Wednesday, September 23, 2015

Realistis Versus Materialistis

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan sebuah email dari salah seorang pembaca saya dan dia minta saya mengangkat topik, yang  lagi-lagi berkaitan dengan urusan finansial. Kayaknya tulisan saya yang kemarin itu lumayan membekas di hati ya? Nama si pembaca tentulah tidak akan saya disclose di sini, tapi anggep saja namanya Tini (ini nama serasa di buku Bahasa Indonesia). Nah si Tini ini sudah tunangan sama si Tono (Kalau di buku BI biasa Tini temenan sama Tono kan? hahahaha). Walaupun sudah tunangan, Tini merasa kok dia lagi ada di lowest point of her life, karena ingin banget nikah dengan acara sederhana, punya rumah, punya kendaraan, dan kemapanan tapi kok serasa jauh dari impian. Di sini Tini meminta saya, gimana caranya dia harus mendampingi Tono dalam posisi sulit ini, posisi di mana mereka sudah menuju ke jenjang yang lebih serius. Tini merasa dia sedang diuji, saat pasangannya tidak punya apa-apa. Nah, bagaimana tanggapan saya?

Topik ini sensitif juga benernya. Kayaknya segala sesuatu yang berkaitan dengan cinta dan harta itu kalau dibahas bisa menusuk hati. Sebagai bukan seorang financial planner, apalagi penasihat pernikahan (ya elah, kawinan saya aja belum ada empat tahun), saya akan bahas semua ini dari sisi saya pribadi. Jadi jangan dianggap ini merupakan perkataan seorang ahli ya, soalnya saya nggak punya gelar khusus dalam bidang finansial (CPA aja belum lulus udah keburu balik ke Jakarta) , apalagi bidang psikologi (mata kuliah psikologi saya aja paling jeblok gara-gara semua multiple choice. I hate multiple choice). Ya intinya, saya akan pakai pendekatan realistis dalam menghadapi situasi ini. Saya sudah sempat balas email saya langsung ke Tini. Tapi berhubung udah malam waktu itu, saya nulis seperlunya dulu, dan janji akan bahas ini secara lebih panjang lebar di blog. Saya rela dianggep sotoy, yang penting poin-poin yang mau saya sampaikan bisa mengena.

Opini saya, pas baca saat kalau saat ini Tini masih dalam posisi tunangan adalah, kalau sudah dipikirin banget-banget panjang kali lebar, if you can't cope with it, it's time for you to leave. Cukup ekstreme gak jawaban saya? Banget ya? Buat saya, justru masa-masa pacaran dan persiapan perkawinan itu adalah saatnya kita diuji dalam segala hal. Begitu kita sudah nikah, it's the point of no return! Sudah janji kok ya sehidup semati, in sickness and in health, for richer for poorer, until death do us part. Janjinya ngga main-main di hadapan Tuhan. Sudah harga mati lah. Kalau tunangan putus, palingan nangis gegerungan heboh beberapa waktu, plus kesel digossipin orang. Sakit hati memang, tapi kita masih punya pilihan. Tetapi tentulah jawaban itu bukan yang diharapkan sama Tini kan? Hihihi... *Tini akan langsung condemn saya sebagai orang yang tak berguna untuk dimintai opini hahaha*

Oke, let's start. Laki-laki sering "menuduh" perempuan sebagai cewek matre. Padahal jauh banget bedanya antara cewek matre dengan cewek yang realistis. Cewek matre itu akan selalu menganggap pasangannya sebagai sumber uang. Pokoknya semua harus bersumber dari cowok, cewek tinggal terima beres ongkang-ongkang kaki, semua kebutuhannya terpenuhi. Cewek matre itu suka meminta yang sebenernya lebih dari yang dia butuh, dan kalau cowoknya nggak kasih, bawaannya ngambek tanpa mau tau alasannya alias gak mau mengerti pasangan. Lama-lama cowok juga akan jenuh kalau ketemu cewek model gini. Nah apa bedanya dengan yang realistis? Yang realistis itu bukan berarti artinya gak mau dibayarin sama cowok ya, semua cewek seneng kok dibayarin. Tapi ya dia gak akan demanding yang aneh-aneh, dan lebih ke future oriented. Dia akan lebih memahami posisi pasangan, asal pasangannya punya trait yang positif, dan cewek ini juga mau berjuang bareng bersama cowoknya.

Tapi seringkali yang dialami kebanyakan orang, cowok suka menganggap cewek yang ingin membahas keuangan itu sebagai cewek kepo dan matre. Padahal ngga semuanya seperti itu. Ya ada sih memang cewek yang kepo pingin tau aset cowoknya cuma buat diporotin, begitu ada yg lebih oke bakalan pindah lagi. Tapi sebagian lagi cuma ingin jadi cewek realistis yang memastikan kalau habis nikah nanti, mereka akan hidup layak, dan pas punya anak, anaknya ga cuma minum air tajin (tega bener contohnya haha). Nah, sayangnya terkadang karena di mabuk cinta, cewek itu juga suka lupa membahas hal finansial pada saat mereka masih pacaran, bahkan pada saat tunangan. When reality hits, baru akhirnya pusing tujuh keliling. Sama persis kayak yang dialami oleh Tini. Hidup tanpa cinta memang susah, tapi hidup cuma dengan cinta juga ngga masuk akal. Orang jaman dulu bilang, "Makan tuh cinta! Kagak bikin kenyang!"

Makanya, saya mau bahas beberapa faktor berkaitan dengan finansial yang mungkin bisa membantu Tini untuk lebih fokus kepada penyelamatan hubungan dia dengan tunangannya.

1. Berani Berhadapan dengan Realita

Banyak orang yang saat pacaran itu bawaannya happy terus, karena tergiur dengan janji-janji pasangan. Saat pacaran, banyak hal-hal romantis dan penuh impian yang dibicarakan bersama, misalnya nanti kalau nikah maunya di hotel berbintang, pakai vendor ternama, kemudian membayangkan sebuah rumah indah dengan perabot cantik, kemudian membayangkan bulan madu yang spektakuler di Eropa. Tapi ada satu yang lupa dibicarakan, yaitu dananya dari mana. Hati-hati dengan pasangan yang tidak mau membahas keuangan sama sekali. Hati-hati dengan orang yang kalau diajak bicara soal planning masa depan, jawabannya, "Gampang, itu nanti bisa diatur. Jangan takut, rejeki nanti datang sendiri" atau "Tenang saja, nanti ada orang tuaku yang bantu." Hey, tidak ada rejeki yang turun dari langit begitu saja kalau orang tidak berusaha, dan tidak selamanya manusia bisa menggantungkan hidup di bawah ketek orang tua. Seringkali wanita berbunga-bunga saat dilamar, tanpa memikirkan ke depannya itu harus bagaimana. Mungkin saat itu berpikirnya, "Asyik, saya akhirnya nikah (laku) juga!" 

Harus diingat kalau kita ini tidak hidup dalam fantasi. Perencanaan dari awal, adalah sesuatu yang wajib untuk dijalani sebelum kita melangkah ke step selanjutnya. Saat dulu saya pacaran dengan suami saya, kita tau kalau kita sudah tidak mau main-main lagi, kita mau serius. Dan pacaran di usia itu, kami sudah siap kalau next stepnya adalah untuk menikah. Seandainya saat itu suami saya tidak mempunyai visi yang sama soal menikah dan kehidupan berumah tangga, saya pasti tidak akan lanjut. Bukannya sombong atau sok laku, tapi saya tidak mau nikah cuma karena status dan pada akhirnya tidak bahagia di dalam pernikahan saya cuma karena alasan finansial (kayak artis aja kawin cerai rata-rata karena alasan duit). Kami juga tidak segan-segan untuk buka-bukaan soal keuangan kami sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Malah saat itu saya berani bertanya, "Kalau nanti kita nikah, siapa yang pegang uangnya?" Kalau konsep CFO rumah tangga saja kita sudah tidak sepaham, mungkin saya akan mundur loh, karena menurut saya, keterbukaan itu adalah hal yang sangat penting. Salah satu hal yang menyebabkan persiapan pernikahan kita lancar dan terasa mudah adalah keterbukaan dan blak-blakan dari awal, dan hal itu terbawa sampai sekarang.

2. Jujur Walau Menyakitkan

Beberapa kali saya menemukan kasus, demi supaya tidak kehilangan pacar, seorang laki-laki itu (bahkan perempuan) jadi rela memberikan sesuatu di luar kemampuannya. Semua hanya dilakukan supaya pasangannya senang dan tambah lengket. Misalnya, pacar ulang tahun, kasih Iphone terbaru cicilan 12 kali, padahal sehari-hari Senin sampai Jumat di kantor cuma makan amigos (agak minggir got sedikit). Pasangan sih seneng, hatinya berbunga-bunga dapat telepon baru, langsung gandengannya tambah mesra. Tapi sebenernya kantong kempes buat bayar cicilan plus biaya kencan lantaran pasangannya mah taunya si pacar keren, banyak duit, jadi kalau makan harus di tempat kekinian ogah di food court. Lama-lama begitu ketauan kalau ternyata si pacar gak sekaya itu, mulai terasa gesekan-gesekan ngga enak. Lalu si cewek bilang si cowok pelit, dan si cowok bilang si cewek matre. Padahal itu semua adalah buah dari ketidakjujuran. Seandainya dari awal si cowok tidak memaksakan gengsinya, tentulah hal tersebut tidak akan terjadi.

Hati-hatilah sama pasangan yang selalu memberikan apa yang kita mau, padahal dalam hati kecil kita juga bertanya uangnya dari mana. Bisa-bisa dia ngutang buat kasih segala kenyamanan yang kita dapatkan. Lebih baik makan sederhana dari awal (bukan Sederhana RM Padang), lalu lama-lama meningkat sesuai dengan kemampuan, daripada enak di depan, berantakan di belakang. Siapa sih orang yang mau downgrade? Rata-rata semua maunya upgrade. Habis nikah tentu maunya lebih sukses daripada sebelum nikah. Kalau habis nikah ternyata lebih menderita gimana? Mending kalau pasangannya mau susah bareng, kalau akhirnya susah sendirian, yang ada nyesek. Mau downgrade ataupun upgrade, intinya kejujuranlah yang utama. Kalau kita jujur dari awal, seenggaknya pasangan sudah tau resikonya saat nikah nanti. Siap-siap dapat reaksi tidak enak dari pasangan asal kita jujur, daripada nutup-nutupin padahal hati perih karena utang sudah numpuk. Eh iya, kalau pasangan kita sudah jujur dengan keuangan yang kurang oke, tapi ternyata spendingnya dia masih gila-gilaan, itu juga patut diwaspadai. Yang ada habis nikah malah nyungsep bareng!

3. Melihat Potensi Pasangan. 

Saya sempat bertanya ke mama saya, ataupun ke mami (mertua) saya, apa sih yang membuat mereka memilih papa dan memilih papi untuk menjadi pendamping hidup mereka. FYI, papa maupun papi saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana, tinggal di gang kecil, di rumah yang sempit. Saat mereka pacaran, boro-boro naik mobil, semuanya cuma modal motor. Jadi kalau dibilang karena papa atau papi kaya, itu tidak ada dalam kamus mereka. Padahal, menurut cerita mami dan mama, banyak juga loh cowok yang pada naksir dengan latar belakang ekonomi yang lebih oke.

Mama saya menjawab, kalau papa saya itu adalah orang yang luar biasa daya juangnya. Beliau bukan orang kaya dan saat itu, demi membiayai sekolah adik-adiknya, papa rela dikirim ke daerah supaya mendapatkan gaji yang lebih besar, dan "gila"nya gajinya itu tidak dia pakai, melainkan langsung dikirimkan dari kantor di Jakarta untuk keluarganya. Itu membuat hati mama saya luluh (despite papa saya ganteng juga sih, kayak bintang film Hong Kong... --> versi pribadi). Sementara mami menjawab, kalau papi itu sangat pintar dan rajin, juga sayang keluarga. Pas kuliah, mami itu selalu diajarin sama papi supaya nilainya bagus. Karena pintar itu, papi juga jadi salah satu dari CPA pertama di Indonesia (saat itu jumlahnya masih kurang dari 1000 orang).

Dari situ kita bisa belajar, kalau kita harus mampu untuk melihat potensi pasangan kita. Mungkin sekarang dia adalah orang yang biasa-biasa saja secara ekonomi, tetapi dia rajin, mau berusaha, sayang keluarga, bukan tidak mungkin di masa depan dia menjadi orang yang sukses. Kalau pasangan kita finansial pas-pasan, lalu malas-malasan, kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki, biarpun gantengnya setengah mati, mending lupakan saja. Apa yang bisa diharapkan dari seorang pemalas? Orang kaya saja lama-lama bisa bangkrut kalau kekayaannya tidak diolah. Plus, jangan berharap orang yang malas bisa berubah jadi rajin dalam sekejap. Orang yang dasarnya malas, mau dikasih kesempatan kayak apapun, orang tipe malas itu pasti akan cari-cari alasan. Jaman sekarang banyak tipe orang kayak gini, malas, tapi berharap rejeki turun dari langit. Lupakan. Pepatah aja bilang ora et labora, berdoa sambil bekerja, bukan berdoa tanpa bekerja. Jika pasangan anda rajin, dukunglah usahanya. Mungkin bintang keberuntungan sedang tidak ada pada dia sekarang, namun saya percaya, lebih baik berjuang bersama orang yang rajin, daripada makan hati ngelihatin pasangan yang mengeluh tapi tak melakukan apa-apa.

4. Komitmen dan Kompromi

Kalau setelah tiga faktor di atas itu ditimbang-timbang, dipikirin panjang kali lebar kali tinggi, kemudian sampai pada keputusan kalau hubungannya mau dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi, di situlah komitmen berbicara. Kita sudah jujur, kita sudah terbuka, kita sudah melihat potensi pasangan, tinggal sekarang bagaimana cara menjalankannya. Manusia mungkin punya cita-cita, punya rencana besar. Seperti juga Tini, dia ingin kemapanan materi, dia ingin sungguh siap untuk melangkah menuju mahligai rumah tangga. Tetapi keraguan itu tentunya akan selalu ada. Bahkan orang yang secara finansial sudah mantap saja masih suka ragu mau menikah, apalagi yang sedang in the lowest point seperti yang Tini alami (atau yang dia pikir dia alami). Di situlah kedua insan ini harus memutuskan, jika ingin melaju, let's move forward and plan everything, and most of all, commit to it.

Caranya bagaimana? Bikin daftar dan bicarakan apa impian kalian berdua, tulis semuanya kalau perlu di atas kertas. Misalnya, mau pesta, mau rumah, mau kendaraan, dan printilan lainnya lalu paparkan dengan jelas berapa penghasilan masing-masing, berapa tabungan masing-masing, setelah itu... prioritaskan! Manusia memang ga ada puasnya, manusia pasti pingin segalanya kalau bisa, tapi sayangnya yang namanya keuangan itu ada batasnya. Susun pos-pos pengeluaran ke depan, mana yang mau dipakai untuk biaya nikah, mana yang mau dipakai untuk setelah nikah. Kalau boleh saya bicara jujur, jauh lebih penting biaya sesudah nikah daripada biaya nikah itu sendiri. Kalau mau nyicil, pikirkan apa yang mau dicicil, dan sebisa mungkin, jauhkan diri dari hutang. Meanwhile, selama proses itu, berhemat juga untuk biaya yang tidak penting supaya pundi-pundi makin bertumbuh.

So, back again to priority,yang jelas dalam hal ini, kedua insan harus juga mau kompromi. Tidak boleh ada yang egois mementingkan diri sendiri. Think about the word WE instead of I. This is what WE need, not what I need. Jangan juga impulse sama hal-hal yang kelewat kasat mata. Kita sudah tau kan, those celebrities with over-the-top wedding, yang kawinannya awet berapa sih? Pikirkan masa depan terus menerus saat kita mau memutuskan sesuatu. Contoh sederhana, dekorasi seharga 20 juta misalnya, bisa  nggak dipotong jadi 10 juta, lalu 10 jutanya untuk beli furniture atau cicilan rumah? Atau, apakah perlu sebuah pesta pernikahan? Bukankah keabsahan sebuah perkawinan cukup dengan di tempat ibadah dan di catatan sipil, lalu dikelilingi keluarga terdekat? Kalau diomongin orang gara-gara nikah "diam-diam", lah emangnya yang ngomongin mau bayarin ? *konsep penting ini!* Saya bosan melihat orang yang pestanya meriah, tapi habis nikah ternyata kena 4L (Lemah, letih, lesu, lunglai), gara-gara kantongnya bolong dan nyisain utang, plus masih ngga jelas tinggal di mana.

Berjuanglah bersama pasangan, think about your happiness as a couple. Kita hidup bukan untuk please others, tapi juga jangan sampai menyakiti orang. Yang penting, jangan terlalu dengerin apa yang orang bilang karena we can create our own happiness pada saat kita dan pasangan itu solid. Susah bareng, seneng juga bareng. Orang boleh mencibir, tapi kalau kita dan pasangan kita beneran bahagia dengan cara kita, ya udah toh? Daripada kita mati-matian menjaga image di depan orang lain dengan gaya hidup yang kelihatan mapan, padahal keuangan super seret dengan hati menjerit.

Penutup

Untuk Tini, Tono, Tini-Tini lain serta Tono-Tono lain di luar sana, itu cuma sedikit pandangan sotoy dari saya, yang kebetulan sempat juga mengalami dilema soal finansial, bahkan saat saya sudah menikah. Sampai sekarang pun, kita masih tetap menimbang-nimbang dan terus memprioritaskan yang mana yang kita butuh dan yang mana yang kita mau. Kadang-kadang kita juga masih suka colongan nyelipin satu dua hal yang kita mau di tengah yang kita butuh, tetapi karena adanya keterbukaan antara saya dan suami, kita bisa menanggung resikonya bersama-sama tanpa harus mengeluh dan saling menyalahkan.

Belum lama ini, kerabat saya ada yang ngeluh soal rumah tangga anaknya ke saya, terus dia nyeletuk, "Kamu mah enak. Semuanya sudah terpenuhi. Makanya kamu bisa seenaknya nasehatin orang. Beda sama anak saya hidupnya susah. Sama suaminya, dia suka cekcok karena apa-apa nggak cukup." Kemudian, saya cuma jawab sederhana, "Ini karena pilihan yang saya ambil dari awal. Saya mencoba jadi orang yang realistis dalam memilih pasangan. Kalau saya tau pasangan saya tidak bisa diajak bekerja sama dan tidak ada potensi, saya tidak akan melaju untuk sebuah pernikahan, karena setelah menikah saya harus dan wajib bertahan seumur hidup sesuai janji di hadapan Tuhan." Dan setelah itu, kerabat saya tersebut diam, dan tidak komentar apapun. I guess, in that case, I might be right. (might be doang loh yaaa...).

Akhir kata, semua ada di tangan Tini, karena tentulah, cuma Tini yang tau seberapa jauhnya hubungan dia dengan Tono, dan bagaimana potensi Tono sebagai calon suami dan calon bapak dari anak-anak mereka kelak. Toh manusia cuma bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan. Good luck, Tini!

So real, it hurts. Hehehehe... (gambar dari sini)


68 comments:

  1. Hahaha. Setuju tentang ini BuLe. Meskipun sampe sekarang saya juga bukan orang yang berkelimpahan harta tapi kemauan berusaha itu penting. Dan lebih penting lagi mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum nikah. Kalo udah nikah mah udah sampe di point of no return emang. Btw makasih BuLe, ini juga sekalian ngingetin saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget. Kalau belum nikah dan ngerasa banyak nggak sregnya plus cape ati, mendingan jangan dilanjutin soalnya problema sehabis nikah itu biasanya berlipat ganda dibandingkan sebelum nikah. Plus kalau sudah ada anak, bakalan lebih banyak lagi hal yg harus dipertimbangkan dr segi finansial.

      Delete
  2. Iya...it all starts with a bit of love. But to be realistic....with time, a marriage will also be strained or broken if basic needs are not met. It will be better for a couple to be more financially stable before starting a family (to be married) coz if not it will put a strain sooner or later to the marriage.

    If the girl knows the boy cannot cope with the basic needs after a marriage and would still like to marry the guy coz she sees potential in him, then the girl herself would have to be financially independent (and dont expect much from the husband) and be ready to provide for the family at the mean time before the husband is more financially stable.

    Just a selfish but realistic thought...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Del. Makanya kalau sudah sampai pada poin 4 alias mau komit, ya sudah harus nanggung sendiri resikonya, sudah harus bisa menerima kalau nanti si pihak cewe yang jadi provider. It happened a lot sih terutama jaman sekarang. Cuma memang suka pegel kalau melihat cewek jadi provider dan cowoknya ongkang2 kaki. Kalau cowoknya berfungsi sebagai bapak rumah tangga sih masih mending lah. Ya memang kedengerannya selfish, pdhl menurutku sih ngga sama sekali.

      Delete
  3. Setuju Le..

    Tp kdg cowok diluar sana suka banget blg si cwe matre klo si cwe nanya gmn ke depan nya, gmn peluang ke depan nya dll.
    Semoga Tini dicerahkan yah atas pandangan lu ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya yang cowok mungkin juga harus baca, bukan cuma si Tini tapi jg si Tononya hahaha. Terus Tono nanti marah2 ke Tini soalnya Tini udah curhat2 ke gue hihihi.

      Delete
  4. kok gw gak gitu ngerti ya Le? Jadi Tini secara financial lebih daripada Tono? Pengen pesta perkawinan dll tapi Tono gak sanggup? gitu kah?
    Ya menurut gw seharusnya Tini tau dong financialnya Tono pas masih pacaran dan sebelum setuju mau dilamar. Lah kalo sekarang, menurut gw, kasian juga kalo Tono harus ditinggalin cuma gara2 financially kurang..
    Seharusnya, kalau Tini merasa Tono ada potensi, orangnya rajin, kerja keras, dan gak boros, harusnya dia mensupport si Tono untuk lebih maju. Kalo semua cewe mau realistis, kasihan dong cowo2 yang sedang berjuang. Kan masa muda emang masa2nya berjuang, kecualiiiii emang ortunya kaya ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tini ngga bilang siapa yg lebih financially stable di antara mereka berdua. Yang jelas Tini ini kepingin pny keuangan yang cukup mapan untuk membina rumah tangga. Memang semestinya si Tini tau kondisi keuangan Tono tp mungkin saja dia ngga gitu ngeh pada saat pacaran (dan itu sering banget dialami orang yang dimabuk cinta). Giliran mau nikah baru deh kepikiran. That's why I wrote those points above untuk dipikirkan oleh Tini dan mgkn bisa menjadi konsiderasi dia. Siapa tau kan Tono itu at the lowest point karena Tono malas misalnya, atau menutup2i alias tdk jujur jadi gak patut diperjuangkan. Tp bisa jg Tono rajin, jujur, tp bintangnya belum terang. Itu semua cm Tini yg tau.

      Justru Mel, kalau cewe2 itu realistis, cowok2 yang masih berjuang itu malah akan mendapat support dari pasangannya. Kan seperti gue tulis di atas, cewe yang realistis akan memahami posisi pasangannya dan akan mau berjuang bersama. Justru cowo2 yang masih berjuang akan kasian kalau ketemu dengan cewe yang materialistis.

      Delete
    2. terkadang yg mengejutkan itu kl mendapati kenyataan kl ortu si cowo itu jobless dan skrg menggantungkan hidupnya pada si anak.. pdhl anak yg "digantungin" itu jg belom mapan.. nah kl gini, biasanya ga bisa tau pas pacaran lho...gw punya temen yg ortu pacarnya itu rumah aja ga punya, jd selama ini ngontrak2 gitu, dan trnyata papa mamanya dr dl itu jobless, jd seringan ga ada duitnya gt, nah keadaan financial mereka membaik setelah anak2 nya mulai pd lulus dan kerja, salah satunya ya pacarnya temen gw itu.. si pacar kondisinya rajin kerja dan talented (apa aja jg dia kerjain dari kerja kantoran sampe ngelesin private sgala), cm krn dia harus nanggung ekonomi papa mama dan adik2nya yg masih kecil, ya uangnya segitu2 aja.. dan temen gw skrg jg masih galau hahhaha.. bingung membayangkan habis menikah gmn tuh nanti.. gw pun bingung kasi advice gmn?!!

      Delete
    3. Temen lu ini sudah sampai pada step mau menikah atau ngga? Kalau menurut perkawinan Katolik sih, sama sekali ngga ada salahnya membantu orang tua, asalkan disetujui pihak perempuan. Nah, sekarang temen lu ini rela gak, kalau keuangan suami juga terbagi untuk membantu orang tua? Kalau rela ya udah, lanjut, tapi ya harus jujur misalnya suami ngga boleh diam-diam di belakang kasih uang lagi. Malah disarankan itu adalah uangnya keluar dari satu pintu (rekening bersama) yang mungkin CFOnya adalah istri. Kalau misalnya temen lu gak sanggup, ya bilang jujur sama calonnya, ini loh kebutuhan kita ke depan kira-kira segini, kira-kira kita capable ngga? Hitung2an aja beneran, daripada nanti kecele, plus kudu bener-bener doa dan minta petunjuk Tuhan deh. Memang ngga enak ninggalin seorang pacar cuma karena masalah ekonomi, tetapi kalau sampai kehidupan perkawinan kita gonjang ganjing karena perut lapar, itu juga mengerikan (dan gak bisa pisah lagi loh).

      Delete
  5. Betul ci...banyak banget pasangan yang menikah sekedar "asal laku" aja sekarang..Padahal masi buta financial ke depannya spt apa...Padahal setelah ngalamin sehabis merit biarpun penghasilan double dr suami istri, pengeluaran juga lbh banyak apalagi setelah hamil dan punya anak nanti...Emang better sebelum nyemplung mendingan dibahas terlebih dahulu masalah finansial rumah tangga nya mau kaya gmn...Thanks buat inspirasinya ci..hehehe..jadi banyak belajar juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus banget dibahas, jangan nekad main hajar aja mau nikah. Seringnya tuh org bahas cuma mentok sampai acara kawinan aja yang meriah. Dipikirnya itu the peak of our lives. Pdhl perjalanan masih super panjang.

      Delete
  6. Kadang suka ga habis pikir ci, sama orang yang punya pikiran buat menikah "asal laku" aja. Urusan yang lainnya ga dipikirin, ujung-ujungnya uring-uringan sendiri.
    Aku pernah baca suatu blog ci, yang kurang lebih membahas hal yang sama.
    Intinya sih dia bilang kalau menikah itu bukannya menambah kesengsaraan, orang menikah supaya lebih bahagia. Kalau cici menanggapi pernyataan itu gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cici sangat setuju kalau orang menikah tentulah untuk lebih bahagia. Kalau ngga sih mendingan single. Tapi harus diingat juga, bahagia versi setiap orang beda-beda. Contohnya gini, cici pas single jauh lebih banyak traveling dibandingkan pas sekarang sudah nikah dan punya anak. Orang lain bisa liatnya ihhh kasian ya kayaknya gak bahagia, kok udah jarang travel. Padahal mah, prioritasnya sekarang kan sudah berubah. Nah jadi pandangan bahagia itu seperti apa harus kita yang decide sendiri, dan kitalah sendiri yang harus menyusun bahagia versi kita.

      Delete
  7. Kalo ngmg soal potential, itu buat g cuman sbg predictor aja sih. Istilahnya kail sih ada, tp kan jg tergantung ikan lewat apa ngga. Yha kalo potential aja ngga ada, pas ikan lewat cuman ngandelin nangkep pake tangan kosong. Walau ada sih yg lg tidur siang jg ada ikan gila yg lompat ke pangkuan. Iye, g kayanya ngga bakat yha bikin analogi hahahhaha
    Yg penting buat g based on my 10 yrs relationship ( 6 in marriage), it's how the two of you deal with problem yg bisa jd indicator. Kalo ada problem gimana? Apa dia yg take charge, atau berdua take responsibility or malah tend to blame each other? Coz that's lifetime relationship, it's lifetime dealing with problem. Preference tiap org jg beda, ada yg suka male must lead or ada yg sukanya partnership. Buat g sih ngga ada salah bener.
    G sendiri penganut partnership and dpt husband dgn pandangan sama. So far so good. Whatever problem we have, they really bring us closer together. Gaya solvenya jg yha gaya kita. Blak2an and responsibilities always fall on both of us.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Anon, good comment. Gue ngerti banget maksud elu. Nah, potensial itu sebenernya bisa diliat dari bagaimana orang tersebut menanggapi peluang yang ada. Misalnya nih, kita punya pasangan pinter, tapi hidupnya selow-selow aja kayak di pantai, gak ada ambisi, terus pas ada offer kerjaan baru yg lebih oke, tapi susah dikit, udah langsung mundur. Atau ngga orgnya pinter tapi nganggur, dikasih kerjaan bilangnya, males ah, gajinya kecil. Nah yang model kayak gitu jelas-jelas ngga ada potensi.

      Nah, kalau soal problem solving, itu berlaku buat seluruh masalah kehidupan di dalam sebuah instusi perkawinan. Gue di sini bahas kebetulan soal finance. Problem solving itu sebenernya sudah bisa diliat dari masa pacaran sih. Tipe pasangan kita itu bisa diandalkan gak untuk bekerjasama dengan kita, atau tipenya yang ngandelin kita dan dianya santai aja. Makanya gue setuju kalau pacaran harus ada konflik sedikit-sedikit, supaya ketauan deh sifat aslinya orang kalau terdesak. Apakah malah ninggalin, atau mampu bareng2 menyelesaikan.

      Delete
    2. Hehehe, iklim timur, kan berlakunya kalau man=head of family=pencari nafkah. Intinya biar istri kerja, duit istri yha buat istri, duit laki yha buat keluarga. Terus terang ini ngga berlaku di kita. What we earn yha = duit kita. Selama kita tanggung jawab terhadap pos masing2, we still have the right to use our earning as we see fit ( beda yha bukan mau2).
      Buat g yha, I just don't trust life. Things happen, so drpd ngandelin earning potential seseorg, g jg mengasah earning potential diri g. Yg penting visi misi sejalan. Coz sapa yg tau ke depannya which one of us bakal dapet ikan lebih besar kan? What matter is how we treat each other regardless of that.

      Delete
    3. Nah yang mirip sama komen lu ini gue tadi udah jawab di atas nih, ada jg yg komen spt gini. Kalau udah jadi istri dan siap menanggung resiko bersama2, harus siap2 juga jadi earner in the family seandainya suami ga menghasilkan sebaik kita. Ada dan banyak yang seperti itu. Tp ya lagi2 tergantung orangnya. Memang banyak yg yg akhirnya istri jadi main earner, cm bukan itu yang sebenernya dia mau dan akhirnya cekcok. Apalagi kalau model suaminya itu males2an.

      Btw, gue berkeluarga gue menganut pas udah nikah semuanya duit kita. Bukan lu lu gue gue. Jadi semuanya bener2 dipertimbangkan sama2. Suami bs trust gue untuk menjalankan semuanya sbg CFO krn dia tau istrinya ini jujur dan bener dalam ngurus rumah tangganya. Btw kl bs taro nick name boleh jg, drpd gue panggil Anon hahahha.

      Delete
  8. Ci Le.. Aku dah lama nih ga komen blog cici kayaknya.. Baca doank tetep tapii hehe.. Aku setuju banget deh sama perbedaan cewe realistis sama cewe materialistis dari yang cici bilang.. Apalagi berantem rumah tangga masalah finansial itu beneran sering banget.. Jadi kitanya juga udah musti ngukur standar gaya hidup sendiri ya sama kemampuan pasangan (dan kita juga, habis merid penghasilan berdua).. Kalo emang sanggup dengan musti gaya hidup sederhana misalnya, silahkan maju.. Kalo ngga.. Coba pikir2 lagi.. Kasian jg tar suaminya dicecerin mulu abis merid jadi sama2 stress..

    Dan aku juga aliran yang ga perlu merid mewah2 di luar kemampuan apalagi sampe ngutang.. Mending buat tabungan hidup ke depannya berdua.. Thanks ya ci buat sharing2nya. It's inspiring.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap orang kan diraise dari tipe family yang berbeda. Tentulah prioritas tiap keluarga beda-beda. Gak usah susah-susah, misalnya MIL gue, merasa makan enak itu gak penting, sementara di keluarga gue ngerasa, makan enak itu adalah cara kita menikmati hidup. Fortunately, suami gue prinsipnya lebih ke arah keluarga gue, dan itu membuat gue nyaman untuk masak dan recommend makanan enak ke dia, lalu enjoy itu sama-sama. Itu baru soal makanan, apalagi soal prioritas yang lain2 kan? Keterbukaan itu bener-bener harus dibangun kalau kita memang mau serius dengan pasangan untuk menuju jenjang perkawinan. Kalau cuma mau kencan-kencan cantik sih gak usah repot2, asal dibayarin aja huahahahah.

      Delete
  9. ah cocok sekali buat keadaan adek gw di posisi sekarang... lagi galau dia.. hahaha :)
    gw sebagai orang dekat dia aja serba salah memberikan saran. ketika gw bilang "pikirin baek2, jangan sampe nyesel karena kalo dah merit, gak bisa balik lage" eeehh dijawab ama dia "berarti loe sekarang nyesel donk merit ama yg sekarang?" duileeee.. aye susah ngomongnya kalo dia dah ngomong gitu.
    finansial emang penting meskipun banyak juga faktor laen yang bisa mengikuti. sering banyak cekcok sama suami kalo soal finansial, tapi gw ga masalah sich, selage cekcoknya membawa keputusan yang disepakati bersama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, Fun, sekarang elu harus bisa defense dong, lu mesti bisa tunjukkin ke adeklu kalau pilihan lu tidak salah dengan memastikan kalau lu memilih suami lu berdasarkan potensinya dia yang rajin, yang mau maju bersama. Konflik dalam rumah tangga udah PASTI ada, dan elu plus suami bisa melaluinya, itu penting banget untuk ditunjukkin ke adik lu kalau kerjasama lu dan suami bisa membuat segalanya jadi lebih mudah dilallui. Nah, sekarang apakah adik lu dan pasangannya sesolid lu dan suami? Cuma dia doang yang tau.

      Delete
  10. hahaha, setuju banget sama kotak kuning2 diatas. So true
    Money cant buy happiness, tapi without money yaaah, rada susah untuk happy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... kalau sampai ada konflik RT kan mendingan nangis di Ferrari ya Paula daripada di becak!

      Delete
  11. Kalo masalah kepribadian kan memang mutlak jg ya Ci. Aku sih ngerasa mantanku yg terakhir kmrn cukup potensial kalo ngikutin standarnya Cici, masalahnya aku gabisa terima mulutnya. Ngeluuuhh mulu hampir tiap hari dan semua hal dijelek2in. Yg kantornya lah, keluarganya, org gerejanya, tetangga apartment kyanya semua salah di mata dia. Sbg pacar yg baik akupun coba mendengarkan, kasih solusi, nasehatin.. Namun sayangnya tak ada perubahan dr doi so fix aku cabut dr hidupnya. Capek bok denger orang ngeluh2 mulu tiap hari, ga sehat buat mentalku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cici di sini cuma ngomongin dari segi finansial loh ya Grace. Jadi masih buanyaaaakkk lagi segi-segi kepribadian orang yang cici ngga bahas. Kalau mau dibahas satu-satu ngga akan kelar. Jadi kalau soal pacarmu itu tukang ngeluh akan segalanya, ya itu sifat pribadinya dia yang seperti itu. Namanya orang pacaran, kalau sudah ketauan jeleknya dari awal dan merasa ga nyaman, ya putus aja, ngapain rempong. :)

      Delete
  12. wah iya kalo udah beneran mau serius ya harus terbuka termasuk dalam hal keuangan. dulu gua pas masih pacaran juga pas udah serius kita udah terbuka tentang berapa gaji masing2, tabungan, trus plan ke depan gimana. mesti banget itu diomongin secara jujur dari awal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, nikah itu kan gak gampang, dan sedih banget kalau sampai cerai cuma gara-gara masalah finansial. Mendingan dari awal dulu dibahas (kalau kata Syahrini dipampang nyata). Moga2 pasangan-pasangan bisa mulai belajar untuk jadi realistis ya.

      Delete
  13. Tini baru sadar soal kemapanan saat tunangan ya.. Kyknya pas pacaran bener2 dibutakan cinta ya ci.. Soalnya ada dua temanku yg spt ini. Yg satu ttp bertahan dlm pernikahan,yg satu lg baru 4 bulan dah bercerai.. Miris bgt dgrnya.. Pdhl saat pacaran kita yg cmn kapasitasnya sbg teman sdh sering kasi masukan soal ini,tp ntah knp mereka blg gak apa2.. Dan faktanya saat menikah si cwek lah yg susah payah banting tulang..yg cwok dua2nya itu ongkang kaki doang..
    Sbg seorang cwek menurutku saat pacaran sdh pny syarat2 yg sesuai dan sbg seorg yg beriman hrsnya berdoa jg agar usahanya tidak sia2.. Ya syaratnya emg hrs realistis ya ci. secara fisik,sifat,finansial,ya hrs jujur2an slm pacaran klo emg niatnya mau menikah.. Aku setuju sm pendapat cici yg cwok itu harus rajin wlpn blm mapan. Krn lwt perjuangannya itu lama2 dia pasti jd mapan slm kerjanya jujur..hehehe..
    Aku jd keingat satu quote yg srg diblg suamiku, cinta memang buta tetapi mertua(calon mertua) tidak pernah buta... Hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berdoa itu memang tidak boleh dilepaskan dari proses pencarian pasangan loh. Seringkali kita punya syarat2 itu sebenernya cara kita juga untuk memfilter untuk masa depan. Tuhan kan kasih kita juga akal budi untuk berpikir dan seringkali hal tersebut dibutakan oleh yg namanya cinta semu, atau keinginan untuk "menjawab tantangan" bersama2 dengan kekuatan cinta (seperti yg diagung2kan di sinetron).

      Delete
  14. SETUJUUU *kasih 8 jempol* *pinjem jempol2 koko juga*
    Aku udah beberapa kali ketemu orang yang seakan-akan punya prinsip "yang penting gue nikah dulu". Gemes banget loh ci, pengen ngejitak rasanya biar dia sadar hahaha. Orang ngomongin/ngegosipin palingan berapa lama sih, sementara kalo kita tetep maksa, kita yang ngerasain sengsaranya seumur hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inti utamanya memang harus mikir dan mempertimbangkan dulu plus semua harus didasari kejujuran. Dari awal kalau semuanya terbuka, lalu ekspektasi diomongin sama2 serta mengerti sifat pasangan, akan mengurangi resiko cekcok besar sehabis nikah.

      Delete
  15. ci, topik ini bagus bgt deh. kalo buat gue ya bisa belajar dari pengalaman yang cici share ini en jadi reminder ke diri sendiri juga walo pun uda nikah ya bukan brarti mslh kelar kan, pasti ada mslh2 lain juga terutama ttg materi misalnya. gue sama Jo masih sama2 belajar juga ci buat memprioritaskan mana yang penting en ga, en ttp belajar buat lebih terbuka lagi sama psgan (team work juga). thanks banget ci Le buat sharing-annya ini, menginspirasi buat gue :)

    kalo buat org lain smoga mereka nikah ga sekadar demi status/laku ya ci (banyak diskitar gue kek gitu en ada beberapa yang uda pisah) en bner2 mutusin nikah krn emank uda tau baik buruknya pasangan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nikah itu baru awalnya banget Wi. Setelah itu perjalanan masih panjaaaaanggg banget. Pressure soal finansial makin terasa setelah kelahiran anak, dan saat anak mulai sekolah. Kita kan ga selalu bs gantungin sm org lain buat anter anak misalnya. Hitung2an akan jalan terus dan terus. Persiapan matang itu kunci banget.

      Delete
  16. Biasanya sih orang cerai karena faktor seks dan uang, biasanya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Melirik ke figur publik yang hobi selingkuh ya, Pak hahahahaha. Yang lucu itu kalo seleb cerai ditanya alasannya, pasti jawabannya "perbedaan prinsip". Entah prinsip yg mana hihihi..

      Delete
  17. Halo Kak Leony salam kenal. Saya silent reader nya loh yang selalu suka dngan topik2 nya tulisan kaka.
    Saya sangat sangat setuju dengan tulisan ini.
    Sharing aja,saya dan suami pas mau nikah blak2an income berapa,nanti setelah nikah mau tinggal dimana,financial planning kaya apa dll. Jadi ga takut lagi mau menikah.
    Memang sih rejeki di tangan Tuhan tapi kan kita harus berusaha.
    Thanks God sejak pacaran saya sudah perhatikan kebiasaan2 pacar dalam mengelola keuangannya :)

    Btw saya dan keluarga juga suami menganggap makan enak itu salah satu cara menikmati hidup. Jadi tadi pas baca reply kak leony di atas soal makan enak jadi senyum2 hehehe

    Thanks kak leony sharingnya :)

    -cika-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Cika, thanks for finally commenting di sini. Good for you kalau memang dari awal sudah kelihatan bagaimana cara kamu untuk memulai rumah tangga itu dimulai dengan keterbukaan. Soalnya udah bener-bener deh gak bisa mundur lagi pas sudah berumah tangga.

      Oh iya, kalau punya pacar boros, apalagi cowok boros, itu bakalan sering berantem deh. Kalau cowok yang jadi main earner, terus dianya boros untuk kebutuhan yang ga penting, itu kita mau protes jg susah, karena dia akan claim "dia yang nyari, terserah dia mo ngapain". Kalau udah kayak gitu, mendingan capcus sblm merit, soalnya abis merit bakalan lebih bahaya hehehehe.

      Delete
  18. Ci, gw setujuuuuu bgt sama tulisan cici. Bener bgt zaman skr merid itu bkn karena faktor asal cepet laku.
    Banyak yg maksa2in merid sampe ngutang sana-sini ujung2nya cekcok abis merid malah sampai cerai krn masalah hutang...
    Padahal yg perlu diutamaiin kan life after meridnya itu kan ya Ci. Banyak yg gengsinya tinggi klo udah menyangkut soal merid, klo itu sih terserah hak masing2 ya... cuma klo gw sih sesuai kemampuan ja ga berani maksa2in, jadi tenang abis merid ga ngurus soal utang2.
    Kehidupan after merid apalagi menyangkut keuangan emang bener2 jadi tantangan ya Ci, apalagi biaya2 sana-sini sampe biaya tak terduga yg bs tau2 nongol. Klo gw usahaiin dgn apa yg ada ya dicukup2in/disesuain sama kemampuan jadi suami ga pusing2 atau cari solusi dpt tambahan apabila itu keperluan urgent bgt.
    Soal Tini,mungkin baiknya dia komunikasiin sama Tono ya Ci baiknya gmn sm apa yg ganjel di hati disampeiin jg biar jelas supaya ga kecewa ato gmn2...
    Keep posting yg kaya gini Ci,ini jg sebagai reminder bwt gw jg supaya ga keluar dari jalur & terjerumus ke ego masing2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, soal kawinan ngutang itu udah cici bahas dipostingan yang nasehat finansial ya. Males banget kalau nikah dimulainya dari hutang. Tapi ya mau gimana lagi? Banyak juga yang mikirin gengsi dan kadang ortunya juga maksa ya mau bikin yang wah demi undang temen-temennya. Kalau dibantuin sih, syukur alhamdullilah.

      Sudah pasti Tini harus komunikasi sama Tono dengan segala konsiderasi di poin 1 smp 3 itu, setelah itu baru decide deh dan jalanin poin 4 kalau emang mau terusan bareng. Wuih, sering2 post kayak gini bikin pusing jg loh, ngeri takut salah ngomong hihihi.

      Delete
    2. Dulu biaya nikahku sebagian dibayarin kartu kredit, soalnya bisnisku yg dulu going down. Abis honeymoon malah jual mobil hasil kerja kantoran sebelumnya. Abis itu ngekos karena belum punya rumah, abis itu malah pindah ke pondok mertua indah. Males banget ya?:)))

      Delete
    3. Terkadang kalau sudah sebagian besar keburu di-DP daripada hangus mau gimana lagi ya, Pak? Yang penting adalah setelah itu Bapak dan istri keduanya solid dalam rebuilding financial keluarga, sehingga bisa terus bertahan dan bahu membahu, lalu akhirnya sekarang sukses. Yang jadi problem itu, banyak yang setelah kejadian habis-habisan, akhirnya cerai, itu yang sangat menyedihkan.

      Delete
    4. dikasus keluarga ku, yg hutang ortu-nya demi pesta pernikahan yg meriah, demi gengsi krn ortunya termasuk orang yang terpandang secara kedudukan yang tingkat ekonominya sebenarnya ya ga tajir-tajir amat, dan cowo-cewe yg mw merid tsb secara finansial sama sekali ga mampu. Stelah nikah pasutri baru tinggal di pondok mertua. heran..

      Delete
    5. Nah kalau kayak gitu, si pasangan yang menjalankan pernikahan mestinya tau dong ya apa yang terjadi? Masak sih membiarkan ortunya hutang sana sini juga? Plus anak2nya kayaknya santai2 aja kali, merasa asyik krn yang hutang ortunya, bukan mereka. Kalau menurutku itu juga ngaco sih, mau gengsi siapapun tetep aja yang nikah kan anak-anaknya dan mereka juga yang nanti ngerasain susah kalau ortunya bermasalah demi bayar hutang.

      Delete
  19. Hi ci leony..
    Iya, aku pernah denger ada case yg emang cewe nya ga tau kemampuan cowo nya. Pas persiapan wed, cewe nya milih vendor yg mahal2, krn mengira cowo nya mampu. Tp ternyata cowo nya udh megep2 buat dp di vendor2. Pas giliran ditagih sm vendor utk pembayaran selanjutnya, cowo nya nunda2 terus. Ujung2 nya mereka batal nikah, padahal udh dp awal di berbagai vendor sekitar 100 jt.
    A
    Aku yg denger ceritanya agak kaget ci. Kok bs cewe nya ga tau kemampuan finansial cowo nya.. makanya point kejujuran & blak2an yg cici blg itu bener bgt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai cewe ya wajar-wajar aja tuh kalau dia pilih vendor bagus, terus cowonya ga nolak, ya tentu saja dia seneng. Mungkin cowonya takut ditinggal, tapi toh akhirnya ditinggal juga kan karena ngga jujur. Mendingan jujur dari awal lah, kali-kali cewenya mau ngerti, daripada empot2an dan struggling.

      Delete
  20. Hi Leony,

    Gw silent reader lo selama ini... :)

    Terhenyak nih gw baca post elo yang ini.
    Soalnya gw 6 taun lalu nikah tanpa pikir panjang-panjang bgt.
    Saat itu gw baru aja keluar kerja karena fokus S2, dan suami gw baru beberapa bulan aja mulai kerja setelah lulus kuliah.
    Aslik kalo dipikir-pikir kok nekat bgt.
    Resepsi dibayarin ortu. Tapi abis resepsi yaaaa,,, nggantung gitu deh...
    Mumet gw dulu ngatur uang gaji suami gw yang ga seberapa.
    Boro-boro bisa DP rumah atau mobil ya...

    Dari situ sadar kalo kami menikah tanpa perencanaan finansial.
    Saling cinta sih udah pasti ya... sampe sekarang masih membara :p
    Tapi ya itu... the first two years of our marriage was tough on the financial side.

    Untung bisa mulai membaik di taun ketiga dengan gw kembali kerja dan suami dapet posisi yang lebih baik di kantor. Lalu ada usaha sampingan juga.
    Untuuungg banget gw dan suami kuat. Coba kalo enggak.

    Jadi, bener banget yang elo bahas disini.
    Yang dipikirin sebelum lamaran, nentuin tanggal, kontak WO dan booking2 ini itu tuh soal kehidupan setelah menikahnya.
    Semoga anak gw nanti ngga tragis macem gw, resepsi megah tapi abis resepsi nebeng rumah ortu.
    Malu gw asliii.... hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Nanda... Big hug for you. Thank you for sharing your experience here. Menurut gue, butuh courage yang luar biasa loh untuk bisa berbagi cerita ini dengan semua readers. Tapi gue glad elu membaginya di sini, karena bener-bener merupakan experience yang nyata.

      Senengnya saat gue baca cinta elu dan pasangan masih membara. Itu tentulah membantu dalam elu berdua bekerjasama mengatasi segala rintangan. Jadi masih ada pikiran positif. Coba kalau salah satu dari kalian give up, aduh bisa berabe berat deh. Glad that you survived, and I bet, the next years will be even better!

      Delete
  21. memang gw setuju, sblm nikah banyak yang musti diomongin n financial ini salah satu faktor yang penting.. Jujur awal merit sih kita berdua ga bahas yang dalem2 soal financial.. Cuma gw sempet nanya gimana plan dia kedepannya? apa saat ini dia ada debt apa gimana?

    setelah kita punya plan ke depan nya mau gimana, baru deh bahas kawinan.. Laki gw pas merit kasih gw budget sekian, tinggal gw atur deh mau dipake buat vendor apa aja.. pas mau merit mank laki gw semua sih yang bayarin, karena dulu pas single gw boros banget dah... ga ada utang sih ya cuma ga ada tabungan yang signifikan hihi..and gw terbuka ke dia soal ini.. dia sih ga masalah, (mungkin karena gw cewek?)

    setelah merit ini gw belajar untuk lebih wise dalam soal finansial, laki gw juga ngajarin gw untuk ngejauhin diri dari jeratan kartu kredit dll.. so far puji Tuhan sih kita berdua kondisi finansial nya stabil lah... ga pernah Sampe berantem gede gara2 uang.. Gw masih belajar sih, makanya tulisan u yang lama gw baca berulang2 loh.. buat ngingetin diri sendiri kalo pengen beli yang perlu vs yang ga perlu2 amat tapi pengen hahaha

    jadi ya mank penting dah kalo dari cerita di atas si tini masih pacaran aja dah ga sreg, pikir2 lagi dah buat merit..

    g'luck tini!



    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Carol udah sharing di sini. Gue jg dulu pas mo merit sempet mengalami peristiwa kurang asyik. Partner kerja suami mangkir gitu. Untungnya saat itu ga terlalu parah jd kita bisa mengatasi semuanya walaupun dia jd hrs start over. Thanks God yg namanya kita pny niat bagus ke depannya baik adanya. Yg penting kita usaha dan jujur dr awal.

      Kalimat lu yg terakhir itu emang bener jg kan ya walau kedengeran extreme. Gue makanya ksh suggestion itu hahaha.

      Delete
  22. beberapa temen gua ada yg putus gara2 masalah beginian... padahal mereka pacaran uda lama, rekor yang paling lama 13 taon hahaha... dan kebanyakan masalahnya sama... si cewe merasa financial si cowo kurang mapan untuk mereka melangkah ke jenjang yang lebih lanjut, dan si cowo kebanyakan nyantainya... sementara si cowo beranggapan si cewe itu matre... matre sama realistis emang beda tipis sih hehehehe...

    poin no 3 yang akhirnya bikin gua lanjut pacaran ampe 5 taon hahaha... dan untung akhirnya semua berubah jadi lebih baik... jadi inget, dulu awal2 pacaran ama si seno, dia cuma modal motor hahahaha... sekarang uda bisa nyicil rumah walaupun di kampung...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi terbukti jg ya Mel kalau liat gini, lama pacaran dan pertemanan ga gitu pengaruh terhadap "keselamatan" perkawinan hahahaha. Ujung2nya kejujuran dan keterbukaan itu di atas waktu. Bahkan sampai tua pun masih tetep kita ga bisa mengenal pasangan kita 100 persen. Banyak yg mesti dia cerita dulu baru kita bs tau.

      Good for you, Mel, bisa jadi istri yang turut mendukung juga untuk suami, sehingga makin banyak achievementnya Seno.

      Delete
  23. bener banget ci. menikah itu bukan cuma soal pesta yang megah, tetapi kehidupan sebenarnya adalah yang sebenarnya. Masalah keuangan ini emg sensitif banget. kalau dari awal ga dibicarakan baik2, pasti nanti ujung2nya bakal jadi bom waktu yang bisa kapan aja meledak. Jaman skg ga bisa soalnya makan cinta doang.haha. jadi ya tetep kudu butuh uang.. Tulisannya mengisnpirasi ci.. tengkyu ci.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makan nasi aja sekarang mahal, di resto bagusan dikit udah ceban semangkok ya at least hahahaha. Cici tuh udah bosen sama cewe yang ingin tau jaminan masa depannya, tapi malah dianggap materialistis. Cewe2 juga tau diri kok dan bs menghasilkan uang, tapi kan biar gimana harus kerjasama jangan sampai salah satunya males-malesan.

      Delete
  24. hihihi gw sebagai cewe setuju2 aja ama kamu Le.

    Eh dan gw geli lo tadi ada yg komen "cinta itu buta tapi mata mertua ga perna buta" huahahaha! Emang dulu salah satu syarat gw memfilter calon suami (selaen baek, seiman, ganteng, dlll dll) adalah: kalo ortu gw setuju :)
    soalnya dulu gw perna backstreet ama cowo cukup lama krn ortu gw gak stuju, ya ada krn alasan finansial juga. Mungkin orang bisa bilang ortu gw matre, tapi setelah gw jadi orang tua dan jikalau gw nanti punya anak cewek, tentulah gw juga sama pengen anak gw dapet suami yang cukup mapan ato setidaknya kondisi keuangannya sama dengan kita. Pertama, tentu kita pengen lihat anak cewe kita hidup enak, bisa makan enak, cucu2 kita bisa skolah yg baek, pastilah kita berharap mereka hidup enak (sapa yg pengen lihat anaknya hidup susah?). Kedua (ini yang paling penting), dengan kesenjangan ekonomi, si cewe juga blom tentu kuat mental, lha slama ini ikut ayahnya smua2 dituruti, abis nikah smua2 suaminya ga bisa nurutin. Lama2 juga bisa ribut gara2 duit. Ketiga, mantu cowo yg ga bisa kerja, itu brarti masa tua kita akan dihabiskan kerja2 dan kerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga anak mantu dan cucu2 kita ---> Ini seringgg banget gw liat kejadian di skitar gw, akhirnya si kakek nenek ini di masa tuanya tetep harus support ekonomi anak mantu dan cucunya karena mantu cowoknya ini males2an dan 'gak berpotensi'...

    Yah gitu deh sekilas komen gw (kok jadi panjang bener wkwkwkwk)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhahahaha...syaratnya kudu ganteng ya Teph? Wuihhhh jadi suami lu skrg udah masuk semua kriteria ya. Kalau dulu gue gak gitu mentingin gantengnya sih, asal enak diliat aje hahahaha.

      Emak gue termasuk yang ngga terlalu rewel, tapi dia lebih prefer sepadan, bukan cuma gara-gara soal finansial sih, tapi biasanya kan cara mikirnya juga at least lebih mirip. Tapi selain itu juga pendidikan penting. Gue banyak ketemu orang yang jauh lebih kaya dari suami gue, tapi rude sama orang, rasis, wuih macem-macem deh yang bikin gue ilfeel berat (walaupun org2 tsb diidam2in cewe lain, gue ogah hahahaha).

      Nah itu juga penting Teph, kita ngga mau jadi anak yang sampai tua harus terus gantungin diri sama orang tua. Orang tua kan di masa tuanya mau menikmati hidup, biarkan mereka nikmati hidupnya, dan kalau bisa kita yang muda-muda ini lebih mandiri. Thanks for sharing ya bu.

      Delete
  25. Persis yang diajarin bokap gw ini mah. Emang yang terpenting dalam hubungan itu keterbukaan, dan memang semua harus dibahas termasuk soal duit ini. Kalo kata si Mama dulu "kira le kaweng cuma mo baku polo trus so nda makang? haha..artinya Emang nikah isinya cuma pelukan terus ga makan? Sdikit banyak menggambarkan semua :D

    Thank you ci Le buat tulisannya, tar klo dapat kawan yg curhat soal bgini lgsg sodorin link aja baca sndiri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhaahahhaa.. pelukan cuma bikin anget, ga bikin kenyang ya Py! Manteb banget tuh perkataan nyokap lu. Dan gue jg percaya memang seperi yg Teph blg di atas, kalau seorang ibu pasti ingin memastikan hidup anak perempuannya terjamin ya.

      Delete
  26. dalam sebuah hubungan itu yang paling penting adalah komunikasi. mau apapun itu sebaiknya di bahas semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya komunikasi saja gak cukup. Harus dibalut dengan kejujuran. Org bisa komunikasi lancar, banyak omong, terasa mesra and keep in touch, tapi nyatanya nggak jujur alias gombal. Hehehehe.

      Delete
  27. point pointnya mengena banget mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga disadari oleh sama orang-orang yang mau nikah ya.

      Delete
  28. Makasih ci tulisannya,
    Semoga suatu hari nanti kalau memang sudah waktunya, saya bisa mengaplikasikannya.
    Salam kenal, salam blogging and have a good day!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2. Sipppp deh moga2 berguna ya tips2 awam ini.

      Delete
  29. Setujuuuu... walaupun gue dulu sama suami nggak bahas masalah financial di awal. Tapi kebetulan masalah gaji doang sih udah TST. Gue pernah denger cerita ada pasangan mau nikah tapi nggak saling terbuka sama financial. Hebohlah merencanakan pesta yang luar biasa, sampe ujung2nya semua vendor nggak kebayar bahkan catering ngarepin dari uang angpao *knock2 on the wood*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahhh berarti yang gue tulis bener kejadian banyak dimana2 kan. Apalagi skrg makin gila2an apa2 mahal. Sekolah anak aja tambah mahal terusssss... kalau dr awal aja gak ada keterbukaan, lupakan dah.

      Delete
  30. Halo salam kenal..sy silent reader..topik yg menarik ttg perencanaan financial sblum menikah.. btw request topik ttg investasi atau bisnis atau hal2 kecil yg bisa diputar uangnya .. minimal msh ad jejaknya..maap ko jdi sy nanya kayak ke financial planner y.. soalnya bhsa cici n contoh2 nya simpel n mudah dcerna. Tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, btw, nama kamu siapa ya? (Yang jelas bukan lolipop kan ya hahaha). Sayangnya, saya orangnya bukan tipe yang suka invest jangka pendek atau buka bisnis, apalagi yang bisa diputer, sungguh gak berbakat. Cara saya nabung masih tradisional, yaitu tabungan dan deposito. Intinya sih saya ngga suka gambling (mungkin waktu saya single masih hobi gambling, dan nyungsep krn ga bakat main saham hihihi). Kalau mau putar uang cepet, kalau seandainya saya pny waktu lebih banyak, rasanya sih bakalan lebih milih jualan kecil-kecilan deh, nerima pesenan kue misalnya haha. Intinya bukan tipe yang duit instant deh.

      Delete