saya lebih memilih mengisi lebih daripada kurang, jadi tidak repot untuk isi ulang. Berdasarkan itinerary detail yang kami punya, kami memutuskan untuk mengisi JPY 10,000 (IDR 1,200,000)/ kartu. Ingat ya, satu kartu digunakan untuk satu orang dewasa. Anak sebesar Abby masih gratis. Oh iya, jika kita membawa anak kecil, pengurusan JR Pass ini juga mendapat prioritas, jadi kita tidak perlu menunggu terlalu lama.

Ini adalah tampak depan kantor JR East Travel Service di Basement Terminal 1
Keuntungan menggunakan JR Pass ini adalah, JR Pass juga mencakup penggunaan kereta Narita Express (NEX) yang bisa mengantar kita dari Bandara Narita menuju ke Tokyo Station atau Shinjuku Station. Jika kita membeli tiket NEX sendiri, biayanya adalah JPY 4,000 (IDR 480,000) untuk bolak balik, dan setau saya tidak bisa dibeli searah. Jadi kalau kita di Jepang selama maksimum 7 hari, penggunaan NEX ini sudah termasuk dalam JR Pass. Kalau kita tinggal di daerah Tokyo Station atau Shinjuku Station, penggunaan NEX ini adalah moda transportasi termurah dari dan menuju Narita. Saya sendiri sendiri hanya menggunakan NEX untuk dari Narita menuju Tokyo Station, karena pulangnya kami menggunakan jasa Airport Limousine Bus. Soal Limo Bus ini akan saya ceritakan di post nanti.

Kereta NEX yang sangat cantik dan modern baru tiba di Stasiun.

Abby girangnya setengah mati mau naik kereta api.

Mama sendiri langsung online, ngabarin kalau kita semua sudah tiba dengan selamat di Jepang. Nah, tiap kali naik kereta begini, Abby tuh nyanyi melulu lagu Naik Kereta Api (tut, tut, tut).

Keretanya besar, bersih, dan menurut saya sih, cantik!

Sepanjang jalan beberapa kali nemu Aeon Mall. Rata-rata letaknya dipinggir kota, dan merupakan mal sederhana. Di sini juga sih benernya konsepnya kayak gitu, cuma kenapa di sini ramenya gile bener ya? 

Berhubung kurang tidur pas di pesawat, princess dan ibu ratu molor dengan sukses.

Stroller dan koper  bisa ditaruh dengan aman di bagian belakang setiap gerbong.

Dan ini, wece di dalam NEX! Ya oloh bagusnya kayak begini! Ini wece kereta paling cakep selama di Jepang. Kalau di Shinkansen sih mirip2 kayak wece pesawat. 
Setibanya di Tokyo Station, saya lumayan terbengong-bengong. Ini stasiun GUEDENYA AMIT-AMIT! It's like another city! Line keretanya buanyak banget, segala kereta kayaknya lewat di situ. Kalau lihat peta jalur kereta, jalur kereta Singapore itu ibarat anak playgroup, dan jalur kereta di Tokyo itu ibarat anak PHD yang lulus dengan summa cum laude. Ribet dan canggihnya minta ampun. Tetapi syukurlah sekarang keterangannya sudah banyak pake romaji (abjad romawi), sehingga kita gak usah kelewat pusing baca huruf kanji. Tinggal rajin membaca dan pasang mata baik-baik (serta jalan ratusan meter), nanti akan ketemu jalur yang diinginkan.

Kita langsung menuju ke hotel kita untuk satu malam yaitu Metropolitan Tokyo Marunouchi Hotel untuk titip koper dulu. Hotel yang kita pilih ini merupakan sebuah hotel bisnis yang lokasinya persis-sis-sis di sebelah Tokyo Station. Kenapa kita memilih hotel ini? Karena besoknya pagi-pagi, kami sudah naik Shinkansen menuju Osaka. Jadi lokasi hotel yang premium ini sangatlah penting yang berarti kami bisa memaksimalkan waktu tidur, karena tinggal berjalan kaki ke Stasiun. Rate yang kami dapat saat itu untuk kamar twin adalah JPY 33,200, ditambah JPY 200 untuk city tax/ malam. Total JPY 33,400 (IDR 4,008,000)/ malam untuk room only. Hotelnya sendiri berlokasi di sebuah gedung perkantoran, jadi lobbynya berada di lantai 27. Greeter di hotel ini sangat ramah dan petugas resepsionisnya sangat banyak dan sigap walau hotelnya tidak besar-besar banget. Kami baru bisa check in di atas jam 3 sore.

Pemandangan hadap atas kalau dilihat dari lobby

Di lobby, terdapat miniatur Tokyo. Abby udah ngincer ngintip-ngintip. Pas staff hotelnya lihat, langsung mesinnya dinyalakan, dan bagusss banget. Lampu-lampunya langsung menyala, dan kereta2nya semua berputar mengelilingi landmark Tokyo. 

Cakep ya miniaturnya!

Pas di hotel, saya sempat mampir ke public restroom di lantai 27, dan sambil cuci tangan, saya bisa melihat pemandangan ini dari dalam. Cantik banget cuaca hari itu!

Ini North Yaesu Exit dari Tokyo Station yang merupakan salah satu exit besarnya. Dan hotel kita ya lokasinya beneran sebelah kanannya pintu itu (tinggal jalan beberapa puluh meter).

Dari tempat saya berdiri itu, penampakannya seperti ini, bus-bus JR Lines pada berbaris semua. Tapi di Tokyo kami nggak sempat naik bus umum. Di sisi kanan alias gedung tinggi itu adalah Shangri-La hotel, yang lokasinya beneran sebrang-sebrangan sama hotel kita. 
Selain jalur keretanya yang banyak banget, Tokyo Station itu juga ada malnya, tempat makan, pokoknya sudah kayak punya kehidupan sendiri. Jadi selepas taruh koper, kita langsung cari makan siang di dalamnya. Seru banget, karena banyak pilihan. Toko-tokopun banyak banget. Kalau laper mata, pasti bentar-bentar sudah stop. Untungnya tujuan kita ke Jepang ini bukan buat shopping, tapi untuk sightseeing. Jadi mata lurus fokus memandang, gak menclok-menclok sana sini.

Begitu masuk, langsung kelihatan ya tulisannya besar-besar untuk jalur Shinkansen. Untuk jalur kereta biasa lebih kecil-kecil, tapi yang penting ikutin aja langkah-langkahnya.

Loker penitipan koper di sana juga lucunya amit-amit. Ini cuma salah satu dari yang kita foto, kebetulan warnanya pink dan bentuknya kelinci. Sebenernya banyak banget foto loker kita. Ada yang domba, ikan paus, dan lainnya, tapi gak usah dipajang semua deh ya. Sewa loker ini juga bisa pakai Suica loh. Ratenya mulai dari JPY 300 sampai JPY 700. 

Ini cuma salah satu toko yang jualan barang lucu-lucu. Kayaknya tiap tokoh di sini itu punya toko sendiri. Aikatsu sendiri, Rillakuma sendiri, dan penggemarnya ada aja yang beli.
Untuk makan, rata-rata kami memilih restaurant yang nyaman. Yang dimaksud nyaman adalah, sebisa mungkin kami menghindari restaurant yang kami harus makan terburu buru dan berasap rokok. Di Jepang itu banyak sekali restaurant yang duduknya di bar stool, atau duduk pakai kursi tapi individual alias tidak bisa duduk ramai-ramai. Restaurant cepat saji dari Jepang yang juga cukup terkenal di Indonesia seperti Yoshinoya atau Sukiya sudah pasti tidak kami singgahi, karena tidak mungkin membawa anak kecil, lalu duduk di stool dan makan cepat-cepat. Banyak juga restaurant yang membolehkan pengunjungnya untuk merokok, jadi kami harus cukup cermat dalam memilih tempat makan. Nah soal rokok ini, memang di beberapa spot tidak bisa kami hindari karena tidak ada larangan khusus. Tetapi pemerintah Jepang sekarang lebih strict dalam urusan perokok dibanding beberapa tahun lalu. Di Jepang sendiri, untuk makan menurut kami harganya masih sangat reasonable dengan kualitas makanan yang prima. Untuk lunch atau dinner yang biasa (bukan yang istimewa) rata-rata kami merogoh kocek mulai dari JPY 2,500 - JPY 4,500 (IDR 300,000 - IDR 540,000). Masih bisa dibilang masuk akal mengingat Jepang adalah negara yang biaya hidupnya cukup mahal. Pajak di Jepang mulai Oktober 2015 adalah 8%. Jadi jika melihat harga makanan, jangan lupa ditambahkan 8% untuk pajaknya.

Karena Abby suka banget makan nasi dan ayam (kayaknya hampir semua anak kecil suka deh), siang itu kita mampir ke sebuah restaurant yang memang specialtynya adalah ayam. Pokoknya semua bagian ayam digunakan (sampai brutu juga ada) untuk bikin berbagai masakan seperti rolade, yakitori, karaage, dan lain-lain. Too bad, karena baru awal-awal, saya lupa catat nama restonya. Cuma kelihatan belakangnya ada kata -Dori hahaha. (update: suami bilang kalau gak salah namanya Ichi-Dori). Oh iya, kalau di restaurant yang cukup baik, pas dia tau kita ada anak kecil, pasti disediakan mangkok kecil dan utensils anak-anak. I think it's a very good gesture from them. Kita juga meminta menu bahasa Inggris, dan terjemahannya kocak banget. Kali pertama ini, kita cari menu yang cukup aman, yang penting Abby bisa isi perut.

Bahasa Inggrisnya ini, lucu banget menurut saya. Gak ada yang salah sih grammar-nya, tapi recommended brand chicken itu maksudnya apaan ya? Ayam bermerek yang direkomendasikan?

Grilled chicken set. Kelihatannya sederhana banget, tapi kok enakkkk! Apa karena ayam "bermerek"? Hahaha. Entahlah!

Fried chicken set. Kelihatan kayak karaage biasa, tapi pas dimakan,... nyesss... Gak berasa berminyak, tapi juicy banget.

Grilled spicy chicken wings. 3 biji doang, tapi kok enaknya bikn nagih. 
Seingat saya, ini one of our cheapest meals pas di sana. Totalnya sekitar JPY 2,500-an (IDR 300,000-an). Ini cuma sebagai contoh saja ya, biar tau kalau dengan price segitu, kita sudah bisa dapat meal yang cukup lezat dan lengkap di tempat yang proper. Kalau mau lebih hemat, banyak sekali opsi-opsi yang lebih murah. Banyak orang yang suka makan meal di convenience store atau Japanese fast food dan itu harganya sangat terjangkau. Intinya, opsinya terbuka luassss banget, tinggal kita mau hemat atau mau splurge.

Gak tahan untuk kasih lihat lagi loker lucunya. Cute banget kan si whale?

Jadual kereta di Jepang. Tiap line saja dalam 20-an menit ke depan sudah begitu banyak variasi keretanya. Kalikan saja dengan minimal 5 line di stasiun. Selamat berjuang! 
Untuk mencari jalur kereta, kita bisa menggunakan website seperti rome2rio, hyperdia, bahkan google, atau mengunduh aplikasi untuk jalur kereta. Penggunaan website juga berbeda-beda caranya. Untuk rome2rio, kita tinggal memasukan tempat asal dan tempat tujuan. Untuk hyperdia, kita harus memasukkan nama stasiun asal, dan nama stasiun tujuan, plus waktu keberangkatan. Kalau google, kita tinggal memasukkan nama stasiun asal dan nama stasiun tujuan, lalu nanti setelah search, kita bisa mengubah timingnya. Saya sendiri lebih memilih untuk sudah menyusun jalur kereta di dalam itinerary saya dari awal, karena saya jadi tau spare time yang saya punya, plus bisa tau biaya IC card yang akan saya keluarkan supaya saya bisa mengira-ngira pengisian saldo. Tetapi kalau mendadak kepingin ganti tujuan, saya tinggal search saja di smartphone pas saya sudah sampai di stasiun kereta. Saya tidak akan tulis satu-satu jalur kereta yang saya lewati, karena saya yakin, pembaca saya juga sudah pada pintar untuk search sendiri ya :).

Untuk kereta non JR Line, kita tidak menggunakan JR Pass, melainkan menggunakan IC Card (Suica). Cara pemakaiannya mirip dengan EZ Link di Singapura yaitu tap di gerbang saat masuk, dan tap lagi saat keluar. Bedanya, di Singapura itu satu stasiun line-nya berasal dari satu perusahaan yang sama. Kalau di Jepang, dalam satu stasiun, line-nya bisa berbeda-beda. Jadi jangan bingung, di dalam stasiun yang sama, kita bisa tap beberapa kali kalau pindah line.Tujuan pertama kita hari itu adalah menuju ke spot paling terkenal se-Tokyo untuk turis yaitu Asakusa, tentunya untuk ke Senso-ji Temple yang merupakan kuil Budha tertua di Tokyo.

Pertama kali nih Abby naik kereta umum. 

Mukanya tegang amat sih, By!
Keluar dari stasiun, kita bisa memilih untuk jalan via market streetnya alias Nakamise-dori, atau pilih jalan paralel di sebelahnya yang lebih sepi. Kami memutuskan untuk ke yang sepi dulu, baru nanti pulangnya lewat jalan utamanya. Ternyata, jalan yang lebih sepi saja sudah cukup ramai dengan toko-toko.

Cemilan nih, cemilan! Mata harus lurusss...

Suasana sepanjang jalan, banyak toko-toko termasuk fashion.

Woahhh, toko gelato penggoda iman.

Nah bener kan di Jepang itu kalau udah ngefans sama satu tokoh, bisa ke toko khusus tokoh tersebut. Nih si Monchichi aja punya toko sendiri!

Dari kejauhan kita bisa melihat Tokyo Skytree yang merupakan tower tertinggi di dunia dan bangunan tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai.

Akhirnya, sampai juga deh di gerbangnya Senso-ji Temple yang terkenal dengan lentera yang super besar. Ini gerbang kedua alias Hozomon. Gerbang pertamanya ada di depan market. Kalau tadi  kita jalan via marketnya, akan langsung ketemu gerbang pertama atau Kaminarimon yang ukurannya lebih kecil. 

Setelah melewati gerbang, di sebelah kirinya ada pagoda 5 tingkat. Banyak turis-turis yang berdandan dengan menggunakan kimono/ yukata. 

Anak kecil ini seneng sekali pokoknya. Mungkin karena udara adem.

Di bagian pemujaan dilapisi oleh layar dari kawat, jadi ya harap maklum fotonya agak-agak blur sedikit. Rasanya kalau dilihat, kebanyakan turis daripada orang yang berdoa. Nggak kebayang suasana doa apakah bisa khusuk dengan keramaian seperti ini. 

Ini dua turis dari Hong Kong hihihi. Di sana kan kita bisa pakai jasa fortune telling, terus nanti setelah kocok-kocok, kita bisa dapat nomer di stick, lalu cari deh nomer kita itu di laci yang mana. Katanya sih  kertasnya itu atau istilahnya "omikuji" bisa memperlihatkan nasib kita. Saya gak ikutan, soalnya ruameeee banget yang kepingin tau nasib hihihi. 

Atap di bagian dalam kuil utama, penuh dengan lukisan. 

Foto ini diambil dari arah kuil utama menuju gerbang. Kelihatan sekali ramainya temple ini. 

Smoke bathing alias mandi asap di Senso-ji ini katanya sih untuk membersihkan diri kita dari berbagai "sakit" alias keburukan, sebelum akhirnya kita masuk ke kuil dan menyampaikan doa. Berhubung ini suami penasaran, dia mah masuk ke kuil dulu, baru iseng-iseng ngasepin diri. -_-

Sandal tradisional raksasa di gerbang

Lentera putih berisi berbagai simbol

Foto sekali lagi di depan lantern, cuma untuk nunjukkin, kalau lanternnya itu benar-benar raksasa! 

Nakamise-dori alias market street, isinya penuh dengan berbagai toko.

Kayaknya souvenir apapun ada. Gantungan aja ada segini banyak.

Belum lagi snack lucu-lucu. Doraemon, ada! Hello Kitty, ada! 

Souvenir-souvenir tradisional yang menggemaskan! Kacamata kuda mana nihhhh...

Suasananya ruameeee banget. Jadi habis keluar lalu melewati gerbang kecil alias Kaminarimon, kami langsung belok kiri dan balik ke jalan yang sebelumnya kami lewati.

Kenapa? Karena saya tergoda sama toko Gelato yang tadi kita lewati! Hahahaha. 

Pesen kombo separo cookies and cream, dan separo avocado. Enaaaakkk!!

Abby langsung nyoel-nyoel pakai sendok dan masuk mulut.

Tapi favorit dia tentu saja cone-nya. 

Dan setelah eskrimnya dihabiskan, cone-nya dia yang embat sampai ludes. 

Di dekat Asakusa itu ada one of the most recognizeable building di Tokyo yaitu Asahi Beer Hall yang dibentuk mirip gelas beer warna emas dengan buih2 putih di atasnya, dan yang bentuknya aneh itu (kok kayak ingus terbang), adalah "Asahi Flame".
Tujuan kita selanjutnya adalah menuju ke bangunan iconic di Tokyo yaitu Tokyo Tower, tapi dengan melewati Zojo-ji Temple. Kenapa kita melewati Zojo-ji? Tak lain tak bukan adalah atas saran dari temen saya si Fat Owl. Katanya sih kalau lewat situ, kita bisa melihat perpaduan paling menarik dari Jepang yang tradisional dan modern. Yuk, kita buktikan saja.

Setelah turun dari kereta, kita berjalan di daerah Daimon, dan melewati smoking area. Jadi sekarang di Tokyo itu ya smoking areanya kayak gini. Di ruang terbuka, tapi designated alias gak bisa sembarangan ngerokok sambil jalan. Mantab kan!

Ini adalah gerbang depan menuju ke Zojo-ji Temple yang disebut Daimon.  Makanya nama stasiun keretanya juga disebut Daimon. Di sepanjang jalan setelah itu masih ada perkantoran dan taman.

Di tengah kota, masih banyak terdapat spot-spot berisi taman seperti ini. Di daerah yang ada screen putih itu adalah smoking area. Lagi-lagi walaupun di taman terbuka, tetap tidak boleh merokok sembarangan. 

Dan sampailah kita di gerbang utama Zojo-ji temple atau Sangedatsumon yang dibangun tahun 1622. Terlihat ujung dari Tokyo Tower mengintip. Di sini Abby mulai bobo siang. 

Kita masuk lewat gate sebelah kiri yang ada akses untuk wheelchair dan stroller

Main hall dari Zojo-ji Temple yang dipakai untuk funeral service scene di film Wolverine (trivia iseng). Dan memang di bagian belakang temple ini terdapat tanah perkuburan.

Tokyo Tower tampak jelas di balik atap.

Di kanan Main Hall terdapat Ankokuden dimana terdapat "Black Image of Amida Buddha" yang dipuja oleh Tokugawa Shogun pertama dan dianggap menjauhkan kita dari setan dan kejahatan. Di belakangnya tampak jelas Tokyo Tower. Saya kira inilah yang dimaksud oleh kawan saya si Fat Owl, yang menggambarkan perpaduan tradisional dan modern.

Berhubung anak lagi tidur, sekali-kali boleh dong we-fie hihihi. 

Kumpulan Omikuji atau kertas-kertas fortune yang ditinggal.

Peta kompleks dari Zojo-ji Temple. Katanya dulu areanya jauh lebih luas daripada sekarang. 

Di samping kompleks Zojo-ji, terdapat "Garden of Statues of Unborn Children". Patung-patung di sini melambangkan anak-anak yang diaborsi, meninggal saat dilahirkan, atau keguguran. Sesuai kepercayaan, roh anak-anak tersebut dilindungi oleh dewa pelindung anak-anak meninggal. Orang tua yang kehilangan anaknya, bisa memilih salah satu patung, lalu mendekorasinya seperti anak mereka sendiri dengan baju, topi, dan bunga. Cantik sebenernya, tapi kok hati ini rasanya nyeeessss....

Dari samping Zojo-ji, kita jalan terus menuju ke Tokyo Tower. Jalanannya sejuk dan rimbun, padahal benar-benar berada di tengah kota.

Akhirnya, sampai juga deh kita di monumen yang melambangkan Tokyo. Kalau soal tinggi sih, Tokyo Tower kalah dengan Tokyo Skytree. Tetapi kita memilih kemari untuk naik ke observatory-nya, karena Tokyo tower lebih klasik dan iconic.

Bergaya meniru maskot Tokyo Tower. 

Tokyo tower difoto dari kakinya.

Banyak orang yang kemari hanya untuk sekedar berfoto-foto ria di bawah. Tetapi masak sudah sampai sini ngga naik sih? Kita punya dua pilihan untuk naik ke Main Observatory di ketinggian 150m, atau Main Observatory dan Special Observatory di ketinggian 250m. Kita memilih untuk naik ke Main Observatory saja. Jangan lupa beli tiket dulu ya di depan.

Harga tiketnya per orang sebesar JPY 900 (IDR 108,000)/ 1 dewasa. Jika ingin ke Special Observatory, harganya JPY 1,600 (IDR 192,000)/ 1 dewasa. Abby masih gratis.
Antrian untuk naik cukup panjang, karena walaupun Tokyo Tower termasuk monumen yang cukup tua, monumen ini tetap menjadi kebanggaan Tokyo sampai sekarang. Kita diantar dengan menggunakan lift yang sangat cepat. Tau-tau sudah sampai aja.

Keluar dari lift, ada miniatur Tokyo Tower yang dilapisi kristal.

Pemandangan cantik Tokyo di sore hari. Di bawah itu adalah kompleks Zojo-ji Temple yang tadi kita datangi.

Geser sedikit ke kiri, terlihat ratusan gedung-gedung pencakar langit.
Kalau ingin suasana yang lebih sepi dan kepingin ngetest adrenalin untuk nginjak kaca transparan di ketinggian 150m, silakan turun 1 lantai dari main observatory tadi dengan menggunakan tangga.

Pura-pura takut, padahal ngga ngeri-ngeri banget kok. Tapi tetep aja ada orang yang ngga berani dan teriak-teriak kecil hahaha. Ada yang lihat mobil putih di bawah yang jadi segede kecoak? 

Suami mukanya tetep lurus seperti mistar walau senyum dikit. Bandingkan dengan istrinya (yang kebanyakan gaya).

Pose sok memandang masa depan. 

Pemandangan sisi lain dengan jembatan dan teluk.

Yang ini bener-bener candid, soalnya istrinya yang fotoin. Kalau yang foto saya tadi, disuruh gaya sama suami *ngaku*

Tokyo Skytree terlihat dari kejauhan. Kalau cuaca lagi bagus banget, katanya sih Gunung Fuji pun kelihatan.

Daripada ngga ada foto di Tokyo Tower, biar bobo, Abby tetep di foto deh di atas kaca tembus hihihi.

Ini bagian belakang Zojo-ji Temple yang isinya kuburan. Dari Tokyo Tower dan di zoom, jadi keliatan deh nisannya. Entah berapa harganya ya kalau dimakamkan di situ, lokasinya super duper premium.

Setelah puas memandang Tokyo dari segala sisi, kita turun lagi naik lift. Saya sengaja minta difotoin, soalnya seragam si mbak tukang pencet liftnya cute banget! Selain itu, entah kenapa, kalau cewek-cewek di bidang service ini, kalau ngomong suaranya dibikin jadi imut kayak di anime anak-anak. Ngomong "sudah tiba di lantai sekian" aja serasa denger film kartun.
Keluar dari lift, kita gak langsung diturunin di lobby, tapi di area souvenir yang kebetulan sebelahan sama lokasi Tokyo One Piece Tower Exhibition. Kata suami saya, One Piece ini adalah anime yang episodenya entah udah berapa ribu dan gak habis-habis, sampai kayak jadi legend hahaha.
Kemudian, saya lompat, lalu mulai bergaya di sini, dan minta foto sama suami.

Terus sang suami, terinspirasi oleh istrinya, ikut-ikutan bergaya yang sama. Dasar plagiator.

Sebelum keluar gedung, foto dulu di lobby. Nah, saya mau kasih lihat kalau di belakang itu adalah antrian untuk masuk lift. Pas saya masuk tadi jauh lebih ramai antriannya. Sekarang sih sudah menipis.

Di terasnya juga ada nih background gede banget kalau mau foto ala-ala. Bukan Tokyo tower asli ye, background doang itu. Tapi gaya saya tetep oke kan ya? *maksa*

Perjalanan balik menuju stasiun, kita melewati taman seperti ini. Udah kayak hutan aja di tengah kota. Pas keluar, baru ngeh, kaki saya yang cuma kebuka dikit itu, pada bentol-bentol digigit serangga. Nasib kulit sensitif :(
Kami lanjut untuk check-in dulu, lalu bersih-bersih sebentar sebelum makan malam.

Suasana lobby di sore hari. Nah, inget kan miniatur kota yang tadi Abby lihat? Tuh adanya di tengah lobby. 

Kamar kita ada di lantai 33 (kalau nggak salah, ciyus udah lupa hahaha).Ini pemandangan dari lorong kamar kita.

Kamar kita, twin room seluas 25m2, dengan ukuran ranjang 120cm x 200cm, Sangat bersih, bagus, dan fungsional. 

Rata-rata kamar mandi di Jepang, sekecil apapun itu, pasti punya bathub untuk berendam, karena berendam air panas sudah merupakan kebiasaan orang Jepang untuk relaksasi. Jadi bayangin kalau kamarnya cuma 14m2, lalu kamar mandi ada bathubnya, sebesar apakah sisa untuk kamar utamanya? Oh iya, toilet di sini seperti biasa, keren, dengan banyak tombol di sisi pinggir. Ada seat warmer, bidet, bottom shower, sampai air mengalir untuk "mengalihkan suara" saat kita do the business. 

Amenitiesnya sangat lengkap, termasuk yang terlengkap dari 3 hotel tempat kami tinggal.

Segala printilan ada, sampai pelembab wajah, dan handuk jaring buat gosek-gosek badan.

Sofa kedil di pojokan, lumayan kalau mau ngendon baca-baca buku *kayak sempet aja*

Pemandangan dari atas kamar kita. Kelihatan kalau Tokyo ini terus membangun kotanya. 

Di atas ranjang kita sudah disediakan sleeping gown. Rata-rata hotel di Jepang semuanya menyediakan sleeping gown atau yukata (At least di semua tempat kami menginap ada).

Meja tulis yang simpel dan fungsional.

Perlengkapan kopi dan teh ini, tersembunyi di dalam tembok di bawah televisi. Yang saya suka dari hotel ini adalah cara mereka betul-betul memanfaatkan setiap sudut dan dinding yang ada untuk storage. 
Malam itu, kita makan malam di daerah Shibuya. Karena ini adalah late dinner alias sudah di atas pukul 20.00, saya bilang ke suami. "Begitu keluar, kalau ketemu restaurant yang kira-kira menunya cocok, kita langsung makan aja, gak usah kebanyakan mikir." Pas exit yang ada patung Hachiko, kami langsung masuk ke gedung perbelanjaan Tokyu, dan melihat kalau deretan restaurant yang proper ada di lantai 9. Saya juga baru ngeh, kalau di pusat perbelanjaan besar, restaurant yang bagus rata-rata ada di lantai paling atas. Jadi kita langsung naik lift ke lantai 9, muter-muter cap cip cup, dan memutuskan untuk makan di restaurant yang namanya Maisen Tonkatsu Tokyu-Toyoko (Baru tau namanya juga pas baca menu Englishnya. Di depannya cuma ada hiragana sama kanji). Dan pas saya research soal restaurant ini barusan (iye barusan, telat ye), saya baru tau kalau ini adalah salah satu restaurant dengan menu tonkatsu terbaik di Tokyo yang merupakan cabang dari Maisen Tonkatsu Aoyama Honten! Malah menurut Trip Advisor, restaurant tempat saya makan ini termasuk Top 40 dari sekitar 5,000-an restaurant di Shibuya. Main restaurantnya malah Top 20 dan antriannya bisa 1 jam sendiri kalau pas jam makan. Pantesan aja kursi tunggunya banyak banget di depannya, dan kita beruntung banget, karena sudah late dinner, restaurantnya jadi nggak terlalu ramai.

Tonkatsu...tonkatsu everywhereee!!
Menu yang terkenal (dan termahal) di sini adalah Kurobuta Katsu atau Black Pig Katsu. Kalau saja saya tau ini adalah cabang si Maisen Tonkatsu yang terkenal itu, saya gak akan segan-segan pesan si Kurobuta Katsu. Tapi berhubung kita agak clueless, kita pesan menu yang lain. Suami saya pesan Premium Pork Loin Katsu 180gr, dan saya pesan Special Set yang terdiri dari berbagai jenis katsu. Intinya mah semuanya tetep porky-porky. If you are a pork lover, this place will make pork 10 times better! Ciyus!

Muka bapaknya lucu di sini, kelewat happy mau makan babi.

Dikasih handuk panas di dalam plastik, serasa di dalam pesawat aja

Kemudian dua bocah ini lap-lap muka. Kocak banget. Like Father, Like Daughter.

Walaupun ini restaurant terkenal, tetep aja grammarnya lucu. Di bagian yang kena glare bayangan itu, tulisannya "Please Order Willingly" hahaha.  Kalau harafiah kira-kira itu artinya, ayo kita pesan dengan semangat/ gembira. Nasi dan kol mentah boleh nambah sepuasnya. Saosnya yang enak itu yang special tonkatsu.

Special Set punya saya. Ini saya jabarkan berdasarkan apa yang saya rasain aja ya. Ada ebi katsu, minced pork katsu, dan mini tenderloin katsu. Semua-muanya meleleh di mulut. Bagaimana mungkin babi bisa meleleh di mulut padahal itu dagingnya, bukan minyak babi? Enakkkk!! 

The size is pretty big! Itu minced pork katsu separo aja udah segede gitu. 

Ini yang suami saya punya, premium pork loin katsu (udah kemakan ujungnya) Saking napsu kelupaan difoto, udah boncel deh. Dan ini juga, enakkkk!! Gak kebayang kalo pesen Kurobuta, pasti lebih edan lagi enaknya.

Bapaknya yang gantian tugas nyuapin. Mama bisa makan babi dengan tenang.

Yang jar besar itu yang Special Tonkotsu Sauce, yang jar kecil itu yang Worcestershire Sauce (disingkat jadi Worcester). Pokoknya puaaaassss banget makan di Maisen Tonkatsu!
Tidak lengkap rasanya kalau sudah sampai Shibuya, tidak melihat-lihat dulu kehidupan malam di daerah situ. Kita gak muter terlalu jauh sih, soalnya sudah cukup malam.

Selesai makan, foto dulu di depan patung Hachiko, si anjing setia. Biarpun sudah malam, daerah Shibuya itu hidup terus, jadi serasa siang hari. 

The infamous "Shibuya Crossing", the world's busiest intersection. Simpangnya ada 5 kayaknya, dan tiap pas nyebrang, itu turis-turis banyak yang heboh selfie di tengah-tengah persimpangan saking ramainya. Denger-denger, orang-orang banyak yang beli kopi di Starbucks atas itu cuma buat ngelihat keriwehannya dari atas.

Sisi kanan itu adalah Shibuya 109, salah satu pusat perbelanjaan paling top di Shibuya. Satu gedung khusus untuk cewek, dan satu gedung lagi khusus untuk cowok. Sayangnya kalau pusat perbelanjaan, rata-rata pukul 9 malam sudah tutup. Kalau tempat makan sih buka sampai lebih malam, bahkan ada yang 24 jam.

Di sisi lain banyak terdapat restaurants.

Banyak sekali restaurant yang pakai vending machine begini. Tinggal pesan makanan di vending machine, ambil receiptnya, lalu dimasakin sama chefnya dan makan di dalam deh. Rata-rata restaurannya hanya menyediakan meja dan bar stool. Cocok banget untuk orang yang jomblo, atau yang pergi tanpa anak. Kalau bawa anak kecil mah rempong, cyin! Padahal pingin juga loh nyobain yang beginian. Kayaknya seru juga dan enak-enak, plus affordable.

Satu lagi yang sering terdapat di keramaian selain mall dan tempat makan, yaitu satu gedung sendiri yang isinya mainan pachinko! Ada kali ratusan mesin pachinko di situ, dan ruameeee banget. Kayaknya udah jadi budaya banget ya. Kalau perlu numpang tidur di tempat pachinko (mungkin lebih murah daripada di hotel hahahah). 

Pukul 10 malam, tapi masih kayak gitu aja! 

Sementara Abby nyemilin kentang McD disuapin mamanya soalnya panas. Keren kan, nyuapin kentang goreng di Shibuya Crossing.

Di depan pintu stasiun Shibuya terdapat mozaik Hachiko dari kecil sampai dewasa. 

Kalau lihat jadual kereta, sekarang itu sudah di atas pukul 10 malam, tetapi stasiun justru malah tambah ramai oleh para pekerja yang baru pulang kantor. Di sana pekerja kantoran semuanya menggunakan kemeja, jas, dan dasi sebagai pakaian kerja sehari-hari. Gila banget ritme kerja orang-orang Jepang ini. Menjelang tengah malam, malah stasiun makin ramai karena orang-orang baru pada selesai lembur semua. 
Selepas dari Shibuya, kami kembali ke hotel dengan kereta. Malam itu, bapaknya dan Abby tidur nyenyakkkk banget (bapaknya malah sampai ngorok kayak truk), sementara mamanya Abby kebangun beberapa kali lantaran kepikiran apakah anaknya jatuh atau masih di atas ranjang (maklum gak ada baby cot dan ranjang cuma ukuran 120cm). Giliran udah pulas, malah kebangun lantaran ditendangin anak yang spin 180 derajat. Hihihi. Besok kita lanjut ke mana lagi ya? Ditunggu aja lanjutan ceritanya. Selamat malam, Tokyo!

78 comments:

  1. Seru banget ceritanya dan gambarnya bagus bagus. Trus Abby imut banget ih :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abby memang imut, seperti mamanya. *kemudian ditimpuk berlian sama pembaca*

      Delete
  2. Ci leony feeling so good deh, cap cip cup malah masuk ke resto terkenal (yg tonkatsu itu) ^_^ btw, org jepang sekarang udah byk yg bisa bhs inggris ya ci? Gak sabaarr nungguin yg osaka sama kyoto part!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal bahasa Inggris, menurut cici sih masih nggak terlalu bagus ya. Bahkan di tempat-tempat terkenal pun suka masih ada salah spell atau grammar. Kalau bicara langsung juga masih sangat limited. Cuma sudah jauh berkembang sih, at least di beberapa restaurant ternama sudah ada menu berbahasa Inggris. Lumayan jadi nggak gitu clueless makan apaan.

      Delete
  3. Hi ci..akhirnya chapter kedua sudah tayang hi. Seru bangeet dan seperti biasa, tulisannya detail.banget ci.. Srasa kita ikut bertualang disana hehehe.. Suster abby libur dong nih hii..

    Ditunggu chapter berikutnya ya ci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suster Abby tiap weekend kuliah, Lia. Dia libur pulang ke yayasan, jadi deket juga sama kampusnya hehe. Sip deh, terus disemangatin ya biar bisa kejar tayang hahahaha.

      Delete
  4. BuLeee makasih yaaaa. Suka deh sama postingannya. Bakalan kasih ini ke istri (lagi) hahahaha..
    Btw penasaran sama ayam bermereknya deh. :P Emang orang Jepang suka rada gimanaa gitu bahasa Inggrisnya. Pengalaman tiga tahun ngobrol ama mereka, kalo yang umurnya udah 50an meskipun udah keliling dunia tetep aja aneh. Yang mayan mending sih yang pada umur 30an dan lahir dan besar di luar jepang, masih agak internasional bahasa Jepangnya.
    Itu katsu babinya menggoda banget, sayang gak boleh makan. Hahahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Pdhl mah nggak bermerek kali ya. Mungkin maksud dia ayam2 yang terkenal berkualitas. Tp cara nulisnya emang unik. Dulu di kampus ada temen org Jepang, gak lulus2 tes bahasa Inggris sbg 2nd language sampe di tahun terakhir kuliah msh gak bisa lulus. Parah banget.

      Delete
  5. Horee lanjutannya uda terbit, emang tulisannya oke banget selalu detail dan komprehensif ��. Tonkatsunya tempting banget deh, masuk list resto yang bakal dikinjungi. Btw Abby pinter banget ya dibawa jalan2 dan ga rewel ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bisa sih coba masuk ke yang main restaurantnya. Kalau saya kan makan yang di cabangnya. Yg main restonya lbh antik dan menunya lebih komplit. Abby memang termasuk anak yang well behaved. Tp ada kok saat2 di mana dia rewel. Nanti deh diceritain.

      Delete
  6. Akhirnya terbit lagi ci tulisannya, ga pernah bosan-bosan deh baca tulisan cici selalu detail dan bahasanya itu bikin ikutan berpetualang juga jadinya. Thank you ya ci udah sharing-sharing.:)

    itu pork nya ci, aduuuhhhhh bikin ngiler deh..:D

    btw, itu si abby lucu banget sih ci, lebih doyan cone nya ketimbang ice creamnya..hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasanya kayak emak2 banget ya. Jadi serasa bawa anak2 jalan2 terus anak2nya tinggal ngikut aja haha. Beginilah kalau hasrat sharing menggelora jadinya cerita ngalor ngidul.

      Abby emang lebih doyan biskuit dan yang garing2 daripada makanan basah. Eskrim doyan tp yg on a stick jd bs dijilat2.

      Delete
  7. Finally selesai bacanyaaaa :D

    ngiler sama tonkatsunyaa, ahhh semoga suatu hari bisa ke jepun :) lanjutkan cii~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti bisa ko. Skrg ini kayaknya lagi musim ya semua org ke Jepang gara2 lumayan banyak travel fair jg yg jual tiket murah. Kmrn ini cici dikasih tau JTB kalau beli tiketnya minimal 4 bulan di muka, busa dapat harga 5-6 jutaan loh buat GA. Cobain aja.

      Delete
  8. kereta Nex nya keren banget ya Le....pork premiumnya bikin ngilerrr....

    ReplyDelete
    Replies
    1. NEX lbh cakep dr Shinkansen loh. Apa karena lebih baru ya. Porknya memang super lezat deh!

      Delete
  9. Kereta nex nya mantep ya ci le..
    adohh itu nama tempat nya susah yaaa..
    klo cuma baca kayana ga afdol..doain bisa ke sana ya ci.. hahaha jd ga cm melihat tulisan ajaa..
    Lumayan mahal ya ci buat biaya hidup di jepang.. 10 hari si cukup menguras dompet yaaakk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nama tempat yang mana yang susah Dayenna? Hihi. Belum biasa aja kali ya. Kalau nama tempat commonnya gampang kok. Yg susah2 cici jg nyontek.

      Travel ke manapun kita punya pilihan kok. Mau hemat atau mau splurge. Kebetulan cici bukan tipe backpacker tapi jg bukan tipe super luxurious. Yang penting namanya liburan jangan bersusah2 aja dan bobo hrs nyaman. Kalau mau irit opsinya buanyaaakk banget. Mulai dr cari tiket promo, tidur di hostel/air bnb, naik kereta lokal/ willer bus untuk antar kota, makan yang tipe vending machine atau convenience store, intinya sih semua tinggal pilih.

      Delete
  10. slabber Abby dipinjemin dari resto atau bawa sendiri le?
    keren yak Abby bisa tidur dengan segala posisi dan kondisi... hehehe :) ga rewel lagi..kereen euy.. :) enak nih jalan2 begini sama Abby...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Slabbernya gue beli di Jakarta, Fun. Tapi ya beli yang made in Japan juga di Aeon hahaha. Kayaknya produk2 sono simpel tapi inovatif.

      Abby udah biasa tidur di mana aja. Mgkn krn dr kecil udah biasa bobo di stroller n car seat, jadi ya meliuk2 termasuk di pesawat juga bisa hihihi. Ada juga kok Fun cranky2nya, tar gue ceritain deh.

      Delete
  11. Wah serunya abby jalan2 ke jepang.. Ci leony lanjutannya ceritanya ditunggu pembaca setia ni.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kudu disemangatin ya, biar lanjut terus, soalnya msh buanyak ceritanya.

      Delete
  12. Hi ci leony, ak selama ini silent reader nih hahahaha. Tapi liat yg topik jepang ini bener2 ga tahan mau comment enak baca blognya semua yg ditulis bisa dibayangkan kyk apa walaupun belum pernah kesana hahahaha . Serunya ke jepang dr dl ud kepengen tp belum terwujudkan. Ditunggu next postnya. Cant wait!! Semangat posting cici hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Thank you, Yudith. Saking suka bercerita sampe panjang banget nanti seri Abby Tamasyanya kagak kelar2 yak hahaha. Iya seneng kalau org lain bisa ikutan tamasya jg sama Abby. Makasih pompaan semangatnya!

      Delete
  13. Thks for useful info aku baru mo pergi mid nov ini

    Sani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, Sani. Ke kota mana aja nanti? Semoga bisa membantu ya postingan2nya. Walau pas Mid November kayaknya blm kelar nih serinya haha.

      Delete
  14. Kayaknya ke jepang memang paling asik kalo pergi sendiri ya, no travel agent. Lebih puas dan petualang gitu. Mungkin kapan2 kalo aku ke Jepang aku bakalan privat ke kamu ttg tiket kereta le, ...biarpun kamu udah panjang lebar ngejelasinnya aku tetep ga gitu ngerti.hahaha
    Fokusnya lebih ke arah makanan dan hotelnya.Asiiiiik banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung sih, Paula. Kalau ikutin cara aku, kaki bakalan super pegel dan gempor. Hahaha. Maklumlah jiwa petualang menggelora dan kita berdua suami istri pd kuat jalan kaki semua. Hotelnya kali ini aku ga banyak foto. Soalnya banyakan di luar drpd di dlm hotel hihi.

      Delete
  15. Seneng banget bacanya, berasa ikutan jalan-jalan, dan makin yakin pengen nabung buat ke Jepang hahaha.. Apalagi nih Leony kasih harga-harganya jadi bisa berhitung kira-kira harus sedia berapa, makasih sharingnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip deh Rina. Aku ksh harga kira2 aja ya based on condition saat aku pergi. Kamu bs jauh lbh hemat kok drpd saya kalau plan jauh2 hari spy dpt tiket murah dan kalau pergi ga bawa anak, requirement hotelnya bs dikurangi gak harus yg luas2.

      Delete
  16. Makanannya enak enak yah, le! :)
    Dan gw pikir bawa baby ke tokyo bakalan rempong abis, ternyata engga juga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jepang makanan itu hampir semuanya enak2. Yang biasa sih cm yg di amusement park dan kurang worth my money walaupun ada yg enak juga hehe.

      Kebetulan Abby anaknya lumayan seneng jalan2. Walaupun tetep sih bawa dia jauh lbh cape drpd pergi berduaan doang hehe.

      Delete
  17. Salam kenal ci, silent reader selama ini..

    Edisi Abby Tamasya ini selalu jadi bagian yang ditunggu2, ceritanya detail dan berasa ikut jalan2 juga :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Damaris. Seneng udah gak silent lagi hihihi. Ayo ikutan jalan2 bersama Abby.

      Delete
  18. seruuu ceritanya...tapi fotonya abby kurang banyak cii..hihihihi
    oh iyaa aku kira makanan di jepang kebanyakan yang mentah2 gitu ky sushi ternyata yang mateng ky katsu2 juga banyak ya cii...>.< duhh semoga nanti bisa kesampean juga ke jepang..hohoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau foto Abby semua, tar gak dapet foto makanan sama pemandangannya loh! Hahaha. Sushi gak banyak2 amat loh. Kayak dalam 1 lantai resto semua, yg jual sushi paling 1 smp 2 resto. Katsu jg cuma salah satu jenis aja. Banyak macem jenisnya.

      Delete
  19. Ahh,,jadi makin mupeng ke Jepang dah ci.. Apalagi liat babinya.. wuihhh,,menggiurkan sekali yaak. hahahaha.. baca ceritanya seru serasa ikutan jg.. ditunggu cerita lanjutannya ci.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kalau babinya buat kita gak haram, jadi tergiur ya hahaha. Besok deh cici kasih liat lagi lebih banyak pesanan babi. Especially suami cici, ngefans sm babi.

      Delete
  20. ceritanya detail banget... n emang makanan jepang enak2 banget , jadi ngiler nich.. hihihi.. :D ayo semangat nulisnya.. ditunggu lagi lanjutannyaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanan Jepang di Jepang itu memang pilihannya: Enak atau enak sekali! Hahaha. Kalau di Jakarta sih banyak jg yg ngga enaknya. Sip, tungguin aja lanjutannya ya.

      Delete
  21. Jagoan le... Lu hari pertama udah kebanyak tempat padahal bawa anak segala.
    Btw klo ke tokyo station ada bus yg 900JPY sebenernya. Punyanya Kesei, tapi mungkin lebih cepet nex klo jamnya cocok ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah, canggih ya, padahal masih gliyengan juga tuh kurang tidur pas di pesawat. Tapi gara-gara udara seger, pas jalan tuh malah jadi berasa tambah seger dan sehat. Jalan berkilo2meter gak brasa loh! Enak banget semilir2. Gue naik NEX soalnya kan udah included di JR Pass, plus udah pasti jauh lebih cepet daripada naik bus.

      Delete
  22. ngilerrrr sama makanannya, ngiler juga sama jalan2nya. smoga kesampean one day jalan2 ke Jepang :D

    idem sama misua cici, one piece ga tamat2 ci sampe bosen nunggu lanjutan komiknya (-___-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa Wiii... Cuma ya kalo udah ada anak, emang lebih banyak pertimbangan sih. Bawa anak ribet, ga bawa anak, kesian anak ditinggal hahahaha. Cici mah ga baca komik or nonton anime, jadi kagak paham tuh One Piece.

      Delete
  23. Wow, Abby diajak ngider seharian gak rewel ya Le? Udah terbiasa diajak jalan sih ya. Dulu pas ke Jepang thn 2002, beneran pusing dgn JR Line yang minus bahasa Inggis. Mana orang Jepangnya juga kurang bisa bahasa Inggris. Terakhir ke Jepang tahun lalu pas Golden Week dimana orang2 Jepang pada libur panjang. Ampun..., di temple rame banget seperti mau nonton konser. Tapi Jepang sih orangnya benar2 sopan dan baik sih. Pada golongan darah A kata guidenya, jadi lebih gampang di atur. Kalo Indonesia, golongan darahnya banyakan O jadi lebih free spirit, ha ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lu tahun lalu ikut tour ya makanya ada guidenya ngomong gitu? Hihihi. Gue rasa bukan soal golongan darah, tapi soal pendidikan disiplin aja yg dari kecil udah dibiasain. Orang sini kan dibiasain kiasu, siapa cepat dia dapat, tapi tanpa aturan dan menghalalkan berbagai cara. Coba menteri sana ketauan korupsi 10 juta perak aja udah mengundurkan diri, pdhl korupsinya jg gak sengaja.

      Abby lumayan oke banget sih kalau dibawa jalan. Cuma ada di beberapa tempat yang kelewat rame, dia kaga nyaman jadinya ada masa-masa rewelnya juga. Tp overall she's been great.

      Delete
  24. wooow *drooling abis*

    pork emang ga ada matinya ci hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha... pork enak, tapi kalo kebanyakan juga bikin klenger, Nick!

      Delete
    2. iya ci, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik..seminggu sekali saja :p

      Delete
    3. Kamu kudu liat suami cici. 3 kali berturut2! Liat post selanjutnya aja :)

      Delete
    4. Hahaha..itu penasaran ato doyan ci? tp gpp lah..kan lagi liburan puas-puasin *pembenaran diri*

      Delete
    5. Untungnya abis gitu stop. Entah karena diremind sama cici biar ga kebanyakan makan pork katsu, atau karena bosen hahaha.

      Delete
  25. (((INGUS TERBANG))) bwahahahahah... gak tahan ngakak deh pas liat fotonya :D

    Trus aku jadi ngiler liat porky-porky, kayaknya enak banget itu yaaaah.
    Ditunggu tulisan selanjutnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Icha boleh makan porky gak? Kalau ngga, jangan ngiler ya. Kalau boleh, silakan ngiler hahahaha.

      Delete
  26. Asik ya... Baru liat fotonya aja udah seru.. hehehe.. Ngeliat makanan nya enak2.."Ingus terbang" beneran ngakak koq ci2 kepikiran ingus..:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya abis bentuknya meliuk2 kayak air tapi ujungnya bulat gitu mirip ingus mau jatuh hahaha.

      Delete
  27. Suka deh cerita ci Leony selalu detil, kalo one day aku ke situ, mungkin bakal dejavu krn cerita-cerita cici hihihi. ONE PIEECEEEE~~ Aku demen banget, salah satu hal yang mau dilakukan kalo ke Jepang adalah fotoan di 'makam' Potgas D. Ace alias kokonya si Monkey D. Luffy, tokoh utama One Piece yang fotoan sama cici itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo gitu pas kamu ke Tokyo Tower, jangan lupa ya mampir ke eksibisinya. Ada tiketnya lagi sih dan bs beli kombo sama tiket Tokyo Tower. Moga2 msh ada tuh. Cici ga kenal tokohnya plus ga gitu demen anime hahaha.

      Delete
  28. akhhhhh pengeennn kesanaaa... seruuu !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Live, kalo pulang kampung jangan ke Korea.. tapi ke Jepang.. (serasa pny suami orang Jepang aje hahaha).

      Delete
  29. Haduh itu ngiler sama porky-porkynya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue aja masih ngiler kok Ngel mpe sekarang. Bisa juicy tp gak oily.

      Delete
  30. wah tonkatsunya itu menggiurkan banget. untung ya, padahal ga sengaja tapi ternyata resto terkenal n makanannya enak2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laper membawa berkah itu namanya, Teph. Hahaha. Nyari yg plg deket aja dr exit stasiun.

      Delete
  31. 1) Terima kasih karena telah mengunjungi Zojo-ji (di blog ada typo, bukan Zoji-ji). Gw sendiri baru ngeh kalo Zojo-ji ini yang dipake shooting Wolverine! The entrance is called Shiba Daimon. Not just Daimon - which only means "large gate" and can refer to any gate. Sekian penjelasan dari saya.

    2) That One Piece Luffy pose you guys did is actually voted the 2nd most popular pose among Japanese youths when taking pictures according to Newtype Magazine survey somewhere in 2010 or something.

    3) I'm so glad that you get to try Maisen. Tonkatsu Maisen itu adalah salah satu restoran tonkatsu yang tertua di Jepang (longest in continuous business I believe), dan selama berdekade2 dianggap sebagai restoran tonkatsu paling 'representatif' lah istilahnya - di Jepang. Contrary to popular belief, rata2 rasa di semua cabang Maisen itu sama, jadi memang tidak perlu ke Honten-nya di Aoyama (nice move you guys). Maisen is still one of my top 3 tonkatsu restaurants of all time, but lately there are some other tonkatsu restaurants di Jepang yang sama enaknya. Salah satunya Butagumi yang saya recommend sekali next time you guys go to Japan. Maisen is traditional and timeless, and you can't go wrong with it - it's definitely one of the tonkatsu powerhouses of Japan. ALTHOUGH...for me personally Maisen (as well as some other legendary tonkatsu restaurants like Bairin, Yabu etc) has lost some of its 'magic' since they opened too many branches already - both in Japan and overseas. Even Manila has one.

    kalo Butagumi lebih 'experimental' and they use wayyy more kinds of pork (like, 50+ kinds, excluding 'seasonal' cuts), including Spanish Iberico pork and Hungarian Mangalitsa. Next time in Japan jangan lupa cobain. Although sekali makan Iberico tonkatsu, babi2 lain jadi ga enak lagi seumur hidupmu. So, pikir2 dulu sebelum makan...

    BTW the big sauce container at Maisen is the "amakuchi" (sweet) and the smaller container is "karakuchi" (hot). Both are worchestershire-based. (or simply called "Soosu" / "Sauce" in Japan).

    I'm sorry guys, I tend to ramble on when talking about Tonkatsu. Or Food. Or Japan. Or anything HAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Terima kasih pak atas penjelasannya. Gue tuh ngerefer sama nama stasiunnya hahahaha. Daimon station artinya large gate station dong ya.

      2. Kalau gitu gue lumayan trendy lah ya! Padahal nonton animenya aja kagak pernah, cuma sok ikutan.

      3. Soal makan, kemarin ini as I wrote above, gue tuh nggak sampai nyari-nyari or research gimana, karena begitu bawa anak kecil, flexibility lu berkurang jauh. Apalagi Abby bukan anak yang gampang makannya. Jadi gak ada deh tuh yang 2 jam nunggu cuma demi makan Yakiniku di Jumbo hahahaha. Yang penting ada resto yang nyaman dan gak terlalu padat, gue masuk. So kalau gue sampe nemu yang enak, itu artinya hoki semata hihihi.

      Soal si sauce, gue cuma merefer pada "terjemahan" mereka yang di lembaran laminating Bahasa Inggris itu hehehe. Special dan worchestershire. Bilangin dong sama si Maisen, kreatip dikit nape gitu namainnya.

      Daripada lu nulis panjang di sini, seriously you shoud update eatlikeacow! Tulis deh tuh segala printilan soal Japanese food. Gue tunggu ya!

      Delete
  32. Jepang ini emang bagus banget ya ci.. Semua sistem disana memang dah ok punya. Tapi ya itu, jadinya mahal bgt ya apa2 kesana.

    Abby anaknya memang seneng jalan ya, disemua foto nampaknya dia bahagia dan ga menyusahkan. Kalo liat2 kan kayaknya kalau bawa anak kecil jalan2 tuh super rempong. Liat Abby kok ya easy bgt ya ci Le :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke Jepang itu opsinya banyak Py, kalau mau murah juga bisa, naik budget air, atau nunggu promo dan tentunya kalau mau begitu ga bisa dadakan hahaha. Mau nginap jg bisa ke hostel atau airbnb, gak harus hotel.

      Dibiasain dibawa jalan dari kecil sih Py, tapi tetep kok, ada masa-masa rempongnya juga.

      Delete
  33. kata orang, kerja pake jas itu emang uda jadi semacam budaya orang jepang mba, biarpun kerja di pabrik. jadi begitu sampe pabrik baru deh ganti seragam.btw aku telat banget ya ngikutin tour jepangnya, dan selalu suka sama liputan jalan2 ke jepang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes. Org Jepang itu setelam suit udah jadi pakaian sehari2 kaum pekerja. Mulai dari bawahan sampai bos pakai suit semua. Kl di Jkt, yg pake suit either bos atau malah customer service hahaha.

      Delete
  34. Hi Le.. aku baca ulang lagi ini entry hahhaha... btw kata orang lebih dekat kalau mendarat di Haneda ya kalau mau ke pusat kota?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes. Separonya lah jauhnya kira2. Tp kl dr Haneda ga ada express train. Mending bolak balik pake limo bus kalo dr Haneda.

      Delete
  35. Replies
    1. Sorry ya. I have to delete the rest of your comments on other posts. Saya gak mau ada spam apalagi ngiklan. Thanks.

      Delete
  36. halo cii. mau tanya. wifi router JTB itu bagus ga ya ci? cepet ga? soalnya di aeon ada yg punya HIS juga. jadi agak binggung utk putusin sewa router wifi yg mana. (semoga bisa cepat2 dibales, krn hari selasa ini saya mau ke jepang) makasih ciii

    ReplyDelete
    Replies
    1. mohon bantuan nya ya ci. thanks before

      Delete
    2. Mau JTB atau HIS jg gak masalah. Provider di Jepangnya sama2 Docomo rasanya. Cari aja yg best deal.

      Delete
    3. ok tq somuch infonya :)

      Delete