Wednesday, August 05, 2015

Jadi Ibu di Mata Orang Single

Kemarin siang, saya ngobrol haha hihi sama temen baik saya. Cowok, masih single (and available). He's very sophisticated and very knowledgeable, dan kata dia, gak semua orang bisa nyambung kalau ngobrol sama dia. Saya termasuk orang yang bisa nyambung kalau ngobrol sama dia, padahal saya mah nggak sophisticated, kalah banget sama temen saya itu. Apparently, kesukaan kita sama hal-hal gak terlalu penting (di mata orang lain), bisa bikin kita nyambung temenan sampai sekarang. Siapa coba yang hari gini masih ngomongin Lingonberry sama Kottbullar-nya Ikea sampai berapi2? Ya itu cuma salah satu contoh pembicaraan kita yang bikin orang lain yang denger mungkin geleng-geleng.

Yang lucu, kemarin dia mendadak kayak "curhat dikit" dan mengemukakan hal yang menurut saya tuh sering banget dikemukakan oleh orang-orang yang masih single, terhadap orang-orang yang sudah nikah dan punya anak, especially from a guy friend. Ini saya kutip beberapa statement dia dari pembicaraan kita kemarin,

"Gue kan sekarang udah XX tahun ya. Banyak  temen2 baik dan saudara2 gue yang sekarang udah punya anak. Ini emang masa2nya orang beranak-pinak, usia segini ini. At the same time, ini juga usia dimana gue kehilangan banyak sekali temen2 gue, precisely karena mereka sudah berkeluarga."

"People always say that people change when they're married and have kids, relationships change."

"Buat para jomblo yang ditinggal sahabat2nya yang udah berkeluarga, kita selalu merasa kalau mereka udah berubah, berubah deh pokoknya. Gue ngerasa mereka udah ga gitu care sama temen-temen lamanya."

" I wasn't decribing you when I said about ibu2 yang kehilangan identitasnya setelah punya anak. With you, even though I can see that Abby takes most of your attention now, tapi basically I can still see the old you. Gue cuma bingung sama orang2 yang bener2 hilang identitasnya sama sekali saat punya anak."

Kalau orang ditanya kenapa berubah pas punya anak, jawaban standarnya sudah pasti karena prioritas kita jadi berubah. Bener sih, itu nggak salah, yang namanya prioritas itu pasti berubah seiring dengan umur kita yang bertambah dan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Tapi pengubahan prioritas itu semestinya tidak membuat identitas diri kita berubah dan kemudian jadi nampak seperti orang asing di mata temen-temen kita kan? Anehnya, banyak teman-teman single juga menganggap identitas kita jadi hilang. Yang tadinya asyik, mendadak jadi ngga asyik, dan itu seringkali bikin temen-temen yang single juga gak nyaman lagi.

Sebenernya isu ini menarik banget untuk disimak. Do we really change? Sebenernya apa sih yang bikin kita itu seringkali dipandang berubah oleh teman-teman kita yang masih jomblo? Saya jadi mikir-mikir soal diri saya, lalu soal bagaimana kira-kira pandangan orang lain terhadap saya juga setelah saya nikah, lalu berubah status jadi orang tua. Kemudian kenapa temen saya masih bisa bilang saya masih ngga kehilangan identitas, while banyak dari teman dia kehilangan identitas. Saya jadi tergelitik juga, untuk bikin list sedikit, tipe-tipe orang berkeluarga seperti apa sih, yang mendadak tadinya dianggap seru, mendadak jadi berubah total, bahkan malah berkesan annoying di mata teman-teman yang masih single (bahkan di mata orang yang sudah menikah dan beranak sekalipun). Postingan ini solely based on my observation, and some discussions with my friends. As usual, kalau nggak setuju juga ngga apa-apa, asal jangan harsh aja kalau ngomen :).

So, here we go!

1. Teman yang suka ngerasa superior dan lebih hebat karena sudah nikah atau punya anak, dan hobi banget nanyain orang lain kapan nyusul.

Kalau emak saya bilang, "Mentang-mentang udah laku, eh dia blagu." Saya sih sering banget ngehadapin orang kayak gini pas saya masih single. Kalau ketemu temen yang udah nikah, selalu ditanya kapan nyusul, padahal temen itu juga baru aja nikah, belum tau rasanya pernikahan itu kayak gimana. Buat saya sendiri, saya malah lebih respect ditanyain sama opa oma yang udah nikah lama, kemudian ditanya kapan nyusul daripada ditanyain sama pengantin baru yang nikahannya aja masih seumur jagung. Belum lagi kalau kita udah nikah tapi belum punya anak, sama aje ditanyainnya. Tolong deh, nikah dan punya anak itu kan bukan cuma status doang. Emangnya pencapaiaan hidup tertinggi itu cuma menikah dan punya anak? Toh banyak juga orang yang pilihan hidupnya untuk selibat dan berkarya di berbagai bidang. Jadi buat yang udah nikah dan punya anak, itu bukan alasan untuk memandang orang yang masih single dengan sebelah mata.

2. Teman yang hobinya ngasih tips seakan-akan pengetahuannya lebih wah dibandingkan semua orang, mentang-mentang sudah nikah dan punya anak 

Tipsnya itu bisa macem-macem. Yang paling sering di share adalah tips mencari jodoh. Padahal orang yang diajak ngomong juga belum tentu minta dibagi tipsnya. Sudah gitu, suka ngerasa kalau anak-anak muda bergaul itu cuma buang-buang waktu. Belum lagi giliran punya anak, suka banget ngasih tips segala macem ke orang-orang yang belum punya anak, ibarat buku what to expect when you're expecting, padahal seringkali belum waktunya dibahas. Umpama orang lain ngomong soal planet bumi, dia sendiri yang ngomong soal planet mars.

3. Teman yang kemanapun omongannya cuma seputar anak, baik di kehidupan nyata, maupun di dunia maya.

Contoh nih, lagi reunian sama temen-temen lama, mentang-mentang udah punya anak, terus-terusan ngomongin anak dan mendominasi dengan omongan soal anak. Padahal gak semua peserta di dalam ngobrol itu udah punya anak. Saya aja yang udah punya anak, suka kesel kalau temen-temen saya cuma ngomongin anak doang, padahal banyak topik di dunia ini yang juga seru untuk dibahas. Belum lagi sosial media isinya semua soal anak dan kegiatannya, seakan-akan di dunia ini tidak ada hal yang lain selain anak. Ayo saya tanya deh, berapa banyak orang tua yang tadinya socmednya seru, mendadak isinya jadi perkembangan anak plus semua kegiatan buat anak, home made games lah, montessori at home lah, yang sebenernya gak penting-penting banget diketahui semua orang. Buat yang single tentu aja kan clueless, akhirnya jadi tercipta jarak deh.

Gambar dari sini

4. Teman yang suka menjadikan anak sebagai semua alasan dari ketidakbisaannya menghadiri acara apapun.

"Aduh, sorry banget nih ga bisa dateng, anak gue ngga ada yang jaga." "Wah, acaranya jam 8 malam ya? Udah jam tidur anak gue tuh, gak ada yang kelonin." "Kalau siang-siang gitu jam bobo siang anak gue, sorry ya ga bisa hadir." dan berjuta alasan yang intinya adalah, anak bikin dirinya gak bisa kemana-mana lagi. Bayangin aja, gimana temen-temen kita yang masih single gak kesel? Kasian juga kan anak selalu dijadikan alasan, padahal semuanya bisa diatur, dan saya sih yakin, temen-temen kita juga mau mengerti, yang penting jangan sampai kita selalu menghindar. Di mata kawan-kawan single kita, hidup kita kok jadi kesannya membosankan banget nget nget.

Saya juga masih suka girls night out dengan beberapa kawan single (malah cuma saya doang yang sudah nikah), dan itu bukan berarti saya nggak sayang kok sama anak. Seringkali saya baru pergi pas sudah dekat jam tidur dia. Atau kalau siang, saya bawa aja anak saya. Bisa kok bobo di stroller. Intinya, punya anak jangan sampai dijadikan alasan kita untuk ansos.

5.Teman yang hobinya curhat soal masalah rumah tangga (dan bikin teman single jadi males nikah dan punya anak).

Temen model gini, omongannya mulai dari soal ekspektasi pada suami yang nggak sesuai keinginan, sampai ngomongin capek dan stressnya jadi ibu, padahal yang diajak ngomong masih single semua. Kalau saling ketemu, yang ada pertemuannya malah bikin jenuh dan lelah, nggak asyik lagi. Akhirnya si temen single cuma jadi cengo dan ragu-ragu kalau mau memulai relationship dan berumahtangga. Eh tapi kalau ngga berumah tangga juga, nanti ketemu temen yang versi nomer 1 di atas pusing lagi. Emang lingkaran setan deh ini semua.

Gambar dari sini
Apa ada lagi yang perlu ditambahin? Saya tuh yakin banget masih banyak lagi tipe ibu-ibu bahkan bapak-bapak yang dianggap berubah dan ga asyik lagi sama orang single. Silakan ditambahin aja di bawah. Yang jelas, list ini bikin saya juga jadi berkaca, dan berusaha supaya walaupun udah jadi ibu dan istri (yang baik), saya tetep ngga boleh lupa kalau saya juga punya kehidupan sosial di luar sana. Kita memang gak mungkin bisa haha hihi pergi-pergi setiap saat, atau full ngomongin hal yang cocok sama orang single terus-terusan. Namanya udah jadi ibu, pandangan kitapun pasti banyak berubah. Yang pasti saya ngga mau jadi orang yang kaku. Di kalangan ibu-ibu, banyak yang bilang saya masih cukup gaul dan up to date, tapi bukan berarti kegiatan saya harus sama seperti dulu (yang suka pulang jam 2 pagi cuma gara-gara main board game atau makan pizza... *ngaku*). Despite all the overwhelming things about family especially kid, I still need to retain my identity. In the end, identitas saya pas saya masih single itu kan, yang bikin suami naksir? Jangan sampai hilang dong. Hihihi..

Being a mom, doesn't mean losing all the fun!

91 comments:

  1. Belakangan klo ketemu sodara atau kenalan yg sudah merit suka ditanya 'kapan merit?' keseringan Jadi bikin insecure. Sekali2 kenalin cow gitu, jangan hobinya tanya aja. Basa basi buat yang tanya tapi menyayat hati yg ditanya. Jadi curhat deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Ya itu typicalnya org yg ud berkeluarga kan. Kalau udah tua sih msh mending urusan concern. Kl yg masih muda terus nanya2 melulu kadang buat yg single jd merasa terintimidasi kayak yg km bilang.

      Delete
  2. Having fun buat org yg udh berkeluarga mungkin juga berubah. Gak pergi sama temen malem malem, gak clubbing, gak nongkrong di Cafe malem malem bukan berarti mereka gak Having fun. I think.

    Gw rasa bukan masalah berkeluarga atau gak. Emang hidup itu dinamis. Selalu berubah. Kondisi org selalu berubah. Ada yg berubah karena berkeluarga, ada yg berubah karena pindah lokasi, ada yg berubah karena kerjaan (misalnya kerjanya malam dan available nya siang), ada yg berubah karena keluarga nya (misalnya ortu nya sakit dan perlu dijaga) dll dsb. Karena kondisi berubah, prioritas berubah, org nya seakan akan berubah di mata temennya. Wajar.

    Kalo nanya 'kapan merid' dan juga nanya 'kapan punya anak' dan basa basi lainnya dianggap annoying, gw rasa liat liat dulu gimana nanya nya ya. Kalo cuma basa basi doang Yah persepsi juga sih dari yg denger. Mgkn yg denger aja sensy dan dalam hal ini si org yg jomblo dianggap berubah oleh yg udh berkeluarga. Kok dia jd sensy bgt skrg pdhl dulu ditanya apa apa gak masalah. :p. Padahal yg nanya ya sekedar nanya kayak nanya apa kabar. Jgn jgn kalo ditanya apa kabar juga sensy ntar dikira kepo. Repot dong ya mau tanya aja gak boleh hehehe.

    Kalo ngomongin anak, balik lg balasannya dimana yg gak Too much itu juga gak jelas. Tergantung penerimaan msg msg org. Intinya org itu suka ngomongin yg relevan sama mereka. Kalo yg udh punya anak ya suka ngomong Ttg anak. Gw kadang suka cengo juga kalo pas ngobrol sama org org yg gak punya anak tp pada punya pets. Ngomongin pets mulu. Tp ya gw sebagai org yg gak punya dan gak suka pets ya berusaha aja untuk bisa terlibat dalam pembicaraan biar kita gak akhirnya bosen sendiri. Balik balik gimana kita nya aja.

    Jd kalo temen jomblo merasa temennya yg berkeluarga berubah, sebenernya temen yg berkeluarga juga bisa merasa temen jomblo nya berubah karena semua org emang selalu berubah, kondisi juga berubah. Itu wajar. Tinggal gimana masing masing menyikapi supaya pertemanan nya masih bisa dipertahankan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Of course Man, kita yg udah pny anak pasti pny different definition of having fun. Buat gue skrg ngurus anak dan baking itu fun banget, tp bukan berarti gue hrs 100 percent exclude myself dr hal2 yg gue lakukan pas single.

      Man, kayaknya based on your comment, I don't think you get my point hehe. Tp bisa aja gue salah.

      Gue di sini melihat dr sisi orang single, hal2 apa saja yang bikin orang single merasa org yg sudah menikah itu berubah. Gue ga mau kita melihat terlalu lebar alasan sebenernya atau maksud sebenarnya begini begitu, toh kita yg nikah2 ini bukan lagi mencari pembenaran. Kita cm lagi mencoba melihat dr sudut pandang yang berbeda aja. Tentang kita sendiri berubah atau ngga, itu kita yang tau kok. Tp kadang memang sikap bbrp org sering membuat orang lain jg merasa ga nyaman, dan poin2 yang bikin ga nyaman itu yg gue sampein di atas.

      Gue sih ga sampe sejauh elu mikirin soal mempertahankan pertemanan etc. Buat gue itu terjadi secara natural seleksi alam. Dan gue jg ga mau mikirin siapa yg lebih berubah, but it might be good for us to do some reflection supaya kita jg jangan sampe kebablasan.

      Delete
    2. Some friends and thank goodness, the best one, tetep stay walo kita da punya anak dll kok. Because, they just simply understand. Selama kitanya ga lgs jd anti sosial dan babai mai fren juga kali ye.

      Delete
    3. Makanya harus saling paham dari kedua belah sisi kan El. Seringkali cm dr sisi kitanya doang mau dimengerti, sementara kita ga mau mengerti perasaan si single yang ngerasa rada "ditinggalin" sama yg ud pny anak.

      Delete
  3. Gue sih offender nomor 3 banget, and I'm not sorry about it. Ya faktanya adalah hidup gue memang yang menonjol sekarang ada tentang Madeline. Sama aja kalo orang kantoran yang dibahas juga seputar kantor, padahal belum tentu juga lawan bicara ngerti tentang dinamika kantornya dia. Makanya sekarang gue lebih nyambung sama orang yang udah punya anak, karena topik pembahasannya sama, apalagi sekarang Madeline udah sekolah, ketemulah sesama ibu-ibu dengan permasalahan yang sama. Sah-sah aja sih kalo orang-orang single menilai menjadi ibu terus mengubah seseorang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly, Ngel! Itu maksud gue nulis ini. Ada hal2 yg dipandang orang single kita berubah ya karena begitu itu. Akhirnya seleksi alamnya terjadi sendiri. Some of them jadi ngerasa kehilangan kita. Gue mau menyampaikan their point of view dan itu sah2 aja, dan kita ga perlu defend ourselves juga kalau memang that's the fact. Tp gue percaya, tiap ibu pasti msh pny identity and spark inside her. Cm mgkn yg single jd ngga menyadari krn ketutup sm poin2 di atas.

      Delete
  4. Saya nomer 4 *ngaku* haahhaha saking seringnya nolak emang beneran nggak bisa, kl nitip papanya per 30menit gw di msg udah kelar blom jd hati gw gak tenang.

    Lama2 gw nggak pergi kecuali temen single nggak keberatan gw bawa anak hihihi. Sekarang para single ada acara gw kena skip, misal gw tny "yahhh kok gw nggak diajak?" pasti gw dijawab kaya lu bisa aja Fel kan kudu jaga anak huahaahahhaah *entah harus merasa sedih atau bahagia* karena kadang nolak2 gitu beban mental.

    Tapi kita tetep kontek kok ngomongin mah macem2 topiknya nggak seputar anak, bisa ttg buku cerita, binatang piaraan anjing, masa lalu (intinya gak topik anak gw kecuali ditanya ttg anak)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itulah jadi ibu2 Fel. Siap di cap apapun sama orang2 yg belum ngerasain jadi orang tua. Toh yg sama2 udah jadi orang tua aja masih suka get annoyed kan, apalagi yg msh single yg suka cengo terhadap omongan yg menurut mereka pake bahasa planet mars.

      Gue jg seringkali ga sadar loh kalau udah jadi sedikit2 bagian dari nomor2 tsb di atas. Harap dimaklumi aja deh kl ada org single yg ngerasa gue udah tak seperti dulu lagi... (sambil nyanyi lagu Dian Pisesha.. aku masih seperti yang dulu...eh aku sudah tak seperti yg dulu hahahaa)

      Delete
  5. Temang yang menganggap kita sudah tidak gaul karena ngomongin film terbaru, kita blm nonton krn ga bs kebioskop, ngomongin fashion, kita skrg lebih tertarik mothercare drpd zara, ngomongin lagu, kita taunya nursery rhimes hahaha.
    Ya sudahlah, emang gw akui skrg ini lebih nyambung ngomong sama ibu2 yg punya anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, ya itu mungkin masuk di club nomer 4 kali ya Mel. Tapi kadang ngangenin juga loh ngobrol sama temen yang single dan ngga ngebahas soal parenting terus. Saling memberi warna aja satu sama lain, asal jangan kita mengekslusifkan diri.

      Delete
  6. Berhubung belum punya anak, aku sm suamiku belum pernah dicap apa2 sih sm temen2 kita. Mungkin poin 1,2,5 yg jd perhatianku biar ga dicap gt sm tmn2 single..atau mungkin aku diem2 dah dicap gt ya sm mereka,wah bakal aku tanyain deh pendapat mereka ci hehe...tp selama kumpul emg ga pernah nanya lgsg kapan nikah ke mereka (krn aku tau perasaannya ditanya utk sesuatu yg kita sendiri pun ga tahu mau jawab apa,krn aku blm pny anak jd tau rasanya ditny kpn pny anak?)atau sok2 bagi tips ttg pernikahan. Lah br nikah seumur jagung jg hehehehe.. Kalau ada temen2 single yg slg kata2an soal kapan nikah br deh iseng ikut bertanya2 biar rame aja,ya tp ujung2nya mereka ga sakit hati sm perkataan kita..aku jg ga bs cerita gitu aja soal pernikahan n rmh tangga dlm forum..kecuali mereka menanyakan secara pribadi ke aku.. Jd klo kumpul itu merefreshkan diri aja seakan2 msh single,balik ke rmh ya jd istri lg hehehe..
    Jd pelajaranku bgt nih ci nanti kalau udah pny anak..dpt tambahan pelajaran lg spy bs saling menghargai lg. kadang emg suka lupa diri sih klo dah ngomongin yg sudah mampu kita lewatin,seakan2 tmn2 kita itu gak bisa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua poin di atas itu juga jadi bahan perenungan kok buat cici. Berusaha supaya jg kita gak kebablasan jadi ibu2 sotoy atau ibu2 yang dominan ngomongin anak melulu. Namanya dalam hidup ya kita terus belajar, sekalian juga seleksi alami deh buat temen-temen.

      Delete
  7. Hi Ci Leony... topik ini bener2 topik panas dikehidupan aku sekarang! Hahahaha..
    Aku punya peer group jaman kuliah isinya 10 orang.. 7 diantaranya udah merit dan punya anak dan kita (The Mamas) suka lupa kalo di group itu ada wanita2 single. Jadi isinya group sekaranmg cuman ngebahas seputar pampers, playgroup, playground, dsb yang mana ujug2nya jadi bahan pertikaian *bahasa gw... pertikaian!* antara The Mamas VS The Single Ladies.
    Perubahan prioritas gak mungkin bisa dihindari, tapi kalo bisa temen2ku ini gesernya cuman dikit.. kalo dulu nomer 2 sekarang geser ke nomer 3.. dan selalu berusaha dateng kalo kumpul2 juga selalu nyediain waktu kalo temen ada yang butuh curhat.
    To be honest, these single ladies keeping me alive! bikin hidup gak boring and they are like reminder of who i was back then.
    Tapi gak bisa dipungkiri juga kalo ada 1-2 temen yang prioritasnya bener2 berubah total.. kita gak bisa maksain juga kan... kadang aku ngerasa sedih sih kalo inget dulu deket banget tapi sekarang kayak lost contact padahal 1 genk. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, nggak salah ya kalo gitu gue nulis soal ginian. Emang bener kan pasti kita mengalami fase pertemanan yang macem gini (kecuali kaga punya temen hahaha).

      Bener banget, gue seringkali kangen banget girls night out sama yang single, topiknya super random. Tapi bukan berarti gue jg gak gaul sama emak-emak. Intinya sih pinter-pinter kitanya aja bawa diri supaya kemanapun kita bisa masuk.

      Delete
  8. hahaa.. bener juga.. makanya temen2 single ga mau diajak reunian mungkin karena yang udah merit ngomongin anak melulu dan curhat masalah RT..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan cuma gitu, karena di Indonesia itu marital status masih dianggap sebuah kebanggaan, sehingga yg single, walaupun berhasil sering males ngadepin ditanya2in kapan nikah.

      Delete
  9. Hihihi.. angkat tangan.. *akuh adalah salah satu orang diatas* dan emang beneran seperti seleksi alam juga yaa.. life change. hihihi.. dulu juga gak suka kok dengerin org yang ngomongin soal anak.. eh sekarang ngomongin juga. ahaha..

    Ci, kadang dari pemikiran si Single sendiri udah mikirnya "Gak enak" kalo ngajak kita. karena kita udah punya suami (bukan karena nanti ketemu akan bahas soal pernikahan dan anak). So far, temen2 ku yang single malah ketemu aku, malah nanyain masalah kehidupan RT, trus nanya2 soal anak (padahal belum nikah) semoga mreka gak merasa aku annoying yah. hehehe.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau temen2 kamu yang nanya, ya gak apa-apa kasih info. Yang ngeselin itu kan yang ngga ditanya, tapi nyerocos kayak petasan di bulan ramadhan hahahaha. Soalnya suka ngerasa super expert sih.

      Delete
  10. Hi ci Leony (sok manggil cicik gapapa yak haha). Aku nemu blog ci Leony dari tetangga a.k.a si kak leija yg hitss hihi

    Aduhhh jangankan udh nikah atau punya anak, aku aja yg bentar lagi mau merit, suka ngerasa nggak enak sendiri di tengah kalangan temen2 yg emg belom merit dan jomblo. Masalahnya di antara temen2 yg lain, aku yg pertama mau merit. Namanya mau merit, pasti adalah pemikiran2 yg agak udh berubah. Klo ketemu temen pasti ada nyerempet deh bahas topik kawin dll. Sempet ngmg ke salah seorang temen deket, klo I talk too much about wedding related, tolong direm ajah. Kadang aku mikir kasian jg dia kebanyakan denger cerewetanku soal nikah, dan aku takut jg jd kayak relationship snob or something, nggak banget kan.

    Trus di blog aku juga ngerem biar gk write too much about weddin too. Walaupun salah satu post about my wedding preparation (sharing tips ala2 propesional buahahaha) traffic-nya sempet wah jg, cmn itu nggak membuat aku untuk nulis lebih byk lg soal topik yg sama. Dipikir2 nggak layak jg sih buat share tips2 soal nikah, masih kalah sama papi mami atau akong ama yg udh nikah puluan tahun hahaha

    Ya wanti2 aja sih setelah nikah nanti, prioritas dan status pasti berubah, tp harusnya jati diri seseorang nggak akan berubah lah ya. Setuju sama statement ci leony yg terakhir, getting married or being mom, doesnt mean we are losing all fun. Tetep harus bs diajak seru2an ya!

    Xoxo,
    Jane
    http://janefromtheblog.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak semua orang memang happy kalau dengerin wedding preps, apalagi yang printilan. Nanti deh, kalau kamu udah merit, terus dengerin orang pusing ngomongin wedding preps, pasti kamu jg mikirnya beda lagi (Kalau cici skrg mikirnya, ya elah, ternyata yang dulu ribet itu sebenernya ga perlu ribet2 amat kok). Soal traffic, cici malah termasuk orang yang sangat cuek sama traffic. Nulis aja sebodo teuing sesuai sama apa yg lagi ada di otak hahaha. No wonder ya jd banyak pro kontra.

      Identitas diri yg sesungguhnya tuh kalau bisa jangan berubah sih, tapi kalau mau berubah ya gak apa-apa juga asal positif. Memang gak bisa dibohongin dr single jadi mom aja udah perubahan identitas yang luar biasa. Seru2an jadi ibu itu beda sama seru2an pas single, tp bukan berarti jadi orang yg ngga seru total.

      Delete
  11. Point 1 bener banget ci hahhahah wkt tahun lalu masih single ma temen yg udh nikah n punya anak tiap buka obrolan selalu berakhir dg kata2 kapan kawin? gw aja udh punya anak umur 3th...jiahhhh sempet bete sih hbsnya ini org klo ndk married dunia kiamat apa?

    Tp memang tanpa kita sadari saat perubahan status sedikit banyak merubah bbrp pola prioritas kita bukan jati diri, kek misalnya istri sambil kerja kantoran pasti berbeda dg istri yg full di rumah jadi saat chat group sering kali istri plus kerja kantoran di bilang sombong jarang bergaul di group sama ibu2 RT dan yg single, benernya bukan sombong tp kesibukan kan bertambah yg dulu pulang kantor bisa asik bergosip d group smp tengah malam, tp setelah menikah apalg punya anak prioritasnya bergeser...itu salah satu yg ak alami ci hahhaha jadi kr jarang nongol dibilang sombong plus berubahlah, bukan berubah benernya malah masih pengen intesnt ngobrol hal2 lain tp pekerjaan RT dan ngurus suami ttp didahulukan setelah kelar baru nongol itupun msh dpt respon ndk enak , inilah yg buat ak lbh nyaman ngobrol dg org yg setype dlm artian mengerti posisi kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya cici nulis itu sebenernya bukan cari bener atau salah. Berubah ya udah pasti dong ya, kalau gak berubah itu malah namanya gelo (masak masih mau clubbing terus ninggal anak hahaha, walaupun ada jg sih yg msh suka gini demi sparks masa lalu, clubbing berdua suami). Cuma kan kita pengen tau nih, kalau menurut si single, faktor apa yg sering diconsider bikin kita jadi kaga asyik hahaha. Makanya itung2 seleksi alam alami deh kalau dianggap kita yang emak-emak udah ga asyik lagi. No wonder kan circle of friends kita selalu berubah. Gue aja percaya kalian para blogger jg pasti lebih nyaman ngobrol sama yg barengan, misalnya barengan siapin nikah, barengan pny anak. Ya kebentuk deh circle baru.

      Delete
  12. 1. Teman yang suka ngerasa superior dan lebih hebat karena sudah nikah atau punya anak, dan hobi banget nanyain orang lain kapan nyusul.
    Aku kadang nanyain orang 'kapan merit'...karena basa basi aja sih. Biasanya jelas bukan ke org yang akrab. Menurutku sih itu ga menyinggung kalo emang udah ada pasangan, tapi aku menghindari nanya begituan ke org yang belum ada pasangan. Anakku sendiri udah 3, tapi banyak juga yang masih nanya 'gak nambah nih?' menurutku itu juga basa basi, zaman gini punya anak lebih dari 2 aja udah jarang. Aku jawabnya pun juga seragam 'enggaklah, 3 cukup' standard kan ya.

    Kalo dibilang kita berubah, iya mungkin ya, tapi tergantung lingkungan juga lo. Di komunitasku aku termasuk yang cepet merit. Otomatis pas aku merit banyak temen yang belum merit. Jadi kita masih barengan, pergi bareng, ngafe bareng walaupun aku ga selalu ikutan. Lama kelamaan waktu kumpulnya jadi banyak berkurang karena mereka satu per satu pun menikah dan punya anak.
    Masih ada yang jomblo? masih dong, tapi karena skrg jadi kaum minoritas ya akhirnya dia nya cari komunitas lain. Kalo ketemunya cuma berdua aja, omongan ga seputar anak pasti, wong dia-nya nikah aja belon. Tapi kalo komunitas lama kumpul bareng, jelas yang jomblo tersisihkan. Lah kita ngomongnya pasti seputar anak, wong dunia kita dunia anak2. Ga mungkin kita ngomongnya cowok ganteng di seberang meja hehehe. Bisa sih ngomongin lain, tapi karena 90% yg hadir dunianya ttg anak, otomatis ngomonginnya ya anak. Yang asik kan ngomongin anak kita.

    3. Teman yang kemanapun omongannya cuma seputar anak, baik di kehidupan nyata, maupun di dunia maya. - iya sih kadang ini nyebelin. Cuma biasanya sindrom anak pertama ya yang hobi beginian di dunia maya. Aku pas anak pertama hobi banget posting foto anak, pas anak kedua awal2 aja trus males sendiri soalnya udah ribet dengan 3 anak di sekelilingku, mana sempet upload2

    2. Teman yang hobinya ngasih tips seakan-akan pengetahuannya lebih wah dibandingkan semua orang, mentang-mentang sudah nikah dan punya anak --- hohoho iyo ini nyebelin banget.

    4. Teman yang suka menjadikan anak sebagai semua alasan dari ketidakbisaannya menghadiri acara apapun. --- Ini ga bisa dihindari lo. Dan yang jomblo harus maklum menurutku

    5.Teman yang hobinya curhat soal masalah rumah tangga (dan bikin teman single jadi males nikah dan punya anak). --- untungnya pas jomblo ga pernah nemu yang beginian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panjang juga Pau komentar lu. Intinya sih, siapapun yang masih mau berteman dengan satu sama lain, harus mengerti juga situasi satu sama lain. Anggapan orang soal perubahan kita itu kan suka bikin kita "terpaksa" harus menjauh atau mencari circle of friends baru. Ya sah-sah aja sih gue bilang, soalnya emang kadang susah untuk keep up sama temen-temen lama kalau kesibukan sudah beda. Cuma kalau seandainya kita masih mau keep up, kita jg harus self reflection supaya ngga dianggap annoying atau ngeselin sama temen-temen single kita. Makanya gue tulis deh poin2 di atas, buat gue jg belajar untuk melihat suatu permasalahan dari sudut pandang orang lain.

      Delete
    2. soalnya yang lain juga panjang2, jadi ikutan panjang, walaupun copy paste copy paste :)

      Delete
  13. emang setelah nikah dan punya anak, pembicaraan gua kebanyakan seputar anak sih... dan untungnya hampir sebagian besar dari temen gua juga uda punya anak semua, jadi ya kalo ngumpul pun masih nyambung... cuma emang setelah punya anak ga bisa bebas ngumpul kayak dulu kapanpun dimanapun... dulu ketemuan jam 9 malem pun masih oke, sekarang kan uda ga mungkin... untung gua ada suster, jadi kalo gua pergi jayden bisa ditinggal sama suster...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Unfortunately gak semua orang bisa punya keberanian untuk ninggalin anak di rumah ya despite ada nanny or ngga. Tapi seringkali gue gantian loh sama suami, suami di rumah jaga Abby sebentar while gue pergi ngobrol2 ngopi sama bbrp temen. Intinya sih suami jg harus mengerti kalau terkadang istri juga butuh untuk membangkitkan kenangan masa muda dan having me time bersama temen-temennya.

      Delete
  14. Dan mostly semua ciri2 perubahan itu terjadi pada mahluk yang namanya wanita. Hahahaha...Itulah kenapa temen gue yang single, kalo lagi ngumpul rame2, dia milih duduk bareng para lelaki dibanding emak2. Soalnya emak2 ngomongin sekolah, makanan anak, lesnya anak, dll. Sementara para suami ngebahas, kenapa si ahok naikkin pajak gila2an, kenapa mobil ini bensinnya lebih irit, dll seputar masalah umum yang lebih dimengerti ketimbang cara ngurusin anak. HIhihih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah problemnya sama emak-emak itu, seringnya suka gak up to date sama berita lain selain soal ngurusin anak. Too bad loh kalau emak-emak sekarang jadi banyak yg ga tau sama situasi politik dan ekonomi, padahal ada bagusnya balance juga supaya ngobrolnya gak perlu misah-misah. Itu yang seringkali gue lakukan kalau kumpul sama temen yg single n udah punya anak, gue duduknya sengaja di tengah-tengah, biar kalau topik di satu sisi udah bosenin, gue pindah ke sisi laen hahahah.

      Delete
  15. so far masih bisa hangout sama yang single en married c ci tapi ga tau ya nanti kalo uda lahiran, gue berharap gue pun ga berubah dalam arti keilangan jati diri pas masa single :)

    kalo lagi ngumpul, ga tau knp kalo gue ga demen ci nanya "kapan nyusul/kapan punya anak" hehehe soalnya gue mikir gue sendiri kalo ditny males aja gitu :p kalo ga ditny "gmn idup stlh married/gmn hamil, dll" gue ga bahas, ngikutin apa yang lg dibahas sama mrk aja kecuali kalo ditny baru dink jawab.

    poin no. 2 itu srg bgt gue alamin ci, hahahaha. awal2nya anggep lumayan nii bisa dapet info2 tapi lama2 kok jadi dikuliahin rasanya :p sampe2 ada 2 temen yang slek gegara yang 1 ga demen diajarin mulu sdgkan yang 1 tuh demen nguliahin (-_____-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita sih mungkin ada keinginan besar untuk ngga berubah, tapi yang ada kita itu PASTI berubah. Dan tinggal kitanya mau berubah sampai kadar mana. Yang cici tulis itu sih kadar-kadar yang bisa dibilang cukup extreme tapi sebenernya ya pasti ibu2 itu nyangkut lah di salah satu di antara nomer-nomer itu tentunya dengan kadar yang berbeda. Kalau gue dikuliahin, ya tinggal gue dengerin aja deh, kalau bosen, tinggalin... Hwahahahaha...

      Delete
  16. duh kasian kalo punya temen single yang suka di curhat in sama temennya yang udah merit bahwa hidup menikah itu berat, punya anak itu susah, repot....beuhh, itu yang single bakal ngacir dan selamanya jomblo dehh yaa...tatuttt merit jadinya...hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kalau belum coba kan tetep penasaran dong ciiii... bener apa kagak sih. Ya kan? Ada orang yg ga kuat naik roller coaster jantungan, dan dia cerita sampe heboh. Tapi kalau belum nyoba sendiri, jd penasaran :P

      Delete
  17. Halo Ci Leony, mau ikut-ikutan komentar ah...
    Gue punya gank kuliah yang isinya 16 orang. Rata-rata sudah menikah muda dan punya anak waktu mereka umur 20-an. Di saat mereka nikah dan punya anak, gue single. Jadi gue sempet mengalami yang dirasakan para single di atas. Melihat temen-temen gue dari yang dulunya asik menjadi ngga asik. Trus omongan mereka di group chat pun gue ngga ngerti (walau kadang suka gue simak). Waktu itu karena gue single akhirnya gue cari temen-temen lainnya di luar gank buat jadi temen bergaul.

    Setelah gue menikah dan punya anak, gue merasakan manfaatnya juga suka menyimak pembicaraan mereka karena gue jadi lebih well informed sama permasalahan-permasalahan anak dan ibu macam ASI, IMD, dan lain lain.

    Sekarang, gue bisa akui bahwa gue tipe ibu-ibu no 4. Apalagi kalau acaranya malam-malam. Paling sering skip kalau ada undangan ketemuan malem-malem. Bukan karena ngga ada support dari orang rumah untuk bantu jaga anak, tapi lebih karena rasa bersalah ninggalin anak (padahal anaknya juga udah bobo). Dan sering ngiri sama para orang tua yang bisa keluar malam dan nampak menikmatinya, padahal kalau dikasih kesempatan gitu juga gue (bukannya ngga bisa ya tapi) lebih memilih ngelonin anak tidur daripada kelayapan malam malam. Akhirnya supaya ngga di black list dari pertemanan, kadang gue ngajakin ketemuannya pas jam makan siang atau sekalian aja kalau weekend ajak main ke rumah. Gapapa rumah berantakan, yang penting pertemanan tetap berjalan dan anak tidak ditinggalkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang menurut gue yang bagus ya seperti itu, saling mengisi aja deh antara yang single sama yang udah berkeluarga, sama-sama saling belajar, tapi jangan sampai kitanya malah misah dan saling mengekslusifkan diri. Lama-lama kan bisa pecah tuh pertemanan yang dibina.

      Nah itu bagus loh Ntiw, gue juga sering banget merasa jadi ibu nomer 4, tapi tinggal kita menyiasatinya aja deh, mau ketemuan di mana, di lokasi seperti apa. Gak mungkin dong gue ketemuannya di cafe yang isinya orang-orang merokok, apalagi mikirin kesehatan anak. Dan menurut gue, membawa anak kalau ketemu temen itu, tidak mengurangi keasyikan kita mengobrol juga. Apalagi kalau anaknya dari kecil udah kita latih banyak ketemu orang dan bobo di stroller, dijamin aman sentosa.

      Delete
  18. Leony kalo bikin postingan selalu menarik untuk dikomenin hehehe
    Kalau boleh dibahas lg yg no 4 tp dlm masalah pekerjaan... dulu aku pnh dikomen pedas sama coworker yg single dan cewe.. mnrt dia ga fair kalau aku dikasi project yg gampang dan ga terlalu require byk lembur krn aku pny anak kecil sementara dia dikasi yg rumit dan mgkn akan byk lembur.. ya aku blg bener jg sih.. secara posisi dan gaji kita sama hihihi.. trus abis itu lgs mantap resign hehehe..
    Trus kalo no 3.. lah blog dan ig aku isinya anak semua hahaha.. tp emang aku ga share2 ke tmn2 sih alamatnya.. jd yg baca jg plg sesama ibu2 jg.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu bikin gatel ya Bon. Gue sendiri kalau nulis kadang deg2an loh, tapi ya mumpung ada di otak, gue tulis aja deh, soalnya issuenya current banget, baru 2 hari lalu dibahas sm temen. Ya itu dia kenapa gue jg resign, karena gue tau, kalau gue masih ngantor, gue jg gak gitu bisa curahin semuanya seperti pas gue masih belum punya anak. Di jalan aja kalau macet gue pasti kepikiran anak. Dan kebetulan punya suami yg mendukung keputusan gue, jadi deh resign aja, tp bukan berarti mati ilmu kan.

      Delete
  19. Setuju banget sama point" yang cici bahas, untungnya belum ad tmn yg kyk gtu.. hihi..
    Tapi di case aku terbalik ni :D, temen" main ku sekarang rata" sudah planning mau menikah dan menikah, ad yang masih single. Nah kami ini di group ga ad yang bahasnya tentang anak, nikahan, bener" pembahasan umum kyk biasanya. Klo yg spesific gt biasanya pd PM, Gak pernah nanya"buru"in juga untuk masalah pernikahan.
    Tapii sejak 1 per 1 merit kita juga udah mulai agak renggang dengan si yang single.. Karena kita udah beda sama yang dulu, jaman dulu tiap minggu bisa slalu ngumpul bareng, malming bareng, planning mau liburan kemana... Sekarang?? Udah gak bisa, apalagi yang sudah ad keluarga dan punya anak. Mau meluangkan waktu untuk bertemu aja, kadang si singlenya gak bisa, karena dia udah ad temen main baru, yang bs sering hang out bareng, ato planning liburan bareng :D..

    Klo ak bilang walo pun kita gak ad di 5 point yg cc sebutin, klo yg singlenya punya pikiran yg udah berumah tangga udah beda, udah gak asik dll *padahal belum tentu*, itu juga yang akan bikin jauh.. hehe..

    Temenan itu kadang naik turun juga, malah makin lama makin keseleksi, jd temenannya sama temen yg bener" deket paling 2-3 orang doank.. Haha.. babay dha tuh geng"an jaman sma/kul dulu.. wkwkwk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah jelas kalau jadi suami istri, pasti kita jg pengen intimate time dengan suami dan keluarga kita (pas nanti kita punya anak). Kalau kita masih berpikiran kayak single dan mau ngumpulnya sama temen melulu jg gak enak pastinya. Cici aja sekarang males kok kalau liburan bergerombol sama temen lain, pasti lebih milih sama keluarga kecil biar flexible.

      Nah itu loh Jur, kitanya mungkin ga ngerasa kalau kita ada di point 1 sampai 5, tapi yang singlenya yang merasa gitu. Kan kita melihatnya dr sudut pandang si single kan? Hihihihi.

      Delete
  20. anak jadi prioritas emang iya sih! tiap orang punya cara pandang lain2 juga.. kadang g ngerasa g udah ga punya banyak waktu buat metime nonton kdrama atau liatin semua acara2 yang ada GD-nya kekeke... ga bisa ngumpul2 sama anak2 pang2 karaokean, walo pun ada sebagian temen yang tega demi metme, anaknya ditinggal ama nannynya, g sih sebisa mungkin dibawa yah bawa, ga bisa bawa next time g akan ketemu temen2 diwaktu yang tepat :D
    tapi keep kontek tetep jalan sih, jadi walo ga pernah ketemu selalu saling update jadi enggak ketinggalan atau di tinggal. intinya sih dari sini sebenarnya kita bisa liat juga sitemen2 single dan double ini apakah selalu ada untuk kita apapun kondisinya kita dan kehidupan baru kita ? atau dia akan ninggalin kita karena kita udah enggak sejalan ama dia hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya kan tinggal kita nyiasatin aja waktu dan tempat kalau mau hang out sama orang lain. Gue sesekali suka kok ngedate berdua tanpa bawa anak, tp ya pas jam anak udah tidur, dan itu bukan berarti menelantarkan anak. Sering juga kita butuh untuk berduaan sama suami.

      Elu juga suka kan tentunya Pit, untuk me time jadi gak bareng Zio. Misalnya kayak gue kemarin nonton konser ga mgkn kan bawa anak, malah gue dan temen gue sama2 ibu2 yang kebat kebit jg ninggalin anak walau cuma bbrp jam buat nonton konser Michael Bolton n Pentatonix. But sometimes we need it, cuma kadarnya kita yang tau sepantasnya spt apa.

      Makanya hal2 yang dianggap berubah itu, seringkali sebenernya cara seleksi alami untuk bikin circle of friends yang baru.

      Delete
  21. Halo Leony, ngikut komen yahh.. Kalo gw adalah emak2 yang ditinggal sama genk single (sebut aja genk single 1) karena mereka berasumsi gw yang udah gak bisa ngikutin mereka. Padahal sih gw masih gw yg dulu. Dan sampai sekarang gw masih ikrib banget sama genk single yang lain (genk single 2 & 3) - malah kebanyakan temen gw adalah single. Bahkan masih bisa trip ke luar kota bareng. Kalo menurut analisis gw sih, ujung2nya adalah seleksi alam. Emang dasarnya udah kurang cucok kalo sama genk single 1. Dan btw lagi, biasanya emak2 yg tipe 1 & 2, percaya atau enggak, dari masih single pun udah punya dasar annoying sih. Yang makin menjadi-jadi semenjak nikah & punya anak. Hihihii.. berdasarkan pengamatan di lingkungan sosial gw lho yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, masing2 asumsi sisi yang lain itu ga asyik sebelum nyoba duluan ya. Kalau gitu grup single 1 itu ya mungkin dari awal juga emang udah tipe yang kurang asik dibandingkan grup lainnya, jadinya ya bener tuh, buat ngelepasin diri dr geng yang ga asik, asumsi mereka jadi bikin seleksi alam hahaha. Tapi beruntunglah kita2 yang masih bisa gabung sama temen-temen single. Menyegarkan banget loh itu!

      Eh iya, apa mgkn grup 1 dan 2 itu kebiasaan jadi kakak kelas yang suka perintah2 adik kelasnya kali ya, dan ngerasa sok jagoan neon hihi. Tapi kita jg suka loh ga sadar dikit2 jadi no. 1 dan 2 walaupun kadar minimal.

      Delete
  22. Ci..topik yang ini aku belom berasa nih.. Belom punya pengalaman jadi yang mana2.. hehe.. Kalo nomor 1, aku seringnya manas2in cowonya tmnku biar buruan ngelamar karena temenku udah pengen dilamar. Haha.. Selaen itu ga pernah si nanya2.. Tapi di take note deh buat nanti ke depannya.. hehe.. Thanks for sharing!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamunya pernah ga jadi single yang ngerasa temen-temennya berubah? Kan bisa jg tuh dilihat dari sisi si singlenya hehehehe. Ya lumayan bikin list iseng2 ga berhadiah ini buat jadi bahan refleksi kita semua.

      Delete
  23. Aku termasuk yang no. 4, banyakan gak bisanya kalo diajak acara kumpul2. Tapi kalau jam & lokasinya ok, biasanya aku bisa atur waktu untuk ikutan gabung, dan aku gak bisa terima undangan dadakan. Soalnya mesti ijin suami, info ke mbak pengasuh, dan pamit ke anak2 juga kalo mereka ga aku ajak. Paling gak, undangan harus diterima 2 days in advance, hahaha... Ajakan teman2 liburan ke sana sini juga terpaksa aku tolak dulu, soalnya ya gitu deh. Ongkos liburan ngajak anak2 kan double triple yah, sementara aku blm ada budget untuk itu. Lha kalo berangkat liburan sendiri, si bayi masih tergantung sama galonnya mulu. Jadi ya udah, terpaksa ditunda dulu sampe anak bayi lepas galon, hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kok Icha, saya juga gak bisa main dadakan aja kalau janjian. Kita kan bukan anak kuliahan atau single yang masih run free dan belum perlu mikirin org lain. Wajar banget kok kita sekarang jadi lebih limit diri kita untuk keluar-keluar, cuma ya kalau bisa memang gak limit ourselves 100 persen. No wonder kalau temen-temen jadi keilangan kan kalau kitanya jg ngilang ditelan bumi haha.

      Nah soal liburan itu, balik lagi juga ke post aku sebelumnya tuh. Kalau belum bisa liburan, ya gak usah dipaksain. Berasa kok aku pas udah ada anak, liburan itu kan bawa nanny, plus kadang bawa ortu juga buat bala bantuan. Tiket tadinya berdua jadi berlima. Lemes deh kalau kita gak suka nabung.

      Delete
  24. Ci Leony,

    Salam kenal... ini silent reader yang jadi vokal hari ini karena pembahasan menarik ini... hahahaha...

    Paling berkesan dengan No.1

    Yang saya perhatikan malah pyramid of ploncoan sih sebenarnya... dimana kasta yang paling rendah adalah kasta yang masih single... begitu naik jadi kasta sudah nikah... secara ga sadar banyak kali mereka jadi merasa "wajar" kalau nembakin kata2 ... "kapan nikah?" ... begitu juga kalo sudah naik ke kasta punya anak dan selanjutnya... Padahal contohnya yang saya perhatikan di teman2 ku jaman dulu, mereka merasa loh "penderitaan" nya dikejar2 lingkungan untuk cepet dapat jodoh, cepat2 punya anak... tapi begitu naik level, mereka mendadak lupa. hahahahha, and it's continues jadi kayak topik wajar2 aja buat ditodongin ke orang2 yang bisa di plonco

    Makanya hampir setahunan ini saya hermit dari dunia FB, BBM, IG dll... baru hari ini (beneran baru nih) balik aktif FB, BBM dll... guess what? temen udah bertahun2 ga kontek2 bisa2 nya langsung nodong "udah hamil belum?", "emang ga mau punya anak?"

    Hahahahahha...

    Anyway Ci, bole numpang share di FB ? Thank you sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tambahan sedikit ya... lupa tadi, padahal penting banget... pertanyaan "kapan" itu kesan nya sih harmless buat banyak orang... kadang2 malah disetarakan dengan kata2 "apa kabar"...tanpa kita sadari kadang2 pressure pertanyaan2 seperti itu yang bikin orang cepet2 nikah tanpa pertimbangan yang matang, atau cepat2 punya anak tanpa mengerti tanggung jawab yang harus kita jalanin nantinya sebagai orangtua...

      Hebatnya "penyakit kebiasaan ceplosan kapan" ini bisa bikin orang yang sudah sukses di hidupnya saja, merasa jadi timpang sosial hanya karena tekanan lingkungan sekitar dia...

      Delete
    2. Halo, boleh kenalan dulu gak namanya siapa hehe. Soalnya di sini tulisannya cuma "he said she said" trs blognya kosong ya. Makasih udah ngga silent lagi hehehe, soalnya seneng kalau ada yang urunan pendapat juga.

      Tapi kayaknya si piramid ini lebih nyata di lingkungan orang Asia ya, soalnya orang Asia ini yang lebih hobi kumpul2 dan grecokin kehidupan orang. Bahkan di kantor pun aja suka ada yang gossip soal beginian. Coba kalo jaman cici ngantor sama bule, gak ada yang peduli kita udah punya pacar atau belum yg penting kerja beres.

      Boleh aja sih kalau mau share, which means cici siap2 ditimpuk sama orang yang gak happy with this listing. *Udah biasa sih huahahahaha*.

      Oh iya, di Indonesia banyak orang single yang karir hebat itu jadi minder cuma gara-gara dianggap pencapaian tertinggi itu adalah menikah. Makanya sebel banget kalau dibilang perempuan ga usah sekolah tinggi2 atau punya banyak properti, nanti laki-lakinya takut. Terus giliran laki2 yang tingkat ekonominya di bawah cewenya ngedeketin, dibilang cowo matre. Kasian banget ga sih?

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
    4. Indri disini ci...

      Iya, specifically emang lebih banyak asia sih yang suka kayak gitu ... hahaha...

      Yup setuju banget... kalo di Indo or mungkin asia pada umumnya ya... kalau yang namanya cewe itu dilemma nya makin banyak...

      Udah perbandingan persaingan buat cari jodoh aja makin sulit (read: the fact that cewe populasi lebih banyak dari cowo, and sekarang makin marak nya dengan pasangan sesama jenis).

      Dibarengin pula lagi kalo cewe posisi nya ketinggian or terlampau pintar, cowo2 nya malah mungkin merasa keder duluan.

      Dan again... desakan keluarga n lingkungan. Membuat cewe yang pintar dan mapan, tiba2 jadi minder kalo urusan ini.

      Saya termasuk nikah lumayan dianggap di indo itu kaum "telat" nikah (30 tahun kurang 1 bulan) hahaha... jadi sudah pernah melalui level kasta sudra dan sudah cukup kenyang dengan kata2 manis nya "kapan nikah" ...

      Dan sekarang sudah menikah selama 2 tahun, sedang di kenyangkan dengan kata2 "kapan punya anak" ...

      Society did not realise that 1 simple sentence "kapan..." could probably contribute and leads to a bad marriages or a poor parenthood situation.

      Apa saya terlalu extreme soal ini? I don't think so. Sudah banyak contoh teman2ku yang nasibnya naas yang aku bilang karena unhealthy habit ini.

      Ada yang begitu nikah, akhirnya cerai dini karena ternyata shock dengan sifat2 pasangan nya yang tidak terexpose waktu pacaran karena selain waktu pacaran nya singkat, temenku itu juga sudah di "program"kan kalau cewe itu harus cepet2 nikah.
      Sedihnya lagi, cerai dengan ada buntut 1 anak, itu bukan sesuatu yang gampang dilaluin. Clean slate ga bisa diaplikasikan di kamus hidupnya dia.

      Ada juga temenku yang ngalamin keguguran berkali2, dan salah satu hal yang dia sharing kan adalah sedihnya kalau ada yang "basa basi" nanya... kapan program anak lagi, or yang baru kenal sama dia misalnya... kapan punya anak? Duh bukan nyanyi lagi sakitnya disini tuh... dia ngalamin banget masa2 major depression.

      Tapi ada pertanyaan yang mungkin bisa dibahas bareng nih ci... bisa ga sih kita bawa topic menarik ini jadi kampanye simple aja...to stop this unhealthy habit gitu maksudnya... hahaha

      Aku pernah loh... "menegur" secara sopan ke temen ku (A) waktu dia tanya aku udah punya anak atau belum, dan pas saat itu aku lagi sedih2nya karena kasus temenku yang keguguran itu. Niat hati cuma pengen meng edukasi A supaya jangan sembarang bertanya "kapan" dan menggampangkan makna "kapan" itu...

      Eh malah ngambek ci orangnya... wkwkwkwkw....

      Any idea?

      Delete
    5. Fenomena jabatan tinggi kemudian jadi berat jodoh itu cici rasakan banget pas cici ngantor dulu. Orang yang levelnya mirip sama cici, yang perempuan itu semua rata2 older daripada cici dan ngga nikah. Ya, mungkin gak semua orang memang cocok kok untuk menikah. Cici ga kebayang kalau salah satu coworker cici yang memang hobinya ngantor dan diskusi sama cowo-cowo itu dipaksa untuk kawin, bisa-bisa nggak happy. And Cici gak pernah loh melihat temen single cici itu nelangsa, malah cici liat she's in a very good state.

      Soal temen yang keguguran itu, cici jg ngerasain gimana temen cici sendiri sampai depresi berat dan dibilang punya turunan gak sehat dan dicondemn macem2. Padahal keguguran janin itu kan bukan sepenuhnya kesalahan pihak perempuan. Siapa tau stress dia diciptakan oleh suami sendiri. Fortunately orangnya sekarang udah ada anak dan bisa buktiin kalau she's a very good mom.

      Soal campaign, saya bukan orang yang ahli kalau bikin campaign2 hehe, tetapi saya percaya, kalau saya nulis dan banyak dibaca orang dan diteruskan (misalnya ada yg share di fb kek atau di blog-nya sendiri), cici yakin sedikit banyak bisa juga menyentuh hati orang-orang yang membaca. Dari dulu cici bukan tipe yang kalau nulis berharap ada banyak komentar di dalam blognya, atau jadi blog yang popular, tapi cici percaya, kebanyakan yang datang kemari itu adalah orang yang bener-bener niat untuk baca.

      Dari komentar kamu yang cukup panjang, menurut cici kamu itu punya bakat untuk menulis loh. Dan kalau memang sempat, coba bikin tulisan di socmed, bisa di blog, facebook, bahkan insta (pssstt..insta skrg suka jd ajang curhat juga), dan yang terpenting saat kamu nulis dan ngepost itu, kamu harus siap kalau ada orang yang ngga setuju dan ngga happy dengan pendapatmu, bahkan jadi haters. It's totally okay, we might not be able change the world, we just can touch some people's hearts, and eventually it leads to bigger movement.

      Delete
    6. Hahahaha... intinya blogging itu harus ngumpulin NIAT dulu ci... itu yang paling susah kayaknya... tapi anyway... sudah berjanji ga hermit lagi, sudah balik ke dunia maya, dengan berjanji pada diri sendiri... be different and be a blessing in my personal posts.. semoga tercapai deh small step ini...

      Btw sudah di share ya ci di FB... really good reading. Have a blessed day.

      Delete
    7. Good for you, Indri! Tar saya follow dan bacain deh isi blognya hehe. Horeee...

      Delete
  25. hahaha bener juga nih ci le. emang sih udah nikah dan punya anak pasti prioritas udah beda, kayanya emang dengan sendirinya bakal berubah gitu ya. buat aku sih sekarang yang udah mulai2 tuh yang nomer 4, mau kemana2 susah karena udah ada anak hahaha.. tapi tetep sebisa mungkin jangan sampe bener2 gak bisa have fun lagi karena anak tadi. ya sesekali masih bisa lah pergi2 bareng temen2 cuma memang udah gak segampang dan seasik dulu yang ga perlu mikir pulang jam berapa. kalau sekarang pergi2 gak bawa anak pasti kepikiran aja pengen buru2 pulang hahaha atau kalau mau tenang ya anaknya dibawa aja deh kadang2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti dong Re, gak ada yang membantah kalau orang nikah dan punya anak itu pasti bakalan berubah prioritas hidupnya, makanya "susunan acara"-nya juga beda. Dan wajar-wajar aja sebagai ortu kita jadi milih untuk pergi ke kumpul2 yang lebih bermakna dan waktunya pas. Bawa anak kalau pas kumpul2 juga gak masalah, asal tau diri juga, jangan anak dibawa ke club atau tempat yg penuh asap rokok misalnya, cuma demi dibilang ibu gaul. *Sebel kalau nemu yg begini, dan anehnya suka nemu*

      Delete
  26. Gw termasuk teman single yang dulu ngerasa temen2 gw berubah waktu menikah dan punya anak. Maklum temen gw di Kotamobagu sana memang banyak yg ga lanjut S1 dan langsung menikah, tapi ada juga yang lanjut S1 tapi sebulan dua bulan sesudah sarjana ya nikah. Waktu awal2 gw ngerantau kuliah di Manado dan mudik ke Kotamobagu gw ngerasa sepi krn ibarat ga ada temen yg bisa diajak jalan lagi. Lama2 gw gerah, akhirnya gw ya menyesuaikan mereka. Macam mereka bilang mereka ga bisa ketemuan karena ga ada yg jaga anak mereka ya gw yang samperin mereka ke rumahnya. Mungkin agak susah sih kalo diberlakukan disini krn disini kan kota besar jaraknya jauh2 tpi kalo memang kangen dgn teman dan pengen have fun ya menyesuaikan aja sih. Yah namanya hidup kan dinamis jadi pasti ada yg namanya perubahan. Memang mesti siap2 dicap ini dan itu dari org2 yg belum merasakan yang kita jalani :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Err.. Ngomong kita macam dah punya anak aja..hihi :p

      Delete
    2. Hehe typical kota kecil banget ya. Jadi inget dulu jaman cici kuliah ada anak tingkat akhir yang pdkt (bule), masak belum apa2 ngomongin kalau udah lulus mau nikah cyinnn! Serem abis... langsung kaburrrr... Iya kalau di Jakarta ini susah sih, orang sesama temen-temen yang rumahnya gak jauh2 aja kadang susah ketemu karena jadualnya bertabrakan, plus ada yg kena macet lah dan lain-lainnya. Kan namanya relationship itu dua sisi harus saling berusaha ya, biar afdol. Kalau si single kita minta setengah mati ngikutin kita juga repot. Jadi bener-bener kudu nemu common ground.

      Delete
  27. Masih single dn udah mulai liat gelagat kayak gitu dari temen yang baru aja punya anak...hmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, artinya harus siap2 menyesuaikan satu sama lain ya.

      Delete
  28. BuLeeeeeee. Saya niih yang berubah jadi gak asik. Hahahahahahaha. Entah kenapa sekarang sih suka males diajakin ketemuan ama temen. Eh paling gak sampe beberapa waktu lalu. Tapi sekarang kalo diajakin ya diusahakan dateng asalkan jadwal bisa diatur ama istri. Kalo istri bisa jagain anak sendiri atau gaknlagi luar kota ya saya dateng. Malahan anak suka diajak. Wkwkwkwk.
    Trus soal obrolan sih gak pernah kecuali ditanya. Dan kalo cerita juga ga banyak-banyak. Takut bikin yang denger bosen aja.
    Kalo soal tips sih kagak pengen kasih banyak-banyak juga. Makanya blog juga pengennya isinya beragam gak cuma soal anak dan keluarga aja. Etapi kalo yang lain lihatnya monoton yaudah gapapa juga sih. Sosmed yang lain sharenya ya yang menarik aja. Kalo fotonya anak anglenya bagus ya dishare. Kalo ga ya ngapain. Males juga cerita anak bisa ina inu ini kebanyakan. Hahahaha. Gitu deh BuLe. Yang pasti sayah menyadari sayah berubah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emangnya kamu dulu asik toh, Dan?? *sok nanya, minta ditoyor*. Ya kalau udah nikah dan udah jadi ortu memang pasti kita ada berubahnya kok. Tinggal nyesuain aja. Kalau kitanya masih tetep kaku banget dan nganggep temen2 single kita udah ga gitu seru lagi, toh nanti bakalan terjadi seleksi alam alami kan. Dari kedua belah pihak harus saling adjust biar ada common ground.

      Delete
  29. Tapi memang bener ya ci, orang itu memang biasanya akan berubah setelah menikah. Bukan berubah jadi orang yg ga tau identitas dirinya, tapi prioritas udah pasti jauh berbeda sama waktu dulu single. Kalau dulu bisa keluar kapan aja dan pulang jam berapapun, sekarang ada suami dan anak yang jadi tanggung jawab di rumah. Ya walaupun belum punya anak sih, tapi sedikit banyak aku jg ngerasa ada beberapa hal yg berubah setelah nikah. Kayaknya kalau ga penting-penting banget buat keluar ya skr males aja gitu, mending stay di rumah. Ketemu temen ya dgn orang yg memang bener2 deket utk menghabiskan waktu yg berkualitas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kadang2 orang yang udah nikah kan butuh quality time with husband, gak melulu kumpul sama temen seperti di masa jomblo. Tp juga jd masalah kalau org jadi sama sekali susah ngumpul. Ya no wonder kejadian seleksi alam dan akhirnya yg ud pny anak cm ngumpul sm yg ud pny anak krn merasa mengerti satu sama lain.

      Delete
  30. Teman yang menganggap kita sudah tidak gaul karena ngomongin film terbaru,
    kita blm nonton krn ga bs kebioskop, ngomongin fashion,
    kita skrg lebih tertarik mothercare drpd zara, ngomongin lagu,
    kita taunya nursery rhimes. hahaha....!!
    mantap gan ifonya,,,
    makasih atas infonya gan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas, ini peringatan aja. Mohon jangan iklan di sini. Sekali lagi anda ngiklan, akan langsung saya delete.

      Ngomen kok seenaknya copas komen orang lain. Plus.. saya bukan juragan-mu dan ini bukan kaskus.

      Delete
  31. waktu lagi di jkt bawa joanna kontrol, ninggalin suami + selena berdua dan selena sudah sekolah. Jadi kuatir karena bentar2 nanya suami, selena udah diurus belum? bisa ga makein bajunya? dll...
    sekarang kalo mo ngumpul ama temen2, ayo aja.. yang penting anak dibawa dan pulangnya ga malem.. hehehe ngumpul sama temen2 yang masih single.. dan temen2 single juga bisa belajar, oo gini ya kalo punya anak.. hehehe :)
    karena setelah jadi emak2 ya begini, prioritasnya udah anak diatas segalanya.
    sama suami juga... kadang di mobil berdua ama suami, suami pegang tangan gw.. katanya, dulu sebelum punya anak dan sebelum merit, kan kita sering pegangan tangan di mobil...wkwkwkw menyadari ternyata setelah berkeluarga, kok hal2 simpel gitu bisa dilupain ya?


    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Untungnya sih gue msh sering pegangan tangan sama suami di mall, jalan berdua. Tp kemudian mendadak inget anak lg didorong sama susnya hwahahahah.

      Ya intinya kita pasti berubah dan itu ga ada yang salah. Tinggal dr sisi single dan kitanya aja yg harus adjust satu sama lain. Kalo si single ga mau mencoba jd in our shoes jg repot itu namanya dia ga mau kompromi.

      Delete
  32. Point nomor 3 dan 4, itu gue! *ngacung tinggi, ngaku dosa*

    Waktu Pam lahir, namapun anak pertama ya, norak lah pasti. Most of the time, obrolan gue, dan sosmed gue, isinya ya soal si bocah. (including blog gue, yang belom ada update-an apa2 selain soal si bocah *sigh)
    Seringkali pula, gue selalu gak bisa hadir ke kondangan, undangan, atau acara-acara ala ala sosialista jaman gue single dulu.
    Bahkan, waktu ngedate gue sama bestfriend gue pun sempet hilang.
    Singkat kata, gue berubah. Bukan Petris yang dulu lagi (yang pergi malem pulang subuh :p)

    And guess what, gue gak sadar sama sekali, kalo gue jadi berubah. Untuk beberapa hal, gue sadar kalo gue berubah. Dan menurut gue, itu masih hal yang wajar. Kayak misalnya, berubah jam gaul.
    Tapi, gue gak sadar kalo isi basa-basi dan obrolan gue itu didominasi sama si bocah.
    Fortunately, temen gue ini negur gue. Dia bilang, bosen dengerin lu ngomongin soal si Pam doank. Haha. Yes, itu kata-kata dia, gue tulis apa adanya. Emang kita tipenya no-filter gitu sih.
    Gue ya sensi awalnya. Tapi trus ya gue mikir sih. Temen gue ini udah merid dan punya anak juga. Tapi dia gak ngemengin soal anaknya doank tuh pas nge-date sama gue.

    Sejak itu, gue berusaha nahan diri gue dari ngomongin soal Pam. Kalo ditanya, baru gue akan cerita *sedikit*, atau kalau memang ada hal urgent yang menurut gue butuh pendapat, baru deh gue ngomongin soal anak.

    Memang sih, nikah, punya anak, pasti bikin seseorang berubah. Tapi, bener yang lo bilang Le, jangan sampe kita kehilangin identity kita donk ya.
    Harusnya sih perubahan itu jadi nambahin identitas diri kita.

    So, kapan nambah dede buat Abby? *minta diblok*
    LoL kidding ya Lee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, wajar banget Pes! Apalagi di tahun pertama pas punya anak ya, walaupun gue sih (kayaknya) ngga sampe kena2 gimana sama sindrom no. 3 dan 4 hihihi. No 4 mgkn lebih, tapi no. 3 sih ngga. Abis gimana tuh yang no.4, mau buka warung suka repot hahahaha oops.

      Gue nulis gini juga buat self reminder kok Pes, supaya gue jangan sampe kebablasan, dan semoga orang lain yang baca juga ikutan ngeh. Tenang, kalo sudah tanggal mainnya, seandainya dede Abby udah ada juga pasti nongol di blog hihi.

      Delete
  33. Menarik bgt Ci isi blognya :-) Dulu gw jg sering banget ditanya2 pertanyaan macam gitu and untungnya gw tipe yg ga terlalu gmn2 bgt, cuman setelah merid gw berusaha mengikuti pola pembicaraan tergantung sama siapa gw ngomong. Sama temen2 single, gw berusaha sejauh mungkin ngebahas soal merid,dsb (kecuali mereka yg nanya) karena gw yakin pasti bakalan gak nyambung klo ngebahas gt2, jadi rata2 temen2 akrab gw yg single sih fine2 ja ngobrol sama gw... cuman yg kadang bikin sedih ya itu Ci, kadang beberapa ada yg jadi agak2 jaga jarak karena liat status temennya ud berubah *malah curcol* jadi bingung juga gmn supaya mereka ngerasa biasa2 aja. Btw salam kenal ya Ci :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, supaya mereka ngerasa biasa-biasa aja ya usaha ngikutin pacenya mereka aja. Biar merekanya pada ngga menjauh, lalu tegesin kalau kita masih mau main sama mereka. Kecuali kitanya udah males main bareng, ya udah lah biarin aje jauh hahahah.

      Delete
  34. Hahahaha berubah itu realitas ya, Le...gue sih emang dari single dulu udah rada ansos...hahahahhaha tapi skg kalo suami/gue mau pergi hangout ya kita gantian aja gitu, yg satu jagain baby di rumah.
    Ada group nya suami dari SD yg masih ngumpul ngumpul sampe skg, dibawa semua anak dan partner, dengan begitu obrolan juga bervariasi. Anak2 main sendiri, ortunya pada ngegosip soal kerjaan, politik dll....
    Dan soal ngasih advice dll gitu, krn dulu pas single udah kenyang makan advice, skg gue sebisa mungkin gak ngasih, kecuali emang yg nanya lagi curhat/ minta pendapat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Realitas banget lah... Badan aje sekarang suka ngerentek kalo pulang malem. Bener gak Bu??? Coba dulu.. pulang pagi aje masih bisa nyante, apalagi pas jaman kuliah, bisaan pulang pagi cm gara2 main kartu.

      Nah bagus banget kalau sampai sekarang punya grup yang solid dan masih bisa bertahan. Percaya atau ngga, geng cowo lebih bisa loh bertahan! Itu sih yang gue rasain, karena cowo itu topik omongannya emang kadang ga sesuai umur hihihi.

      Delete
  35. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there.. wah kok komen kamu diapus? hahaha. Untung udah masuk ke email saya. Based on your comment, seru juga kok jadi jomblo sampe usia rada matang, jadi banyak pengalamannyaaaa!! Hihihi (ngeliat diri sendiri).

      Delete
  36. wah komen nya uda panjang bener ya.
    sama sperti bbrp mama disini, gw kadang terjebak di nomer 4. Dengan 2 anak, tambah susah kalo mau pergi2 sama temen2 cewe, Kalo ajak anak, otomatis yaa gw ga bakal konsen ngobrol, anak yg satu criwis dan minta ditanggepin, yang kecil lari sana sini n narik gw suru ikut dia (padahal sih gw bawa sus juga). Makanya klo bener2 mau kongkow ama temen cewe, gw prefer pas misua di rumah n bisa jaga anak2, trus gw pegi sendiri aja. Ato paling ngga bawa salah satu anak. Bawa dua2nya tanpa suami, sama aja gw bakal babysitting n gabisa ngobrol :D

    Memang ada gap antara single ladies n being a mom, gw masi punya bbrp temen single, n gw jadi pendengar setia tentang hubungan mrk sama cowo, antara yg mau mutusin cowonya lah, ato status nya in complicated lah. Tapi gw tau dlm hati gw, gw gak sebegitunya 'tertarik' dengan topik gebetan seperti jaman gw single dulu. Kadang gw juga kangen masa SMA-kuliah gw dulu, jaman-jaman ketika problem terbesar dalam hidup adalah masalah gebetan dan ujian. HAHAHA. Life is way more complicated now... mikirin duit, kerjaan, anak sakit, anak makan susah, mikirin mertua, les2an anak, ... (ok daftarnya panjaanngggg). Mungkin hal seperti ini yang bikin single dan parents ada gap, beda problem - beda kehidupan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, sama kok Bu, kalau mau konkow yang temen cewenya banyak, gue prefer during late dinner time, while gue bisa titip anak aja sama Sus dan dijagain bapaknya di rumah. Kan ngobrolnya juga jadi lebih bebas, plus anak jadi jam tidurnya tetep teratur. Ya beruntunglah kita-kita yang juga punya suami yang masih bisa mendukung gerakan "girls nite out" istri2nya hihihih.

      Aduh, jangan ingatkan gue soal list yang panjang itu deh hahahaha. Gue mau menghadapi hidup day by day dulu aja. Jujur kalau mikirin long term itu suka bikin gelisah ya. Beneran kudu banyak berserah dan berdoa.

      Delete
  37. Aku kirain aku uda komen ternyata belooomm! Hahaha. Lucky me ga pernah kena semuanya, Ci. Maybe bcos I try to be in their shoes ya jadinya mreka pun juga menghargai aku yg single ini. I mean aku masih bisa nyambung diajak omong ttg anak *of course sambil bilang "menurut pengalaman temen blog gue"*, rumah tangga, etc etc gitu. Kalo mo jalan bareng pun nganggep anak mereka = keponakan, jadinya bantu jaga. Semoga ke depannya ga berubah, ato berubahnya jangan drastis deh.. Ntar kaget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya beruntunglah anda kalau temen pada bisa saling mengisi dan kompromi ya. Moga2 nanti setelah temen2 satu2 pada nikah dan punya anak, nyambungnya tetep sama dan enak. Dan moga2 sehabis km nikah jg hehe. Tp kan semua cm bs berharap toh.

      Delete
  38. INI NIIIHHH! *ga sante* #suarahati *hayah*

    Jadi ceritanya, gegara aku suka kumpul atau ikut acara #Kaligrafina /#BelmenID (isinya para abegeh), di cap 'ibu suka ninggal anaknya (udah mah kerja, weekend kebanyakan acara)'. *malah curhat*

    Suka sama kalimat terkahirnya! Izin ditulis ya Bu Le :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap Bu Feni! Hihihi. Ya makanya gue pikir relevan banget deh buat dibahas. Kayaknya relevan sama banyak orang. Serbasalah kan jadi emak2. Gaul salah.. ga gaul salah.. hihihi..

      Delete
  39. aku suka banget blog ini. semua yang diceritakan lucu dan have fun. setiap kali pulang kampung saya selalu ditanya kapan merrid, sudah punya pacar blom? kadang kan kita harus mikir mateng2 sebelum melangkah ke lebih jauh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang nanya enak aja ya ngejeblak ngomong. Pdhl buat yang jalanin butuh pertimbangan. Kadang perbedaan status suka bikin sombong tanpa disadari.

      Delete
  40. Baru baca blog ini lg.. seru pembahasannya..yaaa pernah bgt ngalamin 'kapan punya anak...*kdg gondok sendiri meski yg nanya sahabat sndiri..pdhl dya tau bener loh keadaan saya knp smpe skrg blom punya ank smpe skrg knpa.. dan tau nya shbt sya ini melahirkan ank nya prematur dan bayi nya kcil skali..bukan nya sya senang melihat keadaan nya.. cmn ya klo mo rencanakan ank kan hrs bener2 matang dan persiapan..bukan cmn bisa buatnya dan ada lagi yg nanya saya gtu.. padahal ank nya sndiri dari senin sampai jumat ditinggalin t4 nenek nya dan itu satu kota, trs langsung saya mikir emg sblom nya ga dipikirin apa pas mo punya ank, untk waktu dsb..kadang yg nanya2 gtu pdhl ank nya sndiri ga keurus.. maap y ci jd curcol, sya sndiri bukan tipikal org yg suka basa basi nya nanya kpn merit or kpn punya ank..masih banyak basa basi lain yg bisa sayaucapkan. Tks bgt inj blog mewakili saya bgt haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Repot ya ngadepin org2 yg ngerasa pny anak sbg prestasi besar. Pdhl blm tentu jg bisa ngurusnya. Tp ga bs disalahin jg sih. Indoktrinasinya jg kenceng kan dr kecil. Banyak anak dianggap banyak rejeki. Kemudian org yg ga bs pny anak dianggap sebuah "kesalahan". Ya biarkan saja yg penting kitanya jg jgn balik ribet komenin org yg pny anak tp ga bs urus. Siapa tau dia jg pny anak krn social pressure.

      Delete